FRASE BAGAIMANA NANTI VERSUS NANTI BAGAIMANA

Subagio S. Waluyo

           Melihat judul di atas, saya yakin ada orang yang beranggapan bahwa `bagaimana nanti` lebih layak digunakan daripada `nanti bagaimana`. Ada juga yang beranggapan bahwa `nanti bagaimana` lebih layak digunakan daripada `bagaimana nanti`. Meskipun demikian, ada juga yang tidak mau ambil pusing, kedua-duanya baik `bagaimana nanti` maupun `nanti bagaimana` sama saja artinya. Khusus untuk pendapat yang ketiga ini ada anggapan bahwa hal itu lebih disebabkan penempatan kedua kata itu saja yang dipertukarkan tempatnya. Tentang artinya tidak ada perbedaan yang substansial. Tulisan ini lebih cenderung untuk memasalahkan pendapat yang ketiga ini agar semua orang tahu bahwa kedua frase tersebut jelas-jelas berbeda dari sisi muatan yang terkandung di dalamnya.

          Frase `bagaimana nanti` terkadang juga dimasukkan kata `saja` sehingga menjadi `bagaimana nanti saja`. Frase `bagaimana nanti` tidak bisa dimasukkan sebagai kalimat tanya meskipun di depan frase tersebut ada kata tanya `bagaimana` karena memang frase jenis ini tidak membutuhkan jawaban. Justru, frase `bagaimana nanti (saja)` merupakan sebuah jawaban seseorang ketika ditanya tentang, misalnya, kesiapan menghadapi ujian esok hari. Atau ketika seseorang melakukan aktivitas yang ilegal jika ditanyakan tentang resiko atas perbuatannya, selalu memberikan jawaban `bagaimana nanti (saja)`. Atau ketika seseorang telah melakukan pekerjaan semaksimal mungkin, jika ditanyakan tentang hasilnya, bisa juga memberikan jawaban `bagaimana nanti (saja)`. Untuk yang terakhir ini sebenarnya boleh dikatakan jarang memberikan jawaban seperti itu.

          Dalam tulisan saya yang terdahulu (lihat “Kerancuan Berpikir dan Kerancuan Berbahasa dalam Skripsi Sarjana S1”) telah dijelaskan bahwa menurut hipotesis Sapir-Whorf, bahasa bukan hanya menentukan budaya, tetapi juga cara dan jalan pikiran manusia (Abdul Chaer, 1994:70). Dengan  kata lain, boleh juga dikatakan suatu bangsa dengan bangsa lain yang berbeda bahasanya akan mempunyai jalan pikiran yang berbeda pula.  Dengan demikian, perbedaan bahasa merupakan sumber perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia karena tanpa bahasa manusia tidak mempunyai pikiran sama sekali. Dengan melihat pada frase `bagaimana nanti (saja)` bisa dikatakan bahwa jalan pikiran orang yang mengatakan demikian lebih cenderung berpikiran pragmatis. Mangunhardjana berpendapat kaum pragmatis berpendapat bahwa yang baik adalah yang dapat dilaksanakan dan dipraktekkan dan mendatangkan yang positif. Karena itu, lanjutnya, baik-buruknya perilaku dan cara hidup dinilai atas dasar praktis semata (Isme-Isme dari A Sampai Z, 2001:189-190). Dengan melihat pada uraian  itu bisa disimpulkan bahwa orang yang mengatakan `bagaimana nanti (saja)` adalah orang yang berpikir praktis, orang yang tidak mau disulitkan dengan resiko-resiko yang akan muncul di kemudian hari, dan/atau orang yang tergolong dalam EGP `Emangnya Gue Pikiran`. Orang yang termasuk dalam golongan ini adalah orang yang kerjakan dulu apa saja yang bisa kita kerjakan (tidak perlu memandang yang dikerjakannya baik atau buruk, benar atau salah) dan tentang akibatnya tidak pernah dipikirkan.

          Apakah tidak ada efek sampingan dari frase `bagaimana nanti (saja)`? Kalau mau ditelusuri, jelas pasti ada. Di dunia politik orang yang berkampanye dengan cara-cara yang ilegal, misalnya, politik bagi-bagi uang, sudah bisa dipastikan manusia jenis ini adalah manusia yang tergolong frase `bagaimana nanti (saja)`.  Efek sampingannya, di parlemen diisi wakil-wakil rakyat yang kualitasnya `diragukan. Anggota dewan seperti ini begitu memasuki ruang parlemen pertama kali yang muncul di benaknya adalah `bagaimana mengembalikan uang yang telah dikeluarkan selama kampanye dulu?` Di dunia bisnis orang yang ketika berbisnis melakukan praktek-praktek ilegal, misalnya, melakukan manifulasi data agar diperoleh keuntungan yang besar, sudah bisa dipastikan jenis manusia seperti ini adalah manusia yang tergolong frase `bagaimana nanti (saja)`. Efeknya, kalau bisnisnya berkaitan dengan pemerintahan, tidak mustahil terjadi praktek-praktek yang sudah kita kenal, yaitu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sehingga menghancurkan pembangunan ekonomi di negara ini dan semakin terbentang jurang pemisah antara kaya dan miskin.

          Di dunia pendidikan guru-guru yang memaksa orang tua siswanya agar mengeluarkan sejumlah uang untuk acara perpisahan kelas (entah SD kelas VI, SMP kelas IX, atau SLTA kelas XII), ketika orang tua siswa-siswanya meminta tanda bukti pembayaran dengan berbagai alasan pihak sekolah tidak akan mau mengeluarkannya, sudah bisa dipastikan jenis manusia seperti yang tergolong frase `bagaimana nanti (saja)`.  Kalau perilaku anak didik,  bahkan perilaku bangsa ini membuat Taufik Ismail Sang Penyair Angkatan `66 terpaksa menulis puisi `Malu Aku Jadi Orang Indonesia` isinya cenderung sarkasme sangat-sangat wajar.

………………………………………………………………………………….

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan, 

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

 

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan, 

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.

(Taufik Ismail “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”)

Puisi di atas mencerminkan gambaran bangsa Indonesia yang seolah-olah tidak memiliki norma walaupun di sekolah diajarkan agama. Diajarkan hal-hal yang berkaitan dengan kebangsaan dan kemanusiaan. Tetapi, semua itu tidak memberi bekas pada anak didik. Entah siapa yang bisa disalahkan, anak didiknya atau  memang gurunya ketika melakukan pembelajaran tidak benar-benar ikhlas.

Boleh juga seperti yang disampaikan WS Rendra tentang pendidikan kita yang lebih ditekankan pada kepatuhan daripada bertukarpikiran. Lebih cenderung menghafal bukan belajar menganalisis suatu keadaan. Tidak belajar tentang keadilan dan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan seputar perilaku manusia. Minim untuk melakukan diskusi yang berkaitan dengan keadilan karena persepsi mereka (kaum pendidik) mendiskusikan masalah-masalah keadilan sebagai hal yang tabu. Wajar-wajar saja kalau anak didik kita gamang. Dia kalau berhadapan dengan berbagai masalah yang muncul di hadapannya tidak punya kemampuan untuk mensitesiskan atau menghubung-hubungi satu dengan yang lainnya. Mereka akhirnya marah terhadap diri sendiri. Mereka cenderung tidak punya visi atau tidak pernah berpikir `nanti bagaimana`. Mereka menjadi anak-anak yang masa bodoh dan hidup santai. Karena pendidikan berkiblat ke barat, tidak aneh mereka dididik menjadi anak didik yang dipersiapkan menjadi tukang atau alat industri atau alat birokrasi. Pendidikan bagi mereka bukan menjadi alat pencerahan. Pendidikan bagi mereka hanya menjadi manusia yang berpikir `bagaimana nanti`.

……………………………………………………………………….

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan –
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran

(WS Rendra “Sajak Anak Muda” dari Potret Pembangunan Dalam Puisi)

Singkatnya, pendidikan di Indonesia hanya menghasilkan orang yang berkompeten di bidang keilmuannya (meskipun terkadang juga bisa diragukan), tetapi tidak bermoral, tidak berakhlak. Hampir di semua bidang kehidupan manusia ada saja orang yang masih memanfaatkan praktek-praktek ilegal dengan selalu menggunakan frase `bagaimana nanti (saja)`. Ternyata, frase `bagaimana nanti (saja)` tidak memberikan manfaat. Justru yang terjadi kebalikannya, yaitu lebih banyak mudharatnya. Apakah masih layak kita menggunakan frase jenis ini?

        Frase `nanti bagaimana` jelas berbeda dengan `bagaimana nanti (saja)`. Frase `nanti bagaimana` merupakan kebalikan dari `bagaimana nanti`. Bukan hanya kebalikan dari posisi kata `bagaimana` dan `nanti` yang berbeda penempatannya, tetapi juga pola cara berpikirnya juga jelas berbeda. Kalau `bagaimana nanti (saja)` cenderung orang yang menggunakannya berpikiran pragmatis, spekulatif, dan tidak mau mengambil resiko, dan (bahkan) tidak memiliki tanggung jawab, dalam `nanti bagaimana` orang yang menggunakannya adalah orang yang pasti punya penuh perhitungan. Orang yang menggunakannya bukan orang yang ragu-ragu atau plin-plan. Bisa juga orang jenis ini adalah orang yang punya orientasi sehingga tidak ada keinginan di hatinya untuk berubah orientasi (disorientasi). Orang jenis ini adalah orang yang bisa membuat prediksi atau bisa juga mengaitkan antara sebab dan akibat. Karena tahu setiap kali berbuat (yang menjadi sebab) akan berbuah kebaikan atau keburukan, orang seperti ini adalah orang yang sudah memperhitungkan segala hal yang dilakukannya jauh-jauh hari agar tidak terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.

          Alangkah indahnya hidup ini jika banyak orang yang bisa mencari akar permasalahan sebuah kejadian dengan menemukan faktor-faktor penyebabnya. Karena menemukan faktor-faktor penyebab, orang seperti ini tidak akan mengulang pekerjaan yang sama agar tidak terjadi lagi ekses-ekses negatif yang pernah dia atau orang banyak lainnya mengalaminya. Dia juga bisa memprediksikan setiap hal yang diucapkannya atau yang diperbuatnya pasti akan memberikan dampak baik positif maupun negatif. Dia akan melakukan perencanaan secara matang segala hal yang akan dilakukannya sehingga diprediksikan tidak akan menimbulkan gejolak. Seandainya memang terjadi gejolak, dia bisa mengatasinya karena dia telah mempelajari ada  banyak hal yang mungkin di luar perhitungannya. Sekali lagi siapapun orangnya, entah dia seorang pemimpin  besar (presiden, gubernur, walikota/bupati) atau pemimpin kecil (kepala rumah tangga walaupun juga sebenarnya tergolong yang tidak mudah mengurus rumah tangga) kalau memang dalam melakukan pekerjaan selalu dimulai dengan niat yang baik, kemudian diteruskan dengan perencanaan yang matang, pasti orang seperti ini akan melakukan sebuah pertanyaan `nanti bagaimana?`.  Jenis pemimpin seperti ini Insya Allah bisa mewujudkan banyak pekerjaan yang sedikit memberikan ekses negatif karena selalu saja di benaknya digelayuti dengan pertanyaan `nanti bagaimana?`. Berkaitan dengan itu perlu juga dipikirkan ke depan pemimpin bangsa ini yang peduli dengan nasib bangsa ini di masa depan. Taufik Ismail, penyair Angkatan `66 yang begitu peduli dengan nasib bangsa ini hampir lima puluh tahun yang lalu menulis puisi “Kembalikan Indonesia Padaku”. Ini sebuah bukti orang semacam Taufik Ismail yang berpikir `nanti bagaimana`.

Kembalikan Indonesia Padaku

 Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam…
Dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam,,
Karena seratus juta penduduknya,
Kembalikan Indonesia padaku…

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam..
Dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam..
Lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
Sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang…

Sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,
Kembalikan Indonesia padaku…

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam…
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan Indonesia padaku…

Paris, 1971

Sebaiknya, memang kita harus menyingkirkan frase `bagaimana nanti (saja)` karena frase jenis ini mencerminkan masyarakat (bahkan) bangsa yang berpikiran pragmatis, spekulatif, tidak mau mengambil resiko,  dan tidak memiliki tanggung jawab. Untuk itu, sebaliknya, kita harus secara tegas membiasakan untuk menggunakan frase `nanti bagaimana`. Frase `nanti bagaimana` harus selalu muncul di benak kita ketika kita akan memulai suatu pekerjaan atau mengambil keputusan.  Semoga saja kita mau mengubah paradigma kita yang terlanjur salah dalam berbahasa sehingga mau menggantikan frase `bagaimana nanti (saja)` dengan `nanti bagaimana`.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat