Berkisah tentang Environmentalisme

Subagio S.Waluyo

“Percakapan Sinyoh dan Nonih itu terus merebak. Menjadi ujaran khalayak. Padahal hanya cocok untuk tahun 1920-an. Sekarang Bandung tidak layak lagi menyandang gelar Paris van Java. Sebab sudah penuh sampah, tata kota kacau balau, trotoar padat pedagang. Banguman-bangunan bernilai sejarah banyak yang diruntuhkan, diubah menjadi tempat komersial…..”

Selama berjalan di dermaga, menuju pangkalan bateau mouche, perahu untuk berlayar, tak terlihat ada lubang-lubang pipa menjulur ke sungai, seperti banyak terlihat di Cikapundung dan sungai-sungai lain di seluruh Tanah Air.

(“Di Seine Meratapi Citarum”/Usep Romli H.M.)

”Apa yang akan kamu lakukan dengan bukit ini?”

”Bayangkan, Tom. Ini nanti akan jadi bukit mawar. Seluruhnya aku tanami mawar kampung.”

”Seluruhnya?” dan kudengar Arjuna tertawa bahagia. Kemudian dia menyambung bahwa parit yang lebar dan panjang mengelilingi bukit ini akan jadi lahan pemancingan, yang mengurusi nanti adalah–dia menyebutkan beberapa nama yang kuduga orang kampung situ.

(“Bukit Mawar”/Yanusa Nugroho)

***

Ada hal yang menarik ketika Pandemi Covid-19 melanda negeri ini, yaitu kebiasaan mencuci tangan setelah melakukan aktivitas dan menggunakan masker jika ke luar rumah. Selain itu, tentu saja  juga ada kebiasaan baru, yaitu membiasakan menjaga jarak sosial ketika berinteraksi dengan orang lain. Di luar itu ada aktivitas yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu kebiasaan bercocok tanam di setiap jengkal tanah yang ada di rumahnya. Hasil cocok tanam (di luar tanaman hias) yang berupa sayur-mayur dan palawija terkadang modalnya jauh lebih besar daripada hasilnya. Bahkan, tidak mustahil banyak juga yang gagal. Meskipun demikian, semua itu tidak menyurutkan ibu-ibu rumah tangga untuk bercocok tanam. Ada sebuah kegembiraan tersendiri ketika memetik hasil dari bercocok tanam dan membagikannya pada para tetangga di sekitar rumahnya karena dalam kondisi sulit masih bisa berbagi.

Kebiasaan baru ini seandainya bisa dijaga dan ditingkatkan kesadarannya bukan saja sekedar bercocok tanam, tetapi juga adanya keinginan keras untuk menjaga kelestarian alam tidak mustahil sebagian masyarakat ini akan menjadi penggerak dan penjaga lingkungan hidup. Mereka yang boleh dikatakan masyarakat perkotaan kalau sudah seperti itu akan menjadi masyarakat yang disebut environmentalis. Environmentalis adalah gerakan melawan pengrusakan alam entah  itu yang namanya pencemaran atau pengotoran lingkungan. Mereka-mereka yang memiliki pandangan untuk menggerakkan dalam bentuk menjaga dan  melindungi kelestarian alam disebut environmentalisme (A.Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A Sampai Z, 2001:76). Dengan demikian, Pandemi Covid-19 yang boleh dikatakan telah banyak memakan korban ternyata di satu sisi juga melahirkan gerakan environtalisme di sebagian masyarakat perkotaan.

(https://images.app.goo.gl/A4BrAKgNUA8Na93W8)

Sebenarnya, kesadaran untuk melestarikan lingkungan bukan saja setelah hadirnya Pandemi Covid-19. Masyarakat kita sejak dulu pun kalau saja ada aturan yang jelas dan pengawasan yang ketat baik dari pemerintah maupun masyarakat pasti mau berpartisipasi terlibat dalam menjaga lingkungan. Lihat saja yang dilakukan masyarakat pinggiran Kali Code, Yogya yang rela mengubah letak rumahnya. Rumah-rumah mereka yang semula banyak yang membelakangi kali, begitu ada yang menggerakkan dan adanya aturan yang jelas dari pemerintah setempat serempak diubah letaknya. Tidak cukup sampai di situ, sepanjang Kali Code bersih dari pipa air kotor yang semula dibuang ke kali tersebut. Di sini bukan saja ada regulasi untuk itu, tapi juga ada penggerak dari kalangan LSM dan akademis yang berperan mengarahkan dan mengawasi program gerakan restorasi Kali Code. Tanpa melibatkan masyarakat LSM dan akademis mustahil program gerakan restorasi Kali Code tidak akan bisa terwujud.

(https://images.app.goo.gl/3qTpB2wwmCJoMTpo9)

***

Salah satu cara yang juga perlu dilakukan masyarakat Indonesia agar memiliki kesadaran akan pentingnya lingkungan sebagaimana terlihat pada aktivitas masyarakat pinggir Kali Code adalah melakuan kunjungan wisata ke beberapa negara yang berhasil melakukan restorasi sungai. Salah satu sungai di Eropa yang sampai saat ini menjadi ikon dan sekaligus objek wisata adalah Sungai Seine, Paris, Perancis. Dalam cerpen “Di Seine Meratapi Citarum” oleh Usep Romli H.M. serombongan wisata dari Kota Bandung dibikin terkagum-kagum oleh kebersihan dan kebeningan air Sungai Seine. Mereka teringat dengan sungai di kotanya yang kotor, bau bangkai, dan warnanya sudah hitam legam. Mereka membayangkan kalau saja Sungai Citarum dan Cikapundung bisa direstorasi seperti Sungai Seine gelar Kota Bandung sebagai `Parisj van Java` akan diraih kembali. Itu hanya bayangan karena faktanya menunjukkan kedua sungai di kotanya telah menjadi tempat pembuangan kotoran manusia dan pabrik. Sungai Citarum saat ini telah dirusak perilaku manusia karena memang tidak ada hukum yang melindunginya sehingga orang hanya meratapi Sungai Citarum yang telah membangkai.

Dari katedral, lewat sisi Sungai Seine. Betul sekali, amat bersih. Tak ada sehelai sampah pun. Airnya teramat bening. Hati berdesir. Sedih. Teringat Citarum yang sudah membangkai. Teringat Cikapundung yang airnya hitam legam.

“Betapa indahnya jika Citarum dan Cikapundung seperti ini….” seorang kawan yang berjalan berdampingan setengah berbisik. Ternyata sama seperasaan. Hanya saja, bagaimana mengelolanya walaupun kedua sungai itu ada di “Parisj van Java”.

……………………………………………………………………………………………………..

Berjalan sepanjang pinggir dermaga sungai yang ditembok. Cukup luas. Enak dan aman buat pejalan kaki. Pemandu wisata menerangkan, Sungai Seine amat terpelihara sejak hulu hingga muara. Pelan-pelan ia mendendangkan lagu rakyat Prancis kuno, yang menggambarkan Sungai Seine sebagai “kekasih yang saling mengasihi dengan Paris”.

Selama berjalan di dermaga, menuju pangkalan bateau mouche, perahu untuk berlayar, tak terlihat ada lubang-lubang pipa menjulur ke sungai, seperti banyak terlihat di Cikapundung dan sungai-sungai lain di seluruh Tanah Air.

“Di Paris, di Prancis, serta negara-negara Eropa lain, orang yang membuang sampah atau kotoran lain ke sungai akan dikucilkan oleh tetangga dan warga sekitar. Dan diajukan ke pengadilan. Mendapat hukuman setimpal. Di penjara dan didenda ribuan euro,” jawab pemandu wisata ketika ditanya soal tak ada lubang pipa pembuangan di pinggir sungai. “Setiap rumah di pinggir sungai, bagian depan rumahnya harus menghadap ke sungai. Tiap rumah wajib memiliki sarana pembuangan kotoran. Nanti pada hari tertentu diangkut oleh petugas kebersihan kota. Dibawa ke tempat pengolahan limbah.”

Sepanjang belayar di atas bateau mouche, menyusuri Seine, sangat asyik menikmati panorama sungai dan sekitarnya. Tapi mata sibak basah, dan pikiran melayang ke Citarum, ke Cikapundung, keindahannya dirusak kelakuan orang-orang, serta tak ada hukum yang melindunginya.

“Parisj van Java hanya tinggal nama….” ingat lagi pada tulisannya yang dulu dianggap sinis. Namun setelah membandingkan sendiri, langsung di lokasi, hati menyetujui.

Dan di Seine, meratapi Citarum yang sudah lama busuk membangkai.

Nasib  yang sama juga dialami oleh sungai-sungai yang mengalir di banyak kota di Indonesia. Sebut saja Sungai Ciliwung di Jakarta yang sampai saat ini masih belum selesai direstorasi. Setiap tahun sungai tersebut menelan korban yang tidak sedikit akibat banjir yang dimuntahkan. Bagaimana pula dengan Sungai Bengawan Solo yang airnya mengalir ke beberapa kota baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur? Sudah bisa dipastikan air Sungai Bengawan Solo juga telah tercemar. Sungai Brantas yang membelah Kota Surabaya juga bagaimana kondisinya saat ini? Apakah ada perubahan yang signifikan setelah dilakukan restorasi? Kita tunggu saja hasil kerja keras pemerintah kota di kota-kota besar di Indonesia yang berusaha merestorasi sungai-sungainya yang mengalir di tengah-tengah kotanya.

***

Pekerjaan merestorasi sungai bukan saja dilakukan oleh  pemerintah kota, pemerintah kabupaten bisa juga melakukan hal yang sama. Pengerjaan restorasi agar terjadi sinergitas di antara pemerintah daerah sebaiknya dilakukan oleh pemerintah pusat yang dalam hal ini di bawah komando Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Meskipun demikian, Kementerian PUPR juga perlu melibatkan masyarakat baik LSM maupun akademis (`orang pintar` dari perguruan tinggi). Lewat LSM dan `orang pintar` dari perguruan tinggi diharapkan masyarakat lokal terutama yang tinggal di sepanjang pinggir kali bisa digerakkan menjadi masyarakat yang sadar akan lingkungan sehingga mereka juga mau terlibat dalam aktivitas restorasi sungai. Dengan melibatkan masyarakat lokal yang tinggal di sepanjang sungai lambat-laun akan terbentuk masyarakat yang environmentalis: masyarakat yang melawan pencemaran, pengotoran, dan perusakan alam (sungai).

Ada contoh menarik (walaupun ini hanya sebuah karya fiksi) yang terdapat dalam cerpen yang ditulis Yanusa Nugroho;”Bukit Mawar”. Dalam cerpen tersebut dikisahkan kalau masyarakat justru mendukung upaya Arjuna yang berusaha mempertahankan tanah miliknya dari pembangunan mal. Mal itu rencananya akan dibangun di atas tanah milik Arjuna. Selama ini Arjuna menanam  mawar di atas tanah itu (melakukan penghijauan). Karena bertahan pada pendiriannya untuk tidak melepas tanah miliknya, akhirnya Arjuna harus berhadapan dengan pengadilan. Di pengadilan dia mendapat dukungan masyarakat yang tinggal di tempat lokasi tanah miliknya. Saking kuatnya dukungan, pengadilan tidak bisa memutuskan perkara itu. Tokoh Aku yang selama ini jarang sekali bertemu Arjuna melihat kejadian tersebut pada akhirnya mendukung mimpi-mimpi Arjuna yang sebentar lagi akan jadi kenyataan: sebuah bukit yang dikelilingi oleh mawar-mawar kampung , yang dikelilingi parit, yang di atas parit itu orang bebas memancing. Rencana Arjuna untuk mewujudkan keinginannya bukan saja didukung oleh Tokoh Aku, temannya, tetapi juga didukung oleh istri Tokoh Aku. Mereka mendukung Arjuna karena mereka sadar bahwa gerakan environmentalisme merupakan sebuah tuntutan masyarakat agar terwujud lingkungan yang bersih dari kesumpekan hidup yang diciptakan masyarakat modern. Masyarakat modern di sini adalah masyarakat yang boros menggunakan energi, masyarakat yang merusak alam lewat efek rumah kaca, dan masyarakat kalangan pengusaha yang karena ingin memenuhi kepentingan pribadinya sampai-sampai harus mengintimidasi penguasa setempat.

Itulah yang kulakukan. Dan ketika aku sampai di rumah Arjuna, aku dibuat terperangah. Rupanya, selama ini, ketika proses pengadilan berlangsung, pihak ’pembeli’ bahkan sudah membangun bangunan, memang belum finishing, tapi bangunan itu sudah berdiri. Ya, Tuhan, sudah berapa lama aku tidak berhubungan dengan Arjuna?

Dan bangunan itu, oleh Arjuna sengaja tidak dihancurkan. Orang gila satu ini memang selalu aneh-aneh. Dia bahkan menggali tanah di sekeliling bangunan belum jadi itu dan menguruk seluruh bangunan itu hingga menjelma bukit. Bukit tanah merah yang dikelilingi parit dalam.

Kusaksikan orang-orang kampung yang mendukung tindakan Arjuna di pengadilan sibuk melakukan ini-itu. Kami duduk di tanah menatap ’bukit’ yang baru lahir itu.

”Apa yang akan kamu lakukan dengan bukit ini?”

”Bayangkan, Tom. Ini nanti akan jadi bukit mawar. Seluruhnya aku tanami mawar kampung.”

”Seluruhnya?” dan kudengar Arjuna tertawa bahagia. Kemudian dia menyambung bahwa parit yang lebar dan panjang mengelilingi bukit ini akan jadi lahan pemancingan, yang mengurusi nanti adalah–dia menyebutkan beberapa nama yang kuduga orang kampung situ.

Sambil membayangkan di sana-sini muncul warung makan kecil, dan orang-orang makan ikan bakar, atau sekadar minum kopi, mereka menikmati ”keajaiban dunia”: bukit mawar. Arjuna bukan hanya membangun keajaiban, bukan juga membangun mimpi, tetapi harapan bagi orang banyak. Aku jadi kian merasa tak ada apa-apanya berhadapan dengan anak janda penjual bunga di makam ini.

***

Kalau di level negara atau daerah penguasa di bawah tekanan pengusaha, di level internasional juga lebih kurang sama. Amerika Serikat (AS), misalnya, yang dikenal sebagai negara adidaya ternyata juga tidak berkutik ketika berhadapan dengan para pengusaha internasional yang tergabung dalam Multi Nasional Corporations (MNCs). Raksasa yang bernama MNCs ini berhasil menekan pemerintah AS agar tidak menandatangani Protokol Kyoto. Selain AS, Rusia juga melakukan hal yang sama. Walaupun mereka, katanya, sangat peduli dengan masalah-masalah lingkungan, AS sendiri sebagai negara paling boros menggunakan energi ternyata juga menjadi penyumbang paling banyak di dunia ini dalam hal perusakan alam lewat efek rumah kaca (Budi Winarno dalam Dinamika Politik Global Kontemporer, 2019:220).

(https://images.app.goo.gl/wTjaYh5swS1ReRet9)

Berdasarkan uraian di atas, jelas sekali kalau kerusakan alam semesta ini lebih disebabkan oleh ulah manusia sebagaimana bunyi ayat Qur`an S. Ar- Rum, 30:41-42:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka kembali ke jalan yang benar”

“Katakanlah (Muhamad):`Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)`”

Jadi, kalau di negara ini di musim-musim kemarau banyak kekeringan, itu lebih disebabkan oleh salah satunya perambahan hutan oleh pengusaha-pengusaha yang memegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Pengusaha-pengusaha pemegang HPH merambah hutan-hutan kita sehingga terjadi penggundulan hutan karena di antara mereka sedikit sekali melakukan penghijauan (reboisasi). Akibatnya, di musim hujan terjadi banjir besar-besaran, di musim kemarau terjadi kekeringan yang berkepanjangan. Di sini Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad:

“Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka dengannya ia mendapatkan pahala. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka dengannya ia mendapatkan pahala.”

Lewat hadits tersebut Rasulullah menekankan agar kita menghidupkan tanah-tanah yang tandus (tanah hasil tebangan) dengan cara reboisasi. Orang-orang yang memanfaatkan setiap jengkal tanah yang semula tandus kemudian berkat kerja keras orang yang mau menghidupkannya kembali tanah-tanah tersebut menjadi tanah yang subur. Setiap hasil dari tanaman yang ditanam seandainya dimakan binatang liar akan ada pahalanya bagi yang menanamnya. Islam mengajarkan pada umat ini agar kita tidak merusak alam. Sebaliknya, Islam mengajarkan pada umat ini agar mau memanfaatkan setiap jengkal tanah untuk ditanami berbagai tanaman yang bermanfaat bagi seluruh isi alam ini.

***

Gerakan memanfaatkan setiap jengkal tanah yang banyak dilakukan oleh masyarakat kota terutama dari kalangan ibu-ibu rumah tangga patut diapresiasi. Dari gerakan tersebut suatu saat tidak mustahil akan muncul gerakan yang mengarah pada kepedulian terhadap lingkungan. Kalau ini sudah terwujud, tinggal cara pemerintah mengapresiasi aktivitas mereka lewat regulasi. Selain itu, dibutuhkan juga pendampingan dari LSM dan kalangan akademis. Pihak pengusaha juga harus terlibat memfasilitasi mereka. Kalau benar-benar bisa diwujudkan, tidak mustahil di negara ini keinginan orang untuk merestorasi sungai-sungai yang tercemar, yang keruh warnanya karena terkontiminasi oleh limbah rumah-rumah tangga dan pabrik-pabrik,  yang menyisakan bau bangkai, akan terwujud. Tinggal pihak penguasa negeri ini: apakah mau mengubah paradigma agar tidak mau di bawah pengaruh bayang-bayang pengusaha yang rakus dan jelas-jelas merusak lingkungan? Wallahu a`lam bissawab.

Gambar Citarum yang Tercemar (https://images.app.goo.gl/Lsj82ihBLGp8ALku5)

MASYARAKAT PUNYA MASALAH (3)

Subagio S. Waluyo

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita. Continue reading “MASYARAKAT PUNYA MASALAH (3)”

KADO OBLADI OBLADA

Subagio S.Waluyo

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [Ar-Rûm/30:41]

 Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi !” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar (Al-Baqarah/2:11-12).

 ——————————————————————————————–

Ada kado istimewa dari tahun baru yang baru saja berlalu. Kadonya berupa banjir luar biasa. Konon kabarnya banjir tahun ini (2020) adalah banjir terbesar. Curah hujannya memang terbesar sejak hampir 24 tahun lalu. Bahkan, menurut BMKG curah hujan tahun ini tertinggi sejak 154 tahun lalu (https:// news.detik. com/berita/d-4843572/data-bmkg-curah-hujan-2020-tertinggi-sejak -154-tahun-lalu). Akibatnya, juga luar biasa. Coba saja lihat di beberapa tempat banyak rumah yang terendam air. Wilayah yang diterjang banjir persis seperti diterjang Tsunami. Apa jangan-jangan ini memang Tsunami?

Curah  hujan yang demikian besar (konon kabarnya mencapai 377 mm/ hari) yang merendam ribuan rumah penduduk benar-benar mematikan kehidupan penduduk Jabotabek dan sebagian Provinsi Banten yang baru saja bersenang-senang merayakan kedatangan tahun baru. Bersamaan dengan air yang merendam rumah-rumah penduduk turut juga beberapa barang termasuk barang-barang elektronik yang ikut mengambang. Selain itu, juga tidak sedikit mobil pribadi yang ikut berenang dan (bahkan) banyak yang nyungsep. Tidak sedikit kerugian yang diderita rakyat korban banjir kali ini. Kado tahun baru kali ini juga memakan korban sebanyak 43 orang yang meninggal. Dari 43 orang itu sebanyak 17 orang terseret arus banjir, 12 orang tertimbun tanah longsor, 5 orang tersengat listrik, dan 3 hiportema. Selebihnya, 5  orang masih didata kematiannya dan 1 orang hilang tidak jelas rimbanya  (https:// nasional. kompas.com/ read/ 2020/ 01/03/11055161/upda-te-bnpb-43-meninggal-akibat-banjir-di-jabodatebek -dan-lebak). Karena kejadiannya pas di awal tahun baru, layak saja ini lebih merupakan kado tahun baru yang satire dan sarkasme bukan?

***

Kado tahun baru berupa banjir di Wilayah Jabotabek (termasuk sebagian Provinsi Banten) bisa jadi merupakan musibah. Musibah itu bisa jadi merupakan teguran dari Sang Khalik kepada makhluk-Nya. Sah-sah saja kalau Sang Khalik murka karena perilaku makhluk-Nya yang kedatangan tahun baru bukan bersyukur malah berpesta-pora. Musibah juga bisa dijadikan tolak ukur untuk mengetahui solidaritas bangsa ini terhadap sesamanya. Ternyata, banyak juga anak bangsa ini yang hanya bisa jadi penonton. Mereka tidak berbuat apapun. Bukan tidak mampu, tapi lebih disebabkan anak bangsa ini telah hilang rasa kepeduliannya. Kalau punya rasa kepedulian, mereka tanpa disuruh pasti mau membantu sesamanya yang jadi korban banjir.

Perilaku tidak peduli juga diperlihatkan oleh beberapa pengurus masjid yang tidak mau mengeluarkan dari uang kasnya untuk membantu korban banjir. Padahal uang kas masjid setiap jumat selalu dilaporkan. Ada masjid yang punya uang kas sampai puluhan bahkan ratusan juta. Uang kas itu juga diperoleh dari infak jamaahnya. Bagi sebagian jamaah yang punya kepeduliaan bisa-bisa saja terusik melihat kebijakan pengurus masjid yang tidak mau mengeluarkan sebagian dari uang kasnya untuk membantu sesamanya yang sedang terkena musibah. Sebenarnya, apa salahnya kalau pengurus masjid yang masjidnya tidak terkena musibah membuka semacam posko banjir? Insya Allah dengan membuka posko banjir akan banyak jamaah memberikan bantuan. Bukankah ini lebih merupakan pembelajaran umat agar mau menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah dalam bentuk membantu sesamanya? Seringkali masalah-masalah seperti ini tidak terpikirkan oleh mereka.

Di samping memang mereka, para pengurus masjid, tidak terpikirkan masalah membantu sesamanya boleh jadi mereka juga gagap ketika harus ikut terlibat menghadapi masalah musibah. Pengurus masjid seharusnya ketika menghadapi masalah musibah yang pertama kali dilakukan adalah melakukan penyelamatan terhadap sesama. Mereka dievakuasi agar tidak terjebak oleh banjir karena tidak sedikit di antara mereka yang harus meregang nyawa ketika terjebak oleh banjir. Setelah dievakuasi di tempat yang aman, mereka juga harus dibantu  dalam hal pemenuhan kebutuhan mereka yang paling mendasar. Kebutuhan yang paling mendasar apalagi kalau bukan pemenuhan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pangan (makanan-minuman), pakaian, dan kesehatan. Untuk bisa membantu mereka memenuhi kebutuhannya apalagi kalau bukan dana. Banyak pengurus masjid yang tidak berpikir sampai sejauh itu. Mereka cenderung menuruti egonya. Uang kas masjid yang begitu besar tidak jelas peruntukkannya. Paling-paling kalau uang kasnya sudah cukup besar ada saja pikiran untuk merehab masjid. Ada saja di benaknya untuk melakukan ini-itu supaya masjidnya terlihat mewah, megah, indah, syiar. Beginikah caranya memakmurkan masjid?

***

Kembali pada masalah musibah banjir yang merupakan kado tahun baru tampaknya ada yang lalai dilakukan pemerintah selama ini. Pemerintah lalai bahkan cenderung mengabaikan bahwa yang namanya tanah-tanah yang dulunya rawa atau bekas pesawahan sebenarnya tidak layak dijadikan untuk pemukiman. Pemerintah sejak orde baru begitu mudah memberikan izin kepada pengembang untuk membangun di atas tanah-tanah bekas rawa atau pesawahan itu komplek perumahan. Bukankah selama ini yang kerap kali terkena banjir memang perumahan yang dibangun di tanah-tanah bekas rawa atau pesawahan itu? Kalau memang terbukti bahwa tanah-tanah rawa atau pesawahan itu sebagai biang banjir, pemerintah di masa lalu (bahkan sampai saat ini pun masih seperti itu kebijakannya) seharusnya sebelum mengambil kebijakan terlebih dahulu melakukan studi kelayakan: apakah layak tidak membangun komplek pemukiman di atas tanah itu? Jangan-jangan karena mengikuti syahwat kekuasaannya mereka cenderung pragmatis. Akibatnya, seperti yang dialami sebagian anak bangsa ini: : banjir merata di beberapa titik di Jabotabek dan Provinsi Banten.

Ada juga beberapa tempat bekas rawa atau sawah yang dikembangkan para pebisnis properti dibangun pemukiman. Mereka jor-joran membangun di atas rawa atau sawah itu bukan hanya perumahan tapi juga rumah susun atau apartemen-apartemen mewah pencakar langit. Permukaan tanah yang semula rendah dibikin tinggi. Dengan cara demikian diharapkan bebas banjir. Memang, terbukti bisnis properti yang mereka kembangkan berhasil. Hal itu terbukti ketika curah hujan demikian tinggi perumahan mewah, rumah-rumah susun, atau apartemen-apartemen mewah pencakar langit yang mereka bangun benar-benar bebas dari banjir. Tapi, rumah-rumah penduduk di sekitar mereka terkena dampaknya. Terjadi banjir yang demikian dahsyat. Yang semula rawa-rawa atau sawah-sawah itu jadi tempat resapan air berpindah ke rumah-rumah pemukiman penduduk. Beginikah caranya berbisnis kapitalis yang tak menghiraukan nilai-nilai moral atau akhlak?

***

Pada tulisan terdahulu tentang “Kota Gigantisme” telah dijelaskan bahwa pemerintah kota memiliki tata ruang yang berantakan. Mereka lebih mementingkan syahwat kekuasaannya yang cenderung menguntungkan pribadinya. Tidak aneh kalau banyak pejabat publik di daerah manapun lebih mementingkan pembangunan mal atau pusat-pusat perindustrian atau perekonomian atau apatemen-apartemen mewah pencakar langit daripada memikirkan nasib warga kotanya. Mereka entah kenapa tidak pernah memikirkan akibatnya kalau ketidakadaan atau kekurang-tersediaannya RTH di kotanya akan berakibat fatal. Hampir sebagian besar kota di Indonesia ketentuan tentang RTH masih cenderung terpinggirkan. Kutipan berikut ini merupakan warning kepada para pejabat publik yang mengelola daerahnya.

JawaPos.com – Gedung-gedung pencakar langit semakin mendominasi pemandangan di Jakarta. Perkampungan semakin tergerus, bahkan warga dan penduduk asli berpindahan ke daerah-daerah pinggir ibu kota.

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, hilangnya perkampungan juga bersamaan dengan berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di DKI Jakarta. Hal itu sebagai dampak dari pembangunan kota yang tidak berwawasan lingkungan jangka panjang.

Menurutnya, itu berakibat fatal, kini Jakarta rentan banjir, rob, hingga pencemaran udara. RTH dan perkampungan harus dipertahankan seperti kota-kota di luar negeri yang berambisi untuk memperbanyak RTH lebih 30 persen.

Begini Kata Pengamat Risiko Pembangunan Gedung di Jakarta

Perkampungan yang tersisa di Setiabudi, Jakarta Selatan (Ikhsan Prayogi/ JawaPos.com)

“(Seharusnya) tata kota dikendalikan, perumahan dan permukiman dan bangunan gedung dikendalikan bukan diserahkan kepada pengembang swasta seperti sekarang,” ujar Nirwono saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (6/3).

Dia menuturkan, luas RTH di ibu kota semakin menurun sejak tahun 1965 sebanyak 37,2 persen, kemudian tahun 1985 berkurang menjadi 25,85 persen, tahun 2000 menyusut hingga 9 persen dan pada 2017 lalu sempat naik ke 9,98 persen.

Padahal, lanjut Nirwono, penataan RTH sesuai Undang-undang 26/2007 yakni minimal 30 persen dari total luas wilayah kota. “30 persen yang terbagi atas RTH publik 20 persen dan RTH privat 10 persen,” katanya.

Di beberapa kawasan, kampung kumuh yang padat penduduk juga sudah berubah menjadi perumahan mewah. Lokasinya pun di atas daerah resapan air.

“Dari yang kampung kumuh padat yang menjamur di bantaran kali, kolong jembatan atau jalan layang, tepi rel KA, tepian waduk atau situ sampai dengan perumahan mewah seperti Kelapa Gading yang dibangun di atas daerah resapan air, dan Pantai Indah Kapuk yang dibangun di atas hutan mangrove,” jelas Nirwono.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : (yes/JPC)

(https://www.jawapos.com/metro/metropolitan/06/03/2018/begini-kata-pengamat-risiko-pembangunan-gedung-di-jakarta/)

Entah itu prestise atau gengsi yang membikin pemerintah daerah yang demikian berambisi melakukan pembiaran terhadap perilaku pelaku bisnis yang demikian serakahnya untuk membangun setiap jengkal tanah tanpa menghiraukan faktor lingkungan.  Hal itu bisa terjadi karena iming-iming entah itu yang namanya uang atau boleh juga perempuan, para konglomerat yang melakukan berbagai cara agar pimpinan di daerah mau mengikuti keinginannya. Kalau upayanya kurang berhasil, mereka melakukan pendekatan (sekaligus penekanan) pada pejabat yang lebih tinggi (kalau perlu sampai kepala negara). Biasanya para kepala daerah kalau sudah berhadapan dengan pimpinan yang lebih tinggi tidak bisa berbuat apa-apa. Dari sini sebenarnya awal munculnya kerusakan lingkungan hidup di negara ini. Jadi, yang pegang peranan penting kerusakan lingkungan hidup di negara ini adalah para pejabat publik yang berkongkalikong dengan para konglomerat. Kalau musim hujan terjadi banjir. Kalau musim kemarau terjadi kebakaran hutan. Siapa lagi pelakunya semua itu kalau bukan pejabat publik yang telah bersekongkol dengan para konglomerat.

***

Petikan ayat-ayat Qur`an di awal tulisan ini tepat sekali bahwa kerusakan baik di darat maupun di lautan adalah hasil ulah manusia. Kalau begitu jangan salahkan Sang Khalik yang membuat musim kemarau demikian panjang sehingga banyak sawah dan kebun yang kekeringan atau hutan-hutan yang terbakar. Sawah-sawah dan kebun-kebun yang kekeringan bukankah juga ulah manusia yang merusaknya di antaranya lewat penyempitan lebar sungai karena dibangun di bantaran sepanjang sungai rumah-rumah pemukiman? Kalau saja manusia mau menahan diri dengan tidak membangun pemukiman secara serampangan, tidak terjadi yang namanya kekurangan air. Boleh juga pengeboran air tanah yang menggunakan alat-alat berat untuk memperoleh air tanah dengan debit yang cukup tinggi bisa berakibat kekurangan air di tempat-tempat yang lain. Bahkan, tidak mustahil yang terjadi di beberapa tempat di kota-kota besar di Indonesia air laut akan menjorok masuk ke daratan. Tidak aneh jika terjadi penurunan kualitas air tanah karena terkontaminasi air laut. Kalau terjadi pencemaran air minum di beberapa tempat di sebuah daerah, jangan salahkan Sang Khalik. Tapi, coba direnungkan semua itu lebih karena ulah siapa? Bukankah karena ulah manusia yang merusak lingkungan?

Kalau sudah terjadi kerusakan lingkungan, seperti banjir, misalnya, jangan saling nyinyir atau jangan saling menyalahkan bahwa terjadinya banjir yang kali ini benar-benar sangat dahsyat akibat kelalaian pejabat si anu. Kenapa harus memulainya dengan debat yang berkepanjangan? Kalau memang ada musibah banjir, langkah awal lakukan penyelamatan dulu. Tidak usah ribut-ribut di media sampai-sampai saling tuding pengamat dengan pejabat publik atau tokoh masyarakat dengan pejabat publik. Selesaikan dulu masalah-masalah yang mendesak yang berkaitan dengan masalah-masalah kemanusiaan. Membantu orang yang terkena musibah itu sesuatu yang diutamakan dan wajib  hukumnya. Media massa atau sosial jangan karena cari keuntungan komersial memancing-mancing orang untuk ikut-ikut komentar yang cenderung nyinyir. Jadi, hindari sikap masa bodo. Jangan ikuti seperti yang dikatakan The Beatles dalam lirik lagunya “Obladi Oblada” yang mengatakan berulang-ulang ` Ob la di, ob-la-da, life goes on, bra. La-la, how the life goes on.`  Di petikan lirik itu tampak sekali menurut mereka `kalau yang sudah berlalu biarkan saja berlalu seperti kehidupan yang terus berlangsung`. Bukankah petikan dari lirik lagu itu sebenarnya mengajarkan pendengarnya agar cuek saja dengan masalah kehidupan termasuk cuek saja dengan masalah kepedulian? Dengan kata lain, sama seperti yang populer dikatakan orang:`emangnya gue pikirin.` Wallahu a`lam bissawab.

Sumber Gambar/Foto:

  1. (https://images.app.goo.gl/EkomXqnP4eFTfy2T9)
  2. (https://images.app.goo.gl/SehqJ8fyMLPEYDrG6)
  3. (https://images.app.goo.gl/KPsK7xiN4F4hUxmk9)

KOTA GIGANTISME

Subagio S. Waluyo

Ciri yang menandai kota yang makin gigantik adalah terus bermunculan ruang bangunan, dan ikon kota yang merepresentasikan kebutuhan dan kepentingan kekuatan pemilik modal dan kebutuhan kelas menengah ke atas. Ketika di sebuah kota dibangun mal megah, hotel mewah bintang lima plus, apartemen dengan harga miliaran rupiah, siapakah sesungguhnya yang bakal dan mampu menikmatinya?

(Mewariskan Kota Layak Huni oleh Nirwono Joga, 2017:46)

Continue reading “KOTA GIGANTISME”

KOTA ANAK-ANAK ALFA

Subagio S. Waluyo

Kota yang diharapkan di masa depan adalah kota yang nyaman, tempat anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas dapat berjalan dengan aman dan nyaman. Kota yang masyarakatnya memiliki kebersamaan di ruang-ruang publik, saling bercanda dan berdiskusi dalam memecahkan masalah di lingkungannya.

(Mewariskan Kota Layak Huni oleh Nirwono Joga, 2017:XIX) Continue reading “KOTA ANAK-ANAK ALFA”

PEMBANGUNAN YANG MEMATIKAN

Subagio S. Waluyo

Seandainya negara-negara berkembang dapat memecahkan masalah mereka dengan lebih baik; seandainya mereka memiliki pemerintahan yang jujur, tidak punya kepentingan-kepentingan terselubung, memiliki perusahaan yang lebih efisien, tenaga kerja yang lebih berpendidikan; seandainya mereka tidak mengalami semua penderitaan akibat kemiskinan—maka mereka dapat mengatasi ketidakadilan dan disfungsi globalisasi tersebut secara lebih baik. 

 (Joseph E.Stiglitz, Making Globalization  Work, 2007:119)

“…dalam 20 tahun mendatang, sangat penting dan mendesak bagi bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali berbagai langkah-langkah, antara lain di bidang pengelolaan sumber daya alam, sumberdaya manusia, lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar serta daya saing yang kuat di dalam pergaulan  masyarakat Internasional.”

(Penjelasan Atas UU RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025) Continue reading “PEMBANGUNAN YANG MEMATIKAN”

Revolusi Industri 4.0.

  1. Folder-Handout Revolusi Industri 4.0.
  2. Buku-Bandung Urban Mobility Project
  3. Buku-Electronic Government-Konsep Pelayanan Publik Berbasis Internet dan Teknologi Informasi
  4. uku-Industri 4.0.: Ancaman-Tantangan atau Kesempatan?
  5. Buku-Isu-Isu Masyarakat Global Digital Kontemporer 
  6. Buku-Keamanan Cyber untuk e-Commerce 
  7. Buku-Kebijakan Cybersecurity dalam Perspektif Multistakeholder
  8. Buku-Memandang Revolusi Industri&Dialog Pendidikan Karakter di PT Indonesia 
  9. Modul-Penerapan e-Government
  10. Penelitian-Elemen Sukses e-Government: Studi Kasus Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat Kota Bandung
  11. Penelitian-Implementasi e-Government dalam Administrasi Pemerintahan di Kabupaten Banyumas
  12. Penelitian-Implementasi e-Government di Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten
  13. Penelitian-Pengelolaan Media Sosial dalam Mewujudkan Good Governance

Perkotaan (02)

  1. Handout-Kabupaten/Kota Layak Anak
  2. Agenda Baru Perkotaan
  3. Grand Design Jakarta  Menuju Kota Layak Anak (2018-2022) 
  4. Indikator Kota Layak Anak 
  5. Indikator Pelaksanaan Kabupaten/Kota Layak Anak (Edisi 2)
  6. Investasi Pembangunan di Indonesia
  7. Konsep Kota Ekologis sebagai Kota Ekonomis yang Berkelanjutan
  8. Modul-Pengembangan Desa/Kelurahan Layak Anak 
  9. Modul-Pengertian dan Ruang Lingkup Perkotaan 
  10. Dinamika Kampung Kota
  11. Masyarakat Desa dan Kota-Buku Ajar
  12. TOD-Standard-Smart City
  13. Penelitian-Fungsi Taman Kota sebagai Ruang Publik
  14. Penelitian-Implementasi Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak di Kota Tangerang Selatan
  15. Penelitian-Implementasi RPTRA di Kelurahan Sungai Bambu
  16. Penelitian-Kajian Pemakai Website Jakarta Smart City 
  17. Penelitian-Konsep Kota Layak Huni dalam Al-Qur`an
  18. Penelitian-Strategi Pemerintah Cilegon Menuju Cilegon Smart City