PENGURBANAN DAN PENGORBANAN

Subagio S.Waluyo

Berbicara tentang kurban kita jadi teringat dengan firman Allah yang semula merupakan bentuk penyerahan diri Nabi Ismail AS ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan anaknya. Coba disimak sepuluh ayat dalam Surat Ash-Shofat berikut ini.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: `Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!` Ia menjawab: `Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang Sabar`. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah keSaba’ran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

(Ash-Shofat, 102 – 111)

Ayat-ayat di atas mengingatkan kita akan kesabaran yang dimiliki kedua hamba Allah: Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Nabi Ibrahim AS seperti kita ketahui dalam usianya yang sudah demikian lanjut, 86 tahun, belum juga dikaruniai anak. Dengan usia seperti itu bisa kita bayangkan, tentu kulitnya telah keriput, matanya mungkin tidak lagi setajam ketika masih muda, rambutnya telah memutih, dan tenaganya sudah banyak berkurang. Meskipun demikian, ada semangat yang tidak pernah punah dan tidak menyurutkannya untuk berdo`a pada Allah SWT:

“`Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh`”.

(Ash-Shofat:100)

Kemudian Allah jawab do`a itu dengan memberikannya seorang anak laki-laki yang penyabar (Ash-Shofat:101). Tapi, Allah masih mau menguji Nabi Ibrahim AS sampai sejauhmanakah bentuk kesabaran dan kesetiaan beliau pada Allah. Untuk itu, turunlah ayat-ayat di atas.

Ujian menyembelih anaknya yang sekian lama ditunggu dan benar-benar menjadi `qurrotu a`yun` (enak dipandang) merupakan ujian kesabaran dan ketaqwaannya. Ujian ini bagi Nabi Ibrahim bukan ujian pertama kali karena sebelumnya beliau pun pernah diuji Allah. Anaknya, Nabi Ismail AS, pun tahu betapa ayahnya seorang yang sabar dalam menghadapi berbagai ujian. Untuk itu, pada saat ada perintah Allah untuk menyembelih anaknya, sang anak yang memang tahu bahwa ayahnya orang yang sabar, seorang nabi yang sudah teruji ketaqwaannya tidak ada ucapan yang lebih layak kecuali `…kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar` (Surat Ash-Shofat:102).

Terbukti, memang keduanya orang-orang yang sabar. Nabi Ismail AS tidak ada keraguan, tidak ada guncangan, ungkapan yang tampak di ayat-ayat di atas mencerminkan betapa Ismail seorang anak yang tidak ada tekanan ketika menjawab pertanyaan sekaligus permintaan ayahnya. Ismail yakin bahwa itu merupakan perintah Allah. Kalau memang perintah Allah, Ismail yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Ini merupakan bukti jawaban do`a ayahnya, Nabi Ibrahim AS, bahwa anaknya pun tergolong orang yang sabar. Tentu saja Ismail tergolong anak yang cerdas, anak yang bisa membaca sesuatu yang sedang bergolak dalam batin ayahnya antara menuruti perintah Allah dan keengganannya untuk menyembelih seorang anak yang benar-benar sedang enak-enaknya dipandang. Ismail membantu untuk meringankan beban itu dengan menyatakan kesediaan sang ayah melaksanakan perintah Allah, yaitu menyembelihnya.

Allah SWT demikian bijak. Allah hanya ingin menguji sampai sejauhmana pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Ternyata, memang terbukti keluarga Nabi Ibrahim AS lulus dalam ujian. Allah SWT menggantikan Nabi Ismail AS dengan seekor domba jantan berwarna putih. Sejak saat itu dimulailah sunnah berkurban bagi umat Islam. Sunnah berkurban itu juga melekat dengan sholat sebagaimana tercermin dalam Surat Al-Kautsar 1-3:

“Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri pada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Dari ayat di atas, tampak sekali bahwa berkurban merupakan bukti syukur kita pada Allah. Berkurban merupakan salah satu sarana kita taqarrub illaallah (mendekatkan diri pada Allah) sebagaimana taqarrub-nya keluarga Nabi Ibrahim AS sehingga layak jika beliau diberi gelar Khalilullah `kekasih Allah`. Kalau bukan karena taqarrub ilaallah, tidak mungkin Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail, mau berkorban.

Kita sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW sudah seharusnya menjadi orang-orang yang mau berkorban dan berkurban. Dengan berkorban, kita mengorbankan bukan hanya harta tapi juga jiwa karena semua ini (harta, anak, istri, segala di dunia ini yang kita cintai, dan jiwa) milik Allah. Untuk itu, perlu semua itu dikorbankan. Harta yang kita miliki dikorbankan dalam bentuk zakat atau shodaqoh. Dalam masalah menginfakkan harta yang kita miliki jangan lagi ada hitung-hitungan rugi-laba. Insya Allah tidak akan berkurang harta yang kita infakkan di jalan Allah. Anak dan istri kita dikorbankan dalam bentuk mendidik mereka agar menjadi bukan sekedar `qurrota a`yun` tapi juga pemimpin orang-orang yang bertaqwa (Surat Al-Furqon:74). Jiwa ini dikorbankan dalam bentuk jihad fi sabilillah. Untuk itu, penempatan pengorbanan jiwa dalam Al-Qur`an baru dilakukan setelah seseorang mengeluarkan zakatnya. Hal ini dilakukan agar setiap hamba Allah yang beriman belajar berkorban dalam bentuk menyisihkan sebagian hartanya. Setelah terbiasa berkorban dalam bentuk harta, dia pada saatnya bisa dipastikan mau mengorbankan jiwanya.

Orang yang sepanjang waktunya dikorbankan untuk kemaslahatan umat, Allah akan ganti dalam bentuk surga nanti di yaumul akhir asal semua yang dikorbankan diawali dengan niat yang ikhlas karena Allah. Sebaliknya seseorang yang selama di dunia melakukan sesuatu (walaupun di mata manusia dianggap terhormat) tetapi tidak disertai dengan niat ikhlas karena Allah, orang seperti ini semua kebaikan yang dilakukan diibaratkan debu yang akan terbang ketika ada angin berhembus. Orang yang berkorban di jalan Allah karena sejak awal dia melakukan sesuatu semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah sudah dipastikan orang tersebut dalam kesehariannya dekat pada Allah. Sebaliknya, orang yang tidak mengharap ridho Allah (yang diharap hanya pujian dari sesama manusia) sudah dipastikan dia jauh dari Allah. Orang yang dekat pada Allah jelas merupakan orang yang tergolong beriman. Orang yang jauh dari Allah merupakan orang yang ingkar (tidak beriman). Baik orang yang mau beriman maupun orang yang mau ingkar pada Allah semuanya mau tidak mau perlu pengorbanan. Jadi, dalam hidup ini mau jadi orang baik atau jahat semuanya perlu pengorbanan.

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS diwujudkan ketika mengorbankan anaknya untuk dikurbankan. Allah menggantikan kurban Nabi Ibrahim AS dengan kambing jantan besar berwarna putih. Ini bukti kecintaan Allah pada keluarga Ibrahim. Allah telah menguji mereka. Allah telah melihat pengorbanan mereka. Dengan demikian, sudah selayaknya kalau Allah memberikan kesejahteraan pada Ibrahim (Ash-Shofat: 109). Allah pun memasukkan mereka sebagai hamba-hamba-Nya yang beriman (Ash-Shofat: 111). Tidak cukup sampai di situ, Allah pun memberkahi Ishaq, anak Nabi Ibrahim dari Sarah, menjadi seorang nabi yang tergolong orang-orang yang sholeh. Suatu nikmat yang luar biasa bagi seorang hamba Allah manakala dalam satu keluarga seperti Ibrahim AS baik sang bapak maupun kedua anaknya menjadi nabi. Inilah sebuah contoh keluarga yang hidupnya diisi dengan pengorbanan dan pengurbanan sehingga Allah menempatkan mereka sebagai manusia yang tinggi tingkat ketaqwaannya. Kita juga berharap pada Allah SWT bisa dimasukkan pada hamba-hamba-Nya yang siap berkorban dan berkurban. Wallahu a`lam bissawab.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat