Organisasi Manajemen

PEMBELAJARAN AKTIF YANG TERABAIKAN

Subagio S. Waluyo

Pembelajaran konvensional (pembelajaran tradisional, pembelajaran pasif) cenderung menganggap peserta didik sebagai reseptor informasi yang pasif dan tidak berpartisipasi dalam proses pembelajarannya. Pada pembelajaran tradisional metode pedagogi atau andragogi yang digunakan umumnya meliputi kuliah mimbar, mencatat kuliah, dan menghafalkan informasi yang diperoleh dari perkuliahan untuk menghadapi ujian.

 (MacLellan dan Soden:2008).

Banyak hal yang sebenarnya dapat kita temukan yang semuanya bermuara pada kelemahan kita yang selama ini lalai dalam melakukan perubahan. Jadi, kita harus punya niat untuk melakukan perubahan karena orang yang punya kesungguhan untuk berubah berarti punya harapan dalam hidupnya. Sebaliknya, kalau kita tidak melakukan perubahan berarti dalam hidup ini kita tidak mempunyai harapan. Untuk itu, sangat layak kalau kita sebenarnya telah mati meskipun secara fisik kita masih hidup. Bagaimana caranya agar kita tidak mati selagi fisik kita masih hidup? Lakukan segera perubahan. Bukankah masih ada waktu buat kita untuk berubah? Memang kita masih ada waktu untuk berubah. Bukankah selama hidup di dunia ini kerap kita mengalami perubahan? Coba saja amati tubuh kita sejak kita lahir sampai sekarang ini, apakah ada perubahan? Pasti ada perubahan. Kalau begitu kita harus belajar perubahan dari perubahan yang terjadi pada tubuh kita.

Perubahan bisa terjadi di semua bidang kehidupan. Di bidang pendidikan tinggi (PT),misalnya,yang namanya perubahan merupakan sebuah tuntutan. Di PT pembelajaran tradisional yang berpusat pada dosen dijamin tidak akan menghasilkan mahasiswa yang kreatif. Pembelajaran tradisional yang aktif hanya dosen. Mahasiswanya cenderung pasif menerima pengetahuan yang diajarkan. Pembelajaran tradisional hanya menjadikan mahasiswa bernafsu untuk bersaing memperoleh nilai tinggi. Mereka hanya mengejar IPK. IPK buat mahasiswa adalah segala-galanya. Apalagi akhir-akhir ini IPK menjadi syarat mutlak diterima bekerja entah baik di instansi pemerintah maupun swasta. Apakah mahasiswa ber-IPK tinggi (ditentukan IPK terendahnya 3.0) dijamin orang yang cerdas? Orang yang siap bisa bekerja? Belum tentu juga karena banyak di antara mereka yang begitu masuk dunia kerja ternyata tidak becus melakukan pekerjaan. Jadi, yang paling penting ada usaha dari mahasiswa yang ber-IPK tinggi untuk berusaha memiliki kompetensi.IPK yang tinggi harus bisa dibuktikan dengan kemampuan atau skill yang bisa digunakan di dunia kerja atau di masyarakat.

KOMPAS.com – IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) merupakan gabungan nilai dari semester-semester yang dijalani mahasiswa selama perkuliahan. Skala nilai IPK di Indonesia adalah 0.00 sampai 4.00. Banyak mahasiswa berlomba-lomba untuk mendapatkan IPK tinggi karena dianggap sebagai prestasi dan modal untuk mencari kerja. Walau IPK penting, tapi faktanya IPK tinggi tidak terlalu berpengaruh pada sukses tidaknya seseorang di kehidupan nyata. Mantan presiden Indonesia, BJ Habibie, yang masuk dalam kategori orang jenius di dunia juga menyakini kesuksesan bukan hanya milik orang yang punya IPK tinggi saja. Pemikiran presiden ke 3 Indonesia ini pun nampaknya diamini oleh banyak orang di Indonesia. Buktinya, kini lebih dari 2.000 netizen Indonesia meramaikan cuitan bertema “Percuma IPK” di Twitter hingga menjadi trending topic di Indonesia. Sebagian besar netizen Indonesia setuju jika IPK tinggi akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan usaha.

(https://lifestyle.kompas.com/read/2019/07/11/171003720/apakah-ipk-tinggi-menjamin-kesuksesan?page=all.)

Pembelajaran tradisional yang menciptakan mahasiswa bernafsu mengejar IPK tinggi justru menjerumuskan  mahasiswa, calon intelektual, yang pasif yang tidak kreatif. Pembelajaran tradisional yang dicirikan dengan sang dosen yang mentrasfer ilmu ke dalam otak mahasiswanya menjadikan mahasiswa kurang bisa mengembangkan nalarnya karena sejak awal sang dosen memaksakan pengetahuan ke otak mahasiswa. Pembelajaran tradisional mengajarkan mahasiswa menjadikan dosen sebagai sumber kebenaran sehingga mahasiswa menjadi fatalis, menerima apa adanya, karena tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi. Wajar kalau produk yang dihasilkan adalah mahasiswa yang diragukan kompetensinya. Jangan-jangan juga diragukan  kemampuan akademisnya terutama ketika harus berhadapan dengan dunia kerja atau harus hidup di tengah-tengah masyarakat yang cenderung pluralis dan pragmatis. Mahasiswa jenis ini sudah merasa nyaman hidup di menara gading. Mahasiswa jenis ini kalau kuliah sekedar memenuhi absensi agar bisa ikut ujian entah ujian tengah semester atau akhir semester. Mahasiswa jenis ini adalah mahasiswa robot. Mereka hanya menjadi mahasiswa pengekor. Persis seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Pembelajaran tradisional yang sudah jelas-jelas memproduk mahasiswa yang tidak kreatif, yang borju, yang kuliah cuma mengejar absensi, yang fatalis, yang merasa nyaman di menara gading harus diubah. Apanya yang diubah? Pola pembelajarannya. Untuk mengubah pola pembelajaran dibutuhkan keberanian orang-orang akademis terutama para dosen. Kalau hanya ada satu-dua orang dosen yang mengubah pola pembelajaran,akhirnya percuma saja karena hasilnya nihil. Supaya hasilnya sempurna, para struktural yang memegang tampuk pimpinan di PT atau yang memiliki dan menguasai kebijakan di PT harus bikin kebijakan yang berkaitan dengan perubahan pola pembelajaran. Ke arah mana pembelajaran yang mau diterapkan? Ke arah pembelajaran yang membikin mahasiswa aktif. Pembelajaran berbasis atau berpusat pada mahasiswa. Jadi, masyarakat akademis (terutama para dosen dan struktural) harus berani mengubah paradigma. Ubah paradigma yang selama ini melekat di benak para dosen bahwa pembelajaran yang berpusat pada dosen harus diubah ke pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa.

Dalam pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa fokusnya bukan penguasaan materi atau konten, tetapi pada pengembangan sikap belajar. Di sini konsep yang menyebutkan belajar sepanjang hayat benar-benar dilaksanakan. Mahasiswa dan dosen punya peran yang sama, yaitu sama-sama mengembangkan pengetahuan. Bukan seperti pembelajaran yang dilakukan secara tradisional dosennya yang aktif, mahasiswanya pasif. Sang mahasiswa cenderung pasif karena mahasiswa hanya mencatat bahan yang diberikan dosen.Masih mending kalau masih ada yang  mau mencatat, terkadang mahasiswanya asyik dengan dunianya sendiri. Ada yang ngobrol. Ada yang main gadget atau hp. Ada yang saking g mudengnya dengan bahan kuliah yang diberikan dosen minta izin ke toilet jebulnya sang calon intelektual itu ke kantin atau ke tempat-tempat yang bisa menyegarkan otaknya yang memang sudah tidak mampu lagi otaknya menerima pengetahuan. Agar di masa depan tidak lagi ditemukan berbagai kasus mahasiswa seperti itu, insan akademis harus benar-benar berani mengubah pembelajaran dari tradisional ke pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Sebagai tambahan, perlu diketahui ternyata pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa banyak memiliki kelebihan. Silakan disimak dan dipelajari uraian yang terdapat pada kotak di bawah ini.

Pada pembelajaran aktif yang berpusat pada mahasiswa (SCAL), fokus pembelajaran tidak pada penguasaan materi atau konten, akan tetapi pada pengembangan sikap belajar sepanjang hayat (life-long learning). Iklim belajar di antara mahasiswa pada pembelajaran aktif bersifat kooperatif, kolaboratif dan suportif. Iklim atau suasana belajar seperti ini memungkinkan mahasiswa membangun dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya serta menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan mendalam (critical and deeper thinking skill) yang diperlukan lulusan menghadapi masalah dalam kehidupan maupun dunia kerja. Suasana belajar ini juga lebih memungkinkan berkembangnya soft skill, antara lain kepemimpinan, empati, bekerja sama, kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah, tenggang rasa, dan lainnya, yang tidak terjadi pada pembelajaran tradisional. Menurut survei sebuah perusahaan, soft skill berperan penting dalam meraih sukses di dunia kerja.

Dalam SCAL, mahasiswa dan dosen bersama-sama mengembangkan pengetahuan dengan pusat proses pembelajaran adalah pada mahasiswa, sedangkan dosen lebih berperan sebagai fasilitator dan/atau narasumber. Dari uraian di atas dapat dirangkum bahwa pada SCAL : 1. Mahasiswa ikut bertanggung jawab atas pembelajarannya; 2. mahasiswa aktif belajar secara mandiri maupun berkelompok; 3. mahasiswa mampu mengembangkan potensinya secara optimal, untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan secara utuh; 4. mahasiswa dapat memilih dan mengembangkan bidang minatnya; 5. mahasiswa menemukan cara belajar dan cara mempelajari IPTEKS sehingga mampu belajar sepanjang hayat; mahasiswa lebih mampu mengembangkan soft skills; 7. mahasiswa memperoleh pengalaman belajar dalam proses belajarnya; 8. mahasiswa harus dapat menunjukkan hasil belajar/kinerjanya; 9. mahasiswa harus dapat mempresentasikan penyelesaian tugas hasil belajarnya; yang dibahas bersama; 10. mahasiswa harus menyelesaikan tugas yang merupakan pokok dalam pembelajaran, secara mandiri maupun berinteraksi dalam tim atau berkelompok; 11. penilaian proses sama pentingnya dengan penilaian hasil ujian. Proses pembelajaran dalam pembelajaran aktif adalah kegiatan yang didesain untuk memastikan bahwa mahasiswa menggunakan kemampuan yang telah dimilikinya untuk membangun pengetahuan dari gagasan dan informasi penting yang dipelajarinya untuk mencapai kompetensi atau kemampuan yang ditetapkan (Tomlinson,1999); 12. dosen beralih peran sebagai fasilitator dan/atau narasumber yang mendampingi mahasiswa dalam proses pembelajarannya, dan 13. dengan kecepatan kemajuan ipteks dan sarana komunikasi, maka dalam SCAL, dosen dan mahasiswa sama sama belajar.

(https://simak.ui.ac.id/wp-content/uploads/2016/07/Modul-SCAL-OBM-mahasiswa.pdf)

Pada kotak di atas,di butir nomor 2 yang memuat rangkuman pemblajaran dengan SCAL tertulis “mahasiswa aktif belajar secara mandiri maupun berkelompok.” Artinya, dalam pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa yang aktif mahasiswanya bukan dosennya karena mahasiswa digiring untuk belajar mandiri. Selain itu, mahasiswa juga bisa belajar bersama (berkelompok) dalam bentuk diskusi atau brainstorming atau bisa juga semacam focus group discussion (FGD). Agar diskusi itu bukan sekedar omong-omong tidak terarah, sejak awal sang dosen sudah memberikan arahan dengan cara menentukan terlebih dahulu tema yang mau dijadikan bahan diskusi. Berikan kisi-kisinya yang berkaitan dengan bahan diskusi. Perlu juga diingatkan bahwa diskusi itu meskipun hanya dilakukan oleh sekelompok mahasiswa bahan hasil diskusi dikumpulkan. Bahan-bahan tersebut kemudian dirangkum dan diedit menjadi sebuah tulisan yang tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan bahan pembelajaran. Kalau aktivitas diskusi mahasiswa sudah berjalan, yang namanya UTS atau UAS sekalipun sebenarnya tidak diperlukan lagi. Cukup penilaian dari diskusi-diskusi seperti itu. Di sini insan akademis yang bernama dosen harus benar-benar menyadari akan pentingnya mengubah paradigma termasuk paradigma yang menyatakan penilaian mutlak dari UTS atau UAS. Padahal ada yang lebih berbobot dari sekedar UTS atau UAS, yaitu diskusi semacam FGD. FGD kalau benar-benar diseriuskan tidak mustahil akan menghasilkan karya besar atau karya monumental sekalipun.

Agar FGD benar-benar bisa menghasilkan karya monumental, dalam FGD di kelas masukan-masukan baik dari dosen sebagai fasilitator maupun teman-teman sesama mahasiswa sebagai peserta diskusi diharapkan dapat menyempurnakan isi bahan presentasi tersebut. Dosen sebagai fasilitator mempunyai peranan penting untuk membantu sang mahasiswa agar bahan presentasinya suatu saat bisa dijadikan bahan pengayaan pembelajaran mata kuliah yang diampunya. Bahkan, tidak mustahil di tangan dosen yang kreatif dan inovatif bahan-bahan hasil diskusi itu akan dikumpulkan dan suatu saat bisa saja dijadikan buku teks pembelajaran di perguruan tinggi. Seandainya, ada tiga puluh mata kuliah di setiap program studi melakukan hal  yang sama, akan ada tiga puluh buku teks yang siap diterbitkan. Kalau di sebuah perguruan tinggi ada sepuluh program studi akan ada tiga ratus buku teks yang dapat menjawab masalah kelangkaan buku-buku teks. Bukankah ini merupakan jawaban terhadap miringnya orang yang menganggap remeh tentang proses belajar-mengajar di perguruan tinggi yang selama ini hanya mirip-mirip lembaga kursus?

Selain melalui jalur penugasan pada para mahasiswa bisa juga dilakukan dengan menyeleksi skripsi-skripsi, tesis-tesis, atau disertasi-disertasi yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. Semua hasil karya mahasiswa calon sarjana pada prinsipnya jangan disia-siakan karena penelitian yang benar-benar murni justru hasil karya mereka. Bagaimana tidak murni kalau semua itu benar-benar hasil jerih payah mereka di bawah bimbingan dosen yang siap membantu mereka  setiap saat? Mereka melakukan penelitian atas biaya sendiri. Kalau memang ada orang atau lembaga yang membantu mereka, umumnya orang-orang atau lembaga-lembaga tersebut sebatas memberikan bantuan keuangan. Tidak ada ketentuan yang biasanya diberlakukan ketika orang-orang `pintar` di luar mereka di perguruan tinggi mengerjakan proyek-proyek penelitian yang biayai oleh lembaga donor. Di sini perlu ditekankan pada para pimpinan PT agar tidak terjadi perilaku kotor yang sering dilakukan baik oleh mahasiswa maupun dosen setiap skripsi mahasiswa yang mau diuji harus lulus dari copy paste (copas). Tentang caranya silakan saja pakai cara apapun. Mau pakai yang sekarang ini sedang tren, seperti turnitin, silakan. Bahkan, sudah saatnya setiap Ketua Program Studi memiliki database judul-judul skripsi mahasiswa berikut abstraknya. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi penulisan skripsi yang berulang, sama judulnya dan sama isinya. Dengan cara demikian, tidak mustahil skripsi yang sering dipandang sebelah mata bisa saja suatu saat dapat diterbitkan menjadi buku teks atau minimal buku pengayaan mata kuliah tertentu yang ada di program studi PT.

Skripsi, tesis, atau disertasi yang diterbitkan menjadi buku bukan barang baru. Sejak tahun `60-an sudah ada hasil karya insan akademis yang diterbitkan jadi buku. Memang, untuk mengubah hasil karya akademis menjadi buku bukan pekerjaan yang mudah. Biar bagaimanapun ada kriteria yang diberlakukan jika hasil karya mahasiswa calon sarjana yang mau diterbitkan menjadi buku.  Buku-buku tersebut ternyata sangat membantu pembelajaran di perguruan tinggi. Berikut ini ada beberapa contoh skripsi, tesis, atau disertasi yang diterbitkan berikut sedikit uraian penggunaannya.Buku ini semula merupakan skripsi yang ditulis oleh Bambang Trimansyah ketika kuliah di Fakultas Sastra Unpad. Skripsi yang ditulisnya dibukukan dan lolos dalam penilaian Program Pustaka I kerjasama Adikaya Ikapi dan Ford Foundation. Buku yang bisa digolongkan sebagai studi karya sastra ini berisikan tentang analisis struktural karya sastra anak (novel) Indonesia. Penulisnya mengubah total outline skripsinya meskipun kontennya tidak berubah. Untuk mengubah skripsi menjadi buku diperlukan konversi di sana-sini. Menurut pengakuan si penulis untuk mengkonversi dari skripsi menjadi buku tidak memerlukan waktu yang lama. Hal itu menurutnya tergantung pada niat seseorang. Dengan demikian, seseorang yang baru saja selesai menyelesaikan studinya, jika berniat mau menerbitkan bukunya dari skripsi yang ditulisnya mau tidak mau harus sedikit menguras tenaga dan waktu untuk melakukan konversi karena pekerjaan tersebut tidak mungkin dilakukan oleh pihak penerbit.  (https://manistebu. com /2013/ 03/ meng-ubah-skripsi-tesis-disertasi-menjadi-buku/)

Buku Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru semula merupakan tesis yang ditulis Abdul Azis Thaba ketika menempuh pendidikan S2 di Fisipol UGM. Buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press ini berisikan tentang hubungan Islam dan negara di masa Orde Baru yang dibaginya dalam tiga priode, yaitu periode antagonistic (1967-1982), resiprokal kritis (1982-1985), dan akomodatif (1985-1994). Tidak seperti buku yang ditulis oleh Bambang Trimansyah ada sedikit uraian penjelasan konversi dari skripsi ke buku, dalam buku yang merupakan hasil konversi dari tesis ke buku ini memang sangat minim informasi yang diperoleh. Meskipun demikian, sebagai sebuah contoh bahwa tesis juga bisa diterbitkan menjadi buku sudah dianggap mewakili. Selain itu, yang patut diberikan nilai tambah, buku ini ternyata banyak dirujuk oleh para calon sarjana baik yang menulis skripsi, tesis, maupun disertasi yang konsens terhadap hal-hal yang berkaitan dengan politik Islam. Salah satu di antaranya adalah Dedek Sulaiman dari Jurusan Pemikiran Politik Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah. (http:// repository.uinjkt.ac.id/ dspace/ bitstream/ 123456789/8230/1/DE-DEK%20SULAIMAN-FUF.pdf )

Buku Demokrasi di Tangan Netizen Tantangan & Prospek Demokrasi Digital semula juga merupakan disertasi yang ditulis Fayakhun Andriadi dari FISIP UI.  Buku ini juga merupakan hasil konversi penulisnya dari disertasi yang berjudul “Demokrasi Era Digital: Studi Kasus Penggunaan Media Sosial dalam Partisipasi Politik Oleh Pendukung Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta Periode2012-2017”.(https://id.wikipedia.org/wiki/ Fayakhun_Andriadi).

Sama halnya dengan tesis yang dikonversikan Abdul Azis Thaba dari tesis ke buku, tidak ada informasi yang jelas. Sebagai contoh saja bahwa ada disertasi yang bisa diterbitkan menjadi buku tampaknya hal itu sudah cukup. Sebagai pelengkap saja, bahwa dosen yang cenderung inovatif dan kreatif bisa menjadikan bahan-bahan pembelajaran selama perkuliahan menjadi buku teks di perguruan tinggi yang siap digunakan. Bahkan, buku-buku tersebut tidak sedikit yang dijadikan referensi oleh penulis-penulis lainnya.

Salah satu buku yang juga merupakan hasil kerja kreatif sang dosen selama pembelajaran adalah Ismail Marahimin dosen FSUI. Selama hidupnya sebagai dosen di FSUI, Ismail Marahimin yang dikenal sebagai sastrawan mengumpulkan hasil karya anak-anak didiknya. Meskipun hasil karya para mahasiswanya hanya dijadikan sebagai contoh, ternyata setelah menjadi buku layak untuk dijadikan buku teks dan rujukan oleh beberapa penulis dan dosen yang mengajarkan penulisan kreatif. Buku hasil karyanya juga bisa dijadikan rujukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Sebagai tambahan, Ismail Marahimin dikenal sebagai sastrawan  pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1977. Buku roman tersebut diterbitkan Pustaka Jaya tahun 1979 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris  dengan judul And the War is Over oleh John H. Mc Glynn yang kemudian diterbitkan oleh Lousiana State University Press tahun 1986.

Dari uraian di atas perlu ditekankan bahwa selama pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh dosen dan para mahasiswanya merupakan sebuah peluang emas untuk melakukan kerja penelitian. Kerja-kerja penelitian selama proses belajar-mengajar di ruang kuliah itu terjadi tidak bisa dianggap remeh karena justru dari situlah bisa digali kemampuan dosen dan para mahasiswanya dalam berpikir ilmiah. Dari hasil-hasil proses berpikir ilmiah akan diperoleh hasil-hasil penelitian yang tidak sedikit. Semua produk dari proses belajar-mengajar itu jika ditekuni oleh dosen-dosen yang kreatif dan inovatif akan menghasilkan sekian banyak buku teks. Buku-buku teks yang dihasilkan dari produk pembelajaran selama di ruang-ruang kuliah tentu saja akan bermanfaat bukan saja bagi sang dosen dan para mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat luas baik yang mereka berkecimpung di dunia akademis maupun di luar dunia akademis. Semoga saja di masa depan akan bermunculan dosen-dosen kreatif dan inovatif yang siap menghadapi tantangan zaman. Wallahu`alam bissawab.

Sumber Gambar:

(https://images.app.goo.gl/tJsAJQde4hFyMSyGA)

(https://images.app.goo.gl/FJyZVBhqrLNvCLmNA)

(https://images.app.goo.gl/cpavhAaCpigfjBss8)

(https://images.app.goo.gl/jhWcgMdNmBdfKGZTA)

(https://images.app.goo.gl/o9gYK9yCXBggh72QA)

(https://images.app.goo.gl/hur39AMjEurpPADw8)

(https://images.app.goo.gl/hiJ1z4stn3nkaepy7)

(https://images.app.goo.gl/AJEvmkCAovoczsa28)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat