Subagio S.Waluyo

Dalam penulisan wacana eksposisi bisa saja diawali dengan sebuah narasi singkat. Di sini penulis mengajak pembacanya untuk menyimak yang dilakukan penulis sebelum membahas inti tulisannya. Jadi, penulis di bagian tesis (pembuka) menyampaikan sebuah cerita yang diambil dari pengalaman hidupnya. Bisa saja pengalaman hidup itu diperoleh secara tidak sengaja menemukan sesuatu yang membuat dirinya tertarik sampai beberapa saat yang ditemukannya terus tersimpan di benaknya. Suatu saat sesuatu yang dulu pernah ditemukannya dan membuat dirinya penasaran juga secara tidak sengaja ditemukan. Dari situ si penulis berusaha membuat tulisan eksposisi karena boleh jadi sesuatu yang ditemukannya itu berkaitan dengan, misalnya, masalah penyimpangan sosial. Setelah memiliki referensi yang berkaitan dengan masalah penyimpangan sosial, si penulis mulai menggerakkan jari-jarinya di tuts laptopnya sehingga menjadi sebuah tulisan eksposisi.

          Menulis eksposisi yang dimulai dengan sebuah paragraf narasi juga pernah saya lakukan ketika menulis tulisan berjudul “MEOK”. Seperti yang diuraikan di atas, kata `MEOK` (sebenarnya lebih merupakan akronim) yang menarik perhatian saya ditemukannya juga secara tidak sengaja. Kalau pertama kali saya menemukannya di pertengahan tahun `70-an, untuk kedua kalinya saya temukan di awal tahun 2000-an. Rentang waktunya cukup lama, yaitu sekitar tiga puluh tahun. Tapi, rentang waktu yang cukup lama itu buat saya tidak menjadi masalah. Justru, dengan menemukan kembali sesuatu yang sudah saya anggap usang menjadi inspirasi buat saya untuk menulis sebuah tulisan eksposisi. Berikut ini bisa dibaca tesisnya yang berupa narasi.

       Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat di kaca belakang angkot K-02 (Pondok Gede—Terminal Bekasi) ada tulisan “MEOK” yang buat saya tulisan tersebut tidak asing lagi karena tulisan yang sama di tahun-tahun 70-an pernah saya jumpai di Jembatan Merah,Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya yang waktu itu masih bersekolah di SLA ada sesuatu yang asing dengan tulisan itu. Saya sempat bertanya pada beberapa teman atau orang-orang yang lebih tua. Ternyata mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan “MEOK”. Saya juga sempat buka di Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh P.W.J. Poerwadarminta, ternyata jawabannya nihil alias tidak ada. Tulisan itu baru saya dapati ketika suatu saat di salah satu majalah terbitan Pusat Bahasa memuat tulisan tentang grafiti, yaitu corat-coret remaja di tembok atau di tempat-tempat terbuka umum yang terkadang disertai dengan gambar-gambar atau simbol-simbol yang menunjukkan jati diri mereka, ternyata kata tersebut merupakan sebuah akronim. Kata “MEOK” itu sendiri jika ditulis lengkap akan berbunyi `Makan Enak Ogah Kerja`.

          Setelah saya menemukan kata `MEOK` yang ternyata sebuah akronim, saya berskesimpulan bahwa kata `MEOK` itu tertuju pada orang-orang yang dalam hidupnya cenderung hedonis. Orang-orang yang hidupnya cenderung `hedonis` bisa saja disebut sebagai penganut `hedonisme`. Nah, dari kata `hedonisme` inilah saya harus mencari definisi. Setelah ditemukan definisinya, saya coba mengaitkan dengan masalah sosial yang juga saat ini melanda umat manusia di seluruh dunia, yaitu penyimpangan sosial yang mengarah pada budaya konsumtif. Dari situ tulisan mengalir begitu saja karena saya sudah menemukan sebuah konsep yang bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan.

       Penulis grafiti “MEOK” saya kurang tahu apakah mereka termasuk dalam komunitas orang-orang yang tergolong “MEOK” atau yang berempati pada “MEOK” atau yang tidak suka kehadiran “MEOK”. Mungkin-mungkin saja penulis grafiti “MEOK” sudah tidak ada atau seandainya adapun usianya sudah lanjut (manula). Mudah-mudahan saja seandainya mereka sudah tua bukan lagi tergolong manusia “MEOK” karena akronim itu mencerminkan manusia yang cenderung malas mencari nafkah. Manusia yang ada kecenderungan mau hidup enak tanpa ada cucuran keringat. Manusia yang tentu saja tidak punya kemandirian. Manusia seperti ini boleh juga tergolong manusia yang `hedonis`. Mereka bisa juga dimasukkan sebagai penganut paham `hedonisme`.

       Kata `hedonis` menurut A.Mangunhardjana (Isme-Isme dari A sampai Z, 1997:90-92) berasal dari kata `hedone` yang berarti `kenikmatan`. Semua bentuk kenikmatan yang dilakukan manusia secara pribadi, baik kenikmatan indriawi bagi orang-orang yang sensual, kenikmatan intelektual bagi para ilmuwan, maupun kenikmatan estetis bagi pencinta materi (kebendaan) disebut `hedonis`. Karena kenikmatan tersebut lebih bersifat pribadi, kenikmatan di sini menjadi perkara subjektif. Jadi, dalam hal ini orang-orang yang merasakan kenikmatan etis, moral, religius mereka tergolong `hedonis`. Namun, dalam kenyataannya kata tersebut mengalami penyempitan makna. Kata `hedonis` saat ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan sikap konsumeristis. Dengan kata lain kata `hedonis` selalu dikaitkan dengan budaya konsumtif. Manusia atau masyarakat yang menganut paham ini biasa disebut `konsumerisme` atau di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan sebutan `matre` (maksudnya materialistis). Sedangkan kata `konsumerisme` diartikan sebagai sikap hidup yang lebih mau menikmati daripada menahan, mengkonsumsi daripada memproduksi. Dengan demikian, orang yang `hedonis` karena sudah dipastikan disertai dengan pendekatan sikap `konsumeristis` lebih suka mendapat daripada memberi atau membeli daripada memproduksi/membuat sendiri.

          Langkah berikutnya saya mencoba mengembangkan bagian kalimat terakhir yang terdapat di paragraf ketiga, di situ tertulis … orang yang `hedonis` karena sudah dipastikan disertai dengan pendekatan sikap `konsumeristis` lebih suka mendapat daripada memberi atau membeli daripada memproduksi/membuat sendiri. Di bagian kalimat yang ditulis miring itu saya membuat sebuah kesimpulan bahwa orang yang hedonis karena sikapnya `konsumeristis` dipastikan orang yang lebih mengedepankan tangan yang di bawah daripada tangan yang di atas. Dari situ saya terus mencecar tentang perilaku orang-orang yang disebut `MEOK` yang bukan saja datangnya dari kalangan orang-orang yang tidak terdidik, tetapi juga dari kalangan orang-orang yang aktif di dunia politik. Di dunia politik saya sebutkan kalau Nicolo Machiavelli adalah orang yang mengajarkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan. Tentu saja cara-cara yang ditempuh sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip moral. Saya sengaja tampilkan Nicolo Machiavelli karena lewat ajarannya para politikus di manapun melakukan cara-cara yang jelas-jelas hedonis. Bahkan, bisa dikatakan mereka yang terpengaruh oleh ajarannya adalah orang-orang yang `kontraproduktif`.

       Orang `hedonis` atau “MEOK” adalah orang yang lebih mengedepankan tangan di bawah daripada tangan di atas. Tipe peminta-minta karena tuntutan konsumeristis daripada orang yang tergolong pemurah karena suka memberi. Tipe manusia seperti ini adalah tipe yang tidak mau susah. Kalau perlu menghindari kesusahan atau penderitaan sekalipun karena hidup ini harus diisi dengan kesenangan dan kenikmatan bukan kesusahan dan penderitaan. Tipe manusia seperti ini adalah tipe orang yang tidak bisa memberi manfaat buat orang lain. Sebaliknya, dia menjadi jenis manusia yang selalu memanfaatkan kebaikan orang lain. Karena tidak bisa memberi manfaat buat orang lain, orang “MEOK” tidak memiliki rasa peduli. Ia lebih mementingkan diri sendiri. Ia tidak mau tahu kalau ada orang di sekitarnya meminta uluran tangan atau belas kasihannya. Ia cenderung bikin orang susah. Jadi, orang “MEOK” merupakan orang bermasalah yang bisa dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang berpenyakit sosial.

          Orang “MEOK” karena ada kecenderungan untuk memperoleh sesuatu tanpa kerja keras, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Di bidang politik orang-orang “MEOK” akan mempraktekkan cara-cara Nicolo Machiavelli untuk mendapatkan kekuasaan. Salah satu cara ajaran Nicolo Machiavelli yang dinilai tidak bermoral adalah untuk mendapatkan kekuasaan seseorang bisa melakukan apa saja, termasuk ke dalamnya melakukan cara-cara baik halus maupun kasar. Kalau perlu untuk mendapatkan kekuasaan sah-sah saja orang tersebut membunuh lawan politiknya. Kalau di negara ini, misalnya, dari pemilu ke pemilu atau pilkada ke pilkada selalu ada saja keributan, pasti faktor penyebabnya lebih disulut orang-orang yang tidak puas dengan hasil pemilu atau pilkada karena dianggap ada kecurangan. Unsur kecurangan tersebut jika ditelusuri lebih jauh lagi faktor penyebabnya karena masih dipraktekkannya cara-cara ala Nicolo Machiavelli, yaitu melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Itu baru di bidang politik. Bagaimana di bidang-bidang lainnya?

          Kalau mau ditelisik demikian banyak di luar politik bidang-bidang kehidupan yang dilakukan orang-orang “MEOK” untuk memperoleh kenikmatan dunia dengan cara-cara yang ilegal. Meskipun demikian, kita tidak boleh terpesona bahwa hidup itu indah sehingga harus selalu indah.  Atau hidup itu nikmat sehingga kita harus hidup dalam suasana kenikmatan.  Kalau sudah demikian falsafah hidup kita, kita tergolong orang yang mendukung hedonisme.  Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme menjadikan kita sebagai hamba konsumerisme.  Dengan kata lain, hedonisme menjadikan kita manusia yang kontraproduktif.

          Sebagai penutup saya awali sebuah kalimat yang cenderung memvonis orang-orang `MEOK`. Saya memvonisnya sebagai orang yang tidak punya kepribadian atau integritas diri atau tidak punya afiliasi. Tentang afiliasi, partisipasi, atau kontribusi yang saya tuliskan di bagian penutup itu, silakan saja cara di website saya (www.subagiowaluyo.com) tulisan yang berjudul “Afiliasi-Partisipasi-Kontribusi”. Dengan membaca tulisan tersebut diharapkan pembacanya akan semakin memiliki wawasan yang lebih luas lagi. Itu harapan saya.

Orang “MEOK” yang pasti tidak punya kepribadian atau integritas diri. Bisa juga disebut sebagai orang yang tidak punya afiliasi. Untuk itu, orang “MEOK” jangan diharapkan bisa berpartisipasi. Apalagi untuk memberikan kontribusi rasa-rasanya tidak mungkinlah. Oleh karena itu, kita perlu menghindar dari penyakit “MEOK”. Bagaimana untuk menghindari penyakit tersebut? Lakukan tiga tangga kehidupan, yaitu afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Dengan cara demikian, diharapkan kita bisa menjadi model manusia Indonesia yang ideal sehingga terhindar dari perilaku hidup yang hedonis atau “MEOK”.

          Paragraf-paragraf di atas, yang ditulis di dalam kotak-kotak akan tampak terlihat wujudnya jika dimasukkan secara utuh. Untuk itu, tidak ada salahnya kalau dimasukkan saja semua kalimat, paragraf, ke dalam satu kotak sehingga terwujud sebuah tulisan eksposisi. Saya berharap dengan melihat secara utuh, pembaca akan memiliki gambaran seperti inilah kira-kira sebuah tulisan eksposisi. Ternyata, tulisan eksposisi itu bisa diawali dengan sebuah narasi atau cerita dari penulis. Boleh juga diawali dengan cerita yang disampaikan orang pada kita. Atau boleh juga dari cerita orang yang ditulis baik, di media cetak atau online. Dari cerita tersebut, kita jadikan sebagai tesis yang nantinya kita kembangkan menjadi tulisan eksposisi. Kalau ada yang mau mencoba, silakan saja! Untuk saat ini, kita lihat dulu saja contoh tulisan eksposisi berikut ini.

“MEOK”

 Subagio S.Waluyo

       Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat di kaca belakang angkot K-02 (Pondok Gede—Terminal Bekasi) ada tulisan “MEOK” yang buat saya tulisan tersebut tidak asing lagi karena tulisan yang sama di tahun-tahun 70-an pernah saya jumpai di Jembatan Merah,Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya yang waktu itu masih bersekolah di SLA ada sesuatu yang asing dengan tulisan itu. Saya sempat bertanya pada beberapa teman atau orang-orang yang lebih tua. Ternyata mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan “MEOK”. Saya juga sempat buka di Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh P.W.J. Poerwadarminta, ternyata jawabannya nihil alias tidak ada. Tulisan itu baru saya dapati ketika suatu saat di salah satu majalah terbitan Pusat Bahasa memuat tulisan tentang grafiti, yaitu corat-coret remaja di tembok atau di tempat-tempat terbuka umum yang terkadang disertai dengan gambar-gambar atau simbol-simbol yang menunjukkan jati diri mereka, ternyata kata tersebut merupakan sebuah akronim. Kata “MEOK” itu sendiri jika ditulis lengkap akan berbunyi `Makan Enak Ogah Kerja`.

***

          Penulis grafiti “MEOK” saya kurang tahu apakah mereka termasuk dalam komunitas orang-orang yang tergolong “MEOK” atau yang berempati pada “MEOK” atau yang tidak suka kehadiran “MEOK”. Mungkin-mungkin saja penulis grafiti “MEOK” sudah tidak ada atau seandainya adapun usianya sudah lanjut (manula). Mudah-mudahan saja seandainya mereka sudah tua bukan lagi tergolong manusia “MEOK” karena akronim itu mencerminkan manusia yang cenderung malas mencari nafkah. Manusia yang ada kecenderungan mau hidup enak tanpa ada cucuran keringat. Manusia yang tentu saja tidak punya kemandirian. Manusia seperti ini boleh juga tergolong manusia yang `hedonis`. Mereka bisa juga dimasukkan sebagai penganut paham `hedonisme`.

          Kata `hedonis` menurut A.Mangunhardjana (Isme-Isme dari A sampai Z, 1997:90-92) berasal dari kata `hedone` yang berarti `kenikmatan`. Semua bentuk kenikmatan yang dilakukan manusia secara pribadi, baik kenikmatan indriawi bagi orang-orang yang sensual, kenikmatan intelektual bagi para ilmuwan, maupun kenikmatan estetis bagi pencinta materi (kebendaan) disebut `hedonis`. Karena kenikmatan tersebut lebih bersifat pribadi, kenikmatan di sini menjadi perkara subjektif. Jadi, dalam hal ini orang-orang yang merasakan kenikmatan etis, moral, religius mereka tergolong `hedonis`. Namun, dalam kenyataannya kata tersebut mengalami penyempitan makna. Kata `hedonis` saat ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan sikap konsumeristis. Dengan kata lain kata `hedonis` selalu dikaitkan dengan budaya konsumtif. Manusia atau masyarakat yang menganut paham ini biasa disebut `konsumerisme` atau di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan sebutan `matre` (maksudnya materialistis). Sedangkan kata `konsumerisme` diartikan sebagai sikap hidup yang lebih mau menikmati daripada menahan, mengkonsumsi daripada memproduksi. Dengan demikian, orang yang `hedonis` karena sudah dipastikan disertai dengan pendekatan sikap `konsumeristis` lebih suka mendapat daripada memberi atau membeli daripada memproduksi/membuat sendiri.

          Orang `hedonis` atau “MEOK” adalah orang yang lebih mengedepankan tangan di bawah daripada tangan di atas. Tipe peminta-minta karena tuntutan konsumeristis daripada orang yang tergolong pemurah karena suka memberi. Tipe manusia seperti ini adalah tipe yang tidak mau susah. Kalau perlu menghindari kesusahan atau penderitaan sekalipun karena hidup ini harus diisi dengan kesenangan dan kenikmatan bukan kesusahan dan penderitaan. Tipe manusia seperti ini adalah tipe orang yang tidak bisa memberi manfaat buat orang lain. Sebaliknya, dia menjadi jenis manusia yang selalu memanfaatkan kebaikan orang lain. Karena tidak bisa memberi manfaat buat orang lain, orang “MEOK” tidak memiliki rasa peduli. Ia lebih mementingkan diri sendiri. Ia tidak mau tahu kalau ada orang di sekitarnya meminta uluran tangan atau belas kasihannya. Ia cenderung bikin orang susah. Jadi, orang “MEOK” merupakan orang bermasalah yang bisa dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang berpenyakit sosial.

          Orang “MEOK” karena ada kecenderungan untuk memperoleh sesuatu tanpa kerja keras, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Di bidang politik orang-orang “MEOK” akan mempraktekkan cara-cara Nicolo Machiavelli untuk mendapatkan kekuasaan. Salah satu cara ajaran Nicolo Machiavelli yang dinilai tidak bermoral adalah untuk mendapatkan kekuasaan seseorang bisa melakukan apa saja, termasuk ke dalamnya melakukan cara-cara baik halus maupun kasar. Kalau perlu untuk mendapatkan kekuasaan sah-sah saja orang tersebut membunuh lawan politiknya. Kalau di negara ini, misalnya, dari pemilu ke pemilu atau pilkada ke pilkada selalu ada saja keributan, pasti faktor penyebabnya lebih disulut orang-orang yang tidak puas dengan hasil pemilu atau pilkada karena dianggap ada kecurangan. Unsur kecurangan tersebut jika ditelusuri lebih jauh lagi faktor penyebabnya karena masih dipraktekkannya cara-cara ala Nicolo Machiavelli, yaitu melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Itu baru di bidang politik. Bagaimana di bidang-bidang lainnya?

          Kalau mau ditelisik demikian banyak di luar politik bidang-bidang kehidupan yang dilakukan orang-orang “MEOK” untuk memperoleh kenikmatan dunia dengan cara-cara yang ilegal. Meskipun demikian, kita tidak boleh terpesona bahwa hidup itu indah sehingga harus selalu indah.  Atau hidup itu nikmat sehingga kita harus hidup dalam suasana kenikmatan.  Kalau sudah demikian falsafah hidup kita, kita tergolong orang yang mendukung hedonisme.  Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme menjadikan kita sebagai hamba konsumerisme.  Dengan kata lain, hedonisme menjadikan kita manusia yang kontraproduktif.

***

          Orang “MEOK” yang pasti tidak punya kepribadian atau integritas diri. Bisa juga disebut sebagai orang yang tidak punya afiliasi. Untuk itu, orang “MEOK” jangan diharapkan bisa berpartisipasi. Apalagi untuk memberikan kontribusi rasa-rasanya tidak mungkinlah. Oleh karena itu, kita perlu menghindar dari penyakit “MEOK”. Bagaimana untuk menghindari penyakit tersebut? Lakukan tiga tangga kehidupan, yaitu afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Dengan cara demikian, diharapkan kita bisa menjadi model manusia Indonesia yang ideal sehingga terhindar dari perilaku hidup yang hedonis atau “MEOK”.

Sumber Gambar:

(https://www.facebook.com/07jjbnm/)

By subagio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat