Cerpen

Subagio S.Waluyo

          Laki-laki tua yang jasadnya sekarang tersungkur ketika salat duha di masjid itu mengaku dirinya sebagai `lapendos`. Tapi, laki-laki tua itu bukan anggota komunitas gangster yang populer di Samarinda yang sampai saat ini melakukan perilaku menyimpang. Di akhir-akhir hidupnya dia jauh dari perilaku menyimpang. Malah bisa dikatakan semakin bertambah umur laki-laki tua itu semakin dekat pada Allah. Aku lihat di masjid dia bukan cuma menunaikan ibadah-ibadah yang wajib saja, tapi juga ibadah-ibadah yang sunah pun dia kerjakan. Tentang `lapendos` itu sendiri ternyata di lengannya sebelah kanan ada tato besar bertuliskan LAPENDOS yang kepanjangannya `laki-laki penuh dosa`. Tato yang ada di sebelah kanannya dibuat di tahun `80-an ketika dia masih menjadi pelaut. Aku tidak tahu kenapa di tahun-tahun ketika banyak preman bertato diburu pembunuh misterius (petrus) justru dia membuat tato di lengannya. Bahkan, sebelumnya di tahun `60-an dia juga membuat tato berupa gambar jangkar. Gambar itu lebih menunjukkan kalau laki-laki tua yang sekarang telah dicabut nyawanya oleh Allah itu bekerja sebagai pelaut.

***

          Laki-Laki tua yang sering disapa `Pak Haji Murad` itu telah berada di masjid ini sejak dua puluh tahun lalu. Waktu itu usianya baru enam puluh tahun. Di umur enam puluh tahun dia telah hidup menduda. Pada waktu itu dia masih bekerja pada orangtuaku sebagai tukang kebun yang merawat halaman rumah orangtuaku yang terbilang cukup luas. Di hari-hari tertentu ketika kami sekeluarga bepergian ke luar kota, dia  diminta menjaga rumah. Pak Haji Murad teman baik ayahku yang kini telah tiada. Mereka bukan hanya satu kampung, tapi juga dari sisi usia tidak terpaut jauh. Ayahku lebih tua dua bulan dari Pak Haji Murad. Ayahku menerima  kehadirannya karena keluarga Pak Haji Murad bersebelahan rumah dengan keluarga orangtuaku. Ayahku tahu persis tentang perilaku Pak Haji Murad ketika masih bekerja sebagai pelaut. Meskipun selama menjadi pelaut banyak melakukan penyimpangan, begitu pensiun dia mendatangi orangtuaku dan langsung menyatakan dirinya bertobat. Aku masih ingat kata-kata yang dilontarkan Pak Haji Murad ketika menghadap ayahku waktu itu.

“Man, aku mau tobat”, katanya.

“Syukurlah kalau kau mau bertobat”, kata ayahku.

“Aku mau tinggal di masjid. Aku mau jadi marbot di masjid dekat rumahmu ini.”

“Kenapa kau tidak tinggal di sini saja?”, tanya ayahku.

“Kau `kan bisa bolak-balik dari masjid ke rumahku ini. Lagi pula di masjid sudah banyak orang yang bantu-bantu. Jadi, tidak banyak pekerjaan yang kau kerjakan di masjid”, jelas ayahku.

“Aku sudah banyak dosa dan kesalahan. Aku mau menjadikan malam-malamku `tuk bertobat”, jelasnya.

“Aku tidak mau mengganggu waktu-waktu istirahatmu sekeluarga. Kalo nanti dini hari ke masjid, aku yakin akan mengganggu kalian sekeluarga. Aku mau mati di masjid, Man! ”,  katanya tegas berusaha meyakinkan ayahku.

“Kalau kau maunya seperti itu, ya sudah. Silakan kau tinggal di masjid. Tapi, urusan kebunku, kau yang urus ya?”, tanya ayahku.

“Insya Allah selagi aku ada tenaga, akan aku urus kebunmu.”

***

          Sejak saat itu, Pak Haji Murad tinggal di masjid. Dia bolak-balik ke rumahku bantu-bantu mengurusi kebunku. Sampai ayahku wafat sepuluh tahun yang lalu, dia masih aktif bekerja. Tapi, di usia tujuh puluh tahun aku terpaksa mencari orang untuk menggantikannya. Tak terasa sudah dua puluh tahun Pak Haji Murad tinggal di masjid dan bekerja sebagai marbot masjid. Sebagai marbot masjid walaupun usianya sudah memasuki usia lansia, dia masih cekatan untuk bekerja. Selama bekerja bantu-bantu sebagai marbot di masjid, dia tidak pernah mengeluhkan pendapatannya yang diperoleh karena memang sejak awal dia berniat tinggal di masjid untuk ibadah dan bertobat. Aku sendiri atas wasiat ayahku sebelum wafat meminta aku untuk kirim-kirim makanan dan uang ke Pak Haji Murad. Jadi, setiap siang menjelang zuhur istriku menyuruh tukang kebun mengantarkan makanan untuk Pak Haji Murad. Tentang siapa itu Pak Haji Murad, aku dapatkan ceritanya dari dia langsung ketika suatu saat aku datang mengunjunginya di masjid.

          Ayahku dan Pak Haji Murad sama-sama satu sekolah sampai SMP. Karena orangtua ayahku tergolong berkecukupan, ayahku beruntung bisa meneruskan ke SMA sampai ke perguruan tinggi kedinasan walaupun harus sekolah di Jakarta. Pak Haji Murad tidak demikian, dia tidak meneruskan pendidikannya ke SMA. Orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikan anaknya untuk melanjutkan ke SMA. Selain itu, Pak Haji Murad orangtuanya memiliki delapan anak. Pak Haji Murad sendiri anak yang kelima dari delapan anak. Jadi, Pak Haji Murad tidak meneruskan pendidikannya. Meskipun demikian, Murad kecil tidak kecewa. Dia menerima nasibnya. Semula dia bekerja membantu-bantu ayahnya di sawah dan kebunnya. Seorang tengkulak yang biasa berkeliling desa melihat Murad kecil giat membantu orangtuanya bekerja di sawah dan kebunnya, memintanya untuk ikut bantu-bantu di kebun milik sang tengkulak itu. Suatu saat ketika ada tawaran bekerja dari sang tengkulak untuk bekerja di kapal laut tanpa pikir panjang Murad muda yang waktu itu telah memasuki usia dua puluh tahun menyetujuinya.

          Semula orangtua Murad muda tidak setuju dengan keinginan anaknya bekerja di kapal laut. Tapi, Murad muda yang mengancam akan kabur dari rumahnya jika tidak diijinkan, akhirnya orangtuanya menyetujuinya. Murad muda yang hanya berpendidikan SMP pada waktu itu sebenarnya memiliki kecerdasan yang cukup memadai bisa diterima bekerja. Bukan hanya memiliki kecerdasan, Murad muda pada waktu itu juga bertubuh sehat dan atletis sehingga mudah diterima bekerja sebagai pelaut. Setelah urusan administrasi, akademis, dan kesehatannya selesai. Murad muda mengikuti pelatihan selama seminggu. Selesai pelatihan, dia langsung diangkat sebagai pegawai di perusahaan pelayaran. Murad muda tidak menunggu lama karena beberapa hari setelah pengangkatannya sebagai pegawai pelayaran, dia langsung ikut berlayar. Ada sebuah kegembiraan yang tidak terbayangkan bagi Murad muda, cita-citanya yang memang sejak masih sekolah di bangku SR ingin berlayar terkabul.

          Murad muda semula orang yang taat beribadah. Dia juga termasuk anak yang patuh dan menaruh hormat pada orangtuanya. Setiap kali menerima gaji dan tips dari penumpang kapal, dia sisihkan buat orangtuanya. Pergaulan di kapal yang terbiasa dengan miras dan perempuan akhirnya juga terjadi pada Murad muda. Sebagai seorang Muslim, dia mulai meninggalkan kewajibannya. Dia hanya mengerjakan salat jumat karena menurutnya kalau seorang Muslim meninggalkan tiga kali berturut-turut salat jumat bisa menjadi kafir. Untuk menghindari jangan sampai menjadi seorang kafir, dia terpaksa mengerjakan salat jumat. Sementara itu, kiriman uang ke orangtuanya hanya dilakukan sekali-sekali. Murad muda telah berubah 180 derajat bukan hanya nyaris lupa agamanya, tapi juga lupa orangtuanya.

***

          Suatu saat dia mendapat kabar kalau ayahnya jatuh sakit. Pada saat itu dia baru saja selesai bercinta dengan seorang pelacur di salah satu kota di Eropa. Dia hanya menyampaikan telegram belasungkawa dan sedikit kiriman uang duka buat keluarganya karena uangnya memang nyaris habis buat main perempuan dan miras. Dengan masih setengah teler, dia minta tolong pada teman kerjanya untuk mengirimkan telegram belasungkawa dan menitip uang duka buat keluarganya. Begitupun ketika ibunya wafat, dia masih dalam kondisi teler melakukan hal yang sama. Sepuluh tahun kemudian ketika dia memasuki usia tiga puluh tahun terpikir juga untuk berkeluarga. Karena selama sepuluh tahun bekerja di kapal tidak pernah mengambil cuti, ketika kapalnya berlabuh di Tanjung Priok, dia langsung minta cuti selama satu bulan. Dia berniat menikahi Sumiyati, pelacur di Kramat Tunggak yang biasa disetubuhi dan sekaligus dijadikan pacarnya. Sumiyati sudah cukup lama berkeinginan untuk mengakhiri jalan hidupnya yang terbilang kotor. Begitu ada tawaran untuk menikah, spontan dia setujui. Diajaknya Murad muda ke kampung halamannya di Baturetno. Di kota kecil itulah mereka menikah. Tanpa terasa masa cuti buat Murad muda telah berakhir. Dia harus kembali melaut. Semula sang istri keberatan kalau suaminya kembali bekerja di kapal karena dia tahu persis perilaku pelaut. Karena pada waktu itu Murad muda tidak siap untuk beralih pekerjaan, terpaksa Sumiyati melepas kepergian sang suami untuk kembali bekerja sebagai pelaut.

          Murad muda yang kembali bekerja sebagai pelaut, kembali juga pada kebiasaannya yang buruk. Tapi, karena dia mulai sadar kalau sudah punya istri yang wajib dinafkahi, walaupun terhitung sedikit dia mengirimi istrinya uang.Sang istri yang memang telah terlebih dahulu benar-benar meninggalkan dunia hitam setiap kali mendapat kiriman uang ditabungnya. Untuk mengisi waktu-waktu luangnya dia bekerja sambilan. Dia juga merasa dari hubungan suami-istrinya dengan Murad Muda ada benih yang tumbuh di rahimnya. Dia yakin kalau dia mengandung. Benar saja sepuluh bulan setelah menikah dengan Murad muda, dia melahirkan bayi kecil perempuan. Dia beri nama anaknya: Maryam karena memang dia berkeinginan agar anaknya menjadi seorang wanita suci seperti yang sering dibacanya dalam kisah wanita-wanita solehah.

***

          Meskipun terpisah jauh dengan suaminya, Sumiyati tetap setia. Dia tidak berkeinginan untuk selingkuh. Dia tahu persis kalau suaminya pasti di setiap pelabuhan punya kekasih. Bukan hanya di setiap pelabuhan di kapal pesiar pun dia yakin istrinya selingkuh dengan banyak perempuan. Jika sang suami pulang, dia tetap melayaninya. Karena memang sudah qodarullah, sampai di usia pernikahannya yang menginjak 25 tahun, dia tidak pernah mengandung lagi. Jadi, mereka hanya punya anak semata wayang. Anak semata wayang ini karena diasuh oleh ibunya yang terbilang solehah menjadi anak yang juga solehah walaupun sang ayah masih berpetualang dengan banyak perempuan. Maryam yang tidak pernah merasa punya ayah, ternyata secara akademis juga termasuk anak yang berprestasi. Terbukti dia bisa memperoleh gelar sarjana dari PTN ternama di Solo. Bukan hanya itu, dia juga memboyong ibunya ke Solo setelah diterima bekerja sebagai PNS di Kantor Pemda Kota Solo. Murad yang sudah tidak muda lagi suatu kali di kapal pesiar bertemu dengan seorang Arab yang boleh dikatakan seorang alim. Orang Arab itu berpesiar bersama anak-anak dan istrinya. Dia melihat orang Arab ini dari keluarga yang boleh dikatakan keluarga orang-orang yang alim. Mereka orang-orang yang taat beribadah. Entah mengapa ada ketertarikan buat Pak Murad yang sudah tidak muda lagi mendekati laki-laki tersebut. Dari perkenalannya dengan orang Arab alim itu, Pak Murad akhirnya berkeinginan untuk bertobat. Satu tahun kemudian setelah pertemuannya dengan orang Arab alim itu, Pak Murad menjalani masa pensiun. Begitu memasuki masa pensiun dia segera bergabung dengan anak-istrinya di Solo. Dua tahun setelah bergabung dengan anak-istrinya, mereka menunaikan ibadah haji.

          Sepulang ibadah haji, Pak Haji Murad menikahkan anak tunggalnya. Namun, beberapa bulan setelah anaknya melahirkan bayi laki-laki, istrinya jatuh sakit. Tidak berapa lama kemudian istrinya meninggal dunia. Tidak sampai satu tahun setelah ditinggal istrinya, Pak Haji Murad kembali ke kampung halamannya di Palembang. Di hari terakhir bulan Ramadan, ketika ayahku sekeluarga pulang kampung, kami bertemu dengan Pak Haji Murad. Kulihat ayahku demikian akrab dengan Pak Haji Murad. Di akhir pertemuan, ayahku memberikan kartu nama. Kudengar ayahku mempersilakan Pak Haji Murad untuk datang berkunjung ke rumah orangtuaku. Beberapa bulan setelah pertemuan itu, Pak Haji Murad benar-benar datang berkunjung. Bukan hanya berkunjung, Pak Haji Murad juga meminta pekerjaan dan minta izin untuk tinggal di masjid sampai dia wafat di masjid ketika salat duha.

***

          Selama menjadi marbot masjid di tempat tinggalku, Pak Haji Murad benar-benar menunjukkan seorang pekerja yang kinerjanya patut diacungkan jempol. Setiap pagi, jauh sebelum azan subuh berkumandang, Pak Haji Murad telah bangun dari tidur. Seperti biasanya, sebelum salat malam, dia mandi terlebih dahulu. Seusai salat malam, dia tilawah Quran dan berzikir sampai menjelang azan subuh. Selesai salat syuruk, baru dia datang ke rumah orangtuaku untuk mengurusi kebun yang ada di halaman rumah orangtuaku. Karena kondisi fisiknya sudah tidak layak lagi untuk bekerja keras mengurusi kebun orangtuaku, sepeninggal ayahku, aku meminta tetangga sebelah rumah orangtuaku untuk menggantikannya. Sejak saat itu, Pak Haji Murad lebih banyak waktunya di masjid.

          Meskipun kondisi fisiknya sudah tidak memadai untuk mengurusi kebersihan masjid, dalam banyak kesempatan aku sering melihat dia merapikan sendal dan sepatu jamaah masjid. Aku dan jamaah masjid lainnya tidak pernah mengusiknya. Selama yang dia kerjakan di mataku dan para jamaah dinilai baik, kami sepakat untuk cenderung membiarkannya. Suatu malam ketika sedang menonton TV, aku dikejutkan oleh suara orang memanggil namaku. Ternyata, marbot masjid yang telah menggantikan pekerjaan Pak Haji Murad minta tolong aku untuk meredakan kemarahan Pak Haji Murad. Setahuku Pak Haji Murad boleh dikatakan sangat jarang marah. Dia marah kalau ada orang yang berupaya mencegah niat baiknya. Usut punya usut, ternyata ada seorang laki-laki bersama anggota keluarganya yang berkeinginan untuk bermalam di masjid. Mereka ingin bermalam di masjid karena sulit untuk mendapatkan tempat penginapan. Maklum tempat tinggal kami cukup jauh dari kota sedangkan mereka yang mau bermalam di masjid itu mengaku tersesat sehingga ketika mereka selesai menunaikan ibadah salat isya, mereka minta izin pada Pak Haji Murad bermalam di masjid. Spontan marbot masjid yang terbilang masih muda melarangnya. Pak Haji Murad sebagai orang yang jauh lebih tua tidak bisa menerima perlakuan sang marbot masjid yang dalam pandangannya terbilang kasar. Aku tidak berkeinginan pertengkaran di antara mereka berlansung lama. Akhirnya, aku sebagai pengurus masjid mengizinkan mereka bermalam di masjid.

          Aku masih sempat melihat betapa Pak Haji Murad melayani mereka. Pak Haji Murad meminjamkan bantal, kasur, dan selimut yang memang telah dibelinya beberapa hari sebelum tamu yang tidak diundang itu datang. Khusus tentang bantal, kasur, dan selimut yang dimilikinya, ternyata semua itu dibeli oleh uang pensiun yang selama ini ditabungnya. Aku juga tidak habis pikir, kenapa semua itu dibeli dalam jumlah yang cukup banyak. Aku yang telah tahu wataknya, sekali lagi, tidak mau mengusiknya. Ternyata, ketika di malam itu ada tamu Allah (istilah tamu Allah disampaikan oleh Pak Haji Murad sebagai ganti tamu yang tak diundang) yang datang berkunjung dan minta bermalam bantal, kasur, dan selimut yang dimilikinya dipinjamkan ke tamu Allah. Tentu saja dengan pelayanan yang diterimanya, mereka sangat senang. Aku merasa iri ketika aku mendengar pujian dan doa-doa ditujukan ke Pak Haji Murad.

          Pagi hari sebelum mereka meninggalkan masjid, sekali lagi Pak Haji Murad mempersilakan mereka untuk mandi dan sarapan pagi. Lagi-lagi ini merupakan pelayanan yang begitu istimewa buat mereka. Namun, sesuatu yang terjadi di luar dugaanku dan jamaah masjid lainnya, ternyata mereka memberikan infak yang cukup besar buat masjid. Semula mereka memberikan amplop yang cukup tebal kepada Pak Haji Murad. Setelah diterimanya, Pak Haji Murad menyerahkan amplop itu ke aku karena dia tahu aku sebagai bendahara masjid. Ternyata, jumlah yang diberikan tamu Allah itu di luar dugaanku. Jumlah itu melebihi sewa kamar di hotel terbaik di kotaku. Tamu Allah itu juga berjanji untuk menyampaikan pelayanan yang diterimanya ke media sosial. Sejak saat itu, masjid yang aku kelola mulai banyak dikunjungi jamaah yang datang jauh dari luar kota. Dengan kedatangan jamaah yang boleh dikatakan cukup banyak, kas masjidku juga membengkak. Kas masjid yang membengkak itu atas saran Pak Haji Murad, aku distribusikan ke orang-orang duafa yang tinggal di sekitar masjid dalam bentuk sembako.

          Aku beranggapan orang-orang yang datang berkunjung ke masjidku malam itu adalah rombongan malaikat. Anggapan itu oleh Pak Haji Murad diluruskan dengan kata-katanya yang sampai saat ini kuingat `kalau orang berbuat baik pada siapapun, Insya Allah, Allah akan menggantikan kebaikan yang kita berikan`. Aku mengaminkan ucapannya. Aku meyakini sepenuhnya apapun yang dikatakannya. Kas masjid yang membengkak itu, lagi-lagi atas saran Pak Haji Murad, tidak aku gunakan untuk membenahi bangunan masjid melainkan aku salurkan dengan mendistribusikan sembako ke orang-orang duafa yang tinggal di sekitar masjid. Ternyata, lagi-lagi saran Pak Haji Murad demikian manjur. Masjidku semakin hari, semakin makmur. Terbukti, kas masjid semakin membengkak. Sejak saat itu setiap kali kami berencana mengajukan program masjid, baik untuk aktivitas ibadah maupun kegiatan yang berkaitan dengan menyejahterakan masyarakat tidak pernah khawatir dengan dana yang harus disiapkan. Dana masjid kami juga disalurkan ke berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kepedulian, seperti membantu sesama saudara Muslim di Palestina.

          Suatu kali ketika masjid kami melakukan penggalangan dana untuk Palestina, aku dibuat terkejut oleh sumbangan yang diberikan Pak Haji Murad. Ternyata, diam-diam Pak Haji Murad memiliki tabungan yang cukup besar jumlahnya. Begitu ada kegiatan penggalanan dana untuk Palestina digulirkan, seluruh isi tabungannya itu diserahkan ke panitia. Lagi-lagi aku dibikin malu oleh kebaikan dan keikhlasan Pak Haji Murad. Jamaah masjid lainnya juga aku yakin merasa terpukul. Ah, jasad yang kini terbujur kaku dan sudah siap disalatkan menyisakan aku nilai-nilai kebaikan yang begitu besar. Aku banyak belajar dari keikhlasanmu, Pak Haji Murad. Aku berdoa semoga jenazah orang baik ini diterima pertobatannya. Insya Allah, Pak Haji Murad yang di lengan kanannya masih ada tato bertuliskan `LAPENDOS` dan di bahu kirinya ada tato berupa gambar jangkar, termasuk hamba Allah yang tergolong `husnul khotimah`.

Kota Bekasi, 15 Januari 2026.    

By subagio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *