Subagio S. Waluyo

        Di samping bisa menulis deskripsi berkaitan dengan peristiwa yang dialaminya, seseorang bisa juga menulis deskripsi berdasarkan pengalaman hidupnya. Maksudnya, seseorang bisa saja menulis tulisan yang bersifat argumentasi yang didahului dengan tulisan deskripsi. Tulisan dengan judul `Kota Anak-Anak Alfa` yang dijadikan salah satu contoh tulisan di sini, ditulis oleh penulisnya (saya sendiri) sebagai pengantar sebelum membahas lebih jauh tentang gambaran anak-anak yang lahir di atas tahun 2010. Anak-anak yang lahir di tahun 2010 disebut sebagai `Anak-anak Alfa`. Mengutip pendapat Mark Mc Crindle (Nova, 22 September 2015), dimaksudkan dengan `generasi alfa` atau `generasi broadband` atau mobile ialah generasi keturunan awal generasi Y dan  terakhir generasi X. Karena yang dibicarakan adalah anak-anak yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia, jadilah tulisan tersebut berjudul `Kota Anak-Anak Alfa`.

        Berkaitan dengan uraian di atas, ketika seseorang menulis deskripsi bisa saja tulisannya berisikan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa seperti yang dibahas di “16. Belajar Menulis Wacana Deskripsi (1)”, bisa juga berkaitan dengan suasana seperti yang akan kita bahas berikut ini. Ketika menulis wacana deskripsi yang berkaitan dengan suasana, seseorang bisa menggambarkan secara mendetail suasana yang dirasakannya. Dalam tulisan yang akan dibahas berikut ini saya selaku penulis menggambarkan suasana masa kecil penulis di tahun-tahun `60-an dan `70-an di Jakarta. Suasana Jakarta di tahun-tahun tersebut jelas sangat jauh berbeda dengan suasana saat ini. Silakan di simak wacana deskripsi berikut ini yang menggambarkan aktivitas masa kecil saya di kota Jakarta.

Masa kecil saya banyak diisi dengan aktivitas bermain. Di benak saya ketika itu tidak ada pikiran lain kecuali bermain. Buat saya dengan bermain pada waktu itu ada rasa kepuasan diri yang tidak ternilai. Kalau ditanya tentang waktu-waktu saya belajar di  luar sekolah, sedikit sekali waktu saya untuk belajar. Belajar hanya dilakukan di malam hari. `Itu pun selesai belajar (yang hanya paling lama satu jam), ya bermain lagi sampai datang rasa kantuk atau capai baru selesai bermain. Itulah dunia masa kecil saya, masa kecil yang merasa puas bila diisi dengan bermain.

Selain, belajar di malam hari sore harinya (itupun cuma paling lama satu jam) saya mengaji. Mengaji waktu itu baru sekedar belajar membaca Al-Qur`an (alif ba ta). Orang tua saya sengaja mendatangkan guru mengaji (ustadz) ke rumah. Saya dan adik-adik saya ikut belajar mengaji. Selesai mengaji saya ke mushola yang letaknya di sebelah rumah untuk salat magrib. Sementara menunggu waktu salat, sebagai anak-anak ya saya gunakan untuk bermain. Singkatnya, k apan saja ada kesempatan tidak ada aktivitas yang lain kecuali bermain.

Orang tua saya bukan melakukan pembiaran kalau aktivitas anaknya cuma bermain. Sekali-sekali juga turut memarahi. Bahkan, kalau dalam pandangan mereka sang anak sudah dianggap keterlaluan karena seringnya bermain, sekali-sekali juga orang tua saya menjewer atau menyentil telinga. Tetapi, namanya juga anak-anak, perilaku yang dalam pandangan mereka dinilai negatif (karena seringnya bermain) tidak akan mempan, tetap saja saya dan adik-adik mengulanginya lagi. Meskipun saya lebih banyak waktunya untuk bermain daripada belajar atau mengaji, prestasi belajar saya di sekolah tidak pernah buruk. Jika ada pekerjaan rumah (PR), tanpa disuruh segera saya kerjakan. Kalau PR itu sulit (terutama untuk belajar berhitung atau matematika) saya bertanya pada teman-teman yang pendidikannya jauh lebih tinggi daripada saya. Di samping itu, dalam masalah ibadah sejak kecil saya sudah terbiasa salat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan. Mungkin karena kebiasaan positif ini yang membuat orang tua saya pada akhirnya jenuh menegur atau memarahi saya.

Ketika kecil orang tua saya jarang membelikan mainan. Pada waktu itu walaupun sudah ada jenis mainan produksi pabrik (kebanyakan produk-produk luar dari China), orang tua saya sekali-sekali saja membelikan mainan. Mungkin karena ada kebiasaan buruk yang saya lakukan, yaitu mainan yang mereka belikan umumnya umurnya tidak panjang. Kalau tidak rusak, karena sering dibongkar atau dikutak-katik, ya hilang tidak jelas rimbanya. Di rumah saya tidak ada tempat khusus untuk tempat mainan (tidak seperti sekarang ketika saya mempunyai anak dan cucu). Buat saya dan adik-adik dengan jarangnya orang tua membelikan mainan tidak jadi masalah karena masih banyak permainan yang bisa mengisi aktivitas bermain saya yang tentu saja tidak akan mengurangi kesenangan saya.

Dengan jarangnya orang tua membelikan mainan produk pabrik, saya dan adik-adik menjadi kreatif. Apapun barang-barang bekas di hadapan saya pada waktu itu jadi mainan. Kalau ada kulit jeruk bali, saya jadikan mobil-mobilan. Kalau ada kertas bekas, saya jadikan pesawat terbang atau kapal laut. Bahkan, sekali-sekali saya buat layangan dari kertas koran atau kertas bekas pembungkus (semacam kertas minyak yang berwarna merah, kuning, hijau, atau putih). Uang jajan saya belikan benang gelasan. Sekali-sekali dengan teman-teman saya buat benang gelasan dengan hanya melihat orang yang membuat benang gelasan. Walaupun hasil buatan saya tergolong tidak bagus, buat saya yang penting saya bisa ikut bermain layang-layang.

Kali lain, ada balon gas yang sudah meletus saya bakar untuk dijadikan alat menangkap capung. Karena kurang hati-hati, hasil bakaran itu mengenai tangan kiri saya. Lumayan panas dan melepuh. Beberapa hari tangan saya melembung seperti ada cairan. Ketika saya tusuk cairan itu, sakitnya luar biasa. Tapi, memang dasar anak-anak, tetap saja saya melakukan hal yang sama walaupun saya telah belajar dari pengalaman terdahulu agar tidak lagi melukai tangan saya. Lelehan balon itu saya tempelkan di lidi. Jadilah dengan alat itu saya menangkap capung. Benar-benar permainan yang murah yang menimbulkan kepuasan jiwa anak-anak.

Untuk membeli mainan tradisional seperti meriam bambu, saya harus merogoh dari kantung sendiri. Dulu di pinggiran kali Ciliwung ada orang yang menjual bambu-bambu yang bisa digunakan meriam bambu. Biasanya, saya membeli bambu bersama adik-adik saya dan beberapa teman. Bermain meriam bambu dengan modal yang relatif kecil sangat menyenangkan. Tetapi, aktivitas meniup asap yang ada di bambu yang diteruskan dengan menyundutnya sehingga terdengar gelegarnya sebuah kenikmatan tersendiri  meskipun suara letupannya jika dibandingkan dengan petasan tentu saja jauh lebih keras suara petasan.

Terkadang sebagai anak-anak, mungkin ini efek dari seringnya baca-baca komik yang penuh dengan cerita heroik atau nonton film-film perang di TV (pada waktu itu cuma ada TVRI) yang hitam putih saya dan teman-teman membuat ketapel. Lagi-lagi bahan dasar untuk membuat ketapel juga dari barang-barang bekas yang ada di sekitar kita yang sangat mudah didapat. Masih tentang kisah-kisah heroik, karena saya dan teman-teman sering nonton tv yang bercerita tentang kehebatan samurai yang tokohnya utamanya (kalau tidak salah) Shintaro, saya membuat pedang-pedangan dari bambu bekas pagar rumah. Sebagai pelindung agar tangan yang memegang alat itu tidak terluka ketika bermain saya gunakan karet bekas sendal jepit  yang dipotong  pas ukuran genggaman tangan. Singkat kata, semua benda yang dijadikan mainan relatif dari bahan-bahan yang mudah didapat. Kalau terpaksa harus beli, juga tidak harus merogoh kantung terlalu dalam alias murah. Jadi, permainan anak-anak di masa itu yang mahal bukan harganya tetapi kreativitasnya.

Meskipun saya lahir tinggal dan besar (sampai dewasa dan berkeluarga) di ibukota, Jakarta, kondisi Jakarta pada tahun-tahun `60-an dan `70-an tidak seperti sekarang. Pada waktu itu halaman-halaman rumah masih cukup luas. Masih banyak didapati tanah lapang yang bisa saya gunakan untuk bermain dengan teman-teman. Segala macam bentuk permainan anak-anak yang sekarang ini dikenal sebagai permainan tradisional banyak dimainkan. Umumnya, permainan tradisional itu sebagian besar tidak perlu keluar uang. Permainan anak-anak seperti `galasin` (kalau di Jawa Tengah dinamakan `gobak sodor`) yang dimainkan secara massal yang terbagi dalam dua grup (satu grup bisa sampai empat atau enam orang). Permainan ini hanya butuh tanah yang agak luas dan rata (ada tanah yang luasnya 100 meter juga sudah cukup) atau kalau ada lapangan badminton yang sedang tidak digunakan juga bisa dipakai untuk bermain `galasin` (bahasa Jawanya `gobak sodor`). Permainan ini akan terasa lebih nikmat jika dimainkan di malam hari ketika terang bulan.

Hampir semua permainan anak-anak yang tergolong tradisional yang bisa dimainkan bersama-sama dan tidak butuh biaya (kalau terpaksa harus keluar uang juga relatif murah), seperti `petak umpet`, `benteng`, `egrang`, `perang-perangan`, `bola kasti`, `layangan`, dan `galasin` membutuhkan tenaga ekstra. Dengan bermain `galasin saja, misalnya, anak harus bisa berlari cepat, lincah, cekatan, dan harus bisa mengelabui musuhnya yang menjadi penjaga. Jenis permainan seperti galasin juga mebutuhkan kekompakan kelompok. Dalam permainan ini dibutuhkan adanya kesatuan komando sehingga untuk bisa memainkannya dengan apik harus ada satu orang yang menjadi kepala regu.

Permainan yang membutuhkan tenaga yang kuat, keterampilan,  dan keseimbangan seperti `egrang` tidak semua anak bisa memainkannya. Agar anak bisa memainkan `egrang` dengan lancar dibutuhkan latihan berkali-kali. Banyak juga anak yang tidak bisa menjaga keseimbangan ketika bermain `egrang` sering terjatuh dan terkilir. Jenis permainan seperti ini memang sedikit membahayakan. Tetapi, tetap saja, jenis permainan ini menggembirakan baik bagi anak yang bermain maupun yang hanya menjadi penonton. Sebagai pelengkap, perlu juga diketahui permainan tradisional yang dimainkan anak-anak juga mengajarkan anak belajar berhitung. Jenis permainan seperti `congklak`/`dakon` baru bisa dimainkan kalau anak sudah bisa berhitung. Tentu saja, ini yang sangat perlu diketahui, semua jenis permainan tradisional membutuhkan keterampilan dan kejujuran.

(Dikutip dari “Kota Anak-Anak Alfa” oleh Subagio S.Waluyo)

        Tulisan di atas menggambarkan masa kecil saya (selaku penulis) yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bermain. Jika di bandingkan dengan anak-anak alfa seperti sekarang ini, aktivitas bermain saya di waktu kecil lebih kreatif. Di atas digambarkan permainan yang saya lakoni di waktu kecil pertama, ada kebersamaan, seperti bermain petak umpet atau  perang-perangan. Kedua, dibutuhkan energi, seperti bermain galasin (gobak sodor) dan bermain bola kasti. Ketiga, dibutuhkan keterampilan khusus, seperti bermain egrang (bahkan permainan ini juga dibutuhkan keseimbangan dan keterampilan). Keempat, dibutuhkan kemampuan berhitung, seperti bermain congklak (dakon). Kelima, dibutuhkan kreativitas dengan memanfaatkan semua benda yang ada di hadapan kita, seperti membuat perahu-perahuan dari kulit jeruk bali atau membuat benang gelasan untuk bermain layang-layang atau membuat layang-layang dari kertas koran. Singkatnya, tulisan di atas jelas-jelas menggambarkan permainan tradisional membutuhkan keterampilan, kreativitas, dan kejujuran. Bagaimana dengan permainan anak-anak sekarang ini? Anak-anak yang lahir di atas tahun 2010 (bahkan beberapa tahun sebelumnya), boleh dikatakan jauh dari kebersamaan, keterampilan, kekuatan energi, kreativitas, dan kejujuran.

***

      Daron Acemoglu dan James A.Robinson ketika menulis Mengapa  Negara Gagal memulainya dengan mengambil contoh dua kota di dua negara. Uniknya kota itu sama namanya. Satu di wilayah Amerika Serikat (AS), kota Nogales, Arizona. Satu lagi di wilayah Meksiko, Nogales, Sonora. Kedua penulis itu mendeskripsikan kedua kota tersebut bukan sebatas adanya pagar tapal batas, tapi juga suasana dan kondisi kota berikut penduduknya. Disebutkan terlebih dahulu kota Nogales, Arizona yang terletak di sebelah utara. Kota ini pendapatan per kapitanya tergolong tinggi, yaitu $30.000 per tahun. Secara fisik mereka sehat karena terjamin oleh sistem pelayanan kesehatan di AS. Orang-orang lansia juga dijamin oleh asuransi kesehatan. Kebutuhan penduduknya entah itu listrik, jaringan telepon, sampai dengan jaringan jalan terhubung dengan baik ke beberapa kota. Bahkan, pendidikannya juga terjamin karena para remaja di kota tersebut berpendidikan minimal menengah ke atas. Meskipun tidak bersih dari korupsi (sesekali ada korupsi) umumnya beranggapan kalau itu semua dilakukan untuk melayani masyarakat juga. Yang lebih penting, masyarakat diberi kebebasan untuk melakukan entah pemilihan walikota,anggota kongres, senator, dan presiden.

       Bagaimana dengan kota Nogales, Sonora yang terletak di wilayah Meksiko? Justru, kebalikannya dengan kota Nogales, Arizona, yang jauh lebih makmur. Kota Nogales, Sonora, benar-benar kondisinya memprihatinkan. Nanti bisa kita lihat pada tulisan di bawah ini. Meskipun demikian, ada satu hal yang menarik dari tulisan kedua penulis buku tersebut ketika mengawali tulisan membandingkan dua kota yang bersebelahan, yaitu menampilkan dua sisi kota yang bernasib berseberangan. Dari kota yang penduduknya bernasib kurang baik boleh jadi itu merupakan jawaban pertama dari judul buku yang diawali dengan kata tanya `mengapa`. Judul buku Mengapa Negara Gagal sudah langsung dijawab dengan tulisan deskripsi yang berisikan nasib dua kota yang nasib penduduknya juga berbeda. Untuk lebih jelasnya kita baca saja tulisan berikut ini.

       Kota Nogales terbelah oleh bentangan pagar tapal batas. Jika Anda berdiri di balik pagar itu dan menghadap ke utara, di depan mata terhampar kota Nogales, Arizona, yang termasuk ke dalam wilayah Santa Cruz County. Pendapatan perkapita rata-rata warga di sana kurang lebih $30.000 per tahun. Kebanyakan remajanya bersekolah dan mayoritas warga dewasa lulus sekolah menengah. Meski banyak orang mengecam payahnya sistem pelayanan kesehatan Amerika Serikat, populasi kota Nogales, Arizona relatif sehat dan harapan hidup mereka cukup tinggi menurut standar global. Banyak warganya yang sudah berusia di atas enam puluh lima tahun dan memiliki akses layanan asuransi kesehatan. Jaminan kesehatan adalah satu dari sekian banyak layanan pemerintah yang pasti bisa dinikmati warga, seperti halnya sambungan listrik, jaringan telepon, sistem pembuangan limbah, pelayanan kesehatan publik, jaringan jalan yang menghubungkan segenap penduduk dengan kota-kota lain di wilayah itu dan semua penjuru Amerika Serikat jaminan penegakan hukum dan ketertiban. Para warga Nozales, Arizona, bebas beraktivitas setiap hari tanpa mencemaskan keselamatan jiwanya, tanpa takut dirampok atau haknya dirampas, atau mencemaskan hal-hal lain yang bisa mengacaukan investasi mereka dalam bidang usaha maupun kepemilikan tempat tinggalnya. Dan yang tak kalah penting, para warga kota Nogales, Arizona, tahu bahwa pemerintah yang dianggap kurang efisien dan sesekali korup itu bekerja untuk mereka. Mereka bisa memberi suara untuk mengganti walikota, anggota kongres dan senator, serta mengikuti pemilu kepresidenan untuk memilih orang yang akan memimpin negaranya. Demokrasi sudah mendarah daging dalam kehidupan mereka.

       Kehidupan di sebelah selatan pagar tapal batas, walau jaraknya hanya beberapa meter, terasa agak berbeda. Meski warga kota Nogales, Sonora, hidup di wilayah yang relatif makmur di negara Meksiko, rata-rata pendapatan penduduknya hanya sepertiga dari pendapatan saudara mereka yang tinggal di Nogales, Arizona. Sebagian besar warga dewasa kota Nogales, Sonora, tidak sempat mengenyam pendidikan tingkat menengah dan banyak remaja yang tidak bersekolah. Kaum ibu dicekam oleh tingginya angka kematian bayi. Kondisi pelayanan kesehatan yang buruk menyebabkan harapan hidup warga Kota Nogales, Sonora, tidak setinggi tetangga mereka yang hidup di seberang tapal batas. Mereka juga tak bisa menikmati sejumlah pelayanan publik. Jalan-jalan di sebelah selatan tapal batas kondisinya sunggu memprihatinkan. Penegakan hukum dan ketertiban umum jauh lebih mengenaskan. Angka kejahatan sangat tinggi dan membuka usaha di sana adalah aktivitas yang penuh risiko. Bukan cuma aksi perampokan yang mengancam para pelaku usaha; sulitnya mengurus perizinan dan membagi uang pelicin dari meja ke meja sekadar untuk memulai usaha menjadi risiko yang luar biasa besarnya. Sehari-hari, para warga kota Nogales, Sonora, hidup di bawah bayang-bayang politisi korup dan pemerintah yang payah.

       Berbeda dengan kehidupan tetangganya yang ada di sebelah utara tapal batas, demokrasi merupakan pengalaman baru bagi mereka. Sebelum terjadinya reformasi politik tahun 2000, Nogales, Sonora, seperti kota-kota lainnya di Meksiko, dikuasai oleh Partai Revolusioner Institusional atau Paratido Revolucionario Institucional (PRI) yang terkenal korup.

***

     Kita juga bisa menulis tentang kota Berlin yang dulu pernah terbelah ke dalam dua bagian besar: kota Berlin Barat dan Berlin Timur. Keduanya juga dikuasai oleh dua negara: Republik Federasi Jerman dan Republik Demokrasi Jerman. Kedua kota tersebut juga mencerminkan dua sisi ideologi negara: kapitalis dan komunis. Untuk menulis deskripsi yang menggambarkan tentang kedua kota tersebut, silakan dicari referensinya! Di internet banyak referensi yang pernah ditulis orang atau tim penulis tentang kedua kota tersebut. Bisa kita cari di Wikipedia atau di Google search. Silakan dicoba menulis tentang dua kota di Jerman yang pernah terbelah: kota Berlin Barat dan Berlin Timur!

 Sumber Gambar:

  1. (https://kumparan.com/yusuf-arifin/kisah-dua-nagoles)
  2. (https://bolaskor.com/post/read/union-vs-hertha-alasan-derby-berlin-jadi-laga-spesial)

By subagio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat