BELAJAR MALU DARI SULAM

Subagio S. Waluyo

 Menunda amal karena  menunggu waktu yang luang

termasuk tanda kebodohan

(Ibnu Atha`illah Al-Iskandari)

          Tokoh Aku dalam cerpen “Wangon Jatilawang” (Ahmad Tohari) sebenarnya termasuk orang yang sangat peduli pada orang seperti Sulam. Tokoh Aku juga digambarkan sebagai orang yang sabar, orang yang mau berbagi dengan Sulam yang digambarkan sebagai orang yang teralienasi, terbelakang mental atau idiot. Sulam yang tidak punya lagi ibu-bapak, yang rumahnya begitu ibunya meninggal juga ikut punah (konon kabarnya ibunya juga mengalami keterbelakangan mental) setiap hari wara-wiri dari Wangon ke Jatilawang. Dua kecamatan yang jaraknya tujuh kilometer. Sulam dengan pakaian yang tidak layak dipandang karena lusuh dan kalau memakai celana kedodoran sehingga dia harus menyangkutkan tali pelastik di celananya. Orang seperti Sulam ini jelas tidak disukai orang karena ada anggapan setiap rumah yang disinggahi Sulam katanya bisa apes.

          Tokoh Aku yang memiliki cara pandang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya jelas menunjukkan seorang Muslim yang baik. Dia telah mempraktekkan ajaran agama untuk mengasihi sesamanya walaupun hanya memberi makan dan (terkadang) sedikit uang. Entah bagaimana ketika di akhir bulan Ramadhan ada perasaan bersalah karena belum sempat  memenuhi permintaan Sulam. Suatu saat menjelang lebaran, Sulam mampir ke rumahnya. Sulam sebagaimana layaknya orang-orang biasa ketika menghadapi lebaran ingin memakai baju baru. Sulam minta dibelikan baju baru. Percakapan Sulam dan Tokoh Aku layak disimak.

“Sudah hampir lebaran, ya Pak”

“Oh iya. Kamu nanti akan memakai baju yang baik. Tetapi aku tidak akan menyerahkan baju itu kepadamu sekarang. Nanti saja, tepat pada hari lebaran kamu pagi-pagi kemari.”

Di pasar Wangon dan Jatilawang orang-orang sudah membeli baju baru.”

“Ya, tetapi untukmu, nanti saja. Aku tidak bohong. Bila baju itu kuberikan sekarang, wah, repot. Kamu pasti akan mengotorinya dengan lumpur sebelum lebaran tiba.”

“Aku kan wong gemblung, Pak.”

“Nanti dulu, aku tidak berkata demikian.”

Tokoh Aku di atas bukan tidak mau memberikan baju baru buat Sulam, tapi ada perasaan kalau diberikan sekarang khawatir baju tersebut cepat kotor sebelum lebaran tiba. Bagi Sulam jawaban tersebut cukup jelas, dia dianggap wong gemblung (orang gila) oleh Tokoh Aku karena di balik ucapan tersebut tersirat bahwa dirinya dianggap wong gemblung walaupun Tokoh Aku mengatakan tidak demikian. Kekhawatiran Tokoh Aku ditangkap oleh Sulam sebagai ucapan yang menyakitkan sampai muncul ucapan di atas “Aku kan wong gemblung, Pak.”

          Ada sebuah penyesalan Tokoh Aku ketika menunda memberikan pada Sulam baju lebaran. Penyesalan tidak memenuhi permintaan Sulam karena di balik ucapannya itu masih ada sikap prasangka yang mungkin bagi Tokoh Aku prasangka buruk mengingat kebiasaan dan perilaku Sulam. Bagi sebagian orang menganggap biasa-biasa saja mengucapkan kata-kata itu. Tapi, tidak demikian bagi Tokoh Aku. Puncak dari penyesalan itu terjadi ketika di pagi hari Tokoh Aku mendapat kabar dari penarik beca kalau Sulam mati tergilas truk.

“Pak, Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang.”

Bisa jadi tukang beca itu masih berkata banyak. Namun kalimat pertamanya yang kudengar sudah cukup. Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Aku malu, perih. Demikian malu sehingga aku tak berani menjenguk mayat Sulam di Jatilawang meski istriku berkali-kali menyuruhku ke sana. Sulam telah menyindirku dengan cara yang paling sarkastik sehingga aku mengerti bahwa diriku sama sekali tidak lebih baik daripadanya. Atau memang demikianlah keadaan yang sesungguhnya. Karena dalam hati sejak lama aku percaya, setiap hari Tuhan tak pernah jauh dari diri Sulam. Dan aku konon telah mencoba bersuci jiwa hampir sebulan lamanya, malah menampik permintaan Sulam yang terakhir. Padahal sungguh aku mampu memberikannya.

Buat Tokoh Aku, Sulam telah memberikan banyak pelajaran. Kematian Sulam membuat dirinya terpukul. Tokoh Aku merasa puasa selama satu bulan penuh seperti sia-sia karena di dalam hati kecilnya masih ada sedikit rasa prasangka buru (suudzhon) pada Sulam yang notabenenya orang yang terbelakang mentalnya. Bagi orang lain, boleh jadi itu bukan masalah. Toh Tokoh Aku selama Sulam hidup banyak berempati pada Sulam. Tokoh Aku mau menerima dan bahkan lebih jauh dari itu mau melayani keinginan Sulam walaupun sebatas memberi makan dan minum serta sedikit uang.

          Sesuatu yang luar biasa diajarkan Ahmad Tohari lewat cerpen ini. Mungkin buat orang lain kehadiran Sulam membuat apes sehingga orang-orang di sepanjang jalan Wangon-Jatilawang tidak mau menerima kehadirannya. Mereka lebih cenderung mengusirnya kalau dia datang. Tapi, bagi Tokoh Aku bersikap sebaliknya. Tokoh Aku telah mempraktekkan ajaran Allah yang terdapat dalam Surat Al-Maun (107:1-7) karena ingin terhindar dari orang-orang yang mendustakan agama, yaitu orang yang menghardik anak yatim. Bukankah Sulam itu tergolong anak yatim? Selain itu, dia ingin terhindar dari orang-orang yang tidak mendorong memberi makan orang miskin. Bukankah Sulam orang miskin yang layak untuk diberi makan? Dengan demikian, Tokoh Aku ingin agar sholatnya diterima Allah sehingga dia juga terhindar dari orang-orang yang lalai sholatnya. Jadi, atas dasar mencoba mengamalkan bunyi Surat Al-Maun Tokoh Aku mau menerima dan melayani Sulam yang kata orang bisa membawa apes.

          Sebutan buat Sulam sebagai orang yang membawa apes jelas sebuah  ungkapan sarkasme. Tidak cukup dengan kata-kata, tindakan mereka yang tidak mau menerima kehadiran Sulam ditambah lagi dengan tatapan mata mereka yang penuh kecurigaan juga sangat menyakitkan Sulam. Sikap mereka persis sama seperti yang diungkapkan Ebiet dalam “Kalian Dengar Keluhanku”

…………………………………….

Tetapi nampaknya semua mata

Memandangku curiga

Seakan hendak telanjangi

Dan kuliti jiwaku

Tidak cukup sampai di situ, suatu saat dalam sebuah kenduri di rumah Tokoh Aku ketika Sulam datang dipersilakan Tokoh Aku untuk masuk ke rumahnya. Tidak cukup sampai di situ, Tokoh Aku yang iba melihat Sulam basah kuyup karena hujan meminta menukar pakaiannya. Tokoh Aku pun menyediakan tempat buat Sulam agar duduk di sampingnya dan menikmati kendurinya bersama-sama yang lainnya. Apa yang terjadi? Orang-orang yang hadir di tempat itu yang semula duduk dekat Tokoh Aku tiba-tiba saja menjauh. Dari sikap mereka tampak ada ketersinggungan. Acara kenduri itu berakhir tanpa ada keakraban. Ketersinggungan mereka berlanjut ketika beberapa minggu kemudian Tokoh Aku mengadakan kenduri yang datang beberapa orang saja.

…..Suatu hari, lepas magrib, Sulam datang. Kebetulan, aku sedang menyelenggarakan kenduri. Gerimis yang sejak lama turun, membuat Sulam basa kuyup. Aku merasa tak bisa berbuat lain kecuali menyilakan Sulam masuk, meski aku melihat tamuku jadi agak masa wajahnya. Setelah kutukar pakaiannya, Sulam kuajak menikmati kenduri. Dia kubawa ke tempat persis di sampingku. Orang-orang yang semula duduk di dekatku menjauh, menjauh. Dan kenduriku malam itu berakhir tanpa keakraban. Para tamu pulang hanya dengan ucapan basa-basi. Wajah mereka jelas berbicara bahwa mereka merasa tersinggung karena Sulam kuajak duduk di antara mereka. Semuanya menjadi lebih jelas ketika aku beberapa minggu kemudian menyelenggarakan kenduri lagi. Ternyata hanya beberapa orang yang datang memenuhi undanganku.

          Sampai begitu tidak sukanya orang-orang terhadap Sulam sampai-sampai orang yang dekat pada Sulam pun ketika mengadakan kenduri layak untuk tidak dihadiri? Bukankah Sulam juga masih terhitung saudara seiman atau seagama? Bukankah Sulam anak sebatangkara dan teralienasi yang layak untuk dikasihani dan disantuni? Ke mana perginya hati nurani mereka? Mengapa sebuah bangsa yang dikenal dengan penuh keramahan, kok tiba-tiba jadi seperti menghadapi musuh ketika berhadapan dengan Sulam? Tentang sirnanya hati nurani juga diungkapkan oleh Ebit pada bait lirik lagunya “Kalian Dengar Keluhanku” berikut ini.

…………………………………

Kemanakah sirnanya

Nurani embun pagi

Yang biasanya ramah

Kini membakar hati

Apakah bila terlanjur salah

Akan tetap dianggap salah

Tak ada waktu lagi benahi diri

Tak ada tempat lagi ‘tuk kembali

Lirik lagu Ebit di atas tertuju pada mantan tahanan politik (tapol) PKI yang baru saja dibebaskan dari Pulau Buru. Tetapi, Sulam jelas bukan PKI. Masyarakat tidak bisa menghukumi Sulam seperti seorang mantan tapol PKI (walaupun kita juga tidak diperkenankan membuat stigma buat mereka). Sulam justeru orang yang harus dikasihani dan disantuni.

          Tokoh Aku menurut A. Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z (1997:16) termasuk orang-orang yang altruistis, yaitu orang yang tidak hanya terserap oleh kepentingan pribadi, tetapi juga menaruh perhatian pada kepentingan orang lain. Boleh juga disebut sebagai orang yang punya pandangan dan sikap hidup yang menaruh perhatian pada kebaikan,  kesejahteraan, dan kebahagiaan orang lain (altruisme). Orang jenis ini tergolong sedikit. Dalam cerpen “Wangon Jatilawang” sepanjang tujuh kilometer dari kedua kecamatan itu hanya Tokoh Aku yang menaruh perhatian pada nasib Sulam. Hal itu terbukti hanya di rumah Tokoh Aku Sulam mampir ke rumahnya. Sekian ribu orang yang tinggal di antara kedua kota kecamatan itu sama sekali tidak peduli dengan nasib Sulam. Bahkan, banyak anak-anak yang mengisengi Sulam dengan perbuatan-perbuatan tidak senonoh seperti menggambarkan di bagian belakang baju yang dikenakannya dengan gambar jorok (porno).

          Tokoh Aku sebagai seorang Muslim ingin benar-benar menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama manusia. Wajar saja kalau dia tidak peduli ketika emaknya sendiri mengatakan dia bodoh karena membiarkan Sulam datang ke rumahnya. Selain itu, Tokoh Aku juga  melayaninya. Sifat seperti ini hanya bisa ada pada orang yang menjadi pecinta bagi seluruh manusia. Bukankah setiap Muslim memang dituntut selalu mengerjakan kebaikan sebagaimana firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman,rukuklah, sujudlah,sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, agar kamu mendapat kemenangan.”

(Surat Al-Hajj: 77)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya”

(Surat Az-Zalzalah:7)

Boleh jadi Tokoh Aku selain berusaha mengamalkan kedua ayat di atas juga mengamalkan bunyi hadits berikut.

“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman kecuali apa yang ia makan dari tanaman itu merupakah sedekah baginya dan apa yang dicuri dari tanaman itu merupakan sedekah baginya. Tidaklah seseorang mengambil dari tanamannya kecuali yang ia ambil itu merupakan sedekah baginya.”

(Imam Muslim)

Di samping itu, ini yang lebih penting, Tokoh Aku membuktikan dirinya sebagai Muslim harus mencintai sesama Muslim sebagaimana bunyi hadits yang mengatakan:

“Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya. Maka, dia tidak boleh mendzaliminya dan mengabaikannya. Barangsiapa memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang Muslim, Allah akan menghilangkan darinya kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Brangsiapa menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di Hari Kiamat.

(Bukhari dan Muslim)

Jadi, ayat-ayat Qur`an dan Hadits-Hadits di atas memotivasi Tokoh Aku untuk peduli terhadap sesamanya, termasuk dalam hal ini Sulam. Dia tidak peduli dengan apa saja yang dikatakan orang (termasuk komentar-komentar miring emaknya) tentang Sulam. Ketika suatu saat Tokoh Aku menunda untuk berbuat baik, Allah menegurnya lewat kematian Sulam. Dia merasa dipermalukan oleh Sulam. Malu karena selama sebulan penuh berpuasa masih ada sikap sangka buruk pada Sulam.

“Menjelang pagi di hari Lebaran, Sulam datang lagi dalam angan-anganku. Dia sama sekali tidak meminta baju yang telah kujanjikan. Dia hanya menatapku dengan wajah yang jernih, dengan senyum yang sangat mengesankan. Kemudian Sulam gaib sambil meninggalkan suara tawa ceria yang panjang. Namun aku perih mendengarnya. Malu.”

          Tokoh Aku telah banyak berbuat baik pada Sulam. Tokoh Aku telah membuktikan bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya bersaudara. Tokoh Aku di era digital ini jelas orang yang langka. Tokoh Aku tidak tergilas oleh roda pembangunan. Roda pembangunan menggilas hati nurani manusia yang bermukim di antara Wangon Jatilawang. Inikah yang disebut sebagai manusia modern produk pembangunan? Manusia yang telah hilang hati nuraninya karena digilas roda pembangunan. Wallahu a`lam bissawab.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat