Bahasa dan Sastra

BERKISAH TENTANG MENGKRANGKENG NAFSU

Subagio S. Waluyo

Hambali kerap melamun berkepanjangan. Sendirian di beranda rumah. Terperanjat jika teringat ibu kandungnya yang pernah dilukai hatinya. Kaget jika terbayang wajah-wajah adik mendiang Amih Dinah yang keruh merasa tak mendapat ketidakadilan. Terlintas masa sebelumnya, menjalani hidup yang anti berbagi pada sesama. Kepala Hambali pusing lalu berputar-putar. Bibirnya perlahan bergerak-gerak. Tersenyum. Lalu tertawa terbahak-bahak melihat dua cicak yang tengah bercengkrama di langit-langit atap beranda. Ia seolah-seolah diajak bercanda. Lalu beranjak, melompat dan hendak menungkup cicak yang jatuh di lantai. Dahinya terbentur ubin yang keras. Ia meraung sakit. Lalu menangis sekeras-kerasnya seperti anak kecil yang tak diberi jajan oleh ibunya.

(Cerpen Kompas Komala Sutha “Nafsu Serakah”)

Nafsu dalam diri manusia seperti orang gila. Nafsu akan selalu memprovokasi manusia untuk melakukan  keburukan. Nafsu itu bagi seorang Muslim harus ditundukkan. Nafsu harus dikrangkeng dengan vonis selamanya. Jadi, tidak ada remisi atau keringanan hukuman buat yang namanya nafsu. Tetapi, nafsu suatu saat bisa menghirup udara bebas manakala manusia yang punya nafsu lalai. Bahkan, tidak mustahil nafsu saking kuatnya bisa berkuasa dan mengendalikan manusia. Untuk itu, ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak berhasil mengkrangkeng nafsu.

Nafsu itu lebih cenderung kepada keburukan.  Nafsu `cuek bebek` terhadap yang namanya syari`at. Allah telah mengingatkan manusia untuk tidak mengikuti nafsu karena dia akan menyesatkan manusia dari jalan Allah (Surat As-Shad: 26). Nafsu itu sumber kesesatan dan kemaksiatan. Jangan coba-coba memanjakan nafsu karena dia akan menyeret manusia ke berbagai jalan kesesatan dan kemaksiatan. Termasuk dalam hal ini manusia yang memanjakan nafsu itu adalah orang-orang yang menyeleweng aqidahnya, orang-orang yang melakukan perbuatan bid`ah, dan orang yang ingkar pada ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi SAW. Meskipun ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi SAW sudah jelas, mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas dan shahih tentang kebenaran karena mereka telah dikrangkeng oleh nafsu (Surat Al-Qashash: 50).

***

Gambaran manusia yang dikuasai hawa nafsu terlihat jelas pada cerpen  Komala Sutha: “Nafsu Serakah”. Dari judulnya sudah jelas paling tidak kita bisa menyimpulkan isinya berkisar tentang nafsu yang selalu dituruti sehingga manusia diperbudak oleh hawa nafsu. Dalam cerpen tersebut ada dua pelaku yang dikuasai hawa nafsu: sang ibu mertua, Amih Dinah, dan menantunya, Hambali. Kok bisa mertua dan menantu dikuasai hawa nafsu? Ceritanya begini, Amih Dinah perempuan tua setelah ditinggal wafat suaminya kawin cerai dengan lelaki yang usianya jauh di bawahnya. Lelaki yang dia kawini rata-rata berusia 20-an sampai 40-an. Mereka mau kawin dengan Amih Dinah (perempuan menjelang 60 tahun) lebih karena harta. Begitu sudah mendapatkan yang mereka inginkan, Amih Dinah ditinggal begitu saja. Anehnya, Amih Dinah tidak pernah menyesal.

Dari sekian lelaki yang pernah dinikahinya ada satu-satunya lelaki yang digolongkan laki-laki sholeh. Artinya, laki-laki ini, Permana, (30 tahun) yang berhasil membawa perubahan pada Amih Dinah. Perubahan yang paling mendasar adalah Amih Dinah bersedia belajar mengaji. Amih Dinah dibimbing ke jalan yang benar. Amih Dinah ketika sakit dirawatnya. Tidak ada isu-isu miring  kalau Permana yang usianya jauh di bawah usia Amih Dinah memanfaatkan hartanya. Ketika Amih Dinah wafat, Permana pergi tanpa membawa apapun. Ini cara Allah memberikan jalan keluar terbaik buat Amih Dinah. Di saat-saat usia semakin senja, dia mendapatkan suami yang tergolong sholeh sehingga bisa membimbingnya ke jalan yang benar. Suami yang tergolong muda ini yang ternyata menikahinya ikhlas karena Allah. Apakah mungkin ini lebih merupakan keinginan Amih Dinah ketika dua tahun dia menjanda menginginkan ada laki-laki sholeh yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar?

Selama dua tahun Amih Dinah menyendiri. Rahmi cukup tenang walaupun Amih Dinah tak menyoal warisan yang berkurang karena tertipu lelaki-lelaki yang pernah menjadi suaminya. Perempuan tua itu tampak berubah niat, sesekali pergi ke masjid ikut pengajian. Semua tahu Amih Dinah jarang bahkan nyaris tak mau sholat. Sesekali ada yang menyuruhnya berwudlu, alasannya sangat sayang dengan bedak yang tebal.

“Nyi, coba kau tengok ke rumahnya, Amih Dinah ada?” Hambali gelisah usai mendengar kabar mertuanya akan mengadakan pesta besar. Tak salah, tak bisa dihalang-halangi. Adik lelakinya yang menjadi wali nikah. Amih Dinah menikah dengan bujangan hanya berusia tiga puluh tahun. Namanya Permana. Semenjak menjadi istri Permana, ada perubahan pada mantan janda itu. Bersedia belajar mengaji. Permana mendampingi di jalan yang benar. Ketika selama sebulan Amih Dinah terbaring sakit parah di rumah sakit, Permanalah yang merawatnya.

Barangkali seperti pada ibu, begitu bisik-bisik orang. Tak terdengar Permana memanfaatkan harta hingga perempuan tua yang dinikahinya itu pun meninggal dunia. Permana pergi tanpa membawa apapun.

  ***

Satu lagi manusia yang dikuasai hawa nafsu, yaitu Hambali. Hambali ini menantu Amih Dinah. Hambali menikah dengan anak angkat Amih Dinah: Rahmi. Amih Dinah sendiri memang tidak mempunyai anak. Rahmi sejak bayi dirawat Amih Dinah. Kasih sayang Amih Dinah banyak tercurah pada Rahmi. Saking sayangnya pada Rahmi sampai-sampai ketika dua anak Rahmi disunat diadakan pesta sampai tujuh hari tujuh malam. Hal ini yang membuat iri saudara-saudara Amih Dinah. Tidak cukup sampai di situ, semua sawah, kebun, dan rumah  kontrakannya sudah diberikan ke anak-anak Rahmi. Artinya, sawah, kebun, dan rumah-rumah kontrakannya sudah diatasnamakan anak-anak Rahmi dan Hambali dari yang sulung sampai yang bungsu (semuanya ada empat anak).

Meskipun Hambali diuntungkan dengan pemberian ibu mertuanya, suatu saat ketika mertua lelakinya meninggal ada perasaan was-was. Perasaan was-was Hambali terbukti karena sejak mertua lelakinya wafat, mertua perempuan, Amih Dinah, mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada perempuan `brondong` atau perempuan yang suka dengan laki-laki muda dan tampan. Hambali tahu kalau sang mertua perempuan sampai kawin cerai tidak mustahil harta-hartanya akan beralih kepemilikan. Memang terbukti perasaan was-was Hambali bukan hanya harta mertua sedikit demi sedikit beralih kepemilikan, rumah kontrakan yang kepemilikannya atas nama anaknya yang sulung pun beralih kepemilikian. Jadi, perasaan was-was Hambali sebenarnya lebih didasari oleh nafsu ingin menguasai harta warisan mertuanya.

Namun menghadapi sikap Amih Dinah setelah suaminya meninggal, mendadak pikiran Hambali menjadi terusik. Konon janda kaya suka dimanfaatkan para lelaki. Sesaat mencoba menenangkan pikir dan menganggap mustahil ada lelaki iseng yang menculik perempuan tua yang sama sekali tak menarik. Usia hampir enam puluh. Terkadang orang-orang mencibir atau sekadar menjadi guyonan.

Kampung geger mendengar Amih Dinah dinikahi bujangan usia duapuluh dua tahun. Tampan. Mustahil alatan cinta, tentu harta yang dilihat si bujangan, sebab rumah tangganya hanya berselang tiga bulan. Simpanan deposito sekian puluh juta dalam rekening dibawa si lelaki. Malah kebun yang ada di suatu tempat pun ikut terjual.

“Kemana Amih?” tanya Hambali ketika melongok ke rumah paling besar. Pagi-pagi perempuan tua itu sudah pergi. Padahal Hambali ingin mertua angkatnya segera membagikan warisan. Ini malah sibuk dengan lelaki lagi.

Tak berapa lama, Amih Dinah menikah lagi dengan lelaki yang lumayan tampan. Menurut gadis-gadis yang suka berkumpul depan warung Mang Jai, katanya mirip bintang layar lebar. Karakternya terpuji di hadapan keluarga juga khalayak, malah terkesan ramah. Amih Dinah kian merasa dicinta. Namun tak jauh dengan yang pertama. Perempuan tua itu hanya tersenyum tahu sawah yang menghampar luas habis dijual dan uangnya dibawa kabur. Bukannya dijadikan pelajaran, namun tak jera ketika didekati lelaki yang lagi-lagi bujangan usia duapuluh delapan tahun. Akhirnya Amih Dinah jadi trending topic doyan ‘berondong’. Ia malah senyum-senyum senang merasa bangga banyak lelaki muda yang mencintai. Padahal buktinya lagi-lagi kekayaannya berkurang. Hingga mereka bercerai.

“Akang bingung mengadapi Amih, Nyi,” Hambali mengeluh pada istrinya. “Coba kau saja yang menasehatinya!”

“Ah, Akang kayak tak kenal adat Amih saja! Dia tak akan masuk kita omongin!” jelas Rahmi. Bahkan adik-adiknya Amih Dinah juga mencoba menasihati namun seorang pun omongannya tak ada yang didengar. Ia menganggap tak butuh nasihat orang lain meskipun itu saudara sendiri. Rahmi sebenarnya sudah malu pada tetangga. Penampilan Amih Dinah kian menor lupa usia. Namun bukannya pantas tambah parah.

Sekarang ia membawa lelaki empat puluh tahunan, duda cerai. Kalau melihat usianya, sudah tak muda, selisih tujuh belas tahun. Awalnya disangka tak ada niat jelek. Enam bulan mengarungi rumah tangga tanpa pertikaian malah terkesan rukun. Suatu hari membeli mobil, lalu mereka kerap pelesiran. Tak berapa lama, lelaki itu tak pulang-pulang. Pergi membawa mobil yang sudah diatasnamakan dirinya. Rumah kontrakan yang banyak sudah digadaikan ke bank. Penagihnya minta pertanggungjawaban Rahmi karena rumah kontrakan itu atas nama anak Rahmi yang sulung. Hingga akhirnya tak terselamatkan karena tak diuruskan lagi.

Penampilan Amih Dinah kian menor lupa usia. Namun bukannya pantas tambah parah. Sekarang ia membawa lelaki empat puluh tahunan, duda cerai.

Hambali memang mendapatkan kekayaan warisan mertuanya karena sebelum meninggal, mertuanya telah menulis warisan kalau semua hartanya diwariskan pada Rahmi. Tentu saja surat wasiat itu membuat saudara-saudara mertuanya memusuhinya termasuk ibu kandung Rahmi juga menunjukkan ketidaksukaannya. Permusuhan di antara mereka tidak pernah selesai. Mereka sama-sama membenci Hambali dan istrinya karena mereka tidak mendapatkan  bagian warisan. Hambali dan istrinya boleh-boleh saja merasa puas dengan warisan dari mertuanya. Tetapi, harta warisan yang banyak tidak membikin mereka bahagia. Mereka terusik dengan permusuhan yang tidak kunjung padam sehingga mereka akhirnya pindah ke tempat lain. Ternyata, harta warisan yang melimpah tidak membuat seseorang tenteram dalam hidupnya.

Keluarga Hambali menjadi tak betah tanpa ada ketenteraman walaupun harta warisan melimpah kalau tinggal di sekitar orang-orang yang memusuhinya. Akhirnya mereka sekeluarga pindah ke kampung lain. Berusaha merasakan kedamaian, dengan kekayaan yang tak habis-habisnya. Terlebih dibarengi hidup hemat dan pelit. Menjadi orang terkaya walau sesekali dalam jiwanya menyelusup kesepian yang dalam jika teringat semua saudara istrinya yang balik membenci karena keserakahannya.

Lama-lama Hambali acapkali terlihat merenung sendiri. Anak-anaknya kurang memerhatikan. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suatu ketika ada yang mengajaknya berbincang hingga larut malam. Seminggu kemudian dibelinya mobil baru lalu pergi dengan tamu yang baru dikenalnya itu. Hingga berbulan-bulan. Sekali pulang, Hambali menjual kekayaan, sedikit demi-sedikit hingga nyaris habis. Teman yang dikenalnya itu sering mengajak jarah dan konon punya kesaktian. Saban kekayaan Hambali dijual dan digunakan pelesiran ke tempat jarah, ada keyakinan kekayaannya akan bertambah dalam waktu yang sudah dijanjikan oleh penguasa gunung setelah melewati beberapa kali ritual malam Jumat.

Selama lima tahun menjalani seperti itu hingga kekayaannya benar-benar habis. Yang tersisa hanya rumah yang ditempatinya yang tak lama lagi akan disegel pegawai bank lantaran tak mampu mengangsur tunggakan. Rahmi kerap berjualan makanan basah mengelilingi kampung. Keempat anaknya yang sudah berumahtangga dan entah tinggal dimana, tak peduli dengan kekayaan orangtuanya yang kian melarat.

Hambali kerap melamun berkepanjangan. Sendirian di beranda rumah. Terperanjat jika teringat ibu kandungnya yang pernah dilukai hatinya. Kaget jika terbayang wajah-wajah adik mendiang Amih Dinah yang keruh merasa tak mendapat ketidakadilan. Terlintas masa sebelumnya, menjalani hidup yang anti berbagi pada sesama. Kepala Hambali pusing lalu berputar-putar. Bibirnya perlahan bergerak-gerak. Tersenyum. Lalu tertawa terbahak-bahak melihat dua cicak yang tengah bercengkrama di langit-langit atap beranda. Ia seolah-seolah diajak bercanda. Lalu beranjak, melompat dan hendak menungkup cicak yang jatuh di lantai. Dahinya terbentur ubin yang keras. Ia meraung sakit. Lalu menangis sekeras-kerasnya seperti anak kecil yang tak diberi jajan oleh ibunya

    

Harta warisan yang diperoleh dengan cara mudah ternyata juga mudah habisnya. Sedikit  demi sedikit harta yang dimiliki Hambali dan istrinya beralih kepemilikan. Rumah yang ditempatinya juga sudah akan beralih kepemilikannya karena sudah digadaikan ke bank. Tidak cukup sampai di situ, anak-anaknya kurang peduli dengan orang tuanya. Mereka justru menjauhi orang tuanya. Boleh jadi anak-anaknya bisa seperti itu karena Hambali ketika ibunya meninggal bersikap masa bodoh. Sebuah balasan yang setimpal buat Hambali yang telah melukai perasaan hati ibunya. Selain itu, ada kebiasaan buruk yang muncul di diri Hambali, yaitu sering melamun. Dia selalu dibayangi wajah-wajah adik mertuanya yang didzoliminya. Dia ingat kalau selama ini tidak pernah berbagi dengan siapapun. Perasaan bersalah yang selalu menghantuinya membuat dia depresi. Begitulah cara Allah memberi pelajaran buat umat-Nya yang terkerangkeng oleh hawa nafsu. Dengan demikian, ada benarnya kalau hawa nafsu membuat orang menjadi gila, menjadi lupa pada diri sendiri.

***

Nafsu tidak boleh diikuti. Nafsu akan bisa menggantikan posisi manusia terhadap Allah sehingga sangat-sangat mungkin nafsu bisa dijadikan Tuhan (manusia yang memper-Tuhan-kan nafsu).  Kalau ada manusia yang telah memper-Tuhan-kan nafsu, dia akan diatur oleh nafsu (Surat Al-Furqon: 42). Untuk itu, jika ada manusia jenis itu (yang memper-Tuhan-kan nafsu) ada indikasi dia adalah orang yang lemah. Orang-orang  yang mulia di sisi Allah bukan terletak pada pangkat, jabatan, harta, atau kekuasaan  tetapi kemampuan mengkrangkeng nafsu. Memang manusia diberi kebebasan untuk memilih antara jalan kefasikan dan ketaqwaan (Surat Asy-Syams: 7-8), tapi harap diingat nafsu yang memang sudah ada pada manusia akan selalu mencari sela-sela cara keluar dari kerangkeng. Karena itu, manusia sebagai makhluk yang berakal harus bisa mengendalikan dirinya  dari provokasi nafsu yang sering mengajak manusia pada dorongan kesesatan dan kemaksiatan.

Orang yang memperoleh kemenangan adalah orang yang kerapkali mensucikan jiwanya. Sebaliknya, orang yang merugi adalah orang yang mengotori jiwanya karena tidak berhasil mengkrangkeng nafsunya (Surat Asy-Syams: 9-10). Agar seorang Muslim tidak mudah diprovokasi dan dikelola oleh nafsu, hanya ada satu cara, yaitu mendekatkan diri pada Allah dengan ketaatan. Cara mendekatkan diri pada Allah menurut Rasulullah SAW adalah memperbanyak sujud (Hadits Imam Muslim dengan sanad dari Abi Firas Al-Aslamiy RA). Sebagai tambahan, untuk mengkrangkeng nafsu itu ada beberapa tingkatan. Tingkatan pertama, nafsu itu harus ditundukkan agar tidak jatuh pada kesesatan, kemaksiatan, dan menyalahi jalan Allah. Kedua, jangan biarkan nafsu selalu dalam kondisi negatif atau dalam kondisi tidak melakukan kebaikan. Ketiga, usahakan jangan sampai nafsu berhasil menggiring manusia untuk tidak mengerjakan kebaikan. Untuk itu, manusia harus banyak beramal sholeh. Keempat, mengkrangkeng nafsu yang selalu mendorong si pelakunya untuk mencari-cari alasan pembenaran.  Untuk itu, buang jauh-jauh segala macam bentuk pembenaran yang sudah jelas-jelas salah.

***

Ingat, nafsu itu ada sutradaranya, yaitu setan. Setan inilah yang selalu memberikan stimulus dengan janji-janji yang menggiurkan. Setan itu yang selalu menggoda nafsu agar manusia berpaling dari jalan Allah. Padahal, janji-janji setan itu palsu. Agar manusia Muslim tidak tergoda dan terbius dengan janji-janji setan segera saja manusia berlindung pada Allah SWT. Seandainya, sebagian besar umat Islam  (jika perlu seluruhnya) berlindung pada Allah dan mengkrangkeng nafsunya sudah bisa dipastikan umat ini hidup penuh dengan kedamaian, ketenteraman, keselamatan, dan kesejahteraan. Wallahu a`lam bissawab.

Sumber Gambar: 

  1. (https://images.app.goo.gl/8F2V4eySuBznYHSA6)
  2. (https://images.app.goo.gl/8xjGucugaaA2pPSC9)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat