Mengapresiasi Kemanusiaan dan Kebudayaan

Subagio S. Waluyo

Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.

Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.

Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.

(Dikutip dari cerpen Eka Kurniawan “Dua Wajah Ibu”)

***

Tulisan ini lebih cenderung untuk menjawab hal-hal di seputar apa, mengapa, dan bagaimana dalam mengapresiasi kemanusiaan dan kebudayaan. Pola pengembangan tulisan dengan mengajukan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana bukan hal yang baru. Di dunia jurnalistik sudah merupakan keharusan apabila seorang wartawan ingin meliput sebuah berita, dia akan berangkat dari 5 W+1 H. Dalam tulisan ini hanya 2 W+1 H, What, Why. dan How. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu kita akan memahami sepenuhnya yang ingin dicapai dari tulisan ini.

Kalau secara teliti mengamati judul tulisan ini, kita akan sepakat bahwa tulisan ini terbagi dua bagian besar, yaitu mengapresiasi kemanusiaan dan mengapresiasi kebudayaan. Untuk itu, kita akan awali tulisan ini dengan terlebih dahulu menjelaskan hal-hal di seputar mengapresiasi kemanusiaan. Setelah itu, baru kita menguraikan mengapreasiasi kebudayaan. Dengan cara demikian Insya Allah akan mendapati gambaran untuk  mengapresiasi hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan dan kebudayaan.

Kata `mengapreasiasi` supaya lebih mudah kita memahaminya perlu terlebih dahulu kita kupas definisi apresiasi. Jadi, imbuhan meN- pada kata `mengapresiasi` sengaja kita singkirkan dulu. Imbuhan meN- yang dilekatkan pada kata `apresiasi` lebih mempunyai makna mengerjakan. Kata `apresiasi` itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,1999:53) didefinisikan  n 1. kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya; 2. penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3. kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang  itu bertambah. Dari tiga definisi di atas yang relevan dengan tulisan ini adalah definisi kedua, yaitu penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu. Jadi, apresiasi kemanusiaan bisa saja didefinisikan sebagai penilaian (penghargaan) terhadap kemanusiaan yang dalam hal ini adalah nilai-nilainya. Dengan demikian,  apresiasi kebudayaan didefinisikan sebagai penilaian (penghargaan) terhadap nilai-nilai kebudayaan.

***

Apresiasi kemanusiaan atau penilaian dan penghargaan terhadap (nilai-nilai) kemanusiaan dalam hal ini mencakup nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Nilai-nilai yang universal pada manusia itu di antaranya adalah cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, pengabdian, kegelisahan, dan harapan. Tentang nilai-nilai universal manusia bisa dilihat pada tulisan-tulisan di blog ini yang semuanya dikaitkan dengan karya sastra (prosa dan puisi). Di samping itu, juga bisa dimasukkan di sini nilai moral atau akhlak. Nilai akhlak dalam bidang filsafat termasuk ke dalam aksiologi. Dalam aksiologi ada dua hal yang dikaji, yaitu estetika dan etika (Elly M.Setiadi, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar/ISBD, 2005:107). Di website ini (lihat “Menyoal tentang Keindahan”) juga sudah ditulis tentang estetika (keindahan) yang dikaitkan dengan karya sastra. Sedangkan tentang etika sebagai salah satu nilai kemanusiaan yang juga bersifat universal akan dibahas, Insya Allah, pada kesempatan berikutnya.

Kita perlu mengkaji nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal mengingat dengan cara demikian kita menyadari bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak bisa memungkiri adanya nilai-nilai yang ada pada diri kita. Di sini setiap orang harus bisa memberikan penilaian/penghargaan (apresiasi) terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal yang telah dihasilkan seseorang entah itu dalam bentuk produk-produk massal baik seperti industri informatika dan komunikasi maupun karya seni. Dalam karya seni, misalnya, bisa saja seorang seniman menghasilkan sebuah karya seni yang  menayangkan nilai-nilai cinta kasih atau keadilan atau penderitaan. Sebagai penikmat yang baik kita layak memberikan apresiasi terhadap karya seni tersebut. Sebuah apresiasi walaupun mendapat nilai minim bagi seorang seniman akan menjadi masukan berharga untuk menghasilkan karya-karya seni yang lebih baik di masa depan.

Untuk bisa menjadi orang yang mampu memberikan apresiasi kemanusiaan diperlukan pemahaman terhadap objek yang mau diberikan apresiasi. Orang yang memiliki pemahaman tentu saja harus memiliki keilmuan yang mumpuni. Tanpa ilmu yang mumpuni mustahil orang tersebut bisa melakukan apresiasi. Selain pemahaman yang mendalam juga diperlukan adanya aktivitas kontemplasi (perenungan). Sebuah karya sastra, misalnya, tidak cukup hanya dibaca tetapi juga perlu direnungkan untuk mendapatkan makna-makna kehidupan yang terpendam. Di sini seorang yang ingin melakukan apresiasi dibutuhkan sebuah ketekunan, kekonsistenan, dan kesabaran untuk melakoninya. Orang tersebut juga harus memiliki komitmen atau integritas diri sehingga tidak terpengaruh di saat memberikan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

***
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, (1992:5) ada tiga wujud. (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakukan berpola dari manusia dalam masyarakat. (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari ketiga wujud kebudayaan itu yang bisa diapresiasi adalah wujud ketiga,wujud kebudayaan fisik,  karena sebagai produk dari sebuah ide/gagasan yang dilakukan dengan aktivitas fisik menghasilkan sebuah karya kebudayaan yang siap diapresiasi. Muncul sebuah pertanyaan, karya kebudayaan apa saja yang bisa diapresiasi?  Produk dari semua yang termasuk ke dalam unsur-unsur kebudayaan bisa diapresiasi, Kita bisa ambil contoh, produk dari perkembangan sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (sainstek) seperti komputer layak untuk diapresiasi karena semakin hari semakin banyak memberikan manfaat bagi manusia dalam hal memudahkan bukan saja entri data tapi juga bisa dijadikan alat komunikasi melalui internet. Dari internet saja sesama manusia atau institusi bisa saling berkomunikasi. Bahkan, perkembangan terbaru orang bisa berbisnis melalui internet (bisnis online). Ini menunjukkan bahwa kebudayaan semakin berkembang karena karya- karya kebudayaan sebagai hasil budidaya manusia telah menjadikan manusia semakin dimudahkan untuk melakukan aktivitas sosial dan budaya.

Kebudayaan yang menghasilkan karya-karya budaya layak untuk diapresiasi agar orang-orang yang giat melakukan aktivitas budaya semakin termotivasi untuk memproduk karya-karya kebudayaan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diakui atau tidak sebuah aktivitas dan kreativitas yang dikerjakan pegiat kebudayaan akan semakin termotivasi manakala ada orang atau institusi yang mengapresiasi hasil pekerjaannya. Apresiasi kebudayaan sebagai cara memotivasi seseorang agar bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan karya-karya besar kebudayaan bukan saja dalam bentuk sertifikat tetapi juga perhatian dari berbagai pihak. Pihak pemerintah, misalnya, apresiasinya dalam bentuk legalitas berupa entah itu yang namanya undang-undang, peraturaan presiden, peraturan pemerintah, keputusan menteri, peraturan gubernur, atau peraturan daerah sekalipun. Selain itu, pemerintah perlu memfasilitasi aktivitas dan kreativitas pegiat kebudayaan. Masyarakat kita pun perlu memberikan apresiasi dengan cara menghargai hasil karya mereka meskipun dari segi kualitas,misalnya, lebih rendah dari produk-produk impor. Harus ada kebanggaan bagi masyarakat kita untuk menggunakan produk-produk bangsa dewek yang telah bersusah payah mewujudkan karya-karya mereka. Dengan cara demikian, kebudayaan bangsa kita akan semakin maju dan mampun bersaing di pentas dunia. Bukankah produk-produk budaya tradisional yang sampai saat ini masih terus hidup dan berkembang di negara ini menunjukkan bahwa bangsa kita pun di masa lalu merupakan bangsa pencipta dan pegiat kebudayaan yang tangguh?

***
Bangsa ini tidak boleh kendur dan berhenti untuk melakukan aktivitas apresiasi sosial dan budaya. Dinamika sosial dan budaya bangsa ini hanya bisa diwujudkan manakala semua anak bangsa mengapresiasi semua aktivitas sosial dan budaya. Tidak boleh ada kata jenuh untuk mengapresiasi nilai-nilai sosial dan budaya. Semoga bangsa ini semakin hari semakin baik dalam mengapresiasi nilai-nilai sosial dan budaya sehingga bangsa ini semakin terpandang di mata dunia. Wallahu a`lam bissawab.

Manusia sebagai Makhluk SosBud

Subagio S. Waluyo

Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon

WS Rendra

Inilah sajakku,
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
dengan kedua tangan kugendong di belakang,
dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman.
Aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing,
dan jalan-jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan.
Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
Aku meludah di atas tanah.
Aku berdiri di muka kantor polisi.
Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
Dan sebatang jalan panjang,
punuh debu,
penuh kucing-kucing liar,
penuh anak-anak berkudis,
penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari,
menyusuri jalan sejarah pembangunan,
yang kotor dan penuh penipuan.
Aku mendengar orang berkata :
Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.
Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
Mengatasi kemiskinan
meminta pengorbanan sedikit hak asasi
Astaga, tahi kerbo apa ini !
Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?

Di negeri ini hak asasi dikurangi,
justru untuk membela yang mapan dan kaya.
Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,
dibikin tak berdaya.
O, kepalsuan yang diberhalakan,
berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan.
Aku mendengar pengadilan sandiwara.
Aku mendengar warta berita.
Ada gerilya kota merajalela di Eropa.
Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
seorang yang gigih, melawan buruh,
telah diculik dan dibunuh,
oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan.
Kakiku ngilu,
dan rokok di mulutku padam lagi.
Aku melihat darah di langit.
Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.
Yang kuasa serba menekan.
Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
Bajingan dilawan secara bajingan.

Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
maka bajingan jalanan yang akan diadili.
Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?
Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?
Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?
Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?
Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala !
Singkat tapi menggetarkan hati !
Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana !
Kerna langit di badan yang tidak berhawa,
dan langit di luar dilabur bias senjakala,
maka nurani dibius tipudaya.

Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan.
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
Sebagai seorang manusia.

***

Judul tulisan ini semula berbunyi “Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Budaya”. Karena yang tergolong makhluk sosial dan budaya adalah manusia (makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan:binatang, tumbuhan, dan ,apalagi, setan tidak mungkin masuk ke dalam ke dua golongan tersebut), kata `manusia` pada judul itu dihilangkan saja. Supaya lebih ringkas, tidak bertele-tele, disingkat saja menjadi “Makhluk Sosial dan Budaya”, yang kemudian disingkat lagi biar lebih benar-benar singkat menjadi “Makhluk SosBud”. Tapi, jangan karena muncul makhluk sosbud ada orang yang iseng masukkan saja makhluk paspal (sekarang IPA salah satu jurusan di SMA). Makhluk paspal atau makhluk IPA itu tidak ada. Jadi, kita tidak perlu lagi beranalogi-analogian (nanti jadi tambah panjang urusannya). Meskipun disebut SosBud dalam tulisan ini tetap kita bagi dua bagian, yaitu bagian pertama dibahas terlebih dahulu makhluk sosial. Setelah itu, baru kita bahas makhluk budaya.

Sebagai makhluk sosial, manusia itu merupakan bagian dari masyarakat. Manusia juga harus menyadari bahwa dari dia lahir sampai dengan nanti dikubur di liang lahat dia tidak mungkin terlepas dari hubungannya dengan manusia lain. Jadi, manusia itu harus merasa dirinya merupakan bagian dari masyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat, manusia itu berpegang teguh pada dua kata, harus dan jangan. Manusia sebagai makhluk sosial sepuluh keharusan. (1) Mengatur dirinya sendiri sehingga tidak merepotkan orang lain atau bikin resah dan susah orang lain (orang di sekitar dia sebenarnya tidak banyak berharap dari dirinya). (2) Bisa berbuat baik pada kedua orang tua (kalau perlu sampai ke kakek-nenek, paman-bibi, adik-kakak, istri kedua,ketiga, keempat bapaknya, kalau memang bapaknya punya isteri lebih dari satu). (3). Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang seumur dan lebih muda darinya.(4). Bisa memberi manfaat buat orang lain dengan membiasakan diri membantu orang yang perlu bantuan (bantuan tidak perlu dalam bentuk materi, senyuman dan sapaan juga sudah cukup); (5). Bisa menempatkan dan menyesuaikan dirinya di manapun dia tinggal (egois, cuek bebek).(6). Memiliki toleransi dan kepeduliaan yang tinggi (kedua kata tersebut:toleransi dan kepedulian hampir-hampir hilang dari  masyarakat kita).  (7). Mentaati peraturan baik yang dibuat pemerintah atau masyarakat tempat tinggalnya (karena kalau tidak ditaati akan serba kacau hidup ini).(8). Berlaku jujur karena rusaknya negara ini lebih disebabkan oleh ketidakjujuran yang dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat (dari petinggi negara ini sampai orang-orang kecil). (9). Bisa memimpin dirinya dan orang lain (bisa mengajak, mengatur, dan membina orang di sekitarnya). (10) Punya niat untuk mewujudkan keluarga yang bahagia dunia dan akhirat (kalau bahasa agamanya sakinah, mawadah, wa rahmah).
Setelah benar-benar berpegang teguh dengan butir-butir keharusan di atas, selanjutnya sebagai makhluk sosial dia juga berpegang teguh dengan sepuluh kejanganan. Di antaranya seperti yang terurai berikut ini.
(1). Jangan tergantung pada orang lain sehingga tidak bisa bersikap mandiri, tidak aktif, dan tidak kreatif. (2) jangan melupakan pengorbanan dan kebaikan kedua orang tua (termasuk ke dalamnya kebaikan orang-orang di sekitar keluarganya). (3). Jangan bersikap kurang ajar pada orang yang lebih tua dan membenci/ memusuhi orang-orang yang lebih muda darinya. (4). Jangan mementingkan diri sendiri sehingga orang-orang di sekitar dia tidak merasakan keberadaannya. (5). Jangan hanya mengikuti maunya sendiri sehingga pada orang lain lebih banyak menuntut agar mau mengerti dan memaklumi dirinya;

(6). Asyik dengan dirinya sendiri sehingga tidak memiliki toleransi dan kepedulian. (7). Jangan terbiasa melanggar aturan karena berbagai kerusakan yang terjadi di negara ini lebih disebabkan oleh banyaknya pelanggaran (mau hidup tertiblah). (8). Jangan berbohong walaupun hanya sekali karena tidak mustahil dengan kebohongan yang pernah dilakukan akan berkelanjutan untuk melakukan kebohongan berikutnya. (9). Jangan hanya jadi pengikut karena semua manusia punya kesempatan untuk memiliki pengikut sehingga dia bisa mengajak,mengatur, dan orang-orang yang akan menjadi pengikutnya. (10). Jangan ada niat untuk jadi `jomblo` (perjaka tua, perawan tua, tanpa menikah, hidup sendiri tanpa berkeluarga).

Bagaimana agar kita tetap  konsisten berpegang teguh pada dua kata tersebut: harus dan jangan? Kita harus berangkat dari love atau cinta. Karena seperti yang telah dipaparkan di tulisan terdahulu, cinta adalah semangat, cinta adalah kepercayaan, dan cinta adalah energi baru yang tak dapat dimusnahkan (ucapan Mario Teguh). Dengan demikian, kita harus memulai sesuatu (niat) yang disertai dengan cinta.

***

Manusia sebagai makhluk budaya tidak terlepas dalam kehidupan sehari-harinya dengan unsur-unsur yang terdapat dalam kebudayaan. . Unsur-unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur,yaitu agama, bahasa,kesenian, sistem ilmu pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem organisasi kemasyarakatan, dan sistem teknologi dan peralatan (sarana, prasarana). Sebagai makhluk budaya yang harus ada pada setiap manusia adalah agama. Agama dimasukkan ke dalam salah satu unsur kebudayaan karena dalam tradisi keagamaan ada aktivitas yang dijalankan oleh masyarakat agama seperti tradisi upacara kematian (tahlilan) yang dilakukan oleh masyarakat di Jawa, yaitu tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, setiap tahun, dan seribu hari. Jadi, yang diambil adalah tradisi keagamaannya.
Sebagai makhluk budaya manusia membutuhkan bahasa. Bahasa mengalami perkembangan yang demikian pesat. Jumlah bahasa daerah di negara kita ini saja ada 746 bahasa daerah. Sementara itu jumlah bahasa dunia ada lebih dari 6900 bahasa. Bahasa Indonesia menempati posisi keempat sebagai penutur terbesar di dunia. Bahasa bukan saja banyaknya penutur, tetapi juga di setiap bahasa memiliki kosa kata yang berbeda. Terkadang ada juga di beberapa bahasa daerah di Indonesia, misalnya, ada kesamaan kosa kata tetapi juga ada  yang menunjukan kebalikannya. Karena setiap bahasa memiliki keunikan yang menarik untuk dikaji, bahasa layak dijadikan sebagai salah satu unsur kebudayaan.
Manusia dalam hidupnya tidak mungkin berlepas diri dari pemenuhan kebuthan rohani. Salah satu kebutuhan rohani (di samping tentunya beridabah pada Tuhan) adalah melalui apresiasi terhadap sebuah karya seni. Karya seni itu sendiri bisa berupa seni suara (musik), seni sastra (prosa dan puisi), seni tari, seni drama, seni lukis, seni pun, atau seni yang berhubungan dengan film (sinetografi). Karya seni dimasukkan dalam salah unsur kebudayaan karena dalam seni ada sistem, aturan, dan dibutuhkan talenta bagi penggiat karya seni itu sendiri. Selain itu, karya seni membutuhkan sebuah aktivitas apresiasi untuk bisa menikmati, menghargai, dan menilainya.

Ilmu pengetahuan semakin hari semakin pesat perkembangannya. Alat komunikasi seperti hand phone (HP), perkembangannya tidak bisa lagi dihitung tahun atau bulan, tetapi juga hari. Dalam waktu yang demikian cepat alat komunikasi seluler mengalami banyak perubahan, baik fitur maupun pemanfaatannya. Itu baru dalam komunikasi. Bagaimana pula dengan komputer, misalnya, atau alat transportasi? Lebih kurang perkembangannya hampir sama meskipun masih di bawah HP. Karena perkembangannya yang demikian pesat, ilmu pengetahuan mau tidak mau membutuhkan sistem, prosedur, dan (ini juga sangat urgen) etika. Untuk itu, sangat layak jika sistem ilmu pengetahuan yang menurut Einstein telah memberikan manfaat di masa damai, tapi jadi mudharat di masa perang, dimasukkan ke dalam salah satu unsur kebudayaan.

Sistem mata pencaharian manusia juga semakin beragam. Dulu kita hanya mengenal bahwa manusia purba hanya mengenal berburu. Sekarang mata pencaharian manusia bukan hanya berburu (berburu sebagai profesi mata pencaharian sudah semakin berkurang) tetapi juga mencakup berbagai bidang kehidupan manusia. Kita mengenalnya dalam dunia kerja dimasukkan ke dalam berbagai profesi. Ada orang yang berprofesi di bidang pertanian (petani, peternak). Ada orang yang berprofesi di bidang bisnis/perdagangan (pedagang, wirausahawan). Ada yang berprofesi di bidang jasa (guru/dosen, psikiater, psikolog, dokter,supir). Sesuai perkembangan sainstek, banyak orang yang bekerja cukup di rumah karena semua aktivitas usaha, baik di bidang bisnis perniagaan maupun jasa bisa dilakukan dengan menggunakan jasa internet. Karena begitu banyaknya bidang mata pencaharian manusia perlu dibuat regulasi. Di samping itu, dalam pengelolaan dunia usaha juga dibutuhkan seni/cara/sistem mengelola usaha sehingga dibutuhkan adanya semacam budaya kerja, budaya usaha, dan budaya organisasi. Untuk itu, termasuk ke dalam unsur kebudayaan di sini sistem mata pencaharian.

Manusia sejak lahir seperti disampaikan di atas sampai dengan nanti masuk ke liang lahat tidak terlepas hubungannya dengan sesama manusia. Agar terjadi ketertiban dalam hidup antar sesama manusia (dalam hal ini masyarakat) dibutuhkan adanya sistem atau aturan. Sebelum adanya aturan dibutuhkan adanya seorang pemimpin. Kepemimpinan yang solid akan terjadi jika didukung oleh anggota-anggotanya. Untuk itu, dibuatlah sebuah regulasi yang terangkum dalam organisasi. Di organisasi tersebut diatur apa saja yang menjadi kewenangan dan tugas seorang pemimpin, wakilnya, sekretarisnya, bendaharanya, dan seterusnya. Semua orang yang terdapat di organisasi tersebut harus mentaati aturan yang telah disusun bersama. Tidak boleh ada orang yang `mbalelo` atau menyimpang dari aturan. Orang yang melakukan penyimpangan harus diperingatkan. Jika berulang kali melakukan penyimpangan, orang tersebut layak dikeluarkan. Jika ada organisasi yang melakukan pembiaran terhadap pemimpin atau anggotanya yang menyimpang, sudah bisa dipastikan organisasi tersebut akan kolaps. Karena adanya sistem/aturan yang mengatur kehidupan bermasyarakat melalui organisasi, dan dalam berorganisasi juga ada seninya, sangat layak kalau sistem organisasi kemasyarakatan dimasukkan sebagai salah satu unsur kebudayaan.Sebagai unsur terakhir dalam kebudayaan adalah sistem teknologi dan peralatan (sarana, prasarana).

Manusia sebagai makhluk berbudaya sudah bisa dipastikan tidak terlepas dalam kehidupan sehari-harinya dengan teknologi dan sarana/prasarana lainnya. Saat ini manusia boleh dikatakan sudah sangat bergantung dengan teknologi. Boleh juga dikatakan sebagian manusia sudah menghambakan dirinya pada teknologi sehingga teknologi sudah dianggap Tuhan baru. Untuk menekan sikap hidup seperti itu perlu ada aturan sehingga manusia tidak terjerumus ke dalam jurang teknologi. Perkembangan teknologi berikut sarana-sarananya yang kerap digunakan manusia semakin hari semakin canggih. Boleh jadi ada sebagian umat manusia yang merasa terbelakang di dunia teknologi. Teknologi canggih hanya mungkin bisa dimiliki oleh orang-orang yang secara ekonomi tergolong mampu (punya uang berlebih). Perkembangan teknologi berikut sarana-sarananya membutuhkan regulasi karena tidak mustahil kemajuan teknologi akan memakan perilaku dan jiwa manusia sebagai pengguna dan penikmat teknologi. Agar tidak terjadi hal yang demikian diperlukan adanya aturan, sistem, dan budaya untuk mengatur dan mengendalikan perkembangan teknologi berikut sarana-sarananya. Oleh karena itu, sistem teknologi dan sarana/prasarana bisa dijadikan sebagai salah satu unsur kebudayaan. Dalam hal ini manusia baik yang tergolong penemu, penggiat, pembuat, pemakai, dan (kalau perlu) penikmat teknologi adalah manusia berkebudayaan jika menggunakan aturan, sistem, dan budaya teknologi dan sarana/prasarana.

***

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan demikian sempurna, manusia perlu menempatkan diri ke dalam dua sisi ini: makhluk sosial dan makhluk budaya. Dalam hal ini, manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk budaya. Kedua sisi ini saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin ada manusia yang mengaku dirinya makhluk sosial tapi tidak berbudaya karena dalam hidup bermasyarakat saja dibutuhkan adanya sistem, aturan, seni hidup yang semuanya terangkum sebagai unsur-unsur kebudayaan. Begitupun sebaliknya, tidak ada manusia yang mengaku berbudaya tapi menghindari dirinya dari makhluk sosial karena orang yang berbudaya mau tidak mau dalam hidupnya membutuhkan komunikasi, kasih sayang, dan jauh di relung-relung hatinya dia juga membutuhkan perhatian dari sesama manusia. Untuk memenuhi itu semua diperlukan adanya aturan, sistem, seni yang semuanya terangkum dalam keharusan yang ada hidup bermasyarakat. Jadi, hanya ada salah satu pilihan, manusia adalah makhluk sosial dan makhluk budaya titik! Kalau masih ada manusia yang telah hilang unsur sosial dan budayanya, dia telah berakhir sebagai manusia. Mungkin dia sudah layak masuk ke liang lahat atau mungkin dia telah mati sebelum mati. Wallahu a`lam bissawab.     

MENYOAL TENTANG CINTA KASIH

Subagio S. Waluyo

ALL YOU NEED IS LOVE

 

                             The Beatles

 

Love, love, love.

Love, love, love.

Love, love, love.

 

There’s nothing you can do that can’t be done.

Nothing you can sing that can’t be sung.

Nothing you can say but you can learn how to play the game.

It’s easy.

 

Nothing you can make that can’t be made.

No one you can save that can’t be saved.

Nothing you can do but you can learn how to be you in time.

It’s easy.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.

Love is all you need.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.

Love is all you need.

 

Nothing you can know that isn’t known.

Nothing you can see that isn’t shown.

Nowhere you can be that isn’t where you’re meant to be.

It’s easy.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.

Love is all you need.

 

All you need is love (all together, now!)

All you need is love. (everybody!)

All you need is love, love.

Love is all you need (love is all you need).

 

Yee-hai!

Oh yeah!

She loves you, yeah yeah yeah.

She loves you, yeah yeah yeah.

 

***

Sebelum kita membicarakan konsep cinta kasih yang kita kaitkan dengan yang terdapat pada karya sastra, ada baiknya kita simak potongan syair lagu berikut ini.

Rasa cinta pasti ada

Pada makhluk yang bernyawa

Sejak dulu sampai kini

Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya

Sampai datang akhir masa

Renungkanlah

 

Perasaan insan sama

Ingin nyinta dan dicinta

Bukan ciptaan manusia

Tapi takdir yang Kuasa

Janganlah Engkau mungkiri

Segala yang Tuhan beri

Renungkanlah

………………………………

Pernahkah kita mendengar potongan syair di atas?  Kalau kita pernah mendengarnya, apa yang dapat kita ambil hikmah dari potongan syair tersebut?  Kalau kita belum bisa mengambil hikmahnya, coba kita analisis potongan syair di atas.

Pada bait pertama si penyair menulis:

Rasa cinta pasti ada

Pada makhluk yang bernyawa

Sejak dulu sampai kini

Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya

Sampai datang akhir masa

Renungkanlah

Dari potongan bait pertama tersebut, penyair itu mengatakan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua makhluk.  Pernyataan tersebut memang tidak bisa kita tolak.  Artinya, penyair memang memberikan gambaran yang sebenarnya bahwa setiap makhluk pasti memiliki rasa cinta.  Jangankan manusia yang telah diberikan hati nurani, binatang pun dikaruniai rasa cinta.  Coba kita amati gambar berikut ini.

Burung pipit di atas itu membawa makanan. Untuk siapa makanan tersebut? Tentu saja untuk pasangannya (betina) atau anaknya. Mengapa ia membawa makanan tersebut dan tidak dimakannya sendiri? Kita bisa mengatakan bahwa ia membawa makanan tersebut (yang akan diberikan pada pasangannya atau anaknya) karena ia memiliki rasa cinta pada sesamanya.  Bukankah demikian? Jika hewan seperti itu saja memiliki rasa cinta, bagaimana kita makhluk Tuhan yang demikian sempurna ciptaannya?

Rasa cinta yang dimiliki semua makhluk ciptaan Tuhan juga tidak akan hilang. Ia akan tetap abadi pada kehidupan manusia. Ia baru akan hilang manakala telah berakhir masa kontrakannya di dunia alias berakhir masa hidupnya. Karena itu, cinta itu tak akan hilang begitu saja Jadi, meskipun ada manusia yang telah berlumpur noda dan dosa, di dalam relung hatinya yang paling dalam pasti masih ada rasa cinta.  Meskipun ia mengaku telah tidak memiliki lagi rasa cinta, ia pasti telah berbohong pada dirinya sendiri karena sebenarnya Tuhan telah memberikan rasa cinta kepada semua makhluknya.  Dengan demikian, kita tidak bisa lagi untuk  mengingkari bahwa rasa cinta memang ada pada diri kita semua.  Sekali lagi, rasa cinta tersebut baru akan hilang ketika Tuhan (melalui malaikat-Nya) telah mencabut nyawa kita.

Coba kita perhatikan bait puisi berikutnya:

Perasaan insan sama

Ingin cinta dan dicinta

Bukan ciptaan manusia

Tapi takdir yang Kuasa

Janganlah Engkau mungkiri

Segala yang Tuhan beri

Renungkanlah

………………………………

Kalau sesama manusia ada rasa cinta, maka layaklah ada rasa saling mencintai di antara sesama manusia. Perasaan demikian pada setiap makhluk Tuhan yang (bernyawa) pasti sama karena rasa tersebut memang bukan ciptaan manusia.  Ia merupakan takdir yang Kuasa, yang diberikan pada setiap insan.  Untuk itu, kita tidak bisa memungkirinya segala yang telah diberikan Tuhan termasuk ke dalamnya rasa cinta itu sendiri.

Berkaitan erat dengan uraian di atas, jika kita perhatikan karya-karya sastra, hampir semua karya sastra, apakah ia berupa prosa maupun puisi selalu berbicara tentang cinta.  Cinta yang dibicarakan juga beragam.  Karena cinta itu beragam, menurut Erich Fromm ada lima tipe cinta, yaitu:

1.   cinta persaudaraan;

2.   cinta keibuan;

3.   cinta erotis;

4.   cinta diri sendiri; dan

5.   cinta terhadap Allah

(Erich Fromm, 1990, 63 –103).

Dari kelima tipe cinta  tersebut, kita hanya membahas cinta persaudaraan dan cinta terhadap Allah.

***

1)      Cinta Persaudaraan

Seperti telah diuraikan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua insan sehingga ada rasa saling mencintai di antara sesama insan.  Rasa cinta juga dimiliki oleh seorang guru manakala berhadapan dengan murid-muridnya.  Boleh jadi cinta seorang guru pada para muridnya tidak mendapat respon.  Namun, meskipun sang murid tidak pernah membalas kasih sayang yang diberikan gurunya, sang guru tetap memberikan rasa cintanya.  Wujud cinta yang diberikan sang guru di antaranya seperti terlihat pada puisi berikut ini.

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA

                                                    Hartojo Andangdjaja

Apa yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu

sumber pengabdianku kepadamu

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku

kursi-kursi tua yang di sana

dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya

semua padamu akan bercerita

tentang hidupku di rumah tangga

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja

—–horison yang selalu baru bagiku—-

karena kutahu, anak-anakku

engkau terlalu muda

engkau terlalu bersih dari dosa

Untuk mengenal ini semua

Solo, 1955

Cinta yang diwujudkan Hartojo Andangdjaja melalui puisinya di atas adalah berupa pesan pada para muridnya.  Pesan tersebut tersirat pada bait pertama yang mengatakan bahwa ia tidak punya apa-apa kecuali sedikit ilmu yang lebih merupakan sumber ilmu pengetahuan.  Ilmu yang sedikit itu diberikan pada para muridnya karena semata-mata rasa cinta.

Di bait kedua tersirat bahwa hidupnya memang dicurahkan untuk murid-muridnya.  Sebagai bukti bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang tulus, makhluk Tuhan yang mengabdi untuk kepentingan umat manusia, ia tidak punya apa-apa.  Tidak punya apa-apa menunjukkan bahwa ia bekerja tidak semata-mata mencari keuntungan materi, tetapi ia bekerja untuk mencurahkan rasa kasih sayangnya pada sesama makhluk Tuhan, yaitu murid-muridnya.

Meskipun ia miskin, ia tidak mau bercerita tentang kemiskinannya.  Ia tidak sampai hati untuk mengeluhkan kemiskinannya, tentang kehidupannya di rumah tangga karena ia memandang murid-muridnya sebagai makhluk Tuhan yang masih terlampau hijau untuk mengenal sisi-sisi gelap kehidupan gurunya.  Di sisi lain, ia memandang murid-muridnya adalah generasi muda yang kehidupannya harus lebih baik daripada gurunya.  Oleh karena itu, ia tidak ingin murid-muridnya mengikuti jejak langkahnya. Salah satu cara agar murid-muridnya tidak mengikuti langkahnya, selayaknya ia tidak perlu bicara di depan kelas tentang kehidupan rumah tangganya.

Hartojo ingin menyampaikan pada kita semua, begitulah seharusnya kita selaku guru mencintai murid-muridnya. Kita tidak perlu mengeluh dengan menyampaikan pada anak didik kita tentang kehidupan kita yang terasa pahit karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.  Dengan mengeluh di hadapan anak didik akan menjadikan kita sebagai guru yang bekerja mengharapkan pamrih dari orang lain.Memang dengan menjadi guru seseorang telah menandatangani untuk siap hidup susah. Namun, di sisi-sisi lainnya sebenarnya seorang guru memiliki kekayaan cinta karena setiap hari, setiap saat ia memberikan cintanya kepada para muridnya, yaitu cinta persaudaraan.

***

2)  Cinta terhadap Allah

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ber-Tuhan.  Karena manusia makhluk yang ber-Tuhan (beragama maksudnya), tentu saja di dalam hati nuraninya yang bersih pasti mengakui adanya Yang Maha Esa, Maha Kuasa,  Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tuhan dengan sebutan kata `Maha` di depannya merupakan wujud pengakuan kita kepada Sang Khalik.  Pengakuan ini pun seharusnya diwujudkan sebagai landasan pada saat kita mencintai siapapun.  Artinya, kita harus menjadikan bahwa karena hanya Allah kita mencintai siapapun.

Cinta terhadap Allah harus menjadi landasan cinta manusia kepada siapapun. Entah cinta pada Nabi dan Rosul-Nya, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada makhluk-makhluk lainnya sesama ciptaan Tuhan.  Jika kita mencintai sesama kita karena Allah, kita akan terhindar dari hal-hal yang berbau syirik. Sebagai contoh, orang yang mencintai isterinya karena Allah akan terhindar dari cinta karena kecantikan, kecerdasan, keturunan, atau kekayaan karena semua itu akan musnah.  Yang abadi hanya keimanan.  Jadi, kita mencintai sesama kita (orang tua kita, isteri/suami kita, atau makhluk sesama ciptaan Tuhan) harus dilandasi iman (karena Allah semata).  Dengan kata lain, cinta yang dilandasi iman adalah cinta yang abadi.

Cinta yang abadi, yang datangnya karena Allah, akan menghasilkan kerinduan.  Kerinduan yang tidak bisa lagi dipendam.  Begitu indahnya gambaran kerinduan Ebiet G.Ade ketika melantunkan Hidupku Milikmu seperti terlihat pada  untaian lagu di bawah ini.

Hidupku Milikmu 

                              Ebiet G.Ade

Ketika aku mencari cahayaMu

Menerobos lewat celah dedaunan

Bersilangan semburatmu dalam kabut

Aku terpaku aku terpana

Aku turut didalam

Nyanyian burung-burung

Gemuruh didadaku

Sirna bersama keheningan rimba raya

 

Ketika aku mendengar suaraMu

Bergema diruang dalam jiwa

Mengalir sampai keujung jemari

Aku mengepal aku tengadah

Rindu yang aku simpan

Membawa aku terbang

Menjemput bayang-bayang

Senyap ditelan keheningan rimba raya

 

Apapun tlah aku coba

Dan tak henti bertanya

Setiap sudut setiap waktu

Tak surut ku mencari

 

Kemana

Dimana

Aku lepas dahaga

Kepada siapa

Aku rebah bersandar

Tak mungkin kubuang

Rindu semakin dalam bergayut

Hidupku memang milikMu

Hanya untukMu  

Bisakah dibayangkan kerinduan seperti apa yang dilantunkan Ebiet melalui bait-bait puisinya di atas. Di bait pertama saja kita akan terpesona oleh ungkapannya ketika di keheningan rimba raya menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang diungkapkan dengan kata-katanya “Ketika ku mencari cahayaMu/Menerobos lewat celah dedaunan/Bersilangan semburatMu dalam kabut/Aku terpaku aku terpana/Aku larut didalam/Nyanyian burung-burung/Gemuruh didadaku/Sirna bersama keheningan rimba raya”.  Hanya dengan melihat keindahan ciptaan-Nya di pagi hari kita tidak akan habis-habisnya mengungkapkan betapa indahnya ciptaan Tuhan.  Selain itu, suara-suara satwa di rimba raya, yang juga ciptaan-Nya, di pagi hari membuat dada ini bergemuruh yang tak habis-habisnya menyebut Maha Suci-Nya Allah.

Itu baru ciptaan Tuhan yang tertangkap oleh panca indera.  Bagaimana dengan ciptaan Tuhan yang tersirat, yang hanya muncul dalam dada kita?  Ebiet menggambarkan suara Tuhan yang didengarnya, yang bergema di jiwanya akan terasa sampai ke ujung jemari sehingga ia  mengepalkan jari jemarinya dan menengadahkan kepalanya, dan ia terlena terbawa mimpi.

Ketika aku mendengar suaraMu

Bergema diruang dalam jiwa

Mengalir sampai keujung jemari

Aku mengepal aku tengadah

Rindu yang aku simpan

Membawa aku terbang

Menjemput bayang bayang

Senyap ditelan keheningan rimba raya.

Mengingat kebesaran Tuhan lewat ciptaan-Nya menjadikan seseorang penasaran untuk mencari jawaban semua itu.  Ia akan berupaya mencari dan mencari untuk menemukan jawaban meskipun dalam pencariannya secara fisik ia tidak akan bertemu:

Apapun tlah aku coba

Dan tak henti bertanya

Setiap sudut setiap waktu

Tak surut ku mencari

Pencarian itu akan menimbulkan rasa haus, rasa dahaga karena cintanya pada Tuhan.  Manakala kerinduan itu sudah semakin memuncak kepada siapa ia akan mengadukan kerinduan itu?  Kerinduan itu sendiri tidak akan mungkin dibuang begitu saja karena ia sudah semakin menguat meski pada akhirnya ia merasa bahwa hidupnya hanya milik-Nya:

Kemana

Dimana

Aku lepas dahaga

Kepada siapa

Aku rebah bersandar

Tak mungkin kubuang

Rindu semakin dalam bergayut

Hidupku memang milikMu

Hanya untukMu

***

Begitulah gambaran orang yang benar-benar telah jatuh cinta pada Tuhannya.  Ia tak akan mungkin merasa ragu karena jalan hidupnya telah banyak memberikan jawaban bahwa hanya pada Tuhan ia melepaskan dahaganya. Hanya pada Tuhan ia bisa merebahkan dirinya di saat-saat ia telah lelah mencari nilai-nilai kehidupan.  Hanya kepada Tuhan pula ia melepaskan kerinduannya karena  kepada Sang Khalik ia bersumnpah: Hidupku memang milikMu/Hanya untukMu.

MENYOAL TENTANG KEINDAHAN

Subagio S. Waluyo

Kereta Berangkat Senja

Kurnia JR

Stasiun nampak sunyi karena bukan hari libur. Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama waktu. Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.  Tetapi langit justru lembayung – matahari masih membekaskan keremangan di ufuk. Angin berkesiur lewat jendela.  Kereta tak penuh.  Aku bisa menganjurkan kaki ke bangku di mukaku.  Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.

Gedung-gedung tampak sunyi di luar, terlebih-lebih ketika malam telah meliputi bumi.  Gelap.  Kereta sesekali berhenti untuk memberi kesempatan kereta dari arah yang berlawanan melintasi rel tunggal.  Pada saat-saat menanti seperti itu aku merasa ditindih beban berat di punggung.  “Let  it Be…”,  entah dari mana, The Beatles melantun ke hati. Tapi tak bisa!  Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram.  Keteduhan biara dan janji-janji pada Tuhan kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada.  Tahun-tahun berlalu tanpa membekaskan apa-apa.  Sakramen-sakramen dan doa-doa kudus mengering dari hatiku dan bibirku.  Pada kaca jendela kereta terlukis hantu lama dari lubuk hati; rumah Tuhan Yang Maha Agung tapi memerihkan hati.  Jiwa tandus, Tuhan – itulah sebagian dari kata-kata lama yang pernah terucap dalam kehidupanku dan kini tak ada lagi.  Aku menikah.

Keputusan itu telah menghancurkan seluruh rencana bagi riwayat hidupku sejak ayah memberiku nama.  Meskipun demikian, aku sama sekali tak merasakan bahwa kejadian tersebut cukup luar biasa.  Pada mulanya aku bimbang sesaat, memilih-milih, lalu memutuskan.  Namun, akibatnya sungguh di luar perkiraan.  Batinku dilanda perang besar menghadapi tuntutan pertanggungjawaban yang menekan.  Aku sama sekali tak menyangka, demi Tuhan, bahwa jauh di sudut hatiku yang gelap bersemayam sejenis persengkolan yang menciptakan huru-hara dalam batinku, yang memburuku menuntut  sumpah suci pada biara!

“Kau bertanggung jawab sepenuhnya pada diri dan kehidupanmu sendiri, Nak,” kata Guru. “Kau pula toh yang memikul segenap konsekuensi pilihanmu.”

Aku tak berkata apa-apa, begitu juga hatiku.  Lahir batin, aku membisu, tidak pula berpikir.  Tak menyanggah ataupun membenarkan kata-katanya.  Aku hanya menunduk seolah merenung, padahal kepalaku kosong, hampa.

Tahukah Anda bagaimana aku mengambil pilihanku? –ingin juga kukemukan kalimat itu padanya.  Tapi hatiku tak bergerak.  Guru yang tua itu agaknya menafsirkan kebungkamanku sebagai tanda selesainya pertemuan kami, entahlah.

Selanjutnya aku hidup damai dengan peristiwa-peristiwa biasa.  Merencanakan kehidupan bersama serta anak-anak, dan seterusnya.  Hari-hariku menjadi teratur dan jadwal ke-giatan bersiklus bulanan, tak lagi harian atau tahunan sebagaimana sebelumnya biasa kujalani. Biaya-biaya dianggarkan secara teratur dan pengeluaran pun harus selalu diperhitungkan.Tetapi aku menerimanya sebagai sesuatu yang wajar dan semestinya.Semuanya kujalani tanpa kejutan atau luka, sampai Tuhan menegurku dengan cara-Nya sendiri pada suatu saat: suatu kecelakaan dan rumah tanggaku hancur.

…………………………………………………………………………………………

***

Kesan apa yang timbul setelah kita membaca potongan cerita pendek (cerpen) di atas?  Apakah ada nilai-nilai estetikanya? Untuk pertanyaan kedua ini kita bisa secara pasti mengatakan: ada!  Untuk itu, mari kita telaah kata-kata dan kalimat-kalimat yang menunjukkan adanya nilai-nilai estetika pada potongan cerpen tersebut.

Potongan cerpen tersebut sebagaimana dikomentari oleh Korrie Layun Rampan, ketika diminta komentarnya tentang cerpen tersebut, sebagai cerpen yang lebih berupa cerpen esei daripada cerpen dalam arti konvensional, yaitu cerpen yang lebih cenderung berkisah.  Untuk menelaah cerpen yang cenderung berkisah dibutuhkan ketajaman imajinasi kita.  Di samping itu, juga diperlukan pemahaman filsafat yang mendalam.  Tentu saja, sebagai pelengkap, kita perlu pandai-pandai menangkap bahasa simbolik yang terkandung pada setiap kata, frase, atau kalimat.

Pada paragraf pertama saja kita dapati ada empat buah kalimat yang menunjukkan kepiawaian penulis cerpen dalam mengungkapkan kalimat-kalimat yang memerlukan kerutan dahi seperti terlihat pada contoh berikut ini.

1) Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama waktu.         

2) Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.

3) Tetapi langit justru lembayung –  matahari masih membekaskan keremangan di ufuk.

4) Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.

Pada keempat kalimat di atas, terutama pada bagian-bagian kalimat yang bergaris bawah, penulis menggunakan bentuk personifikasi yang terasa enak untuk dinikmati.  Coba saja kita uraikan, pada butir 1) penulis menggambarkan kereta api berjalan demikian perlahan karena baru saja berangkat dari sebuah stasiun.  Jalannya kereta api yang demikian perlahan itu seirama dengan berlalu-nya kenangan demi kenangan yang terlintas di benak penulis.  Kemudian pada butir 2) penulis mengharapkan suasana yang demikian sepi itu selayaknya disertai dengan gerimis atau cuaca murung (cuaca gelap manakala gerimis), ternyata pada butir 3) justru sebaliknya, matahari masih bersinar meskipun sinar itu telah meredup sehingga masih tersisa keremangan di ufuk barat.  Di penghujung akhir paragraf pertama ini penulis seperti yang terlihat pada butir 4) sekali lagi mengungkapkan betapa suara-suara roda-roda yang bergerak di atas kereta api itu diibaratkan sesuatu yang membuat pilu hatinya selama ini.

Penulis cerpen tersebut telah berhasil melakukan prolog melalui paragraf pembuka yang ditampilkan dengan kalimat-kalimat yang penuh dengan simbol bahasa.  Ia telah berhasil mengajak kita berimajinasi atau membayangkan yang dirasakan penulisnya.  Sejak awal kita diajak penulis cerpen untuk membayang- kan stasiun yang sunyi, kereta yang bergerak perlahan, cuaca yang menjelang sore hari, kereta api yang kosong, dan bunyi derit roda kereta api yang seolah-olah menyayat hatinya.  Suasana yang ditampilkan adalah suasana kesunyian sebagaimana juga terlihat pada paragraf kedua (yang juga merupakan paragraf pembuka).  Ia masih menampilkan gedung-gedung di sekitarnya yang tampak sunyi karena sudah tidak ada lagi aktivitas di gedung-gedung itu.  Kereta yang sesekali berhenti di stasiun kecil, karena harus menunggu kereta api yang lewat dari arah yang berlawanan, memberikan beban berat bagi si Aku akibat begitu banyaknya kenangan pahit yang tidak bisa dihilangkan, yang mengakibatkan ia tidak memperoleh ketenangan.

Tapi tak bisa! Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram.

Ia bukan saja merasa tidak tenang, tetapi juga mulai tidak percaya pada agamanya karena … Keteduhan biara dan janji-janji Tuhan kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada…. sehingga wajar-wajar saja kalau tempat ibadahnya selama ini, yang digambarkan sebagai rumah Tuhan, seperti …hantu lama dari lubuk hati …. Dengan demikian, si Aku merasa jiwanya tandus.  Sebagai salah satu solusinya, dalam rangka menghadapi kemelut tersebut, ia memutuskan untuk menikah.

***

Padamu Jua

                    Amir Hamzah

Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai pulang perlahan

Sabar setia selalu

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu – bukan giliranku

Mati hari – bukan kawanku …

                             (Nyanyi Sunyi, 1959:5)

Puisi di atas menggambarkan betapa manusia pada akhirnya harus kembali kepada Tuhannya karena hanya Tuhan yang memberi kedamaian dan kebahagiaan. Manusia yang mencari selain Tuhan ia tidak akan memperoleh cahaya.  Dengan kata lain, ia akan memperoleh kegelapan seperti orang buta yang meraba-raba mencari benda-benda di sekitarnya.  Karena itu, cahaya Tuhan demikian berharga buat manusia dia diibaratkan sebagai:

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Jadi, cahaya Tuhanlah yang  membuat manusia rindu untuk kembali kepada-Nya.

Sebuah pengakuan memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk menyatakan kelemahannya.  Namun, manusia yang ingin menyampaikan pengakuannya tidak bisa langsung berjumpa dengan Tuhan meskipun pada akhirnya ia akan rindu ingin bertemu dengan Tuhan. Ia rindu akan rasa dan rupa Tuhan.  Kerinduan ini sebenarnya merupakan hal yang wajar saja seperti Nabi Musa yang dituntut oleh umatnya (bangsa Yahudi) agar dipertemukan dengan Tuhannya.  Manusia merindukan Tuhan dalam bentuk aslinya karena Tuhan memang tidak akan memperlihatkannya pada manusia.  Kalau Ia menampakkan-nya berarti Tuhan memiliki sifat-sifat kelemahan.  Untuk itu cukup dengan firman-firman-Nya yang wajib diimani oleh manusia.  Biar saja manusia merasa rindu akan rasa dan rupa Tuhan.  Kalau ia ingin berdialog dengan Tuhannya, cukup dengan berdialog lewat firman-firman-Nya:

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

 

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati

Apakah dengan demikian Tuhan memiliki kecemburuan pada manusia karena Tuhan seolah-olah merahasiakan keberadaannya?  Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, sama saja Tuhan itu manusia.  Kalau Tuhan sama dengan manusia, berarti Tuhan juga punya banyak kelemahan.  Mustahil kalau Tuhan yang Maha segala-galanya memiliki kelemahan.  Untuk itu, kita tidak bisa menerima bait berikut ini.

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas

Kita tidak bisa menerima kalau Tuhan dipersonifikasikan sedemikian rupa karena mana mungkin Tuhan punya sifat cemburu? Kalau Tuhan cemburu, berarti Tuhan juga memiliki sifat iri/dengki.  Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, apakah tidak mustahil tidak ada bedanya Tuhan dengan manusia? Apakah Tuhan juga ganas?  Kalau Tuhan ganas, perlu kita pertanyakan: di mana sifat rahman dan rahim-Nya? Seandainya, ada orang yang mengatakan bahwa ia orang yang paling menderita karena hukuman Tuhan, perlu dipertanyakan bukankah sebaliknya bahwa bencana apapun yang diderita manusia lebih merupakan pekerjaan manusia juga? Rusaknya alam sekitar kita (lingkungan hidup) bukankah karena ulah manusia?  Kalau memang itu semua merupakan ulah manusia, mengapa Tuhan disalahkan sehingga dengan demikian mudah mengatakan bahwa Tuhan itu ganas seperti yang tercantum pada bait puisi di atas?

Kita juga tidak bisa menerima kalau Tuhan seperti seekor kucing yang mempermainkan buruannya. Pada bait puisi di atas misalnya tertulis di sana Mangsa aku dalam cakarmu/Bertukar tangkap dengan lepas.  Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa Tuhan mempermainkan manusia, yang karena cemburu dan ganasnya, menjadikan manusia sebagai buruan yang demikian mudah untuk dipermainkan.  Sekali lagi, ini merupakan salah satu kelemahan Amir Hamzah selaku penulis puisi yang membuat permisalan seperti itu. Selain itu, kita juga menemukan pada bait berikut yang menunjukkan kelemahan Tuhan.

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai

Kelemahan Tuhan tercermin dari baris terakhir, yaitu Serupa dara di balik tirai yang artinya Tuhan dipersonifikasikan sebagai manusia yang mengintip-intip pekerjaan manusia.  Mengapa Tuhan harus berperilaku demikian?  Bukankah Ia Maha Melihat dan Maha Mendengar?  Kalau Ia harus mengintip-intip untuk mengetahui apa saja yang dilakukan manusia, berarti Ia memiliki kelemahan.  Atau pekerjaan mengintip itu merupakan kompensasi dari cemburunya Tuhan melihat perilaku hamba-Nya sebagaimana tercantum pada bait sebelumnya?  Kalau itu yang terjadi, jelas kita tidak bisa menerimanya karena Tuhan mustahil punya sifat cemburu.  Dengan demikian, dua bait pada puisi tersebut harus kita kritisi karena Tuhan tidak bisa dipersonifikasikan seperti itu.

Bait terakhir pada puisi “Padamu Jua”  yang berbunyi:

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu – bukan giliranku

Mati hari – bukan kawanku

mengingatkan kita pada puisi Chairil Anwar yang pernah kita kutip pada Bab I (Pendahuluan), yaitu: 

 

Tuhanku

di pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

(DOA)

yang mengisyaratkan bahwa manusia pada akhirnya memang harus kembali pada Tuhannya. Ia harus kembali kepada Tuhannya karena hasil pengembaraan- nya selama ini tidak banyak membawa hasil.  Di sisi lain, manusia memang bisa memperoleh apa saja yang ia inginkan di dunia ini yang semata-mata untuk memuaskan batinnya.  Tetapi, pada akhirnya ia mengalami kesunyian hidup. Baik, Amir Hamzah maupun Chairil Anwar, bahkan semua manusia, sepakat bahwa kesunyian hidup ini hanya bisa diisi dengan mengembalikan semua itu pada Tuhan.  Ini merupakan salah satu bukti betapa manusia sangat bergantung pada Tuhan di manapun ia berada.

***

Secara keseluruhan puisi tersebut mencerminkan betapa indahnya ide/konsep yang ingin disampaikan Amir Hamzah meskipun di sana-sini kita masih banyak melihat betapa lemahnya penyair menggambarkan sifat-sifat Tuhan. Penyair ingin menyampaikan bahwa (1) manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan biar bagaimanapun memerlukan kehadiran Tuhan dan (2) manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab di manapun manusia itu berada pada akhirnya ia akan kembali pada Tuhan.

MENYOAL TENTANG TANGGUNG JAWAB

Subagio S. Waluyo

Kadis terkejut ketika bertemu dengan gurunya, Kyai Dofir, karena sang guru tampaknya berpihak pada sikap istrinya. Dia diancam Kyai Dofir untuk tidak boleh lagi ikut pengajiannya. Sang  Kyai memandang bahwa pelajaran-pelajarannya yang selama ini diberikan tidak diamalkan oleh muridnya, Kadis. Selain itu, sang guru juga mengingatkan bahwa tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah. Lebih baik memperoleh sedikit rezeki dari hasil kerja keras darpada meminta-minta dengan dalih silaturahim. Meskipun  berupaya mengelak, mau tidak mau Kadis harus menerima putusan sang guru.

“Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya. “Kau aku larang untuk  mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Humam atau Kyai Sobron.”

“ Tapi apa salah saya, Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika merasa menyesal, karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melangking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, suapaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak istrimu.”

“Tapi, Kyai, selama ini saya selalu memberi nafkah ………”

“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras,”tapi nafkah itu kan kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”

Kadis mengangguk.

(Cerpen “Kadis”/Mohammad Diponegoro)

***

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia merupakan makhluk yang bertanggung jawab.  Manusia bukan saja bertanggung jawab kepada Tuhan, tetapi juga kepada agama, negara, bangsa, sesama umat manusia, orang tua, anak, dan kepada diri sendiri.  Dengan adanya tanggung jawab, manusia di hari Akhir nanti diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Bahkan, secara jujur saja manusia yang masih memiliki hati nurani yang bersih pasti akan mau menyampaikan pertanggungjawabannya kepada sesama manusia. Jadi, manusia tidak mungkin bisa mengingkari adanya kewajiban tersebut.  Untuk memahami konsep tanggung jawab, di bawah ini ada sebuah teks cerpen yang ditulis oleh Seno Gumira Aji Darma.

TELEPON DARI ACEH

Seno Gumira Aji Darma

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang luput dari pengawasan Indonesia Corruption Watch duduk menghadapi meja makan. Di sana ia mengumpulkan istri dan anak-anak-nya, dan sambil makan mulai bicara.

“Bapak sungguh-sungguh bersyukur, sampai hari ini bapak masih selamat.  Barangkali memang tidak mungkin menyapu seluruh koruptor yang ada di Indonesia.  Koruptor nomor satu atau nomor dua  memang tinggal ditunjuk, karena kekayaannya yang tidak bisa disembunyikan, meski juga tidak bisa dijadikan bukti, tetapi bagaimana dengan koruptor nomor dua ratus atau tiga ratus?  Sedang bapak saja, yang bisa korupsi sekitar Rp200 milyar, rangking-nya cuma nomor 11.217.  Pasti susah `kan, mencabut yang nomor 11.217 dari ratusan ribu koruptor?  Jadi, barangkali untuk sementara kalian bisa tenang.  Masih banyak koruptor kelas kakap yang hasil korupsinya tidak masuk akal, karena memang tidak terhitung.  Bapak ini masih kelas teri, cuma Rp200 milyar.  Masih bisa dihitung.  Tenang sajalah.  Lagi pula bisa sekolah di luar negeri, bisa punya rumah mewah, mobilnya tidak cuma satu, dan punya tabungan yang bunganya cukup untuk hidup sambil ongkang-ongkang kaki.  Ya nggak?  Bapak ini jelek-jelek tidak korupsi untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga.  Demi kehormatan, kebesaran, dan keselamatan keluarga.  Makanya kalian semua sekolah yang benar.  Selesaikan pendidikan dengan sekolah di luar negeri, mumpung masyarakat Indonesia masih silau dengan gelar-gelar dari luar negeri.  Perkara ijazahnya bisa beli, ya beli sajalah, untuk apa capai-capai ber-pikir?  Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya memutihkan tabungan, bagaimana caranya menghindar kalau disidik, dan cari orang-orang yang bersedia melindungi kita.  Bayar saja sedikit.  Kasih perempuan.  Lantas diperas.  Mereka tidak mungkin bicara.  Uanglah yang akan bicara.  Bagi rata kekayaan antara kita semua, jangan rebutan.  Itu sumber perkara.  Hati-hatidengan kekuasaan.

Jangan silau dengan politik. Itu hanya akan membuat kamu jadi singa.  Biasanya singa akan mati diterkam singa lain.  Lebih baik kamu jadi tikus seperti bapak. Tidak usah hebat-hebat  punya nama besar, pokoknya korupsi jalan terus.  Kalau kalian punya jabatan di pemerintahan, meskipun tidak tinggi, kalau punya otak korupsi, bisa menjalan-kan korupsi dengan sistematis.  Tidak usah banyak-banyak.  Nanti terlalu kentara.  Yang penting secara sistematis jalan terus.  Seperti Bapak sekarang, menjelang pensiun sudah korupsi sampai Rp200 milyar.  Yah, memang tidak trilyun-trilyunan, tetapi kita tidak usah terlalu rakus.  Kasihan rakyat kecil.  Kalau semua koruptor korupsinya sampai trilyun-trilyunan, nanti rakyat kecil makan apa?  Jangan-jangan sebutir beras pun tidak kebagian. Korupsi itu secukupnya sajalah.  Asal cukup untuk istri dan anak-cucu.  Nanti cucu-cucu  kaliah tidak usah korupsi lagi, karena sudah punya modal untuk berdagang seperti orang baik-baik.  Meskipun modalnya hasil korupsi, tetapi generasi penerus kita bisa menjadi orang suci.  Mereka tidak salah,`kan bukan mereka yang korupsi, tetapi bapak.  Biarlah bapak menjadi tumbal, biarlah bapak menanggung dosa dan masuk neraka, yang penting anak cucu bapak menjadi orang-orang yang mulia.”

………………………………………………………………………………………

Setelah kita melihat teks di atas, apakah kita bisa mengatakan tokoh bapak di atas adalah benar-benar bapak yang bertanggung jawab?  Kepada keluarga ia memang benar-benar bertanggung jawab (demikian bertanggungjawabnya ia siap menjadi tumbal api neraka) karena sampai anak cucu pun telah dijamin kebutuhan materinya.  Tetapi, bagaimana tanggung jawabnya pada negara, pada bangsa, pada umat manusia (sesama anak bangsa), atau pada Tuhan?  Tokoh bapak di atas jelas tidak mempunyai tanggung jawab kepada selain keluarganya.  Bahkan, ia termasuk yang memiliki saham  menghancurkan negara ini.  Karena perbuatan buruknya (korupsi), menjadikan negara ini banyak hutangnya.  Karena perbuatan buruknya pula, terjadi ketimpangan ekonomi yang berakibat pada rusaknya tatanan sosial negeri ini. Jadi,kalau negara ini dikatakan telah tidak berbentuk lagi (bentuk remuk), boleh jadi disebabkan merajalelanya korupsi, penegakan hukum yang tidak adil, berkuasanya kalangan penguasa dan konglomerat, dan berbagai macam bentuk penyimpangan lainnya.

Apakah cukup dirinya saja menjadi tumbal dan siap disiksa api neraka sementara keturunannya dinilai sebagai orang-orang suci?  Pernyataan sang bapak kepada anak-anaknya mencerminkan kedangkalan cara berpikirnya. Coba, kita renungkan dengan mengajukan pertanyaan: apakah yang diberikan kepada anak dan cucunya itu semuanya halal?  Kita mengatakan tidak halal alias haram.  Pertanyaan berikutnya, jika yang diberikan pada mereka (anak cucunya) sesuatu yang haram, apakah anak cucunya kelak menjadi orang-orang suci?  Jawabannya: bagaimana mungkin orang-orang yang suci (bersih) dibentuk dengan memberikan sesuatu yang haram karena sesuatu yang haram yang telah masuk ke tubuhnya mau tidak mau akan membentuk perilakunya.  Singkatnya, untuk menjadi orang-orang suci (sholeh, bersih) harus diisi oleh yang bersih pula.

Hal lain yang cukup menarik dari teks tersebut jika dikaitkan dengan pandangan hidup, dari ucapan sang bapak ada terkesan gejala hidup yang mau enaknya sendiri, menggampangkan segala hal, dan memperoleh kenikmatan dengan cara tidak perlu bersusah payah (hedonis).  Pandangan hidup yang dianut sang bapak jelas merupakan pandangan hidup manusia yang tidak bertanggung jawab.  Karena tidak memiliki tanggung jawab, ia melakukan segala macam cara sebagaimana terlihat pada teks di atas seperti “ (1) Perkara ijazahnya  bisa beli, ya beli sajalah …. (2) Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kekayaan hasil korupsi bapak. (3) Pikirkan bagaiamana caranya memutihkan tabungan, (4) bagaimana caranya menghindar kalau disidik, dan (5) cari orang yang bersedia melindungi kita. (6) Bayar saja sedikit. (7) Kasih perempuan. (8) Lantas diperas….(9) Bagi rata kekayaan antara kita semua, jangan rebutan… (10) Hati-hati dengan kekuasaan. (11) Jangan silau dengan politik…(12) Tidak usah hebat-hebat punya nama besar, pokoknya korupsi jalan terus. (13) Kalau kalian punya jabatan di pemerintahan, meskipun tidak tinggi, kalau punya otak korupsi, bisa menjalankan korupsi dengan sistematis….. (14) Korupsi itu secukupnya sajalah. (15) Nanti cucu-cucu kalian tidak usah korupsi lagi, karena sudah punya modal untuk berdagang seperti orang baik-baik.  (16) Meskipun modalnya hasil korupsi, tetapi generasi penerus kita bisa menjadi orang suci.…(17) Biarlah bapak menjadi tumbal, biarlah bapak menanggung dosa dan masuk neraka…..”

***

Tampaknya, kita perlu mencari sebuah contoh (prosa/puisi) yang benar-benar mencerminkan sebuah tanggung jawab yang sebenarnya.  Potongan kisah (cerpen) berikut ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kita.

Saimah.  Hujan pertama kali turun menyapu pelataran pabrik, tubuhnya kuyup berlari histeri diseret lelaki bersarung:”Cepat, Saimah! Anakmu…”

“Katakan Adun, kenapan anakku!” Saimah menghardik, seluruh syaraf-syaraf otaknya mamapat, “Katakan Adun!!”

“Zainab, aku melihat mereka menyeretnya ke arah belakang.  Tiga orang bersenjata.  Kau tahu, aku tidak mungkin melawannya.  Hanya kau…” Adun menyentak, “Ke sini jangan berteriak.”

Kelebat bayangan lima serdadu berwajah kekar memanggul karaben di pintu gerbang.  Lamat suara tembakan sesekali terdengar dari jauh.  Adun mengeratkan tangan Saimah dan melangkah merunduk diantara semak.  Menuju batas pagar:”Kau larilah cepat ke arah sana.  Ada pintu yang tak terkunci.  Sekali lagi, hanya kau yang bisa menolong Zainab, Saimah. Jangan sampai mereka tahu kalau aku menunggu di sini. Ingat, mereka tidak akan menembak perempuan.Dan rapatkan mulutmu kalau kau tertangkap.Semoga tidak terlambat.”

Naluri ibu yang kalap.  Saimah memandang angkasa, mengeratkan mulut berdoa.  Allah!  Langit  mengguruhkan suara petir yang runcing, membiaskan cahaya berkerlap.  Ia lari. Menantang angin yang tiba-tiba bertiup menggugurkan daun-daun. Dan itulah!  Radius jarak 200 meter ia mendengar teriak suara parau perempuan yang terhina.  Zainab!  Ia melompat dan bergemuruh, menabrak pintu dan…

“Masya Allah.  Kalian perkosa anakku?!  Iblis laknat…” Saimah meraung.  Jeritan keras menembus lapisan langit.  Tubuhnya melayang melompat dan menerkam tiga bayangan hitam yang mendadak terjengat, tak menyangka:”Hei,hei, tahan dia Sersan! Sial…”

Tapi Tuhan tak memiliki kemustahilan.  Ratusan tahun Negeri Serambi telah melahirkan keperkasaan perempuan yang bergerak di hutan-hutan.  Ketika senapan dikokang, selarik cahaya petir tiba menyambar; sedetik mata kopral terpejam, sedetik kemudian tangan Saimah melayang merebut senapan.  Teramat cepat.  Lalu rentetan tembakan menggelegar, mencabik-cabik keputusasaan Saimah.  Dan angin mendesau-desau di luar pagar.  Dan raung tenggorokan yang sekarat menggelepar dibasuh hujan. Amis darah. Lalu hening.  Saimah gemetar suara senapan berkelotrak jatuh: ia memaku.  Lentikan mata di luar kesadaran, wajah yang mengeras, lalu dengan tiba-tiba pula ia menangis.  Memeluk Zainab, anak gadis bau kencur yang belum saatnya dipetik; tapi dirobek paksa dan begitu amat terhina:”Kau…apa yang telah mereka lakukan ter-hadapmu, anakku, ya Allah …”

“Pasukan gerilyawan Sabil.  Mereka memaksaku untuk mengatakannya.  Salahkah kalau aku memilih mati, ibu?  Tapi alat negara tidak memilih itu.  Mereka memperkosaku.  Mereke hanya perlu unttuk menghina negeri ini.  Allah…Allah…Allah telah begini kotor.”

“Tidak.  Engkau tetap suci.  Bidadariku.  Diamlah, ssst…”

(“Bulan Sabit”, hlm. 182 – 184)

Sebelum kita menyimpulkan bahwa potongan kisah di atas diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kita tentang konsep tanggung jawab yang sebenarnya,  adakah kesamaan naluri `Sang Bapak` pada “Telepon dari Aceh” dengan `Sang Ibu` pada “Bulan Sabit” ?

Keduanya jelas menunjukkan adanya kesamaan naluri kemanusiaan.  Baik pada `Sang Bapak` maupun `Sang Ibu` kedua-duanya berkeinginan menolong  anak-anaknya atau keturunannya agar mereka tidak sia-sia hidupnya (mati sengsara). Tetapi, ada hal yang berbeda.  Jika `Sang Bapak` menolong anaknya dengan cara-cara yang tidak benar (melalui praktek-praktek KKN walaupun peringkatnya ke-11.217), tidak demikian halnya dengan `Sang Ibu`.  Dalam hal ini seandainya ada pengorbanan adalah pengorbanan yang mengarah pada hal-hal yang negatif, yaitu penyalahgunaan jabatan yang merugikan orang lain.  Pada `Sang Ibu` tidak demikian. Di sini  `Sang Ibu` menolong anaknya dengan pengorbanan nyawa.  Demi anaknya ia harus melakukan `sesuatu`  (tentu saja sangat terhormat), antara membunuh dan terbunuh.  Seandainya, ia membunuh pun tidak ada dosa karena ia dalam posisi terjepit.  Begitupun kalau terbunuh, dalam agama ia terhitung mati syahid karena membela keturunannya dari cengkeraman musuh merupakan ibadah.

Dilihat dari sisi manapun `sang ibu` yang membela mati-matian anak putrinya dari cengkeraman manusia berhati binatang  merupakan tanggung jawab yang mulia.  Sedangkan `sang bapak` yang demi menjaga keturunannya dan kehormatannya terpaksa melakukan korupsi merupakan tanggung jawab yang dilumuri kehinaaan. Boleh juga, kalau bisa dikatakan, tanggung jawab yang tidak mulia atau tanggung jawab yang dinodai oleh kehinaan.  Sebagai penutup coba kita renungkan tulisan sang anak yang kecewa dengan perilaku sang bapak yang korup yang dikutip dari Potret Pembangunan dalam Puisi/WS Rendra,1993:60—61.

Ayah berkata: “Santai, santai!”

tetapi sebenarnya ayah hanyut

dibawa arus jorok keadaan.

Ayah hanya punya kelas,

tetapi tidak punya kehormatan.

Kenapa ayah berhak mendapat kemewahan yang sekarang

ayah miliki ini?

Hasil dari bekerja?  Bekerja apa?

Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi?

Seorang petani lebih produktif daripada yah.

 

Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.

Ayah hanya bisa membuat peraturan.

Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan

rakyat dari penguasa

Ayah tidak produktif  melainkan destruktip.

Namun toh ayah mendapat gaji yang besar!

Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan?

Tidak pernah, bukan?

Terlalu berisiko, bukan?

Apakah aku harus mencontoh ayah?

Sikap hidup ayah adalah pendidikan bagi jiwaku.

……………………………………………………….

MENYOAL TENTANG PENGABDIAN

Subagio S. Waluyo

Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya

Hartojo Andangdjaja

 

Apa yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu

sumber pengabdianku kepadamu

 

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku

kursi-kursi tua yang di sana

dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya

semua padamu akan bercerita

tentang hidupku di rumah tangga

 

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja

—–horison yang selalu baru bagiku—-

karena kutahu, anak-anakku

engkau terlalu muda

engkau terlalu bersih dari dosa

Untuk mengenal ini semua

 

(Solo, 1955)

***

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.  Tetapi, manusia juga bisa menjadi makhluk Tuhan yang paling buruk kedudukannya (bisa lebih buruk daripada binatang ternak).  Agar manusia bisa mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya, ia harus menyembah (bisa juga diartikan sebagai mengabdi) yang menciptakannya, yaitu Tuhan.  Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk pengabdi (maksudnya yang mengabdi kepada Tuhan).  Sampai sejauhmana kuatnya pengabdian manusia kepada Sang Khalik, coba kita amati puisi di bawah ini.

KAUM MUSLIM DI BOSNIA

 

Piek Ardijanto Soeprijadi

Sampai kini kami

tetap membentangkan sajadah

berkiblat ke ka`bah

selalu bertakbir

selalu berdzikir

rajin merangkai tasbih

berusaha jadi orang salih

 

meski bangunan roboh

suami  kami dibunuh

istri kami disiksa

gadis kami diperkosa

meruap haus lapar

penyakit menjalar

selama nadi berdenyut

satu tak bisa hanyut

iman kami tetap pijar

meski hidup begini getir

 

kaulihatkah keadaan kami

kaudengarkah berita duka kami

kaubayangkankah derita kami

terketukkah pintu hati kalian

semoga kami tabah dalam cobaan

semoga kami lulus dalam ujian

sampai kini kami tetap

membentangkan sajadah

berkiblat ke Ka`bah

selalu bertakbir

selalu berdzikir

rajin merangkai tasbih

berusaha jadi orang salih.

(1992)

Manusia yang benar-benar beriman kepada Tuhan-nya meskipun ditimpa musibah bertubi-tubi (seperti kejadian yang menimpa Muslim Bosnia) ia akan tetap menyembah-Nya.  Kaum Muslimin Bosnia di awal tahun `90-an merupakan masyarakat minoritas di Yugoslavia (sebelum pada akhirnya Bosnia melepaskan diri dari Yugoslavia) dan juga di Eropa yang sebagian besar non-Muslim.  Entah mengapa masyarakat minoritas itu yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat non-Muslim dimusuhi dan diperangi sehingga terjadi kejadian yang memilukan bagi bangsa tersebut. Kita mengatakan sebagai kejadian yang memilukan karena pada saat akan memasuki abad XXI terjadi genocide atau pembersihan etnis di negara bagian Yugoslavia tersebut.

Dalam kejadian di Bosnia, mereka yang memerangi masyarakat Muslim Bosnia telah berlaku sangat kejam.  Mereka bukan saja membunuh kaum laki-laki, tetapi juga memerkosa gadis-gadis dan wanita-wanitanya, membunuh anak dan kaum wanita yang lemah.  Bahkan, wanita-wanita yang sedang hamil pun diambil bayinya dan dipanggang di kompor yang sedang menyala-nyala.  Ini merupakan peristiwa besar yang tidak manusiawi.  Peristiwa tersebut oleh para penyair Muslim di Indonesia (sebanyak 34 penyair) direkam dan diabadikan ke dalam sebuah kumpulan puisi dengan judul Baca Puisi Solidaritas Bosnia Kita yang pada tanggal 16 November 1992 dibacakan di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki.  Acara tersebut dihadiri oleh ribuan penonton yang ingin menyaksikan pembacaan puisi tersebut (selama ini dalam acara pembacaan puisi atau acara sastra lainnya tidak ada yang dihadiri oleh sekian banyak penonton).

Salah seorang penyumbang yang turut serta dalam acara tersebut adalah Piek Ardijanto Soeprijadi (almarhum).  Piek menunjukkan bahwa seorang Muslim meskipun dalam kondisi yang sangat gawat tidak akan mungkin melepaskan dirinya dari Sang Khalik.  Disebutkan dalam puisi itu “meski bangunan roboh/ suami kami dibunuh/ istri kami disiksa/ gadis kami diperkosa/ meruap haus lapar/ penyakit menjalar”.  Jadi, itu semua tidak menyurutkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Justru dengan adanya peristiwa yang memilukan dan mengancam dirinya, ia harus semakin mendekatkan diri pada Allah bukan hanya mengerjakan yang wajib tetapi juga yang sunah seperti ber-tashbih, ber-tahmid, ber-takbir , dan berbagai macam bentuk dzikir lainnya.  Dengan cara demikian, “iman kami tetap pijar/ meski hidup begini getir”.

Pada bait ketiga Piek mengajak kita untuk melihat akibat yang diderita mereka (kaum Muslimin Bosnia) tentang keadaannya, kedukaannya, dan penderitaannya.  Untuk itu, ia mempertanyakan hati nurani kita melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di Bosnia: “terketukah pintu hati kalian”.   Meskipun demikian, ia hanya berharap (tentu saja kepada Allah) agar kaum Muslim Bosnia memiliki ketabahan dalam menghadapi cobaan dan dari segala macam bentuk ujian (“semoga kami tabah dalam cobaan/ semoga kami lulus dalam ujian”).

***

Tampaknya, tentang tanggung jawab belum lengkap jika belum adanya sebuah cerita meskipun hanya berupa sepotong kisah yang tidak lengkap.  Di bawah ini ditampilkan teks sebuah cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya.  Silakan dibaca dan disimak!

GURU (1)

Setelah menjadi kepala sekolah selama 10 tahun, Arif tiba-tiba kaget karena merasa dirinya telah dipisahkan oleh jabatan dengan anak-anak didiknya.  Kesibukan-nya sebagai seorang kepala, menyebabkan ia tak ada waktu lagi mengajar bahasa Indonesia, menyanyi, dan menggambar yang begitu dicintainya. Tak ada lagi kesempat- an ia berdiri di depan kelas dan bersentuhan pandangan serta cakap dengan anak-anak SD 500 itu.

“Ini sudah bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru.  Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat.  Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluahnya.

Ia termenng di belakang mejanya, memandang ke luar.  Lewat jendela dilihatnya di bawah naungan pohon-pohon nangka, anak-anak sedang main kasti.  Sayup-sayup di dengarnya pula di sebuah  kelas anak-anak sedang menyanyikan lagu “Nyiur Hijau” dipimpin oleh Ibu Upik.

“Wah, aku sudah menjadi korban kedudukanku.  Kini waktunya untuk memutus- kan apakah kebahagiaan hidup itu berarti uang dan jabatan yang empuk, atau perasaan bangga karena sudah berarti dan dekat dengan murid-murid yang menjadi tanggungan sekolah?” tanyanya.

Lebih duka lagi hatinya ketika pintu diketuk dan seorang murid masuk menanya-kan apakah kelasnya boleh pulang karena seorang guru tidak masuk.  Ia tercengang sebab tidak mengenali siapa anak itu.  Kelas berapa dia?  Namanya, apalagi kedaan keluarganya, tak dikenalnya.

Arif merinding.  Ia merasa sangat asing.  Pikirannya kalut.  Ia dihimpit sengatan berdosa.

“Kalau begini terus, aku bisa modar.  Baiknya aku cepat-cepat mengajukan permohonan supaya diberhentikan sebagai kepala sekolah dan dijadikan guru biasa lagi,”  bisiknya kepada istrinya malam hari di rumah.

Istri Arif seorang wanita biasa yang kurang pendidikan.  Wanita itu heran men-dengar keluah suaminya.  Tetapi ia tak berani memberikan pertimbangan.  Ia terlalu percaya pada buah pikiran suaminya.  Sebagai guru, ia pasti waras.  Masak guru ber-pikir yang tidak-tidak.

“Ya, bagaimana saja, asal kita semua dapat ketenangan,” katanya sembari menyulam.

Arif, masih tetap menjabat kepala sekolah, selama 2 tahun kemudian.  Tapi di tahun ketiga, ledakan jiwanya itu sudah mencabik-cabiknya.  Suara hati itu tidak ter-tahankan lagi.  Ia merasa sudah menjadi budak pekerjaan dan musuh cita-citanya sendiri.

“Ini bisa membuat aku sakit dan kosong.  Aku bisa gila. Aku tak bisa mem-bohongi hati nuraniku sendiri bahwa seorang guru adalah seorang guru, ia harus bersentuhan dengan murid, bukan hanya mengurus administrasi, pidato, dan memerin-tah dari belakang meja serta hanya berhubungan dengan penilik sekolah.  Dosa ini harus dihentikan sekarang!”  teriak Arif di dalam sanubarinya.

Akhirnya, kejutan yang tidak merupakan kejutan lagi karena sudah terlalu banyak dikoar-koarkan itu, terjadi juga.  Arif mundur atas kehendak sendiri sebagai kepala sekolah.  Ia rela melepas kursi, kehormatan, dan tanggung jawabnya serta juga gajinya,untuk menukarnya dengan jabatan guru biasa dengan fasilitas yang lebih sedikit.

“Prosesnya memang berbelit-belit, tetapi tak apalah. Karena kebahagiaan me-mang harus dicapai dengan pengorbanan dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri.

Ia tampak sehat, gembira, meskipun pucat.

Sejak itu, ia sibuk lagi mengajar.  Masuk kelas demi kelas.  Mendidik dan mene-barkan ilmu yang dikuasainya pada calon-calon penerus di masa depan itu.  Arif tampak berdarah lagi.  Ia bersentuhan pandang dan cakap dengan murid.  Ia mulai tahu lagi nama semua anak didiknya.  Bahkan latar belakang keluarga seluruh murid pun dipahaminya.

(Protes oleh Putu Wijaya, 1995:37— 39)

Guru memang makhluk pengabdi. Sebagai guru yang sudah demikian mendarah daging untuk mengabdi sebagai pendidik, seorang guru akan merasa kering jiwanya jika tidak pernah lagi bertatap muka dengan murid-muridnya.  Demikian pula yang terjadi pada Arif.  Seorang guru yang telah beralih profesi menjadi kepala sekolah (meskipun jabatan kepala sekolah juga masih lekat dengan dunia pendidikan) ternyata juga mengalami kejenuhan dengan jabatan-nya itu.  Ia merasa bahwa jabatannya telah mengakibatkan harus berpisah dengan murid-muridnya karena tidak ada kesempatan untuk mengajar (“Ini sudah bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru.  Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat.  Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluhnya ). Ia juga merasa bahwa dirinya telah menjadi korban kedudukan. Ia harus memutuskan antara berhenti menjadi kepala sekolah dengan risiko melepaskan jabatan, kehormatan, tanggung jawab, dan gajinya.  Atau ia tetap mempertahankannya dengan risiko terus menerus dihantui rasa berdosa dan menjadi gila karena harus membohongi hati nuraninya.

Arif memang masih bisa bertahan selama dua tahun lagi menjadi kepala sekolah.  Namun, karena keinginannya yang demikian kuat pada saatnya, manakala sudah tidak bisa lagi dibendung kerinduannya untuk mengajar, dengan berbagai pengorbanan, ia kembali menjadi guru dan melepaskan jabatannya sebagai kepala sekolah.  Meskipun terasa sulit dan butuh waktu yang cukup panjang, ia merasa bahagia karena keinginannya tercapai sudah (“Prosesnya memang berbelit-belit, tetapi tak apalah.  Karena kebahagiaan memang harus dicapai dengan pengorbanan dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri).

***

Pengabdian yang membuahkan kebahagiaan memang membutuhkan pengorbanan dan keteguhan sebagaimana yang dilakukan oleh Arif.  Namun, kita juga harus realistis karena menjadi kepala sekolah pun meskipun tergolong birokrat, ia masih lekat dengan dunia pendidikan (apalagi kepala sekolah SD yang gajinya  relative rendah).  Jadi, Arif selaku kepala sekolah selayaknya tidak perlu mundur dari jabatannya karena di sela-sela waktu kosong ia masih ada kesempatan untuk mengajar atau mengisi kelas-kelas yang kosong.  Dalam potongan cerita di atas ketika seorang murid menghadap untuk minta pulang karena gurunya tidak hadir, selaku kepala sekolah, Arif harus mengambil inisiatif untuk mengisi kekosongan tersebut.  Selaku birokrat Arif harus mengalahkan jabatannya sehingga tidak ada alasan bahwa ia tidak boleh mengajar kembali.  Dengan cara demikian, hal-hal yang mengganjal hati nuraninya bisa terobati.  Artinya, meskipun menjadi kepala sekolah banyak kesempatan bagi Arif untuk bertatap muka dengan murid-muridnya.  Sebaliknya, sikap Arif yang merasa terpukul dengan jabatannya sementara tidak bis berbuat apa-apa justru menunjukkan bahwa dirinya lemah (kalau bisa dikatakan sebagai pengabdi yang kurang bertanggung jawab pada dunia pendidikan).

MENYOAL TENTANG KEADILAN

Subagio S. Waluyo

RAKYAT BERGERAK 

Fadli Zon

ketika keadilan diinjak-injak

kebenaran makin terkoyak

di mana kau berpijak?

 

ketika kecurangan meruyak

suara rakyat dibajak

di mana kau berpihak?

 

negeri ini makin rusak

dipimpin penguasa congkak

pribumi tergusur jadi budak

komprador asing pesta merompak

 

bangunlah jiwa-jiwa merdeka

mendobrak tembok tirani

saatnya rakyat bergerak bersama

menjemput perubahan esok hari

(https://www.suara.com/news/2019/05/15/120549/isi-puisi-rakyat-bergerak-fadli-zon-keadilan-diinjak-injak)

***

Apa itu keadilan? Mengapa kita harus berbuat adil? Adakah orang atau tokoh yang dianggap adil? Bilamanakah keadilan bisa diwujudkan? Bagaimana cara kita menegakkan keadilan?  Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlu kita ajukan agar kita mengetahui bahwa keadilan memang sesuatu yang sampai saat ini sedang kita perjuangkan. Kita memang berkewajiban memperjuangkan dan menegakkannya karena keadilan sampai saat ini hanya sebatas ide-ide indah yang salah satu di antaranya tercantum dalam sila kelima Pancasila.

Apa itu keadilan? Sebuah pertanyaan sederhana.  Namun pertanyaan itu menggelitik kita untuk mencari jawaban.  Secara sederhana keadilan dalam KBBI (1999:7) didefinisikan sebagai sifat (dalam hal ini perbuatan, perlakuan, dan sebagaimana) yang adil.  Sedangkan kata adil yang melekat pada kata keadilan didefinisikan sebagai 1 tidak berat sebelah; tidak memihak ; 2 berpihak kepada yang benar, berpegang pada kebenaran; 3 sepatutnya; tidak sewenang-wenang.  Jadi, kata keadilan bisa berarti sifat yang:

  • tidak berat sebelah;
  • tidak memihak;
  • berpihak kepada yang benar;
  • berpegang pada kebenaran;
  • sepatutnya; atau
  • tidak sewenang-wenang.

Mengapa kita harus berbuat adil?  Kita harus berbuat adil karena (dengan mengacu pada butir-butir yang menunjukkan arti keadilan di atas) jika kita berat sebelah atau memihak kepada orang atau kelompok yang kuat (ekonominya, kekuasaannya), misalnya, akan terjadi berbagai macam bentuk kemungkaran.  Sebagai bukti bisa kita saksikan nanti tentang nasib negara kita di masa depan.  Akan seperti apa negara ini di masa yang akan datang kalau hutang-hutang luar negeri sudah demikian menumpuknya?  Apakah untuk menutupi APBN yang kerap kali defisit ditanggulangi dengan menaikkan BBM, TDL, atau PPN?  Siapa yang paling menderita dengan kenaikan-kenaikan tersebut?  Rakyat kecil, bukan?  Jika rakyat kecil yang selalu menjadi korban, bagaimana nasib bangsa ini yang sebagian besar adalah rakyat kecil? Bukankah defisitnya APBN salah satu di antaranya karena kita wajib membayar hutang yang kita tahu sendiri bahwa hutang negara yang demikian besar itu lebih merupakan warisan Rezim Orde Baru?  Siapa yang memanfaatkan hutang negara itu kalau bukan para penguasa dan konglomerat yang berkuasa pada waktu itu?  Mengapa mereka tidak diadili? Kalau mereka tidak diadili, apakah akan memberikan kebaikan buat bangsa ini atau sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sampai sekarang ini tidak terjawab (dijawab dengan penegakan hukum bukan retorika hukum) yang berakibat pada munculnya berbagai macam bentuk kemungkaran.  Kemungkaran macam apa itu yang muncul saat ini?

Kemungkaran yang muncul saat ini beragam.  Tindakan anarkis, vandalis, dan main hakim sendiri yang berakibat pada ketidakamanan, ketidak-nyamanan, dan ketidaktenteraman merupakan bentuk kemungkaran. Tindakan masyarakat seperti itu lebih disebabkan oleh tidak tegaknya hukum di negara ini (hukum bisa diatur sedemikian rupa) sehingga Taufik Ismail pun merasa malu sebagai warga negara Indonesia.Ungkapan tentang itu terekam dalam bait puisi di bawah ini.

………………………………………………………………………

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

                                                                               (Taufik Ismail, 1998:19)

Jadi, akibat tidak tegaknya hukum terjadi perusakan akhlak. Bagaimana jika akhlak telah rusak?  Kita jangan berharap akan jadi apa negara ini.  Inilah alasan kita untuk menegakkan keadilan.

***

Pertanyaan berikut: adakah orang atau tokoh yang kita anggap adil saat ini?  Kita jawab singkat saja: tidak ada!  Mengapa tidak ada.  Tidak adanya orang atau tokoh yang adil karena memang orang atau tokoh yang kita duga akan bersikap adil, ternyata juga tidak bersikap adil.  Apakah kita bisa menyatakan bahwa penguasa A, penguasa B, pejabat X, pejabat Y, atau tokoh masyarakat P, Q, R, S itu adil?  Atau orang tua kita, bapak ibu kita, Bisakah dijadikan contoh teladan dalam hal keadilan?  Coba kita simak potongan  puisi di bawah ini yang memberikan jawaban atas pertanyaan: bagaimana sebenarnya (sebagian) orang tua kita dalam hal bersikap adil?

Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat di mejanya:

 “Ayah dan ibu yang terhormat,

aku pergi meninggalkan rumah ini.

Cinta kasih cukup aku dapatkan.

Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.

Ya, aku menolak untuk mendewakan harta,

tetapi kehilangan kesejahteraan.

Bahkan kemewahan yang ayah punya

tidak juga berarti kemakmuran.

Ayah berkata: “Santai, santai!”

tetapi sebenarnya ayah hanyut

dibawa arus jorok keadaan.

Ayah hanya punya kelas,

tetapi tidak punya kehormatan.

Kenapa ayah berhak mendapat kemewahan yang sekarang

ayah miliki ini?

Hasil dari bekerja?  Bekerja apa?

Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi?

Seorang petani lebih produktif daripada yah.

Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.

Ayah hanya bisa membuat peraturan.

Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan

          rakyat dari penguasa

Ayah tidak produktif  melainkan destruktip.

Namun toh ayah mendapat gaji yang besar!

Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan?

Tidak pernah, bukan?

Terlalu berisiko, bukan?

Apakah aku harus mencontoh ayah?

Sikap hidup ayah adalah pendidikan bagi jiwaku.

Ayah dan ibu, selamat tinggal.

Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya.”

(WS Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi, 1993:60-61)

Potongan puisi di atas mencerminkan suatu kenyataan: jauh api dari panggang. Artinya, (sebagian) orang tua kita ternyata melakukan hal-hal yang tidak terpuji meskipun semua yang dilakukan demi anak-cucu.  Seorang anak yang terpanggil hati nuraninya (dalam puisi tersebut diwakili oleh sang putra yang  mahasiswa) menulis surat.  Di surat itu ia menuangkan gejolak perasaan hatinya yang terpendam selama ini.  Ia menyampaikan bahwa ia tidak suka cara hidup kedua orang tuanya meskipun kemewahan hidup ia dapatkan. Ia mempersoalkan tentang status dan pekerjaan ayahnya yang hanya memiliki kelas tetapi tidak punya kehormatan karena seorang petani atau buruh jauh lebih terhormat dari pekerjaan orang tuanya.  Bahkan, dengan kasarnya ia mengatakan ayahnya tidak produktif melainkan destruktif meskipun memperoleh gaji yang besar.  Terakhir, ayahnya ternyata juga tidak pernah memprotes ketidakadilan karena ia sendiri terlibat dalam pusaran untuk menegakkan ketidakadilan.

 Sekarang, bagaimana dengan diri kita? Jangan-jangan kita sendiri justru tergolong orang yang tidak adil? Jadi, untuk saat ini kita hanya percaya bahwa orang atau tokoh yang adil baru ada pada para nabi dan rosul.  Di luar itu, jangan dicari (termasuk diri kita sendiri).  Dengan demikian, selama tidak ada orang yang bisa dijadikan contoh teladan sebagai orang atau tokoh yang adil, bilamanakah kita bisa mewujudkan keadilan? Rasa-rasanya sulit untuk mewujudkan keadilan selama belum ada tokoh yang dijadikan contoh teladan dalam menegakkan keadilan.  Tetapi, kita tidak boleh putus asa sehingga kita tidak berkeinginan untuk mewujudkan keadilan.  Untuk itu, kita pertama kali harus menegakkan keadilan buat diri kita dulu sendiri.  Bagaimana caranya?  Ini pertanyaan menarik yang perlu kita renungkan melalui sebuah puisi di bawah ini.

JANGAN

                              Sutardji Calzoum Bachri

kita dari akar yang sama

dari pohon sejrah yang sama

kita dari bangsa yang sama

dari kemanusiaan yang satu

maka

jangan berucap dengan peluru

jangan bergumam dengan dentuman

jangan berkata lewat batu

jangan sampaikan lewat pentungan

utarakanlah dengan mawar

dengan bijak tingkah lembut merdu

utarakanlah dengan sabar

asal dari nurani yang satu

                                                                        Mei 1998

***

Sutardji Calzoum Bachri melalui puisinya di atas mengajarkan kita cara bersikap adil kepada sesama kita, yaitu untuk tidak menggunakan bahasa kekerasan (entah dengan peluru, bom, batu, atau pentungan).  Tetapi, gunakan kelembutan (juga keindahan dan keharuman seperti mawar) dan kesabaran yang berangkat dari hati nurani manusia. Ia mengingatkan kita sekalian karena kita berasal dari akar yang sama, pohon sejarah yang sama, dan bangsa yang sama (yang lebih penting lagi adalah manusia yang memiliki rasa kemanusiaan), yaitu bangsa Indonesia. Singkatnya, kita mulai menegakkan keadilan (juga kebenaran) dengan menghindari kekerasan karena kekerasan tidak akan menghasilkan sesuatu yang terbaik.

MENYOAL TENTANG HARAPAN

Subagio S. Waluyo

A K U

Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang `kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

 

Aku ini binatang jalan

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Maret 1943

***

Puisi di atas bukan puisi yang asing lagi bagi kita. Puisi tersebut sudah kita kenal sejak di bangku SD karena guru-guru kita di SD sudah mengenalkannya pada murid-muridnya. Pada waktu itu guru-guru kita menyuruh murid-muridnya untuk membacakannya dan bila perlu dihafalkan agar bisa dideklamasikan. Kita pun bisa menyaksikan teman-teman kita (termasuk kita sendiri) dengan mimik muka yang dibuat-buat membacakan dan ada juga yang mendeklamasikannya.  Apakah pada waktu itu kita tahu isi puisi tersebut?  Rasa-rasanya, jika ada yang tahu, hanya beberapa murid.  Sebagian besar lebih cenderung untuk membaca dan mendeklamasikannya.  Tentang isinya atau amanatnya (pesan moral) yang ingin disampaikan penyairnya tidak pernah terpikirkan oleh kita.

Berkaitan dengan puisi Chairil Anwar di atas (agar kita terhindar dari membacakan dan mendeklamasikan puisi dengan mimik yang dibuat-buat namun tidak mengerti isi puisinya) ada hal-hal yang perlu kita bicarakan di sini.  Isi puisi di atas, kalau kita amati ada unsur harapan penyairnya tentang sesuatu yang diperjuangkan.  Baris yang berbunyi `Ku mau tak seorang `kan merayu dan Aku mau hidup seribu tahun lagi  merupakan salah satu bukti bahwa sang penyair berkeinginan agar tidak ada kompromi (politik dagang sapi) dalam mewujudkan kemerdekaan negeri ini (`Ku mau tak seorang `kan merayu). Oleh karena itu, ia bertekad agar negeri ini bisa benar-benar menikmati udara kemerdekaan selama- lamanya (Aku mau hidup seribun tahun lagi).

Di samping dua baris yang secara jelas menunjukkan unsur harapan dengan adanya kata `mau` masih ada dua baris dan satu bait yang sebenarnya juga menunjukkan hal yang sama.  Kita bisa perhatikan pada baris yang berbunyi Aku tetap meradang menerjang dan Aku akan lebih tidak perduli.  Kedua baris itu menyatakan bahwa sebagai pejuang tidak ada kata pantang menyerah karena ada satu prinsip `merdeka` atau `mati` dan seorang pejuang tidak perduli dengan tubuh yang penuh luka, bahkan nyawa pun jika memungkinkan dikorbankan.  Sedangkan bait yang menunjukkan unsur harapan terlihat pada Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri.  Artinya, seorang pejuang yang bertekad mewujudkan kemerdekaan, ia harus menahan segala macam bentuk penderitaan. Ia harus perjuangkan kemerdekaan itu dengan menahan segala macam bentuk penderitaan karena ia merasa yakin bahwa penderitaan itu pada akhirnya akan hilang dan berganti dengan kenikmatan.

Agar kita memiliki pemahaman yang utuh tentang puisi “Aku” ada baiknya kita meangambil sesuatu yang tersirat pada puisi di atas.  Pada puisi “Aku”, jika kita renungkan, ada hal yang ingin disampaikan penyairnya, yaitu:

  • setiap orang pada saat menghadapi sesuatu yang pelik atau tidak mengenakkan (yang membuat seseorang boleh jadi menderita) harus diawali dengan sikap optimis;
  • sudah menjadi ketentuan Tuhan bahwa segala sesuatu yang ingin kita capai (kemerdekaan) harus dimulai dengan pengorbanan yang sudah tentu akan menimbulkan penderitaan;
  • menghindari penderitaan dan menggantikannya dengan kompromi (melakukan dialog dengan kelompok lain) adalah sikap yang perlu dijauhi karena hasil yang diperoleh melalui kompromi tidak seoptimal dari hasil yang diperoleh karena perjuangan; dan
  • tidak selamanya penderitaan akan mengikuti kehidupan seseorang (bangsa) karena semua itu pasti akan berakhir dengan kebahagiaan manakala seseorang benar-benar sabar melakoni penderitaannya.

Uraian di atas sangat boleh jadi kurang memuaskan kita. Karena itu boleh-boleh saja kita mengambil contoh lain sehingga kita memiliki gambaran yang utuh tentang harapan. Salah satu cara untuk memperluas wawasan kita tentang harapan adalah dengan menelaah sebuah cerita atau kisah. Teks di bawah ini, yang akan kita analisis terutama dari sisi harapannya, diharapkan mempermudah kita memahami konsep tentang manusia dan harapan.

BANGKU BATU

Motinggo Busye

…………………………………………………………………………………………………

Sementara itu, hari ulang tahunku yang ke tujuh puluh enam sudah dekat pula.  Ketika aku melihat kalender, ulang tahunku jatuh pada hari Minggu.  Secara tak sengaja, menyelinap saja ingatan kepada Juliati.  Jika aku tak membuat kesalahan yang gegabah ketika menelpon dulu, tentulah hari ulang tahunku yang ketujuh puluh enam dirayakan di bangku batu di Taman Monas itu bersama Juliati.

Setelah shalat subuh dan membaca sura Al Mulk dan mencicil beberapa ayat Al Qur`an, sebagaimana hari Sabtu kemarin, hari Minggu itu aku melangkah ke Monas menjinjing satu boks berisi kue-kue.

Aku sungguh terkejut karena kulihat ada seorang wanita duduk di bangku batu itu.  Dan wanita itu tak lain Juliati.  Aku sangat gembira.  Sangat sangat sangat gembira.

“Roy.  Selamat ulang tahun, semoga tetap sehat dan panjang umur,”  katanya seraya memberi sebuah bungkusan kecil.  Juliati menyuruh aku membuka kado itu.  Ternyata sepasang sepatu olahraga.

“Roy.  Kautahu, mengapa aku tidak ke sini selama hampir enam bulan?  Mesti-nya kau sudah tahu, Roy,” katanya.

“Aku sudah tahu.  Kamu jengkel sebab aku melakukan apa yang kamu larang.  Aku minta maaf,” kataku.

“Oke. Tapi kamu juga harus maafkan Willy, Roy. Aku tak ingin ada konflik dengan anakku sendiri.  Orang setua kita harus pandai-pandai mengelak dari konflik.  Betul kan?  Tapi kini aku berani ke sini lagi, karena Willy sudah tak di Indonesia lagi.  Dia sudah kawin dengan orang bule itu.  Kini aku sudah sendirian di rumah.  Mengambil uang pensiun juga sendiri, begitu juga membayar rekening listrik dan telepon,” kata Juliati.

Juliati meneruskan:”Sekarang kamu boleh menelpon saya anytime, Roy.  Namun jangan harapkan aku yang menelpon kamu.  Aku tetap saja tidak akan menelpon kamu.  Aku seperti mengidap trauma, selalu merasa istrimu masih hidup.”

Karena Juliati kali ini yang banyak bicara, hampir saja aku lupa mengucapkan terima kasih karena dia ingat hari ulang tahunku dan memberi kado dengan  ukuran sepatu olah raga yang pas pula.

Tetapi ada satu hal penting.  Walapun setelah pertemuan itu aku dan Juliati masih bertemu terus setiap pekan, dan walaupun aku sudah diperkenankan berkunjung ke rumahnya, tetapi satu hal senantiasa aku takut menyatakan kepadanya.  Itu menjadi sebuah rahasia abadi.  Rahasiaku itu aku pendam dalam-dalam.

Katakanlah aku bisa coba-coba menyatakan hal itu kepada Juliati, dan Juliati pun senang hati menerimanya.  Kalau memang begitu, tentu aku tidak menderita apa-apa malahan tambah bahagia, tambah sehat dan punya masa tua yang indah.  Katakan- lah semisal Juliati menerimanya!

Sebaliknya, jika hal itu kunyatakan pada Juliati, dan Juliati tak senang dan dia menolak, aku akan terkena stroke.  Tak sedikit orang-orang berusia lanjut tidak mampu menerima hal yang mengejutkan lalu terkena stroke.

Lebih bagus seperti ini saja.  Tiap Minggu duduk mengobrol berdua di bangku batu ini.  Kami tak kurang cerita-cerita masa lalu kami, atau cerita masa lalu teman-teman kami.  Bahkan kami sering sama mengisahkan cerita yang sudah daur ulang.  Sebagai orang lanjut usia kami sadar bahwa kami cuma punya cerita-cerita tentang masa lalu.  Kami hampir tak punya cerita tentang masa datang.  Itu sebenarnya bisa, jika aku punya keberanian untuk menyatakan sesuatu yang amat rahasia itu kepada Juliati.  Ah, lebih baik itu tetap rahasia terpendam.  Bangku batu itu nantinya menjadi batu yang tak berguna, menjadi batu biasa seperti batu-batu lainnya.  Tidak, aku tidak ingin ke-hilangan bangku batu ini.

Pada akhirnya aku coba juga memberanikan diri untuk menyatakan hal itu.  Jika dia menolak, aku sudah rela sekiranya terkena stroke.

“Juli,” ucapku gemetar, “Aku akan menyatakan sesuatu.”

Dia menatapku, kemudian meluncurlah ucapannya:”Sebaiknya jangan.  Aku sudah tahu apa yang mau kaukatakan.  Kita kan sudah tua? Buat apa kita menjadi anak kecil lagi, Roy?  Mendingan seperti ini saja seterusnya.  Kamu hidup di rumahmu, menggoreng telur mata sapi dan tempe setiap pagi.  Aku di rumahku, menunggu surat-surat dari anakku.  Sekali seminggu kita ketemu di bangku batu ini.  Kita tidak terlibat dalam konflik, bukan?”

Lama aku terdiam.

“Jika orang satu rumah, biasanya ada konflik.  Orang tua sebaiknya menghindari konflik,” katanya.

“Betul juga,” ucapku.

“Jangan marah Roy.  Walaupun sikapku aneh, aku tetap saja menganggap istrimu masih hidup.  Tahu kamu, aku hadir di bangku batu ini seolah-olah mencuri-curi agar istrimu dan suamiku tidak memergoki kita,” ucapnya tertawa kecil.

(Dua Tengkorak Kepala, 1999:119 – 123) 

***

Meskipun kita hanya mengambil sebagian dari cerpen “Bangku Batu”, kita sudah melihat adanya unsur harapan pada kisah di atas.  Unsur harapan tersebut tersurat dari ucapan dan tindakan tokoh `aku` terhadap Juliati teman lamanya ketika di SMA dulu.  Kalau tokoh `aku` demikian menaruh harapan pada Juliati (mengingat sikap Juliati yang demikian baik dan memberikan hadiah di saat hari ulang tahunnya yang ke-76), tidak demikian halnya dengan Juliati. Juliati ternyata tidak memberikan harapan pada tokoh `aku` (tidak merespon keinginan tokoh `aku`).  Mengapa Juliati tidak menyambut keinginan tokoh `aku`? Ia menolak keinginan tokoh `aku` karena  ia menyadari, baik dirinya maupun tokoh `aku` sudah sama-sama tua.  Di samping itu, bayangan istri tokoh aku masih melekat di benaknya.  Bahkan, ia merasa bahwa pertemuan rutinnya di bangku batu itu lebih merupakan tempat persembunyian dari intaian mendiang istri tokoh `aku` dan juga suaminya sendiri yang telah lama meninggal dunia.  Oleh karena itu, ia mengambil keputusan agar hubungannya seperti sekarang saja (hubungan persahabatan).

Jika kita telusuri teks di atas, unsur harapan yang ada pada tokoh `aku` dimulai ketika pada suatu Minggu tokoh `aku` bertemu kembali dengan Juliati, temannya, setelah selama enam bulan tidak bertemu.  Bahkan, bukan hanya itu, ternyata Juliati ingat betul bahwa hari itu merupakan ulang tahun tokoh `aku` yang ke-76.  Tokoh `aku` yang mengira Juliati marah padanya, ternyata salah duga.  Justru, Juliati memberikan surprise, dengan memberikan hadiah ulang tahunnya berupa sepatu olah raga (“Roy.Selamat ulang tahun, semoga tetap sehat dan panjang umur,” katanya seraya memberi sebuah bungkusan kecil.  Juliati menyuruh aku membuka kado itu).  Dengan pemberian itu bagi tokoh `aku` ada anggapan bahwa Juliati sangat memperhatikan dirinya sehingga tumbuh kesempatan untuk menyatakan harapannya.  Harapan itu semakin kuat karena anak bungsu Juliati, Willy, sudah tidak berada lagi di Indonesia.  Di samping itu, setelah anaknya pergi, Juliati tinggal sendiri (“ Oke. Tapi kamu juga harus maafkan Willy, Aku tak ingin ada konflik dengan anakku sendiri.  Orang setua kita harus pandai-pandai mengelak dari konflik.  Betul kan?  Tapi kini aku berani ke sini lagi, karena Willy sudah tak di Indonesia lagi.  Dia sudah kawin dengan orang bule itu. Kini aku sudah sendirian di rumah.  Mengambil uang pensiun juga sendiri, begitu juga membayar rekening listrik dan telepon,” kata Juliati).

Harapan untuk menyampaikan hasratnya semakin kuat manakala Juliati membolehkan menelponnya setiap waktu meskipun dari pihak Juliati tidak akan menelpon tokoh `aku` karena masih ada trauma dengan istrinya ( ”Sekarang kamu boleh menelpon saya anytime, Roy.  Namun jangan harapkan aku yang menelpon kamu.  Aku tetap saja tidak akan menelpon kamu. Aku seperti mengidap trauma, selalu merasa istrimu masih hidup” ).  Selayaknya, tokoh `aku` ketika Juliati mengatakan bahwa ia tidak berkenan menelponnya karena masih ada trauma dengan istrinya, ia harus menyadari kalau Juliati tidak menghendaki adanya hubungan yang lebih jauh dari sekedar berteman.  Tetapi, tokoh `aku` yang tidak pandai membaca perkataan seseorang, bertindak sebaliknya.  Artinya, ia tetap memiliki harapan terhadap Juliati (Tetapi ada satu hal penting.  Walapun setelah pertemuan itu aku dan Juliati masih bertemu terus setiap pekan, dan walaupun aku sudah diperkenankan berkunjung ke rumahnya, tetapi satu hal senantiasa aku takut menyatakan kepadanya.  Itu menjadi sebuah rahasia abadi.  Rahasiaku itu aku pendam dalam-dalam) meskipun ia juga menyadari adanya risiko yang akan terjadi jika diterima keinginannya dan ditolak (Katakanlah aku bisa coba-coba menyatakan hal itu kepada Juliati, dan Juliati pun senang hati menerimanya.  Kalau memang begitu, tentu aku tidak menderita apa-apa malahan tambah bahagia, tambah sehat dan punya masa tua yang indah.  Katakanlah semisal Juliati menerimanya! Sebaliknya, jika hal itu kunyatakan pada Juliati, dan Juliati tak senang dan dia menolak, aku akan terkena stroke.  Tak sedikit orang-orang berusia lanjut tidak mampu menerima hal yang mengejutkan lalu terkena stroke).   

Dengan cukup berani tokoh `aku` menyampaikannya (“Juli”, ucapku gemetar, “Aku akan menyatakan sesuatu” ). Juliati yang pandai membaca keinginan tokoh `aku` meskipun belum selesai disampaikan secara langsung menjawabnya (Dia menatapku, kemudian meluncurlah ucapannya:”Sebaiknya jangan.  Aku sudah tahu apa yang mau kaukatakan.  Kita kan sudah tua? Buat apa kita menjadi anak kecil lagi, Roy?  Mendingan seperti ini saja seterusnya.  Kamu hidup di rumahmu, menggoreng telur mata sapi dan tempe setiap pagi.  Aku di rumahku, menunggu surat-surat dari anakku.  Sekali seminggu kita ketemu di bangku batu ini.  Kita tidak terlibat dalam konflik, bukan?”).  Jawaban Juliati memupus harapan tokoh `aku` walaupun dibujuk dengan “Jangan marah Roy.  Walaupun sikapku aneh, aku tetap saja menganggap istrimu masih hidup.  Tahu kamu, aku hadir di bangku batu ini seolah-olah mencuri-curi agar istrimu dan suamiku tidak memergoki kita,” ucapnya tertawa kecil.

 ***

Potongan cerita di atas mengajarkan kita bahwa tidak semua harapan yang kita inginkan dapat terkabul dengan baik. Manakala harapan terkabul kita tidak boleh melupakan itu merupakan suatu kenikmatan dari-Nya.  Namun, manakala kita tidak memperolehnya kita tidak pun harus berbesar hati.  Di sisi lain, kita pun selayaknya pandai melihat suatu fenomena manakala ada ucapan atau ungkapan (tersirat) yang menunjukkan tidak adanya titik harapan buat kita. Hal itu sangat membantu kita agar kita tidak terlalu terburu-buru menyampaikan keinginan atau harapan kita walaupun kita melihat banyak sela yang seringkali mempengaruhi kita.

MENYOAL TENTANG PANDANGAN HIDUP

Subagio S.Waluyo

“Aku lupa.  Belum  menanyakan namamu.”

“Namaku Humam.  Engkau siapa?”

“Barman.”

“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya.  Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.  Di sini, nama tak ada gunanya.”

Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan.  Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya.  Apa bedanya di kota dengan di gunung?  Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.

“Humam, Hum atau Mam.  Engkau bisa usahakan telepon?”  Barman ingat Popi.  Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.

“Untuk apa.  Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”

Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami.  Dan ia dapat mengagumi.

“Jadi bagaimana?”

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

“Anakmu.  Istrimu.  Keluargamu.  Sahabatmu.”

“Semua sudah kulepaskan.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Dan aku?”

“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

Untuk beberapa lama mereka diam.  Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri!  Pikirannya berjalan-jalan.  Sampai Humam menyentuh tangannya.  “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.

“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung.  Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku.  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik.  Beban itu sudah kulepaskan.”

Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri.  Sedangkan ia merasa itu penderitaan.  Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

***

Salah satu kelebihan manusia diciptakan Tuhan adalah manusia memiliki tanggung jawab.  Karena memiliki tanggung jawab, manusia juga makhluk pengabdi. Untuk mengabdi (kepada Sang Khalik tentunya) manusia memerlukan pedoman atau aturan yang kita namakan sebagai pandangan hidup (boleh juga agama).  Apa itu pandangan hidup?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba  kita dapat  amati dua potongan kisah yang ditulis oleh Kuntowidjojo berikut ini.

“Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”
“Tidak ada , Kakek”, kataku, keluar begitu saja dari kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”
“Bagus. Tidak kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.” Ia menepuk pundakku. Kemudian membenarkan letak duduknya dan kembali menatap bunga-bunga itu.
“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melam-bangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar mata-hari membakar. Hilir-mudik kendaraan.Orang berjalan ke sana-kemari memburu waktu.Pabrik-pabrik ber- dentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet me-mainkan tangannya. Pemimpin meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah arti-nya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu.Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”
Aku mendengarkan sebaik-baiknya. Ia mengatur nafas. Lalu berdiri.
“Nah, sudah sampai waktunya kita jalan-jalan!”
Kami berjalan. Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap bunga kakek men- jentik, tertawa. “Bagus. Bagus sekali bukan, cucu?” Aku tersenyum. “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar. Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”(Dilarang Mencintai Bunga-bunga,1996:12-13)Sahabat tua itu mengajaknya bersama menghabiskan waktu. ”Waktu,” kata sahabat itu, “Sesuatu harus kita nikmati.Seperti juga benda lainnya.” Barman menam-bahkan:”Ya, atau kita makan waktu, atau kita dimakan waktu.” Dan ia tertawa. “Kita ber- sahabat, kita mesti ramah!” sahabat itu meneruskan. “Mengapa mesti bermusuhan?”
Mereka pun menyiapkan diri untuk suatu perjalanan yang sesuai dengan laki-laki tua. “Inilah perjalanan dua orang kakek-kakek,” kata sahabat itu. Di rumah terdapat pancing. Barman dibawa ke belakang rumah. Ada sebuah jalan terbentang di situ. “Engkau mau mancing atau menjala, Bung?”
“Aku tak biasa dengan air sungai,” kata Barman.
Sahabat itu hanya tertawa. “Engkau mesti belajar dari hidup ini.”
“Eh, engkau mau juga kita membawa telur? Dan jangan lupa korek api. Menurut tampangmu, kau ini sebangsa orang yang belum bahagia waktu kecil-mu, ya. Inilah saat kauulang kembali riwayat itu. Bertualang di gunung.”
Barman masih harus mempelajari sahabat barunya itu. Orang itu suka bicara, tidak seperti diduganya semula.
“Jauhkah perjalanan kita?”
“Orang gunung akan mengatakan dekat saja. Apa peduli kita!” Laki-laki itu menunju-nunjuk suatu arah, berbelok-belok dengan jari yang melayang-layang di udara. Mereka pun keluar dari pekarangan. Ketika sampai di bawah pohon cemra, Barman baru teringat sesuatu, ia berhenti.
“Apa?” tanya sahabat barunya.
“Aku lupa. Belum menanyakan namamu.”
“Namaku Humam. Engkau siapa?”
“Barman.”
“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya. Aku sebenarnya tak lagi punya nama. Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya. Di sini, nama tak ada gunanya.”
Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan. Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya. Apa bedanya di kota dengan di gunung? Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.
“Humam, Hum atau Mam. Engkau bisa usahakan telepon?” Barman ingat Popi. Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.
“Untuk apa. Kita tak perlu apa pun lagi. Kita sudah hilang.”
Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami. Dan ia dapat mengagumi.
“Jadi bagaimana?”
“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”
“Anakmu. Istrimu. Keluargamu. Sahabatmu.”
“Semua sudah kulepaskan.”
“Semuanya?”
“Ya.”
“Dan aku?”
“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”
Untuk beberapa lama mereka diam. Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri! Pikirannya berjalan-jalan. Sampai Humam menyentuh tangannya. “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.
“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung. Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik. Beban itu sudah kulepaskan.”
Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri. Sedangkan ia merasa itu penderitaan. Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

(Khotbah di Atas Bukit, 2000:68-71)

***

Kedua potongan kisah di atas memberikan banyak pandangan hidup.  Jika kita amati secara teliti, kita akan mendapatkan ada hal-hal yang sama tentang ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat), baik yang dikemukakan oleh si pemelihara bunga-bunga (kakek) kepada anak tetangganya (cucu) pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” maupun oleh Humam kepada Barman (pada novel Khotbah di Atas Bukit). Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat) itu di antaranya sebagai terlihat pada tabel berikut ini.

“Dilarang Mencintai Bunga-bunga” Khotbah di Atas Bukit
1. “Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?” 1. “Inilah saat kauulang kembali riwayat itu.”
2. Segalanya mengendapBunga- bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa…. Mereka semua  menipu diri sendiriHidup ditemukan dalam ketenang an. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu.Hawa dingin menyejuk ha- timu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.” 2.  

 

Aku sebenarnya tak lagi punya namaAku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.”

 

3. “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekarMembuat dunia tenang ini dunia kita! 3. Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”
4. 4. Kesendirian adalah hakikat kita, he.”
5. 5. “Pertemuan kita lain, Bung.Suatu kebetulan. Hubungan kita ialah bukan hubungan.”
6. 6. Itu sudah berjalan, dan berjalan de-ngan baik.  Beban itu sudah dilepaskan.”
7. 7. Keadaanku ialah ketiadaanku.”

“Atau sebaliknya.”

Dari tabel di atas kita menemukan ada beberapa ungkapan yang bermakna sama, seperti  “Hidup ditemukan dalam ketenangan” dengan “Kesendirian adalah hakikat kita “  atau  “Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu,siapakah dirimu”  dengan  “Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”  Ungkapan-ungkapan tersebut  menunjukkan betapa kayanya pandangan hidup yang dimiliki penulisnya (Kuntowidjojo).  Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan nasihat itu juga merupakan sarana kita untuk bercermin seraya bertanya pada diri sendiri : selama di dunia ini, apakah kita telah melakukan peran kita sepenuhnya selaku manusia di hadapan Sang Khalik?

Sehubungan dengan masalah pandangan hidup, seandainya ada orang yang bertanya: pandangan hidup apakah yang terbaik bagi manusia?  Kita tidak usah ragu-ragu bahwa pandangan hidup yang terbaik bagi manusia adalah yang datangnya dari Sang Khalik (agama).  Kita bisa mengatakan demikian karena:

  • agama bersifat universal sehingga kebaikan agama adalah kebaikan bagi seluruh umat manusia (tidak dibatasi oleh geografis, kesukuan, kebangsaan, ras, dan warna kulit);
  • agama tidak terikat oleh waktu, artinya sampai kapan pun, baik perintah maupun larangannya akan tetap berlaku dan tidak boleh disesuaikan oleh kondisi waktu;
  • agama datang dari Sang Pencipta Manusia yang tentu saja akan mengetahui sisi-sisi kelemahan manusia sehingga apapun yang diberikan untuk manusia sudah diperhitungkan oleh-Nya; dan
  • kebenaran agama yang datangnya dari Tuhan tidak bisa diragukan karena semua itu dikembalikan pada umatnya (sementara kebenaran yang diciptakan manusia sifatnya relatif dan mudah berubah karena manusia tidak akan mungkin bisa melepaskan sifat-sifat manusiawinya yang di satu sisi justru banyak memiliki kelemahan).

Dengan adanya butir-butir di atas, masih layakkah kita menyepelekan pandangan hidup yang datangnya dari Tuhan (agama)?  Risiko apa yang akan muncul jika kita menyepelekannya?  Coba, kita perhatikan petikan kisah berikut ini.

BULAN SABIT
Joni Ariadinata
…………………………………………………………………………………………
Kota itu pun milik hantu. Gelombang dzikir mengutuknya dengan sopan, dan di lorong-lorong orang berbicara politik. Maut tetap mengintai. Perempuan-perempuan, para janda anak-anak orang tua; ribuan lelaki-perempuan dipaksa mati di jalan-jalan.Dibenam di hutan rawa. Maka hantu berubah menjadi iblis:langit, katanya, kelak berwarna hitam kelam.“Kami benci tentara.”Rapat suara bocah memandang langit. Beribu-ribu.Tak ada tangis: “Bapak kami mati ditembak!” bergelombang masuk hutan. Dendam merubah dada menjadi besi. Menjadi api.“Maukah kutembak? Kalian bukan pahlawan, tapi pengkhianat. Pemberontak tengik! Siapa pemimpin kalian, heh?!” bertanya. Ribuan interogasi. Bunyi salak pistol dan penjara. Malam hitam kegelapan pintu-pintu dan jendela rumah. Dijarah. Tapi barisan beku mengatup:”Pemimpin kami adalah hati. Kami tak pernah takluk pada iblis yang menciptakan api! Kalianlah pengkhianat…”

“Sial!!” raungan truk dan gemerocak rantai panser baja meletupkan amarah tengik. Pusaran waktu pecah:gelombang api. Segerombol serdadu menghanguskan kota, melipat peta dan menunjuk-nunjuk nyawa seperti layaknya Tuhan. Berbulan-bulan. Putus asa:”Seluruh penduduk Serambi telah menjadi pemberontak Tuhan…”

”Kita memang Tuhan!” bunyinya menantang. Raut wajah putus asa para serdadu, pekik darah mirip anak anjing yang sakit; menerjang dengan tangan mengayunkan karaben dan meledakkannya ke atas langit. Glar! Glar! Glar! “Tahan tembakanmu, Letnan!!” suatu hari. Kekeruhan wajah tak ada cahaya. Melihat jauh kejauhan yang kosong. Setiap menit, menjadi detik, dan jam-jam yang meledak:”Kita digaji untuk membunuh, kau dengar, Kolonel? Kita memakan darah…”

“Prajurit tak patut untuk berpikir.”

“Kau kira kami ini apa?”

“Kau menghamburkan peluru untuk sesuatu yang tidak jelas!”

“Lalu apa bedanya? Menembak angin atau menembak kepala, semua diajarkan dengan sama persis. Dan kita harus bertanggung jawab. Begitu mudahkah?”
“Benar!” serempak yang lain membetulkan. Ketegangan merayap dan gigi gemeretak: “Perintah komando pusat telah membuat kita semua gila. Berapa ribu nyawa lagi harus kita korbankan? Seluruh penduduk menginginkan kematian; dan kita menyambutnya tanpa m erasa bahwa dengan itu kita telah menjadi pahlawan. Mereka masuk hutan untuk sebuah keyakinan. Sedang kita apa? Bajingan tengik! Jika semua orang di daerah ini memilih menjadi pemberontak, maka itu berarti seluruh wilayah Serambi sudah lenyap dalam peta negara. Apakah kita akan mengusirnya, menembakinya, dan memusnahkannya seperti melenyapkan hutan untuk menjadikannya sebuah padang rumput tempat bermain golf para pemimpin politik? Kalau itu pilihan presiden dan panglima, maka aku memilih berhenti. Tembaklah aku, kolonel! Engkau sudah lupa bahwa mereka yang kita perangi, adalah saudara kita sendiri. Bukan segerombolan monyet seperti doktrin ajaranmu…”

“Diam! Semuanya diam! Kalian semua berada di bawah garis komando. Setiap pem-bangkangan disiplin, akan diseret ke meja pengadilan militer. Kau berani melanggar perintah, Letnan Sujarwo?”

“Aku bicara sebagai manusia…”

Glar! Letupan keras menghamburkan isi kepala. Letnan Sujarwo ditembak menggeliat. Lalu lenggang. Mati. Kolonel Hardi gemetar dengan amarah memuncak:”Siapa lagi yang mencoba menjadi pengkhianat, heh? Dalam hirarki ini, akulah komandan. Apa yang aku perintahkan adalah hukum! Tidak ada kata tidak…” menggelegar. Keputusan yang salah. Sunyi langit mati dan bangkai Letnan Sujarwo menguapkan hawa panas kegelisahan para serdadu serentak berlompatan memekik. Mengutuk. Berpantul dari pohon ke pohon. Suara-suara campur, jam memantik:serentet tembakan kembali memecah langit. Kepul asap, menerjang daun; ledak gelegar granat, badai di kepala meletup. Keputusasaan.

“Aku bunuh kamu, Letnan!! Aku bunuh…”

“Kopral! Kau…” teriak-teriak keras. Gediblag kaki dan keriuhan gema sekarat saling hantam.

“Gila!! Kita semua gila!!”

Mereka menembak. Saling menembak. Menembak hening, memburu bayangan korban. Dan bunyi kemerinting sisa mesiu, debu-debu, jatuh di mimpi bayi; menguak kencang, membangunkan ibu yang lantas mengalirkan air mata pedih. Bersipongang dari ruang ke ruang. Menjadi hujan, Menjadi rintihan di lelap malam. Gusti.
(1999:175—177)

***

Kisah di atas merupakan gambaran manusia yang tidak menggunakan lagi agama sebagai pandangan hidupnya. Mereka saling menghabisi sesamanya.  Mereka telah menjadikan doktrin militer sebagai pandangan hidupnya atau agamanya yang baru. Ketika salah seorang di antara mereka terpanggil hati nuraninya, atas nama kesatuan orang seperti itu harus dihabisi. Jadi, pandangan hidup yang tidak berangkat dari agama akan menjadikan manusia menjadi kanibal bagi manusia lainnya.  Berbagai peristiwa yang telah memakan banyak korban anak bangsa ini merupakan tolak ukur kita bahwa pandangan hidup yang bukan agama, yang kita anut selama ini, ternyata telah gagal menjadikan kita lebih manusiawi lagi.