Cerpen
Subagio S.Waluyo
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta”, begitu kata Ustad Abdul Halim.
“Nih, saya beri contoh. Seperti ini nih”, kata sang ustad sambil memberi contoh dengan tangannya sendiri sampai para jamaah di masjid itu mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Apa artinya?”, tanya sang Ustad pada jamaah pengajian di masjid Al-Barkah. Tidak ada jamaah yang menjawab.
“Artinya, jadilah kita orang pemberi bukan peminta-minta”, jelasnya.
“Minta-minta itu hukumnya haram, ya?”, kata sang Ustad.
Subaki mendengar kalimat itu dari sang Ustad sempat kaget sampai-sampai ada pertanyaan di benaknya `kalo gitu yang saya kerjakan selama ini kerjaan haram, ya?`. Belum lagi Subaki merespon yang ada di benaknya sang Ustad melanjutkan.
“Ini bukan kata saya. Ini ada hadisnya. Jadi, bukan saya mengada-ada. Kita wajib gak mengimaninya? Wajib ya? Kalo kita gak mengimaninya kita masuk ke dalam golongan orang yang ingkar pada hadis. Mau kita mengingkarinya? Gaklah ya?”, kata sang Ustad. Selanjutnya, sang Ustad mengingatkan.
“Nah, besok-besok kalau ada pemilihan anggota legislatif atau anggota dewan atau pemilihan walikota atau gubernur sekalipun, kita jangan minta-minta sama mereka. Kalo dikasi ambil. Soal milih itu rahasia. Kalo kita minta-minta nanti kita jadi punya ketergantungan. Kalo dah punya ketergantungan, kita nanti dikuasain sama yang namanya penguasa . Kalo kita dikuasain, kita jadi seperti `kebo yang dicocok hidungnya`. Ngerti ya?”, tanyanya.
“Ngerti, Ustad”, kata jamaah serentak.
“Nah, supaya gak seperti `kebo dicocok hidungnya`, kita gak usah minta-minta sama siapapun. Sekali lagi yang namanya minta-minta haram kecuali kalo memang terpaksa”, begitu kata sang Ustad.
“Kalo memang dah jelas, mari kita tutup majelis ini dengan sama-sama membaca hamdalah dan doa kafaratul majelis.
Serentak para jamaah membaca hamdalah dan doa kafaratul majelis. Sebelum meninggalkan masjid para jamaah saling bersalaman. Subaki juga ikut bersalaman dan segera meninggalkan masjid.
***
Para jamaah pulang dengan keriangan hati. Di antara mereka masih sempat berkelakar menanggapi penjelasan sang Ustad tadi. Tapi, tidak demikian dengan Subaki. Bagi Subaki semua yang didengar malam itu membuat dirinya gundah. Kegundahan itu dibawa sampai ke rumahnya. Sesampai di rumahnya disampaikan yang didapatnya ketika di masjid tadi ke istrinya. Istrinya yang mendengar aduan suaminya langsung menanggapinya.
“Apa yang disampein Ustad tadi benar Pak”, ketus istrinya.
“Lho, kok Ibu ngomongnya begitu?”, tanyanya tidak mengerti.
“Iya, orang kayak Bapak itu dah waktunya ninggalin pekerjaan yang gak baik”, jelas istrinya.
“Emang yang saya kerjakan gak baik? Saya `kan gak nyolong ato merampok?”, tanyanya penasaran.
“Betul Bapak itu gak nyolong ato merampok. Tapi, `kan Bapak barusan juga ngomong kalo minta-minta itu haram. Kalo memang haram `kan jatuhnya gak baik, Pak?”, jelas istrinya.
“Terus, saya harus ninggalin pekerjaan saya?”, tanyanya.
“Lha, iya. Bapak harus ninggalin pekerjaan Bapak yang gak baik itu”, jawab sang istri ketus.
“Kalo saya tinggalin, saya mau kerja apa lagi, Bu?”, tanyanya.
“Rizki Allah itu luas Pak. Banyak orang bisa cari nafkah yang halal. Pokoknya Bapak harus punya niat ninggalin pekerjaan minta-minta. Kayak saya nih, dari bantu-bantu orang cuci pakaian sampai diminta orang ngurus anak-anaknya sampe bantuin masak. Semua urusan rumah tangga orang saya yang ngerjain. Bapak `kan tahu, suami-istri yang sibuk itu seharian di luar rumah, saya yang ngurusin rumah tangganya. Yang penting saya jujur. Jaga amanah. Kalo memang ada kebutuhan kita terus terang aja minta. Karena saya dah deket hubungannya dan dianggap baik, orang gak sungkan-sungkan ngasi kita. Bapak `kan tau sendiri setiap saya pulang kerja selalu dikasi kalo gak duit yang kata majikan saya sedekah, ya makanan yang berlebih. Kadang-kadang juga majikan saya ngasi pakaian buat saya, anak-anak, dan juga kadang-kadang buat Bapak `kan?. Makanya Pak mulai besok gak usah minta-minta lagi. Kalo kita minta-minta, kita hina Pak di mata orang”, jelas istrinya.
Subaki sempat tercenung omongan istrinya. Diam-diam dia mengakui yang dikatakan istrinya benar.
“Gimana Pak?”, tanya istrinya.
“Saya besok mau cari kerjaan lain. Saya gak mau minta-minta lagi”, kata Subaki mantap.
“Nah, gitu dong! Itu Bapak yang bertanggung jawab”, kata istrinya girang.
***
Besoknya pagi-pagi sekali sehabis salat subuh Subaki pamit pada istrinya. Ketika istrinya bertanya.
“Mau ke mana, Pak?”
“Cari rizki Allah, Bu”, katanya mantap.
“Nah, gitu dong! Itu baru Bapak yang baik”, kata istrinya.
Setelah istrinya mencium punggung tangannya, Pak Subaki memberi salam.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”
Subaki tanpa sepengetahuan istrinya ke tempat Birin, pengepul yang biasa menampung barang-barang hasil perolehan pemulung. Begitu Subaki melihat Birin langsung memberi salam.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam. Eh, Pak Subaki, tumben-tumbenan ke mari. Ada apa Pak?”, tanya Birin.
“Saya mau jadi pemulung, Pak”, kata Subaki.
“Lha, Bapak mau jadi pemulung?”, tanya Birin heran.
“Ya, pemulung”, kata Subaki mantap.
“Apa saya gak salah denger?”, tanya Birin bercanda.
“Enggak. Saya memang mau jadi pemulung”, jawab Subaki.
“Bukannya dari kerjaan Bapak sekarang hasilnya lebih banyak dapatnya, Pak?”, tanya Birin.
“Ya, lebih banyak sih. Tapi, yang namanya kerja minta-minta itu hina. Pak”, jelas Subaki.
Biar Birin gak banyak bertanya macam-macam, Subaki langsung menyampaikan pengajian yang disampaikan Ustad Abdul Halim semalam. Setelah mendengarnya, Birin langsung masuk ke ruangan. Dari ruangan Birin bawa karung plastik besar, tongkat besi, dan masker. Semua perlengkapan diberikan ke Subaki.
“Pak, ini alat-alatnya. Selamat bertugas Pak”, kata Birin menyemangati.
“Ya, terima kasih Pak Birin.”
“Sama-sama Pak.”
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”
***
Sebelum mulai bertugas menjadi pemulung, Subaki mampir ke toko Uda yang biasa menjual perlengkapan motor. Subaki membeli helm. Helm itu langsung dikenakan. Pemilik toko sempat heran ketika Subaki memakai helm tapi tidak membawa kendaraan. Subaki langsung ke tempat pembuangan sampah yang menurutnya pasti banyak barang rongsokan atau plastik yang dibuang orang. Di sepanjang jalan yang dilaluinya banyak orang yang heran kalau ada pemulung memakai helm. Ada orang yang diam-diam menertawainya. Ada juga orang yang menganggapnya gila dengan memberi kode-kode tertentu. Subaki tidak peduli dengan cemoohan orang. Subaki sudah bertekad mencari nafkah yang halal. Subaki tidak mau lagi disebut orang yang hina yang melakukan pekerjaan haram karena meminta-minta. Tengah asyik mengorek-ngorek tempat sampah, tiba-tiba saja ada motor dengan kecepatan tinggi menyerempet karung yang dipegangnya erat-erat. Subaki sempat oleng dan terjatuh di jalan beraspal. Karena limbung, Subaki wajahnya sempat menciapaum aspal. Untung Subaki memakai helm sehingga kepalanya yang terlindungi helm tidak apa-apa hanya terasa pening saja. Tangan kiri dan kaki kirinya lecet-lecet. Sementara itu, sang pengendara motor yang juga sempat terkejut kalau motor yang dikendarainya menyerempet karung yang dibawa pemulung langsung kabur. Dia khawatir kalau berhenti risikonya akan dihakimi warga yang melihatnya.
Warga yang dekat dengan TKP langsung memberikan pertolongan. Pertama-tama salah seorang di antara warga membuka helm yang dikenakan Subaki. Begitu helm dan maskernya terbuka mereka kaget ternyata itu Subaki yang memang mereka mengenalnya sebagai pengemis. Di antara mereka juga ada yang membenahi barang-barang rongsokan yang berantakan. Bersama-sama mereka menggotong Subaki ke Kantor RW yang memang tidak jauh dari situ. Di Kantor RW luka-luka di tangan kiri dan kaki kirinya diolesi Betadin. Subaki pun diberi minuman hangat. Setelah dipastikan tidak ada luka yang serius, Pak RW menyuruh warganya mengantarkannya ke rumah Subaki.
Tondi pengendara motor yang sempat kabur sesampai di rumahnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal menemui ayahnya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam. Eh, Tondi, kok mukamu pucat. Nafasmu tersengal-sengal. Ada apa, Nak?”, tanya ayahnya heran.
Sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal Tondi menyampaikan kalau tadi baru saja menyerempet seorang pemulung yang sedang mengorek-ngorek tempat sampah.
“Orang itu luka parah gak?”, tanya ayahnya.
“Kayaknya enggak sih, Yah”, katanya memastikan.
“Tapi, biar gimanapun kita harus lihat langsung, Yah. Ayah ada waktu kan`?, tanyanya.
“Ya, boleh. Yuk sekarang juga kita ke sana”, ajak ayahnya.
Mereka berdua langsung ke TKP. Di sana mereka atas informasi dari seorang warga langsung ke Kantor RW. Benar saja di Kantor RW telah banyak warga yang berkerumun. Beberapa warga yang mengenali Tondi sebagai pengendara yang sempat kabur setelah menyerempet Subaki langsung mau mengambil tindakan. Untung saja ada Pak RW dan ayah Tondi yang melerainya.
“Saudara-saudara, anak muda ini mau bertanggung jawab. Buktinya dia balik ke sini sama orangtuanya. Kalau gak bertanggung jawab dia gak bakal balik ke mari. Sekarang gini aja, kita antar aja mereka ke rumah Pak Subaki. Kita gak boleh main hakim sendiri. Kita damai aja ya Pak?”, tanya Pak RW.
“Ya. Sebaiknya begitu”, kata ayah Tondi.
“Bapak sama anak Bapak ke rumah Pak Subaki aja. Nanti dibicarakan solusi terbaiknya. Yuk kita ke rumahnya”, kata Pak RW.
Sesampai di rumah Subaki sudah ada istri dan anak-anaknya. Subaki yang hanya luka-luka ringan tidak banyak menuntut. Ketika ditanya tentang luka-luka yang dideritanya, dia hanya menunjukkan tangan kiri dan kaki kirinya yang lecet-lecet. Sedangkan kepalanya hanya terasa sedikit pening. Jadi tidak ada luka yang serius. Ayah Tondi yang melihat kondisi rumah dan keluarga Subaki merasa iba. Spontan saja ayah Tondi menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. Subaki yang merasa luka-lukanya tidak terlampau serius langsung menolaknya. Subaki justru mengatakan pada ayah Tondi.
“Tangan di atas itu lebih mulia dari tangan yang di bawah Pak. Saya gak mau minta-minta lagi. Minta-minta itu pekerjaan hina, Pak. Jadi, saya minta maaf kalo gak mau nerima pemberian dari Bapak”, jelasnya.
Begitu mendengar penolakan Subaki, orang-orang di sekitar Subaki bengong.
Kota Bekasi, 23 Agustus 2025.