Bahasa dan Sastra

BERKISAH TENTANG VERBALISME

Subagio S. Waluyo

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)  yang tiada berguna”

(QS Al-Mukminun: 3)

 Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan kebaikan atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Dari Anas ra dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidak akan lurus (benar) keimanan seorang hamba kecuali setelah hatinya lurus, dan tidak akan lurus hati seorang hamba kecuali setelah lisannya lurus”

***

Petikan ayat Qur`an dan petikan hadits-hadits di atas mengajarkan pada umat Islam agar menghindari perkataan yang tidak baik atau buruk (memaki, mengejek, menghina, merendahkan, atau memperolok-olok). Sebaliknya, seorang Muslim yang baik ditandai dengan kelurusan ucapan karena kelurusan ucapan merupakan cermin kelurusan hati. Kalau ucapan kita masih menyakiti orang lain, berarti hati kita belum lurus. Untuk itu, lebih baik diam daripada hati kita terbaca oleh orang lain sebagai hati yang tidak lurus (bengkok) karena ucapan kita yang menyakiti orang lain. Berkaitan dengan anjuran lebih baik diam, apakah sebagai makhluk sosial kita tidak berkomunikasi manakala berada di tengah-tengah masyarakat? Biar bagaimana pun kita perlu bicara. Hanya saja kita harus pandai-pandai memilih diksi (pilihan kata) ketika berbicara agar orang yang kita ajak bicara tidak tersinggung atau menyakiti hatinya.

Sebenarnya bukan hanya berbicara (bahasa lisan) kita harus pandai-pandai memilih diksi, dalam menulis pun kita harus juga pandai memilih diksi. Salah dalam memilih diksi akan berakibat fatal. Tidak sedikit orang yang tersinggung ketika, misalnya, baru-baru ini ada orang yang menulis di dunia virtual mengangkat sebuah lelucon yang pernah dikemukakan oleh mendiang Gus Dur tentang polisi. Bisa saja karena ada sebagian pejabat kepolisian yang `baper`, akhirnya gara-gara chating-an di dunia virtual orang yang men-chating itu harus berurusan dengan pihak berwajib.  Jadi, baik kita berbahasa lisan maupun berbahasa tulisan kita harus panda-pandai memilih diksi.

Berbahasa lisan dan berbahasa tulisan keduanya merupakan komunikasi verbal (https://id.wikipedia.org/ wiki/Komunikasi_verbal). Sebagai makhluk sosial  manusia tidak akan mungkin terlepas dari penggunaan komunikasi verbal. Komunikasi verbal dalam bentuk tulisan jika dilakukan orang-orang yang berhati-hati memilih diksi, mereka akan melahirkan tulisan-tulisan yang penuh kesantunan. Tetapi, orang-orang yang hatinya kotor sudah bisa dipastikan ketika menulis akan melahirkan kata-kata yang juga kotor yang tentu saja akan membuat pembacanya tidak nyaman kecuali orang-orang yang sejenis dengannya (sama-sama hatinya kotor). Bagaimana dengan orang-orang yang kritis, orang-orang yang tidak bisa berdiam diri ketika melhat ketimpangan sosial? Orang-orang semacam ini ketika menulis juga akan melahirkan kata-kata yang membikin telinga merah (terutama telinga para penguasa atau pengusaha yang diam-diam telah menjadi kelompok penekan). Apakah bisa digolongkan mereka termasuk orang-orang yang tidak pandai memilih diksi?

***

Adalah WS Rendra salah seorang penyair yang tergolong kritis ketika menulis beberapa puisinya yang terdapat dalam kumpulan puisinya Potret Pembangunan dalam Puisi (PPDP). Sebagian besar puisi yang ditulisnya di  PPDP kata-katanya termasuk sarkasme. Dengan kata-kata yang digunakan di PPDP yang tergolong sarkasme, WS Rendra tidak bisa dikatakan orang yang tidak pandai memilih diksi. Justru, penyair seperti WS Rendra adalah orang yang termasuk piawai memilih diksi. WS Rendra ketika menulis puisi-puisi cinta di Empat Kumpulan Sajak banyak memanfaatkan seluruh isi alam semesta. Kita bisa melihat sebagian puisinya yang ditulisnya di kumpulan puisi tersebut yang menunjukkan kekayaan penggunaan diksi yang diambil dari alam sekitarnya. Di petikan puisi “Surat Cinta” di bawah ini, misalnya, hujan gerimis yang turun ke bumi diibaratkan bunyi tambur mainan anak-anak peri dunia yang gaib. Kemudian, suara angin yang mendesah, mengeluh, dan mendesah seolah-olah suara angin itu seperti suara perempuan yang sedang bercinta. Bukankah itu merupakan sebuah keindahan yang digambarkan Rendra ketika sedang jatuh cinta? Belum cukup sampai di situ, dia pun menulis `kala langit menangis dan dua ekor belibis bercintaan dalam kolam`. Langit yang menangis boleh jadi suasana mendung yang kelabu. Di tengah-tengah langit yang menangis (mendung) ada dua ekor belibis yang bercintaan. Bukankah ini suasana syahdu yang berhasil dibangun Rendra dengan melibatkan langit, belibis, dan dua anak nakal yang jenaka dan manis? Kalau bukan penyair yang kaya dengan diksi, kaya dengan imajinasi, kaya dengan kontemplasi tidak akan mungkin tercipta sebuah puisi seperti itu?

Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

bagai bunyi tambur mainan

anak-anak peri dunia yang gaib.

Dan angin mendesah

mengeluh dan mendesah

Wahai, Dik Narti,

aku cinta kepadamu!

 

Kutulis surat ini

kala langit menangis

dan dua ekor belibis

bercintaan dalam kolam

bagai dua anak nakal

jenaka dan manis

mengibaskan ekor

serta menggetarkan bulu-bulunya.

Wahai, Dik Narti,

kupinang kau menjadi istriku!

……………………………………………………….

(“Surat Cinta”)

Petikan puisi di atas jauh dari sarkasme. Puisi-puisi WS Rendra yang ditulis di masa-masa bergolak demonstrasi mahasiswa di pertengahan 70-an sampai dengan menjelang akhir 70-an yang terhimpun dalam PPDP sangat jauh berbeda. Di sana tidak ada suasana melankolis. Rendra telah mencampakkan sesuatu yang mencerminkan suasana melankolis. Tapi, di balik itu semua, sebenarnya masih ada sebuah  keindahan. Keindahan di balik kata-kata yang sarkasme. Puisi-puisi di Empat Kumpulan Sajak lebih bernuansa cinta sehingga ketika orang jatuh cinta bisa saja alam sekitarnya dilibatkan habis-habisan. Sebaliknya, ketika orang yang kritis (WS Rendra) melihat banyak ketimpangan di negeri ini, dia akan habis-habisan untuk mengkritiknya. Muncullah kata-kata yang penuh dengan kritikan, jauh dari suasana melankolis yang pernah dibangunnya. Coba saja kita lihat puisi “Aku Tulis Pamplet ini”, di sana Rendra menulis `…lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah`, ungkapan ini jelas mengarah pada DPR yang dikuasai oleh pemerintah sehingga tidak punya nyali nyaris mereka seperti kelompok paduan suara (Iwan Fals). Mereka tidak bisa menegakkan demokrasi karena demokrasi telah diganti dengan intimidasi (`…dan ungkapan diri ditekan menjadi peng-iya-an). Dia juga menulis kalau kekuasaan susah untuk bisa memberikan kenyamanan bagi warganya (`menjadi teka-teki). Bahkan, yang namanya kekuasaan telah menjadi `isi kebon binatang`. Jadi, kekuasaan itu dibuang jauh-jauh. Dia sama seperti binatang yang ditempatkan di kebon binatang. Bukankah ini sebuah sarkasme? Dengan demikian, di PPDP WS Rendra telah berkomunikasi verbal dengan diksi yang sarkasme. Meskipun demikian, di balik kesarkasmean itu masih tersisa adanya sebuah keindahan. Keindahan yang hanya bisa dinikmati orang-orang yang kerap bermain dengan imajinasinya dan juga dengan kontemplasinya.

Aku Tulis Pamplet Ini

 

Aku tulis pamplet ini

karena lembaga pendapat umum

ditutupi jaring labah-labah.

Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk

dan ungkapan diri ditekan

menjadi peng-iya-an.

 

Apa yang terpegang hari ini

bisa luput esok pagi.

Ketidakpastian merajalela.

Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,

menjadi marabahaya,

menjadi isi kebon binatang.

……………………………………………….

***

Jika Rendra sebagai sastrawan berhasil menggunakan komunikasi verbal lewat tulisan dengan kata-kata yang cenderung sarkasme, lain lagi dengan Budi Darma dalam cerpennya “Sebuah Kisah di Candipuro” yang juga menggunakan komunikasi verbal lewat perbuatan. Tokoh-tokohnya minim ucapan (bahasa lisan). Seandainya ada ucapan, lebih pada ucapan-ucapan kasar. Di cerpen tersebut ada unsur kekasaran seperti `membodoh-bodohi istrinya`. Meskipun demikian, Budi Darma juga menggunakan komunikasi nonverba seperti `… membawa pelacur ke rumahnya`, `… pasti Jemprot menyiksanya`, dan ` Siksaan bisa memakai tangan kosong, gada besar yang terbuat dari kayu jati, bisa juga memakai palu dari besi baja`. Jadi, jika ditilik lebih jauh tampak dalam cerpen yang ditulis Budi Darma kali ini lebih condong menggunakan bahasa perbuatan dalam bentuk kekerasan. Seandainya ada ancaman, ungkapan-ungkapan berbau ancaman (yang boleh jadi sarkasme) tidak dimunculkan sehingga nyaris cerpen tersebut yang sebenarnya bisa saja bermuatan komunikasi nonverbal menjadi komunikasi verbal.

Dalam cerpen yang ditulis Budi Darma, “Sebuah Kisah di Candipuro”, diceritakan seorang laki-laki yang sudah berkeluarga mempunyai kebiasaan membawa pelacur ke rumahnya. Laki-laki itu, Jemprot, ketika berhubungan seks dengan setiap pelacur meminta istrinya, Bik Rimang, ikut menyaksikannya. Kalau tidak mau, Bik Rimang akan disiksa. Kejadian itu terus berkelanjutan. Sebagai manusia biasa Bik Rimang lama kelamaan tidak tahan juga dengan perlakuan suaminya. Suatu saat ketika mereka bermain kuda-kudaan Bik Rimang mengambil celurit. Bik Rimang menancapkan celuritnya ke kepala suaminya. Dengan demikian, Bik Rimang di cerpen tersebut telah mempraktekkan komunikasi nonverbal (tidak perlu ucapan tapi cukup dengan perbuatan).

Sering dia membawa pelacur ke rumahnya, lalu diajaknya main kuda-kudaan. Pelacurnya tidak pernah sama. Setiap kali Jemprot membawa pelacur lagi, pasti pelacur baru. Dan, Bik Rimang mau tidak mau harus menyaksikan suaminya main kuda-kudaan. Sebab, kalau menolak, sehabis main kuda-kudaan pasti Jemprot menyiksanya. Siksaan bisa memakai tangan kosong, gada besar yang terbuat dari kayu jati, bisa juga memakai palu dari besi baja.

Pada suatu hari, ketika Jemprot mengancam akan membunuh istrinya apabila tidak mau menyaksikan Jemprot main kuda-kudaan, istrinya hanya menunduk. Permainan kuda-kudaan pun dimulailah. Mula-mula istrinya merasa lemah, keringat dinginnya membasahi tubuh, pandangan matanya menjadi gelap. Lalu, dengan mendadak dia merasa mendengar bisik-bisik sebuah lagu, sama dengan lagu dari ibunya dulu. Tubuh Bik Rimang merasa kuat, tapi pandangannya tetap gelap. Tanpa diketahui Jemprot karena terlalu asyik dengan permainannya, Bik Rimang menari, berjalan ke dapur, mengambil celurit, dan dengan gerakan tari yang sangat indah, celurit itu dilayangkan ke kepala Jemprot.

Dikutip dari Cerpen Budi Darma “Sebuah Kisah di Candipuro”

(https://lakonhidup.com/2020/04/26/sebuah-kisah-di-candipuro/)

Begitulah cara Budi Darma menyelesaikan masalah verbalisme yang sering dilakukan Jemprot, laki-laki yang sering memaksa istrinya (Bik Rimang) untuk menonton adegan seks dirinya dengan seorang pelacur. Di mata Jemprot istrinya hanya sebagai boneka yang bisa dipaksa dan dikasari. Dia tidak pernah berpikir kalau suatu saat Bik Rimang sebagai istrinya juga bisa melampiaskan sakit hatinya. Suatu saat Bik Rimang saking tidak tahannya menyelesaikan sakit hatinya dengan tega dia membunuhnya secara keji (menggunakan celurit) sehingga sang suami, Jemprot, bersamaan dengan hilangnya nyawa, hilang juga penyakit verbalismenya. Meskipun perbuatan tersebut jelas melanggar hukum, bagi Bik Rimang tidak ada cara yang paling efektif kecuali menghabisi nyawa suaminya daripada seumur-umur dia harus hidup menderita di bawah tekanan suaminya. Dengan demikian, untuk sementara dia merasakan kebebasan yang tidak bisa dinilai dengan materi sekalipun:kebebasan dari penindasan, kebebasan dari verbalisme sang suami yang sudah jelas dzolim.

***

Verbalisme bisa berarti ungkapan verbal. Dalam hal ini bisa berwujud kata-kata,perkataan, ungkapan, ucapan.Verbalisme juga dapat digunakan untuk menyebut tulisan atau uraian yang mempergunakan terlalu banyak kata sedangkan isinya terlalu sedikit atau tanpa isi (A.Mangunhardjana, Isme-Isme Dari A sampai Z, 2001: 233). Verbalisme juga bisa digunakan untuk mengaburkan kenyataan atau mendekati eufemisme (menggantikan kata atau ungkapan yang kurang enak didengar menjadi ungkapan yang enak didengar). Frase `pelacur` diganti dengan `wanita tuna susila` atau `pekerja seks komersil (PSK)` merupakan salah satu contoh eufemisme dan masih banyak lagi contoh yang biasa orang gunakan untuk melakukan verbalisme dalam mengaburkan kenyataan (A.Mangunhardjana, 2001:234).

Dalam petikan puisi “Aku Tulis Pamflet Ini” di atas tidak ada kata atau ungkapan yang diperhalus. Rendra menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti walaupun mengganti DPR dengan lembaga pendapat umum (misalnya). Begitu juga dalam cerpen yang ditulis oleh Budi Darma (“Sebuah Kisah di Candipuro”) juga tidak ada penghalusan kata sehingga cerpen itu mudah dicerna oleh pembaca awam sekalipun. Kedua sastrawan itu telah berhasil berkomunikasi dengan pembacanya lewat komunikasi verbalisme (komunikasi verbal dan nonverbal). Keberhasilan itu bisa dilihat dari reaksi pembacanya. Untuk pembaca puisi-puisi Rendra boleh jadi ada yang tersinggung atau ada juga yang berempati. Bahkan, bisa termotivasi untuk sama-sama mengkritisi ketimpangan sosial. Sedangkan pembaca cerpen Budi Darma kali ini, orang bisa geram dengan perilaku Jemprot yang telah memaksa istrinya menonton kebiasaan buruknya ketika berzina dengan seorang pelacur di depan mata sang istri. Pembaca bisa berempati dengan keputusan akhir sang istri (Bik Rimang) yang telah menancapkan celuritnya ke kepala Jemprot, sang suami, yang telah sering berbuat dzolim terhadap istrinya. Dengan demikian, lewat verbalisme kedua sastrawan (WS Rendra dan Budi Darma) telah berhasil membangun empati dan kepedulian pada sesama manusia.

***

Verbalisme yang banyak digunakan dalam karya sastra bisa memberikan manfaat besar manakala  orang bisa berempati dengan isi puisi atau pesan yang disampaikan penulis dalam karya fiksinya (cepen, novel, dan bisa juga naskah drama). Verbalisme juga bisa bermanfaat dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan pada seorang hamba Allah sepanjang menggunakan diksi yang baik (diksi yang tidak membuat seseorang tersinggung). Verbalisme sebagai sesuatu yang netral terkadang juga bisa membuat orang naik darah karena tersinggung. Semua itu sangat bergantung pada penggunaan diksi. Bagi orang yang aktif dalam aktivitas dakwah dan pendidik (termasuk ke dalamnya dosen atau guru) yang setiap hari aktif berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal harus berhati-hati menggunakan diksi. Sesuai dengan bunyi hadits di atas bahwa orang yang lurus hatinya tercermin dari kelurusan kata-kata. Dengan demikian, seorang Muslim yang baik harus memiliki kelurusan kata-kata sehingga orang yang mendengarkannya akan bisa menyimpulkan Islam merupakan agama yang mengajarkan kesantunan berbahasa.Wallahu a`lam bissawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat