SASTRA DAN MASALAH SOSIAL (1)

Subagio S. Waluyo

Perubahan tidak berasal dari alam, tetapi dari kesadaran manusia dan masyarakat itu sendiri. Perubahan tidak hanya terjadi pada individu-individu melainkan pada seluruh masyarakat.

Masalah sosial, seperti kemiskinan bagi sastrawan di negeri ini (bahkan di seluruh dunia) kerap mengangkatnya sebagai masalah yang menarik untuk dijadikan objek tulisannya. Boleh dikatakan masalah yang satu ini tidak pernah orang bosan untuk membaca dan sekaligus berupaya untuk  mengapresiasinya. Kenapa bisa demikian? Masalah kemiskinan `kan memang akrab dengan kehidupan kita. Masalah kemiskinan tidak akan punah di muka bumi ini. Boleh saja orang bermimpi bahwa dunia ini suatu saat tidak ada lagi orang miskin. Tapi, itu `kan mimpi. Silakan kalau ada orang yang sangat berkeinginan mensejahterakan sebuah bangsa sehingga tidak ada lagi orang yang berkeluh kesah tentang hidupnya yang selalu dililit kemiskinan. Tetap saja demikian adilnya Sang Khalik yang telah menentukan bahwa di dunia pasti ada orang kaya dan ada orang miskin.

Daripada repot-repot berwacana mensejahterakan sebuah bangsa agar tidak ada lagi orang miskin yang ujung-ujungnya selalu mengalami kegagalan lebih baik mengangkat kemiskinan sebagai masalah sosial ke dalam karya sastra. Silakan masukkan masalah sosial yang satu ini ke dalam cerpen, novel, puisi, atau naskah drama sekalipun. Dijamin masalah kemiskinan tidak akan membosankan bagi penikmat sastra. Bukankah masalah kemiskinan sama halnya dengan masalah percintaan yang tidak jenuh untuk dinikmati? Masalah kemiskinan dan percintaan boleh jadi tidak akan membosankan karena keduanya erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Bukankah masalah-masalah di sekitar kehidupan manusia tidak akan selesai-selesainya dibahas karena baik yang membahas maupun yang dibahas juga sama: manusia. Dengan kata lain, baik subjek maupun  objeknya sama: manusia. Dengan demikian, semua hal yang berkaitan dengan kehidup manusia (bisa juga kehidupan masyarakat) tidak akan jenuh orang untuk membahasnya.

Berkaitan dengan masalah sosial,karya sastra merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Untuk itu,karya sastra juga tidak terlepas dari sosial-budaya dan kehidupan masyarakat yang digambarkan. Sebuah karya sastra juga menuntut pembacanya untuk menangkap ide, gagasan, pengalaman, dan amanat penulis yang dituangkan ke dalam karyanya. Jadi, karya sastra tidak cukup hanya dibaca tapi juga diperlukan apresiasi. Bahkan, jika perlu, direnungkan muatan yang terkandung di dalamnya. Perlu juga diketahui, sebuah karya sastra yang dihasilkan oleh seorang sastrawan dipengaruhi oleh lingkungan dan zamannya. Di Masa Balai Pustaka, karya-karya sastra yang lahir mencerminkan kondisi lingkungan yang terjadi pada saat itu. Jadi, kalau pada saat itu terjadi kawin paksa, tidak aneh dalam karya-karya sastra yang lahir saat itu banyak berkisah tentang kawin paksa. Di Masa Pujangga Baru, di beberapa tempat di negara ini masih ada kawin paksa, tetapi masyarakatnya sudah mulai berkembang intelektualnya (walaupun masih tergolong minim) sehingga karya-karya sastra yang lahir sudah mulai menuntut adanya kesetaraan gender. Novel Belenggu, misalnya, sudah menggambarkan adanya kesetaraan gender di antara tiga tokohnya: Tono, Tini, dan Yah. Begitu juga di Masa Penjajahan Jepang karya-karya sastra banyak menggambarkan nasib bangsa di bawah penjajahan Jepang. Masa-masa berikutnya juga sama, setiap sastrawan pasti memuat masalah-masalah sosial yang muncul di sekitarnya. Masalah-masalah sosial yang diangkat para sastrawan mencerminkan bahwa setiap sastrawan memiliki kepentingan terhadap kehidupan masyarakat (sosial). Sebagai bukti bahwa setiap sastrawan memiliki kepentingan terhadap kehidupan sosial (lebih khusus masalah sosial) bisa kita lihat beberapa karya sastra baik yang ada di Masa Balai Pustaka maupun di Masa Reformasi seperti sekarang ini. Berikut diambil beberapa contoh petikan naskah dari karya-karya sastra Indonesia yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial.

  1. Kemiskinan dan Pengangguran

 Sastrawan Indonesia banyak memuat masalah-masalah di seputar kemiskinan dan pengangguran entah itu dalam bentuk puisi, cerpen, novel, atau naskah drama. Berikut bisa kita lihat naskah drama yang ditulis Arifin C. Noer “Mega-Mega” yang juga banyak berkisah tentang kemiskinan dan pengangguran. Sesuai dengan judul naskah drama “Mega-Mega” yang berarti `awan`, cerita dalam naskah drama tersebut berkisah tentang orang-orang miskin yang hidupnya penuh dengan khayalan. Khayalan mereka yang demikian tinggi diibaratkan seperti mega, awan yang tinggi di langit, yang tidak mungkin bisa dijangkaunya. Mereka hidup tidak pernah bisa mewujudkan yang diimpikannya dengan kenyataan yang diperoleh. Itulah orang-orang miskin yang hidup dengan angan-angan (mega).

(Beberapa saat sebelum layar disingkirkan, kedengaran seorang perempuan muda menyanyikan sebuah tembang Jawa. Kemudian penonton akan menyaksikan perempuan muda itu menyanyi dengan gairah sekali. Ia berdiri dan bersandar pada batang beringin yang tua berkeriput itu. Di antara jemari tangannya terselip sebatang rokok kretek. Ia biasa dipanggil kawan-kawannya dengan panggilan RETNO.

Sementara itu, disebelahnya seorang perempuan tua bersandar. Ia adalah seorang perempuan tua dengan bentuk bibir yang selalu nampak tersenyum dan dengan kelopak matanya yang biru. Senyum itu rupanya ditujukan pada suatu harapan yang telah lama dinantikanya ; tak kunjung tiba. Adapun malam yang selalu ia isi dengan perhatian itu agaknya hanya memberikan warna gelap pada sekeliling matanya. Ia biasa dipanggil MAE.

Sesekali di antara nyanyian itu terjadi percakapan yang sama sekali tak diharapkan Retno sendiri )

MAE : Tidak kalah dibanding Srimulat. Tambahan dia cantik. Seperti aku! Persis. ( diam ) Cantik dan tersia.  ( tiba-tiba seperti mencari sesuatu di sekelilingnya, tapi ia pun tersenyum apabila sadar yang dicarinya itu sebenarnya tak ada. Lalu ia berseru keras ) Retno! Suaramu merdu.

RETNO : Ho-oh! ( kembali menyanyi)

MAE : Percaya. Asli! tidak dibuat-buat.

( Mereka bercakap tanpa saling menengok dan keduanya menerima cahaya listrik dari lampu yang tergantung pada tiang listrik yang berhadapan dengan beringin itu )

MAE : Sebenarnya dia bisa mbarang (berseru) kau bisa mbarang* (*maksudnya ngamen)

RETNO : Kenapa tidak? Segala bisa. Asal mau. Apalagi cuma mbarang.

MAE : Kenapa kau tidak mbarang saja?

RETNO : Sama saja. (Menyanyi lagi)

MAE : Tidak. Kalau kau mbarang untung-untung bisa masuk radio. Pasti bisa. Kalau kau masuk radio kau akan lebih baik.

RETNO : (meludah)

MAE : Semuanya harus dicoba!

RETNO : Sama saja. Sama edan. (menyanyi lagi tapi baru sekecap ia berhenti). Sama edan. Sama…alaaahh setan! (menyanyi lagi)

( Sejenak tak ada bicara. Tiba-tiba Retno berhenti menyanyi sebab ada seorang pemuda lewat )

MAE : Saya kira enak mbarang. Cobalah. Tidak salahnya. Kenapa?

RETNO : Diam (pada yang lewat). Mampir Mas!

( Pemuda itu cuma lewat tapi jels ia naik nafsu )

…………………………………………………………………………………………………….

“Mega-Mega”/Arifin C.Noer

Di bagian prolog (pembukaan) kita diperkenalkan dua orang tokoh: Retno dan Mae. Mereka berada di tempat terbuka dan di bawah kerindangan pohon beringin tua yang di depannya ada tiang listrik berlampu. Ditilik dari pekerjaannya, Retno, jelas seorang pelacur. Tentang itu bisa dicirikan dengan sebatang rokok yang terselip di antara jemarinya. Kita bisa katakan pelacur karena tidak ada perempuan baik-baik di tempat terbuka, di malam hari sambil merokok kretek dan menembang. Tambahan lagi, Retno tiba-tiba berhenti menembang ketika ada seorang pemuda yang lewat di dekatnya. Retno bahkan menyapanya pada pemuda yang lewat itu agar mau mampir. Bukankah itu sudah menjelaskan bahwa Retno adalah seorang pelacur? Perempuan tua di sebelah Retno adalah seorang tuna wisma (semua orang di sekitarnya juga tunawisma atau gelandangan). Perempuan tua itu yang menyadari ketuaannya, sering berupaya meluruskan perilaku orang-orang di sekitarnya dengan memberi nasihat pada orang-orang muda, seperti Panut yang tidak memiliki pekerjaan tetap (pengangguran).

Panut seorang pemuda yang bekerja serabutan. Suatu saat dia pernah belajar menyopet. Tapi. karena merasa tidak berbakat menyopet, setiap kali menyopet dia selalu gagal. Dia juga pernah membantu temannya (Wiryo) mencuri (maling). Lagi-lagi gagal melakukannya. Meski diberi arahan oleh Mae yang sudah dianggap ibunya tetap saja Panut tidak pernah berubah perilakunya. Bahkan, ketika berbicara dengan Mae, Panut cenderung berupaya mengalihkan pembicaraan. Jelas, perilaku ini menunjukkan tidak ada upaya bagi Panut untuk melakukan perubahan. Selain, Panut juga ada orang  yang semacam Panut yang tidak punya pekerjaan tetap: Hamung, Tukijan, dan Koyal. Ketiga orang yang disebutkan terakhir ini juga hampir sama  memiliki perilaku yang tidak jauh berbeda dengan Panut: malas bekerja alias penganut `meok` (makan enak ogah kerja). Meskipun mereka tergolong pemalas, Mae menganggap dirinya sebagai ibu mereka. Karena itu, Mae gundah hatinya kalau Panut, salah seorang di antara mereka, khawatir masuk penjara karena perbuatannya.

MAE : Siapa bilang? Mae tak pernah bertanggung jawab. Sekarang disini Mae berusaha jadi Ibu kalian. Salah satu di antara kalian sedang menuju ke penjara tanpa di sadarinya. Apakah Mae harus diam saja? Kalian tahu? Dialah yang satu-satunya yang Mae harapkan selain Koyal. Hamung, kau besok ke Jakarta. Mungkin juga Tukijan. Dan kemudian Retno. Dan kalau Mae biarkan Panut masuk penjara dan koyal pergi ke tempat lain, apakah yang terjadi atas diri Mae? Pulang ke Tegal? Tempat itu bukan lagi tempat Mae…….Tak ada tempat. Mae akan kembali seperti ketika pertama Mae datang kemari. Sebatang kara. Kering.

RETNO : Mae tak usah khawatir. Saya tak akan meninggalkan Mae.

MAE : Semua akan meninggalkan Mae pada akhirnya. Suamiku yang pertama pun berkata begitu dulu, tapi akhirnya ia pun mengusirku juga. Dan kemudian suamiku yang bernama Sutar meninggalkan aku. Malah suamiku yang paling setia dan paling tua pergi juga. dimakan gunung merapi.

RETNO : Tidak, Mae. Saya juga sebatang kara. Saya juga tersia. sebab itu saya lebih senang dengan Mae. Berkumpul sangat membantu mengurangi kesusahan.

MAE : Tidak. Kau tidak tersia. Kau masih muda. Belum masanya kau berputus asa. Sekiranya kau menurut nasihat Mae dan tak usah kau menjadi….

RETNO : (memotong) Mae.

MAE : Retno. Mae sayang sekali padamu. Pada Hamung, pada Tukijan, pada Koyal, pada Panut dan pada siapa saja yang memandang Mae sebagai Ibunya, Seperti juga Mae sangat sayang pada Mas Ronggo (diam) Ia kena lahar (diam) Retno, diam-diam perasaan Mae remuk waktu Tukijan pamit tadi pagi. Tambah lagi Hamung……dan Panut.

Seperti orang-orang miskin dan pengangguran lainnya, Koyal juga punya angan-angan yang tinggi. Angan-angan punya uang banyak. Dengan uang banyak Koyal bisa punya rumah bagus, kendaraan bagus, dan ingin ke Jakarta. Dengan uang yang banyak (disebutkan sampai empat koper) dia ingin menaburkan setiap rumah yang dikunjunginya dengan uang. Pikiran-pikiran gila muncul dari orang seperti Koyal. Uang yang diperoleh tentu saja bukan dari hasil kerja keras tapi dari main lotre. Sebaliknya, Tukijan, yang diam-diam mencintai Retno berpikir agak realistis. Walaupun tidak jadi berangkat ke Sumatra, Tukijan punya tekad ingin mengubah nasib di tanah seberang: Sumatra. Baginya Sumatra memberikan banyak harapan buat masa depannya. Karena itu, dia ingin memperistri Retno dan sekaligus membujuknya mau mengikutinya ke Sumatra. Rupanya Retno tidak mau diajak Tukijan ke Sumatra meskipun sangat mencintainya.   

KOYAL : ( tidak peduli ) Lalu saya fikir saya harus punya banyak uang dulu. Malah akhir-akhir ini saya mencintai uang. Mengapa tidak? Saya telah melihat rumah yang bagus-bagus. Saya telah melihat mobil yang bagus-bagus. Saya telah melihat segala apa saja yang hanya bisa didapatkan dengan uang. Lalu…

HAMUNG : …..ngemis (tertawabersama Retno)

KOYAL : ……lalu saya mulai mengumpulkan uang. Tapi pasti terlalu lama. Lalu saya belikan lotre. Dan baru saja saya hampir menang (tertawa) Itu tandanya tidak lama lagi saya akan menang. Dan kalau saya menang dan menang dan menang dan menang…dan menang lagi….oh, uang saya. Bertumpuk setinggi gunung Merapi. (tertawa) Ya, Mung. Kau boleh pergi ke Jakarta besok dan membuat rumah setinggi pohon kelapa, dan di sebelahnya, Tukijan boleh membangun rumah yang besarnya lima kali keraton. Apa yang saya perbuat?

HAMUNG : Ngemis. (tertawa bersama Retno)

KOYAL : Tidak. Saya akan mendirikan di antara rumah raksasa itu hanya sebuah gubug kecil saja. Tapi..dengar. Kalau jam tujuh pagi saya, Raja Uang, Keluar dari gubug itu dengan dua buah koper penuh berisi uang. Jangan lupa, becak langganan saya sudah menunggu di muka. Dengan dua koper itu saya berkeliling kota. (tertawa) Orang-orang di sepanjang jalan bersorak sorak ; Hidup Raja Uang, Hiduup Raja uang! Tentu saja saya hanya manggut-manggut. Dan dari koper itu, saya hambur-hamburkan uang. Pasti saya tertawa menyaksikan orang-orang berebutan uang seperti anak-anak ayam. Nah, kalau sudah jam 2 siang saya pulang. Uang habis sama sekali. Dalam gubug ajaib itu saya tidur siang. Tidur di atas kasur yang berisi uang. Berbantalkan bantal yang berisi uang, seraya memeluk guling berisi uang (tertawa). Sorenya saya keluar jalan-jalan dengan empat buah koper berisi uang. Tentu saja kali ini saya mesti menyewa mobil. Tiap-tiao rumah saya masuki dan saya taburi dengan uang. Terutama sekali rumah kau dan rumah Tukijan. (tertawa) Dan kalau sudah habis…

…………………………………………………………………………………………

TUKIJAN : Sama sekali salah kalau orang mengira bahwa niat saya ini didorong oleh rasa ingin menolong. Kalau hanya lantaran perasaan itu barangkali tak perlu sampai-sampai saya harus memperistri kau. Saya membutuhkan kau. Tak lebih dari itu.

RETNO : (Masih membisu)

TUKIJAN : Impian itu mesti diwujudkan, barulah ada artinya.

RETNO : (cuma memandang laki-laki itu. Itupun cuma beberapa saat).

TUKIJAN : Saya juga tidak suka menjanjikan apa-apa. Semuanyya masih bakal. Yang saya miliki hanya kemauan. Dan lagi kita hanya mendengar bahwa tanah di seberang penuh kekayaan yang masih terpendam. Sangat luas. Segalanya masih terpendam. Segalanya. Di dalam tanah dan di dalam diri kita. Kalau kita sungguh-sungguh menghendaki, kita harus mengangkatnya ke permukaan hidup kita. Saya kira begitu.

RETNO : (kembali memandang lelaki itu).

TUKIJAN : Retno! Kau percaya? Saya tak peduli siapa kau. Saya hanya membutuhkan kau. Tak lebih dari itu. Saya tidak tahu tapi betul saya tak akan melakukan apa-apa seandainya kau tak ada. Itu saja. Itu pun.

RETNO : Lantaran saya sangat mencintaimu, saya terpaksa menolak kau ajak. Percayalah, kau akan lebih senang sekiranya kau berangkat sendiri. Tak ada orang yang akan merepoti kau. Waktu kau lebih banyak.

Orang-orang miskin, pengangguran, gelandangan yang tidak jelas jalan  hidupnya selalu panjang angan-angannya sehingga wajar-wajar saja kalau dalam kesehariannya kerja serabutan. Bahkan, dalam banyak  hal mereka juga tidak mengenal lagi halal-haram. Tokoh seperti Retno, misalnya,  hidupnya bergelimang dengan dosa. Dia menjajakan tubuhnya pada setiap hidup belang (laki-laki pezina) demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu saat dia juga menyadari jalan hidupnya yang kelam. Dia sebenarnya juga ingin  kembali kehidupan normal. Kehidupan yang jauh dari kemaksiatan. Begitu juga yang lainnya: Tukijan, Hamung, Panut, dan Koyal. Karena  tidak punya keterampilan dan tidak ada keinginan mengubah  nasibnya (bahkan sama sekali buta ajaran agama), mau tidak mau mereka fatalis. Mereka menyerah menghadapi kehidupan. Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai kaum yang teralienasi. Di negara ini sangat banyak anak bangsa yang tergolong kaum yang teralienasi karena mereka miskin dan pengangguran.

Sumber Gambar: 

(https://images.app.goo.gl/GovBVbXNcGKjJgJq5) 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat