MEMBUNUH HARIMAU DALAM DIRI SENDIRI

Subagio S. Waluyo

 

Setiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga

kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang memencilkan diri,

dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang

menimpa diri orang lain … besar kecil kezaliman, atau ada

dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya

terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia

harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia

haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam

dirinya. Dia kini mengerti benar apa yang dimaksud oleh Pak

Haji dengan kata-katanya – bunuhlah dahulu harimau dalam

dirimu ….

 (Harimau! Harimau!/Mochtar Lubis)

***

Membaca novel Harimau! Harimau (NHH) karya Mochtar Lubis (ML) kita seperti diingatkan sebagai makhluk yang lemah kita tidak luput dari dosa-dosa. Kita juga diingatkan agar setiap orang melakukan introspeksi diri. Memang, orang yang benar-benar beriman kalau mau hidup selamat dunia-  akhirat harus melakukan introspeksi diri sebelum orang lain mengintrospeksi dirinya. Sesuatu yang indah jika ada orang yang mengingatkan kita baik di masjid melalui khutbah-khutbah jum`at dan pengajian, di majelis taklim, maupun pada saat kita membaca buku-buku Islam yang bermuatan nasihat. Bisa juga ajakan introspeksi diri (bisa dalam bentuk bertobat) dilakukan seseorang  menjelang kematiannya. Di saat-saat kritis orang yang mau dipanggil Allah bila ada kesempatan bisa mengajak orang di sekitarnya untuk melakukan introspeksi diri.

Pak Balam, salah satu tokoh yang  menjadi korban terkaman harimau dalam NHH, di saat-saat  kritis menjelang malaikat maut menjemputnya masih sempat mengajak teman-temannya untuk mengintrospeksi diri. Pak Balam mengingatkan kalau harimau yang menerkamnya punya misi bukan semata-mata  mau memburu dia dan teman-temannya, tapi juga ada misi mau  menghukum dirinya dan teman-temannya sesama pencari damar yang konon kabarnya hidupnya telah berlumur dosa. Jadi, menurutnya harimau itu dikirim Tuhan untuk menghukum dirinya dan teman-temannya yang berdosa. Untuk itu, Pak Balam meminta teman-temannya mengakui dosa-dosanya. Rupanya tidak cukup sampai di situ, dia juga membongkar aib pimpinan rombongan pencari damar, Wak Katok, di hadapan teman-temannya yang lain. Meskipun demikian, dia masih bijak karena meminta secara khusus kepada Wak Katok agar mengakui dosa-dosanya.Dia juga meminta Wak Katok untuk bertobat.

“Awaslah, harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk menghukum kita yang berdosa — awaslah harimau — dikirim Allah — awaslah harimau -akuilah dosa-dosa kalian – akuilah dosa-dosa kalian.” Mereka diam saja mendengarkannya, rasa takut mulai timbul dalam hati mereka, seluruh gelap rimba raya di sekeliling terasa penuh dengan ancaman dan raksasa hitam yang ganas yang bersembunyi menunggu saat hendak menerkam, dan mereka merasa seakan harimau dengan gelisah berjalan mundar-mandir di seberang batas gelap antara pinggiran lingkaran api dan gelap hutan, mengawasi mereka, memeriksa dosa-dosa mereka,’ memutuskan siapakah lagi yang harus dihukum karena dosa-dosanya…

Mereka tak berani lagi saling berpandangan muka, takut yang lain akan dapat membaca apa yang mereka rasakan dan pikirkan, karena ucapan-ucapan Pak Balam yang masih terus juga dari waktu ke waktu ke luar dari mulutnya — “akuilah dosa-dosa kalian — bawalah harimau — dikirim Allah akuilah dosa-dosa kalian” memaksa mereka untuk memandang dengan jujur ke dalam lubuk hati, memaksa mereka meninjau kembali perbuatan-perbuatan selama hidup. Dan aduh, banyaklah dosa dan kesalahan yang mereka lihat. Mata mereka silau melihat kejahatan dan dosa-dosa mereka sendiri. Mereka lebih suka menyembunyikannya dan tak melihatnya. Tak mengingatnya dan tak membukanya. Jangankan membukanya kepada orang lain, kepada diri sendiri pun, masing-masing enggan dan tak hendak mengakuinya. Karena orang yang mencoba membuka kebenaran dibenci dan dimusuhi oleh mereka yang bersalah dan berdosa. Banyak orang yang takut hidup menghadapi kebenaran, dan hanya sedikit orang yang merasa tak dapat hidup tanpa kebenaran dalam hidupnya.Mulai pula timbul, di samping rasa takut mereka, rasa tak senang terhadap diri Pak Balam, yang mereka kasihani selama ini, sejak dia diterkam harimau dan berkat ketangkasan mereka bersama berhasil mereka rebut kembali dari rahang harimau. Dan kini, Pak Balam yang telah mereka selamatkan itulah pula yang menyuruh mereka membongkar kopor-kopor rahasia dalam hati dan jiwa mereka.

(NHH, hlm. 94-95)

Aku ikut bersalah. Aku berdosa. Barangkali aku yang lebih bersalah lagi dari Wak Katok. Karena dalam hatiku aku telah tahu apa yang hendak dilakukan oleh Wak Katok, ketika dia membawa aku pergi ke sumur. Tetapi hatiku begitu cinta pada hidup diriku, hingga aku rela untuk membayar apa saja agar aku dapat hidup terus. Biarlah Sarip yang mati, asal aku dapat hidup. Aku amat pengecut sekali, aku takut mati, aku tak mau mati. Jika aku melarang Wak Katok, dan berkeras supaya Sarip kami bawa, pasti Wak Katok akan menuruti

kehendakku. Tetapi aku biarkan saja. Orang yang membiarkan orang lain melakukan kejahatan dan dosa, sedang dia mampu menghalanginya, sama besar dosanya dengan orang yang melakukan dosa itu. Apalagi jika dia tahu,

bahwa karena perbuatan dosa itu, dia sendiri mendapat keuntungan. Itulah perbuatan Wak Katok, kawanku yang amat karib, yang pertama, yang aku biarkan, dan aku pun tak kurang ikut memikul dosanya.

Selama pemberontakan banyaklah hal-hal lain yang aku biarkan Wak Katok melakukannya, dan aku pun harus ikut memikul dosa-dosanya. Seperti ketika Wak Katok memperkosa istri Demang, kemudian membunuh Demang, istri dan tiga orang anaknya, dan merampas emas dan perak di rumah Demang. Aku ada bersama Wak Katok, dan aku tak berusaha untuk melarang Wak Katok berbuat dosa demikian.

(NHH, hlm. 93)

“Akuilah dosa-dosamu, Wak Katok, dan sujudlah ke hadirat Tuhan, mintalah ampun kepada Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun, akuilah dosa-dosa kalian, juga kalian yang lain, supaya kalian dapat selamat ke luar dari rimba ini, terjauh dari bahaya yang dibawa harimau … biarlah aku

seorang yang jadi korban”

(NHH, hlm. 94)

***

Sebagai pimpinan dan orang yang dianggap berilmu, Wak Katok tidak bisa menerima ajakan Pak Balam. Tanpa sepengetahuan Pak Balam, dengan melakukan cara-cara ritual, akhirnya dia menemukan bukti bahwa harimau yang membuntuti dan memburu Wak Katok dan kawan-kawan bukan harimau jadi-jadian atau siluman. Harimau itu hanya harimau biasa. Karena hanya harimau biasa, menurutnya mustahil kalau harimau itu dikirim Tuhan untuk membongkar dosa-dosa para pencari damar itu. Dengan penjelasan Wak Katok, teman-temannya, kecuali Pak Balam, bernafas lega. Mereka tidak lagi merasa bahwa harimau yang membuntuti dan memburu  mereka bukan harimau utusan Tuhan yang punya misi membuka kedok-kedok mereka. Atau harimau yang diutus untuk menekan mereka agar mengakui dosa-dosanya seperti yang dikatakan Pak Balam. Untuk sementara, ajakan Pak Balam dianggap tidak mempan buat mereka. Mereka sebagai manusia biasa tidak mau menelanjangi dirinya sendiri.

“Syukur alhamdulillah, harimau bukan harimau siluman. Menurut darah di pisau,” kata Wak Katok, dan menunjukkan pada mereka belatinya. Di ujung belati kelihatan bekas darah yang kini berwarna hitam, dan mereka melihat Wak Katok mencicip ujung jari kirinya, yang bekas ditusuknya dengan pisau belati.

“Jika harimau itu harimau siluman, maka darah di pisau akan tetap tinggal merah setelah dibakar di api,” kata Wak Katok menerangkan. “Akan tetapi lihatlah, darahnya jadi hitam, jadi darah biasa, dan karena itu darah harimau adalah juga darah biasa, dan dia adalah harimau biasa.”   

Terdengar mereka semua menarik napas lega setelah mendengar kata Wak Katok. Harimau biasa, meskipun menakutkan, akan tetapi tidak begitu dahsyat menakutkan seperti harimau siluman. Harimau biasa adalah binatang buas biasa, yang dapat dilawan. Sedang harimau siluman tak seorang manusia juga yang kuasa melawannya. Orang merasa tak berdaya dan tak bertenaga sama sekali jika harus menghadapi harimau jadi-jadian. Apalagi jika harimau siluman menjadi pesuruh Yang Maha Kuasa untuk menghukum dosadosa mereka. Menghadapi harimau demikian orang hanya tinggal menunggu nasib saja. Menunggu terus-menerus dalam ketakutan, hingga saat setiap orang tiba untuk dipanggil kembali ke alam baka. Tetapi harimau biasa dapat dilawan. Dan Buyung sendiri merasa mempunyai cukup kecakapan menembak untuk memburu harimau biasa.

Dan yang lebih menyenangkan hati mereka lagi adalah, kini persoalan harus mengakui dosa-dosanya telah dikesampingkan. Kini tak perlu lagi mereka memeriksa dirinya, dan melihat dan berhadapan dengan dosa-dosanya, yang selama ini mereka simpan jauh-jauh di dasar ingatan, kesadaran dan hati nuraninya. Tak seorangpun juga merasa senang menelanjangi dirinya sendiri. Jangankan di depan orang lain, meskipun pada dirinya sendiri, ketika orang seorang hanya sendiri dengan dirinya, tak ada yang suka bertentangan mata dengan hati nuraninya.

(NHH, hlm.100-101 )

Api unggun menyala besar, melontarkan lingkaran cahaya kecil di tengah gelap rimba raya menahan gelap yang hendak menelan mereka. Bunyi hutan di malam hari yang penuh dengan bunyi-bunyi rahasia dan gaib melingkari mereka. Hati nurani manusia memburu-buru minta pengakuan.

         (NHH, hlm. 103)

***

Meskipun Pak Balam yang pertama kali diterkam harimau, justru Talib yang pertama kali menemui ajalnya setelah diterkam harimau. Luka-lukanya di sekujur tubuhnya yang terbilang sangat parah tidak bisa diobati sehingga Talib harus meregang nyawanya. Kematian Talib mengakibatkan mereka yang tersisa semakin gelisah. Di satu sisi mereka mengakui ucapan Pak Balam bahwa harimau yang masih masif membuntuti dan memburu mereka bukan harimau biasa. Itu harimau yang dikirim Tuhan agar mereka mengakui dosa-dosanya dan segera bertobat.  Tapi, di sisi lain karena masih ada nafsu duniawi yang demikian kuat, mereka tetap saja percaya bahwa peristiwa yang baru saja terjadi tidak berkaitan dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Hal yang wajar kalau setiap orang dalam kondisi seperti itu ingin segera ke luar dari hutan, bertemu kembali dengan keluarganya, dan tentu saja mereka tidak ingin diterkam harimau seperti yang dialami Pak Balam dan Talib.

Mereka berpandangan.

Seorang dari mereka kini telah mati akibat serangan, harimau, yang menurut Pak Balam dikirim Tuhan untuk menghukum mereka yang berdosa. Mungkinkah Pak Balam benar? Dan harimau itu bukanlah harimau biasa? Akan tetapi harimau yang dikirim oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, harimau gaib, yang datang untuk menghukum mereka? Apa daya mereka terhadapnya, selain menyerahkan diri kepada Tuhan?

Jika memang telah tersurat, bahwa mereka harus mati diterkam harimau di tengah hutan karena dosa-dosanya, maka haruslah mereka menerima takdir yang demikian.

Akan tetapi dalam bawah sadar mereka nafsu hidup tetap menyala dengan kuat. Malahan kini, di tengah ancaman yang dahsyat, menyala lebih besar dan lebih kuat lagi. Mereka hendak hidup terus, mereka hendak ke luar dari hutan, mereka hendak meninggalkan rimba dengan selamat. Mereka hendak pulang ke kampungnya. Mereka hendak kembali kepada istri dan anaknya. Mereka hendak mencinta kembali. Mereka hendak hidup kembali di tengah manusia. Mereka tak hendak mati diserang harimau yang ganas dan zalim. Bawah sadar mereka berteriak menyuruh mereka berjuang, berkelahi, bertarung untuk mepertahankan hak hidupnya.

(NHH, hlm. 114)

Talib sebelum wafat sempat melontarkan sebuah pengakuan bahwa dia pernah mencuri. Masalah itu sempat ditanyakan Pak Haji. Rupanya, Sanip meresponnya walaupun sempat terjadi perkelahian antara Sanip dan Sutan. Menurut pengakuan Sanip, dia bersama Talib dan Sutan pernah mencuri empat ekor kerbau milik Haji Serdang. Aksi mereka sempat diketahui penjaga kerbau. Talib bertindak cepat dengan menikam sang penjaga kerbau. Penjaga kerbau sempat mengenali wajahnya. Meskipun mereka bertiga selamat, tapi Sanip sebagai salah seorang pelakunya mengakui itu merupakan perbuatan dosa. Peristiwa yang dialami kedua orang temannya merupakan balasan atas perbuatan dosa yang mereka lakukan. Dia pun pada akhirnya mengakui yang dikatakan Pak Balam, yang masih terbaring lemah karena luka-lukanya, itu benar. Harimau itu menurut Sanip memang dikirim Tuhan agar dia dan teman-temannya mengakui segala kesalahan dan dosa-dosanya. Sanip di bawah tekanan Pak Balam dan Wak Katok pada akhirnya menceritakan semua perbuatannya yang pernah dilakukan selama hidupnya. Setelah menyampaikan semua itu, dia merasa lega. Tekanan batin yang selama  ini menghimpitnya seolah-olah terlepas dari dirinya. Dari ceritanya Buyung tahu kalau Sanip ternyata seorang penzina, pencuri, dan pendusta.

Daya Sanip menguasai dirinya patah di bawah ancaman Wak Katok. Dia lalu bercerita. Semuanya diceritakannya. Tak ada satu pun yang ditahan-lahannya. Dan dalam bercerita mulai pula terasa kelegaan dalam hatinya. Akhirnya dia pun terlepas pula dari tekanan dosa-dosa yang selama ini melekat di jiwanya.

Buyung mendengarkan dengan penuh takjub. Berbagai perasaan timbul dalam hatinya. Perasaan marah, kecewa, kesal, jijik. Mungkinkah Sanip bercerita sekarang adalah Sanip kawannya selama ini? Sanip yang periang, Sanip yang termasuk orang baik-baik di kampung, yang dihormati dan disayanginya, dan dipercayainya selama ini? Ternyata dia seorang tukang berzinah, seorang pencuri, seorang pendusta?

(NH, hlm. 120)

***

Bagaimana dengan Wak Katok yang telah dibongkar perilakunya oleh Pak Balam? Ternyata, Wak Katok jiwanya mulai tidak tenang. Dia mulai galau. Kelemahan-kelemahannya yang telah dibongkar Pak Balam membuat jiwanya sebenarnya makin lemah. Kematian Talib akibat serangan harimau membuat jiwanya semakin tertekan. Usulan Buyung untuk memburu harimau yang segera disambut olehnya sebenarnya juga makin membuat jiwanya tertekan. Hanya karena gengsi saja di hadapan murid-muridnya (Talib, Sutan, Sanip, dan Buyung adalah murid-murid Wak Katok) dia berinisiatif untuk memimpin perburuan itu. Sejujurnya dia sebenarnya meragukan kemahirannya dalam memburu harimau karena memang tidak punya pengalaman memburu dan (bahkan) menembak harimau. Sepintas ada pikiran untuk menyerahkan senapan yang dipegangnya pada Buyung. Tapi, karena kesombongannya, dia tidak mau menyerahkannya. Selain itu, dengan senapan itu dia  merasa aman. Bahkan, dengan senapan itu pula dia merasa sebagai pimpinan rombongan yang layak untuk disegani bawahannya. Meskipun demikian, ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan, yaitu di balik kekukuhan, kekerasan, dan ketegangan wajahnya Wak Katok di hati kecilnya adalah seorang yang galau hatiya, penuh keraguan dan kebimbangan, dan dirinya dihantui perasaan kekhawatiran.   

Sejak serangan harimau yang pertama, dan sejak Pak Balam membongkar rahasia kejahatan-kejahatannya di waktu dulu, Wak Katok telah berada di bawah tekanan jiwa yang semakin hari semakin besar. Dia merasa kelemahan-kelemahannya yang dirahasiakannya selama ini telah terbongkar, dan membuat dia lemah kembali. Dan serangan harimau yang kedua terhadap Talib telah lebih memperbesar tekanan ini. Dan kini sambil menunggu-nunggu harimau, datang tekanan lebih besar lagi. Bagaimana jika dia menembak tak tepat? Jika harimau lolos kembali? Atau jika dia menembaknya hanya luka, dan harimau dalang mengamuk menyerang mereka? Mereka kini tidak berada dialas pohon yang aman. Ingin dia sebenarnya mengusulkan

supaya mereka pindah tempat, naik ke atas pohon, membuat tempat menunggu di atas pohon. Akan tetapi dia tahu, bahwa usulnya akan didengar dengan perasaan aneh dan ganjil oleh Buyung. Karena keadaan kini tidak mengizinkan mereka berburu cara demikian.

Kini soalnya mengadu kemahiran berburu dan kekuatan hati dengan harimau. Dan inilah yang dirasakan sekarang amat kurang cukup dimilikinya. Dia bukan saja takut menghadapi harimau yang kini datang semakin dekat ke tempatnya bersembunyi, akan tetapi dia pun tak kurang takutnya, nanti akan terbukti, di depan mata Sanip dan Buyung, jika gagal menembak. Bagaimana jika ketika melihat dan mendengar auman harimau, badannya jadi beku dan kaku?

Alangkah senangnya jika dia dapat mencari alasan untuk memberikan senapan kepada Buyung. Biarlah Buyung yang menembak. Jika meleset, maka Buyunglah yang salah. Akan dikatakankah, bahwa tangannya sakit, atau kaku, semutan…? Akan tetapi hatinya amat enggan melepaskan senapan dari tangannya.

Sejak bahaya mengancam, tak pernah dia melepaskan senapan dari tangannya lagi, jika tak amat perlu sekali. Dia mendapatkan sesuatu perasaan aman dari besi laras senapannya. Senapannya itulah yang memberikan padanya kedudukan pimpinan dan kekuasaan antara mereka kini. Tanpa senapannya dia tak punya arti. Wak Katok, meskipun seluruh tampangnya dan mukanya menunjukkan kekukuhan dan kekerasan dan ketegangan, sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya, adalah seorang yang rusuh hatinya, kacau perasaannya, ragu-ragu pikirannya, penuh dilanda kebimbangan, keraguan dan kekhawatiran. Tangan beku dan jari-jari beku, ketakutan pun meremas-remas hatinya tak berhenti-hentinya.

(NHH, hlm. 135)

Sebagai tambahan, sikap Wak Katok yang menunjukkan kelemahan dirinya juga tampak ketika suatu malam dia mendapat giliran jaga malam. Seperti biasanya dia seharusnya membangunkan Buyung dan Sanip untuk giliran jaga. Entah kenapa, malam itu dia membiarkan kedua orang itu tidur. Sebagai pimpinan yang sebenarnya penakut setiap kali ada suara gesekan sebenarnya dia ingin teriak dan melompat. Tetapi, sekali lagi karena ketinggian hatinya, dia tahan semua keinginan itu. Wak Katok cermin seorang pemimpin yang penakut, yang penuh dengan kebimbangan, keraguan, dan kekhawatiran hanya demi prestise dia melakukan kamuflase. Sikap seperti ini jelas akan membahayakan bukan saja buat dirinya, tapi juga buat orang-orang yang dipimpinnya.

Biasanya Wak Katok membangunkan Buyung dan Sanip, menurut giliran mereka untuk berjaga-jaga, selelah mereka mulai diserang harimau. Akan tetapi malam itu Wak Katok tak hendak melepaskan senapan dari pegangannya. Dia duduk sendiri dekat api. Tiap sebentar matanya mengawasi hutan gelap di luar lingkaran cahaya api. Semakin lama ketegangan yang menekan itu semakin besar, dan semakin besar pula dan semakin besar, dan ada beberapa kali seakan Wak Katok pun tak dapat menahan rasa takut yang memeras hati dengan amat kuatnya, dan dia merasa ingin melompat dan menjerit, melakukan sesuatu kekerasan untuk menghapuskan rasa takut demikian dari hatinya.

Beberapa kali hatinya berdebar-debar amat kerasnya mendengar bunyi berkeresekan di antara belukar gelap di luar cahaya api unggun, dan timbul hasratnya untuk membangunkan Pak Haji, atau Buyung, atau membangunkan mereka semua. Akan tetapi ditahannya dirinya. Takut dia akan merasa malu, mereka akan tahu, bahwa dia merasa takut. Karena bukankah dia adalah Wak Katok, orang yang paling berani di kampungnya, yang tidak takut pada setan, jin atau iblis, seorang dukun yang amat tinggi ilmunya, yang dapat mengobati segala penyakit, yang dapat memanggil angin dan hujan, menundukkan api, menundukkan racun dan guna-guna, seorang pemburu yang merajai semua rimba, guru silat yang tak ada tandingannya?

(NHH, hlm. 143-144)

Sebenarnya Buyung telah melihat perubahan sikap pada diri Wak Katok. Digambarkan air mukanya yang biasanya menunjukkan kekerasan tekad, lambat laun mulai goyah. Buyung mulai meragukan kekuatan tekad Wak Katok menghadapi peristiwa penerkaman yang dialami teman-temannya. Dimulai dari Pak Balam, Talib, sampai Sutan. Semua itu membuat goyahnya Wak Katok. Tentu saja kalau sang pimpinan sudah seperti itu, tidak mustahil akan membahayakan rombongan pencari damar yang masih tersisa. 

Sejak mereka mulai menunggu datangnya harimau di tempat persembunyian mereka, Buyung dapat merasakan sesuatu perubahan di dalam diri Wak Katok. Air mukanya

yang keras kini seakan goyah. Seakan Wak Katok meragukan kekerasan dirinya sendiri. Sesuatu yang goyah yang dapat membahayakan, bukan saja diri Wak Katok sendiri, akan tetapi diri mereka semua.

(NH, hlm. 142)

Bukan hanya Buyung, Pak Haji juga bisa merasakannya. Ucapan-ucapan Wak Katok yang penuh keraguan dan tingkah laku yang terbaca di mata Pak Haji sebagai orang yang sebenarnya penakut menimbulkan kekhawatiran di diri Pak Haji karena suatu saat perbuatan Wak Katok akan menimbulkan bencana seperti yang dialaminya saat ini.

Dia tahu bahwa Wak Katok menghadapi krisis dalam dirinya. Dari ucapan-ucapan dan tingkah laku Wak Katok, Pak Haji dapat menyimpulkan, bahwa tekanan yang lebih besar akan mungkin meledakkan krisis ini, dan tak seorang juga yang dapat mengatakan apa yang akan dilakukan Wak Katok. Perbuatannya mungkin akan menimbulkan bencana bagi mereka semua.

(NHH, hlm. 156)

Selain itu, Pak Haji sejak lama telah melihat kalau Wak Katok memiliki pribadi yang lemah. Dia juga tahu kalau Wak Katok sebenarnya tidak sehebat yang disebut orang-orang kampung sebagai orang yang punya berbagai ilmu entah ilmu silat, kekebalan, atau perdukunan. Hanya saja dia tidak mau ambil pusing dengan membuka aib orang di depan orang banyak. Kalau sampai dilakukan, tidak mustahil dia akan diusir orang-orang sekampungnya. Dia ingin cari aman mengingat usianya yang sudah lanjut. Di hari-hari tuanya dia ingin hidup nyaman.

Pak Haji sejak lama telah dapat melihat kelemahan-kelemahan dalam pribadi Wak Katok dan juga kelemahan dalam ilmu yang dimasyhur-masyhurkan orang tentang Wak Katok. Akan tetapi dia berdiam diri. Apa perlunya? Mengapa dia harus membongkar kedok Wak Katok pada orang-orang sekampungnya? Jika mereka senang dan berbahagia mengikuti Wak Katok, mengangkatnya jadi pemimpin dan gurunya, maka itu persoalan mereka. Apa untungnya baginya membuka mata orang banyak? Dialah yang akan celaka. Dia akan dibenci orang jika dia berbuat demikian. Dia hanya akan mendapat musuh saja. Dan dia telah bosan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di hari tuanya dia ingin hidup tak terganggu dan tak mengganggu orang lain. Suka hati orang lainlah apa yang hendak mereka lakukan.

(NHH, hlm. 156)

***

Meskipun Wak Katok berusaha menutup-nutupi kelemahannya, lambat-laun terbongkar juga kedoknya. Suatu saat ketika mereka menghadapi seekor harimau yang selama ini membuntuti dan  memburunya, Wak Katok berupaya bersembunyi ke dalam tanah. Tindakan Wak Katok jelas diketahui mereka bertiga (Buyung, Sanip, Pak Haji). Upaya Wak Katok menyelamatkan diri ternyata berbuah kebencian bagi teman-temannya. Sanip spontan dengan kata-katanya yang cukup pedas menyerang Wak Katok. Tidak cukup sampai di situ, Sanip juga menuduh kalau penyebab munculnya musibah beruntun itu akibat dari Wak Katok yang telah meniduri istri Wak Hitam, Siti Rubiyah. Sanip melihat langsung kejadian itu. Mendengar ucapan Sanip terakhir itu spontan Wak Katok naik pitam. Wak Katok meminta Sanip untuk berhenti bicara seraya membela diri kalau Siti Rubiyah, istri Wak Hitam, mau tidur dengan siapapun yang penting ada yang membayarnya. Wak Katok justru menuduh balik Sanip dan teman-temannya juga bernafsu untuk meniduri Rubiyah. Tidak cukup sampai di situ, Wak Katok yang sudah panik dan juga tersudut mengusir mereka.    

“Inikah Wak Katok yang gagah perkasa itu, guru paling besar, dukun paling besar, guru silat yang paling pandai, pemimpin yang paling besar. Mengapa Wak Katok kini hendak bersembunyi ke dalam tanah? Engkau guru palsu. Lihat ini…” Dia membuka ikatan jimat-jimat di pinggangnya, dan dilemparkannya ke tanah. “Jimat-jimatmu palsu, manteramanteramu palsu. Inilah jimat-jimat yang dipakai juga oleh Pak Balam, oleh Talib, oleh Sutan, lihatlah, di mana mereka kini, karena mempercayai engkau… mereka telah mati, telah binasa. Engkau memaksa orang mengakui dosa-dosa, tetapi bagaimana dengan dosa-dosamu sendiri, dan bukan saja dosa-dosamu yang diberitahukan oleh Pak Balam. Akan aku ceritakankah padamu dosamu…?” Wak Katok diam saja.

(NHH, hlm. 171)

“Ya, kalian mungkin tak percaya, tetapi aku lihat dengan mata kepataku sendiri. Pangkal celaka kita tak lain adalah Wak Katok sendiri. Harimau yang datang menyerang kita adalah harimau Wak Hitam. Karena Wak Katok telah memaksa istri Wak Hitam, aku lihat, di pinggir sungai…”

(NHH, hlm. 171)

“Berhenti engkau berbicara, bangsat!” serunya, “oh, engkau lihat, ya? Tapi matamu tak cukup tajam. Aku tak paksa dia. Engkau tahu, aku bayar dia. Dan dia pun akan mau tidur dengan siapa saja yang mau memberinya uang atau membelikannya baju. Kalian juga bernafsu hendak tidur dengan dia, bukan? Kalau tidak mengapa engkau di sana,

Sanip, kalau tidak mengintipnya sedang mandi, bukan? Tapi kalian bukan jantan, kalian takut pada Wak Hitam, bukan?”

(NHH, hlm. 171)

 “Pergi kalian sekarang juga dari sini! Siapa yang tak pergi aku tembak!”

(NHH, hlm 172)

Wak Katok setelah ditinggal sendirian semakin gundah. Ada perasaan tidak tenang sepeninggal ketiga temannya. Ketidak- tenangan itu terlihat ketika dia membuat sekian banyak api unggun semata-mata untuk melindungi dirinya. Ketiga temannya yang meninggalkannya diam-diam mengatur strategi cara menaklukkannya. Sayangnya, upaya mereka menaklukkan Wak Katok memakan korban. Adalah Pak Haji yang menjadi korban kebrutalan Wak Katok. Dadanya tertembak ketika Pak Haji dan Sanip menyerang dari depan. Wak Katok memang berhasil ditaklukkan, tapi nyawa Pak Haji tak tertolong. Di saat-saat terakhir menjelang ajalnya, Pak Haji sempat mengakui kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya. Selain itu, ia berpesan pada Sanip dan Buyung agar memaafkan kesalahan Wak Katok. Pak Haji juga menekankan kepada keduanya agar membunuh harimau dalam hati mereka berdua.     

“Kalian masih muda, ambillah pelajaran dari apa yang terjadi… aku pun kini sadar … kita tak hidup sendiri di dunia… manusia sendiri-sendiri tak dapat hidup sempurna, dan tak mungkin hidup sebagai manusia, tak mungkin lengkap manusianya. Manusia yang mau hidup sendiri tak mungkin mengembangkan kemanusiaannya. Manusia perlu manusia lain. Sungguh kini aku sadari. Aku salah selama ini, kehilangan kepercayaan pada manusia dan pada Tuhan.

Tuhan ada, anak-anak, percayalah. Tapi jangan paksakanTuhanmu pada orang lain, seperti juga jangan paksakan kemanusiaanmu pada orang lain. Manusia perlu manusia lain … manusia harus belajar hidup dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain. Wak Katok jangan dibenci. Maafkan dia. Ampuni dia. Kita harus selalu bersedia mengampuni dan memaafkan kesalahan dan dosa-dosa orang lain. Juga kita harus selalu memaafkan dan mengampuni orang-orang yang berdosa terhadap diri kita sendiri …Ingatlah ucapan Bismillahhirrokhmanirrokhiim… Tuhan adalah yang Maha Pemurah dan Pengampun. Di sinilah kunci kemanusiaannya manusia yang diturunkan Tuhan kepada manusia. Sedang Tuhan dapat mengampuni segala dosa jika yang berdosa datang padanya dengan kejujuran dan penyesalan yang sungguh. Apalagi kita, manusia yang biasa dan daif ini, di mana kekuasaan kita untuk menjadi hakim yang mutlak, dan menjatuhkan hukuman tanpa ampun kepada sesama manusia? Aku tersesat selama ini, aku telah menghukum seluruh manusia, dan dengan itu menghukum diriku sendiri … aku tahu kini, akulah yang paling berdosa. Aku lah yang paling tua, akan tetapi hatiku dan pikiranku buta. Aku terlalu sombong dan angkuh … aku menghendaki manusia sempurna, sedang manusia hanya dapat berikhtiar dan berusaha menjadi sempurna… kini aku sadar, kemanusiaan hanya dapat dibina dengan mencinta, dan bukan dengan membenci. Orang yang membenci tidak saja hendak merusak manusia lain, tetapi pertama sekali merusak manusia dirinya sendiri… kasihani Wak Katok … Orang yang berkuasa, jika dihinggapi ketakutan, selalu berbuat zalim…ingatlah hidup orang lain adalah hidup kalian juga … sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri … mengertikah kalian…percayalah pada Tuhan … Tuhan ada… manusia perlu bertuhan.. Ashaduala ilaha Mallah, wa asyhadu anna Muhammadar rosulullah … ampuni dosa-dosaku, Ya Tuhanku … Engkau tak dapat hidup sendiri… cintailah manusia…bunuhlah harimau dalam hatimu…” dan tiba-tiba kepalanya terkulai, dan sesuatu seakan bergerak dalam dadanya, darah mengalir ke luar dari mulutnya… Pak Haji pun telah meninggalkan mereka.

Buyung dan Sanip memang menerima pesan Pak Haji. Tapi, urusan dengan Wak Katok harus diselesaikan. Bukankah Wak Katok telah menghabisi nyawa Pak Haji lewat tembakannya? Selain itu, sebelumnya Wak Katok telah mengusir mereka sehingga wajar saja jika sekarang giliran Wak Katok yang harus diberi pelajaran. Jadi, setelah mengurus kematian Pak Haji, mereka berdua mengikat Wak Katok dan mematikan api unggun yang demikian banyak dipasang Wak Katok. Wak Katok yang siuman kaget ketika tubuhnya diikat di pondok. Keesokan harinya mereka bertiga menyusuri jejak-jejak harimau yang terbukti memang telah memburu Sutan. Ditemukan pakaian Sutan yang telah tercabik-cabik dan tulang-belulang yang diduga merupakan tulang-belulang Sutan. Setelah diketahui keberadaan harimau, mereka berdua mengikat kembali Wak Katok di batang pohon. Wak Katok dijadikan umpan agar Buyung dan Sanip bisa melumpuhkan harimau. Strateginya memang berhasil, harimau yang sekian lama membuntuti dan memburu mereka berhasil dilumpuhkan dengan menjadikan Wak Katok sebagai umpannya.

***

Peristiwa yang cukup memeras energi itu memberikan kesadaran baru pada Buyung. Buyung sadar bahwa setiap orang di manapun dia berada berkewajiban memerangi kezaliman. Adalah perbuatan yang salah kalau orang cenderung berdiam diri melihat kezaliman. Juga termasuk perbuatan yang hina kalau ada sebagian orang berupaya menutup-nutupi kezaliman. Di luar itu semua, manusia harus saling mencintai satu sama lain. Untuk itu, setiap manusia harus terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya. Ucapan Pak Haji benar-benar baru disadarinya di saat-saat terakhir dia berhasil membunuh harimau dalam dirinya. Dengan kata lain, dia berhasil mengatasi keraguan, kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan. Yang lebih baik lagi, dia telah bisa mengatasi segala macam penyakit hati pada dirinya.

Setiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang memencilkan diri, dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa diri orang lain … besar kecil kezaliman, atau ada dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya. Dia kini mengerti benar apa yang dimaksud oleh Pak Haji dengan kata-katanya – bunuhlah dahulu harimau dalam dirimu ….

(NHH, hlm. 186)

***

ML dalam NHH mengajak umat manusia untuk melakukan introspeksi/evaluasi diri. Allah swt telah menganjurkan kepada umat-Nya yang beriman agar setiap diri melakukan introspeksi (evaluasi) diri. Dalam Al-Qur`an, Surat Al-Hasyr ayat 18-20 disebutkan bahwa orang-orang beriman dianjurkan untuk bertaqwa (kata taqwa disebutkan dua kali) dan memperhatikan yang telah diperbuatnya (maksudnya mengintrospeksi/ mengevaluasi diri) untuk hari esok (akhirat). Selain itu, juga ditekankan agar orang-orang yang beriman tidak lupa pada Allah sehingga kalau orang yang semula beriman itu telah melupakan Allah, Allah akan melupakan mereka. Kalau sudah seperti itu, dia bukan lagi disebut orang beriman tetapi fasik. Sebagai pelengkap disebutkan bahwa penghuni surga adalah orang-orang yang beruntung dan penghuni neraka adalah orang yang merugi. Untuk itu, tidak sama penghuni surga dan penghuni neraka.

Sebenarnya, ML sebagai sastrawan menuangkan gagasan nilai-nilai Islam ke dalam NHH. Kepiawaian ML dalam menulis NHH yang menyebabkan setiap pembaca merenungi arti kehidupan. Lewat lisan Pak Haji yang berpesan pada Buyung dan Sanip, misalnya, ML menyampaikan agar manusia bisa mengembangkan kemanusiaannya. Melalui apa? Tentu saja menghindari prinsip hidup yang terasing (sendiri). Jadi, manusia sebagai makhluk sosial perlu hidup bermasyarakat. ML juga mengingatkan bahwa manusia itu makhluk yang tidak sempurna. Karena tidak sempurna, manusia perlu membina hubungannya pada sesama manusia dan Tuhan (hablummina Allah wa hablumminnaas). Manusia tidak boleh hilang kepercayaannya pada Tuhan dan juga pada sesama manusia. Untuk bisa mewujudkannya, menurut ML manusia harus bisa membunuh harimau dalam diri sendiri. Wallahu a`alam bissawab.      

Sumber Gambar:

  1. (https://images.app.goo.gl/8TXw9XRfH7JFEgNg7)
  2. (https://images.app.goo.gl/s9AocfTTM4DfEFhdA)
  3. (https://images.app.goo.gl/AaJHMASLayeW6PMo9)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat