Bahasa dan Sastra

Mengapresiasi Kemanusiaan dan Kebudayaan

Subagio S. Waluyo

Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.

Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.

Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.

(Dikutip dari cerpen Eka Kurniawan “Dua Wajah Ibu”)

***

Tulisan ini lebih cenderung untuk menjawab hal-hal di seputar apa, mengapa, dan bagaimana dalam mengapresiasi kemanusiaan dan kebudayaan. Pola pengembangan tulisan dengan mengajukan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana bukan hal yang baru. Di dunia jurnalistik sudah merupakan keharusan apabila seorang wartawan ingin meliput sebuah berita, dia akan berangkat dari 5 W+1 H. Dalam tulisan ini hanya 2 W+1 H, What, Why. dan How. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu kita akan memahami sepenuhnya yang ingin dicapai dari tulisan ini.

Kalau secara teliti mengamati judul tulisan ini, kita akan sepakat bahwa tulisan ini terbagi dua bagian besar, yaitu mengapresiasi kemanusiaan dan mengapresiasi kebudayaan. Untuk itu, kita akan awali tulisan ini dengan terlebih dahulu menjelaskan hal-hal di seputar mengapresiasi kemanusiaan. Setelah itu, baru kita menguraikan mengapreasiasi kebudayaan. Dengan cara demikian Insya Allah akan mendapati gambaran untuk  mengapresiasi hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan dan kebudayaan.

Kata `mengapreasiasi` supaya lebih mudah kita memahaminya perlu terlebih dahulu kita kupas definisi apresiasi. Jadi, imbuhan meN- pada kata `mengapresiasi` sengaja kita singkirkan dulu. Imbuhan meN- yang dilekatkan pada kata `apresiasi` lebih mempunyai makna mengerjakan. Kata `apresiasi` itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,1999:53) didefinisikan  n 1. kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya; 2. penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3. kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang  itu bertambah. Dari tiga definisi di atas yang relevan dengan tulisan ini adalah definisi kedua, yaitu penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu. Jadi, apresiasi kemanusiaan bisa saja didefinisikan sebagai penilaian (penghargaan) terhadap kemanusiaan yang dalam hal ini adalah nilai-nilainya. Dengan demikian,  apresiasi kebudayaan didefinisikan sebagai penilaian (penghargaan) terhadap nilai-nilai kebudayaan.

***

Apresiasi kemanusiaan atau penilaian dan penghargaan terhadap (nilai-nilai) kemanusiaan dalam hal ini mencakup nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Nilai-nilai yang universal pada manusia itu di antaranya adalah cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, pengabdian, kegelisahan, dan harapan. Tentang nilai-nilai universal manusia bisa dilihat pada tulisan-tulisan di blog ini yang semuanya dikaitkan dengan karya sastra (prosa dan puisi). Di samping itu, juga bisa dimasukkan di sini nilai moral atau akhlak. Nilai akhlak dalam bidang filsafat termasuk ke dalam aksiologi. Dalam aksiologi ada dua hal yang dikaji, yaitu estetika dan etika (Elly M.Setiadi, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar/ISBD, 2005:107). Di website ini (lihat “Menyoal tentang Keindahan”) juga sudah ditulis tentang estetika (keindahan) yang dikaitkan dengan karya sastra. Sedangkan tentang etika sebagai salah satu nilai kemanusiaan yang juga bersifat universal akan dibahas, Insya Allah, pada kesempatan berikutnya.

Kita perlu mengkaji nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal mengingat dengan cara demikian kita menyadari bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak bisa memungkiri adanya nilai-nilai yang ada pada diri kita. Di sini setiap orang harus bisa memberikan penilaian/penghargaan (apresiasi) terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal yang telah dihasilkan seseorang entah itu dalam bentuk produk-produk massal baik seperti industri informatika dan komunikasi maupun karya seni. Dalam karya seni, misalnya, bisa saja seorang seniman menghasilkan sebuah karya seni yang  menayangkan nilai-nilai cinta kasih atau keadilan atau penderitaan. Sebagai penikmat yang baik kita layak memberikan apresiasi terhadap karya seni tersebut. Sebuah apresiasi walaupun mendapat nilai minim bagi seorang seniman akan menjadi masukan berharga untuk menghasilkan karya-karya seni yang lebih baik di masa depan.

Untuk bisa menjadi orang yang mampu memberikan apresiasi kemanusiaan diperlukan pemahaman terhadap objek yang mau diberikan apresiasi. Orang yang memiliki pemahaman tentu saja harus memiliki keilmuan yang mumpuni. Tanpa ilmu yang mumpuni mustahil orang tersebut bisa melakukan apresiasi. Selain pemahaman yang mendalam juga diperlukan adanya aktivitas kontemplasi (perenungan). Sebuah karya sastra, misalnya, tidak cukup hanya dibaca tetapi juga perlu direnungkan untuk mendapatkan makna-makna kehidupan yang terpendam. Di sini seorang yang ingin melakukan apresiasi dibutuhkan sebuah ketekunan, kekonsistenan, dan kesabaran untuk melakoninya. Orang tersebut juga harus memiliki komitmen atau integritas diri sehingga tidak terpengaruh di saat memberikan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

***
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, (1992:5) ada tiga wujud. (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakukan berpola dari manusia dalam masyarakat. (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari ketiga wujud kebudayaan itu yang bisa diapresiasi adalah wujud ketiga,wujud kebudayaan fisik,  karena sebagai produk dari sebuah ide/gagasan yang dilakukan dengan aktivitas fisik menghasilkan sebuah karya kebudayaan yang siap diapresiasi. Muncul sebuah pertanyaan, karya kebudayaan apa saja yang bisa diapresiasi?  Produk dari semua yang termasuk ke dalam unsur-unsur kebudayaan bisa diapresiasi, Kita bisa ambil contoh, produk dari perkembangan sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (sainstek) seperti komputer layak untuk diapresiasi karena semakin hari semakin banyak memberikan manfaat bagi manusia dalam hal memudahkan bukan saja entri data tapi juga bisa dijadikan alat komunikasi melalui internet. Dari internet saja sesama manusia atau institusi bisa saling berkomunikasi. Bahkan, perkembangan terbaru orang bisa berbisnis melalui internet (bisnis online). Ini menunjukkan bahwa kebudayaan semakin berkembang karena karya- karya kebudayaan sebagai hasil budidaya manusia telah menjadikan manusia semakin dimudahkan untuk melakukan aktivitas sosial dan budaya.

Kebudayaan yang menghasilkan karya-karya budaya layak untuk diapresiasi agar orang-orang yang giat melakukan aktivitas budaya semakin termotivasi untuk memproduk karya-karya kebudayaan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diakui atau tidak sebuah aktivitas dan kreativitas yang dikerjakan pegiat kebudayaan akan semakin termotivasi manakala ada orang atau institusi yang mengapresiasi hasil pekerjaannya. Apresiasi kebudayaan sebagai cara memotivasi seseorang agar bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan karya-karya besar kebudayaan bukan saja dalam bentuk sertifikat tetapi juga perhatian dari berbagai pihak. Pihak pemerintah, misalnya, apresiasinya dalam bentuk legalitas berupa entah itu yang namanya undang-undang, peraturaan presiden, peraturan pemerintah, keputusan menteri, peraturan gubernur, atau peraturan daerah sekalipun. Selain itu, pemerintah perlu memfasilitasi aktivitas dan kreativitas pegiat kebudayaan. Masyarakat kita pun perlu memberikan apresiasi dengan cara menghargai hasil karya mereka meskipun dari segi kualitas,misalnya, lebih rendah dari produk-produk impor. Harus ada kebanggaan bagi masyarakat kita untuk menggunakan produk-produk bangsa dewek yang telah bersusah payah mewujudkan karya-karya mereka. Dengan cara demikian, kebudayaan bangsa kita akan semakin maju dan mampun bersaing di pentas dunia. Bukankah produk-produk budaya tradisional yang sampai saat ini masih terus hidup dan berkembang di negara ini menunjukkan bahwa bangsa kita pun di masa lalu merupakan bangsa pencipta dan pegiat kebudayaan yang tangguh?

***
Bangsa ini tidak boleh kendur dan berhenti untuk melakukan aktivitas apresiasi sosial dan budaya. Dinamika sosial dan budaya bangsa ini hanya bisa diwujudkan manakala semua anak bangsa mengapresiasi semua aktivitas sosial dan budaya. Tidak boleh ada kata jenuh untuk mengapresiasi nilai-nilai sosial dan budaya. Semoga bangsa ini semakin hari semakin baik dalam mengapresiasi nilai-nilai sosial dan budaya sehingga bangsa ini semakin terpandang di mata dunia. Wallahu a`lam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat