TERALIENASI

Subagio S.Waluyo

HAMPA

                            Kepada Sri


Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


Karya: Chairil Anwar

       Puisi di atas menggambarkan tentang kesepian. Kesepian merupakan sebuah ketentuan Tuhan yang tidak bisa dihindari manusia. Seperti halnya Chairil Anwar yang mencoba mengungkapkan kesepian dengan kata-kata “Sepi di luar. Sepi menekan mendesak./Lurus kaku pohonan. Tak bergerak/ Sampai ke puncak. Jadi, suasana yang digambarkan Chairil memang benar-benar sepi sampai-sampai pepohonan pun tidak bergerak. Bisa dibayangkan kalau pepohonan sampai sama sekali tidak bergerak berarti suasananya sudah benar-benar seperti stagnan, mati. Suasana seperti itu akan membikin orang semakin galau karena biar bagaimana pun manusia membutuhkan suasana yang hidup. Suasana yang hidup setidaknya memunculkan kedinamisan. Dengan demikian, kesepian itu sebuah kematian atau keterasingan sebagaimana diungkap oleh Chairil di puisi “Sia-Sia” yang di akhir puisinya ia mengungkapkan …Ah hatiku yang tak mau memberi/mampus kau dikoyak-koyak sepi.

          Chairil kemudian juga mengungkapkan kalau sepi itu telah membuat dia benar-benar tidak tenang, gelisah, galau. Dia tercekik oleh kesepian sebagaimana diungkapkan …Sepi./Tambah ini menanti jadi mencekik/Memberat mencekung punda/Sampai binasa segala. Belum apa-apa/Udara bertuba. Setan bertempik/ Ini sepi terus ada. Dan menanti. Jadi, suasananya memang bertambah sepi. Sampai-sampai digambarkan lehernya tercekik oleh kesepian. Saking kuatnya cekikan itu, membuat bahunya berat dan mencekung. Bahkan, kesepian itu telah  membuat segalanya binasa. Kesepian itu membuat udara di sekitarnya beracun. Karena itu, kesepian itu telah membuat setan berteriak keras sehingga suasana sepi itu membuat suasana di sekitarnya semakin seram.

       Ungkapan Chairil tentang sepi memang sangat berlebihan (hiperbola). Tapi, jauh di balik itu ada pesan Chairil sebagai penyair, yaitu dia ingin menyampaikan tentang hidup manusia yang tidak lepas dari keterasingan atau keterisolasian. Bisa juga jika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat atau bangsa, dijabarkan sebagai bangsa yang harus siap menerima kondisi yang tidak mengenakkan. Kalau sebelumnya posisinya sangat diperhatikan, mereka pada akhirnya mau tidak mau harus menerima nasib sebagai bangsa yang terasingkan atau terisolasi atau teralienasi. Bangsa yang teralienasi bukankah bangsa yang digambarkan Chairil pada puisi di atas sebagai bangsa yang tercekik sampai mencekung bahunya? Artinya, bangsa tersebut telah benar-benar menderita lahir-batin. Bangsa seperti itu hanya menjadi penonton bukan pemain. Mereka menjadi objek bukan menjadi subjek. Mereka pada akhirnya hanya menatap kekayaan negaranya dirampok habis-habisan oleh pemain-pemain luar (ada juga bangsa sendiri yang bermental hipokrit). Mereka menangisi harga dirinya yang juga dirampok oleh bangsa lain. Dari tangisan mereka bukan lagi keluar air mata, tapi darah karena air mata mereka telah kering sehingga yang keluar dari matanya darah.

          Apakah bangsa ini hanya bisa menangis sampai keluar air mata darah? Apakah dengan air mata darah bisa menyelesaikan masalah? Widji Thukul lewat puisinya, “Puisi untuk Adik”, mengatakan tidak! Katanya, …kita akan terus  melawan karena waktu yang bijak bestari katanya sudah mengajari kita bagaimana menghadapi derita. Kalau dengan cara apapun, kita bisa menghadapi bangsa lain yang telah merampok kekayaan negara kita, kata Widji kita akan bisa memberi senyum dalam menghadapi derita. Jadi, jangan kita menyerah pada ketakutan kata Widji. Untuk itu, kita akan terus bergulat katanya. Coba kita simak puisi Widji Thukul berikut ini.

PUISI UNTUK ADIK

apakah nasib kita akan terus seperti

sepeda rongsokan karatan itu?

o… tidak, dik!

kita akan terus melawan

waktu yang bijak bestari

kan sudah mengajari kita

bagaimana menghadapi derita

kitalah yang akan memberi senyum

kepada masa depan

jangan menyerahkan diri kepada ketakutan

kita akan terus bergulat

Karya: Widji Thukul

(https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/158831-puisi-wiji-thukul)

          Widji Thukul lewat “Puisi untuk Adik” mengajak semua orang untuk melawan. Termasuk dalam hal ini melawan kemiskinan. Tentang kemiskinan yang harus dilawan bisa digambarkan contoh kemiskinan yang diderita tokoh Kakek Gio, seorang kakek penarik beca dalam cerpen “Pengorbanan Kakek Gio” oleh Tony May Rodiah. Dalam cerpen tersebut dikisahkan kalau Kakek Gio adalah seorang penarik beca yang sudah uzur. Suatu kali ketika seorang penumpang beca yang diketahui mahasiswa Kedokteran Gigi meminta Kakek Gio untuk menjual giginya, ia bersedia menjual bagian depan giginya. Ternyata permintaan untuk menjual giginya tidak cukup sekali, tapi berkali-kali sehingga giginya benar-benar habis sama sekali. Anehnya, walaupun giginya telah habis, Kakek Gio tidak menyesali nasibnya. Dia juga harus menerima nasib kalau istri dan anaknya juga tiada. Meskipun demikian, jauh di lubuk batinnya sebenarnya terluka. Di bawah ini bisa dilihat cuplikan yang menunjukkan ketika Kakek Gio menjual giginya pada seorang dokter gigi.

          ……………………………………………………………………………………………….

Suatu hari, Kakek Gio mengayuh becaknya melewati sebuah kampus. Seorang mahasiswa memanggil dan menghampirinya. Rupanya dia seorang mahasiswa dari fakultas kedokteran gigi.

Sambil naik becak, mereka berbincang-bincang. Dan mahasiswa itu pun menanyakan apakah Kakek Gio mau menjual giginya. Pada awalnya, mungkin Kakek Gio menganggapnya bercanda.Tapi rupanya mahasiswa itu serius bahkan memberikan tawaran harga yang lumayan untuk ukuran tukang becak seperti Kakek Gio.

Akhirnya, Kakek Gio pun tergiur dan bersedia menjual giginya. Ditemani mahasiswa itu, Kakek Gio menemui temannya yang sudah jadi dokter gigi. Dan gigi depannya pun benar-benar sudah terjual.

(http://www.buruan.co/kemiskinan-dan-keterasingan/)

     Contoh cuplikan di atas lebih merupakan refleksi kemiskinan yang diderita bangsa ini akibat adanya alienasi yang terstruktur. Alienasi yang dijalankan oleh pelaku-pelaku di negara ini dikelola oleh lembaga-lembaga internasional. Mereka ini jelas-jelas merupakan lembaga-lembaga kapitalis yang sangat mendukung neo liberalisme. Di negara manapun mereka berada pasti negara-negara yang telah berhasil direkrut sebagai rekanannya anak bangsa yang tinggal di negara-negara tersebut (terutama negara berkembang atau miskin) bisa dipastikan anak bangsa itu tergolong orang-orang yang teralienasi. Mereka bisa dipastikan adalah orang-orang yang dilarang sakit karena rumah sakit tidak bisa menerima kehadiran mereka. Mereka dilarang sekolah karena sekolah-sekolah hanya bisa  menerima siswa yang orang tuanya tergolong berduit. Jadi, negara ini tidak bisa memberi layanan yang memadai pada orang-orang semacam Kakek Gio, penarik beca yang terpaksa menjual semua giginya. Negara ini tidak berpihak pada anak bangsa yang teralienasi. Sebagai bukti negara ini tidak berpihak pada anak bangsanya yang telah teralienasi bisa dilihat pada cuplikan cerpen “Rumah Ilalang” oleh Rayani Sri Widodo berikut ini.

          Padang Bolak artinya padang luas, padang sabana sejauh mata memandang, diselingi gerumbul perdu di sana-sini. Kini mereka sedang membelah kawasan itu. Siunggam-Aek Bayur lebih kurang empat km. Ungkapan Lambek,pemuda kelahiran Aek Bayur itu, sejak zaman Sri wijaya hingga zaman internet ini, sarana transportasi tetap saja sepasang tungkai kita masing-masing. Sentralisasi semua aspek bernegara ‘mengabadikan’ kesengsaran (lebih tepat‘penganiayaan’) penduduk desa-desa, yang gara-gara sentralisasi itu, dipencilkan.

          “Meski ilalang, seingat saya, di sini belum pernah terjadi kebakaran, Kak,” Lambek akhirnya beraksi. Nada tersinggung itu menandai kualitas impulsnya.

          “Alhamdulillah,” dengan nada ironis. Hilang sudah minat si Kakak. Ia gegabah memvonis ini bukan dialog,tetapi monolog yang sia-sia. Benar sikap empat yang lain,memusatkan pikiran dan tenaga ke setiap langkah. Jangan sampai mendaratkan telapak kaki di gigir batu yang tajam, atau ke lumpur. Jika masuk ke lumpur sekental itu, sisa rekatnya pasti luar biasa merepotkan. Perjalanan masih jauh, malam jangan sampai makin larut. Tidak takzim mengetuk rumah larut malam, meski rumah kerabat. Tetapi, produk bernilai ekonomis apa yang dapat ditawarkan oleh penduduk Aek Bayur yang bakal membutuhkan angkutan umum agar mereka berhak menuntut pembagian anggaran yang adil untuk memuluskan jalan ini? Bukankah begitu selalu dalih rezim yang memperlakukan sukses komersil pembangunan ekonomi sebagai berhala kebijakan? Perpanjangan tangan rezim sekecil kelingking pun, bupati, camat, lurah, kepala desa hingga penghulu dusun, dibenturkan ke berhala ini.

       (https://drive.google.com/file/d/1kMyi5ar76mrs6oNjxcGzfi4FhyVV8IO/view )

          Pada cuplikan cerpen di atas bisa dijelaskan bahwa di masa pemerintahan yang cenderung sentralisasi, maksudnya masa Orde Baru, Desa Aek Bayur, Padang Sidempuan, Sumatera Utara, belum sama sekali tersentuh oleh sarana transportasi. Saking parahnya kondisi jalan desa, untuk menuju ke desa tersebut hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Desa Aek Bayur benar-benar terpencil dan tertinggal. Kalau penduduk desa tersebut tetap dalam kondisi miskin dan terbelakang, wajar-wajar saja karena selama itu penduduk Desa Aek Bayur memang tidak mendapat jatah dari pemerintah yang berkuasa itu bernama kue pembangunan. Kue pembangunan memang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu. Sebut saja kalangan penguasa dan pengusaha besar. Merekalah yang telah mengalienasi anak bangsanya sendiri. Mereka juga yang telah mengekplorasi habis-habisan kekayaan negara ini dari perut bumi ibu pertiwi yang kata orang disebut sebagai negara ‘gemah ripah loh jinawi’ sehingga benar-benar habis tidak tersisa. Kalau kekayaan sudah habis dan hutang pun bertumpuk, siapa yang jadi korban? Tentu anak bangsanya sendiri yang teralienasi. Ini kata peribahasa `sudah jatuh tertimpa tangga pula`. Artinya, benar-benar celaka dua kali. Apakah bangsa ini masih mau celaka dua kali?

          Agar tidak menjadi bangsa yang celaka dua kali harus ada usaha untuk melawan. Anak bangsa ini harus bisa mengatakan `tidak` terhadap sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani walaupun resikonya harus merenggang nyawa. Bagaimana caranya? Tidak ada cara kecuali melalui pendidikan. Pendidikan yang bisa mengubah cara berpikir bangsa ini. Mereka harus dididik menjadi orang-orang  yang berpikir rasional. Jangan ada lagi anak bangsa yang masih percaya pada mitos. Jangan ada lagi anak bangsa yang masih terikat pada ketokohan karena akan memunculkan sikap jumud. Jangan ada lagi anak bangsa yang fatalis. Ubah bangsa ini dari bangsa yang inferior menjadi bangsa yang superior. Tapi, jangan lupa mereka harus punya landasan nilai-nilai keimanan dan akhlak yang mulia. Lebih dari itu siapapun yang mau terlibat mengubah kondisi bangsa ini harus  meluruskan niat untuk benar-benar ikhlas membenahi anak bangsa ini dengan landasan lillahi ta`ala. Kalau masih ada agenda tersembunyi yang ujung-ujungnya mencari keuntungan pribadi, naudzubilllahi min dzalik, tujuan itu tidak akan tercapai. Sebagai pelengkap, bicara tentang teralienasi rasa-rasanya kurang lengkap kalau kita belum menyimak salah satu lagu Iwan Fals yang bicara nasib pekerja pangkalan bensin yang merasa diremehkan (dialienasi) oleh pihak rumah sakit ketika seluruh tubuhnya melepuh akibat pangkalan bensinnya meledak. Kita simak lirik lagu Iwan Fals yang memang sering fals (kritis/suara miring) ketika mengeritik nasib bangsanya yang dialienasi.

Ambulance Zig Zag 

Deru ambulanceMemasuki pelataran rumah sakitYang putih berkilau
Di dalam ambulance tersebutTergolek sosok tubuh gemukBergelimang perhiasan
Nyonya kaya pingsanMendengar kabarPutranya kecelakaan
Dan para medisBerdatangan kerja cepatLalu langsung membawa korban menuju ruang periksa
Tanpa basa basiIni mungkin sudah terbiasa
Tak lama berselangSupir helicak datangMasuk membawa korban yang berkain sarung
Seluruh badannya melepuhAkibat pangkalan bensin ecerannyaMeledak
Suster cantik datangMau menanyakanDia menanyakan data si korban
Di jawab denganJerit kesakitanSuster menyarankan bayar ongkos pengobatan
Ai sungguh sayang korban tak bawa uang
Suster cantik ngototLalu melototDan berkata “Silahkan bapak tunggu di muka!”
Hai modar akuHai modar akuJerit si pasien merasa kesakitan
Hai modar akuHai modar akuJerit si pasien merasa diremehkan
(https://lirik.kapanlagi.com/artis/iwan-fals/ambulance-zig-zag/)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat