ANTOLOGI CERPEN KORAN TEMPO-2

Subagio S. Waluyo

  1. F. Ilham Satrio-Boston Ketika Ponsel Berdering
  2. Faris Al Faisal-Boneka Salju
  3. Fransiska Eka-Eva dalam Dua Cerita Berbeda
  4. Gunawan Maryanto-Titik Nol
  5. Gus tf Sakai-Kakek Taman Kanak-Kanak
  6. Gus tf Sakai-Ketam Batu
  7. Han Gagas- Wassenaar dalam Hujan Kenangan
  8. Han Gagas-Sepasang Mata Gagak di Yerusalem
  9. Haryo Pamungkas-Kota Mayat
  10. Ida Fitri-Kejadian-Kejadian di Meja Operasi
  11. Ida Fitri-Kitab Tipu Muslihat
  12. Ida Fitri-Mahar Empat Puluh Tujuh Jeumpa
  13. Imam Muhtarom-Dua Lelaki Itu Bersaudara
  14. Jemmy Piran- Misteri Bukit Iblis
  15. Jeni Fitriasha-Rumah Tetangga
  16. Ken Hanggara-Memburu Sekutu Iblis
  17. Kiki Sulistyo-Jatuhnya Seorang Astronaut
  18. Kiki Sulistyo-Samsara Samsa
  19. Kiki Sulistyo-Siapakah Narator Cerita Ini
  20. Kiki Sulistyo-Toko Kue dan Boneka Ibu
  21. Kurnia Effendi-Tetapi
  22. Lamia Putri Damayanti-Kebun Binatang di Dasar Laut
  23. M Firdaus Rahmatullah-Kunci dan Cerita-Cerita Lainnya
  24. Mashdar Zainal-Mayat di Atas Bukit
  25. Mona Sylviana-Cerita Penari untuk Kekasih
  26. Muhammad Khambali-Kamar Sewa
  27. Muhammad Nanda Fauzan-Kutuk Banaspati
  28. Nanda Winar Sagita-Saya Menikahi Seorang Ateis
  29. Pangerang P. Muda-Kitab Amanah
  30. Putra Hidayatullah-Maut Bercanda dengan Kolonel Saidi

ANTOLOGI CERPEN KORAN TEMPO-1

Subagio S.Waluyo (ed.)

  1. A. Warits Rovi- Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis Muda
  2. Adam Yudhistira-Hellena dan Teror Sesosok Hantu
  3. Adam Yudhistira-Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel
  4. Anton Kurnia-Pencegahan Bunuh Diri
  5. Anton Kurnia-Tiga Kisah Ganjil yang Sungguh Terjadi
  6. Arianto Adipurwanto-Ayah Memandangku Sambil Mengacungkan Parang
  7. Artie Muhammad-Amuk 
  8. Artie Muhammad-Namaku (Bukan) Tamae 
  9. B.B Soegiono-Adam Willy dan Sebuah Luka di Tubuh Keluarganya
  10. Badrul Munir Chair-Upacara Tabur Bunga
  11. Bagus Dwi Hananto-Kawashima Yui Setelah Pertemuan di Hari Senin
  12. Bagus Dwi Hananto-Kucing-Kucing Suginami
  13. Bagus Dwi Hananto-Malam-Malam Dazal
  14. Bagus Dwi Hananto-Perempuan Lukisan Nanga
  15. Bagus Dwi Hananto-Sensei dan Aku
  16. Bayu Pratama-Selamat Pagi Nona Magpie
  17. Bani Setia-Barengkok 
  18. Beni Setia-Cerita Singkat tentang Seorang Ifridian
  19. Benny Arnas-Paling tidak Kita Pernah Bermain Teater di Dalam Mobil
  20. Biyank Alejandra-Kelas Melukis
  21. Daisy Rahmi-Elena
  22. Damiri Muhammad-Ros dan Mantan-Mantannya
  23. Deddy Arsya-Hantu Komunis
  24. Edy Firmansyah-Cerita Poster dalam Rumah Penuh Dusta
  25. Edy Firmansyah-Perburuan Agustus 1947
  26. Eko Darmoko-Dari Tour de France hingga Hemingway
  27. Eko Darmoko-Nördlingen
  28. Elisa Tandiono-Viral
  29. Erwin Setia-Boneka Terakhir Seli
  30. Erwin Setia-Cerita Dua Robot dan Pemuda Penyendiri

 

 

ANTOLOGI CERPEN KORAN REPUBLIKA

Subagio S.Waluyo (ed.)

  1. A. Makmur Makka-Suara Muazin dari Menara
  2. Abdul Rahim-Benih Padi Terakhir
  3. AJ Hara-Mimpi Seorang Istri
  4. AJ Hara-Pulang 
  5. Akmal Nasery Basral-Putik Safron di Sayap Izrail
  6. Alfa Anisa-Lelaki Tua yang Takzim ke Mbah Yai
  7. Aksin Taksin Embe-Malam Minggu yang Sia-Sia
  8. AM Lilik Agung-Tentang Amira
  9. Dian Nangin-Angin Berkabar Hujan
  10. Edy Firmansyah-Perburuan Celurit Api
  11. Eko Darmoko-Setan Kecil di Telingaku
  12. Gol A Gong-Jasmine
  13. Gunoto Saparie-Ulang Tahun Ibu
  14. Herta Widya-Kampung Tubuh Manusia
  15. Insan Budi Maulana-Yang Mulia (Gejolak Batin Sang Hakim)
  16. Irwan Kelana-Paris, Salju, dan Gerimis
  17. Isbedy Setiawan ZS-Perempuan yang Patut Kusayangi
  18. Ismalinar-Si Kribo
  19. Isti Rahmawati-Sambar Terasi
  20. Karta Raharja Ucu-Bunga Krisan untuk Ibu
  21. Karta Raharja Ucu-Senyummu Seperti Sebongkah Gula Batu
  22. Maya Sandita-Amak Berpulang
  23. Muhammad Sadji-Anjing Tetanggaku Bernama Tobo
  24. Muhammad Sadji-Corona
  25. Nilla A Asrudian-Orang-Orang Jatuh
  26. Ratna Ning-Laki-Laki Bermata Dingin
  27. Silmi Afkarina Hanum-Bingkisan yang Tertukar
  28. Umi Kulsum-Viral
  29. Wildan Pradistya Putra-Setelah Dibawa ke Ruangan Besar
  30. Zahrah Muzdalifah-Ini bukan Impian Zahra

 

MENGETUK PINTU LANGIT

Subagio S.Waluyo

Masih Ada Waktu

Ebiet G. Ade

Bila masih mungkin kita menorehkan batin
Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas
Mumpung masih ada kesempatan buat kita
Mengumpulkan bekal perjalanan abadi
Kita pasti ingat
Tragedi yang memilukan
Kenapa harus mereka yang terpilih menghadap
Tentu ada hikmah yang harus kita petik
Atas nama jiwa mari heningkan cipta
Kita mesti bersyukur
Bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan
Tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasih-Nya
Hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari
Kepada rumput ilalang
Kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba
Meminjam catatan-Nya
Sampai kapankah gerangan
Waktu yang masih tersisa
Semuanya menggeleng
Semuanya terdiam
Semuanya menjawab tak mengerti
Yang terbaik hanyalah
Segeralah bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu

***

Akhir tahun lalu (walaupun Cuma beberapa hari dari awal tahun ini) seorang teman di grup mengirim teks lirik lagu di atas. Lagu yang ditulis Ebiet G. Ade pada tahun 1988 itu menginspirasi saya untuk melakukan yang terbaik dalam menjalani hidup ini. Di tengah-tengah kesumpekan hidup melihat perilaku baik pemimpin maupun masyarakat di sekitar saya merenungkan muatan yang terdapat lirik di atas membuat saya sadar bahwa sebagai hamba Allah lebih baik merenungkan arti sebuah kehidupan daripada terbawa arus emosional. Arus emosional membuat saya galau, jiwa ini tidak tenang, rasa-rasanya ingin marah, tapi marah pada siapa? Daripada tidak tahu harus pada siapa saya menumpahkan kegalauan ini lebih baik saya mengetuk pintu langit. Syukur-syukur dengan mengetuk pintu langit Allah akan memberikan jalan keluarnya.

Mengetuk pintu langi dengan zikir dan doa tidak boleh kering dari seorang hamba karena dengan cara seperti itu hati menjadi tenang. Orang yang hatinya gundah gulana boleh jadi orang yang jarang mengetuk pintu langit dengan zikir dan doa. Allah tidak akan bosan mendengar hamba-Nya yang kerap berzikir dan berdoa. Allah tidak akan menjadi kaya dengan sekian juta orang yang berzikir dan berdoa karena Allah Maha Kaya. Justru zikir dan doa kembali pada orang yang mengucapkannya. Walaupun tertuju pada Allah sebagai Sang Khalik dan Pemilik alam semesta ini, zikir dan doa merupakan kebutuhan mutlak manusia di luar kebutuhan fisik dan akal. Zikir dan doa kebutuhan bathiniah sama halnya kebutuhan akan fisik yang sehat dan akal yang sempurna. Zikir dan doa mewujudkan keseimbangan dalam diri manusia. Tanpa zikir dan doa tidak akan mungkin terwujud sebuah keseimbangan hidup. Justru keseimbangan hidup itu merupakan kebutuhan manusia yang paling mutlak.

***

Sebagai makhluk Tuhan kita perlu keseimbangan dalam hidup. Salah satu keseimbangan yang harus dimiliki adalah adanya ketenangan batin. Batin ini tidak boleh gundah. Kalau gundah, batin ini akan mempengaruhi bagian tubuh yang lain. Supaya tidak gundah batin ini harus diisi dengan zikir dan doa pada Sang Khalik. Untuk itu, manusia sebagai makhluk yang lemah harus memenuhi seluruh relung hidup ini dengan bergantung pada Allah. Selain itu, dia juga harus mempersiapkan bekal hidup yang abadi: akhirat. Sebagai hamba Allah kita harus menyadari bahwa ada kehidupan yang abadi, yaitu kehidupan di akhirat nanti. Sementara kehidupan kita di dunia ini hanya sementara. Karena akan ada kehidupan yang abadi, kita harus memiliki persiapan sebagaimana dikatakan Ebiet dalam lirik di atas:

Mumpung masih ada kesempatan buat kita
Mengumpulkan bekal perjalanan abadi

Jadi, selagi masih diberi kesempatan (hidup di dunia ini singkat), manfaatkan kesempatan itu untuk banyak beramal saleh (berbuat baik) baik pada Allah maupun pada sesama manusia (hablum minaallah wa hablum minannaas).

Salah satu wujud dari berbuat baik (beramal saleh) pada Allah dan sesama manusia adalah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

“Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna” (HR Abu Hurairah RA).

Rasulullah SAW lewat hadits tersebut mengajarkan kepada umatnya agar setiap kita melakukan pekerjaan yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Karena itu, Rasulullah SAW melarang keras umatnya untuk melakukan pekerjaan yang bisa merusak baik diri sendiri maupun orang lain. Bukankah ini merupakan sebuah tausiah yang demikian berharga bagi kita? Jika sudah ada ajaran yang demikian indah itu, coba kita menghisab (mengevaluasi) diri kita mana lebih banyak selama hidup di dunia ini pekerjaan yang bermanfaat atau sebaliknya pekerjaan yang justru banyak merugikan baik diri sendiri maupun orang lain? Kalau dari hasil hisab ternyata lebih banyak perbuatan buruk, selagi masih ada waktu kita manfaatkan waktu yang tersisa ini untuk mengisi waktu-waktu kita baik saat ini maupun waktu-waktu yang akan datang dengan beramal saleh.

***

(https://images.app.goo.gl/zuLxuxuJwqPczcoC6)

Ternyata, mengisi waktu-waktu yang masih tersisa sesuatu yang menuntut kesabaran, ketabahan, dan kekonsistenan. Sebagian besar manusia tidak bisa menahan kesabaran, ketabahan, dan kekonsistenan. Buktinya, banyak di antara kita yang tergoda kehidupan dunia sehingga mereka cenderung mengikuti hawa nafsu. Walaupun sudah diingatkan oleh Ebiet:

Kita pasti ingat
Tragedi yang memilukan
Kenapa harus mereka yang terpilih menghadap
Tentu ada hikmah yang harus kita petik
Atas nama jiwa mari heningkan cipta
Kita mesti bersyukur
Bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan
Tak ada yang bakal dapat menghitung

bahwa masalah kematian bisa saja terjadi suatu saat. Kematian bisa lewat sebuah tragedi yang memilukan (ketika lirik lagu ini ditulis baru saja ada “Tragedi Bintaro” berupa tabrakan kereta api yang banyak memakan korban). Mereka-mereka yang jadi korban tabrakan kereta api itu tentu saja tidak menduga kalau pada hari yang naas itu harus menghadap Allah begitu cepat. Di sini kita sebagai makhluk yang lemah harus pandai mengambil hikmah dari sebuah peristiwa. Kita selayaknya bersyukur karena masih diberi waktu yang kita sendiri juga tidak tahu kapan waktu kita menghadap Sang Khalik.

Semuanya menggeleng
Semuanya terdiam
Semuanya menjawab tak mengerti
Yang terbaik hanyalah
Segeralah bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu

Daripada kita tidak bisa memberikan jawaban tentang kapan waktunya akan dipanggil Allah selayaknya kita segera mengerjakan perintah-Nya. Kita juga meninggalkan, bahkan mencegah, perbuatan maksiat yang kerapkali muncul di dalam diri ini. Jadi, selagi diberi waktu apa salahnya kalau kita menghindari yang telah Allah gariskan dalam Surat Al Maun: 1-7:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Kita berupaya agar tidak menjadi orang yang mendustakan agama yang ditandai dengan orang yang tidak peduli dengan anak-anak yatim dan orang-orang duafa (miskin). Orang-orang seperti ini walaupun menjaga solatnya, tapi digolongkan sebagai orang yang lalai karena solat tidak memberikan bekas. Orang-orang seperti ini seandainya beramal cenderung riya (ingin dilihat orang sebagai orang yang dermawan) yang jauh di lubuk hatinya tidak ada keinginan untuk membantu orang lain.

***

Ebiet G. Ade telah mengingatkan kita untuk memanfaatkan waktu yang masih tersisa. Hadits Nabi di atas juga sama agar kita bisa menjadi hamba Allah yang bisa bermanfaat baik buat diri sendiri maupun orang lain di saat kita masih diberi umur. Kita pun diingatkan agar tidak menjadi pendusta agama, yaitu orang yang tidak punya rasa sosial pada sesama manusia terutama anak-anak yatim dan orang-orang duafa. Tapi, kenapa masih banyak orang yang tertipu dengan kehidupan dunia? Kenapa masih banyak orang yang terjerat oleh budaya materialistik? Dari budaya materialistik itu merembet ke dalam budaya hedonis yang juga merembet ke budaya korupsi dan kolusi (Rudiaji Mulya dalam Feodalisme dan Imprealisme di Era Global, 2012: 331-350). Masih dari sumber yang sama ternyata masih banyak juga masyarakat kita yang cenderung menjadi penganut budaya paternalistik. Munculnya semua budaya itu yang cenderung negatif lebih disebabkan oleh masyarakat kita yang telah terjerat dalam hawa nafsu. Artinya, masyarakat kita belum bisa lolos dari kerangkeng hawa nafsu (lihat tulisan saya baik di website maupun blogspot saya: “Berkisah tentang Mengkrangkeng Nafsu”). Karena tidak bisa melepaskan diri dari kerangkeng hawa nafsu, wajar-wajar saja jika sebagian besar masyarakat kita terbelenggu oleh budaya-budaya negatif: paternalistik, materialistik, konsumtif, hedonis, kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Gambaran orang yang telah terkerangkeng hawa nafsu bisa dilihat dalam petikan cerpen yang ditulis Komala Sutha “Nafsu Serakah”. Di cerpen tersebut Hambali yang telah terpedaya dengan kehidupan dunia menjadi seorang suka melamun. Bukan saja melamun, Hambali juga mengalami depresi. Buktinya, bibirnya bergerak-gerak, tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak ketika melihat dua ekor cicak yang bercengkrama di langit-langit rumahnya. Perilakunya menunjukkan adanya penyakit kejiwaan, Semua itu bermula dari keserakahan Hambali dan istrinya yang tidak menyisakan sedikitpun warisan dari mertuanya pada adik-adik mertuanya sehingga dia dimusuhi. Bukan hanya adik-adik dari mertuanya, anak-anaknya pun menjauhinya. Mereka tidak peduli lagi pada kedua orang tuanya. Kekayaan yang dimilikinya tidak membuat dirinya tenang. Harta yang dimilikinya pun lama kelamaan habis. Selain itu, Hambali dan istrinya terjerat hutang dengan bank. Itu semua membuat batinnya tertekan yang membuat Hambali mengalami depresi berat.

Keluarga Hambali menjadi tak betah tanpa ada ketenteraman walaupun harta warisan melimpah kalau tinggal di sekitar orang-orang yang memusuhinya. Akhirnya mereka sekeluarga pindah ke kampung lain. Berusaha merasakan kedamaian, dengan kekayaan yang tak habis-habisnya. Terlebih dibarengi hidup hemat dan pelit. Menjadi orang terkaya walau sesekali dalam jiwanya menyelusup kesepian yang dalam jika teringat semua saudara istrinya yang balik membenci karena keserakahannya.

Lama-lama Hambali acapkali terlihat merenung sendiri. Anak-anaknya kurang memerhatikan. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suatu ketika ada yang mengajaknya berbincang hingga larut malam. Seminggu kemudian dibelinya mobil baru lalu pergi dengan tamu yang baru dikenalnya itu. Hingga berbulan-bulan. Sekali pulang, Hambali menjual kekayaan, sedikit demi-sedikit hingga nyaris habis. Teman yang dikenalnya itu sering mengajak jarah dan konon punya kesaktian. Saban kekayaan Hambali dijual dan digunakan pelesiran ke tempat jarah, ada keyakinan kekayaannya akan bertambah dalam waktu yang sudah dijanjikan oleh penguasa gunung setelah melewati beberapa kali ritual malam Jumat.

Selama lima tahun menjalani seperti itu hingga kekayaannya benar-benar habis. Yang tersisa hanya rumah yang ditempatinya yang tak lama lagi akan disegel pegawai bank lantaran tak mampu mengangsur tunggakan. Rahmi kerap berjualan makanan basah mengelilingi kampung. Keempat anaknya yang sudah berumahtangga dan entah tinggal dimana, tak peduli dengan kekayaan orangtuanya yang kian melarat.

Hambali kerap melamun berkepanjangan. Sendirian di beranda rumah. Terperanjat jika teringat ibu kandungnya yang pernah dilukai hatinya. Kaget jika terbayang wajah-wajah adik mendiang Amih Dinah yang keruh merasa tak mendapat ketidakadilan. Terlintas masa sebelumnya, menjalani hidup yang anti berbagi pada sesama. Kepala Hambali pusing lalu berputar-putar. Bibirnya perlahan bergerak-gerak. Tersenyum. Lalu tertawa terbahak-bahak melihat dua cicak yang tengah bercengkrama di langit-langit atap beranda. Ia seolah-seolah diajak bercanda. Lalu beranjak, melompat dan hendak menungkup cicak yang jatuh di lantai. Dahinya terbentur ubin yang keras. Ia meraung sakit. Lalu menangis sekeras-kerasnya seperti anak kecil yang tak diberi jajan oleh ibunya.

***

Walaupun hanya sebuah cerpen yang merupakan karya fiktif, hasil dari sebuah imajinasi dan kontemplasi sang penulis, dalam kehidupan sehari-hari boleh jadi ada orang seperti Hambali di cerpen tersebut. Orang-orang yang lupa bahwa hidup di dunia ini sementara. Orang-orang yang tidak sadar bahwa ada kehidupan yang abadi, yaitu kehidupan akhirat. Orang-orang yang tertipu dengan kehidupan dunia sehingga lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keimanan. Padahal hawa nafsu terbukti telah banyak menipu orang. Orang yang tertipu kehidupan dunia jangan berharap dia akan mengkahiri kehidupan dengan husnul khotimah (penutup yang baik). Justru, dia mengakhiri kehidupannya di dunia ini dengan suul khotimah (penutup yang buruk), naudzu billahi min dzalik. Cukup banyak di hadapan kita orang yang mengakhiri kehidupan di dunia ini dengan suul khotimah. Mudah-mudahan kita diselamatkan dari perilaku yang buruk itu. Wallahu a`lam bissawab.

TAHUN YANG MENYESAKKAN

Subagio S.Waluyo

SURAT INI ADALAH SEBUAH SAJAK TERBUKA

 

Oleh: Taufiq Ismail

Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Ditulis pada sebuah sore yang biasa. Oleh
Seorang warganegara biasa
Dari republik ini

Surat ini ditujukan kepada
Penguasa-penguasa negeri ini. Mungkin dia
Bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.
Barangkali dia Ketua MPRS
Taruhlah dia anggota DPR
Atau pemilik sebuah perusahaan politik
(bernama partai)
Mungkin dia Mayor, Camat atau Jaksa
Atau Menteri. Apa sajalah namanya
Malahan mungkin dia saudara sendiri

Jika ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah murahnya? Agaknya
Setiap bayi dilahirkan di Indonesia
Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya
Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama
Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya
Di kamar bersalin
Dan seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin
Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini
Ketika itu tak seorangpun tahu

Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian
Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri
Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi
Serta pajak kita semua
Di jalan raya.di depan kampus atau di mana saja
Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang
Melahirkannya. Jauh dari ayahnya
Yang juga mungkin sudah tiada
Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya
Darah telah mengantarkannya ke dunia
Darah kasih sayang
Darah lalu melepasnya dari dunia
Darah kebencian

Yang ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah gampangnya?
Apakah mesti pembunuhan itu penyelesaian
Begitu benarkah murahnya? Mungkin sebuah
Nama lebih penting
Disiplin tegang dan kering
Mungkin pengabdian kepada negara asing
Lebih penting
Mungkin

Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Maafkan para studen sastra. Saya telah

Menggunakan bahasa terlalu biasa
Untuk puisi ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi
Maalkan saya menggunakan bahasa terlalu biasa
Karena pembunuhan-pembunuhan di negeri inipun
Nampaknya juga sudah mulai terlalu biasa
Kita tak bisa membiarkannya lebih lama)

Kemudian kita dipenuhi pertanyaan
Benarkah nyawa begitu murah harganya?
Untuk suatu penyelesaian
Benarkah harga-diri manusia kita
Benarkah kemanusiaan kita
Begitu murah untuk umpan sebuah pidato
Sebuah ambisi
Sebuah ideologi
Sebuah coretan sejarah
Benarkah?

1965

***

Kalau ditanya tentang tahun 2020 yang segera ditinggalkan, saya akan menjawab tahun yang menyesakkan. Saya tidak mengatakan menyesakkan buat kesejahteraan saya karena sampai akhir tahun 2020 ini saya masih diberi Allah SWT rezeki yang berkecukupan. Saya tidak mengatakan bahwa keluarga saya tergangggu kesejahteraannya. Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa sesak dada ini mellihat perilaku pemimpin negara ini yang telah membuat anak bangsa ini sesak dadanya. Bagaimana tidak sesak kalau di luar Indonesia di awal tahun ini orang sudah ribut-ribut masalah corona di negara ini pemimpin-pemimpin negara dengan angkuhnya mengatakan kalau negara ini tidak akan mungkin terpapar pandemi covid-19? Bagaimana tidak sesak kalau dalam sebagian anak bangsa ini banyak yang berjuang dengan maut karena corona enak-enaknya saja anggota dewan yang katanya terhormat mensahkan UU yang kontroversial, seperti UU Cipta Kerja yang memakan korban yang tidak sedikit? Bagaimana tidak sesak kalau ada kado yang tidak mengenakkan apalagi kalau bukan perilaku pejabat publik yang bernama menteri tega-teganya makan uang haram bantuan sosial yang seharusnya disalurkan sepenuhnya pada anak bangsanya yang terpapar ekonominya akibat pandemi covid-19? Bagaimana juga tidak sesak dada ini kalau terjadi lagi pelanggaran HAM oleh pihak berwajib yang menghabisi nyawa bangsa sendiri lewat peluru yang dananya dibeli dari uang rakyat? Saya sesak melihat pemimpin-pemimpin bangsa ini yang sampai sekarang hanya memberi janji tentang Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah terpampang di sila kelima Pancasila yang tidak pernah dan mungkin juga tidak mau mewujudkannya. Wajar saja kalau dada ini sesak lihat perilaku rezim yang berkuasa saat ini.

***

Diakui atau tidak pemimpin-pemimpin negeri ini baik di masa orde baru maupun orde reformasi tidak berkeinginan mewujudkan keadilan sosial terhadap anak bangsanya. Buktinya, pasca orde lama (kalau orde lama bisa dimaklumi karena kondisi negara yang baru merdeka mengalami banyak tantangan baik dari luar maupun dari dalam negeri sendiri) sampai saat ini masih ada keluhan kalau mereka diperlakukan tidak adil oleh rezim yang berkuasa. Di masa orde baru salah satu peristiwa yang memilukan adalah penggusuran besar-besaran pada saat Pembangunan Waduk Kedung Ombo (PWKO) yang memakan korban di dua puluh desa (tiga kabupaten) di Jawa Tengah. Mereka-mereka yang jadi korban PWKO selain dibayar murah baik tanah maupun bangunannya juga diteror habis-habisan. Aparat militer dan kepolisian mengintimidasi masyarakat di sekitar Kedung Ombo dengan ancaman pidana subversif. Mereka-mereka yang menolak program PWKO diberi stigma makar dan di KTP-nya dicap ET (Eks Tahanan Politik). Sampai begitu kejinya perlakuan rezim orde baru pada mereka. Wajar saja kalau memang rezim yang berkuasa pada waktu itu tidak ada keinginan untuk mewujudkan keadilan sosial. Justru yang dilakukan adalah menciptakan kemiskinan struktural.

Penggusuran besar-besaran pemah terjadi di masa pemerintahan Orde Baru saat pembangunan waduk Kedung Ombo. Proyek yang dibiayai dengan pinjaman dari Bank Dunia (US$ 156 juta) dan Bank Ekspor Impor Jepang (US$ 45 juta) itu menghilangkan 20 desa di tiga kabupaten: Sragen, Boyolali, dan Grobogan, Jawa Tengah. Tempo pada 27 April 1991, lewat laporan berjudul “Mereka yang Bertahan di Kedung Ombo”, mencatat total ada 5.399 keluarga yang tergusur atau sekitar 27 ribu orang.

Proyek membangun bendungan Sungai Serang ini mulai digarap pada 1984 dan beberapa wilayah mulai “dibebaskan”. Namun, sejak 1986, proses pembebasan lahan mulai kisruh. Masyarakat pemilik lahan banyak yang merasa kecele. Mereka mengingat pemyataan Menteri Dalam Negeri saat itu, Soepardjo Rustam, bahwa ganti rugi tanah Kedung Ombo sebesar Rp 3.000 per meter persegi. N amun mereka menerima kurang dari itu.

Dalam surat keputusan Gubemur Jawa Tengah, ganti rugi untuk Kedung Ombo besarannya Rp400 per meter persegi buat sawah, Rp 350 untuk lahan kering, Rp730 buat pekarangan, Rp 2.150-7.380 untuk 1 meter persegi rumah, dan Rp30-2.000 buat setiap batang pohon. Besaran ganti rugi tersebut membuat warga Kedung Ombo tak dapat membeli lahan yang sama luasnya di desa-desa tetangga. Mereka menuntut ganti rugi sebesar yang disebutkan Menteri Dalam Negeri. Karena itu, proses ganti rugi berjalan alot. Pemerintah Orde Baru mulai kehilangan kesabaran karena proyek itu mesti diresmikan secepatnya tahun ini.

Aparat militer dan kepolisian mulai mengintimidasi masyarakat dengan ancaman pidana subversi. Para tokoh masyarakat yang keras menolak diberi stempel anti­pembangunan hingga makar dan menerima cap “ET” (  eks tahanan politik) di kartu tanda penduduk mereka.

(Majalan Tempo, 20 Desember 2020)

Apakah di masa reformasi tidak ada lagi penggusuran? Apakah bisa dijamin pembangunan infrastruktur yang kini sedang giat-giatnya dijalankan oleh rezim yang berkuasa saat ini dijamin minim penggusuran? Atau kalau memang berkaitan dengan pelanggaran HAM semakin berkurangkah pelanggaran HAM yang berkaitan dengan penggusuran di negara ini? Majalah Tempo edisi 20 Desember 2020 mencatat pembangunan infrastruktur yang sedang giat-giatnya di laksanakan pemerintah ternyata menyisakan pelanggaran HAM di lima proyek infrastruktur: Pembangunan Bandar Udara Internasional di Kulon Progo, DIY; Pembangunan 10 Destinasi Wisata Baru; Pembangunan Waduk Lambo, Nagekso, NTT; Pembangunan Jalan Tol Lintas Sumatera; dan Penggusuran Masyarakat Adat di Langkat, Sumatera Utara. Anehnya, penguasa negeri ini dengan entengnya mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur merupakan upaya negara melindungi hak asasi rakyat. Bagaimana melindungi hak rakyat kalau berbagai pembiaran terhadap pelanggaran HAM merupakan catatan merah pemerintah yang berkuasa saat ini? Boro-boro pemerintah mau mewujudkan kesejahteraan melalui pembangunan infrastruktur yang berakhir dengan sekian banyak penggusuran, kasus-kasus terdahulu saja yang tergolong pelanggaran HAM berat sampai sekarang  belum bisa diwujudkan. Apakah bisa dijamin pemerintah yang berkuasa saat  ini bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat kalau berbagai kasus penggusuran menyisakan pelanggaran HAM? Mimpi saja kali kalau rezim yang berkuasa saat ini mau mewujudkan negara sejahtera.

MEMPRIORITASKAN pembangunan infrastruktur, pemerintah mengorbankan hak asasi manusia. Pelanggaran itu terjadi dengan terang benderang dalam lima proyek strategis nasional yang ditelisik majalah ini: kekerasan terhadap penduduk yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan juga perampasan hak ekonomi, sosial, dan budaya mereka. Kelima proyek itu adalah pembangunan bandar udara intemasional di Kulon Progo, Yogyakarta; pembangunan  10 destinasi wisata barn; pembangunan Waduk Lambo, Nagekeo, di Nusa Tenggara Timur; pembangunan jalan tol lintas Sumatera; serta penggusuran masyarakat adat di Langkat, Sumatera Utara.

Di Bandara Intemasional Yogyakarta, misalnya, pembangunan dimulai meski belum ada kesepakatan dengan semua pemilik tanah. Manakala pemilik lahan yang  kebanyakan petani berunjuk rasa menolak relokasi, tentara dan polisi dikerahkan untuk membubarkan. Kini sebagian dari mereka kesulitan mendapatkan penghasilan. Anak-anak banyak yang tak bersekolah.

……………………………………………………………………………………………………

Indikasi pengabaian hak asasi terlihat dalam pemyataan Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember lalu. Dalam pidatonya, Presiden mengatakan pembangunan infrastruktur merupakan upaya negara melindungi hak asasi rakyat. Pandangan right to development ini, betapapun diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, mensyaratkan sejumlah hal. Di antaranya, keharusan pemerintah melindungi hak hidup rakyat, hak berpendapat, serta hak untuk tidak didiskriminasi berdasarkan ras, suku, bahasa, agama, dan jenis kelamin.

Apalagi Indonesia telah meratifikasi Konvensi Intemasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya serta menuangkannya dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005. Pembangunan yang tak mengedepankan hak warga negara bakal menjadi sorotan dunia. Gerakan menghukum negara atau korporasi yang tak menghargai HAM kini marak di dunia intemasional.

Menggunakan argumentasi hak untuk membangun, Jokowi tampaknya tengah mencari pembenaran untuk menerapkan “pembangunanisme” secara hantam kromo. Prinsip “kerja, kerja, kerja” dalam praktiknya dipakai untuk menerapkan praktik kerja cepat dengan mengabaikan tata kelola pemerintah dan hak asasi manusia.

………………………………………………………………………………………………………..

Berbagai pembiaran terhadap pelanggaran hak asasi manusia merupakan catatan merah pemerintahan Jokowi. Janji Presiden untuk menuntaskan pelanggaran HAM berat pada masa lalu hingga kini tak terwujud. Yang terjadi malah sebaliknya: Jokowi merangkul para pelanggar HAM, termasuk dengan menjadikan mereka menteri dan penasihat presiden.

Majalah Tempo, 20 Desember 2020.

***

Pelanggaran HAM yang paling menyakitkan adalah kebebasan berekspresi yang semakin dibatasi. Pembatasan kebebasan berekspresi bagi seluruh warga negara perlu dipertanyakan kalau mahasiswa, akademisi, jurnalis, dan aktivis yang mengkritik pemerintah atau mengangkat isu-isu politik harus berhadapan dengan pihak berwajib. Bagaimana pula dengan kasus wafatnya enam orang laskar pengawal HRS di Kilometer 50 TOL Cikampek yang bagian tubuhnya jelas-jelas mengalami penyiksaan pihak berwajib? Tidakkah mereka menyadari kalau penyair seperti Taufik Ismail pernah mengungkapkan dalam puisinya “Surat Ini Adalah Sebuah Sajak Terbuka” yang di dalamnya disebutkan:

Jika ingin saya tanyakan adalah

Tentang harga sebuah nyawa di negara kita

Begitu benarkah murahnya? Agaknya

Setiap bayi dilahirkan di Indonesia

Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya

Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama

Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya

Di kamar bersalin

Dan seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin

Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini

Ketika itu tak seorangpun tahu

 

Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian

Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri

Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi

Serta pajak kita semua

Di jalan raya.di depan kampus atau di mana saja

Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang

Melahirkannya. Jauh dari ayahnya

Yang juga mungkin sudah tiada

Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya

Darah telah mengantarkannya ke dunia

Darah kasih sayang

Darah lalu melepasnya dari dunia

Darah kebencian

……………………………………………………….

Petikan puisi di atas yang dijadikan prolog dalam tulisan ini masih relevan dengan kondisi sekarang ketika pihak berwajib yang cenderung represif menangani entah itu namanya demonstran atau laskar (yang belum tentu teroris). Mereka (pihak berwajib) juga tidak bisa berpikir jernih bahkan tidak juga menggunakan hati nurani yang bersih sehingga dengan kejinya menghabisi enam nyawa laskar yang disebut Taufik Ismail “..Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri/Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi/Serta pajak kita semua…” dan “..Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang/ Melahirkannya. Jauh dari ayahnya/Yang juga mungkin sudah tiada/Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya…” Apakah peristiwa itu yang memicu penguasa negeri ini yang akhirnya mengungkapkan: negara tidak boleh kalah sehingga orang semacam Rocky Gerung mengomentarinya kalau demokrasi telah mati dengan ucapan pimpinan negeri ini (lihat “Jokowi Diledek Rocky Gerung Tak Pernah Baca: Istana Norak, Demokrasi Mati”)? Kalau pimpinan negeri ini sudah mengatakan `negara tidak boleh kalah`, wajar-wajar saja kalau orang-orang yang kritis pada pemerintah diintimidasi, dikriminalisasi, dan mengalami kekerasan fisik. Dengan demikian jangan bermimpi kalau Kasus Munir akan dibuka kembali.

Sepanjang tahun 2020, Amnesty International Indonesia melakukan pemantauan terhadap situasi hak asasi manusia yang terjadi di Indonesia dan menemukan bahwa pendekatan keamanan yang berlebihan dalam merespon pandemi COVID-19, pemaksaan agenda sektor ekonomi dan serangkaian kebijakan publik lainnya berdampak negatif pada hak-hak asasi manusia.

Jumlah orang yang dihukum karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap pemerintah atau menyebarkan berita bohong meningkat. Terjadi banyak intimidasi kepada mahasiswa, akademisi, jurnalis dan aktivis yang mengkritik pemerintah atau mengangkat isu-isu politik yang sensitif seperti pelanggaran HAM di Papua.

Bentuk intimidasi termasuk pencurian kredensial akun media sosial, intimidasi digital, kriminalisasi dan ancaman kekerasan fisik. Penerapan sewenang-wenang atas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menjadi salah satu ancaman terbesar kebebasan berekspresi.

Sementara itu, penegakan hukum atas kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tidak bergerak maju sama sekali, termasuk kasus Munir yang cenderung didiamkan oleh pemerintah.

(https://www.amnesty.id/tahun-2020-adalah-tahun-pelemahan-perlindungan-hak-asasi-manusia/)

***

Sebagai bukti kalau `negara tidak boleh kalah` bisa dilihat pada kasus Undang-Undang Cipta Kerja.Walaupun pengesahan undang-udang tersebut disambut aksi demonstrasi mahasiswa, aliansi masyarakat sipil, dan buruh di berbagai daerah, pemerintah dan anggota dewan tetap saja bergeming. Bahkan, mereka yang mengaku sebagai anggota dewan terhormat itu diam-diam menambahkan dan mengurangi pasal-pasal yang terdapat di undang-undang tersebut. Mereka-mereka yang teriak-teriak, yang memprotes kelahiran Undang-Undang Cipta Kerja diperlakukan secara kasar. Sedikit sekali anggota dewan yang peduli dengan anak bangsa yang digebuki dan ditangkap oleh aparat. Anggota dewan saat ini sama seperti anggota dewan di masa orde baru. Di masa orde baru anggota dewan tunduk pada putusan pemerintah sehingga usulan pemerintah selalu melenggang dengan mulus.

……………………………………………………………………………………………………….

Pada masa itu, 1977, kinerja para wakil rakyat dianggap sangat payah. DPR tak pemah sekali pun menolak Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) yang diajukan pemerintah dan tak pemah mengkritiknya. DPR juga tak pemah mengajukan rancangan undang-undang yang datang dari inisiatifDPR. Maka muncul kesan DPR sebagai tukang cap stempel pemerintah.

………………………………………………………………………………………………………..

UNDANG-UNDANG Cipta Kerja adalah kuldesak-jalan buntu tanpa celah, tanpa harapan. Disetujui rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada 5 Oktober lalu, kini undang-undang itu berada di tangan Presiden untuk disetujui dan diundangkan. Sudah banyak dibahas betapa buruk dampak undang-undang itu bagi kesejahteraan pekerja, lingkungan hidup, pemberantasan korupsi, bahkan iklim investasi. Telah banyak orang berteriak tentang jeleknya proses legislasi pembentukan undang-undang itu: dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak melibatkan orang ramai, dan diputuskan dalam sebuah rapat yang sekadar memenuhi prosedur demokrasi tapi meninggalkan substansi demokrasi itu sendiri.

Setelah draf  itu diketuk, DPR diketahui masih menambahkan dan mengurangi sejumlah pasal-sesuatu yang melanggar konstitusi. Pelanggaran makin sempuma saat di luar gedung DPR, para demonstran pemrotes aturan ini justru digebuk dan ditangkapi.

……………………………………………………………………………………………………….

(Majalah Tempo, 18 Oktober 2020)

Wajar saja kalau wakil-wakil rakyat yang sekarang ini bercokol di gedung parlemen terhormat itu disebut sebagai `anggota dewan fatalis` (walaupun masih ada sebagian kecil yang demi menjaga check and balance cenderung bersikap oposisi). Kenapa? Lihat saja mereka seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Pantas saja kalau orang seperti kata Iwan Fals menjuluki mereka “Wakil rakyat bukan paduan suara/Hanya tahu nyanyian lagu “setuju……”. Wakil rakyat yang seharusnya membela kepentingan rakyat malah membela penguasa. Saking kuatnya membela pemerintah mereka tega-teganya membohongi rakyat. Akhirnya, hidung anggota dewan seperti Pinokio yang semakin sering berbohong, semakin panjang hidungnya.

***

Membicarakan anggota dewan yang fatalis, yang sudah seperti paduan suara tidak akan habis-habisnya. Bisa-bisa bukan cuma saya, kalian yang membaca tulisan ini juga akan semakin sesak dadanya. Lebih baik kita banyak belajar agar di masa depan tidak salah memilih pemimpin. Salah pilih pemimpin fatal akibatnya. Di awal-awal ketika mau merebut (saya mengatakan merebut karena pemilu, pilkada, dan pilgub penuh dengan kecurangan)  kekuasaan mereka begitu bersemangat mau mengedepankan kepentingan rakyat. Tetapi, ketika kekuasaan sudah direbut, mereka tidak bisa mengelolanya. Buktinya, hutang negara semakin membesar. Bisa dibayangkan kalau memang benar tahun 2021 akan ada peningkatan pembangunan infrastruktur sebesar 441 triliun rupiah, hutang negara ini bisa dipastikan semakin membesar (https://bisnis.tempo.co/read/1402371 /investasi-proyek-infrastruktur-di-2021-bakal-melesat-lagi?page_num=2). Dari besarnya anggaran itu bisa dipastikan berapa banyak lagi pejabat publik yang rakus harta dan kekuasaan akan menilep uang rakyat demi mempertebal kantong sendiri atau boleh juga pundi-pundi partainya?

Bukti uang rakyat bukan hanya masuk kantong sang koruptor tapi juga ada sebagian masuk ke pundi-pundi partai bukan cerita lama yang tidak perlu diingat-ingat kembali. Sampai sekarang pun masih tetap ada. Tidak usah ditutup-tutupi kalau memang para menteri yang dari partai politik atau anggota dewan yang sekarang juga tukang stempel pemerintah. Sudah banyak rakyat yang tahu tentang kinerja kalian. Tidak usah berbohong pada kami rakyat biasa. Tidak usah pakai ungkapan-ungkapan yang isinya cuma klise supaya rakyat senang. Itu semuanya `Pemberi Harapan Palsu` (PHP). Rakyat sudah tidak butuh lagi pemimpin negeri yang hanya sekedar PHP. Rakyat butuh bukti konkrit dari kerja-kerja kalian `wahai para wakil rakyat dan pimpinan negara terhormat`. Akui saja tahun ini memang tahun yang suram untuk negeri ini karena para wakil rakyat telah begitu banyak berbohong pada anak bangsa yang boleh jadi pernah memilih kalian. Tidak usah tersinggung jika kalian dijuluki sebagai pimpinan yang tidak amanah. Jika pimpinan tidak amanah, tunggu saja azab dari Allah SWT. Mungkin di dunia ini kalian bisa selamat. Tapi, pada saat nanti kalian berhadapan dengan Sang Khalik tidak mungkin kalian menghindar. `Gusti Allah mboten sare` (Tuhan tidak tidur) kata orang Jawa yang selalu menggunakan jargon tersebut. Saya hanya berharap sebelum Allah mencabut nyawa kalian, bertobatlah. Sadarilah bahwa kekuasaan itu umurnya pendek. Umur kita semua di dunia ini juga pendek jika dibandingkan dengan nanti di akhirat. Untuk itu, jangan lagi bikin dada anak bangsa ini sesak melihat perilaku kalian. Jangan sampai rajawali `.. mematuk kedua matamu/wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka…`, kata Rendra dalam puisinya: Rajawali.

***

Ah, dada ini sesak melihat perilaku pemimpin bangsa ini. Saya sesak kalau melihat masih ada pelanggaran HAM, perlakuan yang tidak adil terhadap sebagian anak bangsa, dan pejabat-pejabat publik negeri ini yang demi kepentingan partai dan golongannya tega-teganya mengkorup bantuan sosial buat orang-orang miskin. Saya sesak kalau koruptor seperti Djoko Tjandra yang sempat melalang buana selama sebelas tahun cuma divonis 2,5 tahun. Saya sesak kalau masih banyak sesama anak bangsa yang tidak peduli dengan sekitarnya. Mereka sudah tidak peduli dengan kondisi negara ini. Mau maju atau hancur negara ini, mereka sudah tidak peduli. Mereka juga tidak memandang hina orang yang melakukan tindak pidana korupsi. Bahkan, mereka juga tidak tahu dan tidak mau tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan kenegaraan karena keterbelakangan intelektual mereka. Jangan-jangan mereka memang sengaja dibuat demikian oleh penguasa negeri ini. Sesaknya dada ini hanya bisa diobati dengan mencoba mengetuk pintu langit. Memang, hanya dengan berharap pada Yang Maha Penguasa (Allah SWT) dada ini menjadi lapang, hati ini menjadi tenang, dan Insya Allah diselamatkan dari pandemi covid-19. Bahkah, lebih jauh lagi diselamatkan baik di dunia maupun di akhirat. -mudahan saja. Wallahu`alam bissawab.

GOOD GOVERNANCE

Subagio S.Waluyo

  1. Buku-Capacity Building Pemerintah Daerah Menuju Good Governance
  2. Buku-Cetak Biru Sistem Aplikasi e-Government
  3. Buku-Kebijakan Publik dan Transparansi Pemerintahan Daerah
  4. Buku-Membangun Sistem Pemantauan dan Evaluasi untuk Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik
  5. Buku-Mengawal Perkembangan Democratic Governance
  6. Buku Pedoman-Kerangka Kerja Interoperabilitas e-Government Indonesia
  7. buku-Prinsip-Prinsip dalam Penyelenggaraan Pemerintahan
  8. Buku-Sistem Informasi dan Manajemen e-Government
  9. Modul 1-Hukum Administrasi Negara-Materi IX: Good Governance
  10. Modul-Tata Kelola Pelayanan Publik Berbasis Standar
  11. Penelitian-Analisis Penerapan Good Governance oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Kota Bandar Lampung dalam Keterbukaan Informasi Publik

BAHAN PEMBELAJARAN: NEGARA SEJAHTERA

 Subagio S.Waluyo

  1. Bentuk Hukum Negara
  2. Budaya Politik di Indonesia
  3. Budaya Politik di Indonesia-2
  4. Dehumanisasi Anak Jalanan
  5. Desa Membangun Indonesia
  6. Desa Mengembangkan Penghidupan Berkelanjutan
  7. Dinamika Kampung Kota Prawirotaman dalam Perspektif Sejarah dan Budaya
  8. Ekonomi Kreatif Pilar Pembangunan Indonesia
  9. Istilah dan Pengertian Negara
  10. Kesejahteraan dan Kemiskinan
  11. Konsep Desentralisasi
  12. Naskah Akademis dan RUU Sistem Kesejateraan Sosial Nasional
  13. Negara Kesejahteraan (Welfare State)
  14. Negara Kesejahteraan (Welfare State) 
  15. Negara Kesejahteraan dan Wajah Jaminan Sosial Indonesia
  16. Negara Maju dan Negara Berkembang
  17. UU Nomor 11 Tahun 2009-Kesejahteraan Sosial
  18. UU Nomor 7 Tahun 2012-Penanganan Konflik Sosial 

GURU ADA GURU TIADA (2)

Subagio S.Waluyo

  1. Merdeka! Merdeka! Merdeka
  2. Qarun Sang Kapitalis
  3. Hoax Hasanah
  4. Negeri Kolam Susu
  5. Negeri Kolam Air Mata
  6. Bangsa Rajawali
  7. Ide-Aktivitas-Produk-Ide 
  8. Bahasa Menunjukkan Kualitas Diri
  9. Kesolehan dan Kesosialan
  10. Menegakkan Benang Basah
  11. Membangun Kreativitas, Membangun Kepemimpinan, Membangun Bangsa (1)
  12. Membangun Kreativitas, Membangun Kepemimpinan, Membangun Bangsa (2)
  13. Membangun Kreativitas, Membangun Kepemimpinan, Membangun Bangsa (3)
  14. Menggoyang Menara Gading
  15. Ebiet Mengajak Kita Mencintai Allah 
  16. Penderitaan dalam Jantera Biang Lala 
  17. Sosok Perilaku Guru dalam Pandangan Dua Penyair: Hartojo Andangdjaja dan WS Rendra 
  18. Menjauh dari Kenyataan  Hidup
  19. Lewat Puisi Amir Hamzah Bicara tentang Cinta pada Tuhan
  20. Berlindung pada 5 K

GURU ADA GURU TIADA (1)

Subagio S.Waluyo

  1. Sekilas tentang Manusia
  2. Semua Orang Membutuhkan Cinta
  3. Dengan Cinta Guru itu Mengajar
  4. Guru Ada Guru Tiada
  5. Regulasi Diri (1)
  6. Regulasi Diri (2) 
  7. Regulasi Diri (3) 
  8. Regulasi Diri (4)
  9. Kota Anak-Anak Alfa
  10. Naik Kereta Api Tut..Tut..Tut
  11. Meok
  12. Budaya Copas
  13. Rendah Diri-Rendah Hati 
  14. Blindspot
  15. Lelah dan Lengah
  16. Bagaimana Nanti Versus Nanti Bagaimana
  17. Jangan Jadi Kapitalis
  18. Orang Miskin Dilarang Bla..Bla..Bla 
  19. Berat Kepala-Berat Kaki
  20. Xenofobia-Inferior