Cerpen

Subagio S.Waluyo

        Prof Sanusi pagi itu begitu kaget ketika di meja kerjanya, di perpustakaan, ada seorang gadis duduk di kursi yang biasa didudukinya sambil membaca buku-bukunya yang ada di meja. Baru kali ini ada orang yang begitu beraninya menempati kursi yang didudukinya. Selama ini tidak ada seorangpun mahasiswanya yang begitu beraninya seperti yang dilihatnya hari ini. Prof Sanusi sempat bertanya pada petugas perpustakaan kalau ada seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya menempati meja yang biasa digunakannya. Informasi yang diterimanya membikin Prof Sanusi terkejut, konon kabarnya gadis itu sudah ada janji bertemu dengannya. Tentu saja Prof Sanusi menolak mentah-mentah info yang diterimanya. Sebagai seorang akademis yang sudah tiga puluh tahun mengabdi sebagai pengajar di perguruan tingginya, Prof Sanusi bersikap bijak. Dia sama sekali berusaha untuk menghilangkan keterkejutannya. Malah sebaliknya, dia bersikap lembut. Dia menyapa sang gadis dengan ramahnya.

“Ada yang perlu saya bantu?”, tanyanya sekedar basa-basi.

“Oh, nggak. Saya cuma lihat buku-buku Bapak. Tadi saya lewat sini ada setumpuk buku yang menarik buat saya membacanya”, jawab si gadis (sebenarnya ada niat tertentu bukan hanya sekadar  melihat ada buku yang menarik).

“Maaf, kalo saya telah mengganggu kenyamanan Bapak”, katanya memohon maaf (juga sekedar menunjukkan kepura-puraan).

“Oh, gak apa-apa. Silakan kalo mau baca-baca”, kata Prof Sanusi masih dengan basa-basi (padahal di dalam hatinya dongkol juga karena ada orang yang telah mengganggu aktivitas rutinnya di perpustakaan seusai mengajar).

“Nggak Pak, saya mau pindah ke tempat lain”, kata si gadis.

“Kamu gak usah pindah. Di situ aja. Biar saya ambil kursi”, seraya Prof Sanusi mengambil kursi yang ada di dekat situ.

        Prof Sanusi duduk berseberangan dengan gadis itu. Wajah sang gadis terbilang ayu. Dalam hal berpakaian gadis itu sama seperti mahasiswa-mahasiswanya lebih suka memakai T-shirt dan bercelana jins ketat sehingga menampakkan lekuk-lekuk bagian tubuhnya. Gadis itu juga tidak menampakkan rasa bersalah telah menduduki kursinya walaupun tadi sempat minta maaf. Sebagai orang yang memasuki usia setengah baya, Prof Sanusi setidaknya bisa membaca rona wajah yang menampakkan benar-benar rasa bersalah dengan sekedar berpura-pura. Pada wajah gadis yang kini duduk di hadapannya jelas tidak menampakkan rasa bersalah. Untuk mencairkan kebuntuan karena suasananya sontak hening, Prof Sanusi buka suara.

“Maaf, kamu mahasiswa di perguruan tinggi ini?”, tanyanya.

“Ya. Saya dari Prodi Sastra Inggris”, jawab si gadis.

“Semester berapa?”

“Semester enam, Pak. Bapak dosen di FISIP?”, gantian si gadis bertanya.

“Ya. Saya dari Prodi Sosiologi. Ini kartu nama saya”, seraya memberikan si gadis kartu namanya.

Begitu melihat kartu namanya, si gadis kaget juga dengan gelar akademis yang disandang Prof Sanusi.

“Bapak seorang profesor?”, tanyanya masih dalam keterkejutan.

“Ya. Saya telah menyandang gelar profesor sejak usia empat puluh tahun. Pas usia saya ke empat puluh saya mendapat gelar profesor. Gelar profesor waktu itu menjadi hadiah ulang tahun saya. Boleh dikatakan waktu itu saya profesor termuda di perguruan tinggi ini”, katanya bangga.

“Wah, Bapak benar-benar hebat. Keren Pak!”, serunya.                 

“Terima kasih atas pujiannya”

“Bapak S1-nya dari sini?”, tanya si gadis.

“Ya, dari sini. S2 dan S3 saya di Monash University.”

“Wah, keren Pak!”

“Kalau umur empat puluh tahun sudah profesor, maaf, umur berapa Bapak menyandang S3?”, tanya sang gadis penasaran.

“Saya menyandang gelar S3 umur 27 tahun. Begitu selesai S3 saya tidak langsung bekerja. Saya menikah dulu. Baru setelah menikah saya coba-coba melamar sebagai dosen PNS di perguruan tinggi ini. Saya gak perlu berlama-lama langsung diterima karena pertama, saya lulus tes seleksi PNS dan kedua saya `kan alumnus dari prodi yang sama dan perguruan tinggi yang sama”, masih dengan bangga Prof Sanusi menjelaskannya seperti menguliahi mahasiswanya.

“Wah, Pak Prof benar-benar beruntung. Maaf, kalo saya menyapa Bapak, Pak Prof”,tanpa diminta sang gadis telah mengubah sapaan dari `Bapak`  ke `Pak Prof`.

“Saya memang disapa sama mahasiswa-mahasiswa saya, kolega-kolega saya, dan atasan-atasan saya dengan Pak Prof”, jelas Prof Sanusi memberitahukan (sebenarnya dia juga mau ngomong di hadapan gadis itu biar tahu siapa dia sebenarnya, tapi setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya disampaikan khawatir nanti makin terpojok si gadis itu).

“Kalo boleh tahu siapa namamu?”, tanya Prof Sanusi (sebenarnya baru kali ini dia ingin berkenalan dengan seorang gadis karena sejak istrinya wafat lima tahun lalu dia cenderung bersikap cuek dengan yang namanya perempuan sehingga ada saja berita hoax yang menyebutnya dia sebagai guy walaupun gak terbukti kalau dia guy).

“Nama saya Katherina. Biasa dipanggil Katty. Nama saya seperti orang Barat ya, walaupun saya berasal dari Minahasa”, jelasnya.

“Bukannya orang-orang Minahasa memang namanya pakai nama-nama Barat?”, tanya Prof Sanusi.

“Ya. Mungkin karena terlalu lama dijajah sama Belanda sampai-sampai nama orang juga ikut-ikutan nama-nama Belanda”, Katty berusaha menjelaskan.

“Orang Jawa juga lama dijajah Belanda, tapi nama-namanya tetap saja gak pakai nama-nama Barat. Boleh dikatakan sangat jarang orang Jawa pakai nama-nama Barat, kecuali mereka-mereka yang yang orangtuanya dulu pendidikan Belanda yang karena supaya disebut priyayi nama anak-anaknya berbau kebarat-baratan”, Prof Sanusi tidak mau kalah menjelaskannya.

“Pendidikan dan status sosial menjadi faktor penyebab nama-nama orang mengikuti Barat.”, Prof Sanusi menambahkannya.

“Sebuah nama pasti punya makna. Seperti namamu Katherina pasti ada maknanya. Sudahlah gak usah dipikirkan soal nama”, kata Prof Sanusi berusaha meyakinkan Katty.

“Oh, maaf Pak Prof, saya sudah mengganggu aktivitas Bapak. Saya mohon pamit Pak Prof”, seraya mengajaknya bersalaman (Prof Sanusi juga baru kali ini mau bersalaman dengan perempuan yang baru dikenalnya).

“Kartu nama ini boleh saya bawa ya?”, pintanya.

“Ya, silakan bawa aja. Kalau ada yang perlu saya bantu silakan kontak saya aja!”, kata Prof Sanusi (memberikan kartu nama buat seorang perempuan yang baru saja dikenalnya juga baru kali ini dilakukan Prof Sanusi).

“Kalau sewaktu-waktu saya datang ke apartemen Bapak gak apa-apa?”, Katty nekad menanyakannya (sebuah permintaan yang kurang baik sebenarnya baru kenalan sudah mau berkunjung ke rumah orang yang baru dikenalnya).

“Gak apa-apa. Silakan datang aja! Saya tinggal sendirian di apartemen”, Prof Sanusi mempersilakan Katty (ini juga merupakan sesuatu yang aneh buat Prof Sanusi karena baru kali ini mempersilakan orang yang baru dikenalnya datang berkunjung ke apartemennya, bukannya selama ini kalau ada mahasiswa yang mau konsultasi skripsi, tesis, atau disertasi selalu di kampus bukan di apartemennya?).

“Pak Prof tinggal sendirian?”, tanya Katty heran.

“Ya. Sejak lima tahun lalu istri saya wafat, saya tinggal sendirian. Anak-anak saya, menantu-menantu saya, plus cucu-cucu saya tinggal di kota lain. Jauh dari saya”, jelasnya (ini juga kelalaian buat Prof Sanusi yang telah berani-beraninya membuka sesuatu yang ditutup-tutupinya selama ini).

“Kenapa bisa begitu,Pak”, tanya Katty penasaran.

“Sudahlah, terlampau panjang kalo mau diceritakan”, katanya (ada pernyataan tidak suka).

“Ya, terima kasih Pak Prof. Kalo gitu saya pamit ya?”

“Ya. Sama-sama.”

“Selamat bekerja”, kata Katty sambil memberikan senyuman nakal dan meliriknya.

***

        Katty merasa hari ini hari keberuntungan. Bisa kenalan dengan seorang profesor yang tinggal sendirian bukankah sebuah kesempatan untuk melakukan pemerasan sekaligus pemberian `segumpal daging` yang dimilikinya pada orang lain? Dia biasa menyebutkan dirinya sebagai `segumpal daging` yang siap disantap oleh orang yang menyukainya. Dia juga bisa merasakan `segumpal daging` dari orang yang disantapnya. Selain itu, tentu saja ada adagium yang berlaku yang juga selalu  dia manfaatkan `tidak ada makan siang yang gratis`. Bisa saja dia memulainya meminta pada calon korbannya `sesuatu`. Bisa saja `sesuatu` itu uang atau barang mewah yang wajib dimilikinya. Tipe Katty jelas tipe gadis hedonis yang menganut paham `seks bebas`. Buat dia tidak ada istilah cinta. Ada uang, ada barang, pasti ada `segumpal daging` yang siap disantap dan dia juga siap menyantap `segumpal daging` milik korbannya. Ada uang atau ada barang dan ada kepuasan pemenuhan libidonya.

        Prof Sanusi yang jujur, polos, kurang banyak tahu soal selera generasi `Gen Z` mudah terjebak. Hari ini pertemuannya dengan gadis semacam Katty telah membuatnya gundah. Prinsip yang dipegang teguh untuk tidak berhubungan dengan perempuan sudah mulai goyah. Begitu ketemu dengan Katty yang memang bisa menunjukkan kecantikan dan kepandaiannya dalam bermain peran sudah membuat dirinya goyah. Hari ini seusai mengajar yang biasanya diisi dengan membaca dan menulis sampai petang, ternyata tidak ada satupun buku yang dibaca dan tidak ada satu katapun yang ditulis. Wajah Katty yang cantik dan tubuh yang aduhai tampak jelas di pelupuk matanya. Pertemuannya dengan Katty akan mengundang bahaya, bukan keberuntungan yang akan diperolehnya. Akhirnya, Prof Sanusi meninggalkan perpustakaan lebih cepat dari biasanya. Hari itu Prof Sanusi telah membuat mereka yang kerap melayaninya terheran-heran karena sang guru besar cuma berbincang-bincang dengan gadis cantik yang baru dikenalnya.

***

        Prof Sanusi baru saja tiba di rumahnya. Rasa penat seharian mengajar dan rapat guru besar belum lagi hilang. Tiba-tiba saja bel di pintu apartemennya berbunyi. Dia intip sebentar siapa gerangan orang yang datang ke apartemen sesore itu. Diintipnya orang itu, ternyata Katty gadis yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Dia segera membukakan pintu.

“Selamat sore, Pak Prof”, sapa Katty.

“Selamat sore. Kamu sore-sore kemari ada apa?”, tanya Prof Sanusi sedikit menyelidiki (sebenarya sekedar basa-basi saja dia bertanya).

“`Kan Pak Prof nyampein ke saya kalo mau berkunjung ke tempat saya silakan. Nah, saya datang ke sini. Boleh saya masuk?”, pinta Katty.

“O, silakan masuk”, Prof Sanusi mempersilakan Katty masuk (baru kali ini ada orang yang datang masuk ke apartemennya).

“Kamu mau minum apa?”, tanya Prof Sanusi (ini sudah benar-benar luar biasa sampai menawarkan minuman).

“Minum apa saja Pak Prof. Asal jangan racun. He…he…heh!”, kata Katty sambil meledek.

“Ha…ha…hah! Gak lah. Masak gadis secantik kamu saya racun”, Prof Sanusi turut menimpali ledekan Katty (ini juga baru kali ini Prof Sanusi bisa bercanda dengan gadis cantik).

“Tunggu bentar. Saya siapkan es sirup”, pinta Prof Sanusi.

        Tidak lama kemudian sudah tersedia di atas meja dua gelas es sirup. Tanpa dipersilakan Katty langsung menyeruputnya. Prof Sanusi bisa memakluminya orang muda seperti Katty memang sudah terbiasa di manapun jika ditawari minuman tanpa basa-basi langsung menyeruputnya. Prof Sanusi kelihatan agak canggung di hadapan Katty. Untuk menghilangkan kecanggungan, Prof Sanusi langsung saja buka suara.

“Kamu ada keperluan apa datang kemari?”, tanyanya.

“Saya mau main-main saja Pak Prof”, kata Katty.

“Main-main? Kalau mau main-main jangan di sini. Di play group atau di alun-alun bukan di sini”, Prof Sanusi mulai mengajak Katty bercanda yang membuat keduanya tertawa geli. Setelah agak reda tertawanya Katty diam-diam duduk mendekati Prof Sanusi sehingga mereka duduk berdampingan (Katty sudah mulai pasang perangkap).

“Pak Prof pernah bilang kalau ada keperluan kontak saya saja. Ya, `kan?”

Dijawab Prof Sanusi dengan anggukan tanda mengiyakan.

“Nah, saya gak perlu kontak. Saya datang aja langsung ke tempat Pak Prof”, jelas Katty.

“Apa Pak Prof keberatan saya datang kemari untuk minta tolong”, tanya Katty sopan.

“O, gak apa-apa. Tempat saya memang well come buat siapa saja yang mau datang kemari”, kata Prof Sanusi berbohong.

“Langsung saja nih, Pak Prof, to the point, saya ada keperluan untuk bayar UKT. Orangtua saya di Menado sampai sekarang belum juga transfer dana. Mereka malah bilang untuk semester ini kamu sebaiknya cuti dulu. Nanti aja semester depan”, kata Katty dengan sedikit mengiba (walaupun ini sebenarnya juga bohong).

“Berapa besar UKT kamu?”, tanya Prof Sanusi.

“7,5 juta Pak Prof”

“Kamu ada VA-nya dan NIM-nya? Kalau ada di-share ke saya.”, pinta Prof Sanusi (sebenarnya bisa saja Prof Sanusi mentransfer dananya ke Katty, tapi dia ingin tahu apakah Katty memang benar-benar mahasiswa Prodi Sastra Inggris seperti yang disampaikannya ketika pertama kali bertemu).

“Ada Pak Prof. Tunggu sebentar”, pintanya.

“Ini dia. Saya share ya?”

“Ya. Silakan”

“Nah, itu sudah saya share.”

“Tunggu sebentar, ya?”

“Ya, Pak Prof.”

“Ini sudah selesai saya lunasi pembayaran UKT kamu. Saya share ya tanda bukti pembayarannya?”, kata Prof Sanusi sambil dia menunjukkan tanda buktinya.

Katty hanya mengangguk.

“Nah, sudah tuh”

“Terima kasih, Pak Prof. Pak Prof baik sekali. Benar-benar punya kepedulian”, sanjung Katty. Sambil berkata begitu secara spontan Katty mencium pipi Prof Sanusi. Tentu saja Prof Sanusi yang mendapat ciuman yang tidak diduga-duga itu sempat kaget. Tampaknya, Prof Sanusi senang juga dicium gadis cantik walaupun hanya di pipinya.

“Kamu sudah lapar? Kalau lapar kita keluar sebentar ya? Kita bisa makan malam di dekat apartemen”, tanya Prof Sanusi menawarkan Katty untuk makan di luar. Katty hanya mengangguk pelan.

“Yuk, kita keluar cari makan!”, ajaknya.

***

        Selesai makan malam, mereka kembali ke apartemen Prof Sanusi. Mereka sempat bincang-bincang dan penuh candaan. Prof Sanusi malam ini begitu riang. Sejak istrinya wafat lima tahun lalu, sudah begitu  lama tidak pernah duduk berduaan. Malam ini Prof Sanusi merasa seperti muda kembali apalagi Katty merapatkan tubuhnya yang hangat membuat dia tidak karuan. Tanpa terasa jam di dinding telah berdentang sebelas kali. Berarti sudah cukup larut malam. Karena sudah larut malam, Katty pamit ingin pulang.

“Pak Prof, maaf dah jam 11 malam. Saya mau pulang, ya? Kapan-kapan lagi saya kemari”

“Kenapa gak bermalam aja? Di sini ada dua kamar yang bisa kamu gunakan untuk bermalam”, pinta Prof Sanusi (di sini Prof Sanusi buka perangkap atau sebaliknya malah Katty buka perangkap karena selama ini belum pernah ada seorang perempuan kecuali keluarga anaknya yang bermalam di apartemennya?).

“Boleh saya bermalam di sini?”, tanya Katty sekedar basa-basi.

“Boleh aja. Kenapa gak boleh? Mari saya tunjukkan kamarnya”, sambil berkata begitu Prof Sanusia menarik tangan Katty menuju kamarnya yang memang selama ini jarang digunakan.

“Nah, ini kamarnya. Mudah-mudahan masih layak dipakai. Kamar ini jarang dipakai. Di lemari juga ada pakaian wanita yang biasa dipakai anak perempuan saya. Ini pakaian tidurnya. Silakan pakai aja”, Prof Sanusi memberikan pakaian tidur yang biasa dipakai anaknya pada Katty. Katty menerimanya dengan senang hati. Tampak dari wajahnya berbinar-binar. Setelah menerima baju tidur itu, Katty minta Prof Sanusi memalingkan wajahnya karena dia mau mengenakannya. Dengan cepat Katty melepaskan pakaiannya dan mengenakan baju tidur yang dipinjamkannya.

“Wah, benar-benar pas Pak Prof”, katanya.

“Ya. Kamu tambah cantik pakai baju tidur itu”, puji Prof Sanusi.

Katty yang mendapat pujian itu langsung saja mencium pipi Prof Sanusi. Seperti biasa Prof Sanusi senang-senang saja dicium pipinya.

“Kalo mau ke kamar mandi di sebelah sana ada kamar mandi lengkap dengan handuk dan peralatan mandinya”, Prof Sanusi selaku tuan rumah yang baik sekali lagi mempersilakan Katty untuk memanfaatkan sarana yang ada di kamar itu.

“Sudah cukup ya? Selamat tidur!”

“Ya. Pak Prof terima kasih banget. Selamat tidur Pak Prof. Selamat bermimpi yang indah”, kata Katty dengan penuh keriangan.

***

        Prof Sanusi mempunyai kebiasaan kalau sudah masuk kamar tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Pintu kamarnya hanya dirapatkan saja. Malam ini selesai bersih-bersih diri, dia langsung tidur. Prof Sanusi memang orang yang tergolong mudah tidur dan mudah terbangun. Mungkin orang seperti Prof Sanusi itu dalam hidupnya tidak memiliki beban atau tidak banyak masalah wajar-wajar saja kalau mudah tertidur. Di usia yang sudah mendekati enam puluh tahun Prof Sanusi hanya tidur paling lama lima jam. Kebiasaannya begitu bangun tidur selesai cuci muka dan gosok gigi langsung buka laptop atau buka buku sampai menjelang matahari terbit di ufuk timur. Setelah itu, dia siap-siap untuk mandi pagi. Kalau di hari libur (sabtu, minggu, atau libur) biasanya Prof Sanusi jogging atau berenang di apartemennya. Karena itu, dalam usia yang sudah tidak muda lagi fisiknya tetap sehat. Perutnya rata (tidak buncit). Tidak seperti laki-laki sebayanya yang perutnya buncit atau walaupun tidak buncit tapi kurus. Prof Sanusi tubuhnya masih terlihat atletis. Prof Sanusi sangat menikmati kesehatan dan kesendiriannya.

        Katty perempuan muda yang sedang butuh makanan untuk `segumpal daging` yang dimilikinya malam ini begitu gelisah. Dia tidak bisa tertidur. Di kamar sebelah ada seorang laki-laki yang walaupun dari sisi usia sudah tidak muda lagi diharapkan bisa memenuhi libido kewanitaannya. Akhirnya, dia berjinjit ke kamar sebelah tempat Prof Sanusi istirahat. Pintu kamar Prof Sanusi tidak terkunci. Dengan mudah didorongnya. Sekarang dia telah memasuki kamar Prof Sanusi. Dia melepaskan pakaian tidurnya. Sekarang tidak ada selembar benangpun melekat di tubuhnya. Dia naik ke tempat tidur dan tidur berdampingan dengan Prof Sanusi. Prof Sanusi antara sadar dan tidak sadar tangannya menyentuh bagian yang paling lembut di tubuh Katty. Dia segera terbangun. Begitu terbangun dia langsung teriak:

“Astagfirullah hal adziem! Kamu ngapain di sini. Kamu keluar dari sini. Pakai lagi pakaian itu!”, teriaknya keras. Dia sempat melihat tubuh Katty yang polos. Sambil berteriak begitu keras Prof Sanusi seraya berdiri dan memalingkan wajahnya. Tidak cukup sampai di situ, Prof Sanusi juga masih dalam suara yang memekakkan telinga berteriak,

“Saya tidak mau mengkhianati almarhumah istri saya. Sekarang juga kamu keluar dari kamar ini. Silakan kamu pergi dari sini!”, teriak Prof Sanusi. 

        Katty benar-benar terkejut dengan teriakan Prof Sanusi. Dia tidak menyangka kalau Prof Sanusi bisa semarah itu. Dia segera mengenakan pakaian tidurnya dan keluar kamar. Setelah Katty keluar dari kamarnya, Prof Sanusi segera menuju kamar mandi. Dia mandi hadas besar walaupun tadi dia tidak berhubungan badan dengan Katty. Selesai mandi dia ambil wudu. Dia kenakan sarung, pakaian sholat, dan kopiahnya yang sudah sekian lama menganggur karena sudah sekian lama pula dia tidak mengerjakan kewajibannya sebagai hamba Allah. Dia segera salat isya, salat sunah rawatib diteruskan dengan salat tahajud, salat taubat, dan ditutup dengan salat witir. Selama salat air matanya mengucur deras. Sebelum salat witir, dia berdoa cukup panjang. Dia menyesali jalan hidupnya yang telah menyimpang jauh dari yang diwajibkan Allah. Di tengah doa-doanya dia sempat merenungkan jalan hidupnya. Sebagai hamba Allah, sejujurnya dia mengakui telah meninggalkan demikian banyak kewajibannya. Tidak cukup sampai di situ, dia juga sudah tidak lagi melakukan berbagai kebaikan seperti ketika dulu masih bersama istri dan anak-anaknya. Rizki yang diperolehnya jarang sekali disedekahkan pada kaum duafa walaupun kegiatan yang dilakukan bersama dengan sesama kolega-kolega dan mahasiswa-mahasiswanya tertuju pada kaum duafa. Seandainya mau bersedekah, sedikit sekali uang yang dikeluarkan dari koceknya.  Aktivitasnya di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat buatnya hanya sebatas untuk memuaskan kebutuhan keilmuannya semata. Dia merasa banyak dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya. Biar bagaimanapun, dia tetap bersyukur pada Allah karena terhindar dari perbuatan zina.

        Katty tidak menyangka kalau Prof Sanusi bisa begitu kasar terhadapnya. Teriakan penolakan Prof Sanusi buatnya merupakan sebuah penghinaan. Selama ini Katty tidak pernah diperlakukan kasar seperti itu karena dengan mudah dia bisa menundukkan setiap laki-laki yang siap menerima `segumpal daging` darinya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Prof Sanusi dia keluar bukan saja dari kamarnya, tapi juga pergi meninggalkan apartemen itu. Dia segera menghapus nama Prof Sanusi dari hp-nya. Buat dia malam ini malam yang penuh kesialan walaupun semula dia memperoleh sedikit keberuntungan. Katty yang ndableg meskipun malam ini mendapat kesialan tetap cuek-cuek saja. Buat dia yang namanya penolakan walaupun kasar dinikmati saja. Bukankah itu sudah menjadi risiko hidupnya yang ingin tetap hedonis dan permisif? 

Kota Bekasi, 4 Oktober 2025

By subagio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *