Cerpen
Subagio S.Waluyo
Dalam acara makan malam bersama, ketika satu keluarga menikmati hidangan yang tersedia di meja, tiba-tiba saja sang ibu berdiri. Sang bapak dan anak-anaknya yang duduk mengelilingi meja juga terheran-heran karena sang ibu berdiri seraya berteriak.
“Mama sudah muak dengan cara hidup Papa!”, teriak sang istri.
“Muak. Kenapa muak Ma?”, tanya suaminya.
“Papa cuma asik menghitung-hitung keuntungan dari kayu gelondongan yang Papa ambil dari hutan. Papa gak tahu berapa banyak orang jadi korban dari hutan yang Papa tebang. Papa tahu gak, kayu-kayu gelondongan hasil hutan itu sekarang sudah banyak makan korban!”, cerocos istrinya.
“Lihat nih, di Tamiang! Mobil-mobil yang terjebak banjir di dalamnya ternyata ada mayat! Ini gak mungkin terjadi kalau bukan penebangan hutan yang brutal seperti yang Papa lakukan di sana”, istrinya masih saja mencerocos seperti tidak memberikan kesempatan suaminya untuk bicara.
“Papa gak usah bicara dulu. Biar Mama bicara dulu. Papa biar tahu keadaan yang sebenarnya di sana. Nih, lihat! Di You Tube ini rumah-rumah penduduk di sepanjang DAS roboh semua. Rata sama tanah. Penyebabnya kayu-kayu gelondongan. Nih, lihat lagi, mobil-mobil yang terkena banjir. Bukan cuma banjir air, tapi juga lumpur. Coba lihat di dalam mobil itu! Isinya mayat Pa!”, teriak istrinya.
“Ah itu `kan cuma hasil editan pake AI”, kata sang suami mencoba mengeles.
“Apa editan pake AI? Kalo Papa gak percaya turun ke lapangan. Enak aja ini hasil editan. Papa benar-benar kayak pejabat-pejabat tinggi yang lain yang gak punya rasa kemanusiaan!”, sang istri masih bersuara tinggi.
“Pake hati nurani Pa kalo bicara. Jangan asal keluar omongan. Nanti Papa bicara di depan publik ngomong kayak gitu. Begitu diserang, baru minta maaf”, cerocos istrinya.
“Iya Pa. Itu bukan editan. Itu asli Pa. Orang turun ke lapangan lihat langsung yang ada di hadapannya. Teman-temanku juga bilang begitu Pa. Makanya Papa kalo gak percaya ikut kami ke Tamiang besok”, saran anaknya.
“Besok kalian ke Tamiang? Mau ngapain?”, tanya sang ayah heran.
“Kok, nanya mau ngapain?”, tanya istrinya tambah heran.
“Ya, mau terjun langsung ke lapangan!”, kata istrinya masih meninggikan suaranya.
“Mama berlima ke lapangan bukan cuma lihat-lihat,tapi juga mau ikut terlibat bantu-bantu mereka yang jadi korban bencana. Mereka itu Pa, jadi korban kayu gelondongan yang Papa ambil dari hutan”, jelas sang istri masih dengan suara tinggi.
“Jadi bencana alam kali ini diperparah karena hutannya ditebang secara serampangan. Termasuk yang Papa kerjakan selama ini. Papa sama teman-temannya telah melakukan kejahatan membabat habis hutan sampe 50 ribu hektar di Tamiang. Iya `kan?”, tanya istrinya dengan geram.
Sang suami tidak berkutik diberondong kata-kata istrinya yang keluar begitu saja. Baru kali ini istrinya begitu marah terhadapnya. Dari ucapan-ucapannya yang bernada tinggi disertai pertanyaan-pertanyaan yang nyelekit, dia menyimpulkan kalau kali ini istrinya tidak main-main. Keempat anaknya juga walaupun hanya satu orang yang bicara dari sikapnya menunjukkan ketidaksenangannya pada papanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya dia mengakui kesalahannya selama ini. Tapi, lagi-lagi bisikan setan terkadang lebih dahsyat daripada bisikan hati nurani sehingga dengan entengnya dia berucap.
“Silakan aja kalo kalian turun ke lapangan. Nanti kalo ada apa-apa juga pasti minta tolongnya ke papa juga”, katanya ketus.
“Apa? Aku akan minta tolong Papa?”, tanya anak tertuanya.
“Aku mau tunjukin kalo dah lama gak tergantung sama Papa!”, kata anaknya agak keras.
“Aku dah cukup dewasa Pa untuk mengambil keputusan”, kata anaknya ketus.
“Papa tahu gak, dulu Papa nyuru-nyuru aku dan adikku untuk kuliah di luar negeri? Aku dan adikku gak mau. Aku dan adikku kompak lebih baik kuliah di dalam negeri aja biar kata Papa waktu itu gak bermutu kuliah di dalam negeri. Dengan aku kuliah di dalam negeri aku jadi tahu kondisi negara ini. Kalo aku di luar negeri, aku cuma bangga lulusan luar negeri, tapi gak tahu kondisi negara ini. Kayak sekarang aku jadi tahu kalo hutan yang Papa babat habis makan korban yang gak sedikit. Papa mau mengganti semua kerugian yang diderita rakyat karena ulah Papa itu?”, tanya anaknya dengan sedikit kesal.
“Emang ada apa dengan kondisi negara ini”, tanya papanya heran.
“Papa belaga pilon ya?”, tanya istrinya.
“Jangan belaga pilon Pa! Papa itu dikenal sebagai pebisnis besar yang tiap hari pasti melototin berita-berita yang berseliweran atau laporan-laporan dari anak buah Papa. Apa jangan-jangan anak buah Papa sudah memanipulasi data sampe-sampe Papa gak tahu keadaan negara ini?”, desak istrinya.
“Ya, papa tahu”, jawab sang suami.
“Kalo dah tahu kenapa pake ngomong begitu? Pake nanya ada apa dengan kondisi negara ini”, tanya istrinya heran.
“Ayo, anak-anak kita beres-beres. Gak usah lagi diterusin makan malam kita. Kita siap-siap besok pagi habis salat subuh kita berangkat!”, ajak istrinya pada anak-anaknya.
“Siap, Ma!” kata anak-anaknya serentak.
Mereka dibantu asisten rumah tangganya segera beres-beres meja makan yang baru saja digunakan. Sang papa tidak ikut beres-beres. Dia segera pergi ke ruang tengah. Setelah terjadi perdebatan di ruang makan, sang papa lebih banyak terdiam. Entah diamnya sang papa karena mengakui kesalahannya atau mengatur strategi untuk balik menyerang anggota keluarganya. Maklum, sang papa seorang pebisnis terkenal yang sudah biasa mengatur strategi. Buat dia debat-debat tadi dianggap kecil. Dia menganggap istri dan anak-anaknya sedang mood saja dengan bencana di Sumatra. Nanti kalau sudah turun ke lapangan, dia memastikan istri dan anak-anaknya tidak akan betah di sana. Mungkin tidak sampai satu pekan akan balik ke Jakarta. Ah, masa bodo amat. Emangnya gue pikirin begitu kira-kira yang ada di benaknya.
***
Pukul 02.30 dini hari istri dan anak-anaknya bangun tidur. Tidak seperti biasanya, mereka langsung mandi. Sehabis mandi mereka berkumpul di musola kecil yang ada di rumahnya. Mereka melaksanakan salat qiyamul lail. Dia sendiri masih tertidur karena semalam sempat nonton sepak bola sampai jauh malam. Baru ketika azan subuh dia terbangun untuk salat berjamaah dengan istri dan anak-anaknya. Selesai salat, karena masih mengantuk, dia teruskan tidur. Sementara itu, istri dan anak-anaknya selesai salat langsung siap-siap berangkat ke bandara. Sebelum berangkat istrinya membangunkannya untuk pamit.
“Pa, mama sama anak-anak mau berangkat. Mama pamit ya?”, kata istrinya.
“Lha, kalian jadi berangkat?”, tanyanya.
“Jadi Pa. Mama dah pesan tiket pesawat tiga hari lalu. Dah ya, Mama sama anak-anak mau berangkat. Hati-hati selama ditinggal Mama sama anak-anak di rumah”, pesan istrinya.
“Ya”, dengan sedikit heran dia menatap istri dan anak-anaknya.
Mereka satu persatu mencium tangan papanya. Satu persatu juga mereka masuk ke mobil yang sudah siap-siap mau berangkat. Tidak lama kemudian mereka berangkat dan meninggalkan papanya seorang diri. Sang bapak yang ditinggal sendirian sebenarnya ada rasa sedih dan kesepian. Baru kali ini mereka pergi tanpa menyertakan dirinya. Selama ini selalu pergi bersama walaupun sekedar makan malam bersama di luar rumah. Karena masih digelayuti rasa kantuk sang papa yang ditinggal sendirian pergi tidur lagi. Sebelum tidur dia masih bergumam Mereka gak akan bisa lama di sana. Emangnya enak tinggal di tempat yang gak ada aliran listrik, makan apa adanya, dan gak ada tempat buat istirahat. Sudahlah gak usah dipikirin. Emangnya gue pikirin.
***
Dia baru saja tertidur ketika tiba-tiba saja ada orang berjubah yang mendatanginya. Orang itu memakai jubah putih dan peci putih. Di dagunya ada janggut yang cukup tebal. Orang itu membawa tasbih. Sambil menghampiri dirinya terdengar suara zikir yang tidak henti-hentinya. Dia tidak kenal orang itu. Dari air muka yang tampak dari wajahnya, dia berkesimpulan orang ini orang baik. Orang yang saleh yang sudah pasti tidak punya niat jahat. Melihat sosok orang yang mendekatinya yang tidak ada niat berbuat jahat, dia cenderung berdiam diri. Belum sempat dia menyapanya, orang itu memberikan salam.
“ Assalamualaikum Pak Abdul Gani!”, sapa orang berjubah itu.
“Waalaikum salam”, jawabnya setengah heran karena orang itu ternyata tahu namanya.
“Bagaimana kabarnya? Sehat?”, tanya orang berjubah itu.
“Alhamdulillah sehat. Lho, Bapak ini siapa? Kok, tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam rasa heran.
“Saya ini orang baik yang mau ngajak Bapak untuk berbuat baik”. Kata orang itu.
“Ya. Tapi, saya belum pernah bertemu dengan Bapak. Kenapa Bapak bisa tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam keheranan.
“Saya ini orang yang selalu dekat dengan Allah. Saya selalu menjadikan Allah tempat saya bergantung. Makanya saya diberi kelebihan oleh Allah tahu orang yang saya datangi. Saya bukan cuma tahu nama Bapak, saya juga tahu siapa Bapak dan tahu yang tersembunyi jauh di lubuk hati Bapak”, kata orang itu seperti menceramahinya.
“Tahu sesuatu yang adadi lubuk hati saya?”, tanyanya tambah heran.
“Ya. Saya tahu. Saya tahu Bapak pebisnis terkenal yang punya hutan sangat luas di Aceh Tamiang. Yang hutannya habis dibabat nyaris gundul. Setelah gundul Bapak tanami pohon sawit. Sekarang ini gelondongan kayu hasil Bapak membabat pohon secara brutal memakan korban di sepanjang aliran sungai. Bapak pasti sudah tahu berapa banyak rumah yang roboh terhempas gelondongan kayu. Bapak pasti juga tahu berapa banyak masyarakat yang saat ini tidak lagi punya tempat tinggal. Mereka telah menjadi tunawisma. Belum cukup sampai di situ, di jalan-jalan banyak mobil yang terendam lumpur. Lumpur Pak, bukan air yang di dalam mobil-mobil itu ada orang-orang yang terjebak sehingga mereka mati di dalam mobil itu. Semoga mereka termasuk orang-orang yang mati syahid. Amin yaa robbal alamin”, kata orang itu seraya mengangkat kedua lengannya.
“Apakah Bapak masih ngomong kalau itu semua rekayasa orang-orang yang antipemerintah? Orang-orang yang sengaja membuat keonaran di negara ini ketika ditimpa bencana?”, tanya orang itu setengah teriak.
“Tidak. Tidak. Saya memang harus mengakuinya. Itu memang realita yang ada di lapangan”, katanya setengah ketakutan.
“Alhamdulillah kalau Bapak sudah mengakuinya”, kata orang berjubah itu.
“Apa perlu saya sampaikan yang saya tahu biar Bapak benar-benar paham yang terjadi di sana?”, tanya orang berjubah itu.
“Tidak usah. Saya sudah tahu yang terjadi di sana”, katanya masih dalam rasa ketakutan.
“Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?”, tanyanya.
Orang berjubah itu diam sejenak. Orang berjubah itu masih asik dengan zikirnya. Terdengar samar-samar oleh tuan rumah orang berjubah putih itu beristighfar. Sambil matanya menyorot ke arahnya. Orang itu berkata.
“Bapak ingin besok mati?”, tanyanya. Pertanyaan itu tentu saja mengagetkan Pak Abdul Gani.
“Kalau bisa, jangan dulu Pak”, katanya mengiba.
“Kenapa? Takut mati?”, tanya si orang berjubah itu.
“Saya belum siap mati Pak. Saya banyak dosa dan amalan saya masih sedikit Pak”, katanya setengah takut.
“Kalau sudah tahu takut mati, kenapa Bapak berbuat kesalahan?”, tanya si orang berjubah itu.
“Saya selama ini khilaf Pak. Saya selalu mengikuti hawa nafsu Pak”, akunya.
“Saya tahu, Bapak itu sebenarnya dulu orang baik. Bapak mulai rusak ketika jadi pengusaha yang dekat dengan kekuasaan, ya `kan?”, desak orang berjubah itu.
“Ya, Pak. Saya mulai rusak ketika masuk dalam lingkungan kekuasaan. Saya jadi lupa diri. Makanya kalau masih diberi kesempatan hidup saya mau bertobat Pak”, katanya sedikit mengiba.
“Apa cukup bertobat sementara hutan yang Bapak gunduli itu sekarang makan korban?”, desak si orang berjubah itu.
“Saya mau benar-benar taubatan nasuha, Pak”, janjinya.
“Kalo bisa…”, katanya.
“Kalo bisa apa?”, belum selesai Pak Abdul Gani bicara sudah diputus dengan pertanyaan menohok.
“Kalo bisa saya mau mundur jadi pengusaha kelapa sawit, Pak”, katanya masih mengiba.
“Cukup mau mundur saja?”, tanya si orang berjubah itu.
“Saya mau serahkan kebun kelapa sawit itu ke masyarakat dan pemerintah di Tamiang biar dijadikan hutan lagi”, katanya.
“Terus apa lagi?”, tanyanya.
“Saya bersedia mengganti semua kerusakan yang berakibat bencana, Pak”, katanya.
“Nanti gimana dengan keluarga Bapak kalo perusahaan minyak kelapa sawit yang di Tamiang ditutup?”, tanyanya.
“Saya mau merintis usaha dari nol lagi Pak. Masalah rizki, Insya Allah ada yang menjamin Pak”, katanya.
“Siapa yang menjamin?”, tanya si orang berjubah itu.
“Allah pasti yang menjamin, Pak”, kata Pak Abdul Gani mantap.
“Bapak benar-benar mau berjanji, ya?”, tanya si orang berjubah setengah mengancam.
“Ya, saya berjanji Pak”, katanya.
“Gimana kalo Bapak mengingkari janji?”, tanyanya.
“Saya siap dicabut nyawanya. Saya siap masuk neraka, Pak”, katanya mantap.
“Awas, jangan main-main dengan janji. Kalo Bapak ingkar janji saya akan teror Bapak habis-habisan”, ancam si orang berjubah seraya memberi salam dan pergi menghilang.
“Saya berjanji Pak…! Saya berjanji Pak…. ! Saya berjanji Pak…!”, teriak Pak Abdul Gani berulang-ulang sampai-sampai asisten rumah tangganya kaget dan menggedor-gedor kamarnya.
“Pak…! Pak ….! Bangun Pak!”, teriak asisten rumah tangganya.
“Ya…Ya…Ada apa?”, tanyanya heran sambil membukakan pintu kamarnya.
“Bapak tadi teriak-teriak”, kata asisten rumah tangganya.
“Ooooh, saya bermimpi tadi”, katanya.
“Ini diminum dulu, Pak!”, kata asisten rumah tangganya yang telah siap membawakan air putih hangat buatnya.
“Ya. Terima kasih”, katanya sambil meminum air putih hangat.
“Gimana Pak? Bapak gak apa-apa?”, tanya asisten rumah tangganya.
“Alhamdulillah gak apa-apa. Saya cuma bermimpi”, katanya.
“Kalo gitu, saya tinggal dulu ya?”, tanya sang asisten rumah tangga.
“Ya.”
Sepeninggal asisten rumah tangganya yang telah teruji kesetiaannya, Pak Abdul Gani merenung tentang mimpi yang baru saja dialaminya. Meski hanya mimpi, dia yakin kalau yang datang itu bukan orang sembarangan, orang berjubah putih itu pasti diutus oleh Allah untuk menegur perbuatannya yang selama ini banyak menyimpang. Salah satu perbuatannya yang saat ini memakan korban membuatnya bergidik kalau mengingat rumah-rumah orang yang di sepanjang sungai telah rata dengan tanah akibat tersapu oleh kayu gelondongan miliknya. Tidak cukup sampai di situ, banyak mobil yang terendam bukan hanya air tapi juga lumpur yang di dalamnya tidak sedikit orang yang mati. Akibat dari perbuatannya banyak orang yang tiba-tiba jatuh miskin. Banyak perempuan yang jadi janda atau laki-laki yang jadi duda karena mereka ditinggal mati pasangannya. Bahkan, banyak anak yang jadi yatim karena kehilangan orangtuanya. Ah, begitu banyak orang yang jadi korban akibat ulahnya membuat dia menangis sejadi-jadinya. Air matanya keluar deras dari kelopak matanya. Sejenak dia berhenti menangis karena hanya dengan menangis tidak menyelesaikan masalah. Dia segera mengambil handuk membersihkan diri dan sekaligus mengambil wudu untuk salat duha. Selagi masih ada kesempatan dia harus melakukannya. Setelah itu satu demi satu janji-janjinya yang tadi disampaikannya ke orang berjubah putih itu akan dilaksanakannya.
***
Dia hari ini tidak masuk kantor dengan alasan kurang sehat. Terhitung mulai hari ini dia memimpin rapat dan mengendalikan usahanya secara daring. Selama beberapa hari, dia mengajak semua stafnya yang ada di kantor perusahaannya, baik yang ada di pusat maupun yang ada di Tamiang untuk rapat daring. Sebelumnya dia telah menerima kabar kalau kebun kelapa sawitnya terendam air dan lumpur. Bukan itu saja pabriknya rata dengan tanah karena terseret kayu gelondongan. Di rapat itu secara sepihak dia memutuskan untuk menutup perusahaannya. Dia sendiri juga memutuskan memundurkan diri dari perusahaannya. Supaya tidak terjadi gejolak, dia sampaikan kalau semua staf dan karyawannya akan diberikan pesangon sesuai dengan masa kerjanya. Dengan cara demikian tidak ada gejolak di perusahaan yang dimilikinya.
Beberapa hari kemudiann dibantu LSM, baik yang ada di pusat maupun di Tamiang dia mengirim email ke pejabat pemerintah di Tamiang. Dia sampaikan kalau bekas kebun kelapa sawitnya diserahkan ke masyarakat untuk dikelola langsung oleh masyarakat. Selain itu, dia gelontorkan dana yang cukup besar untuk dilakukan reboisasi di bekas kebun kelapa sawitnya. Tidak cukup sampai di situ, semua anggota masyarakat yang turut terlibat dalam reboisasi diberikan honor selama terlibat reboisasi. Khusus untuk korban bencana banjir, dia menyediakan uang santunan. Uang itu diperoleh dari simpanannya yang selama ini diparkir di beberapa bank. Mereka-mereka yang jadi korban bencana setelah didata diberikan uang santunan. Dia tidak peduli dengan kebijakannya akan menghabiskan uang tabungannya. Buat dia lebih baik uang tabungannya habis daripada setiap hari dia mendapat kabar buruk tentang mereka-mereka yang jadi korban bencana. Tidak cukup sampai di situ, lagi-lagi dia mengeluarkan uang tabungannya untuk membenahi infrastruktur di Tamiang yang hancur akibat banjir yang disebabkan oleh penggundulan hutan secara brutal. Dia tidak lagi memperhitungkan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk menangani bencana banjir di Tamiang dan sekitarnya. Meskipun demikian, ada sebuah perasaan tersendiri yang tidak dapat digambarkan karena dia telah berbuat yang terbaik sebelum ajal memanggilnya. Sebagaimana permintaannya pada laki-laki berjubah putih yang datang dalam mimpinya kalau dia tidak mau masuk neraka.
Semua yang dilakukannya selama lebih dari sepekan tidak diketahui oleh istri dan anak-anaknya. Kesibukannya mengurusi perusahaannya yang nyaris bangkrut karena bencana membuat dia lupa untuk berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya. Begitupun dengan istri dan anak-anaknya karena kesibukannya turun ke lapangan membantu orang-orang yang terkena musibah juga tidak sempat mengontaknya. Meskipun demikian, di saat-saat sudah melewati masa-masa genting di Tamiang terpikir juga oleh mereka untuk mengontak papanya. Inisiatif untuk mengontak papanya dilakukan oleh anaknya yang bungsu ketika pada siang hari melakukan video call.
“Assalamualaikum. Halo Papa”, sapa anaknya sambil melambaikan tangan.
“Waalaikum salam”, jawabnya juga sambil melambaikan tangannya.
“Gimana kabarnya Papa?”, tanya sang anak.
“Alhamdulillah sehat. Gimana kabarnya Mama?”, tanya papanya.
“Ini Mama sehat Pa!”, teriaknya girang.
“Kok, Mama kayaknya girang banget?”, tanyanya.
“Ya, Mama girang karena Papa dah banyak berkorban”, katanya.
“Berkorban apa?”, tanyanya pura-pura.
“Ah, Papa kayak gak tahu aja. Bukannya Papa sudah menyerahkan kebun kelapa sawit ke masyarakat? Sekarang lagi dibenahin Pa. Bentar lagi akan direboisasi. Kabarnya semuanya didanai oleh Papa ya `kan?”, tanya istrinya. Dari nada suaranya terdengar sedikit girang.
“Ya. Papa sudah putuskan untuk menutup pabrik kelapa sawit itu. Selain itu, Papa juga sudah sediakan dana untuk santunan kepada para warga yang jadi korban bencana termasuk rumah-rumah yang terseret banjir dan terkena kayu gelondongan. Infrastruktur yang terkena imbas akibat banjir juga sudah Papa putuskan untuk disediakan dananya”, katanya seperti membacakan berita penting ke anggota keluarganya.
“Wah, keren Pa!”, kata anaknya yang nomor dua.
“Ya. Yang Papa lakukan itu bener-bener keren! Gak ada pengusaha yang seperti Papa. Kalo aja di negeri ini ada orang seperti Papa gak perlu lagi yang namanya pemerintah daerah minta-minta bantuan ke pusat yang memang lagi banyak mikirin buat MBG sama Woosh”, kata anaknya yang pertama sambil tertawa.
“Eh, ngomong-ngomong kalian bermalam di mana?”, tanya papanya.
“Waktu pertama kali datang di tenda-tenda. Sekarang sudah disediakan LSM yang bergerak di sini di masjid yang selamat dari bencana”, jawab istrinya.
“Jadi, ada tempat ibadah yang gak terkena bencana?”, tanyanya heran.
“Banyak Pa”, jawab anaknya yang nomor tiga.
“Masyarakat sini tuh walaupun susah begitu lihat kita datang dengan niat baik untuk menolong, mereka langsung meresponnya”, jelas si anak yang nomor tiga.
“Papa ke sini aja!”, kata anak yang bungsu.
“Insya Allah besok pagi Papa berangkat menyusul kalian”, janjinya.
“Sudah ya? Papa masih ada urusan yang harus diselesaikan hari ini”, kata papanya.
“Hati-hati Pa nanti di jalan. Assalamualaikum!”, kata anak yang pertama.
“Waalaikum salam. Sampai ketemu lagi ya?”
“Ya. Papa!”, kata istrinya.
***
Setelah video call dengan istri dan anak-anaknya dia jadi tahu kalau mereka bisa membersamai orang-orang yang terkena bencana nun jauh di sana. Sikap tinggi hatinya yang sempat terbetik di benaknya kalau pada suatu saat istri dan anak-anaknya dipastikan akan minta bantuan padanya ternyata tidak terbukti. Buktinya, mereka bisa tinggal di tenda-tenda pengungsian dan di masjid. Terbayang di benaknya, mereka pasti makan bersama dengan para pengungsi dengan makanan apa adanya. Mereka juga tidak akan bisa tidur nyenyak seperti dirinya yang selama ditinggal istri dan anak-anaknya masih bisa tidur nyenyak. Melihat mereka yang tampaknya ceria-ceria saja membuat dirinya rindu ingin segera bertemu dengan mereka. Dia yakin kerinduan ini akan terobati besok ketika bertemu dengan mereka. Dia juga rindu bertemu dengan orang-orang yang menjadi korban bencana yang tiba-tiba saja mereka banyak yang menjadi orang-orang duafa. Ah, mengingat itu semua membuat kelopak matanya berair. Air mata yang keluar ini bukan air mata kesedihan, tapi juga ada kegembiraan. Kegembiraan itu akan berkesinambungan sampai dia bertemu dengan Rob-Nya. Itu harapannya.
Kota Bekasi, 10 Desember 2025.