Bahasa dan Sastra

SASTRA DAN MASALAH SOSIAL (4)

Subagio S. Waluyo

Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Mae dan Agam, abang dan adikku.

Ketika pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret keluar, juga Agam dan Mae! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.

“Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia seorang pemimpin. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!”

(Dikutip dari Cerpen “Jaring-Jaring Merah”/Helvy Tiana Rosa)

5. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)

Pelanggaran HAM memang menjadi salah satu sumber inspirasi bagi sastrawan. Tetapi, jangan disalahartikan sastrawan menghendaki adanya pelanggaran HAM karena sastrawan justeru penentang utama segala macam bentuk ketidakadilan. Bahkan, kalau boleh dikatakan, sastrawan merupakan pejuang penegak keadilan yang konsekuen dan konsisten. Coba saja simak puisi-puisi Taufik Ismail yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Belum lagi penyair-penyair lain seperti Ikranegara, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, dan Sapardi Djoko Damono yang mereka juga tidak henti-hentinya menyuarakan hati nuraninya. Pendek kata, hampir semua sastrawan adalah orang-orang yang menyuarakan manusia dan kemanusiaan karena misi utama sebuah karya sastra adalah memanusiakan manusia.

Bertitik tolak dari penegakan HAM-lah banyak sastrawan yang menjadikan tema tersebut sebagai sumber inspirasi meskipun penegakan HAM melalui sastra hampir sia-sia saja hasilnya. Kita bisa mengatakan demikian karena demikian sedikitnya orang yang menikmati karya-karya sastra ketimbang acara-acara sinetron, kuis, musik, dan berbagai acara hiburan lainnya di layar elektronika di rumah kita. Kita lebih mudah terbius oleh acara-acara sinetron yang hanya menampilkan kepiawaian tokoh-tokoh selibritis idola kita sementara itu dunia realita kita semakin jauh dari yang sebenarnya. Sebalilknya, karya sastra menampilkan hal lain. Dunia sastra mengajak dan mengajar kita pada kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya. Sastrawan sebagai penulis karya-karya sastra mengajak dan mengajar kita untuk merenungkan makna-makna kehidupan yang termasuk ke dalamnya makna-makna penegakan HAM.

Jauh sebelum memasuki masa reformasi, beberapa tahun menjelang lengsernya Soeharto, beberapa penyair Muslim menulis puisi-puisi yang berisikan protes terhadap pelanggaran HAM di Bosnia. Tidak kurang seorang kiai NU yang cukup dikenal, KH A.Mustofa Bisri, menulis puisi seperti terlihat di bawah ini.

Bosnia adalah

Bosnia adalah wajah kita yang kusut

Bosnia adalah keangkuhan dan ketidakberdayaan kita

Bosnia adalah kita yang terkoyak-koyak

Bosnia adalah kepanikan manusia menghadapi diri sendiri

(Airmata dan darah tertumpah atau tidak

Raung atau erang yang terdengar

Atau justru hanya senyum yang sunyi

Tragedi manusia adalah saat

Kemanusiaannya lepas entah kemana)

Atau barangkali Bosnia

Adalah dunia kita yang mulai

Sekarat

(Rembang, 1992)

Siapa yang tidak tahu peristiwa genocide di Bosnia di penghujung akhir abad XX? Peristiwa pembantaian manusia yang dilakukan dengan biadab. Kalau Mustofa Bisri melihat peristiwa Bosnia sebagai lambang ketidakberdayaan umat manusia yang melihat pelanggaran di depan mata secara keji, selain itu juga merupakan tragedi kemanusiaan yang menandakan dunia kita yang semakin sekarat, Prasanti menambahkan bukti ketidakberdayaan umat manusia sehingga pihak Barat justru yang sebenarnya melakukan pembiaran terhadap peristiwa di Bosnia itu. Bahkan, pihak Barat dengan seenak perutnya menggunakan lembaga-lembaga internasional untuk mengusir orang-orang Bosnia yang tertindas.

…………………………

di The New York Review, 27 Agustus 1992, William Pfaff

menulis:

Menolong warga yang terperangkap

tanpa menghentikan pengepungan itu sendiri

sama halnya dengan menolong korban hari ini

untuk biarkan mati esok hari

Mengevakuasi warga sipil dan tawanan

dari wilayah yang terkena “pembersihan etnis”

sama saja dengan membantu Serbia mengusir orang Bosnia

atas biaya dunia Internasional

Pendek kata, pemerintah Barat hanya berusaha

mencari jalan

untuk memuaskan opini masyarakat yang berang

sambil menghindari isu-isu serius dalam krisis ini.

Paris, London, dan Washington

bukan berusaha mencegah dan menyetop agresi,

melainkan mencari jalan untuk menyelamatkan muka sendiri

 

(Majalah Tempo, 17 Oktober 1992)

Melihat perilaku Barat yang seperti itu, sangat layak kalau seorang penyair besar seperti Taufik Ismail mengirimkan ludahnya lewat amplop putih:

………………………………

Karena tak terbayang uang dan tiada minyak bumi

Kalian kirim pasukan asal‑asalan saja kini

Padahal inilah negeri yang kecil dan tak berdaya

Si alit yang lemah Bosnia‑Herzegovin

Telah dibantai di sana berpuluh ribu manusia tanpa

Senjata

Beribu perempuan digilas kehormatan utamanya

Beratus kanak‑kanak dipotongi tangan dan kakinya

Beribu orang jadi kerangka berkulit dikamp konsentrasi

Beratus ribu diusir, mengungsi, terancam dingin dan

mati

Tak kudengar kalian dengan penuh semangat melindungi

Mereka

Bersama surat ini kukirimkan ludahku padamu

Dipinggir amplop berwarna putih bersih

Yang kutulis dengan hati yang sangat pedih

(1992)

Berbicara tentang pembantaian manusia atau pelecehan HAM bukan hanya di Bosnia, di negara kita (Indonesia) pun sampai dengan memasuki masa-masa reformasi masih terjadi peristiwa serupa yang dikenal di masa orde baru Daerah Operasi Militer (DOM). DOM diberlakukan di Aceh (sekarang Nanggaroe Aceh Darussalam/NAD). DOM memakan korban sangat besar. Bukan saja terjadi pembunuhan tetapi juga perusakan moral bahkan perusakan keturunan karena banyak yang menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan pihak militer. Adalah Helvy Tiana Rosa yang merekam peristiwa mengenaskan sehubungan dengan terjadinya pelanggaran HAM di masa berlangsungnya DOM di NAD di masa orde baru dan di awal-awal masa Reformasi. Berikut petikan cerpennya “Jaring-Jaring Merah” yang merupakan cerpen terbaik Majalah Sastra Horison selama kurun waktu tahun 1990 – 2000.

……………………………………………………………………………………….

“Keluar, Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!”

Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Mae dan Agam, abang dan adikku.

Ketika pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret keluar, juga Agam dan Mae! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.

“Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia seorang pemimpin. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!”

Warga desa menunduk. Mereka tak mampu membela kami. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah!

“Jangan ada yang menunduk!”

Aku gemetar mendengar bentakan itu.

“Ayo lihat mereka. Kalian sama dengan warga Mane bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi.

“Kami bukan GPK!”suara Mae. Ulon hana teupheu sapheu!”

“Lepaskan mereka. Kalian salah sasaran!” Ya Allah, itu suara Hamzah!

“Angkut orang yang bicara itu!”

Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung, lalu ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Airmataku menderas.

“Siapa lagi yang mau membela?” tantang lelaki penyiksa itu pongah.

“Kami tidak membela, mereka memang bukan orang jahat,” suara Geuchik Harun. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. Jiibandum ureung biasa.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon.

Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun, lalu Mae abangku! Aku histeris. Tak jauh, kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi, lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.

“Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!”

Aku meronta, menendang, menggigit, mencakar, hingga aku letih sendiri. Dan aku tak ingat apa-apa lagi, saat tak lama kemudian, nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku!

Dikutip dari cerpen “Jaring-Jaring Merah”/Helvy tiana Rosa

Inong pelaku utama pada cerpen “Jaring-Jaring Merah” menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh aparat militer. Bapaknya dituduh sebagai GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) yang mendukung Hasan Tiro (Tokoh Gerakan Aceh Merdeka/GAM yang tinggal di Helsinki, Finlandia). Karena itu, keluarganya dihabisi oleh militer. Sebelum mereka menggeledah keluarganya, mereka membakari puluhan rumah penduduk. Mereka menghabisi kakaknya, Harun, dan ayahnya, Zakaria, dengan rentetan tembakan. Kemudian, mereka menyeretnya ke suatu tempat. Sedang Inong sendiri diperkosa oleh mereka. Akibatnya, Inong menderita gangguan jiwa. Inong merasa beruntung karena masih ada orang yang mengurusinya. Cut Dini, seorang aktivis LSM, aktivis masjid, yang kembali ke kampung halamannya setelah menyelesaikan kuliahnya di Jakarta menolongnya. Inilah salah satu contoh pelanggaran HAM di masa DOM masih diberlakukan di Aceh.

Lesik Keti Ara atau L.K. Ara, penyair kelahiran Takengon, Aceh Tengah, 1937 menulis puisi tentang kekejaman militer di Aceh ketika DOM masih ada di provinsi tersebut. Kita simak puisi di bawah ini.

Seureuke/L.K. Ara

telah kau simpan

apa yang patut kau simpan, Seureuke

tulang belulang dan tengkorak rakyatmu

yang ditebas dengan ganas

oleh senjata tajam

dan peluru tajam

 

telah kau rahasiakan

apa yang patut kau rahasiakan, Seureuke

nama dan asal mereka

yang dibantai kemudian dikubur di sini

 

sebagai ibu, Seureuke

engkau simpan semua

engkau rahasiakan semua

apa yang terjadi atas anak-anakmu

dan atas dirimu

 

engkau simpan derita anak-anakmu

engkau rahasiakan perih hatimu

 

Seureuke yang sepi

akan datang nanti

gerimis berhari-hari

tak henti-henti

menemani air matamu

yang menggenang di perih hatimu

1998

L.K. Ara merekam sebuah kejadian yang menimpa seorang ibu beserta anak-anaknya. Di bait pertama, penyair menulis orang-orang di sekitar Seureuke (dibacanya `Serengke` nama seorang ibu) yang menjadi korban DOM yang dengan kejinya menebas leher-leher rakyat Aceh dengan senjata tajam dan menmbakinya dengan peluru tajam. Semuanya diketahui Seureuke. Tapi semuanya menjadi rahasia bagi Seureuke karena sebagai perempuan dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menyimpannya di dalam memorinya. Dia juga merahasiakan siapa saja dan dari mana saja asal mereka, orang-orang yang dibantai dan dikuburkan dekat tempat tinggalnya oleh DOM.

………………………………….

telah kau simpan

apa yang patut kau simpan, Seureuke

tulang belulang dan tengkorak rakyatmu

yang ditebas dengan ganas

oleh senjata tajam

dan peluru tajam

 

telah kau rahasiakan

apa yang patut kau rahasiakan, Seureuke

nama dan asal mereka

yang dibantai kemudian dikubur di sini

Seureuke juga menyaksikan anak-anaknya dibunuh oleh militer. Bahkan, dia juga merahasiakan keperihan hati yang menimpa atas dirinya. Sebagai ibu yang tidak berdaya dia hanya merahasiakannya dan menyimpannya meskipun semua itu memberikan keperihan hatinya.

…………………………………….

sebagai ibu, Seureuke

engkau simpan semua

engkau rahasiakan semua

apa yang terjadi atas anak-anakmu

dan atas dirimu

engkau simpan derita anak-anakmu

engkau rahasiakan perih hatimu

Seureuke, seorang ibu yang tidak berdaya hanya bisa menangis mengingat kejadian yang menimpa dirinya, anak-anaknya, dan orang-orang di sekitarnya. Derai air mata yang mengalir akan disertai dengan gerimis hujan berhari-hari yang juga menggenangi keperihan hatinya.

……………………………………………..

Seureuke yang sepi

akan datang nanti

gerimis berhari-hari

tak henti-henti

menemani air matamu

yang menggenang di perih hatimu

Negara ini memang pada akhirnya dibanjiri air mata. Air mata yang mengalir dari orang-orang yang tidak berdaya seperti Inong atau Seureuke. Jutaan mata mengalirkan air mata sebagai simbol kepedihan dan keperihan hati. Akibat ketidakberdayaan kaum yang lemah, pada akhirnya mereka hanya menyhimpan nestapa. Mereka hanya mengubur duka lara. Meskipun demikian, satu hal yang tidak bisa disembunyikan keperihan yang mau tidak mau akan merebak ke mana-mana sebagaimana Sutardji Calzoum Bachri menulis dalam bait puisinya “Tanah Air Mata” berikut ini.

……………………………………

kami coba simpan nestapa

kami coba kuburkan duka lara

tapi perih tak bisa sembunyi

ia merebak ke mana-mana

Masalah pelanggaran HAM tampaknya masih menjadi salah satu objek bagi para sastrawan. Bahkan, masalah ini tidak akan pernah luput dijadikan objek mereka untuk mengungkapkan hati nuraninya. Selama dunia ini masih terjadi pelanggaran HAM, selama itu pula mereka mengukirkan pena-pena tajamnya di atas kertas putih dengan deraian air mata. Semua itu lebih merupakan bentuk perlawanan terhadap kedzoliman para pelanggar HAM yang memang tidak bisa dibalas dengan kekerasan karena kekerasan tidak pernah membuahkan kebaikan atau kemaslahatan umat manusia. Tetapi, dengan ketajaman pena yang tidak akan melukai fisik si pelanggar HAM justru dia akan merobek-robek hati nurani manusia pembacanya entah itu si pelanggar HAM itu sendiri yang hatinya terbuat dari batu atau pembaca yang masih memiliki hati nurani yang bersih. Meskipun upaya itu tidak akan banyak membawa hasil (karena pelanggaran HAM pada waktu yang bersamaan juga akan terus terjadi), bagi sastrawan sudah merasa cukup kalau ungkapan kepedihan hati itu bisa dituangkan dalam kata-kata berupa puisi, cerpen, novel, atau esai. Mereka juga sadar bahwa pelanggaran HAM sebagai penghilangan nilai kemanusiaan pada akhirnya tidak akan bisa dilawan dengan pena-pena tajamnya, tetapi itulah satu-satunya upaya penyelamatan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya sastra. Hartojo Andangdjaja pada akhirnya juga sadar bahwa mengungkapkan sebuah kebenaran melalui tulisan ternyata bisa berbalik pada si penulis itu sendiri. Hal itu terbukti manakala sastrawan-sastrawan besar seperti Brecht, Voltaire, Ehrenburg, dan Pasternak seperti orang yang berdosa ketika harus mengungkapkan kebenaran. Bahkan, Mayakowski pun harus bunuh diri akibat ancaman yang menimpa dirinya makala mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan yang telah dilanggar oleh pelanggar HAM.

1964

Di manakah akan kuselamatkan kini

Suaraku yang lembut bernama puisi

ketika, seperti Brecht pernah berkata:

bicara tentang pohon pun hamper suatu dosa

 

Di manakah akan kuselamatkan kini

suaraku yang sayup bernama puisi

ketika, seperti kini kita derita:

bicara tentang kebenaran adalah dosa

 

Maka aku pun tahu kini

Kenapa Voltaire dibenci

Tinggal ia di Ferney, di bumi Swiss

jauh dari Prancis

 

Aku pun mengerti kenapa Ehrenburg lari

Pasternak sepi sendiri

dan Mayakowski bunuh diri

Dikutip dari puisi “1964”/Hartojo Andangdjaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat