CERPEN BERMUATAN PERUBAHAN SOSIAL (1)

Subagio S. Waluyo

Cerpen itu netral. Dikatakan netral karena cerpen bisa bermuatan apa saja tergantung penulisnya. Kalau mau diisi tentang cinta, jadilah cerpen yang penuh dengan kisah cinta. Yang namanya cinta bisa cinta kepada Tuhan, bisa juga cinta kepada sesamanya, atau (bahkan) cinta kasih erotis. Kalau mau diisi tentang dunia kriminal (kejahatan), jadilah cerpen kriminal seperti cerita kriminal. Kalau mau diisi tentang pendidikan, jadilah cerpen yang bermuatan nilai-nilai pendidikan. Atau kalau ada orang religius ingin menulis cerpen yang bernuansa religius, jadilah cerpen-cerpen yang religius. Cerpen juga bisa diisi dengan seputar masalah-masalah sosial, jadilah cerpen yang sarat dengan muatan masalah-masalah sosial. Salah satu yang dekat temanya dengan sekitar muatan masalah sosial adalah perubahan sosial. Sah-sah saja kalau ada cerpen yang bermuatan masalah-masalah perubahan sosial karena perubahan sosial akrab dengan kehidupan manusia. Masalah perubahan sosial yang pernah disampaikan dalam hal ini bisa perubahan sosial dari dalam atau dari luar.

Perubahan sosial yang datangnya dari dalam mencakup bertambah dan berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan atau konflik, dan terjadinya pemberontakan atau revolusi. Sedangkan yang datangnya dari luar mencakup bencana alam atau kondisi lingkungan fisik, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Cerpen-cerpen di negara ini banyak bicara tentang hal-hal yang disebutkan di atas. Bahkan, bukan hanya faktor yang datang baik dari dalam maupun dari luar, faktor yang mempercepat dan menghambat perubahan sosial juga dibahas dalam cerpen-cerpen Indonesia. Faktor-faktor yang mempercepat seperti kontak dengan budaya lain, sistem pendidikan formal yang maju, sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju, toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang, sistem stratifikasi masyarakat yang terbuka, penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu, adanya orientasi masa depan, dan adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha memperbaiki kehidupannya juga banyak dibahas dalam cerpen-cerpen Indonesia. Tidak hanya yang mempercepat perubahan sosial, hal-hal yang berkaitan yang menghambat perubahan sosial juga dibahas. Sebut saja yang menghambat perubahan sosial di sini adalah kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan sainstek yang lambat, sikap masyarakat yang sangat tradisional, adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam (vested interest), rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup, hambatan-hambatan yang bersifat ideologis, dan adat atau kebiasaan (Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial, 2016:16-23). Supaya mudah dipahami bisa kita lihat dalam tabel berikut ini.

TABEL 1

 PERUBAHAN SOSIAL (1) 

PERUBAHAN SOSIAL (1)

DARI DALAM

DARI LUAR

1. Bertambah dan berkurangnya penduduk

2. Penemuan-penemuan baru

3. Pertentangan/konflik

4. Pemberontakan/revolusi

1. Bencana alam atau kondisi lingkungan fisik

2. Peperangan

3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain

 TABEL 2

 PERUBAHAN SOSIAL (2) 

PERUBAHAN SOSIAL (2)
MEMPERCEPAT MENGHAMBAT
1. Kontak dengan budaya lain

2. Sistem pendidikan formal

3. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju

4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang

5. Sistem stratifikasi masyarakat yang terbuka

6. Penduduk yang heterogen

7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu

8. Adanya orientasi masa depan

9. Adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupannya

 

 

1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat

3. Sikap masyarakat yang sangat tradisional

4. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam (vested interest)

5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan

6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup

7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis

8. Adat atau kebiasaan

9. Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki

 

***

(https://images.app.goo.gl/6uUZBurb26ANsSBw9)

Cerpen-cerpen Indonesia banyak memuat baik hal-hal yang berkaitan dengan perubahan sosial yang datangnya dari dalam maupun dari luar. Cerpen dengan judul “Muammar Memilih Jalan Sendiri” karya Sori Siregar, misalnya, berkisah tentang pertentangan antara anak dan ayahnya. Atau antara anak dan ayah terjadi konflik. Konflik itu bermula ketika Muammar, anak tertua pasangan Maludin dan Maryam, suatu kali mengajak pacarnya menginap di rumahnya. Bukan hanya ayahnya, ibunya, dan kedua adiknya, Fathur dan Fayed juga terkejut. Ayahnya berusaha menjelaskan bahwa agamanya (Islam) dan agama apapun tidak membenarkan seseorang mengajak yang bukan istrinya bermalam di kamarnya walaupun alasan sang pacar agar dia bisa mengenal keluarganya lebih jauh. Muammar tidak bisa menerima pendapat ayahnya. Dia menganggap ayahnya dan juga ibu serta adik-adiknya masih berpikiran kuno. Dia beranggapan selama dua puluh tahun tinggal di negeri orang selayaknya mereka telah bisa menyerap nilai-nilai keragaman yang hidup di sekitarnya. Singkatnya, Muammar dan Joyce pergi dari rumah itu. Muammar melalui telpon mengungkapkan bahwa dia telah meninggalkan keyakinannya. Baginya rasio lebih harus diutamakan daripada keyakinan. Rasio menurutnya jangan bercampur dengan keyakinan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat teks lengkap cerpen Sori Siregar di bawah ini.    

 MUAMMAR MEMILIH JALAN SENDIRI

Sori Siregar

 MALAM telah merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi itu ia tetap terjaga.

Risiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua puluh tahun lalu. Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke negeri yang jauh ini untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga pemerintah. Ketika itu Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir di negeri yang jauh ini dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun setelah itu.

Bagi Maludin hidup di negeri baru ini jauh lebih menyenangkan daripada di kota yang ditinggalkannya. Bukan saja karena pendapatannya lebih besar daripada yang dulu diperolehnya sebagai guru SMA di kotanya, tetapi juga karena ia berdomisili di lingkungan permukiman yang lebih baik, tidak sumpek dan bersih serta berbagai hal lain seperti dekatnya jarak kantor dan rumahnya, transportasi umum yang selalu tepat waktu dan dapatnya Maryam sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga tanpa harus membantu Maludin mencari nafkah dengan menjahit pakaian anak-anak.

Waktu berjalan seirama dengan peredaran bumi mengitari titik pusat tata surya. Perjalanan waktu itu sering luput dari perhatian. Maludin dan Maryam baru menyadari bahwa mereka telah empat tahun tinggal di negeri yang jauh ini, ketika Muammar memasuki usia sekolah. Semula suami istri itu menduga beban ekonomi akan meningkat dengan masuknya Muammar ke sekolah. Ternyata tidak. Muammar dapat belajar tanpa biaya apa pun. Bahkan, Maludin tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk membayar ongkos bus yang setiap hari mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Hidup sehari-hari pun semakin menyenangkan buat Maludin dan Maryam. Pada saat tiba giliran bagi Fatur dan Fayed untuk bersekolah, perasaan senang Maludin tetap tidak berkurang, karena kedua anak ini pun tidak membebaninya dengan biaya sekolah.

Sekolah gratis ini dilalui ketiga anak Maludin dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga Maludin terkejut ketika anaknya harus membayar uang kuliah untuk dapat belajar di perguruan tinggi. Beban pertama dalam dunia pendidikan ini pun akhirnya tak perlu disandangnya, karena Muammar dapat memperoleh pinjaman dari bank mana pun, dengan jaminan ayahnya. Kelonggaran yang diberikan merupakan pertolongan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena Muammar diizinkan untuk membayar pinjamannya setelah ia bekerja, seusai menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi.

Tanpa disadari Maludin dan Maryam, Muammar, Fatur, dan Fayed melebur dengan sempurna ke dalam kondisi lingkungan mereka. Satu-satunya kehidupan yang mereka kenal adalah kehidupan di sekitar mereka itu dan semua nilai yang melekat di sana. Tak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, jika mereka bertiga masih mau mendengarkan suara ayah dan ibu mereka, suara yang mengandung makna hidup, jalan yang tidak berliku, tetap berpijak pada tempat asal dan keyakinan yang harus dipegang teguh di mana pun berada.

Namun, mendengarkan suara ayah dan ibunya itulah yang sangat sukar bagi Muammar, berbeda dengan Fatur dan Fayed. Kedua putra Maludin yang disebutkan belakangan ini masih tetap anak-anak yang menilai suara ayah dan ibu mereka sebagai pemandu jalan agar tidak terpeleset di kegelapan. Ini menyejukkan perasaan kedua orang tua mereka, yang tetap berpegang teguh kepada keyakinan yang mereka kenal sejak masa kanak-kanak.

Karena itu, alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam, juga Fatur dan Fayed, ketika pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa pacarnya menginap di kamarnya di rumah mereka. Guntur menggelegar bagi Maludin dan Maryam. Bencana apa yang akan dibawa anak sulung mereka itu? Itulah pertanyaan yang menyerbu ke dalam benak Maludin dan Maryam. Mungkin pertanyaan itu pula yang hinggap di kepala Fatur dan Fayed.

Maludin dengan halus meyakinkan Muammar bahwa berdasarkan keyakinan yang mereka peluk, tindakan yang akan dilakukan Muammar itu adalah salah. Bahkan, agama apa pun tidak akan membenarkan hal itu. Mendengar keterangan ayahnya, Muammar menjelaskan, Joyce, pacarnya itu, ingin menginap di rumah mereka karena ingin mengenal lebih jauh Maludin, Maryam, Fatur, dan Fayed.

Maludin kembali meyakinkan Muammar, kalau ingin mengenal keluarga mereka lebih jauh silakan saja Joyce berkunjung setiap hari. Kemudian Maludin yang bertanya, mengapa Joyce ingin mengenal mereka lebih jauh. Kan dia hanya teman akrab Muammar. Bolehlah kalau anak sulung Maludin itu menyebut Joyce pacarnya. Tapi Muammar harus ingat bahwa Joyce belum menjadi pacarnya secara resmi.

Mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan lancar dari mulut ayahnya, Muammar tersenyum. Masih sekuno ini ayahku, katanya dalam hati. Bukan hanya ayah, tetapi juga ibu dan kedua adikku, kata hatinya melanjutkan. Ini harus diterobos untuk membuka jalan baru. Pemikiran seperti itu muncul tiba-tiba dalam kepala Muammar. Itulah yang dilakukannya keesokan harinya.

Pada suatu tengah malam setelah pembicaraan ayah dan anak itu, Muammar pulang dengan membawa Joyce. Empat anggota di rumah itu merasa dipojokkan, terutama Maludin yang saleh itu. Setelah mempersilakan Joyce duduk dan bertanya sedikit tentang keluarganya, Maludin meminta Muammar untuk mengikutinya ke ruangan kerjanya. Begitu Maludin menutup pintu, dengan wajah merah padam ia menghardik Muammar dengan suara keras. Ia berani berteriak seperti itu karena ia tahu suaranya tidak akan terdengar ke ruang tamu.

“Apa maksudmu membawa perempuan itu ke rumah ini? Kan Bapak telah berbicara panjang lebar denganmu tentang hal ini. Sebagai mahasiswa semester empat tidak mungkin kau tidak tahu apa yang Bapak jelaskan.”

Muammar mendengarkan hardikan ayahnya dengan tenang. Baginya, kekunoan ayahnya semakin dipertegas dengan teriakan itu. Muammar merasa ayah, ibu, dan kedua adiknya telah terperangkap dalam kepicikan yang mengekang. Dua puluh tahun di negeri yang jauh ini tidak membuat mereka dapat menyerap keragaman nilai di sekitar mereka.

“Ajaklah Joyce pergi. Yakinkan dia bahwa keluarga kita tidak menolak kehadirannya. Tapi, kita tidak dapat memberikan ruang kepadanya untuk menginap di rumah ini sebelum ia resmi menjadi istrimu. Joyce boleh menganggap Bapak kuno, konservatif, atau apa saja karena sikap Bapak yang tak dapat ditawar ini.”

Tanpa memberikan komentar sepatah kata pun, Muammar meninggalkan ayahnya seorang diri di ruang kerja itu. Ia kembali ke ruang tamu menemui Joyce yang sedang berbicara dengan Maryam. Ia membisikkan sesuatu ke telinga perempuan kulit putih itu. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum kepada Maryam. Kemudian ia meminta diri untuk meninggalkan rumah itu. Ketika Joyce dan Muammar melangkah keluar ruang tamu mereka dilepas Maryam dengan ucapan selamat malam.

Satu minggu setelah peristiwa malam itu, Muammar menelepon ayahnya. Dengan suara tenang dan perlahan ia menyatakan kecewa dengan sikap ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membebaskan diri dari belenggu keyakinan yang menghimpitnya. Keyakinan atau agama, apa pun agama dan keyakinan itu seharusnya tidak membuat pemeluknya senantiasa berdiri di tempat dan tidak berupaya untuk melangkah maju.

“Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat kita berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampuradukkan keyakinan dan rasio. Salah satu di antaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah melepaskan keyakinan keluarga kita, yang juga keyakinan yang ananda pegang selama ini.”

Begitu mendengar kalimat Muammar terakhir, Maludin tidak mendengarkan lagi apa yang diucapkan anaknya, walaupun gagang telepon masih tetap terpegang erat di tangannya. Lama ia terdiam sebelum meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Begitu mudahnya Muammar melepas keyakinan keagamaannya hanya karena persoalan yang masih dapat dicari pemecahannya.

Sebenarnya ada kalimat terakhir yang ingin diucapkan Maludin kepada Muammar sebelum anak muda itu meninggalkan ruang kerjanya. Ia ingin menyarankan agar Joyce menikmati malam yang dingin itu seorang diri di kamar Muammar, sedangkan Muammar bergabung dengan kedua adiknya di kamar lain. Tetapi, Muammar tanpa komentar apa pun telah meninggalkannya di ruang kerja itu sebelum ia sempat melontarkan kalimatnya terakhir.

Berat bagi Maludin untuk menyampaikan keputusan yang telah diambil Muammar itu. Ia masih ingin bertemu dengan anaknya itu untuk menemukan jalan keluar yang dapat diterima Muammar. Namun, ia tidak tahu bagaimana menemukan jalan keluar itu, karena ia dan Muammar telah berada pada posisi berseberangan. Kompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk keyakinan yang berkaitan langsung dengan Tuhan, adalah langkah yang tidak akan pernah diambil oleh Maludin. Ia lebih siap untuk kehilangan anaknya daripada mengingkari keyakinan yang telah dipeluknya puluhan tahun.

Malam ini, sebenarnya hingga pagi ini, Maludin tetap terjaga. Keputusan Muammar telah membuatnya menoleh ke masa lampau. Ke masa pada saat ia dan istrinya merasakan kesenangan dan kegembiraan ketika menjejakkan kaki di negeri ini. Kegembiraan dan kesenangan yang juga mereka rasakan pada saat anak-anak mereka dapat bersekolah tanpa harus mengeluarkan biaya, di samping mereka dapat berdomisili di lingkungan yang tidak sumpek. Ditambah lagi dengan pendapatan yang jauh melebihi kebutuhan. Dalam kondisi seperti itulah mereka membesarkan Muammar dan kedua adiknya.

Beberapa hari Maludin menyimpan rahasia itu dalam dirinya. Akhirnya ia tak mampu memiliki rahasia itu seorang diri. Ia harus berbagi rahasia ini dengan istrinya Maryam, karena Muammar adalah putra mereka berdua. Dan ia tidak ingin terlalu sering terjaga pada saat ketika ia seharusnya menikmati istirahat pada malam hari.

Saat yang ditunggunya itu akhirnya tiba ketika Maryam bertanya mengapa Muammar tidak pernah pulang beberapa hari terakhir. Maryam mendengarkan dengan hati teriris ketika suaminya membuka lembar-lembar cerita itu kepadanya. Ia benar-benar merasa tersayat pada saat Maludin mengutarakan bahwa Muammar bukan saja telah meninggalkan keyakinan yang dipeluknya, tetapi juga berniat melepaskan ikatan keluarga dengan ayahnya kalau saja hal itu tidak menyebabkan terputusnya jaminan untuk memperoleh pinjaman dari bank yang digunakan untuk membiayai kuliahnya.

Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam dalam hati. Setelah itu ia memandang suaminya dengan penuh pengertian.

“Kesenangan dan kegembiraan kita selama ini harus kita bayar terlalu mahal,” ujar Maludin kepada Maryam.

Perempuan itu mengangguk. (*)

(https://lakonhidup.com/category/sori-siregar/)

***

Kalau teks cerpen di atas diianalisis, kita akan menemukan ternyata bukan hanya konflik antara ayah dan anak. Kita akan dapati di dalamnya adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain (dalam hal ini keluarga Maludin terpengaruh kebudayaan di tempat tinggal yang baru). Memang, di awal kehidupannya di tempat yang baru mereka mendapat banyak sekali kemudahan. Suatu kemudahan yang tidak terbayangkan dua puluh tahun yang lalu ketika mereka baru saja menginjakkan kakinya di tempat baru itu. Dalam dua puluh tahun tinggal di tempat baru itu, mereka tinggal di tempat pemukiman yang jauh lebih baik daripada tempat asal mereka. Selain itu, pendapatan Maludin juga lebih besar. Anak-anak Maludin juga bisa menikmati pendidikan secara gratis. Mereka merasakan hidup di negara yang baru ini jauh lebih menyenangkan.

Waktu berjalan seirama dengan peredaran bumi mengitari titik pusat tata surya. Perjalanan waktu itu sering luput dari perhatian. Maludin dan Maryam baru menyadari bahwa mereka telah empat tahun tinggal di negeri yang jauh ini, ketika Muammar memasuki usia sekolah. Semula suami istri itu menduga beban ekonomi akan meningkat dengan masuknya Muammar ke sekolah. Ternyata tidak. Muammar dapat belajar tanpa biaya apa pun. Bahkan, Maludin tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk membayar ongkos bus yang setiap hari mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Hidup sehari-hari pun semakin menyenangkan buat Maludin dan Maryam. Pada saat tiba giliran bagi Fatur dan Fayed untuk bersekolah, perasaan senang Maludin tetap tidak berkurang, karena kedua anak ini pun tidak membebaninya dengan biaya sekolah.

 

Sekolah gratis ini dilalui ketiga anak Maludin dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga Maludin terkejut ketika anaknya harus membayar uang kuliah untuk dapat belajar di perguruan tinggi. Beban pertama dalam dunia pendidikan ini pun akhirnya tak perlu disandangnya, karena Muammar dapat memperoleh pinjaman dari bank mana pun, dengan jaminan ayahnya. Kelonggaran yang diberikan merupakan pertolongan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena Muammar diizinkan untuk membayar pinjamannya setelah ia bekerja, seusai menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi.

Di balik kesenangan hidup itu ternyata juga memakan korban. Anak sulungnya, Muammar, karena terjadi kontak dengan budaya lain yang cenderung liberal dan sekuler (salah satu di antaranya lewat pendidikan formal) sehingga menjadi anak yang sangat toleran terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang. Muammar sebagai anak sulung memang berbeda dengan kedua adiknya. Kedua adiknya karena masih memandang tuntunan orang tuanya menjadi pedoman dalam meniti kehidupan, perilaku mereka tidak sama dengan Muammar. Muammar saking tolerannya terhadap perilaku penyimpangan dia sendiri justru mempraktekkan perilaku menyimpang dari keyakinan yang dianutnya. Salah satu di antaranya ketika dia meminta pada orang tuanya agar diperbolehkan pacarnya menginap di kamarnya. Jelas permintaannya ditolak oleh orang tuanya sehingga terjadi konflik seperti yang diuraikan di atas.

Tanpa disadari Maludin dan Maryam, Muammar, Fatur, dan Fayed melebur dengan sempurna ke dalam kondisi lingkungan mereka. Satu-satunya kehidupan yang mereka kenal adalah kehidupan di sekitar mereka itu dan semua nilai yang melekat di sana. Tak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, jika mereka bertiga masih mau mendengarkan suara ayah dan ibu mereka, suara yang mengandung makna hidup, jalan yang tidak berliku, tetap berpijak pada tempat asal dan keyakinan yang harus dipegang teguh di mana pun berada.

Namun, mendengarkan suara ayah dan ibunya itulah yang sangat sukar bagi Muammar, berbeda dengan Fatur dan Fayed. Kedua putra Maludin yang disebutkan belakangan ini masih tetap anak-anak yang menilai suara ayah dan ibu mereka sebagai pemandu jalan agar tidak terpeleset di kegelapan. Ini menyejukkan perasaan kedua orang tua mereka, yang tetap berpegang teguh kepada keyakinan yang mereka kenal sejak masa kanak-kanak.

Karena itu, alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam, juga Fatur dan Fayed, ketika pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa pacarnya menginap di kamarnya di rumah mereka. Guntur menggelegar bagi Maludin dan Maryam. Bencana apa yang akan dibawa anak sulung mereka itu? Itulah pertanyaan yang menyerbu ke dalam benak Maludin dan Maryam. Mungkin pertanyaan itu pula yang hinggap di kepala Fatur dan Fayed.

***

Disebabkan oleh kuatnya kontak dengan budaya lain, budaya lain ternyata lebih kuat daripada budaya yang dianut anaknya, Muammar, ditambah lagi dengan sistem pendidikan formal yang sekuler dan liberal membentuk sang anak menjadi orang sangat mengutamakan rasio. Saking mengutamakan rasio, Muammar, terpaksa harus memisahkan rasio dari keyakinan. Sebagai bukti bahwa dia lebih mengutamakan rasio daripada keyakinan, dia tinggalkan keyakinannya yang lama yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik. Dia juga harus tega meninggalkan keluarganya. Dia juga harus melepaskan ikatan keluarganya yang justru di tempat negara asalnya sangat dijunjung tinggi. Masalah melepaskan keyakinan dan ikatan kekeluargaan yang membuat sang ayah terpukul.

“Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat kita berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampuradukkan keyakinan dan rasio. Salah satu di antaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah melepaskan keyakinan keluarga kita, yang juga keyakinan yang ananda pegang selama ini.”

Begitu mendengar kalimat Muammar terakhir, Maludin tidak mendengarkan lagi apa yang diucapkan anaknya, walaupun gagang telepon masih tetap terpegang erat di tangannya. Lama ia terdiam sebelum meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Begitu mudahnya Muammar melepas keyakinan keagamaannya hanya karena persoalan yang masih dapat dicari pemecahannya.

……………………………………………………………………………………………………….

Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam dalam hati. Setelah itu ia memandang suaminya dengan penuh pengertian.

“Kesenangan dan kegembiraan kita selama ini harus kita bayar terlalu mahal,” ujar Maludin kepada Maryam.

Perempuan itu mengangguk. (*)

Inikah sebuah pengorbanan bagi Maludin dan istrinya, Maryam, ketika sang anak harus meninggalkan keyakinannya dan melepaskan ikatan kekeluargaannya? Atau inikah sebuah ujian yang harus ditempuh oleh sebuah keluarga, ujian yang datangnya dari perilaku anaknya akibat pendidikan formal yang cenderung liberal dan sekuler? Melepas anak di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang cenderung permisif, yang lebih mengutamakan rasio daripada keyakinan bukankah lebih disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari kedua orangtuanya? Apakah bisa dibenarkan jika sang anak harus memilih jalannya sendiri? Begitu banyak pertanyaan yang diajukan, begitu sulit juga direnungkan apabila di balik kesenangan dan kegembiraan ternyata berbuah kepahitan hidup yang harus dibayar. Ah, di dunia ini banyak orang yang bernasib seperti Maludin dan istrinya. Orang-orang yang jadi korban dari perubahan sosial.  

Sumber Gambar: 

(https://images.app.goo.gl/UozQjBUBwtvGMqtX8) 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat