Cerpen

Subagio S.Waluyo

          Aku bunglon. Aku bisa berubah warna sesuai dengan tempat aku hinggap. Aku bunglon yang hinggap dari satu pohon kekuasaan ke pohon kekuasaan berikutnya begitu seterusnya. Sampai saat ini aku masih menghidupkan diri sebagai bunglon yang menikmati hidup dari pohon-pohon kekuasaan yang aku hinggapi. Kalau pohon kekuasaan yang satu tiba-tiba saja layu, aku segera hinggap di pohon kekuasaan yang lain. Aku tinggalkan ekorku di pohon kekuasaan yang layu itu. Banyak orang yang tidak bisa menangkapku. Mereka hanya menangkap ekorku yang tertinggal di pohon kekuasaan yang kutinggalkan.

          Aku tidak pernah tersinggung jika ada orang menyebutku bunglon. Aku memang bunglon, kok! Makanya aku rela  jika aku sama seperti tokoh-tokoh bunglon di dunia ini. Silakan saja ada orang yang bikin daftar orang-orang bunglon dari abad ke abad, masukkan aku ke dalam daftar itu, pasti aku terima. Buatku tidak ada masalah kalau namaku dicantumkan sebagai salah satu bunglon. Aku tidak perlu melempar ke orang lain stigma buruk itu. Aku sekali lagi siap menerima sebutan bunglon titik. Kenapa stigma buruk itu aku terima? Buatku menjadi bunglon kata orang `sesuatu banget`. Ya, `sesuatu banget` karena aku saat ini benar-benar merasakan hidup ini semuanya serba mudah dan nikmat. Aku tidak perlu kerja keras. Aku cukup kasih instruksi ke bawahanku kalau ada orang-orang yang mulai membahayakan keberadaanku. Atau aku cepat-cepat cari pohon kekuasaan yang sekiranya bisa buat aku selamat. Untuk bisa selamat, apalagi kalau bukan menjadi penjilat di pohon kekuasaanku yang baru.

***

          Aku tidak tahu, apakah menjadi bunglon lebih merupakan talentaku yang memang sudah ada sejak aku lahir? Seingatku, dulu aku termasuk orang baik-baik. Aku lahir dari keluarga orang-orang yang taat beribadah. Sejak sekolah di bangku SD sampai ke perguruan tinggi aku termasuk anak yang berprestasi. Aku bisa selesaikan studi S3 dengan predikat summa cumlaude di Monash University. Selama aku kuliah S2 dan S3 aku sama sekali tidak mengeluarkan biaya karena aku mendapat beasiswa penuh. Aku kecewa saja ketika kembali ke tanah air kenaikan pendapatanku tidak seimbang dengan gelar S3 yang kuperoleh dari perguruan tinggi ternama di Australia. Makanya aku mencoba peruntungan di dunia politik dengan benar-benar terjun menjadi seorang politikus walaupun aku harus menjadi bunglon.

          Sampai aku dewasa, menikah, dan punya keturunan aku belum menjadi bunglon. Aku menjadi bunglon setelah mulai menikmati hidup di bawah pohon kekuasaan. Aku ingat ketika istriku marah besar padaku karena aku resign sebagai dosen memilih menjadi politikus. Aku menjadi politikus karena mau mengubah nasib. Aku tidak mau hidup terus-terusan dengan kondisi ekonomi yang tidak akan menjadikan aku kaya. Sebagai dosen dengan latar belakang pendidikan S3, buatku gaji yang aku terima pada waktu itu terbilang kecil. Semua alasan yang aku sampaikan ke istriku ditolak mentah-mentah. Saking marahnya, istriku mengusirku dari rumahnya (rumah tempat aku tinggal memang milik istriku).

“Saudara Deni (dia tidak menyebutku `Ayah` seperti biasanya), silakan bawa semua tas dan koper ini. Dulu Saudara Deni datang ke rumah ini cuma bawa tas dan pakaian yang melekat di badan. Sekarang juga silakan bawa semua ini”, sambil berkata begitu istriku langsung membanting pintu seraya sekalian menguncinya.

“Bu!, Ibu!, tega-teganya mengusirku!”, aku berteriak sejadi-jadinya. Tetangga-tetangga rumah hanya bisa diam. Mereka hanya melihat dari kejauhan. Tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka cuma tahu aku diusir dari rumah istriku. Sementara anak-anakku tidak ada seorang pun yang melihatku diusir. Rupanya mereka sudah dikondisikan oleh istriku. Karena istriku di dalam rumah bergeming dan tidak ada reaksi sama sekali dari dalam rumah, aku tinggalkan rumahku. Aku bawa semua tas dan koper. Aku terseok-seok membawa tas dan koper di bawah tatapan tetangga-tetangga rumahku yang tidak bisa berbuat apapun buatku. Mereka hanya menyimpan tanya `ada apa denganku?`. Aku segera menuju ke apartemen yang memang telah disediakan temanku sesama bunglon.

          Temanku sesama bunglon menyambutku dengan penuh antusias. Dia memelukku erat seraya membisikkan sesuatu.

“Kau akan jadi politikus terkenal. Aku sudah lihat talentamu memang ke arah sana. Selamat datang di dunia Politik, Deni!”, sambil senyum semringah temanku sesama bunglon menerima kehadiranku.

“Terima kasih. Tapi, aku sedih karena harus meninggalkan keluarga”, kataku penuh haru.

“Sudahlah Den, jangan disedihkan lagi. Kita harus bikin pesta kecil untuk menyambutmu supaya kesedihanmu hilang. Kalau kau kesepian, nanti ada yang siap menemanimu. Kau ingat `kan Linda, gadis mungil yang naksir kau?”, tanya temanku setengah berbisik.Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Nanti kita undang ke pesta kecil kita”, kata temanku menyemangatiku.

“Sekarang kamu masukkan semua pakaian yang ada dalam tas dan kopermu ke lemari yang telah kusediakan”, perintah temanku.

          Aku segera menuruti perintahnya. Sambil memasukkan pakaian ke dalam lemari aku masih mengingat-ingat kejadian tadi pagi ketika aku diusir oleh istriku. Buatku pengusiran ini sesuatu yang menyakitkan. Aku harus membalas dendam padanya. Aku akan melampiaskan dendamku bukan dalam bentuk menyakiti fisiknya. Tapi, aku akan menerornya lewat perbuatan burukku supaya dia tahu betapa sakitnya seorang kepala rumah tangga diusir dari rumahnya di bawah tatapan para tetangga rumah yang tentu saja menaruh curiga padaku. Aku harus mulai mengatur strategi apa saja yang harus aku perbuat biar dia tambah sakit hati dengan perbuatanku. Sejak aku menempati apartemen yang disedikan temanku, aku telah mulai memasuki dunia penuh gegap gempita yang orang sebut sebagai `dugem` dan sekaligus dunia politik yang penuh tipu daya. Aku campakkan dunia rumah tangga. Aku puasi hidupku di dua alam, dugem dan politik. Di dugem aku yang dulu dikenal pria-pria baik saja, kini adalah pria flamboyan yang siap merayu dan meniduri perempuan-perempuan yang bersedia kusetubuhi. Aku yang dulu tidak pernah memasuki tenggorokanku dengan minunam yang membakar tenggorokan dan perutku, kini entah berapa botol telah aku habiskan. Kini sehabis rapat-rapat di DPR yang penuh kepenatan, aku akhiri dengan mampir ke klub-klub malam apalagi kalau bukan dugem. Ah, aku benar-benar menikmati dugem. Semua yang aku lakukan ku unggah ke WA istriku. Aku hanya dikomentari `norak`. Selalu begitu komentarnya sampai-sampai aku bosan mengunggahnya lagi. Ternyata, strategiku meneror istriku tidak mempan.

          Di dunia politik aku benar-benar sekarang bermuka dua, berstandar ganda, dan aku kini adalah bunglon. Aku tunjukkan sikapku sebagai bunglon di depan ribuan pendukungku yang aku akui kemampuan intelektualnya tidak memadai. Di hadapan mereka aku umbar-umbar janji akan memberikan kesejahteraan termasuk memberikan beasiswa buat pendukungku yang tergolong miskin sambil aku sawer uang dan kaos. Tapi, begitu aku bisa melenggang ke gedung kura-kura segera aku lupakan janjiku. Toh, aku juga yakin pendukungku termasuk orang-orang yang pelupa.

          Perilaku bunglonku juga aku tunjukkan di forum-forum yang diliput oleh sekian banyak, baik di berbagai media mainstream maupun medsos bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga di tingkat internasional. Aku terbiasa jadi narasumber atau pembicara dari kalangan anggota dewan terhormat yang berlatar belakang pendidikan S3 Public Policy and Management Monash University yang bahasa Inggrisnya berstandar internasional tergolong mahir atau dalam istilah kerennya disebut C2 Proficient (CEFR). Karena latar belakang pendidikanku dari perguruan tinggi ternama di Australia ditambah lagi dengan referensiku di bidang politik terbiasa melahap buku-buku dari penulis dan peneliti kenamaan dari mancanegara aku selalu bisa mematahkan lawan-lawanku. Sebagai anggota dewan dari kalangan akademis, aku juga pernah menulis buku-buku politik. Aku juga pernah melakukan banyak penelitian dan menulis jurnal tingkat internasional. Bahkan, aku ketika masih aktif sebagai dosen juga biasa diundang sebagai pembicara mewakili perguruan tinggi di forum-forum nasional dan internasional. Namun yang pasti, tentu saja sebelum aku dipilih oleh rakyat pendukungku, aku dipilih oleh para pimpinan partai politik karena bukan semata dari latar belakang pendidikan dan pekerjaanku dulu sebagai dosen, tetapi juga kemampuan retorikaku ketika berbicara dan berargumentasi. Berkat kemampuan bicaraku yang bisa mematahkan orang-orang yang menjadi lawanku, namaku sebagai politikus semakin melambung.

***

          Tidak terasa aku telah memasuki priode ketiga sebagai anggota dewan. Aku telah meninggalkan keluarga lebih dari sepuluh tahun. Selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah satu rupiah pun uang yang kuperoleh dari hasil kerja kerasku sebagai bunglon dikirim ke keluargaku. Bukan aku pelit. Tapi, karena memang istriku tidak mau menerimanya. Dia pernah mengatakan uang yang kuperoleh dari hasil kerjaku sebagai bunglon adalah uang yang sudah berbaur antara halal dan haram. Aku pernah diam-diam mentransfer ke rekening anak-anakku, tapi begitu mereka tahu langsung istriku segera mengembalikannya. Istriku bukan hanya mengembalikan uangku, tapi juga menyampaikan kata-kata yang sarkasme padaku. Meskipun istriku benar-benar menunjukkan sikap ketidaksukaannya padaku, aku tidak pernah membalasnya. Aku tetap tenang. Aku tidak terusik dengan ucapannya yang cenderung sarkasme.

          Istriku dari ucapan-ucapannya memang sarkasme. Tapi, di acara-acara keluarga dia selalu minta padaku untuk hadir. Aku tidak perlu jual mahal. Aku segera menuruti kemauannya. Di acara-acara keluarga, aku, istriku, dan anak-anakku berpura-pura menunjukkan kebahagiaan. Seusai acara, istriku segera memintaku meninggalkan rumah. Aku pun kembali ke kehidupanku sebagai bunglon. Semua yang aku, istriku, dan anak-anakku yang penuh dengan kepura-puraan itu akhirnya terbongkar juga. Begitu mereka tahu kalau aku sudah tidak lagi tinggal satu rumah dengan istri dan anak-anakku, aku tidak pernah lagi kumpul-kumpul dengan istri dan anak-anakku. Aku ingat hanya dua kali aku terpaksa kumpul dengan mereka ketika aku menjadi wali sekaligus menjadi pasangan suami istri di panggung pernikahan anak-anakku. Selesai acara seperti biasa aku kembali menjadi laki-laki yang telah ditunggu teman kumpul keboku.

          Memasuki tahun pertama di periode ketiga ini ada sedikit keresahan yang akhir-akhir ini menggelayutiku sebagai bunglon. Aku selalu dikejar-kejar mimpi buruk. Memang, semua mimpi buruk itu bisa terselesaikan dengan rayuan-rayuan gombal teman kumpul keboku. Namun, itu hanya sementara karena di malam-malam berikutnya aku tetap saja dikejar-kerja mimpi serupa. Aku coba konsul ke psikiater ternama. Tetap saja tidak ada jalan keluar yang terbaik. Bahkan, ke `orang-orang pintar` yang katanya ada orang yang iri dan sengaja menjatuhiku yang kemudian seusai itu aku diberikan berbagai macam ajimat, mimpi-mimpi seramku tidak pernah terhenti. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan rayuan gombal perempuan-perempuan yang aku tiduri. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh berbotol-botol miras yang masuk ke tenggorokanku sampai setiap malam sebelum tidur aku selalu masuk ke kamar tidur dalam kondisi teler. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh cara-cara medis yang memberikan suntikan ke tubuhku yang ternyata hanya memberikan ketenangan sesaat. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh `orang-orang pintar` yang menjampi dengan doa-doa yang tidak kumengerti bahasanya disertai dengan ajimat-ajimat yang ternyata penuh dengan kepalsuan. Mimpi-mimpi burukku yang tidak terhenti itu yang membawaku akhirnya ke rumah sakit jiwa. Aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa karena ketika aku baru selesai berzina, aku ternyata membunuh perempuan panggilan. Aku benar-benar tidak sadar ketika membunuhnya. Aku terus meracau yang tidak dimengerti ucapannya oleh orang-orang yang menangkapku. Karena diduga sakit jiwa, aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa ini. Ah, sang bunglon yang menjadi pembunuh, kini dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Aku jadi penghuni rumah sakit jiwa bersama ratusan orang penderita penyakit jiwa yang ada di situ. Aku tidak tahu berapa lama aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Selama aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa seingatku hanya sekali istri dan anak-anakku mengunjungiku. Meski hanya sekali dan sebentar kedatangan mereka membuat aku terhibur.

          Aku kini benar-benar lupa hari, tanggal, bulan, dan tahun. Mimpi-mimpi buruk yang dulu mengejar-ngejarku sudah mulai berkurang. Mungkin obat penenang yang selalu disuntikkan dan diminum setiap hari. Aku kini sudah mulai tenang. Satu hal saja yang aku ketahui kalau aku sekarang bunglon sekaligus pembunuh. Aku sudah siap menanggung resiko akibat perbuatanku. Dan ternyata, aku dipecat sebagai anggota dewan dan pengurus partai. Aku kini bukan lagi menjadi bunglon. Aku kini merasa bebas. Tapi, satu hal lagi yang harus aku lakukan akibat tindakan kriminalku. Itu pun aku sudah siap. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku di pengadilan karena biar bagaimanapun aku adalah pembunuh. Aku telah menghabisi nyawa orang walaupun itu aku lakukan dalam kondisi tidak sadar.

***

          Aku kini bukan lagi menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Aku menjadi pesakitan yang menunggu pengadilan. Aku sekarang menjadi orang hukuman di lapas. Di lapas inilah aku mulai menyadari kesalahanku. Pelan-pelan aku di bawah bimbingan pembina rohani di lapas mulai mengerjakan kewajibanku sebagai hamba Allah. Aku kini benar-benar ingin bertobat. Aku siap menerima hukuman yang akan ditimpakan padaku sebagai pembunuh. Aku saat ini menunggu pengadilan yang siap mengadiliku. Di saat-saat aku menunggu, ada kegembiraan ketika istri, anak-anakku, dan cucu-cucuku mengunjungiku. Saking gembiranya aku melihat kedatangan mereka, tak terasa air mata ini bercucuran.. Di akhir kunjungan istriku sempat berpesan.

“Yah, ibu, anak-anak, menantu-menantumu, dan cucu-cucumu akan tetap menunggu sampai ayah menghabisi masa hukuman di penjara. Semua harta yang ayah peroleh selama menjadi bunglon akan ibu sumbangkan ke lembaga amal kemanusiaan yang siap menerimanya. Ayah nanti selepas menjalani hukuman kembali pada keluarga. Kembali pada pekerjaan semula sebagai pendidik. Ayah setuju dengan usul ibu?”, tanya istriku.

“Insya Allah, ayah setuju ”, kataku terharu.

“Ibu pamit, ya Yah?”, sambil berkata begitu dia mencium punggung tanganku seraya memelukku.

“Assalamualaikum!”  

“Waalaikum salam! Terima kasih, Bu!”   

“Ya. Sama-sama.”

        Aku bersyukur karena istriku ternyata masih mencintaiku. Buktinya, dia siap menungguku sampai selesai masa hukumanku di penjara. Aku juga layak bersyukur karena dia sangat setia padaku. Buktinya, selama lebih dari sepuluh tahun aku menjadi bunglon dia tidak pernah menuntut aku untuk menceraikannya. Memang, dia tidak mau menerima pemberianku. Aku juga tidak mau memaksanya, tapi di saat-saat aku menderita karena harus menjalani hukuman dia masih sempat mengurusi harta-harta peninggalanku meskipun aku harus rela semua itu dilimpahkan ke lembaga-lembaga sosial kemanusiaan. Aku sekarang benar-benar bangkrut tidak memiliki harta.Yang kumiliki sekarang ini hanya pakaian yang melekat di badan dan beberapa helai pakaian di lemari kecilku. Tapi, aku masih punya orang-orang yang tetap mencintaiku: keluargaku. Itulah kekayaan yang tidak ternilai buatku. 

Kota Bekasi, 20 Februari 2026

By subagio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *