ALBUM “SGT. PEPPER`S LONELY HEART CLUB BAND” SEBAGAI PRODUK BUDAYA UNGGUL NEGARA MAJU

/I/

          Penerjemah buku Tarikh Khulafa, Samson Rahman, dalam Kata Pengantarnya  menulis:

”Hanya mereka yang  pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besarlah yang berhak untuk dicantumkan dalam sejarah. Hanya mereka yang mampu mengubah arah mata angin pikiran dan pola pikir manusialah yang patut mendapatkan lisensi untuk ditorehkan dalam sejarah. Manusia-manusia yang memiliki karakter, integritas dan `bobot` (mereka yang mampu mengopotimalkan potensi diri yang ada pada dirinya untuk mengubah dunia) sebagaimana manusialah yang pantas untuk ditorehkan dalam sejarah.”

(Imam suyuthi, 2010:ix)

Dalam dunia tarik suara di negara-negara maju, siapakah yang layak dicantumkan atau ditorehkan dalam sejarah yang pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besar?  Siapakah yang mampu mengubah arah mata angin pikiran dan pola pikir manusia? Siapa pula yang memiliki karakter, integritas, dan mampu mengoptimalkan potensi diri yang ada pada dirinya sehingga mampu mengubah dunia? Jawabannya hanya satu: The Beatles. Mengapa hanya empat anak muda Liverpool dari Britania Raya yang di awal-awal penampilannya berambut poni yang bermain musik dengan alat seadanya? Apakah tidak ada grup band yang lain selain mereka?

            Adalah majalah Rolling Stone pada tahun 2003 yang memasukkan salah satu album The Beatles yang selesai dirilis pada tahun 1967, yaitu Sgt. Pepper`s Lonely Heart Club Band (selanjutnya disingkat SPLHCB) sebagai album terbaik (nomor 1) di dunia sepanjang masa. Lahirnya album The Beatles kesembilan ini tidak terlepas dari kemajuan band saingannya, The Beach Boys, yang merilis album Pet Sounds yang menggemparkan. The Beach Boys telah melakukan langkah-langkah maju dengan memuat teknologi-teknologi baru, inovasi, dan terobosan baru yang membuat personel-personel The Beatles bersemangat untuk melampaui mereka. Selain semangat untuk melampaui saingan beratnya, banyak kalangan yang meragukan keberlangsungan The Beatles setelah berhenti dari tur (tur mereka terakhir 29 Agustus 1966). Keraguan banyak kalangan tentang keberlanjutanThe Beatles dan semangat untuk melampaui saingan beratnya, The Beach Boys, membuat The Beatles bisa mengalahkan mereka. Hal itu terbukti album SPLHCB yang diluncurkan pada 1 Juni 1967 bisa bertahan di peringkat atas tangga lagu selama 26 minggu (setengah tahun). Sebuah prestasi yang luar biasa. Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa The Beatles bisa seperti itu? Apa yang dilakukan atau bagaimana caranya  The Beatles sampai bisa meraih kesuksesan luar biasa setelah banyak orang yang meragukan keberadaannya dan persaingan yang luar biasa bukan saja menghadapi The Beach Boys tetapi juga grup-grup band lainnya yang mulai melakukan inovasi di era tahun `60-an?

/2/

            Koentjaraningrat (1992:5) dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan berpendapat bahwa kebudayaan itu mempunyai tiga wujud, yaitu wujud (1) ide-de, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan-peraturan; (2) aktivitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat; dan (3) benda-benda hasil karya manusia. Jadi, lingkup wujud kebudayaan itu di sekitar ide, aktivitas, dan hasil. Mengingat mereka (personel-personel The Beatles) merasa tersaingi dan diragukan keberlanjutannya, ketiga wujud kebudayaan tersebut secara berurutan dilakukannya. Memang, mereka melakukan cooling down. Di saat-saat cooling down itu mereka bukan berangan-angan, tetapi merajut mimpi-mimpinya agar bisa mengalahkan saingannya sekaligus menjawab keragu-raguan beberapa kalangan tentang keberlanjutan The Beatles.

 Langkah awal, dalam rangka mewujudkan ide-ide yang cemerlang, diam-diam mereka pelajari perkembangan perubahan masyarakat terhadap peminatannya di dunia musik dan eksprimen-eksprimen serta terobosan-terobosan yang dilakukan The Beach Boys saingannya. Setelah itu di langkah kedua, dalam rangka mewujudkan ide-idenya yang diimplementasikan dengan aktivitas, mereka melakukan langkah besar, yaitu sarana-sarana bermusik yang semula hanya menggunakan gitar, bas, drum, dan harmonika  dimodifikasi dengan beragam alat musik India, klarinet, alat musik gesek, harpsicord, harmonium, dan masih banyak lagi. Bahkan, pada A Day in The Life yang oleh banyak pengamat dinilai sebagai masterpiece di album SPLHCB ini, terdapat orkestra musik gesek yang keras, sangat megah, dan diakhiri dengan tiga piano yang ditekan bersamaan. Konon kabarnya untuk mensukseskan  A Day in The Life melibatkan 40 alat musik orkestra yang diselesaikan selama lima hari.  Ketika kedua langkah di atas telah dilaksanakan dengan sempurna, bagaimana langkah ketiga yang merupakan hasilnya?

            Hasil kerja keras yang diselesaikan selama 700 jam membikin musisi-musisi lain bernafsu mengungguli The Beatles. Sebut saja dedengkot The Beach Boys, Brian Wilson, di tengah-tengah krisis personel-personelnya setelah mendengar Strawberry Fields mundur teratur alias tidak berminat untuk mengunggulinya. Bagaimana Brian Wilson tidak bersemangat untuk menggunggulinya kalau karya agung ini mempunyai banyak keunggulan?

Keunggulan yang perlu dicatat di sini di antaranya.

  1. Album SPLHCBmenurut majalah Rolling Stones yang terbit pada tahun 2003 sebagai album terbaik nomor 1 di dunia sepanjang masa karena selama 26 minggu lagu ini tetap di peringkat atas tangga lagu.
  2. Album tersebut  memuat sejumlah track terkenal seperti “When I`m Sixty Four” dan “A Day in The Life” dan khusus untuk “A Day in The Life” dicap oleh berbagai kalangan sebagai masterpieceterbaik The Beatles dan lagu terbaik sepanjang masa.
  3. Karena hasil usaha The Beatlesdalam melakukan inovasi-inovasi baru, album SPLHCB menjadi album yang paling berpengaruh bagi industri musik hingga kini.Sampai saat ini cover album SPLHCBdiakui sebagai salah satu cover terbaik di dunia.
  4. Album SPLHCBdiakui sebagai produk terbaik dalam hal pengawinan berbagai aransemen musik dan antarbudaya (ada unsur berbau budaya timur: India).

Album yang memuat tiga belas nomor ini, setelah menjalani delapan tahun karier dan lebih dari 1400 kali penampilan di seluruh dunia, menjadi puncak karya The Beatles. Dengan munculnya album SPLHCB bagi The Beatles sekaligus merupakan ucapan selamat tinggal untuk Beatlemania dan lagu-lagu cinta. Jika sebelum munculnya album ini mereka adalah para musisi pertunjukan, maka setelah munculnya album ini mereka merasa telah menjadi artis yang sesungguhnya. Sebagai tambahan perlu juga dijelaskan di sini, munculnya album ini menjadi sebuah petunjuk bagi sebuah musim yang penuh dengan harapan, gejolak, dan pencapaian di akhir dekade 60-an (Summer Love 1967).

                                                 /3/

Mengapa The Beatles bisa melakukan langkah besar yang menakjubkan sehingga dengan menyimak albumSPLHCB saja tampak jelas adanya perubahan yang luar biasa? Kunci kesuksesan personil-personil The Beatles bisa mengubah segalanya menurut Larry Lange semata-mata karena mereka secara konsisten (disertai komitmen tentu saja) menerapkan tujuh prinsip kebijaksanaan yang menakjubkan (Larry Lange, 2003:xi). Ketujuh prinsip kebijaksanaan yang menakjubkan itu adalah mimpi, tujuan, sikap, tim, kontrol, berkembang, dan spirit (Larry Lange, 2003:xv-xvi). Prinsip pertama tentang mimpiThe Beatles mengambil inspirasi (juga sebagai bagian dari mewujudkan mimpinya) dari dunia mereka sebagaimana adanya.

Tengok saja lagu-lagu seperti “Strawberry Fields Forever” yang merupakan  salah satu tempat favorit John Lennon sewaktu kanak-kanak bermain. Tempat itu dekat dengan rumah bibinya, Mimi, tempat John tinggal. Di tempat itu, John sering bermain dan bermimpi di tempat yang tersembunyi itu. Dari tempat itu, John mendapatkan ilham untuk menulis syair yang belakangan membuat. Brian Wilson tidak bersemangat lagi untuk menyaingi The Beatles.

Lagu “Penny Lane” juga diambil dari sebuah nama jalan yang benar-benar ada di Liverpool. Di tempat itu ada tukang cukur langganan John, Paul, dan George memotong rambutnya ketika mereka masih kanak-kanak.  Lagu yang digubah oleh Paul Mc Cartney ini berkisah tentang pengalaman visual Mc Cartney. Sambil duduk di halte bus yang ada di jalan  itu, Paul mencatat hal-hal yang dia lihat, seperti tempat tukang cukur, foto langganannya, dan perawat penjual bunga “poppies”. Semua yang dia lihat, dicatat, lalu dituangkan ke dalam sebuah syair. Jadilah syair seperti ini:

“Penny Lane”

Lennon/McCartney

In Penny Lane there is a barber showing photographs
Of every head he’s had the pleasure to know
And all the people that come and go
Stop and say hello

On the corner is a banker with a motorcar
The little children laugh at him behind his back
And the banker never wears a mack in the pouring rain
Very strange

Penny Lane is in my ears and in my eyes
There beneath the blue suburban skies
I sit and meanwhile back in

Penny Lane there is a fireman with an hourglass
And in his pocket is a portrait of the Queen
He likes to keep his fire engine clean
It’s a clean machine

Penny Lane is in my ears and in my eyes
A four of fish and finger pies
In summer meanwhile back

Behind the shelter in the middle of a roundabout
A pretty nurse is selling poppies from a tray
And though she feels as if she’s in a play
She is anyway

Penny Lane, the barber shaves another customer
We see the banker sitting waiting for a trim
And the fireman rushes in from the pouring rain
Very strange

Penny Lane is in my ears and in my eyes
There beneath the blue suburban skies
I sit and meanwhile back

Penny Lane is in my ears and in my eyes
There beneath the blue suburban skies
Penny Lane

            Prinsip kedua, tujuanThe Beatles memiliki prinsip yang layak ditiru, yaitu untuk mencapai tujuan yang sesulit apapun tidak ada kata menyerah. Buat mereka, empat pemuda Liverpool itu, tidak ada istilah mati langkah. Selalu ada saja langkah-langkah yang dilakukan. Di saat-saat banyak orang yang bertanya-tanya tentang keberlanjutan The Beatlessetelah diputuskan tidak lagi manggung, mereka banting stir dengan melakukan banyak aktivitas di studio-studio rekaman. Eksprimen-eksprimen musik dalam rangka mewujudkan impian-impiannya dilakukan dengan kerja keras. Sekali lagi kerja keras. Sebagaimana saingannya , The Beach Boys, yang terlebih dahulu melakukan eksprimen-eksprimen musik dengan memadukan berbagai instrumen musik, The Beatles pun melakukan hal yang sama. Bahkan, hasilnya ternyata jauh lebih baik daripada grup band saingannya. Lihat saja album mereka yang terdapat di SPLHCB, di sana bukan hanya alunan musik yang jauh berbeda dengan album terdahulu di saat-saat mereka hanya menggunakan gitar, bas, drum, dan sekali-sekali harmonika, tetapi juga beragam alat musik. Mereka juga memasukkan alat musik India, sitar, dalam lagu “Within You Without You”. Sebenarnya, di album sebelumnya, Rubber Soul, mereka juga telah melakukan eksprimen dengan menggunakan sitar ketika merilis “Norwegian Wood”. Setelah itu, di album Revolver, “Yellow Submarine”,  mereka juga bereksprimen dengan memasukkan warna-warna musik yang lain, yang tidak biasanya mereka lakukan. Eksprimen-eksprimen tersebut juga masih dilakukan dalam single-single mereka, seperti dalam “Strawberry Field” dan “Penny Lane”. Kedua single itu lahir sebelum lahirnya album SPLHCB.

            Prinsip ketiga, sikap. Coba amati “We Can Work it Out”. Apa yang bisa diperoleh dari lagu tersebut? The Beatlesmengajarkan pada para penggemarnya atau semua orang yang mau mendengarkannya untuk tidak ada kata menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan. Di syair lagu tersebut berulang kali mereka menyerukan “We Can Work it Out” (“Kita dapat Menyelesaikannya”). Bukan itu saja, mereka juga menekankan Life is very short, and there`s no time for fussing and fighting,my friend (Hidup itu sangat singkat kawan, tak ada waktu untuk bertengkar dan berkelahi).  Inilah sikap mereka menghadapi berbagai tantangan:”Kita dapat menyelesaikannya”. Karena yakin dapat menyelesaikan segala tantangan, mereka menjadi orang-orang yang tangguh menghadapi baik para penggemarnya, para produser rekaman, maupun grup-grup band saingannya. Hal ini sesuai dengan ucapan George Harrison, “Saya kira kami sangat tangguh, karena saya mendengar tentang orang yang menjadi gila dan mengalami gangguan jiwa ketika menghadapi tantangan dan kesulitan yang bahkan tak seujung kuku pun dibandingkan yang kami lewati” (Larry Lange, 2003:53). Karena itu, di album berikutnya, White Album, sekurang-kurangnya ada dua lagu yang juga merupakan hasil penyerbukan silang antarbudaya, yaitu di “Piggies” dan “Don`t Pass Me By”. Bisa juga diamati dalam album Yellow Submarine, terutama di “All You  Need is Love”. Khusus untuk yang terakhir ini, ada keunikan tersendiri jika benar-benar disimak alunan musik yang terdapat pada lagu tersebut terutama pada penggunaan orkestranya.

            Prinsip keempat, tim. Paul McCartney mengatakan, “Kenyataannya, kami adalah tim, tak peduli apapun yang terjadi di antara kami dan di sekitar kami” (Larry Lange, 2003:81). Perkataan dan sekaligus pengakuan Paul membuktikan bahwa The Beatles adalah sebuah tim  yang tangguh. The Beatles adalah kumpulan superstar yang tangguh, yang membentuk sebuah tim yang solid. Tim yang tangguh dan solid ini terbukti berhasil menghadapi berbagai rintangan. Silakan diamati inovasi-inovasi yang mereka lakukan dari album ke album, selalu menunjukkan adanya perubahan. Inilah sebuah grup band yang disebut sebagai Fab Four karena adanya ikatan yang konsisten di antara mereka. Bagaimana mereka bukan tim yang konsisten kalau pengalaman masa kecil mereka terbawa dalam ikatan ini? (Larry Lange, 2003:95). Ikatan yang solid dan tangguh ini berhasil menghadapi saingan beratnya, The Beach Boys, dengan mengunjungi studio mereka di AS ketika The Beatles semakin dekat merampungkan  album SPLHCB (Larry Lange, 2003:106). Perlu juga diketahui, di saat The Beatles menggarap album SPLHCB kepemimpinannya telah dialihkan dari John Lennon ke Paul McCartney. Saking kuatnya ikatan mereka dengan tim, John Lennon pada tahun 1967 pernah meluncurkan pernyataan indah: “Jika saya sendirian saja selama tiga hari, tidak melakukan apa-apa, saya akan nyaris kehilangan diri saya sepenuhnya. Saya ada di belakang kepala saya. Saya bisa melihat tangan saya dan menyadari tangan itu bergerak, tapi itu seperti robot yang melakukannya. Saya harus bertemu dengan yang lainnya untuk mengembalikan diri saya” (Larry Lange, 2003:96).

            Prinsip kelima, kontrol. Grup band asal Liverpool ini dalam hal melaksanakan prinsip kelima cenderung untuk menciptakan dan mengontrol aspek karier mereka mulai dari penampakan luar mereka hingga arah dan kualitas musik serta film mereka. Bahkan hingga orang-orang yang dilibatkan dalam mewujudkan semua itu (Larry Lange, 2003:114). Sebagai buktinya, coba perhatikan cover album SPLHCB. Mereka sendiri baik yang merancang cover maupun pemberian nama album SPLHCB tersebut. Jadi, tidak ada campur tangan orang lain. Begitu juga ketika mengaransemen musik di album tersebut, mereka juga yang semuanya terlibat melakukannya. Tentu saja ketika mereka harus melakukan penyerbuksilangan budaya dengan cara memasukkan berbagai instrumen musik (termasuk di antaranya instrumen musik dari India, sitar) mau tidak mau juga harus melibatkan banyak orang. Tetapi, semua pekerjaan itu di bawah kontrol mereka sehingga kalau hasilnya dinilai gagal, mereka sendiri yang menanggungnya. Sebaliknya, kalau berhasil, mereka juga yang menikmatinya.

            Prinsip keenam, berkembang. Salah seorang pentolan The Beatles, Paul McCartney, berucap:”Kami selalu berusaha menjadi yang terkemuka: lebih keras, lebih jauh, lebih lama, lebih banyak, berbeda (Larry Lange, 2003:149). Apa yang bisa diambil dari ucapan tersebut? The Beatles ingin mewujudkan mimpi-mimpinya dengan satu kata: berkembang. Mereka buktikan ucapan tersebut dengan terus belajar. Mereka belajar untuk mengalihkan energi mereka dari tur-tur yang melelahkan ke studio rekaman. Hasilnya, mereka menghasilkan album Revolver yang oleh banyak kritikus musik disebut sebagai album rock terbaik sepanjang masa. Mereka berlajar melakukan. Hasilnya, muncullah single-single:”Norwegian Wood”, “Eleanor Rigby”, “Piggies”, “Strawberry Fields Forever”,”Penny Lane”, ”Yellow Submarine”, dan  “All You Need is Love”. Selain itu, satu album yang merupakan sebuah hasil inovasi yang cerdas: SPLHCB. 

            Prinsip ketujuh, spiritThe Beatles, telah memperoleh semua impian. Tetapi, impian yang lebih merupakan kenikmatan duniawi tidak memberikan mereka kepuasan batin. Mereka mulai mencari makna dari kehidupan ini. Mereka menemukannya di India. John Lennon, misalnya, mempelajari buku mistik Tibetan Book of the Dead dan memakai sebagian dari teks dalam buku itu untuk lirik “Tomorrow Never Knows” (Larry Lange, 2003:179). Ini liriknya:

“Tomorrow Never Knows”

Lennon/McCartney

Turn off your mind, relax
And float down stream
It is not dying
It is not dying

Lay down all thought
Surrender to the void
It is shining
It is shining

That you may see
The meaning of within

It is being
It is being

That love is all
And love is everyone
It is knowing
It is knowing

That ignorance and hate
May mourn the dead
It is believing
It is believing

But listen to the
Color of your dreams
It is not living
It is not living

Or play the game
Existence to the end
Of the beginning
Of the beginning

Of the beginning
Of the beginning
Of the beginning
Of the beginning
Of the beginning

John Lennon seperti manusia pada umumnya yang tidak tahu tentang kejadian yang akan datang. Lewat lirik itu diakui sejujurnya bahwa dia makhluk yang lemah, yang mengakui bahwa ada yang mengatur dan menentukan semuanya. George Harrison juga mengakui hal yang sama bahwa semua benda/makhluk di dunia ini akan binasa. Silakan disimak lirik yang ditulis George Harrison seusai berkelana ke India:

 “All Things Must Pass”

George Harrison

Sunrise doesn’t last all morning
A cloudburst doesn’t last all day
Seems my love is up and has left you with no warning
It’s not always going to be this gray

All things must pass
All things must pass away

Sunset doesn’t last all evening
A mind can blow those clouds away
After all this, my love is up and must be leaving
It’s not always going to be this gray

All things must pass
All things must pass away
All things must pass

one of life’s strings can last
So, I must be on my way
And face another day

Now the darkness only stays the night-time
In the morning it will fade away
Daylight is good at arriving at the right time
It’s not always going to be this gray

All things must pass
All things must pass away
All things must pass
All things must pass away

          Karena mereka mengakui kelemahannya, ini akibat mereka berkelana  ke alam spritual, mau tidak mau mereka melakukan berbagai eksprimen di bidang musik. Eksprimen-eksprimen yang dilandasi spiritual menghasilkan album-album  yang spektakuler dan tetap dikenang sepanjang masa. Silakan disimak album yang terdapat dalam SPLHCByang lirik-liriknya jauh berbeda dengan album-album yang terdahulu. Begitu juga dengan aransemen musiknya yang terkesan gado-gado tapi tetap mengundang decak kagum setiap penikmat musiknya.  Mungkinkah di abad 21 ini muncul grup band yang bisa lebih mengungguli The Beatles?

/4/

             Jika Didi Kwartanada pernah mengatakan “untuk menciptakan budaya Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global harus berbesar hati mau belajar dari budaya bangsa tetangga” Sahrul Mauludi (ed.),2015:106),  maka dalam tulisan ini disarankan hal yang sama tetapi juga perlu belajar dari bangsa-bangsa maju yang telah melakukan eksprimen-eksprimen musik, seperti The Beatles (boleh juga The Beach Boys). The Beatles telah berhasil melakukan berbagai inovasi termasuk bereksprimen dalam penyerbukan budaya antarbangsa. Salah satu albumnya SPHLCB merupakan sebuah karya monumental yang sampai saat ini masih belum ada yang menandinginya. Diakui atau tidak, ini merupakan buah kreativitas yang disertai dengan kerja keras karena pada saat album itu dibuat belum ada yang namanya komputer atau instrumen-instrumen yang dianggap canggih seperti sekarang ini. Rahasia keberhasilan mereka bisa menghasilkan album yang tergolong spektakuler itu adalah keempat pemuda Liverpool itu menerapkan secara konsisten dan konsekuen ketujuh prinsip-prinsip yang menakjubkan.

            Bangsa Indonesia kalau mau maju dalam melakukan persilangan antarbudaya, baik merujuk pada budaya bangsa tetangga maupun bangsa-bangsa maju, bisa juga menerapkan secara konsisten dan konsekuen ketujuh prinsip yang telah iuraikan di atas. The Beatles telah membuktikannya. Walaupun grup band ini telah hampir 50 tahun lalu bubar, sejarah tetap mencatatnya sebagai grup band dari negara maju yang telah menancapkan tonggak sejarah di bidang tarik suara. Selayaknya, anak bangsa ini menyimak secara cermat album SPHLCB juga lirik-lirik lagu baik sebelum maupun sesudah SPHLCB yang dari aransemen musiknya menggunakan penyerbukan silang antarbudaya. Ambil atau tiru kerja-kerja mereka yang dinilai positif. Buang hal-hal yang dinilai negatif, seperti penggunaan LSD atau narkoba atau gaya hidup mereka yang cenderung hippies. Hindari budaya bangsa ini dari psikedelik yang mungkin saja sampai saat ini masih menjadi panutan bagi kebanyakan insan seni di jagat ini.  Bangsa Indonesia masih punya harapan untuk mewujudkan budaya baru hasil penyerbukan silang antarbudaya. Mulailah dari sekarang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

 Daftar Pustaka

Derwanto, Nirwan. Senjakala Kebudayaan. Yogyakarta: Yayasan Bentang  Budaya, 1996.

Imam As-Suyuthi. Tarikh Khulafa, a.b. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka  Al-Kautsar, 2010.

Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:   Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Lange, Larry. The Beatles Way: Prinsip-PrinsipMenakjubkan untuk Meraih   Suksesa.b.Antonius Puspo Kuntjoro. Jakarta: Penerbit PT Gramedia      Pustaka Utama, 2003.

Mauludi, Sahrul (ed.). Penyerbukan Silang Antarbudaya. Jakarta: Penerbit   Elex Media Komputindo, 2015.

Sutrisno, Mudji&Hendar Putranto (ed.). Teori-Teori Kebudayaan.   Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2005.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat