Bahasa dan Sastra

SASTRA DAN MASALAH SOSIAL (7)

Subagio S. Waluyo

Negara ini negara Satu Nusa Satu Bangsa,bukan negara satu keluarga satu kaya lalu yang lain merana.Negara ini negara Pancasila,bukan negara asusila yang melecehkan negara.Negara ini negara hukum,bukan negara umum bagi yang biasa lalu menjadi khusus bagi penguasa.Negara ini negara hak asasi manusia,bukan negara hak menguasai manusia.Negara ini negara demokratis,bukan negara atheis lalu krisis romantis.

(https://www.kompasiana.com/ilmaj/5d3d207e097f364b774db1f2/negara-ini)

8.  Masalah Pertikaian dan Konflik Sosial Antarkelompok

Sastrawan sebagai manusia, juga sebagai anggota masyarakat, memiliki kepedulian terhadap lingkungannya. Tidak aneh jika banyak sastrawan yang menjadikan masalah-masalah sosial di sekitarnya dimasukkan ke dalam karya-karyanya. Salah satu masalah sosial yang sering dijadikan objek penulisan di antaranya yang berkaitan dengan pertikaian dan konflik sosial. Masalah sosial yang satu ini dalam novel Amba oleh Laksmi Pamuntjak (walaupun novel ini sarat muatan percintaan Amba dan Bhisma) sebagian besar dilatarbelakangi kehidupan sosial bangsa ini di masa Orde Lama. Di masa itu terjadi pertikaian kalangan NU, PNI dan umat Islam (terutama yang berasal dari Masyumi) dengan PKI (dalam hal ini masuk ke dalamnya Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia). Pertikaian dan konflik sosial yang terjadi di masa itu menelan korban sangat banyak dari kedua belah pihak. Meskipun dalam novel Amba hanya sekilas ditulis tentang pertikaian antarkelompok masyarakat, paling tidak pembaca sudah bisa menyimpulkan di masa-masa Orde Lama ketika mau beralih ke Orde Baru terjadi sesuatu yang cukup menakutkan. Di kota-kota kecil Jawa Timur saja konflik terjadi, misalnya, seorang supir traktor yang dikepung massa dan dikubur hidup-hidup lantaran mau membongkar ladang di sebuah desa. Massa yang berkerubung oleh polisi tidak cukup diberi tembakan peringatan. Untuk membubarkannya harus ditembak langsung ke kerumunan massa itu.     

PKI sebagai partai yang cukup berkuasa pada waktu itu bersama-sama dengan antek-anteknya, seperti Pemuda Rakyat juga memburu umat Islam. Ketika sejumlah kalangan pemuda Islam (yang menurut mereka dari kalangan Masyumi) berkumpul di sebuah masjid, Pemuda Rakyat yang berjumlah ribuan orang mengusir mereka dengan kekerasan. Mereka juga meneriaki pemuda-pemuda dari organisasi Islam itu yang jumlahnya hanya ratusan dengan teriakan `Anti Nekolim`, `Anti Revolusi`. Jadi, di masa itu sudah ada stigma kalau umat Islam yang taat (dari kalangan santri) sebagai `Anti Nekolim` atau `Anti Revolusi`. Tidak cukup sampai di situ,mereka juga menggiring massa dari  kalangan pemuda Islam itu ke kantor polisi. Tapi, PKI di pusat (Jakarta) tidak pernah memberitakan masalah itu. PKI justru mengatakan kalau mereka (para pemuda Islam) itu sebagai pengacau bekas partai terlarang (dalam hal ini Masyumi). PKI ingin menunjukkan pada pemerintah pusat tidak ada ketegangan antara PKI dan NU. Jelas, di masa Orde Lama saja sudah terjadi kamuflase pemberitaan. Apalagi di masa-masa setelah itu ketika teknologi media massa (sekarang masuk juga ke dalamnya media online) semakin canggih sarana dan prasarana yang digunakan. 

Bhisma menghela napas. “Tadi, sekitar pukul 10.00, ada bentrokan antarpemuda. Dua belas luka-luka, tujuh Pemuda Rakyat dan lima Banser. Sebagian dibawa ke Rumah Sakit Baptis, sebagian kemari. Dua orang tidak tertolong nyawanya.

………………………………………………………………………………………………………

Sebenarnya aku sudah tahu. Semenjak seorang dan LEKRA di kota ini menganjurkan aku membantu kerja kesehatan Serikat Buruh Gula di Ngadirejo, sambil bekerja di rumah sakit ini, aku sudah tahu daerah ini seperti api dalam jerami. Tetapi aku tak menyangka keadaan begini eksplosif.”

Bhisma menghela napas lagi. “Beberapa minggu yang lalu seorang lurah di Garu, 10 kilometer dari sini, dibacok, dia orang PNI. Mungkin aku naïf, menganggap ketegangan lama sudah reda. Aku lupa pertumpahan darah selalu punya bekas yang gelap.

……………………“Kemarin dulu seorang dokter Amerika yang bekerja di Rumh Sakit Baptis bercerita bagaimana ia ketakutan ketika merawat korban-korban penembakan di Jengkol empat tahun yang lalu.”

…………………….Ketika para penggarap berdemonstrasi, mereka ditembaki. Polisi mengatakan tembakan peringatan tidak ada gunanya lagi karena massa menyerang, dan sopir traktor yang datang untuk membongkar ladang itu dikepung massa dan dikubur hidup-hidup. BTI mengatakan tuduhan itu bohong. Tidak penting mana yang benar, tapi pendeknya banyak korban. Dokter dari Rumah Sakit Baptis itu kebetulan di sana, dan ia yang menolong yang luka dan mati. Ia ketakutan karena polisi dan tentara mencurigainya, ia juga ketakutan karena orang-orang BTI juga mencurigainya; ia orang Amerika.

“Dendam dan sakit hati tertanam di mana-mana di daerah Kediri, Amba.”

…………….. “Mungkin bentrokan tadi pagi meletus karena orang-orang pesantren dan Banser berniat membalas apa yang terjadi di Kanigoro beberapa bulan yang lalu. Kamu dengar kejadian itu?”

Amba menggeleng, sedikit malu. Bhisma memandangnya sebentar, lalu: “Kekerasan membuat aku bertanya-tanya tentang banyak hal—ya, banyak hal. Kita memulainya, mungkin sebagai keharusan untuk mengubah keadaan jadi lebih baik, tetapi berulang kali manusia tidak tahu bagaimana menghentikannya. Berkali-kali begitu. Bulan Januari itu beberapa ribu anggota Pemuda Rakyat mendatangi sebuah masjid di sebuah pesantren di Kanigoro yang dipakai untuk pertemuan pemuda bekas partai terlarang, Masyumi. Mereka berhasil membubarkan pertemuan itu dan menggiring sekitar seratus orang pesertanya ke kantor polisi. Aku dengar dari seorang bekas santri di sana. Pemuda Rakyat memukuli beberapa orang dari pemuda-pemuda Islam itu dan meneriaki mereka sepanjang jalan, antek Masyumi, antek Nekolim, kontrarevolusi. Orang-orang itu tidak bisa apa-apa, apalagi membalas, mereka seperti kambing di pasar ternak. Dan peristiwa itu diberitakan di Jakarta, dan Partai segera membuat pernyataan bahwa tidak ada ketegangan antara massa PKI dan NU; yang ada hanya pengacau bekas partai terlarang. Tetapi aku kira dendam tersimpan di Kanigoro. Bentrokan tadi pagi itu gejalanya.”

……………………………………………………………………………………………….

Semenjak pagi, rumah sakit seperti diguncang-guncang. Baret hijau dan orang-orang yang tampak marah, atau juga cemas, datang membawa senjata. Dr. Suhadi tak masuk kantor karena ada urusan keluarga. Bingung dan ketakutan menyebar. Separuh dari pegawai menghilang tanpa izin, satu-satu. Semua mendengar kabar bahwa di alun-alun kota,Banser berkumpul lalu bergerak ke Banjaran, menyerang kantor PKI. Perkelahian terjadi, korban jatuh, orang-orang PKI meninggalkan tempat itu, kantor mereka dibakar.

(Dikutip dari Novel Amba oleh Laksmi Pamuntjak)

(https://images.app.goo.gl/rrP8E1RnvpUGFiX99)

Konflik dan pertikaian sosial antarkelompok masyarakat juga terjadi di masa Orde Baru dan Reformasi. Konflik di Aceh antara ABRI (sekarang TNI) dan beberapa masyarakat Aceh, yang dalam hal ini digerakkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) boleh dikatakan konflik yang cukup panjang (1990-1998). Di masa itu untuk menyelesaikan konflik dibentuk Operasi Jaring Merah yang tugasnya menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok separatis di Aceh, yaitu GAM. Selama periode itu Provinsi Aceh dinyatakan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Dalam melaksanakan tugasnya, aparat militer melakukan cara-cara yang tidak manusiawi. Mereka bukan hanya sekedar memerangi, tapi jelas-jelas  melakukan pelanggaran HAM. Bukti bahwa mereka melakukan pelanggaran HAM di antaranya melakukan eksekusi sewenang-wenang, penculikan, penyiksaan, pemerkosaan terhadap kaum wanita, penghilangan (sampai sekarang belum jelas korban penghilangan tersebut), dan pembakaran desa.  Amnesty International menyebutkan diluncurkannya operasi militer ini sebagai “shock therapy” bagi GAM (https://id.wikipedia.org/wiki/Operasi_militer_Indonesia_ di_Aceh_1990-1998). Tentang gambaran kekejian yang dilakukan aparat militer pada waktu itu sehingga layak disebut sebagai pelanggaran HAM dan menimbulkan pertikaian serta  konflik sosial antarkelompok masyarakat bisa dilihat berikut ini.    

Aku sangat menguasai peta Aceh Timur.  Karena itu, setiba di Meunasah, aku langsung memeluk satu demi satu rombongan dari Sidikalang, termasuk juga penduduk Desa Dayah Baureuh yang siap membantu membongkar pekuburan massal yang tak jauh dari desa itu sendiri.

Kami menggali mayat-mayat itu secara hati-hati.  Ada pakaian korban yang masih utuh.  Dari KTP yang di laminating dari tiga tengkorak, ada pula beberapa orang bahkan teman sekelasku di SMP dan SMA.  Banyak tengkorak yang sulit dikenali, karena tanpa KTP.  Kami masih terus membolak-balik beberapa tengkorak, tinggal tiga tengkorak yang masih keliru identitasnya.  Ada pula yang keliru karena ditemukan cincin tembaga yang mengikat batu akik darah.

“ini pasti si Amir”, kata ibu Amir.

Seorang ibu mengaku pula : “ini jari tulang anakku.  Ini cincin batu pirus Persia si Buyung”.

Mak Toha yang masih merahasiakan kecemasannya.

“Kabarnya Ali melawan waktu itu”, ujar Udin, seorang saksi mata, yang seusiaku.

“Lalu?  Setelah dia melawan?” tanyaku.

“Dia ditembak langsung oleh Kapiten”, kata Udin.

Inilah yang memberi inspirasi padaku bertanya seorang tentara yang mengawasi penggalian itu : “Jika komandan, dia menggunakan senjata genggam atau senjata laras panjang, Mas?”

“Biasanya pistol”, jawabnya.

Langsung kuambil satu tengkorak kepala.  Kening batok kepala itu berlubang.

“Kalau cerita Udin tadi betul, ini pasti tengkorak si Ali”, kataku.

Kening tengkorak kepala itu berlubang.  Lalu aku bersihkan tanah yang mengisi bagian dalamnya.  Dan kutemukan pula sebutir peluru.  Kuambil peluru itu, aku tunjukkan kepada tentara tadi dan bertanya : “ini peluru senjata genggam?”

“Betul.  Ini peluru pistol Vickers”.

“Mak Toha sudah puas?” tanyaku.

“Alhamdulillah.  Tapi itu!  Itu giginya coba bersihkan, Nak!  Itu gigi platina si Ali”, kata wanita tua itu gembira.  Kucabut gigi palsu platina itu, lalu kuberikan pada Mak Toha. Beliau mencium gigi palsu putranya, lalu memasukkannya ke dalam dompet.  Sedangkan peluru Vickers tadi kumasukkan ke kantong bajuku.  Penemuan gigi palsu ini memberi indikasi bagi seorang pemuda yang berseru :

“Jika ini tengkorak kepala Ali, tentu ini kepala Rozak Harimau”, ujar Tengku Jalal.  “Gigi Rozak gingsulnya yang mirip taring harimau”.

 

Mata Mak Toha berpijar-pijar ketika aku bersama semua karib kerabat mulai mencuci setiap tengkorak sebagaimana upacara pemandian jenazah.  Setelah bersih dan dikafankan, semua tengkorak korban DOM itu dijajar, lalu kami melaksanakan shalat jenazah.  Kemudian satu demi satu dimasukkan ke liang kubur.

Kadangkala aku bertanya, peluru Vickers yang kukantongi inikah yang membuat aku sering teringat Ali dan selalu menghela napas dalam-dalam?

Berbeda pula suasana yang aku rasakan seminggu kemudian, sewaktu aku membongkar kuburan kakekku.  Tapi cerita yang sama terjadi.  Tengkorak kepala kakekku juga berlubang tepat di tengah keningnya sebagaimana lubang di kening tengkorak kepala Ali.  Lubang itu cukup besar.  Dan dalam batok kepala Inyik tidak kutemukan butir peluru.  Yang ada justru di belakang batok kepala Inyik ada lubang yang lebih besar lagi.  Agaknya, peluru itu menembus bagian batok kepala kakekku.  Kalau begitu, batok belakang kepala Ali lebih kuat sehingga peluru tentara itu tak bisa menembusnya.  Padahal yang menembak kepala kakekku juga tentara.  Tapi tentara fasis Jepang.  Di zaman penjajahan Jepang, fasisme militer Jepang sangat kejam.

Pada malam tahlilan selesai penguburan Inyik, muncul usul dalam rapat keluarga di Lhok Seumawe.  Mereka menugaskan aku untuk meminta kepada Pemerintah R.I., supaya kakekku diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

“Tak ada perlunya”, kataku.

“Tapi kakekmu korban kekejaman tentara penjajah”, kata pamanku.

“Lalu teman saya Ali, bagaimana?  Dia malah bukan korban kekejaman tentara penjajah, melainkan korban kekejaman tentara bangsa sendiri”, ujarku.

Semua yang hadir di malam tahlilan itu terdiam.

(Dikutip dari cerpen “Dua Tengkorak Kepala”/Motinggo Boesye)

Dalam pertikaian di Aceh, militer tampaknya mengubur orang-orang Aceh yang dianggap sebagai pemberontak apa adanya. Untuk itu, ketika dilakukan penggalian kuburannya ditemukan mereka masih berpakaian utuh, KTP yang masih dilaminating, cincin tembaga yang dihiasi dengan batu akik sehingga bisa diketahui pemiliknya. Ada juga yang memakai cincin dengan batu Pirus Persia, tapi ada juga yang ditemukan dengan tengkorak manusia yang kening batok kepalanya berlubang. Ternyata, itu batok kapala teman Tokoh Aku: Ali. Ali ditembak kepalanya. Pelurunya masih ada di batok kepalanya. Peluru itu diakui memang milik tentara dari jenis Vickers. Dengan demikian, dapat disimpulkan mereka yang melawan walaupun tidak bersenjata dihabisi oleh tentara. Meskipun peristiwa yang sama pernah terjadi pada kakek Tokoh Aku (yang sempat minta diusulkan agar kakek Tokoh Aku diberi gelar pahlawan nasional), peristiwanya tidak sama karena Ali justru dibunuh oleh bangsa sendiri.

Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya “Telepon dari Aceh” juga berkisah tentang kekejaman tentara ketika berhadapan dengan kelompok separatis Aceh. Di cerpen itu dikisahkan sebuah tangan menyembul dari balik tanah. Karena hujan deras yang menyisihkan tanah, muncullah di permukaan tanah sekian banyak tangan manusia. Ternyata, itu adalah tangan-tangan kelompok separatis yang berperang melawan tentara. Oleh tentara mereka yang dibunuh langsung dikubur secara  massal tanpa dimandikan, dikafani, apalagi disholatkan dan dido`akan. Orang-orang yang dibunuh tentara itu setelah digali ada lima puluh orang. Mereka ditemukan dalam kondisi luka tembak. Ada yang masih bisa dikenali, tapi tidak sedikit yang tidak jelas identitasnya.  

SEBUAH tangan menyembul dari balik tanah. Mula-mula hanya telapak tangannya, tetapi hujan deras lantas menyisihkan tanah, sehingga seluruh lengannya muncul.

 ”Ada tangan.”

 ”Apa?”

 ”Tangan.”

 Tanah becek itu sebentar-sebentar berkilat. Dalam hujan deras yang penuh dengan guntur dan halilintar, orang-orang akhirnya menemukan tempat itu.

 ”Ini arah yang ditunjuk anak gembala itu?”

 ”Iya, jejak roda truk itu menuju ke sini.”

 ”Ayo gali! Cepat!”

Orang-orang menggali tanpa kata. Hanya terdengar suara pacul dan sekop menyendok tanah di tengah suara hujan dan angin yang hingar-bingar. Suara air hujan yang menghempas ke daun-daun pohon pisang, suara ranting-ranting yang berdesau miring tertiup angin, dan suara-suara angin itu sendiri yang menampar-namparkan hujan ke wajah mereka yang basah. Guntur dan halilintar meledak-ledak sebentar-sebentar menerangi langit. Setiap kali langit menjadi terang, orang-orang yang mencangkul dan menyekop itu sekilas berpandangan. Wajah mereka basah oleh air hujan maupun air mata. Tiada seorang pun dari mereka merasa betapa angin sebenarnya begitu dingin.

Mayat-mayat muncul dari dalam tanah seperti kenyataan. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh. Sebagian bisa dikenali. Sebagian tidak. Semuanya mendapat luka tembak.

(Dikutip dari cerpen “Telepon dari Aceh” karya Seno Gumira Ajidarma)

Penjajah, dalam hal ini Belanda, ketika berhadapan dengan para pejuang rakyat Aceh pada waktu itu juga melakukan cara-cara keji. Cara-cara keji itu tampaknya diwariskan pada tentara-tentara republik ini. Walaupun masih sama-sama satu bangsa, mereka dengan teganya membunuhi kelompok separatis dengan cara-cara keji. Bahkan, tentara-tentara itu tidak sebatas hanya memerangi kelompok separatis, tetapi juga melakukan cara-cara yang asusila seperti perempuan dirusak kehormatannya (diperkosa). Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menghancurkan tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan meunasah (musola). Dalam puisi berjudul “Seperti Belanda” Fikar W Eda mengungkapkan kalau tentara ketika berhadapan dengan kelompok separatis sama seperti Belanda. Tentara-tentara (pemerintah pusat) yang telah berhasil menaklukkan kelompok separatis dan rakyat Aceh dengan leluasa juga mengeruk kekayaan alam Aceh. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menghancurkan sarana-sarana ibadah. Tapi, sekejam-kejamnya Belanda mereka tidak sampai memerkosa para istri (kaum wanita) dan menebas leher putra-putri Aceh. Wajar saja kalau perilaku tentara-tentara yang dikirim oleh Jakarta (pusat) melebihi perilaku tentara-tentara Belanda.  

SEPERTI BELANDA

                               Oleh Fikar W Eda

seperti Belanda

mereka atur siasat

membuat kami takluk

bertekuk lutut

seperti Belanda

mereka rebut hati kami

dengan cahaya janji

sambil mengutip kitab suci

seperti Belanda

mereka suguhi kami anggur

hingga kami mendengkur

lalu dengan leluasa

mengeruk perut kami

gas alam, minyak, emas, hutan,

sampai akar rumput bumi

seperti Belanda

mereka pun menghunus sangkur

dengan senapan siap tempur

rumah-rumah digempur

masjid, meunasah

dibuat hancur

melebihi Belanda

mereka perkosa istri-istri kami

mereka tebas leher putra putri kami

mereka bunuh harapan dan cita-cita kami

melebihi Belanda

itulah Jakarta!

 

Jakarta, 1999

(Dikutip dari buku Aceh Mendesah dalam Nafasku)

Rezim yang berkuasa pada waktu itu (Orde Baru) jelas menyisakan sejarah hitam buat rakyat Aceh. Tidak mungkin rakayat Aceh dalam waktu cepat bisa menghapus histori yang  menyesakkan dada perilaku militer yang berkuasa pada waktu itu. Sampai saat ini juga tidak ada kejelasan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM di Aceh. Sama seperti halnya kasus-kasus yang pernah ada di negara ini pemerintah yang berkuasa cenderung melakukan pembohongan publik. Sejarah hitam yang pernah ada di seantero Nusantara akhirnya hanya jadi koleksi di museum persis seperti yang diungkapkan Agus R. Sarjono dalam puisinya: “Iklan Wisata Sebuah Biro Perjalanan”.  

 Iklan Wisata Sebuah Biro Perjalanan

                                                Oleh Agus R Sarjono

Jika Anda datang ke Indonesia, jangan lupa

datang ke Aceh. Negeri tua yang tabah,

tajam rencongnya bikin gentar nyali penjajah.

Negeri indah. Hasil bumi dan tambang

serba berlimpah. Di jaman modern,

daerah ini menjadi museum.

Anda bisa berfoto di depan gundukan mayat

atau kaum perempuan yang habis diperkosa.

Jika Anda tak punya peliharaan, bisa Anda pungut

anak yatim sebanyak Anda suka.

Inilah Aceh, daerah yang istimewa. Janganlah

meminta lagu-lagu, baik keras maupun merdu.

Di sini erang luka dan kesakitan

direkam orang buat hiburan.

(Dikutip dari buku Aceh Mendesah dalam Nafasku)

 Melihat puisi di atas kita seperti melihat sebuah kesinisan Agus R. Sarjono ketika menyaksikan di panggung sejarah kekejian militer bangsa sendiri memperlakukan rakyat Aceh. Bagaimana tidak sinis (bahkan cenderung sarkasme) kalau Agus R. Sarjono menulis:

Jika Anda datang ke Indonesia, jangan lupa

datang ke Aceh. Negeri tua yang tabah,

tajam rencongnya bikin gentar nyali penjajah.

Negeri indah. Hasil bumi dan tambang

serba berlimpah. Di jaman modern,

daerah ini menjadi museum.

Anda bisa berfoto di depan gundukan mayat

atau kaum perempuan yang habis diperkosa.

Bisa kita bayangkan, potongan puisi di atas menyebutkan kalau rakyat Aceh dengan rencongnya bisa membuat penjajah gentar nyalinya. Wajar kalau penjajah gentar nyalinya karena Aceh boleh dikatakan daerah yang paling terakhir berhasil ditundukkan oleh Belanda. Jujur saja, Aceh boleh dikatakan tidak pernah berhasil dijajah oleh Belanda karena selalu ada perlawanan dari rakyat Aceh. Tapi, di masa Orde Baru dengan cara-cara biadab pemerintah yang berkuasa pada waktu itu melakukan cara-cara amoral. Mereka bunuh rakyat Aceh, bukan hanya kelompok yang menamakan dirinya separatis atau GAM, mereka juga rusak kehormatan kaum perempuannya, mereka bumi hanguskan tempat-tempat ibadahnya, dan mereka rampok kekayaan alamnya. Selanjutnya, Agus R. Sarjono menulis:

Jika Anda tak punya peliharaan, bisa Anda pungut

anak yatim sebanyak Anda suka.

Inilah Aceh, daerah yang istimewa. Janganlah

meminta lagu-lagu, baik keras maupun merdu.

Di sini erang luka dan kesakitan

direkam orang buat hiburan.

Anak-anak yatim dari hasil pembantaian keji atau pemerkosaan itu (yang tidak mustahil di antara perempuan itu ada yang hamil) dipersilakan diadopsi atau ditampung di panti-panti asuhan. Apakah ini bukan sebuah sindiran yang cukup keras (sarkasme) bagi kita yang masih punya hati nurani yang bersih? Penguasa yang telinganya sudah ditutup rapat-rapat tidak lagi mau mendengar keluhan mereka. Memang, pemerintah yang berkuasa setelah Orde Baru (Reformasi) memenuhi permintaan rakyat Aceh yang menginginkan Aceh sebagai daerah istimewa sama seperti Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Papua. Provinsi Aceh pun di masa reformasi ini menjadi Nanggaroe Aceh Darussalam (NAD). Tapi, luka-luka sejarah tidak bisa dihilangkan dari memori rakyat Aceh. Masyarakat Aceh bisa memaafkan perilaku militer yang memang atas instruksi pemerintah pusat pada waktu itu agar GAM dan sekaligus rakyat Aceh tunduk pada pusat. Meskipun demikian, perlu diingat sejarah hitam yang penuh dilumuri darah dan perilaku asusila tidak boleh ada lagi di Bumi Nusantara ini kalau kita benar-benar orang-orang yang cinta pada NKRI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat