Bahasa dan Sastra

SASTRA DAN MASALAH SOSIAL (3)

Subagio S. Waluyo

Hidupku akan terus bergulir. Meski di Malam Tahun Baru lalu, hidupku serasa telah berakhir. Aku meratapi hubunganku yang kandas. Aku meratapi Edo yang kini terbaring di dalam tanah. Aku tak bisa menghapus kenangan ketika ia  memelukku. Ia anak kecil yang tak berdaya meminta perlindungan orang tua. Meminta perlindungan terhadap ayahnya sendiri.

(dikutip dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara) 

4.  Disorganisasi Keluarga

 Disorganisasi bukan hanya sebatas perceraian atau suami-istri tidur berpisah (pisah ranjang). Disorganisasi bisa saja entah istri atau suami yang selingkuh. Dalam novel Pintu Terlarang orang semacam Talyda memanfaatkan benar sikap Gambir, sang suami, yang memang takut sehingga melakukan pembiaran. Gambir yang takut pada istrinya (meski ia sangat mencintainya) sering diperlakukan kasar oleh istrinya. Sang istri jika tidak suka pada suaminya dengan kasar mengusir suaminya agar tidak tidur sekamar dengannya. Sebagai istri yang semestinya tunduk dan patuh pada suaminya tidak terlihat pada sikap Talyda. Sebaliknya, justru Talyda karena suaminya di bawah pengaruhnya memperlakukan suaminya seenak perutnya. Terbukti ketika suaminya salah sedikit saja, ia langsung bereaksi yang membuat suaminya benar-benar merasa bersalah. Salah satu perilaku yang diperlihatkan di sini ketika ia dengan kasar  mengusir suaminya dari kamar tidurnya. Tidak cukup sampai di situ, pada saat benar-benar marah pada suaminya, dia menenggak habis anggur yang diminumnya. Inilah salah satu dari disorganisasi keluarga. Tidak harus hidup berpisah atau cerai, cukup salah seorang (entah suami atau istri) sangat berkuasa dia bisa  melakukan apa saja, yaitu menyakiti pasangan hidupnya dengan perilaku kasar seperti yang diperlihatkan Talyda pada suaminya: Gambir.

Disorganisasi seperti diuraikan di atas bisa saja terjadi ketika suami atau istri sudah tidak ada keharmonisan. Ketidakharmonisan yang tampak pada novel Pintu Terlarang itu dibuktikan dengan perselingkuhan Talyda dengan beberapa laki-laki. Sampai sejauh itu Gambir selaku suami tidak tahu perbuatan istrinya.Dia beranggapan kalau istrinya memang sibuk berbisnis. Di saat-saat ingin menyalurkan hasrat seksualnya, Talyda berbohong dan berpura-pura berbuat manis dan mesra pada suaminya. Kebohongan demi kebohongan ia lakukan. Meskipun demikian, Gambir selalu berprasangka baik sehingga tidak ada keinginan menyelidiki perbuatan istrinya di luar rumah. Baginya, sudah cukup kalau sang istri yang tergolong cerdas dan cantik, masih setia dan siap membantunya di kala dia berhadapan dengan pekerjaan yang rumit. Talyda sendiri yang melihat sikap suaminya yang tidak sedikit pun memiliki prasangka buruk semakin liar melakukan petualangan seksnya. Tempat-tempat yang digunakan untuk melampiaskan nafsu seksualnya tentu saja di tempat-tempat yang tergolong mewah dan sangat terjaga privacy-nya. Anehnya, dia beranggapan yang dilakukannya selama ini bukan sebuah perselingkuhan. Menurut Talyda perselingkuhan itu terjadi ketika seseorang jatuh cinta pada orang lain. Selama yang dilakukan hanya persetubuhan yang tidak diiringi dengan rasa cinta bukan perselingkuhan. Sebagai bukti kalau hanya Gambir yang dicintainya, setiap kali habis bercinta dengan orang lain dia membawa korek api yang dimasukkan ke dalam toples. Toples di rumahnya sudah terisi tiga perempatnya. Toples berisikan korek api itu menjadi bukti begitu seringnya dia menghabiskan malam dengan laki-laki yang bukan suaminya. 

Belahan nyawanya  benci melihat dirinya memakai lingerie warna merah. Pakaian dalam warna merah terkait image perempuan nakal. Mungkin belahan nyawanya punya pengalaman demikian di masa lalu. Biasanya ia menurut. Tapi malam ini, ia tidak peduli.

Ia membelai bantal di mana kepala Gambir biasa merebah. Kosong. Tidak akan ada kepala meniduri bantal malam ini. Ia akan memberi Gambir pelajaran. Gambir harus menanggung akibat. “Kalau memang ia cinta, Gambir tak akan pernah melukai perasaan saya.” Ia cinta Gambir. Ia tidak akan pernah  melukai perasaan Gambir.

Gambir membuka pintu memasuki kamar tidur. Ia terkejut. Pelacur berbaju merah mengambil alih bidadarinya. Matanya mencela. Kepala menggeleng. Batin berbicara. “Ke mana Talyda, bidadariku? Istriku yang sempurna. Istriku perempuan terhormat. Jawab, perempuan jalang! Ke mana istriku?” Tapi mulut terkatup. Ia tak berani melawan murka yang masih berkecamuk di hati bidadarinya.

Geleng kepala Gambir mengelupas luka yang mulai sembuh. Amarah Talyda terusik kembali. “Mau apa kamu ke sini?! Saya nggak mau kamu tidur di sini malam ini! Kamu tidur di luar saja!”

“Maafkan saya, saya bener-bener menyesal.”

“Saya benci kamu! Kamu tidur di luar sana!” Talyda mengambil bantal, membidikkannya ke belahan nyawanya. Gambir menangkap bantal, bergegas menutup pintu.

………………………………………………………………………………………………………

Bias nyala lilin putih di tengah meja menari-nari pada wajah Talyda. Nafsu makan hilang seketika. Gambir mengecewakan. Ia melihat ke pesanan belahan jiwanya. Spaghetti Il Mare, dihidangkan bertumpuk saus kepiting, udang-karang, dan cumi. Aku tak sempurna tanpamu. Kau tak sempurna tanpaku. Aku tak sempurna tanpamu. Kau tak sempurna tanpaku. Aku belahan nyawamu. Kau belahan nyawaku. Bersama kita sempurna.

“Kamu kenapa nggak minta persetujuan saya dulu sih?”

Talyda merasa belahan nyawanya mulai melantur, mulai semena-mena. Kesempurnaan mulai terancam.

“Koh Jimmy yang maksa. Dia itu yakin banget.” Gambir serasa menyulut sumbu mercon di pemakaman.

“Maksudmu, saya nggak yakin sama kamu?” Kesempurnaan mulai terancam. Harus ditindak tegas.

“Bukannya begitu. Koh Jimmy bilang kamu pasti setuju.” Sumbu terus memercik. Terlambat bila dicegah.

Talyda menenggak habis sisa anggur. Gambir laki-laki pilihannya, di antara banyak laki-laki yang mengejarnya. Tak satu pun mampu menyaingi. Aku tak sempurna tanpamu. Kau sempurna tanpaku. Aku belahan nyawamu. Kau belahan nyawaku. Bersama kita sempurna. Kesempurnaan kini terancam. Belahan nyawanya mengambil keputusan tanpa mengajak bicara lebih dahulu.

“Gambir dengar ya. Saya ini istrimu, bukan istrinya Koh Jimmy. Kalau ada apa-apa, kamu mesti tanya dulu sama saya.” Peringatan tegas mengatasi perilaku menyimpang. Menyimpang, meninggalkan kesempurnaan.

Gambir merasa restoran Antonio`s menyempit. Menyempit, menyempit, dan kian menyempit. Menyempit hingga hanya menyisakan sudut kecil. Sudut kecil dimana Gambir duduk tak berdaya. Dilanda marah pun bidadarinya tetap cantik. Cintanya kepada Talyda tak terbatas. 

……………………………………………………………………………………………………….

Kesempurnaan bukanlah kepompong yang pasti bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan. Bellevue Suites adalah boutique hotel di Jalan Tirtayasa di kawasan Kebayoran Baru. Moto “Small is exclusive” tecermin dari jumlah kamar yang hanya sepuluh. Kata “tidak bisa” tak dikenal dalam pelayanan. Semua permintaan tamu mutlak disanggupi. Privacy dinomorsatukan. Inilah sebabnya hotel ini kemudian menjadi tempat favorit bagi pasangan berselingkuh. Tidak akan pernah ada yang  melihat, tidak akan pernah ada yang mengetahui.

Di kamar nomor delapan, Talyda mengenakan kembali gaun hitam rancangan Donna Karan. Dari bibir tempat tidur, lamunan melayang ke masa lalu. Ia teringat pertama kali mengenal seks.

…………………………………………………………………………………………………………..

Pandangan dilayangkan pada tubuh telungkup di tempat tidur. Tubuh telanjang tak bernama. Tubuh telanjang tak beralamat. Meraka tadi bertukar pandang pada laju kecepatan seratus kilometer. Mereka bertukar senyum ketika berhenti di lampu merah. Tubuh tak bernama mengikuti hingga ke kamar nomor delapan.

Semalaman, mereka berdua berbagi cinta. Singa betina menaklukkan raja belantara. Beban tak hinggap pada hati nurani Talyda. Bercinta dengan pasangan tak dikenal menjadikan semuanya lebih mudah. Tidak akan ada yang menuntut. Tidak akan ada yang disakiti.

…………………………………………………………………………………………………..

Talylda membenci kata selingkuh. Ia marah bila perbuatannya dikategorikan sebagai perselingkuhan. Baginya berselingkuh adalah ketika seseorang yang telah berpasangan memberikan hati kepada orang lain. Mencintai atau jatuh cinta kepada orang lain. Sementara, dirinya tidak demikian. Ia tetap mencintai Gambir. Cintanya tetap milik Gambir seorang.

Petualangan badaniah dengan laki-laki lain hanyalah upaya meyakinkan dirinya bahwa Gambir suami paling tepat. Suami yang sempurna. Petualangan memperkuat cinta kepada belahan nyawanya. Semua yang dilakukan sifatnya hanya fisik belaka. Boleh secara fisik ia dicicipi banyak orang, tapi cintanya tetap milik Gambir seorang.

Tangannya mencemplungkan korek api ke dalam stoples. Stoples sudah tiga perempat terisi berbagai macam korek api. Ia memiliki kebiasaan baru, mengoleksi korek api dari hotel-hotel di mana ia menginap. Setiap petualangan ditandai bukti satu korek baru.

Dikutip dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara

Beginikah gambaran kehidupan rumah tangga zaman kiwari? Sampai-sampai sebuah pengkhianatan seorang istri yang melakukan perzinahan dengan laki-laki hidung belang kalau tidak ada unsur rasa cinta bukan perselingkuhan? Sepertinya ada pergeseran makna tentang perselingkuhan. Apakah ini sebuah pertanda bahwa di negara ini orang semakin permisif karena tuntutan kehidupan global dan modern memang seperti itu. Atau boleh juga orang dengan sengaja mengalihkan kata `perselingkuhan` yang semula sebagai pengganti `perbuatan serong` seorang suami atau istri dalam bentuk pemuasan hasrat seksual pada orang lain yang bukan suami atau istrinya? Bagaimana foto-foto keluarga atau dalam shooting-shoting pasangan suami istri di media-media elektronik yang memperlihatkan seolah-olah mereka pasangan yang ideal dan berbahagia. Kebahagiaan yang mereka perlihatkan sebenarnya kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan yang penuh dengan kebohongan. Kebahagiaan yang penuh kepura-puraan. Kehidupan suami-istri seperti ini kalau masih terlihat harmonis, itu hanya upaya pembohongan publik. Dalam bahasa yang populer, sekedar jaga imej alias `jaim` atau pencitraan. Bukankah di negara ini bukan hanya pimpinan rakyatnya juga terkena penyakit `jaim` alias gila pencitraan?

Sosok Talyda dalam novel Pintu Terlarang juga termasuk gila pencitraan. Ketika Talyda dilamar Gambir, sang ibu menyampaikan kalau Gambir seorang seniman yang kata ibunya hidupnya susah. Jawaban Talyda waktu itu demikian mantap kalau dia mau menikah dengan Gambir lebih karena cinta. Tentang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan tegas dia katanya seorang pengusaha yang tergolong sukses sehingga dijamin tidak sangat bergantung pada Gambir. Seiring dengan berjalannya usia pernikahan, tampak warna sifat aslinya ketika dia dengan bengisnya  mengusir Gambir yang terlihat pada kutipan di atas. Memang, Talyda tergolong orang yang cerdas, pengusaha yang berhasil meneruskan usaha orang tuanya. Bahkan, saking berhasilnya mengelola perusahaan, perusahaannya termasuk di antara sepuluh perusahaan terbaik di negara ini. Meskipun demikian, dia juga harus menyadari bahwa keberadaannya sebagai istri biar bagaimanapun tetap harus di bawah kendali suaminya. Bukan malah sebaliknya, Gambir di bawah kekuasaannya sehingga dengan seenaknya saja dia  memperlakukan suaminya. Yang lebih menyakitkan lagi, Talyda berselingkuh dengan sekian banyak laki-laki.

Kalau ada pepatah yang mengatakan `sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga`, masalah perselingkuhan Talyda dengan beberapa laki-laki (termasuk dengan teman-teman suaminya dan yang lebih gila lagi dengan adik iparnya sendiri) akhirnya ketahuan juga oleh Gambir. Semua itu berawal dari kecerobohan istrinya yang meninggalkan memo di samping telpon. Gambir membaca memo yang tertinggal itu. Di situ jelas-jelas sekali disebutkan tempat pertemuan istrinya dengan seseorang ketika sebelumnya dia mendengar percakapan istrinya (menurut pengakuan istrinya telpon dari ibu mertuanya). Kebohongan yang tersimpan selama ini terbongkar. Gambir bertindak cepat. Dia menuju tempat yang tertulis di memo itu. Sesampainya di tempat itu dia tunggu di dekat pintu lift. Begitu istrinya ke luar dia tidak segera menyapanya. Dia membiarkan istrinya berlalu. Dia justru mengambil korek api dan memasukkannya ke saku celananya. Dia takut menghadapi sebuah kenyataan. Kenyataan yang ada di hadapan matanya dengan jelas memberikan isyarat kalau istrinya telah selingkuh. 

Ia mengangkat gagang telpon. Matanya tiba-tiba melihat coretan memo istrinya yang tertinggal di samping telpon. Dalam keterburu-buruan dan kegugupannya, rupayanya Talyda telah lupa untuk membawa kertas memo itu. Ia membaca tulisan tangan bidadarinya. Raut mukanya berubah. Kata-kata yang tertulis menusuk jantungnya: ROYAL PAVILLION, ROOM 5062. Kecurigaan yang tadi sepintas menyelinap kini menetap di dalam benak.

…………………………………………………………………………………………………………….

Lobi Hotel Royal Pavillion sudah sepi. Petugas front office pun sudah tak tampak. Ia melihat ke jam tangan. Jam tiga pagi. Tentu saja, lobi ini sepi. Semua tamu sudah berada dalam kamar masing-masing. Semua tamu telah memasuki lift, dan naik ke kamar masing-masing. Dari sofa tempat duduknya, Gambir bisa melihat lift. Sedari tadi ia melihat semua tamu yang keluar-masuk. Ia mengawasi. Ia memperhatikan. Mereka tidak melilhat dirinya.

Ting. Lift berdenting ketika sampai di lantai lobi. Pintu lift terbuka, Talyda melangkah keluar. Gambir terkesima melihat istrinya. Belum pernah ia melihat Talyda begitu cantik. Kecantikannya berkilau.

………………………………………………………………………………………………………………

Menyapa, jangan menyapa. Menegur, jangan menegur. Bertanya, jangan bertanya. Pertimbangan-pertimbangan bertarung di dalam benak Gambir. Ia mengambil sebatang rokok. Ia mengambil korek api yang tergeletak di samping asbak di depannya. Sejenak ia mengamati korek berwarna biru dengan logo Royal Pavillion berwarna emas yang di-emboos di atasnya. Ia menyulutkan rokok. Menyapa, jangan menyapa. Menegur, jangan menegur. Bertanya, jangan bertanya. Hingga Talyda berlalu pun Gambir tidak pernah sempat mengambil keputusan.

Sambil mengembuskan asap rokok, ia memasukkan korek api ke saku celananya. Ia takut.Ia sungguh takut menghadapi kenyataan yang telah terpapar di depannya.  Ia takut, karena kebenaran akan terkuak. Ia belum siap menghadapi kebenaran-kebenaran yang pasti terungkap.

(Dikutip dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara)

Berawal dari pengakuan Damar, adiknya, Gambir membongkar adanya konspirasi jahat antara ibunya dan Talyda bersama adiknya, Damar, dan sahabat-sahabatnya: Rio dan Dandung. Mereka memang sudah sepakat berbuat jahat menyingkirkan Gambir karena hasutan dari ibunya sendiri. Di Bab V dalam tulisan yang berjudul “Konspirasi Para Psikopat” telah dijelaskan bahwa kelahiran Gambir oleh orang tuanya memang tidak dikehendaki. Sejak kecil Gambir telah diperlakukan dengan kasar dan keji oleh kedua orang tuanya sehingga Gambir menjadi anak yang sosiopat. Tapi, di akhir cerita, karena sudah tidak tahan lagi menghadapi perilaku orang-orang di sekitarnya yang cenderung mendiskreditkannya, ia menjadi pembunuh berdarah dingin. Ia bunuh orang-orang terdekatnya. Bukan hanya sahabat-sahabatnya yang selama ini demikian akrab dengannya (di belakang hari mereka juga telah meniduri istrinya atas suruhan ibunya) adik-adiknya, istrinya, bahkan ibunya sendiri pun dibunuh. Inilah gambaran disorganisasi keluarga yang disebabkan oleh perilaku kasar, keji, dan tidak adil yang semula dari orang tuanya terus merembet ke istrinya, adik-adiknya, dan juga teman-teman akrab Gambir. Disorganisasi keluarga ternyata menyisakan kisah tragis.   

“Saya punya masalah. Saya nggak bisa cerita ke siapa-siapa. Saya ngga tah lagi siapa yang bisa dipercaya.”

Gambir membayangkan sahabat-sahabatnya yang telah mengkhianati dirinya. Rio dan Dandung, sahabat-sahabatnya yang hadir di pesta di rumah ini. Sahabat-sahabatnya yang berlaku seakan tidak ada apa-apa. Seakan persahabatan mereka seperti dulu.

“Soal apa sih, Mas?  Sepertinya penting dan serius sekali.”

“Soal Talyda.”

“Emangnya istri Mas kenapa?”

Gambir terlihat berpikir sejenak. Ia seperti masih mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan masalah-masalah yang merisaukan hatinya.

“Saya curiga dia lagi selingkuh.”

“Edan kamu, Mas.” Damar terlihat kaget. “Emangnya Mas punya bukti? Jangan sembarangan menuduh. Dia kan istrinya Mas!”

Keringat dingin mulai menetes di wajah Gatotkaca, penguasa dirgantara.

“Saya mengikuti dia waktu itu. Saya buntuti. Saya lihat dia keluar dari hotel.” Gambir memberikan penekanan.

“Pagi-pagi buta.”

Damar melihat ke lantai, tidak berani menatap wajah kakaknya. Rasa bersalah merebak di seluruh hatinya. Rasa berdosa merebak di seluruh pikirannya. Gatot-kaca seperti kebingungan menebak arah angin.

“Mas lihat cowoknya, nggak?”

Gambir mencoba  mengingat kejadian malam itu.

“Nggak sih. Itulah, saya nggak pernah bisa membuktikan. Dia keluarnya sendiri. Kalau memang dia meeting sama client, kan nggak mungkin keluar dari lift. Itu kan berarti dia naik ke kamar. Apa yang dia lakukan di kamar hotel pagi-pagi begitu?”

Sekalipun ia merasa sangat berdosa, Damar berusaha keras untuk tidak terlihat gugup.

“Ada cowok yang mas curigai, nggak?”

Gambir seakan mencari dalam benaknya sebuah nama atau seraut wajah yang mungkin mampu berselingkuh dengan istrinya. Ia tidak menemukan siapa pun.

“Nggak ada. Sama sekali nggak kebayang siapa selingkuhannya.”

Damar bernapas lega. Jantungnya berdegup keras. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari dalam saku untuk meredakan ketegangannya. Ia mengambil sebatang dan menaruhnya di sela bibir. Tangan Damar merogoh-rogoh kantong celana mencari korek api. Gambir menawarkan korek api pada adiknya.

Pada saat yang bersamaan Damar telah menemukan korek apinya pula. Kedua kakak-beradik ini ternyata mengeluarkan korek api yang sama persis. Keduanya adalah korek api dari Hotel Royal Pavillion. Hotel pada malam ketika Gambir mengikuti dan  mengintai Talyda.

Gambir terlihat sangat terkejut melihat Gatotkaca mengeluarkan korek api yang sama. Kecurigaan tiba-tiba terbentuk di dalam benak.

Damar juga sangat terkejut melihat Gambir mengeluarkan korek api dari Hotel Royal Pavillion.

Gambar lama memandang adiknya. Gatotkaca yng perkasa di udara. Gatotkaca yang banyak dipuja-puja wanita. Otot kawat tulang besi. Tak terkalahkan. Tak tertandingi. Hati kecilnya telah yakin bahwa ia telah menemukan pasangan selingkuh istrinya. Ia berusaha tidak memercayai kata hati kecilnya. Wajah Damar terlihat agak ketakutan melihat ekspresi Gambir.

Kecurigaan Gambir sepertinya sudah bulat, wajahnya mengeras. Ia memberanikan diri untuk bertanya tentang kebenaran yang sesungguhnya amat ia takuti.

“Damar, kamu ada di hotel itu bersama istri saya? Kamu bersama istri saya  kemarin malam?”

Damar menolehkan kepalanya. Ia tidak berani memandang mata kakaknya dan tidak berani pula menyangkal tuduhannya.

…………………………………………………………………………………………………………..

“Ampun, Mas… Tolong, Mas… Jangan bunuh saya… Saya…saya hanya disuruh sama…Ibu…”

Kemarahan Gambir sampai di puncaknya. Ia memakukan belati tepat ke jantung Damar. Dan adiknya pun terkulai tak bernyawa. Mata Gambir kian merah menahan amarah. Gambir bangkit sambil menendang jasad adiknya dengan kesal. Kata-kata terakhir adiknya mengiang terus di telinga. Bagaimana mungkin ibunya menyuruh adiknya untuk berselingkuh dengan Talyda? Bagaimana mungkin?

………………………………………………………………………………………………………..

“Kamu pikir istri kamu hanya selingkuh dengan Damar saja?Tanya sama sahabat-sahabat kamu. Tnya sana, sama Rion dan Dandung. Mereka semua juga telah meniduri istri kamu.”

………………………………………………………………………………………………………….

Semua… Ibu yang suruh. Talyda menantu Ibu yang baik. Ia menurut sama Ibu.

(Dikutip dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara)

Kisah yang menyisakan peristiwa tragis sepeti dalam novel Pintu Terlarang itu memang hanya kisah fiktif. Tapi, dari kisah itu kita bisa mengambil pelajaran betapa pentingnya sebuah keluarga memperhatikan kehidupan keluarga yang harmonis. Keluarga yang bersih dari perilaku menyimpang. Keluarga yang bersih dari perilaku hedonis. Talyda dalam novel Pintu Terlarang jelas seorang yang memang sejak gadisnya adalah anak yang terbiasa hidup menyimpang, serba permisif, konsumtif, dan hedonis. Walaupun tergolong cerdas, seorang istri seperti Talyda telah menciptakan neraka di rumahnya. Ia tidak berhasil mewujudkan kebahagiaan. Kalau ada kebahagiaan, itu adalah  kebahagiaan palsu, penuh dengan kepura-puraan. Perilaku orang tua Gambir yang sejak kecil telah memperlakukan Gambir sebagai anak pembawa sial, jelas juga sebuah perilaku menyimpang. Kalau suatu saat orang semacam Gambir bisa  menghabisi nyawa orang-orang yang telah menyakitinya, wajar-wajar saja walapun tindakan itu jelas-jelas merupakan perbuatan yang didorong oleh hawa nafsu. Boleh juga itu lebih merupakan perbuatan orang yang telah kerasukan setan. Agar tidak terjadi lagi kasus seperti yang terdapat dalam kisah di novel Pintu Terlarang itu, setiap orang harus memperhatikan bahwa dalam berkeluarga tidak cukup hanya berdasarkan pada faktor kecantikan/ketampanan, kekayaan, atau keintelektualan, tapi juga dibutuhkan nilai-nilai agama. Bahkan nilai-nilai agama harus mendominasi kehidupan keluarga. Diharapkan dengan nilai-nilai agama yang mendominasi kehidupan keluarga, harapan setiap orang untuk mewujudkan keluarga bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak akan bisa terwujud.

Sumber Gambar:

(https://images.app.goo.gl/aerG1sH6uXtwWobF6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat