BERKISAH TENTANG KEMANUSIAAN

Subagio S.Waluyo

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.”

(QS Al Muzammil: 20)

“Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya muslim, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya”

 (HR Bukhari—Muslim)

Nabi  pernah masuk pada suatu kebun dari kebun-kebun milik orang Anshar untuk suatu keperluan. Tiba-tiba di sana ada seekor unta. Ketika unta itu melihat Nabi  maka ia datang dan duduk di sisi Nabi  dalam keadaan berlinang air matanya. Nabi bertanya, “Siapa pemilik unta ini?” Maka datang (pemiliknya) seorang pemuda dari Anshar. Nabi bersabda, “Tidakkah kamu takut kepada Allah dalam (memperlakukan) binatang ini yang Allah menjadikanmu memilikinya?! Sesungguhnya unta ini mengeluh kepadaku bahwa kamu meletihkannya dengan banyak bekerja.” 

(HR. Abu Dawud)

***

Sila kedua dalam Pancasila setelah Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan sila itu kita sebagai bangsa Indonesia menjunjung tinggi masalah kemanusiaan. Hal itu relevan dengan konsep Islam yang juga menjunjung tinggi konsep kemanusiaan. Seorang ulama terbesar abad ini, Yusuf Al-Qarhawi dalam buku Karakteristik Islam: Kajian Analitik  juga menempatkan Kemanusiaan (1994:59-115) setelah Ketuhanan. Dengan demikian, baik Pancasila maupun Yusuf Al-Qardhawi sama-sama menganggap penting masalah  kemanusiaan sebagai masalah kedua setelah Ketuhanan.

Yusuf Al-Qardhawi menjadikan masalah kemanusiaan sebagai masalah yang urgen karena Allah memberikan penghormatan kepada manusia. Jadi, manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk yang istimewa.Selain itu, Allah memuliakan dan mengutamakan daripada-makhluk lain-Nya. Sebagai bukti dapat disebutkan di sini manusia dijadikan khalifah (pemimpin) di muka bumi (Al-Baqarah: 30-34). Diakui atau tidak manusia di samping mendapat amanah sebagai khalifah juga diciptakan dalam bentuk yang terbaik (At-Tiin:4). Meskipun demikian, manusia juga bisa dijadikan Allah di tempat yang paling rendah di neraka (At-Tiin:5). Sebagai tambahan, Allah memberikan manusia keistimewaan dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain karena Allah memberikan manusia akal dan ruh. Karena manusia diberikan akal wajar-wajar saja kalau Allah memberikan karunia agar seluruh alam tunduk pada manusia atau bisa ditundukkan oleh manusia.

***

Berkaitan dengan kelebihan manusia yang diberikan Allah akal dan ruh (rohani/jiwa) sehingga berkat akal manusia bisa memanfaatkan seluruh isi alam  ini. Berkat akal manusia bisa memasukkan ke dalam perutnya yang ada di hadapannya entah itu dari jenis nabati seperti sayuran, palawija, atau buah-buahan. Semua jenis nabati itu ada yang bisa langsung dimakan, ada juga yang harus diolah dulu (dimasak,dibakar/dipanggang) baru dimakan. Semua jenis nabati halal untuk dimakan kecuali yang sudah jelas-jelas jenis nabati yang beracun yang bisa merusak baik fisik maupun psikis atau bisa mematikan. Kalau ada jenis nabati, misalnya sejenis palawija, singkong beracun, sudah jelas haram dimakan karena bisa membuat orang keracunan yang boleh jadi akan membuat nyawa melayang. Singkong beracun yang di Banyumas disebut `surabanglus` adalah sejenis umbi-umbian yang buat  manusia berbahaya. Meskipun demikian, cuma gara-gara `surabanglus` dua orang anak manusia yang dikejar-kejar polisi hutan bisa membuktikan kalau masih tersisa nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam cerpen “Surabanglus” Ahmad Tohari berhasil mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang terlihat dari perlakuan Kimin pada temannya sesama pencuri kayu di hutan, Suing, yang pontang-panting dikejar polisi hutan. Suing yang sudah kepayahan, yang wajahnya digambarkan seperti topeng yang benar-benar pucat-pasi tidak bisa menahan lapar dan dahaga. Ketika dalam pelarian didapatkan sejenis umbi-umbian: `surabanglus` (singkong beracun) Suing membakar singkong yang ditemukan itu. Baru saja mau menyuap singkong itu, Kimin yang tahu  singkong itu beracun dan bisa mematikan tidak tinggal diam, dia pegang tangan Suing yang bersikeras mau memakannya. Suing yang sudah dikuasai nafsu terang tidak terima sehingga terjadi tarik-menarik. Makanan yang sudah di tangannya berhasil ditepis Kimin. Kimin mengingatkan kalau singkong yang dibakar Suing itu adalah singkong beracun, yang tidak boleh dimakan. Suing yang sudah pucat-pasi itu tak lama kemudian jatuh pingsan kehabisan tenaga karena lapar dan haus. Suing tergeletak tanpa daya.

“Tunggu! Beranikah kau memakan singkong itu? Aku sudah mencium baunya. Kini aku yakin kita tak bisa memakannya. Jangan Wing, jangan! Bisa celaka kau nanti.”

Kimin memegangi tangan Suing yang bersikeras hendak menyuapkan singkong bakar itu. Suing meronta dan terjadi tarik-menarik. Jemari Suing mengejang sehingga makanan dalam genggamannya lumat. Kimin menepiskannya kuat-kuat.

“Tenanglah sahabatku. Sesungguhnya sejak semula aku ragu. Kini aku sudah yakin betul akan singkong yang kita bakar itu. Jangan gila. Munyuk dan monyet pun tak mau memakannya. Hanya perut celeng yang mampu bertahan terhadap racun singkong itu, singkong surabanglus. Suing apa pun yang terjadi kau tak boleh memakannya!”

Kimin menghentikan kata-katanya karena melihat wajah Suing berubah menjadi topeng yang pasi. Matanya tak berkedip. Mulut setengah terbuka dan bibir gemetar. Napasnya pendek-pendek. Dan wajah topeng itu tak bereaksi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Bahwa Suing akhirnya akan jatuh pingsan sudah dimengerti oleh Kimin. Tubuhnya menggigil, dingin seperti kulit kodok. Matanya terpejam dan Suing mulai goyah dalam jongkoknya. Suing suren, kehabisan tenaga karena lapar dan haus. Seteguk air atau sejumput makanan akan mencegah Suing dari kepingsanan.

Tubuh Suing yang begitu lunglai direbahkan ke tanah. Karena bingung, Kimin hanya berdiri menatap temannya yang kini tergeletak tanpa daya. Ketika sadar harus berbuat sesuatu, Kimin membungkuk dan menggoyang tubuh yang terbujur itu.

Dari petikan di atas tercermin nilai-nilai kemanusiaan yang ada pada diri Kimin. Sebagai sesama pencuri kayu (sebenarnya tidak tepat mereka disebut pencuri kayu, lebih tepat pencari kayu hutan karena yang diambil oleh mereka hanya potongan-potongan kayu) ada ikatan persaudaraan yang tidak tertulis yang membuat Kimin sebagai teman mau berbuat apapun demi menyelamatkan nyawa Suing. Nilai-nilai kemanusiaan juga ada pada pemilik warung tempat Kimin mampir untuk membeli nasi. Mak, pemilik warung, yang disapa Kimin menyarankan agar Kimin segera menemui temannya yang dikhawatirkan mati lemas. Pemilik warung karena melihat Kimin tidak membawa uang menerima sebilah golok yang biasa digunakan Kimin untuk mencari nafkah sebagai pembayarannya. Di sini lagi-lagi ada nilai-nilai kemanusiaan yang diperlihatkan pemilik warung.

Setengah jam lamanya kimin berlari merunduk-runduk, menempuh kali-kali kecil yang kering, dan sampailah dia ke kampung terdekat. Di sebuah warung, Kimin menghabiskan seteko air dan empat buah pisang kapok. Dibelinya juga sebungkus nasi dan sekantong plastik air. Sebagai pembayarannya Kimin menyerahkan golok, perkakas utama dalam hidupnya selama ini.

“Kau telah melihat polisi kehutanan turun dari bukit, Mak?” tanya Kimin kepada pemilik warung.

“Ya. Malah tadi mereka makan-makan di sini’”

“Jadi, mereka telah kembali ke pos?”

“Hari ini mereka akan tetap berjaga-jaga hingga malam hari. Akan menangkap dua pencuri kayu yang sempat meloloskan diri. Demikian kata mereka.”

“Oh!”

“Kenapa? Kaukah pencuri kayu itu?”

“Benar, Mak”

“Kalau demikian mana yang seorang lagi?”

“Masih di tengah persil. Dia tak mampu lagi berjalan. Temanku kini sedang suren, Mak.”

“Lah! Jadi, air dan makanan itu untuk temanmu? Cepat, Nak! Nanti dia mati lemas. Cepat, Nak! Dan kali lain bila hendak mengambil kayu, jangan lupa membeli karcis.”

“Apakah Mak mengira kami belum membayar? Tadi pagi kami dimintai uang oleh mandor Dilam. Bangsat dia. Dia menghilang ketika datang polisi kehutanan.”

“Ya, ya. Aku tidak kaget. Tetapi temanmu itu, Nak. Ayo, cepat! Bila berjumpa polisi kehutanan, tunjukkan karcismu.”

“Buset! Sudah lama karccis tak dijual. Tetapi mandor Dilam tetap meminta uang, dan kami diperbolehkan masuk persil. Lain mandor Dilam lain pula polisi kehutanan.”

“Ya, ya. Aku tidak kaget. Lah, temanmu itu Nak!”

Usaha Kimin untuk menyelamatkan temannya, Suing, ternyata sia-sia saja. Suing didapati dalam kondisi sekarat. Meskipun masih bisa bernapas dan  bisa memberikan minum pada temannya, karena sang teman sudah terlanjur memakan singkong beracun itu, nyawanya tidak tertolong. Suing sepeninggal Kimin memakan singkong beracun yang tersisa itu. Tuntutan mengisi perut yang kadung lapar bagi Suing lebih diutamakan ketimbang harus mendengar peringatan temannya. Benar saja, begitu dia masukkan ke perutnya potongan `surabanglus` yang tersisa itu, tubuhnya langsung berproses. Akibatnya, Suing seperti yang ditemukan Kimin wajahnya pucat-pasi. Suing tak merespon ketika disodorkan nasi. Tubuhnya yang sudah teracuni `surabanglus` tiba-tiba saja rebah ke tanah dan tidak bernyawa. Harapan Kimin menyelamatkan temannya tidak berhasil.

Perapian masih mengepulkan asap ketika Kimin mencapai belukar puyengan itu. Dia menyuruk ke dalam ingin cepat meyakinkan dirinya bahwa Suing masih hidup. Benar, Suing belum mati. Bahkan didapatinya Suing dalam keadaan duduk di dekat perapian. Goyah dan wajahnya kembali menjadi topeng.

Dengan giginya, Kimin membuat lubang pada sudut kantung plastik itu dan  mengucurkannya langsung ke mulut Suing. Mula-mula Suing tetap diam sehingga air tumpah kembali membasahi dadanya. Tetapi kemudian dia berubah beringas. Direbutnya kantung air itu, disedot-sedotnya seperti orang kesetanan. Kimin terpaksa menarik kantung plastik itu, karena Suing terus memamahnya meskipun air telah habis.

Lega. Kimin merasa begitu lega. Ditunggunya perubahan pada wajah Suing. Ditunggunya tanda-tanda kesembuhan pada diri sahabatnya itu. Dan apa yang diharapnya tak kunjung muncul. Wajah Suing tetap beku dan bergoyang. Dia bahkan tak tanggap ketika Kimin menyodorkan nasi kepadanya.

Kimin bangkit, berjalan berputar-putar karena bingung. Dan matanya terbeliak melihat remah-remah di seputar perapian.

“Astaga! Suing, kau makan juga surabanglus itu? Kau makan semuanya?” seru Kimin sambil mengocok pundak temannya.

“Dengar, Suing! Kau makan jugakah singkong itu?”

Suing bungkam, bahkan rebah ke tanah.

***

Lain Kimin, lain lagi Musgepuk `sang pawang` yang diminta menangani kerbau yang tidak kunjung patuh pada tuannya. Cerpen yang ditulis Ahmad Tohari “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” berkisah tentang gagalnya seorang pawang menundukkan seekor kerbau.Musgepuk semula dengan angkuhnya mempertontokan kalau dia lebih pintar dari si Cepon `sang kerbau` karena berhasil menundukkan si Cepon. Cara  menundukkan si Cepon tentu saja menggunakan cara-cara yang tidak baik, yaitu si Cepon ditipu dengan sepikul daun tebu. Kerbau manapun kalau di hadapannya ada sepikul daun tebu tentu saja akan `ngiler` sehingga dengan mudahnya si Cepon bisa diajak masuk kandang. Begitu si Cepon yang sudah `ngiler` lihat sepikul daun tebu masuk kandang langsung dijerat. Saking kuatnya jeratan itu si Cepon tidak berhasil lolos dari jeratan. Tidak cukup dijerat si Cepon juga diikat kedua kaki depannya. Sepasang tanduknya juga dengan kuat disatukan tonggak pemasung. Praktis dengan cara begitu si Cepon yang dianggap perkasa berhasil dilumpuhkan.

Dua hari yang lalu ketika datang atas panggilan ayah, Musgepuk mulai menangani kerbau kami dengan tipu daya. Mula-mula dibawanya sepikul daun tebu ke dalam kandang. Pada pintu kandang yang sengaja setengah terbuka dipasangnya tali besar sebagai jerat. Musgepuk dengan jitu berhasil membuktikan kepada kami bahwa dia lebih pintar dari si Cepon. Kerbau kami terjerat. Dan meskipun pagar kandang berantakan, si Cepon gagal membebaskan diri. Bahkan akhirnya dia jatuh terguling ketika Musgepuk, dengan jerat yang kedua, berhasil membelenggu kaki belakangnya.

Dalam keadaan terguling di tanah, kerbau kami tidak bisa berbuat banyak. Apalagi kemudian Musgepuk juga mengikat kedua kaki depannya. Juga sepasang tanduknya disatukan dengan kuat pada tonggak pemasung. Si capon yang murka hanya bisa mendengus-dengus. Matanya merah, Musgepuk mutlak sudah menguasainya.

“Nah, lihatlah,” ujar Musgepuk sambil berdiri menghadap orang-orang yang menontonnya. “Aku seorang diri telah berhasil menangkap si Cepon dan merebahkannya. Seorang diri!”

Para penonton, termasuk aku dan ayah, mengangguk bersama. Entahlah, padahal aku sendiri tak mengerti mengapa aku ikut mengangguk. Setuju atas cara Musgepuk melumpuhkan si Cepon! Tidak, rasanya memang tidak. Boleh jadi kami terkesima karena kerbau kami yang perkasa telah terkalahkan.

Pekerjaan Musgepuk berikutnya tidak kalah beratnya, yaitu menundukkan si Cepon agar `sang kerbau` mau digunakan tenaganya untuk membajak sawah. Untuk melakukan pekerjaan itu, dengan alasan kalau si Cepon itu berbeda dengan kerbau-kerbau lainnya, Musgepuk menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi di antaranya menusukkan jarum bambu yang sudah diruncingkan ke cingur (hidung dan bibir atas) kerbau. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika cingur kerbau ditusuk bambu yang runcing yang di dalam cerpen itu disebut sebagai jarum bambu? Begitu jarum bambu itu ditusukkan ke cingur kerbau, spontan darah mengucur membasahi tangan Musgepuk. Si Cepon tubuhnya meregang. Kerbau malang itu melenguh dan berusaha meronta tapi sia-sia. Seluruh tubuhnya bereaksi karena menahan sakit. Si Cepon sampai terkencing-kencing dan mengeluarkan tinja. Sang Pawang, Musgepuk, melihat kondisi seperti itu bukan merasa iba malah melakukan tindakan-tindakan berikutnya yang membuat `sang kerbau` benar-benar terluka. Di sini menunjukkan Masgepuk sebagai pawang sama sekali sudah mati rasa kemanusiaannya.

 

Masih dengan sebuah kakinya menginjak pantat si Cepon, Musgepuk mulai meraut serpih bambu yang sejak tadi dipegangnya. Serpih bambu itu terus dirautnya hingga runcing seperti jarum besar lengkap dengan lubang di pangkalnya. Seutas tali ijuk sebesar lidi dimasukkannya pada lubang jarum bambu itu.

………………………………………………………………………………………………………………

Jadi, sementara semua orang menahan rasa karena akan melihat darah mengucur dari hidung si Cepon, Musgepuk malah bermain-main, tepatnya mempermainkan perasaan orang. Dia, dengan ulah seperti anak kecil mendapat mainan, bersiap memasang kaluh. Sambil tertawa kecil, dan ini ku kira dilakukannya buat menunjukkan kelebihannya dalam hal menumpas rasa kasihan, Musgepuk menusukkan jarum bambunya pada cingur si Cepon.

Hasil permainan Musgepuk segera terlihat. Darah mengucur membasahi tangannya. Tubuh si Cepon meregang. Melenguh-lenguh dan meronta sia-sia. Ekornya mengibas memukul-memukul bumi. Telinganya berputar sebagai baling-baling. Tetapi yang menjadikan perempuan memekik adalah semburan kencing dari kubul si Cepon. Disusul dengan gumpalan-gumpalan tinja yang terdorong keluar melalui duburnya.

Terbukti Musgepuk bersyaraf tangguh. Tangannya terus bekerja. Tak peduli apa pun. Tidak juga air mata si Cepon yang kelihatan mengambang ketika tali ijuk yang kasar menggesek luka yang masih segar. Bahkan Musgepuk menarik tali yang menyangkut luka itu ke belakang buat mengukur ketegangannya sebelum membuat simpul mati di antara kedua tanduk kerbau kami.

Si Cepon kerbau yang biasanya berdiri tegak benar-benar tidak berdaya. Dia tergolek di atas lumpur sawah dua hari kemudian dengan tubuh tidak karuan. Luka-luka di sekujur tubuhnya mengundang lalat merubung darah yang mengental terutama di kedua lubang hidungnya yang terluka parah. Bukan hanya lalat, satwa-satwa lainnya juga berpesta pora di atas tubuh si Cepon. Ini menunjukkan Musgepuk gagal menjalankan misinya. Meskipun sudah gagal menjalankan misinya, masih saja dia mengayunkan cambuk dan menyentak tali kekang. Si Cepon hanya mengedip-ngedipkan matanya. Sebagai orang yang tidak memiliki tanggung jawab, melihat misinya benar-benar gagal Musgepuk meninggalkan begitu saja kerbau yang terluka itu. Pemilik kerbau hanya berkomentar kalau Musgepuk tidak berdaya dan telah hilang motivasinya begitu si Cepon rubuh dan tidak ada keinginan untuk melawannya. Musgepuk sebagai pawang dikalahkan oleh si Cepon yang hanya mengedip-ngedipkan matanya. Itu pertanda si Cepon sebagai kerbau tidak mau tunduk dengan kemauan sang pawang yang telah memperlakukan dirinya dengan cara-cara di luar kemanusiaan.

Adalah si Cepon yang tergolek dan setengah mengapung di atas lumpur dua hari kemudian. Atau, apakah yang mengonggok itu masih layak disebut seekor kerbau bila dia nyaris kehilangan kepentingannya untuk bereaksi. Dia membiarkan puluhan lalat merubung darah yang mengental di kedua lubang hidungnya. Ekornya tidak lagi mengibas mengusir agas yang mengusik belur-belur luka di kulit dan menaruh telur di sana. Seekor lintah berenang dengan gerakan vertikal mendekat dan perlahan-lahan melekatkan dirinya pada kulit leher si Cepon. Langau pun mulai berdatangan dengan satu tujuan; hinggap pada kulit kerbau kami dan mengisap darahnya sepuas hati. Aku dan Ayah berdiri agak jauh dari pematang. Kami melihat Musgepuk menggeleng-gelengkan kepala. Sebelum melampiaskan keputusasaannya, dia sekali lagi mengayunkan cambuk dan menyentak tali kekang. Si Cepon yang hanya mengedipkan mata tepat ketika tali cambuk merapat di kulitnya. Atau tepat ketika tali kekang menyentak ke belakang.

Di bawah matahari yang mulai panas, aku dan ayah menyaksikan Musgepuk menjatuhkan pundak lalu pergi meninggalkan si Cepon tanpa bicara sedikit pun. Aku menoleh pada ayah dan beliau hanya mengangguk-anggukan kepala. Boleh jadi ayah kecewa karena sawahnya gagal dibajak atau karena si Cepon rubuh dan menyedihkan. Atau kedua-duanya. Manakah yang benar aku tak mengerti. Dan aku lebih tak mengerti lagi kata-kata ayah yang kemudian diucapkannya.

“Musgepuk jadi tak berdaya justru setelah Cepon rubuh dan tak mau melawannya. Dia Musgepuk telah kehilangan motivasi. Seorang pawang baru mempunyai makna bila dia berdiri di belakang seekor kerbau yang tetap tegar dan mau bekerja sama. Di hadapan mata kerbau yang hanya bisa berkedip-kedip. Musgepuk kehilangan arti dan nilainya. Dia bukan apa-apa.”

***

Di hadapan kita diperlihatkan dua sisi kehidupan manusia yang jauh berbeda. Kita diperlihatkan sisi-sisi kemanusiaan yang ada pada diri Kimin ketika memperlakukan temannya. Kita juga diperlihatkan sisi-sisi di luar batas-batas kemanusiaan ketika Musgepuk memperlakukan `sang kerbau`. Musgepuk bisa berbuat semena-mena terhadap `sang kerbau` karena ada pembiaran. Bahkan, sebelumnya ada permintaan dari pemilik kerbau agar `sang kerbau` mau diberdayakan lewat ritual-ritual yang dilakukan sang pawang: Musgepuk. Kalau saja tidak ada pembiaran, tidak akan mungkin si Cepon, `sang kerbau` yang malang itu jadi bulan-bulanan perlakuan kasar Musgepuk sehingga sekujur tubuhnya terluka parah. Kerja Musgepuk yang tidak manusiawi itu percuma saja dikomentari oleh sang pemilik kerbau kalau di benaknya masih ada keinginan untuk menundukkan perilaku kerbau yang suatu saat `membandel` dengan cara-cara yang tidak rasional. Menggunakan cara-cara yang tidak rasional yang menjurus pada perilaku yang tidak manusiawi melalui pawang, jelas bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kalau sudah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan mau tidak mau juga bertentangan dengan nilai-nilai agama. Bukankah nilai-nilai agama sebagaimana dijelaskan di atas menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan? Wallahu a`lam bissawab.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *