Berlindung dari 5 K

Subagio S.Waluyo

Prolog

Tulisan ini berangkat dari Sabda Nabi Muhammad SAW dari Anas yang merupakan do`a yang disampaikan Rasulullah SAW. Isi do`a tersebut adalah:

“Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, berlindung kepada-Mu dari bencana kehidupan (dunia) dan bencana (setelah) kematian” (HR. Asy-Syaikhani).

Dari do`a di atas kita dapati ada 5 K, yaitu kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Kelima K tersebut jelas menunjukkan hal-hal yang negatif bagi seorang Muslim sehingga sangat layak kalau kita berdo`a mohon perlindungan pada Allah SWT. Selain itu, juga kita perlu berlindung dari siksa kubur, bencana kehidupan, dan bencana setelah kematian. Namun, dalam kesempatan ini kita akan lebih menekankan pada 5 K di atas.

Kelemahan

Kelemahan termasuk salah satu indikator negatif seorang Muslim. Karena merupakan salah satu indikator negatif, setiap pribadi Muslim harus menjauhinya. Untuk itu, seorang Muslim harus terhindar dari kelemahan baik fisik, akal, maupun rohani. Untuk terhindar dari kelemahan fisik, seorang Muslim harus memenuhi kebutuhan fisiknya dengan makanan yang halalan thoyyiban. Selain itu, juga harus melakukan aktivitas olah raga secara rutin. Dianjurkan pula oleh Islam untuk berpuasa di luar puasa wajib, seperti puasa selang hari, senin-kamis, pertengahan bulan, dan puasa-puasa sunnah lainnya. Rasulullah SAW sendiri pernah mengatakan bahwa seorang Muslim yang kuat itu lebih baik daripada seorang Muslim yang lemah (Al-Hadits). Agar fisiknya kuat, perlu secara rutin seorang Muslim berinisiatif memeriksakan kesehatannya secara rutin ke dokter. Dengan cara demikian dia akan bisa mendektesi sedini mungkin jika ada penyakit-penyakit internis. Seorang Musim yang sehat fisiknya, Insya Allah mampu untuk beraktivitas, menanggung beban kerja, dan melakukan berbagai kreativitas.

Seorang Muslim yang baik juga harus memiliki akal atau intelektual yang sehat atau cerdas dan pintar. Agar intelektualnya sehat sehingga dia menjadi seorang Muslim yang cerdas dan pintar, dia juga harus banyak belajar. Bukankah Rasulullah SAW sendiri juga telah menyuruh umatnya agar menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat? (Al-Hadits). Tidak boleh ada kata istirahat untuk belajar baik ilmu-ilmu dunia maupun ilmu-ilmu akhirat. Seorang Muslim tidak boleh taklid. Orang yang taklid dicirikan tidak memanfaatkan otaknya alias sering memanjakan otaknya untuk berpikir. Orang seperti ini sebentar-sebentar hanya mengeluh, seperti keluhannya: “Au ah gelap” atau “Emangnya Gue Pikirin (EGP)”. Orang yang taklid gampang dibodohi. Orang taklid gampang diadu domba. Supaya tidak mudah taklid sekali lagi seorang Muslim harus banyak belajar. Salah satu pelengkap dalam belajar adalah banyak membaca dan menulis. Jadikanlah aktivitas membaca dan menulis menjadi sebuah kebiasaan atau kebudayaan di kalangan umat Islam. Dengan demikian, setiap Muslim akan memiliki daya kritis sehingga tidak taklid, tidak mudah dibodohi, dan tidak mudah diadu domba.

Sebagai pelengkap, seorang Muslim yang baik juga harus sehat mentalnya atau jiwanya atau rohani (ruh)-nya. Orang yang sehat ruhnya berarti sehat imannya. Orang yang lemah imannya bisa ditandai dengan kelemahan mental. Agar orang tidak lemah mentalnya, dia harus banyak ingat Allah (dzikrullah). Dia harus berlindung pada Allah. Setiap kali dia harus membersihkan dirinya (tadzkiyyatun nafs) dengan sholat, do`a, dzikir, puasa, dan tilawah Qur`an. Memang hanya itu asupannya. Insya Allah, kalau secara rutin seorang hamba Allah melakukan itu semua, dia akan menjadi seorang Muslim yang kuat mentalnya dan kuat pula imannya.

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa seorang Muslim yang kaafah adalah seorang Muslim yang kuat baik fisiknya, akalnya, dan mentalnya. Ketiga dimensi tersebut tidak boleh kosong pada seorang Muslim. Misalnya, ada seorang Muslim yang sehat fisiknya dan cemerlang otaknya, tetapi dia jauh dari ajaran Islam karena memang tidak pernah melakukan tadzkiyyatun nafs, orang seperti ini akan kering jiwanya dan lemah imannya. Orang seperti ini akan cenderung sekuler. Orang seperti ini menjadi orang-orang yang berpikiran liberal (naudzubillahi min dzaalik). Atau ada juga orang yang sehat fisiknya dan rutin melakukan tadzkiyyatun nafs, tapi akalnya tidak dipenuhi dengan ilmu. Orang seperti ini akan mudah dibodohi. Dia akan menjadi orang idiot (naudzubillahi min dzaalik). Dia akan menjadi seorang Muslim yang taklid. Seorang Muslim yang tidak punya sikap atau pendirian. Atau ada juga seorang Muslim yang rajin menuntut ilmu dan melakukan tadzkiyyatun nafs, tetapi menyepelekan masalah kesehatan. Orang Muslim seperti ini akan `letoy` alias lemah fisiknya. Mungkin di usia muda sebelum usia empat puluh tahun fisiknya telah dihinggapi berbagai penyakit sehingga aktivitasnya terganggu dan kreativitasnya tidak berkembang. Orang seperti ini akan `menjadi tua sebelum tua`. Oleh karena itu, seorang Muslim yang kaafah harus kuat baik fisik, akal, maupun ruh (mental)-nya. Dengan kata lain, ketiga dimensi itu (fisik, akal, dan ruh) harus ada sinergi. Tanpa ada sinergi di antara ketiganya tidak akan terwujud pribadi Muslim yang kuat.

Kemalasan

Setiap Muslim yang memiliki kekuatan (fisik, intelektual, dan mentalitas) harus bisa mengatur waktu, memiliki kedisiplinan, dan mampu mandiri. Kalau salah satu di antara ketiganya atau semuanya tidak ada, dia tergolong seorang Muslim lemah atau malas. Orang malas atau yang mempunyai kemalasan bisa dicirikan dari tidak bisa mengatur waktu. Al-Qur`an sendiri telah mengingatkan akan pentingnya waktu. Sampai-sampai demikian pentingnya masalah waktu ada ayat khusus tentang waktu, yaitu Surat Al-Asr. Di surat tersebut Allah SWT bersumpah dengan menggunakan Al-Asr (demi masa). Di surat tersebut Allah SWT juga mengingatkan pada orang-orang beriman kalau manusia itu banyak (bahkan boleh jadi sebagian besar) tergolong orang yang rugi. Mengapa? Mereka dianggap yang merugi karena sepanjang hidupnya yang demikian singkat ini tidak pernah melakukan kebaikan (amal sholeh) dengan saling berwasiat (mengingatkan atau menasihati) dalam kebenaran dan kesabaran.

Sebenarnya demikian sederhana peringatan Allah pada orang-orang Muslim. Mereka hanya diminta untuk beramal sholeh dalam bentuk memberikan wasiat (saling menasihati) pada kebenaran dan kesabaran. Artinya, setiap Muslim hendaknya punya kontribusi untuk mengingatkan sesamanya dalam hal menegakkan kebenaran dan kesabaran. Tetapi, karena perintah Allah ini cenderung diabaikan, muncul berbagai kasus yang akhirnya mendera sesama Muslim. Apa yang terjadi kalau peringatan Allah yang termaktub di surat tersebut diabaikan? Bisa disaksikan sendiri muncul berbagai macam bentuk kemungkaran. Kemungkaran itu sendiri tidak mustahil juga akan mengena pada orang-orang Muslim yang sholeh. Kecenderungan mengabaikan yang boleh jadi berangkat dari kemalasan itu lebih disebabkan oleh faktor-faktor psikologis dan sosiologis. Faktor psikologis bisa dilihat pada perilaku orang yang diberi nasihat atau yang diberi peringatan untuk mengabaikannya karena masih mengedepankan sikap keakuaannya (egoisme). Selain itu, juga orang yang diberi peringatan cenderung untuk tidak mengakui kesalahan. Sebaliknya orang tersebut berusaha mencari kambing hitam. Jadi, demi gensi atau prestise atau reputasi diri (apalagi kalau orang tersebut tergolong boss), seorang Muslim boleh jadi tidak berkenan untuk mendapat peringatan atau nasihat. Sedangkan dari faktor sosiologis, orang Indonesia (termasuk umat Islam) ada dorongan untuk mempertahankan status sosial. Di samping itu, selama ini orang tersebut selalu memperoleh masukan-masukan yang cenderung negatif sehingga ketika mendapat peringatan atau nasihat yang baik ada keinginan untuk mengabaikannya. Sebagai tambahan, masih adanya hubungan vertikal antara atasan dan bawahan (patronasme atau paternalistik) menjadi penghambat terwujudnya budaya saling mengingatkan dan menasihati sesama Muslim.

Seorang Muslim yang kaafah juga harus memiliki kedisiplinan yang salah satu di antaranya (berkaitan dengan kemalasan) selalu menunda-nunda pekerjaan. Umat Islam sebenarnya banyak yang kreatif, tetapi itu…mereka juga banyak yang tidak disiplin dan konsisten sehingga kreativitasnya mandeg/alias stagnan karena salah satu penyakit yang tidak bisa dihilangkan, yaitu suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit seperti ini termasuk indikasi kemalasan. Orang yang malas `kan bisa dicirikan dengan suka menunda-nunda pekerjaan atau ada selintas niat baik terpaksa harus di-pending dulu. Padahal kalau mau dikerjakan saat itu juga bisa. Tapi, itu tadi, karena masih adanya penyakit yang bernama kemalasan pada akhirnya terjadi penumpukan PR. Masih dianggap lebih baik kalau ada penumpukan PR, bagaimana kalau ada sebuah musibah yang menimpa sekian banyak korban manusia akibat dari sering menunda pekerjaan? Kasus kecelakaan KA di Bintaro `kan berawal dari palang pintu KA yang tidak juga dibenahi sehingga terjadi sebuah musibah yang memakan korban yang tidak sedikit. Bukankah itu merupakan buah dari ketidakdisiplinan yang berawal dari sering menunda-nunda pekerjaan? Bukankah itu juga merupakan buah dari kemalasan? Jadi, seorang Muslim yang baik harus siap memerangi penyakit ketidakdisiplinan karena penyakit tersebut merupakan salah satu indikasi kemalasan.

Indikator seorang Muslim yang baik bisa diketahui dengan melihat pada kemampuan berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) atau boleh juga disebut memiliki kemandirian. Orang yang malas sudah pasti tidak punya kemandirian karena terbiasa dalam hidupnya sehari-hari serba instan. Maksudnya, untuk memperoleh apa-pun tidak perlu kerja keras karena semuanya segera tersedia. Kalau tidak ada yang bisa dimanfaatkan, dia akan diam saja dan tidak ada keinginan untuk melakukan apapun. Kalau tuntutan biologis, seperti lapar atau haus, bagi orang-orang yang tergolong kaya tinggal menyantap makanan dan minuman yang memang sudah tersedia di depan matanya. Perilakunya persis seperti anak kecil yang segalanya minta dilayani. Lambat-laun perilaku seperti itu menjadikan dia manusia yang cenderung “MEOK” (Makan Enak Ogah Kerja alias hedonis). Orang seperti ini dijamin tidak bisa mandiri karena segalanya serba tersedia sehingga tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Orang seperti ini jelas tidak punya konsep untuk melakukan perubahan dan perbaikan karena pola hidupnya yang hedonis. Jangan banyak berharap pada orang jenis ini untuk bisa mandiri. Karena itu, seorang Muslim yang beriman harus berlindung dari penyakit kemalasan yang berakibat pada tidak adanya kemandirian.

Kebodohan

Seperti telah diketahui salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah kebodohan yang ditandai dengan sikap taklid atau jumud sebagaimana telah diuraikan di atas. Orang-orang yang memusuhi Islam ada kecenderungan untuk melakukan pembiaran agar umat Islam tetap dalam kejumudan atau kebodohan. Mengapa? Mereka sadar kalau umat ini cerdas, pintar, dan kritis akan berbalik untuk memusuhi mereka. Bahkan, tidak mustahil membumihanguskan mereka.Untuk itu, ada program yang terselubung dan masif melakukan perang pemikiran. Hanya dengan cara itu umat Islam akan tetap dalam kebodohan.

Indikator masih adanya program pembodohan yang dilakukan secara terselubung bisa dilihat di negara ini dengan masih banyaknya konflik horisontal. Konflik ini faktor penyebabnya sebenarnya sepele hanya berkisar masalah ketersinggungan. Ada orang yang merasa harga dirinya tersinggung karena direndahkan oleh orang atau kelompok lain. Dalam situasi seperti itu ada orang-orang yang berperan sebagai provokator. Provokator-provokator inilah yang kelak berhasil menyulut konflik horisontal. Tidak mustahil dalam konflik horisontal seperti itu akan berjatuhan korban dari kedua belah pihak. Sementara itu, sang provokator yang telah berhasil mengadudomba antar umat raib entah ke mana.

Pembodohan juga bisa dilakukan oleh kalangan ulama atau tokoh-tokoh agama Islam yang kerap menggunakan simbol-simbol agama. Mereka (para ulama yang jahat) dengan sengaja memutarbalikkan fakta dengan memutarbalikkan ayat-ayat Qur`an dan hadits-hadits palsu. Umat Islam yang memang sebagian besar masih tergolong taklid atau jumud (karena kebodohannya) gampang termakan oleh rumor-rumor yang memang sengaja dibuat oleh para ulama jahat itu. Umat Islam yang memang tidak mengerti sama sekali masalah-masalah agama terkagum-kagum jika ada ulama yang hafal sekian banyak ayat Qur`an dan hadits atau yang kalau berdo`a demikian panjang dan mengharukan sampai-sampai bisa menguraikan air mata jama`ahnya. Tidak heran jika banyak umat Islam yang tergolong lemah intelektualnya ini memasuki aliran-aliran sesat buah provokasi dari ulama-ulama jahat itu.

Kebodohan juga bisa diindikasikan dari kondisi negara ini yang boleh dikatakan masih didikte oleh pihak-pihak asing entah itu negara-negara barat atau lembaga-lembaga internasional yang notebenenya memang jelas-jelas memusuhi Islam. Mereka menguras habis kekayaan alam negara ini. Mereka rampok kekayaan alam negeri ini. Mereka manfaatkan orang-orang negeri ini dengan iming-iming kegemerlapan duniawi (yang sebenarnya semu) untuk menjadi agen penghubung dengan anak bangsa ini agar yang menjadi keinginan mereka segera terwujud. Satu persatu rontoklah industri-industri strategis yang dulu dikuasai negara. Satu persatu sentra bisnis atau industri yag dulu dikuasai umat Islam jatuh ke tangan negara-negara kapitalis itu. Pemimpin negara yang tampak luar seperti orang cerdas ternyata demikian mudah dibodohi pihak barat yang terkenal culas. Negara ini ibarat orang yang jatuh dari tangga masih juga tertimpa tangga. Negara ini sudah habis dikuras kekayaan alamnya masih juga dibebani dengan hutang-hutang yang entah sampai kapan bisa dilunasinya. Yang lebih aneh lagi, pemimpin negara ini tidak pernah belajar dari sejarah bahwa yang namanya pihak barat selagi masih ada di dada mereka jiwa neoliberalis atau neokapitalis tidak pernah berhenti untuk `mengerjai` bangsa-bangsa Muslim atau bangsa-bangsa yang sebagian besar menganut Islam. Kalau bisa dikatakan, ini merupakan bentuk penjajahan abad XXI yang menggunakan baju neoliberalisme atau neokapitalisme dengan bungkus globalisasi.

Kerentaan

Kerentaan identik dengan ketidakberdayaan. Orang yang telah renta (sangat tua) sudah pasti tergolong orang yang tidak berdaya. Karena ketidakberdayaannya, orang yang telah renta diberi keringanan misalnya puasa. Orang yang renta tidak diwajibkan puasa seperti orang yang normal (sehat fisik, akal, dan rohaninya). Cukuplah bagi orang yang renta membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sebagaimana telah disebutkan dalam Surat Al-Baqarah: 184. Begitu juga ibadah-ibadah wajib yang lain.Kalau memang masih sanggup dipersilakan mereka untuk melaksanakannya. Tapi, bagaimana dengan orang renta yang selain penyakitan juga pikun (tidak berakal)? Karena akalnya sudah tidak sempurna, mereka tidak ada lagi kewajiban untuk melaksanakan ibadah. Salah satu syarat sahnya ibadah bukankah di antaranya berakal atau sempurna akalnya? Cukuplah amalan-amalan yang lalu ketika mereka sehat dijadikan amal sholeh kelak di yaumul akhir.

Rasulullah SAW dalam do`anya memasukkan (atas bimbingan Allah SWT tentunya) agar setiap Muslim berlindung dari kerentaan. Karena kerentaan identik dengan ketidakberdayaan, setiap Muslim wajib berlindung pada Allah SWT agar terlindung darinya. Orang yang tidak berdaya jelas-jelas banyak diberikan keringanan. Karena itu, seorang hamba Allah yang sehat fisiknya, akalnya, dan rohaninya diharapkan sedini mungkin meminta berlindung pada Allah dari kerentaan. Jangan ada niatan agar Allah memberikan keringanan dengan alasan ketidakberdayaan (renta). Setiap Muslim wajib bersyukur pada Allah SWT kalau masih mampu melaksanakan semua kewajiban yang dibebankan padanya. Bukan malah sebaliknya minta banyak diberikan keringanan. Seorang Muslim yang kaafah harus bisa menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kemampuan untuk melaksanakan amanah yang Allah berikan. Dia masih sanggup bukan saja melaksanakan kewajibannya pada Allah (hablum minallah), tapi juga masih sanggup melaksanakan misi kemanusiaan (hablum minannaas). Artinya, dalam rangka mewujudkan khoiro ummah (umat yang terbaik) dia masih sanggup menegakkan amar ma`ruf nahi munkar. Kalau umat ini, banyak yang minta diberikan keringanan karena kerentaan, siapa yang akan melaksanakan amar ma`ruf nahi munkar? Mungkinkah akan terwujud khoiru ummah dengan kondisi umat yang terkena penyakit kerentaan terutama yang menimpa mereka-mereka yang selayaknya jauh dari kerentaan tetapi karena tidak bisa menjaga baik fisik, akal, maupun rohaninya, akhirnya mereka tergolong orang yang renta sebelum renta? Untuk itu, seorang Muslim yang kaafah, selain berdo`a agar tidak terkena penyakit kerentaan juga harus bisa memelihara fisik, akal, dan rohaninya.

Kekikiran

Orang yang kikir jelas orang yang tidak bisa memberikan manfaat buat orang lain. Orang seperti ini juga jelas tidak mencintai kebaikan. Orang yang cinta kebaikan sudah pasti tidak kikir. Orang yang mencintai kebaikan pasti orang yang pemurah (lawan dari orang yang kikir). Setiap Muslim yang kaafah bisa dipastikan adalah orang-orang yang pemurah dan mencintai kebaikan. Jika ada seorang yang mengaku Muslim tetapi kikir, dia tidak bisa digolongkan sebagai seorang Muslim yang kaafah karena dia masih memiliki sifat bakhil (kikir). Sifat kikir sendiri yang masih melekat pada diri seorang Muslim menunjukkan kekurangsempurnaannya dalam ber-Islam. Mustahil seorang Muslim yang kaafah masih memiliki sifat kikir.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud mengajak umat Islam untuk menjauhkan diri dari sifat kikir karena orang- orang terdahulu binasa lebih disebabkan oleh kekikiran. Tampaknya, hadits Nabi SAW perlu direnungkan dengan melihat kondisi yang terjadi di negara ini. Adanya jurang pemisah antara golongan masyarakat yang kaya dan miskin yang terjadi di negara-negara Islam atau negara-negara yang sebagian besar penganutnya beragama Islam lebih disebabkan oleh banyaknya umat Islam yang kaya memiliki sifat kikir. Seandainya, mereka mau saja menafkahkan sebagian hartanya dalam bentuk zakat, Insya Allah tidak akan terjadi jurang yang demikian dalam antara golongan masyarakat kaya dan miskin. Apakah dengan adanya jurang pemisah di antara kedua pihak itu tidak menimbulkan dampak negatif?

Fakta-fakta di lapangan jelas menunjukkan adanya dampak negatif akibat terjadinya jurang pemisah antara kaya dan miskin. Dampak negatif yang sudah menjadi fenomena sosial itu bisa dilihat dari semakin banyaknya pengangguran yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan tingkat kriminalitas. Di Indonesia, misalnya, angka kemiskinan sudah cukup memprihatinkan karena banyak anak bangsa ini yang tidak bisa mengecap bangku pendidikan walaupun untuk tingkat pendidikan dasar (SD-SMP) sudah tidak dipungut biaya (SPP). Mereka yang menderita sakit karena biaya berobat tidak terjangkau, akhirnya banyak yang harus meregang nyawa. Masih banyak bayi yang mati sebelum kelahiran atau beberapa hari/bulan setelah kelahiran karena kekurangan gizi. Bahkan, tidak sedikit ibu-ibu yang mati ketika melahirkan karena kondisi kesehatan ibu yang tidak mengizinkan (inipun lebih disebabkan oleh faktor kekurangan gizi). Mereka yang tidak memperoleh penghasilan yang memadai sehingga banyak di antara anak bangsa yang makan sehari satu kali. Itupun yang dimakan jauh dari empat sehat lima sempurna.

Jika dianalisis bentuk-bentuk kekikiran yang terjadi di banyak negara Islam atau negara-negara yang sebagian besar menganut agama Islam (seperti negara ini, Indonesia), didapati adanya hal-hal berikut ini.

  • Orang-orang yang diberi amanah sebagai pemimpin tidak memberikan kebaikan pada orang-orang yang dipimpinnya.
  • Orang-orang yang memiliki kehormatan dan kemuliaan tidak menggunakannya untuk menegakkan kebenaran.
  • Orang-orang yang tergolong sejahtera hidupnya tidak memiliki kepeduliaan (cenderung egois).
  • Orang-orang yang berilmu enggan untuk menyumbangkan keilmuannya pada orang lain (ada rasa enggan untuk mengembangkan keilmuan).
  • Orang-orang yang kikir dalam menunjukkan akhlak yang baik, seperti memberi maaf, berlapang dada, atau tidak mengganggu orang lain.
  • Orang-orang yang tidak mau berkorban untuk kepentingan agama meskipun sudah jelas-jelas di depan matanya agamanya dikoyak-koyak musuh-musuh Islam.
  • Orang-orang yang enggan membelanjakan hartanya untuk tujuan kebaikan.

Orang-orang kikir yang disebutkan bentuk-bentuknya di atas, jika mereka masih sholat atau melakukan ibadah, tetapi masih tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, orang-orang seperti itu akan dimasukkan Allah ke dalam neraka Wail (Surat Al-Maun: 4—7). Memang, mereka sholat dan memberikan bantuan, tapi semua itu dilakukan karena semata-mata agar dipandang orang sebagai orang yang sholeh dan dermawan. Orang-orang seperti ini bisa digolongkan sebagai orang yang riya`. Semua kebaikan yang dia lakukan akan sia-sia manakala disertai dengan niat yang tidak benar, yaitu riya`. Di negara ini golongan orang-orang yang seperti ini demikian banyak sehingga sangat wajar jika Allah SWT memberikan banyak musibah bukan hanya dalam bentuk bencana alam tapi juga musibah dalam bentuk ketidakamanan dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh seluruh penduduk negeri ini.

Epilog

Berdasarkan uraian di atas bisa diambil hikmahnya alasan Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk membiasakan berdo`a untuk berlindung dari 5 K. Hikmah yang bisa dipetik, yaitu betapa dahsyatnya akibat yang terjadi jika orang memiliki penyakit 5 K. Untuk itu, sebagai seorang Muslim yang kaafah sudah selayaknya membiasakan diri meminta pada Allah SWT dengan do`a yang Beliau ajarkan sehingga terselamatkan dari penyakit 5 K. Selain berdo`a, tentu saja harus berupaya memelihara aqidahnya, menjaga ibadahnya, dan mewujudkan akhlak karimah. Seorang Muslim juga harus bersungguh-sungguh dalam melakukan aktivitas keduniaan walaupun juga tidak menyepelekan kehidupan akhirat. Yang juga tidak kalah penting setiap Muslim harus memperhatikan fisiknya, akalnya, dan rohaninya. Wallahu a`lam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *