JANGAN JADI KAPITALIS

Subagio S. Waluyo

Sajak Sebotol Bir

                   WS Rendra

Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.
Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !
Peradaban apakah yang kita pertahankan ?
Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
dan alpa terhadap peradaban di desa ?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
dan tidak kepada pengedaran ?
Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.
Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.
Jalanlalu lintas masa kini,
mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.
Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
tidak untuk petani,
tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.
Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
tanpa ada daya untuk menciptakan.
Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?
Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……..
harus senantiasa menghasilkan….
Dan akhirnya memaksa negara lain
untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?
………………………………..

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?
Apakah pemikiran ekonomi kita
hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?
Apakah kita akan hanyut saja
di dalam kekuatan penumpukan
yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?
…………………………………

Kita telah dikuasai satu mimpi
untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
dan menghamba kepada Jepang,
Eropa, atau Amerika.

Pejambon, 23 Juni 1977

***

Di dekat rumah saya ada sebidang tanah. Luasnya sekitar 200 m2. Tanah itu oleh pemiliknya dibangun rumah-rumah kontrakan. Bagian depan, sekitar 60 m2 semula tidak dibangun. Dalam hati saya bersangka baik saja: “Mudah-mudahan tanah yang tersisa itu untuk halaman rumah.” Ternyata, sangka baik saya secara perlahan-lahan harus diganti dengan persangkaan yang kurang baik karena belakangan tanah yang tersisa itu pun dibangun untuk tambahan rumah kontrakan. Praktis tanah yang luasnya 200 m2itu tidak menyisakan halaman rumah! Saya hanya mengurut dada seraya berkata (hanya dalam hati): “Serakah benar pemilik tanah ini. Karena di benaknya yang ada hanya uang, sampai demikian teganya tidak terpikirkan efek yang akan muncul dengan membangun rumah kontrakan tanpa halaman rumah!”  

***

Pemilik tanah itu tidak sendiri. Masih banyak orang yang berpikiran sama seperti dia. Sah-sah saja kalau tanah yang ada mau dia bangun semuanya. Bukankah itu tanah miliknya sehingga boleh-boleh saja kalau mau dia bangun semuanya atau sebagiannya. Toh, selama ini `kan tidak ada yang melarang? Orang lain juga banyak yang melakukan hal yang sama karena orang lain juga melakukan cara-cara yang seperti dilakukannya saat ini. Tentu saja yang dilakukannya, sebagai bentuk peniruan dari orang-orang yang di sekitarnya melakukan hal yang sama, belum tentu baik karena belum tentu tidak merugikan orang lain.

Pada kenyataannya memang akhir-akhir ini ada kecenderungan orang, hanya untuk mencari keuntungan yang besar mereka melakukan cara-cara yang boleh dikatakan tidak terpuji. Pemilik tanah dekat rumah saya, kalau mau dikatakan masih tergolong baik walaupun belum tentu terpuji, memanfaatkan seluruh tanah miliknya demi memperoleh keuntungan yang lebih besar. Artinya, dia tidak melakukan kecurangan, tetapi…(nah ini dia yang perlu dicatat) cara dia mengambil keputusan untuk membangun tanpa menyisakan lahan yang bisa digunakan sebagai halaman rumah jelas-jelas yang ada di benaknya hanya (sekali lagi) mencari keuntungan. Sekarang kalau dia hanya membangun, misalnya, empat rumah kontrakan dengan menyisakan tanah 60 mkatakanlah kalau semula setiap bulan dia hanya mendapat Rp4.000.000,00 (kalau satu rumah @ Rp1.000.000,00) dengan adanya bangunan tambahan dia mendapat tambahan lagi Rp2.000.000,00, maka paling tidak dia akan mendapat Rp6.000.000,00.

Orang seperti itu sudah bisa berhitung tentang waktu modalnya yang akan balik. Selain itu, dia sudah bisa memprediksikan keuntungan  yang akan diperoleh setelah modalnya balik. Tetapi, apakah dia juga bisa membuat prediksi munculnya  masalah-masalah kesehatan akibat tidak adanya ruang untuk bernafas segar karena tidak ada sama sekali tanah yang tersisa yang bisa ditanami tanaman-tanaman hias? Apakah dia juga bisa memprediksi apa yang terjadi dengan anak-anak kontrakan kalau mereka butuh tempat untuk bermain? Ini satu lagi yang juga cukup penting, yaitu apakah dia akan menutup mata dan telinga kalau para penghuni rumah kontrakan menggunjingkannya tentang rumah yang panas karena tidak adanya ruang terbuka? Tidak mustahil masyarakat di sekitar rumah itu juga turut menggunjingkannya yang tentu saja bernada negatif.

Keputusan yang dilakukan pemilik tanah untuk membangun rumah-rumah kontrakan tanpa menyisakan lahan jelas-jelas di masa mendatang akan berdampak negatif bukan saja dari sisi sosial, tetapi juga lingkungan. Memang dari sisi ekonomi buat si pemilik tanah menguntungkan, tetapi coba diperhatikan dampak-dampak negatifnya. Sebagai makhluk beragama (sekaligus makhluk sosial) sudah seharusnya dalam berbisnis juga pemilik tanah memperhitungkan masalah sosial dan lingkungan walaupun masalah ini tergolong sepele. Secara sosial itu tadi anak-anak yang tinggal di rumah-rumah kontrakan tersebut tidak bisa bermain dengan nyaman karena tidak ada lagi lahan untuk mereka bermain. Akhirnya, anak-anak itu memilih jalan yang ada di depan rumah kontrakan tersebut sebagai lahan bermain yang tentu saja tidak aman dan nyaman. Atau mereka menjadi anak-anak manis yang cukup bermain gadgetipadnotebook, atau nonton TV dengan tayangan-tayangan yang jelas-jelas sebagian besar tidak mendidik (lihat tulisan saya di “Kota Anak-Anak Alfa” baik di website maupun blogspot saya).

Pemilik rumah model seperti ini jelas tidak pernah berpikir tentang dampak lingkungannya. Selain tidak ada ruang untuk menghirup udara segar juga suatu saat akan terjadi kekeringan karena tidak adanya sebidang tanah yang bisa digunakan untuk meresap air hujan. Jika hujan turun sudah bisa ditebak, air akan terbuang percuma karena semua air hujan itu akan mengalir ke jalan atau saluran tempat pembuangan air. Jika suatu saat memang benar-benar terjadi seperti itu, secara ekonomi jelas akan ada terjadi kerugian karena akan berkali-kali gali sumur atau memperbaiki mesin airnya. Yang bertanggung jawab jelas si pemilik rumah kontrakan. Penghuni rumah kontrakan akan tidak segan-segan mengkomplain pemilik rumah kontrakan karena masalah air bukan tanggung jawab mereka. Kalau si pemilik rumah kontrakan tidak mau bertanggung jawab, tidak mustahil terjadi perang mulut di antara mereka.

***

Saya yakin sebagian besar pebisnis di negara ini, baik pribumi maupun non pribumi mempraktekkan ajaran-ajaran Adam Smith walaupun sama sekali buta tentang ajaran-ajaran Adam Smith. Konsep kapitalis yang digagas oleh Adam Smith telah merasuk benar ke para pebisnis di seluruh dunia. Orang yang menjadi pebisnis kelas kampung dekat rumah saya juga termasuk orang yang kerasukan jiwa kapitalis. Untuk itu, tidak aneh kalau dalam keputusan bisnisnya juga tergolong serakah. Keserakahan yang dijiwai oleh semangat kapitalis telah menjadikan orang yang seperti pemilik rumah kontrakan dekat rumah saya itu yang ada di benaknya hanya uang. Dia telah menyepelekan unsur-unsur manusiawi. Boleh jadi orang seperti ini juga tergolong sosiopat karena faktor lingkungan telah mendidiknya menjadi kapitalis. Bukankah orang sosiopat (termasuk juga psikopat) berkecenderungan  melanggar aturan?Si pemilik tanah kontrakan sebagai pebisnis termasuk pebisnis yang `baik` (dalam tanda petik) tetapi belum terpuji. Mengapa? Keputusan yang diambil ketika membangun tanpa ada ruang yang bisa dimanfaatkan orang banyak termasuk tindakan menguntungkan diri sendiri. Tentu saja tindakan ini dilandasi oleh masih adanya benih-benih keserakahan. Kalau bisa mungkin dikatakan, dia tergolong pebisnis yang serakah. Tanpa dia sadari, sebagai pelaku bisnis, dia juga telah mempraktekkan konsep ekonomi kapitalis yang digagas oleh `Mbah Kapitalis`, yaitu Adam Smith. Dalam, The Wealth of Nation, Adam Smith menulis bahwa keserakahan individual tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Selanjutnya, menurut Adam Smith, kese-rakahan akan harta benda bukan merupakan sesuatu yang aib. Justru berguna bagi masyarakat secara keseluruhan. Bahkan, masih kata Adam Smith, keserakahan membuat manusia bekerja keras untuk mencari keuntungan sehingga dia akan memproduksikan lebih banyak barang atau menjual lebih banyak jasa (Arief Budiman dalam Manusia Indonesia Individu Keluarga dan Masyarakat, 1986:157).

***

Pelaku-pelaku bisnis yang terjerat oleh ajaran Adam Smith (kapitalisme) adalah orang-orang yang tidak lagi memandang sisi-sisi kemanusiaan (dehumanisasi). Selain itu, ada kecenderungan mereka kehidupannya serba materi (materialistis). Akibatnya, muncullah berbagai fenomena penyakit sosial baik karena dehumanisasi maupun materialistis. Penyakit sosial yang muncul akibat adanya dehumanisasi, seperti rusaknya hubungan keluarga dan kriminalitas akan semakin merebak. Sementara itu, akibat kehidupan serba materi (materialistis) juga akan semakin merebaknya kecenderungan menghalalkan segala cara, bermental instant, dan krisis kehidupan yang multidimensional (kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, kemerosotan moral, dan ketidakadilan). Jika memang demikian, apa yang bisa diharapkan dari kapitalisme?

Kalau melihat pada dampak yang dimunculkan (yang lebih besar dampak negatifnya darpada positifnya), paham kapitalisme yang dianut sebagian besar pebisnis di negara ini (dari kota sampai pelosok-pelosok negeri) harus disingkirkan jauh-jauh. Silakan saja setiap orang melakukan transaksi bisnis dalam bentuk apapun, tetapi harus bersih dari otak-otak kapitalis. Jangan hanya berharap pada semata-mata meraup keuntungan, justru merugikan orang lain sehingga memunculkan keserakahan. Caranya, mau tidak mau dalam melakukan transaksi setiap orang yang berbisnis harus berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Agama (dalam agama Islam, misalnya) sudah menggariskan cara berbisnis yang benar, yang diharapkan tidak merusak hubungan sesama manusia sehingga dalam berbisnis benar-benar bisa mewujudkan humanisasi.   Dengan cara demikian, di masa mendatang tidak ada lagi istilah pedagang kapitalis, politikus kapitalis, guru/dosen kapitalis, penegak hukum (hakim/jaksa/advokat) kapitalis, birokrat kapitalis, atau tokoh agama (ustadz, pendeta, pastor, biksu) yang kapitalis. Wallahu a`lam bissawab. 

Semut di Seberang Pulau Kelihatan

Subagio S.  Waluyo

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkalah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

(QS Al-Baqarah:109) 

 

“Ataukah mereka hasad/dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah  memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”

(QS An-Nisa:54)

 

“Kalian akan tertular penyakit umat-umat sebelummu; hasad dan saling membenci. Adapun saling membenci adalah bagai pisau cukur, yaitu mencukur agama, bukan mencukur rambut. Demi Dzat Yang jiwaku ada dalam genggamannya, kalian semua tidak akan beriman kecuali jika kalian saling mencintai. Inginkah kukabarkan  tentang sesuatu yang apabila kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai,; tebarkanlah salam di antara kalian.”

(HR Ahmad dan Tirmidzi)

“Waspadalah terhadap hasad, karena hasad dapat melenyapkan kebaikan, seperti api yang dapat melenyapkan kayu (dalam sabda lain `rumput`).”

(HR Abu Daud)

***

Setiap makhluk ciptaan Allah pasti menghendaki kehidupan yang aman, nyaman, dan tenteram. Sebaliknya, tidak ada satu  makhluk pun yang menghendaki kehidupan yang serba terancam jiwanya, kacau, dan serba tidak mengenakkan. Sesuatu yang dikehendaki oleh setiap makhluk Allah dalam realitanya ternyata tidak demikian. Dunia ini sejak keturunan Adam-Hawa saling membunuh (kisah Qabil yang membunuh Habil), sejak itu pula manusia karena dikuasai hawa nafsu rasa aman, nyaman, dan tenteram tidak pernah terwujud. Meskipun demikian, dalam skala besar (regional, nasional, bahkan dunia sekalipun) Allah telah mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur Allah akan menambahkan padanya nikmat-Nya tapi kalau sebaliknya, ingkar pada Allah bukan nikmat yang diberikan justeru siksaan (QS Ibrahim:7). Bisa juga suatu kaum/bangsa yang semula selalu beribadah (salah satu di antaranya adalah zikir-zikir pada-Nya) Allah jadikan negeri itu aman, nyaman, tenteram, dan rezeki datang dari berbagai penjuru. Tapi, ketika kaum/bangsa tersebut ingkar pada-Nya semua itu berganti dengan kekacauan, terancam jiwanya, dan merasa selalu serba kurang (terutama kurang harta). Ini merupakan sebuah peringatan dari Allah (QS An-Nahl:112). Di balik peringatan itu pasti ada hikmahnya.

Peringatan tentu saja ditujukan pada  manusia. Makhluk-makhluk lain tidak mungkin diberikan peringatan. Manusia diberikan peringatan karena manusia diciptakan demikian sempurna. Allah menyebutkannya sebagai sebaik-baiknya makhluk (QS At-Tiin:4). Buktinya, manusia diberikan Allah akal yang sempurna. Lewat akal manusia bisa melakukan aktivitas. Lewat akal manusia bisa melakukan inovasi. Lewat akal manusia bisa melakukan berbagai kreativitas. Lewat akal manusia bisa menjadi pemimpin baik buat dirinya sendiri, keluarganya, masyarakatnya, maupun negaranya. Bahkan, manusia bisa menjadi pemimpin di muka bumi ini. Tapi, lewat akal juga manusia bisa mengakali entah sesamanya, keluarganya, masyarakatnya, atau bahkan negaranya. Kalau sudah perilaku ini  yang muncul, tidak mustahil yang terjadi adalah adanya kerusakan. Di sini, manusia perlu diberi peringatan oleh Allah. Peringatannya dalam bentuk larangan untuk melakukan hal-hal yang berakibat pada keburukan baik pada sesama manusia maupun alam semesta.

***

Kenapa manusia bisa melakukan keburukan? Manusia diberi Allah nafsu. Memang, bicara  nafsu masih bersifat umum karena ada tiga macam jenis nafsu (https://republika.co.id/berita/q4hphf320/3-macam-nafsu-manusia-yang-diabadikan-dalam-alquran). Pertama, Al Ammarah bi suu’, yaitu jenis nafsu yang mengarah pada keburukan sebagaimana yang terlihat dalam QS Yusuf:53: “Dan aku (Yusuf) tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku.Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Kedua, Lawwamah, yaitu  jenis nafsu yang menunjukkan bahwa manusia yang memiliki hati nurani setiap  melakukan kesalahan sudah dipastikan akan ada perasaan penyesalan (menyesali diri) sebagaimana terlihat dalam QS Al-Qiyamah:2: “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” Ketiga, Muthmainnah, yaitu orang yang tenang jiwanya atau orang yang bisa menguasai hawa nafsu sehingga jiwanya tenang. Orang seperti ini bisa tenang jiwanya karena banyak ingat pada Allah. Karena banyak ingat pada Allah, bisa dipastikan jiwanya juga merasa tenang (QS Al-Fajri:27-30). Dengan demikian, bisa dipastikan kalau banyak terjadi kerusakan di muka bumi ini lebih disebabkan oleh manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsunya atau manusia yang telah dibelenggu oleh nafsu jenis pertama, yaitu  Al Ammarah bi suu’.

Salah satu penyakit yang muncul kalau manusia dikuasai oleh Al Ammarah bi suu’ adalah penyakit dengki atau hasad. Hasad atau dengki menurut Musthafa Al-Buqha dan Muhyidin Misto ialah jenis penyakit hati yang dimiliki seseorang agar suatu nikmat yang dimiliki orang lain itu hilang. Sebaliknya, orang tersebut menghendaki agar nikmat itu bisa dimilikinya (Pokok-Pokok Ajaran Islam: Syarah Arbain Nawawiyah, 2002:386). Jadi, kalau ada orang yang perilakunya termasuk dalam definisi di atas, dia bisa disebut orang yang dengki atau hasad. Kenapa Allah sangat melarang hasad? Sebagaimana terlihat pada potongan hadits di pembuka tulisan ini yang menyebutkan bahwa  hasad dapat melenyapkan kebaikan. Dengan demikian, kalau kebaikan telah lenyap dari muka bumi ini bisa dipastikan karena adanya penyakit hasad atau sudah demikian banyaknya orang yang berperilaku hasad.

Penyakit hasad dapat menghilangkan kebaikan. Biasanya orang perlu bukti konktrit dari pernyataan itu supaya tidak terkesan mengarang-ngarang. Kira-kira begitu persepsi orang. Kalau memang perlu bukti, bisa dilihat pada contoh kisah di bawah ini ketika Amangkurat II menghabisi nyawa Trunojoyo dengan cara-cara keji. Ucapan Amangkurat II yang di awal terdengar mengenakkan ternyata sebuah retorika belaka agar Trunojoyo sebagai tawanan perang tidak ada perasaan panik. Ucapan itu hanya pemanis yang membuat pendengarnya terlena. Ucapan itu dilakukan berulang-ulang sampai tiga kali sehingga Trunojoyo seperti merasa yakin kalau Amangkurat II akan menyerahkan titahnya seluruh tanah Jawa diserahkan padanya. Trunojoyo yang tetap diam (walaupun berbicara juga akan percuma karena sudah ada dendam yang membara di diri Amangkurat II) bisa jadi pertanda kepasrahan menerima entah titah, entah hukuman dari Amangkurant II. Memang,setelah Amangkurat II menyampaikan pertanyaan sempat dijawab dengan anggukan kepala oleh Trunojoyo tanda menerima titah sang raja. Di luar dugaan, Amangkurat II ternyata mengeluarkan kerisnya. Dengan basa-basi pantangan kalau keris yang dikeluarkan disarungkan kembali, sebelum keris itu disarungkan tanpa ada rasa kemanusiaan keris itu dihunuskan berkali-kali ke tubuh Trunojoyo yang tidak berdaya karena dipegang erat-erat oleh para prajuritnya.

“Sebagai raja, aku tak punya dua ucapan. Ucapan saya yang sekarang, ya ucapan saya yang dulu, dan juga ucapan saya di masa datang. Aku pernah berucap, sewaktu zaman kemuliaan tiba, aku akan bertahta di dalam kerajaan saja, dan yang di luar ini, seluruh tanah Jawa, biar kamu yang menguasainya. Karenanya, terimalah titahku padamu untuk memerintah tanah Jawa ini. Terserah mau kamu apakan. Mangsa bodoa…”

Trunajaya tak berani berucap sepatah kata.Raja mengulangi pernyataannya sampai tiga kali, tapi Trunajaya tetap tidak mau menerima dan diam seribu bahasa.

Pangeran Selarong yang duduk di pinggir mengeluarkan kata-kata, “Trunajaya, apakah kamu tidak mendengar titah baginda? Kalau kamu trah perwira, harus menerimanya, kecuali kamu cuma trah sudra. Ini titah baginda, di mana ada orang baik ingkar janji?”

Segera Trunajaya menghaturkan sembah,pertanda menerima titah tersebut. Semua yang hadir mengangguk-anggukkan kepala. Pangeran Selarong juga mengangguk-angguk, sambil berbisik-bisik pada kanan-kirinya.

Amangkurat melanjutkan kata-katanya.

“Sekarang permintaanku cuma tinggal satu. Ketika aku mengiringkan ayahanda ke Tegal dulu saat Keraton Kertasura kamu rebut, aku punya janji:keris Kyai Balabar ini sengaja tidak aku ganti atau beri sarung, kalau belum aku sarungkan ke dada kamu…”

Para pangeran dan petinggi istana yang memenuhi ruangan pertemuan segera menangkap maksud dan isyarat raja. Pangeran Selarong memberi isyarat dengan gelengan kepalanya kepada para pengawal. Seketika beberapa pengawal bergerak, menyeret Trunajaya untuk didekatkan sampai ke depan raja. Raja berdiri dari kursi, menyambut tubuh dengan wajah yang pucat pasi itu dengan tusukan keris Kyai Balabar. Tusukan tepat di dada, menembus punggung. Darah muncrat membasahi raja.

Tidak cukup sampai di situ, Amangkurat II juga memerintahkan para bupati untuk melakukan hal yang sama. Mereka serentak menghunuskan kerisnya dan mencabik-cabik tubuh Trunajaya sampai hancur seperti kain yang diurai benangnya. Para adipati juga mendapat jatah memakan jantung Trunajaya. Mereka yang datang terlambat karena tidak ada tempat lagi untuk menghunuskan kerisnya kebagian upacara melumurkan tubuh dan wajahnya dengan darah. Amangkurat II melakukan cara-cara keji seperti itu sehingga menghilangkan nilai-nilai kebaikan lebih disebabkan oleh penyakit hasad yang sudah merasuk ke dalam seluruh rongga tubuhnya. Memang itu hanya sebuah kisah fiksi. Tetapi, sejarah membuktikan bahwa Amangkurat II yang bersekutu dengan Pemerintah Kolonial Belanda (penjajah) telah menjadi antek-antek penjajah untuk menghabisi semua perlawanan (oposisi) yang berupaya merongrong kewibawaannya sebagai raja. Kekejaman Amangkurat II pada orang-orang yang dianggap oposisi dan merongrong kewibawaannya bisa dilihat pada lembar-lembar sejarah.

“Para bupati sekalian, sekarang giliran kalian. Kalian makan jantung makhluk celaka ini,” ucapnya dengan suara bergetar. Tanpa menunggu perintah dua kali, para bupati maju menyarangkan keris masing-masing ke tubuh Trunajaya. Dalam sesaat, tubuh Trunajaya telah tercabik-cabik bagai kain yang diurai benangnya satu-satu. Para adipati memakan jantungnya. Ketika Tumenggung Jangrana dan Tumenggung Anggajaya datang dari Pasuruan, keduanya sudah tak dapat tempat lagi di mana keris hendah ditusukkan. Mereka cuma kebagian upacara melumuri tubuh dan wajah dengan darah.

Sebagai penutup dari upacara pelampiasan dendam itu, Amangkurat II memerintahkan memenggal leher Trunajaya. Sang raja menenteng kepala Trunajaya ke tempat peristirahatannya. Semua selir disuruh menginjakkan kakinya ke kepala Trunajaya. Dini hari dia perintahkan para penumbuk padi memasukkan kepala Trunajaya ke lesung dan menghancurkan kepala itu. Begitu kejinya seorang penguasa di masa lalu sampai-sampai untuk melampiaskan dendam kesumatnya dia harus menghancurkan musuhnya sampai benar-benar hancur fisiknya. Jangankan manusia, alam semesta seperti bulan saja digambarkan oleh BR malu melihat kebengisan itu.

Sebelum Amangkurat meninggalkan ruangan, ia memerintahkan agar leher Trunajaya dipenggal, dan kepalanya dia tenteng menuju balai peristirahatan.  Semua selir wanita simpanan dia suruh menginjakkan kakinya di atas kepala Trunajaya sebelum para wanita ini masuk ke peraduan.  Dini hari nantinya, ia perintahkan kepala tersebut dimasukkan lesung dan dihancurkan.

Bulan menutup mukanya, malu melihat kebengisan ini.  Mega berarak kian pekat menutup purnama.

Sungguh agung Keraton Mataram di masa lalu.  Puja-puji atas kebesarannya terdengar di mana-mana.

Bulan kabangan mengambang di angkasa.  Rakyat di desa-desa biasa berjaga-jaga – mengikuti petuah lama – untuk tidak jatuh tertidur pada petang hari saat bulan purnama.

Bulan kabangan mengisyaratkan masih ada dendam di muka bumi, tersimpan di dada para penguasa yang menjaga kekuasaannya dengan berpupur darah. Penyesalan,  pengampunan,pemberian,dan apa saja yang berasal dari mereka adalah kepura-puraan.

Jangan tertidur, bersiap dan berwaspadalah ketika di angkasa menggantung bulan kabangan.

***

Penyakit hasad juga ada pada para penguasa yang berkuasa saat ini di manapun di dunia ini. Entah mereka yang menjadi penguasa di tingkat daerah, nasional maupun dunia ternyata masih ada yang lebih melihat kesalahan orang/kelompok lain daripada melihat kesalahan dalam diri sendiri. Buktinya, mereka (para penguasa) belum bisa menerima kesalahan orang lain sehingga melakukan cara-cara tidak terpuji. Mereka (dengan dalih menggunakan berbagai kebijakan) memusuhi, menekan, meneror, mengkriminalkan, dan memenjarakan orang/kelompok/golongan lain yang dianggap sebagai saingannya atau musuhnya. Mereka belum bisa move on atau menerima kalau ada entah itu orang (tokoh) atau kelompok/golongan lain yang tingkat penerimaannya lebih tinggi daripada dirinya. Karena sudah ada bibit-bibit hasad, dengan berbagai dalih diupayakan menekan orang/kelompok/golongan lain agar tidak menjatuhkan kedudukannya sebagai penguasa. Perilaku penguasa-penguasa jenis ini sama persis dengan Amangkurat II. Kalau Amangkurat II di-back up oleh Pemerintah Kolonial Belanda (penjajah), pemimpin saat ini di-back up oleh pengusaha-pengusaha yang rakus. Penguasa yang sudah berkonspirasi dengan para pengusaha yang rakus, yang memiliki penyakit hasad inilah yang merusak nilai-nilai kebaikan.

Coba direnungkankan, bagaimana nilai-nilai kebaikan akan rusak kalau dengan seenak perutnya mereka menyeret orang/kelompok/golongan lain yang di mata mereka dianggap sebagai musuh besar, yang tidak berdaya ke pengadilan dengan dalih telah  melanggar undang-undang? Mereka berkolaborasi dengan pengadilan berupaya menghukum orang/kelompok/ golongan lain yang menjadi saingannya agar dihukum seberat-beratnya. Mereka berupaya menipu orang-orang yang dianggap musuhnya dengan memutarbalikkan fakta. Mereka gunakan hukum untuk menjerat musuh-musuhnya. Semua yang dilakukannya bukan hanya sakit hati pada musuh-musuhnya tapi juga karena ada pesan-pesan terselubung dari para pengusaha yang juga punya agenda yang sama, yaitu merusak tatanan hidup di muka bumi ini. Wajar-wajar saja kalau para penguasa itu tidak bisa mengelola entah daerah, negara, maupun dunia itu sendiri. Rasa hasad itulah yang menjadi faktor penyebab mereka menjadi gelap mata. Rasa hasad itu juga yang menjadikan mereka tidak bisa mengelola tatanan hidup yang demokratis di muka bumi ini.

***

Semakin jelas apa yang terjadi jika ada manusia atau penguasa sekalipun yang telah dirasuki penyakit hasad? Semakin tampak adanya kerusakan di muka bumi ini. Mereka yang hasad tidak akan mungkin  menegakkan keadilan karena keadilan bagi mereka hanya sebuah utopia yang sulit (mungkin juga mereka tidak mau) untuk mewujudkannya. Jadi, kalau ada berbagai kerusakan di alam semesta ini jangan salahkan Sang Pencipta, salahkan ulah manusia yang terasuki penyakit hasad. Mereka-mereka yang telah menjadi hamba-hamba materi, yang sangat cinta pada dunia, tapi takut pada kematian sudah dipastikan menjadi tokoh utama kerusakan di muka bumi ini. Untuk itu, jauhi penyakit hasad karena penyakit hasad menghilangkan kebaikan. Wallahu a`lam bissawab.

UNDANG-UNDANG

Subagio S. Waluyo

  1. UU Nomor 1 Tahun 2004-Perbendaharaan Negara
  2. UU Nomor 2 Tahun 2020-Perppu Nomor 1 Tahun 2020-Kebijakan Keuangan Negara
  3. UU Nomor 5 Tahun 2014-Aparatur Sipil Negara
  4. UU Nomor 11 Tahun 2020-Cipta Kerja
  5. UU Nomor 12 Tahun 2012-Pendidikan Tinggi
  6. UU Nomor 13 Tahun 2011-Penanganan Fakir Miskin
  7. UU Nomor 14 Tahun 2008-Keterbukaan Informasi Publik
  8. UU Nomor 16 Tahun 2011-Bantuan  Hukum 
  9. UU Nomor 17 Tahun 2013-Organisasi Kemasyarakatan
  10. UU Nomor 19 Tahun 2019-Perubahan Kedua UU Nomor 30 Tahun 2002-Komisi Tipikor
  11. UU Nomor 20 Tahun 2003-Sistem Pendidikan Nasional
  12. UU Nomor 20 Tahun 2011-Rumah Susun
  13. UU Nomor 23 Tahun 2014-Pemerintah Daerah 
  14. UU Nomor 24 Tahun 2011-Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
  15. UU Nomor 24 Tahun 2013-Administrasi Kependudukan
  16. UU Nomor 24 Tahun 2009-Bendehara, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan
  17. UU Nomor 25 Tahun 2007-Penanaman Modal
  18. UU Nomor 25 Tahun 2009-Pelayanan Publik 
  19. UU Nomor 26 Tahun 2007-Penataan Ruang
  20. UU Nomor 30 Tahun 2014-Administrasi Pemerintahan
  21. UU Nomor 32 Tahun 2009-Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

 

USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)

Subagio S. Waluyo

  1. Analisis Penggunaan Media Sosial dalam Pengembangan UMKM 
  2. Buku Pola Pembiayaan UMKM Industri Depot Air Isi Ulang
  3. Buku Saku UMKM 
  4. Direktori Pendamping UMKM
  5. Handout-UMKM-1
  6. Handout-UMKM-2
  7. Iklim Usaha di Kota Kupang: Kajian Kondisi Ekonomi dan Regulasi Usaha
  8. Modul Ajar-Kewirausahaan dan Pengembangan UMKM 
  9. Pemetaan dan Perencanaan Kebijakan Penggunaan Energi bagi UMKM di Provinsi Jawa Timur
  10. Pengelolaan Risiko dan Penciptaan Nilai melalui Pendanaan UMKM
  11. Peran Pemerintah Daerah dan Partisipasi Pelaku UMKM dalam Upaya Pengembangan Kerajinan Kulit di Kabupaten Magetan
  12. Peranan UMKM Sektor Pangan terhadap Kesejahteraan Masyarakat dalam Perspektif Ekonomi Islam
  13. Potensi Ekonomi Daerah dalam Pengembangan UMKM Unggulan di Kota Tangerang
  14. Profil Bisnis UMKM 
  15. Strategi dan Kebijakan Pengembangan UMKM 
  16. Survai Ekonomi OECD Indonesia
  17. UU RI Nomor 20 Tahun 2008-UMKM
  18. UU RI Nomor 11 Tahun 2020-Cipta Kerja

MEMBANGUN BANGSA

Subagio S. Waluyo

Pertengkaran terjadi antara Kuda dan Rusa, jadi Kuda mendatangi Pemburu untuk meminta bantuan membalas dendam kepada Rusa. Pemburu setuju tapi berkata: “Kalau kamu mau mengalahkan Rusa, kamu harus memperbolehkanku menempatkan sepotong besi di mulutmu, supaya aku bisa membimbingmu dengan kekang. Kamu juga harus memperbolehkan aku menaruh pelana di punggungmu supaya aku bisa duduk di sana selagi kita mengejar musuh.” Kuda setuju dengan permintaan itu, dan Pemburu kemudian memasang kekang serta pelana. Lalu, dengan bantuan Pemburu, Kuda mengalahkan Rusa dan berkata kepada Pemburu: “Sekarang turunlah, dan lepaskan benda-benda ini dari mulut dan punggungku.” “Jangan buru-buru, kawan,” kata Pemburu. “Aku sekarang sudah mengendalikanmu dan lebih suka mempertahankanmu seperti sekarang.”

— “Kuda, Rusa, dan Pemburu”, Dongeng Aesop

(Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, Bagaimana Demokrasi Mati, 2019:1)

***

(https://images.app.goo.gl/D8kowsauih2PQebaA)

Melihat gambar di atas kita jadi bertanya-tanya mengapa Bapak Proklamator Republik Indonesia ini menyampaikan pesan seperti itu? Kalau memang benar itu ucapan beliau, ada apa di balik pesan tersebut? Apakah memang saat ini kita mengalami kesulitan menghadapi bangsa sendiri? Lalu, kalau memang kita mengalami kesulitan menghadapi sesama anak bangsa, apa yang harus kita lakukan ke depan? Sekian banyak pertanyaan bisa saja melintas di benak kita. Meskipun demikian, kita perlu menganalisis dan menelaah lebih jauh tentang hal-hal yang terjadi selama ini setelah cukup lama kita merdeka.

Diakui atau tidak pesan Bung Karno saat ini memang terbukti. Kita saat ini memang mengalami kesulitan berhadapan dengan sesama anak bangsa yang dilihat dari kemampuan SDM-nya masih tergolong rendah. Memang kita negara yang kaya dengan SDM, tetapi SDM yang ada kompetensinya tidak memadai. Padahal pendidikan kejuruan di tingkat menengah seperti SMK terhitung banyak. Sarana dan prasarana yang dimiliki juga sudah cukup memadai. Masalahnya bukan pada adanya lembaga-lembaga pendidikan kejuruan dengan seperangkat sarana dan prasarananya yang memadai, tetapi lebih pada pembelajaran di lembaga-lembaga tersebut yang serba tanggung. Coba saja kita perhatikan, bagaimana kompetensi mereka setelah lulus dari lembaga-lembaga pendidikan kejuruan itu? Dari segi kompetensi diragukan dan dari segi perilaku mereka terhitung kurang baik (kalau bisa dikatakan bermoral rendah). Sekali lagi, kalau di antara mereka ada lulusan yang memiliki kompetensi memadai (sesuai dengan permintaan dunia kerja) dan berperilaku baik bisa dihitung dengan jari karena lulusan seperti itu hanya dihasilkan oleh sekolah-sekolah unggulan.

Kalau ada lulusan dari perguruan tinggi (PT) yang memiliki kompetensi yang memadai, sebagian besar mereka akan lebih memilih bekerja di luar negeri atau minimal di perusahaan-perusahaan asing. Mereka beranggapan dengan bekerja di luar negeri atau di perusahaan-perusahaan asing tenaganya lebih dihargai. Mereka juga menyadari adanya diskriminasi dalam hal ketidakadilan yang berkaitan dengan baik kesejahteraan maupun fasilitas yang mereka terima ketika berhadapan dengan tenaga-tenaga asing  yang berasal dari negara atau perusahaan asing tersebut. Tetapi, karena dari segi gaji dan fasilitas lebih tinggi daripada di dalam negeri atau perusahaan-perusahaan bangsa `dewek`, akhirnya mereka lebih memilih ke luar negeri atau bekerja di  perusahaan-perusahaan asing. Di sini kita berhadapan dengan alumnus PT kita yang telah menipis rasa nasionalismenya.

***

Mereka yang lebih memilih bekerja di luar negeri merupakan salah satu contoh menipisnya rasa nasionalisme yang telah menjadi trend di kalangan anak-anak muda kita. Mereka-mereka yang belajar di luar negeri atas biaya pribadi (meskipun di tengah jalan mereka juga meminta beasiswa di tempat mereka belajar) sebagian besar di antara mereka ada kecenderungan untuk tidak kembali ke negara asalnya (Indonesia). Mereka-mereka ini yang kita sebut sebagai brain drain `pelarian orang-orang pintar`. Mereka-mereka ini yang memang niat dari awalnya mau mengubah nasib dengan mengabdikan dirinya di negara lain. Kita sudah bosan mendengar alasan-alasan yang mereka kemukakan berkaitan dengan ketidakinginannya kembali ke Indonesia untuk mengabdikan tenaganya di negaranya sendiri. Mereka-mereka inilah yang merupakan generasi muda yang telah menipis (bahkan) hilang rasa nasionalismenya. Kalau ada di antara mereka yang mau pulang ke negaranya, mereka-mereka ini biasanya adalah anak-anak dari kalangan konglomerat yang diminta meneruskan usaha orang tuanya. Di luar itu semua, yang lebih menyakitkan kalau ada orang-orang muda yang belajar di luar negeri atas biaya negara, kemudian mereka tidak mau balik ke negara asalnya (bahkan) mereka berani mengembalikan seluruh biaya pendidikannya sehingga rasa-rasanya negara telah sia-sia mengirimkan mereka belajar ke luar negeri. Sampai di mana rasa nasionalismenya jika ada orang-orang muda jenis ini?

Rasa nasionalisme yang menipis bukan hanya terjadi di kalangan orang-orang muda, di kalangan pejabat-pejabat negara yang memegang kebijakan di negara ini dalam hal pengambilan keputusan, misalnya di dunia usaha/ekonomi, ada kecenderungan lebih menguntungkan pihak asing (investor). Coba kita perhatikan secara teliti gambar yang ada di sebelah ini, bukankah hal ini merupakan bukti bahwa penyebab jatuhnya sektor riil yang notabenenya dimiliki para pengusaha lokal yang tergolong ke dalam pengusaha kecil dan menengah (UMKM) digusur oleh pengusaha asing besar yang berasal dari luar Indonesia (investor atau ekonomi asing). Mereka- mereka yang tergolong pengusaha besar (pengusaha asing) begitu mudah untuk memperoleh izin usaha. Selain itu, masalah modal mereka juga di-back up- dari bank-bank baik yang berasal dari negaranya maupun bank-bank internasional. Mereka juga turut diberi kebijakan untuk bermain di sektor riil yang seharusnya disediakan untuk pengusaha pribumi. Sangat wajar jika ekonomi kita saat ini dikuasai asing.

Bagaimana dengan pengusaha pribumi, `bangsa dewek`, yang juga ingin berinvestasi di negaranya sendiri? Ketika baru saja mengajukan proposal pinjaman untuk modal usaha atau menambah modal usahanya, mereka terganjal oleh aturan Bank Indonesia (BI). Aturan tersebut digambarkan seperti bottleneck (leher botol) karena agunannya saja 150% dan equity-nya (tingkat kewajarannya) 35%. Bank-bank di Indonesia umumnya terikat aturan BI yang mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengucurkan setiap lembar rupiah. Wajar saja jika bank menetapkan seleksi yang super ketat bagi calon debiturnya. Umumnya bank mensyaratkan laporan keuangan sesuai standar akuntansi selama dua tahun terakhir dari usaha yang dijalankan pengusaha UKM tersebut. Bank juga tak percaya begitu saja, mereka memanfaatkan fasilitas dari Bank Indonesia untuk melakukan BI cheking, yaitu general check up riwayat kredit pengusaha yang mengajukan pinjaman. Pengusaha UKM yang telah diberi pinjaman tidak boleh lalai dalam membayar cicilan KPR rumah, Kredit Tanpa Agunan (KTA), atau hutang kartu kredit. Catatan buruk akibat dari kelalaian pembayaran kredit membuat pengusaha tersebut di-black list oleh Bank Indonesia. Kalau sudah seperti itu, otomatis pengajuan pinjaman sang pengusaha UKM yang tergolong modalnya pas-pasan sudah pasti ditolak (https://pinjam.co.id/blog/2016/ 08/21/ solusi-pinjaman-modal-ukm/). Dengan demikian, bisa ditebak, karena modal tidak tersedia, banyak pengusaha yang bergerak di sektor riil berkurang. Pekerjaan pun berkurang. Kalau ada pekerjaan, upah untuk pekerja jelas-jelas murah sehingga banyak orang yang menganggur. Inilah yang merupakan salah satu penyebab meningkatnya kemiskinan di negara ini.

***

Akibat kemiskinan memunculkan masalah baru, yaitu bangsa ini tidak menjadi tuan rumah di negaranya sendiri sehingga wajar saja kalau ada yang mengatakan bangsa ini telah menjadi `bangsa kacung`. Sebagai bukti `bangsa kacung` bisa dilihat di antaranya, yaitu adanya trend di kalangan orang-orang muda yang berbakat dan punya kompetensi memadai yang lebih memilih bekerja di luar negeri atau di perusahaan-perusahaan asing. Boleh juga kalau ada orang-orang yang mau bergerak di sektor riil susah  untuk memperoleh pinjaman. Akhirnya, orang-orang yang tersisa (sebagian besar dari tenaga produktif) yang memiliki kompetensi pas-pasan dan tidak bisa buka usaha bekerja pada orang lain, baik dari `bangsa dewek` maupun `bangsa asing` yang besaran upahnya telah ditentukan oleh pemerintah dan hampir setiap tahun selalu ada demo yang berkaitan dengan kesejahteraannya. Inilah nasib `bangsa dewek` yang telah menjadi `bangsa kacung`. Namanya juga `bangsa kacung` bangsa kelas kesekian walaupun tinggal di negara sendiri, tetap saja ada stigma bagi `bangsa kacung` yang bisa diibaratkan `ayam mati di lumbung padi`.

(https://images.app.goo.gl/f7CQvFh9hq1T3vi59)

`Bangsa kacung` bisa diibaratkan seperti `ayam mati di lumbung padi` karena bangsa kacung punya kekayaan SDM tapi tidak berkualitas dan tidak punya nasionalisme. Punya kekayaan SDA tapi SDA di negara ini telah dirampok habis-habisan oleh asing. Apa yang tersisa dari negara ini kalau penguasaan asing sudah masuk ke semua sektor seperti terlihat pada gambar di atas? Kalau sudah seperti itu gambarannya, tidak mustahil sudah ada fakta-fakta yang menunjukkan Indonesia termasuk failed state`negara gagal`. Setidaknya ada delapan fakta, yaitu (1) korupsi, suap, dan kolusi merajalela; (2) hukum dan perangkatnya terkena stroke sehingga tidak berdaya dan menjadi remehan masyarakat; (3) anggota dewan, aparat, dan pemerintah berasal dari orang-orang pengelana jabatan dan ber-Tuhan-kan politik; (4) negara permanen bencana; (5) kemiskinan dikemas dengan sembada dan kesejahteraan sosial; (6) tanah surga negara ini tergadaikan pada investor asing yang rakus dan serakah; (7) ulama dan ahli-ahli agama ditinggalkan dan memilih teori-teori kapitalis, sekuleris, dan materialis; dan (8) kegagalan terbesar adalah kegagalannya dalam mengenal hakikat adanya manusia di dunia  (http://www.kompasiana.com/ kilassejarah /8-fakta-indonesia-menuju-failed-states-negara-gagal). Apakah kedelapan fakta yang menunjukkan negara kita negara gagal sudah dapat dibuktikan?

Satu persatu terkuak sudah pesan Bung Karno yang tersurat di gambar tersebut. Sekarang apa yang harus kita lakukan dalam rangka membangun bangsa ini? Apakah kalau seperti ini kondisi negara yang kita cintai ini harus dijual ke bangsa asing yang rakus, serakah, kapitalis, dan liberalis?  Kalau kita memang harus melakukan perbaikan dan perubahan dari mana memulainya? Ingat, harapan itu masih ada. Kita masih ada kesempatan untuk melakukan perbaikan dan perubahan. Sebagaimana yang telah disampaikan pada tulisan terdahulu (lihat `Membangun Kreativitas` dan `Membangun Kepemimpinan`), kita harus membangun kreativitas dan kepemimpinan pada semua anak bangsa. Untuk membangun bangsa yang dimulai dari membangun kreativitas dibutuhkan waktu yang cukup lama. Program ini bukan program instan. Program instan hanya akan menghasilkan orang-orang yang tidak kreatif. Program instan hanya akan menghasilkan pemimpin karbitan yang selalu `jaim`. Saking `jaim`-nya sebentar-sebentar perlu publikasi. Program membangun bangsa yang melahirkan anak bangsa yang kreatif dan pemimpin yang memiliki motivasi intrinsik butuh waktu dan sabar.

***

Kita butuh waktu dan sabar. Dua kata ini mau tidak  mau harus kita camkan dalam-dalam. Negara  ini saja baru bisa terlepas dari penjajahan Belanda dan Jepang setelah melakukan perjuangan yang cukup panjang. Bung Karno sebelum memproklamasikan negara ini butuh waktu lama untuk berjuang. Beliau juga mengorbankan dirinya dengan keluar masuk penjara atau dibuang oleh Belanda ke berbagai tempat yang jauh di Indonesia. Setelah Beliau memproklamasikan negara ini, Beliau dan para pendiri negara ini juga harus berjuang keras baik menghadapi Belanda yang masih berkeinginan merebut negara ini maupun bangsa sendiri yang melakukan pemberontakan terhadap NKRI. Jadi, memang tidak ada waktu istirahat untuk menikmati sebuah kemerdekaan. Kita yang mendapat warisan bangsa dan negara ini harus punya niat untuk melakukan perbaikan dan perubahan. Kalau tidak kita akan terus-menerus menjadi bangsa yang cuma teriak `merdeka!` tetapi perut anak bangsa ini kembung karena terkena penyakit busung lapar. Mereka busung lapar karena tidak mendapatkan asupan makanan yang bergizi. Bagaimana mau makanan yang bergizi kalau bangsa ini telah menjadi `bangsa kacung` atau `negara gagal`. Agar terhindar dari `bangsa kacung` dan `negara gagal`, mau tidak mau kita bangun bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki delapan belas nilai pendidikan karakter. Semoga saja hal itu bisa diwujudkan. Wallahu a`lam bissawab.

MEMBANGUN KEPEMIMPINAN

Subagio S. Waluyo

………………………………………………………………………..

Semestinya dan sepatutnya, indikator sukses seseorang dilihat juga dari sejauh mana manfaat seseorang bagi orang lain dan bukan semata manfaat material. Semestinya, seseorang tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri atau keluarga dan kelompoknya. Bahkan, yang bersangkutan juga mampu menahan kepentingan dirinya jika ternyata kepentingan pribadinya merusak keseimbangan hubungan sosial. Sepatutnya, setiap individu mampu menempatkan diri secara proporsional sehingga kehidupan sosial berlangsung dalam suasana saling menghormati dan menghargai. Modal sosial menjadi sesuatu yang sangat berharga jika setiap individu mampu  memberi, berbagi, peduli, dan memaafkan.

(Ichsanuddin Noorsy, Bangsa Terbelah, 2019:5)

***

Kalau ditelusuri secara teliti, media kita baik cetak, elektronik, maupun online dalam pemberitaannya tidak lepas dari liputan pelanggaran moral atau boleh juga berkaitan dengan kasus-kasus kriminal. Kasus-kasus kriminal yang ada di sekitar kita baik dari segi kuantitas maupun kualitas terjadi peningkatan. Coba saja kita perhatikan kasus-kasus yang berkenaan dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) walaupun sudah ada KPK tetap saja ada bahkan akhir-akhir ini ada kecenderungan meningkat. Orang seperti merasa tidak jera untuk melakukan KKN. Sebagai buktinya, berbarengan dengan desentralisasi, pelaku-pelaku KKN juga semakin meluas, merata ke semua kota dan kabupaten di Indonesia. Pelaku-pelaku KKN bukan hanya pejabat-pejabat negara di pusat, pejabat-pejabat di daerah seperti gubernur, walikota, bupati, dan para bawahannya juga melakukan KKN. Bahkan, biar jangan sampai dikatakan `ketinggalan zaman` banyak juga anggota dewan yang ikut-ikutan KKN.

Bukan hanya KKN yang meningkat, pelanggaran HAM, pelecehan seksual, pornografi, penggunaan narkoba, pelacuran, pemerkosaan, penipuan, dan segala macam bentuk tindak kriminal juga terjadi peningkatan. Pelaku-pelaku tindak kriminal bukan saja dari kalangan tidak terdidik, sampai-sampai seorang akademis pun tidak mau ketinggalan melakukan hal yang sama. Bahkan, ada seorang yang tergolong intelektualnya sudah `mumpuni` karena memiliki gelar akademik tertinggi (Profesor, Doktor) lulusan PT ternama di AS, tetapi mudah ditipu oleh orang yang mengaku bisa menggandakan uang (mungkin juga atau boleh jadi `sang orang pintar itu` menjadi sutradara atau dalangnya yang menggunakan orang lain untuk menjalankan skenarionya?). Jadi, negara kita tercinta ini sudah beragam bentuk tindak kriminalnya.

***

Segala macam bentuk tindak kriminal yang terjadi di negara ini selayaknya menjadi PR kita dengan mengajukan dua pertanyaan: mengapa negara yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa ini rakyatnya banyak melakukan tindak kriminal? dan bagaimana cara menyelesaikannya? Baik pertanyaan mengapa maupun bagaimana dalam memberikan jawaban selalu dikaitkan dengan bentuk tindak kriminalitasnya. Artinya, tindak kriminalitas yang satu dengan yang lain pasti berbeda faktor penyebab dan penyelesaiannya. Tetapi, jangan lupa ada benang merah yang bisa dikaitkan satu dengan yang lain, yaitu adanya faktor kepemimpinan di negara ini yang mengalami penurunan. Dengan kata lain, banyak para pemimpin di negara ini telah kehilangan pamornya sebagai pemimpin. Bukankah memang setiap pemimpin seharusnya memiliki jiwa kepemimpinan? Tanpa jiwa kepemimpinan, seorang pemimpin kehilangan pamornya yang merembet pada kehilangan pengikut (Efriza, Kekuasaan Politik, 2016:189). Boleh juga kalau mau dikatakan, banyak pemimpin di negara ini telah kehilangan integritas dirinya atau mengalami dekadensi moral.

Pemimpin di negara ini banyak yang terkena sindrom dekadensi moral karena masalah yang satu ini sudah menjadi fenomena sosial. Dikatakan menjadi fenomena sosial karena memang sudah  menjadi gejala umum dan bukan lagi hanya kasus tetapi sudah tampak di banyak tempat bahwa sebagian para pemimpin di negara ini sudah terkena penyakit dekadensi moral. Kalau ada pemimpin yang terkena penyakit tersebut, apa yang akan terjadi pada orang-orang yang dipimpinnya? Sudah bisa dijawab, orang-orang yang dipimpinnya juga akan terkena penyakit yang sama. Ingat, bangsa ini masih kuat ikatan patronasmenya. Hal ini bisa dibuktikan masih adanya pandangan sebagian besar dari bangsa kita bahwa atasan diibaratkan sebagai seorang bapak yang wajib `digugu lan ditiru`. Karena wajib `digugu lan ditiru`, adalah sangat pantangan bagi seorang bawahan menentang atasannya sehingga sikap tersebut melahirkan sikap `Asal Bapak Senang` (ABS). Sikap ABS bukan hanya pandangan bawahan terhadap atasan, di dunia pendidikan juga masih ada sikap semacam itu sehingga bagi seorang siswa/mahasiswa pantangan untuk menentang pendapat guru/dosennya. Semua yang dikatakan guru/dosennya walaupun bertentangan dengan hati nurani sang siswa/mahasiswa tidak boleh ditentang. Harus diterima, kalau perlu ditelan mentah-mentah, karena guru/dosen itu ibarat orang suci yang jauh dari kesalahan. Dengan demikian, di dunia pendidikan ada penyakit jumud.

Penyakit jumud yang dimanifestasikan dalam perilaku ABS di semua bidang kehidupan, mau tidak mau menumbuhsuburkan sindrom dekadensi moral. Sindrom dekadensi moral karena di-back up oleh perilaku patronasme yang dimulai dari para pemimpin negeri ini lambat-laun menyebar juga ke kalangan masyarakat. Akhirnya, kita menyaksikan sendiri begitu banyak tindakan kriminal yang dilakukan berbagai lapisan masyarakat negeri ini. Tindakan kriminal dilakukan bukan saja orang-orang yang telah lanjut usia atau dewasa tetapi juga anak-anak di bawah umur. Selain itu, pelaku-pelakunya bukan hanya orang miskin dan tidak berpendidikan, orang-orang yang tergolong kalangan atas dan terdidik juga tidak luput melakukan tindakan kriminal.  Untuk itu perlu ditekankan, tersebarnya sindrom dekadensi moral yang pada akhirnya memunculkan penyakit-penyakit sosial yang bernama tindakan kriminal dimulai dari pemimpin-pemimpin negeri ini. Bukankah pemimpin merupakan panutan kalau sang pemimpin sebagai panutannya melakukan tindakan kriminal, wajar-wajar saja bawahannya melakukan hal yang sama?

***

Kalau ada pertanyaan tentang apakah memang tidak ada aturan dan tindakan berupa hukuman bagi pelaku-pelaku tindakan kriminal? Jawabannya tidak perlu bertele-tele, aturan yang mengatur tentang hukuman bagi orang yang melakukan tindakan kriminal sudah ada dan Insya Allah lengkap karena mencakup semua bentuk tindakan kriminal. Begitu juga dengan tindakan hukuman sudah banyak pelaku tindakan kriminal yang harus diseret ke meja hijau sehingga kantor-kantor pengacara dan pengadilan tidak pernah sepi. Tidak heran juga jika di negeri ini semakin banyak orang menjadi pengacara karena bisnis di bidang advokasi memang benar-benar menjanjikan. Para jaksa dan hakim berikut para asistennya juga makin sibuk dan makin kaya dengan adanya peningkatan tindakan kriminalitas.

Tindakan-tindakan konkrit dengan memejahijaukan pelaku-pelaku tindakan kriminal juga boleh dilakukan. Tetapi, kalau semua itu tidak ada efek jera yang ditandai dengan adanya penurunan tindakan kriminal apa artinya semua itu? Melihat semua itu kita tidak boleh berputus asa karena harapan itu masih ada. Butuh waktu panjang untuk memperbaiki kondisi bangsa ini. Satu hal yang perlu kita lakukan untuk memperbaiki bangsa ini agar terbentuk pemimpin yang jauh dari penyakit dekadensi moral atau tidak memiliki integritas diri adalah melalui pendidikan.

Pendidikan ditujukan pada anak bangsa ini yang sekarang duduk di bangku TK sampai dengan PT. Untuk orang-orang tua yang sudah kadung terkena imbas penyakit orde baru sudah tidak mungkin diperbaiki. Mereka-mereka ini umurnya `kan tinggal sepertiga lagi dari usia yang dijalankan. Mungkin beberapa tahun ke depan seiring dengan berbagai penyakit yang mulai menggerogoti tubuhnya sudah tidak mungkin lagi mereka-mereka ini melakukan tindakan kriminal yang sangat membahayakan. Seandainya ada sebatas penumpukan harta di luar negeri sebagai bukti mereka-mereka ini keturunan `Qarun Sang Kapitalis`. Jadi, tingkat efektivitasnya melakukan tindakan kejahatan meskipun masih ada sudah tidak sehebat dulu ketika masih muda. Syukur-syukur semakin tua semakin dekat mereka pada Tuhan sehingga mereka benar-benar berhenti dari tindakan kriminal. Selain itu, mereka juga mau mengajak orang-orang yang lebih muda agar tidak mengikuti langkah-langkahnya di masa muda dulu. Kalau itu mereka lakukan, tidak mungkin lagi ada dinasti-dinasti di negara ini yang keturunannya mengaku masih darah biru dari trah pejabat atau penguasa tertentu.

***

Di atas telah dijelaskan bahwa melalui pendidikan masih ada harapan untuk memperbaiki bangsa ini. Kita awali dari pendidikan karena kita telah sama-sama mengetahui bahwa meningkatnya angka kriminalitas di negara ini tidak bisa dilepaskan dari gagalnya pendidikan kita. Kita berani katakan pendidikan kita gagal membentuk manusia Indonesia yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa dan berkemanusiaan yang adil dan beradab karena selama ini guru-guru kita kurang menanamkan kebaikan. Guru-guru kita karena mungkin arahan dari kurikulum pendidikan yang ada atau pengaruh lingkungan lebih banyak memasukkan ke otak anak-anak didik kita ilmu. Itu pun hasilnya masih diragukan karena kompetensi anak-anak didik kita secara keilmuan juga masih dinilai kurang. Seandainya, ada di antara anak-anak didik kita yang memiliki kompetensi memadai itu pun datangnya dari sekolah-sekolah yang memang dikenal sekolah-sekolah unggulan. Jadi, anak-anak didik kita selain secara keilmuan diragukan kompetensinya, secara perilaku juga dinilai kurang karena banyak perilaku yang tidak sesuai dengan predikat mereka sebagai orang terpelajar.

Salah satu cara untuk memperbaiki anak-anak didik kita agar mereka-mereka ini nantinya menjadi pemimpin bangsa yang memiliki kriteria kepemimpinan yang memadai adalah menanamkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan fondasi utama dalam Kurikulum 2013 yang baru saja diterapkan satu atau dua tahun belakangan ini. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah nantinya dimasukkan ke dalam semua mata pelajaran. Atau, dengan kata lain, dalam proses pembelajaran di sekolah nantinya selalu dikaitkan dengan pendidikan karakter. Dimaksudkan dengan pendidikan karakter  menurut Suyanto ialah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara. (http://belajarpsikologi.com/ pengertian-pendidikan-karakter/). Dari definisi tersebut kita perlu menggaris-bawahi bahwa dalam pendidikan karakter bukan hanya cara berpikir yang ditekankan, tetapi juga cara berperilaku. Dengan demikian, pendidikan karakter itu tidak semata-mata bertujuan menciptakan manusia Indonesia yang pintar dan cerdas, tetapi juga memiliki perilaku atau karakter sebagai manusia yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa dan berkemanusiaan yang adil dan beradab.

***

Ada delapan belas nilai-nilai dalam pengembangan budaya dan pendidikan karakter bangsa. Kedelapan belas nilai-nilai itu, yaitu relijius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Kesemua nilai-nilai itu memang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Meskipun semua nilai itu sudah bukan hal yang asing buat kita, selama ini kita cenderung mengabaikannya. Akibatnya, sekarang kita bisa merasakan bahwa moral bangsa sudah demikian parah. Karena kita masih ada harapan, mau tidak mau kita semua harus mau mengawal dan mengawasi jalannya pelaksanaan implementasi penanaman nilai-nilai pendidikan karakter  baik di sekolah-sekolah maupun perguruan-perguruan tinggi kita. Kalau pendidikan karakter ini benar-benar bisa diwujudkan, kita yakin akan ada perubahan terhadap pemimpin-pemimpin bangsa ini di masa depan. Kita berharap mudah-mudahan saja di masa depan tidak ada lagi pemimpin-pemimpin yang memiliki motivasi ekstrinsik sehingga tidak ada lagi pemimpin yang selalu jaga imej alias `jaim`. Atau pemimpin-pemimpin yang bermoral rendah karena telah kehilangan jati dirinya. Semoga saja semua keburukan yang ada pada pemimpin-pemimpin kita saat ini dengan adanya pendidikan karakter benar-benar di masa depan tergantikan oleh pemimpin-pemimpin yang cerdas, pintar, dan berperilaku mulia.Wallahu a`lam bissawab. 

MEMBANGUN KREATIVITAS

Subagio S. Waluyo

………………………………………………………………………..

Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,
atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi !!”

(“Sajak Seonggok Jagung” oleh WS. Rendra)

***

Masa depan adalah hasil kreativitas. Masa depan sesuatu yang tidak kita ketahui karena semuanya masih tanda tanya. Boleh juga dikatakan masih samar-samar. Masa depan dikatakan samar-samar karena manusia itu serba terbatas kemampuannya. Keterbatasan itu tidak boleh menjadikan kita menjadi manusia yang pasrah terhadap nasib atau fatalis. Kita harus kerja keras untuk menerobos yang masih samar-samar. Kerja keras di sini mencakup kerja fisik, kerja otak, dan kerja ruh/rohani/jiwa. Karena kita berupaya menyeimbangkan ketiga faktor itu (kerja fisik, otak, dan rohani), muncullah sebuah kreativitas.

Hasil perpaduan ketiga faktor di atas akan menghasilkan kreativitas yang memiliki nilai tambah. Jika demikian, apakah ada kreativitas yang tidak memiliki nilai tambah (nilai kurang)? Ada, yaitu kreativitas yang hanya bermodalkan fisik dan otak. Kerja yang hanya bermodalkan dua faktor tersebut menghasilkan sebuah kreativitas yang tidak ada unsur/kurang unsur positifnya. Ini yang disebut sebagai kreativitas yang memiliki nilai kurang (boleh juga negatif). Katakanlah ada sebuah seni kreatif yang kata sebagian orang ahli seni memiliki nilai luar biasa. Tetapi, ada kevulgaran yang memberi efek negatif dari sisi etika/moral, jelas kreativitas seperti ini termasuk kreaativas yang nilainya minus. Meskipun di bidang sains dan teknologi (sainstek), dengan ditemukannya nuklir bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan sesama manusia, yaitu bisa digunakan di dunia kesehatan, industri tekstil, atau pertanian/perkebunan, karena sainstek itu netral, bisa saja digunakan untuk membuat alat pembunuh massal sesama manusia, seperti yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki ketika kedua kota di Jepang itu dibombardir Amerika di Perang Dunia II.

Sebagai makhluk sosial, manusia pasti menginginkan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, kenyamanan, dan keamanan. Untuk mencapai itu semua dibutuhkan kerja-kerja kreatif. Kerja-kerja kreatif yang kita lakoni jelas kerja kreatif yang mengarah ke nilai-nilai positif. Masa depan yang masih samar-samar bagi kita tidak boleh sama sekali menyurutkan niat kita untuk melakukan kerja-kerja kreatif yang memberikan nilai tambah. Untuk bisa melakukan kerja-kerja kreatif kita harus memiliki tiga modal utama, yaitu kemauan, kemampuan, dan keterampilan.

Kita tahu bahwa kondisi kekinian negara kita boleh dikatakan acakadul. Apakah dengan kondisi acakadul kita berdiam diri sehingga kita cenderung berat kepala dan berat kaki? Kalau ada orang benar-benar berat kepala dan berat kaki berarti orang tersebut tidak punya kemauan. Orang yang tidak punya kemauan jelas tidak akan bisa melakukan kerja-kerja kreatif. Jadi, kemauan lebih merupakan landasan utama untuk bisa berkreativitas. Kemauan yang boleh dikatakan menggebu-gebu tanpa disertai kemampuan yang ada juga akhirnya hanya `seperti katak hendak menjadi lembu`. Artinya, orang kecil yang bercita-cita terlalu tinggi, akhirnya binasa oleh karena cita-citanya itu. Kemauan sudah ada. Kemampuan juga tidak kurang-kurangnya. Tetapi, tidak punya keterampilan, orang seperti ini ada kemungkinan ketika dia bekerja akan cenderung lamban. Selain itu, karena lamban, dia akan tertinggal jauh dari orang lain. Dengan demikian, hasil kerjanya pun terbilang tidak/kurang memadai sehingga tidak mustahil sering tidak mencapai target. Seandainya berkarya, hasil karyanya sudah jadul (kadaluwarsa).

***

Kreativitas harus dibangun dari tiga faktor di atas. Untuk punya kemauan, orang harus banyak diberi motivasi. Motivasi menurut Hadari Nawawi dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia (2003:359) bisa diberikan dalam bentuk motivasi intrinsik (pendorong kerja yang bersumber dari dalam diri pekerja sebagai individu) dan motivasi ekstrinsik (pendorong kerja yang bersumber dari luar diri pekerja sebagai individu). Dalam prakteknya motivasi ekstrinsik lebih banyak digunakan daripada motivasi intrinsik. Hal itu lebih disebabkan oleh tidak mudahnya menumbuhkan kesadaran dari dalam diri seseorang. Untuk bisa kerja kreatif seseorang harus lebih mengutamakan motivasi intrinsik daripada motivasi ekstrinsik. Kalau lebih mengutamakan motivasi ekstrinsik, orang tersebut akan selalu meminta kompensasi untuk melakukan aktivitas. Karya-karya besar hasil kerja kreatif manusia selama ini lebih disebabkan oleh adanya kemauan sendiri dari orang menciptakan karyanya. Karya-karya yang diciptakan atas dasar adanya kompensasi biasanya tidak terlepas dari adanya iming-iming atau boleh juga pesanan. Karya-karya pesanan tidak memiliki nilai lebih karena karya tersebut telah dicampuri oleh keinginan orang yang memberi pekerjaan. Bayangkanlah kalau negara dibangun oleh pemimpin yang lebih mengutamakan motivasi ekstrinsik akan seperti apa pemimpin tersebut dalam menjalankan pemerintahannya? Dia akan memiliki mental `jaim` alias `jaga imej` (pencitraan). Kemana saja dia melakukan aktivitas, dia selalu minta dipublikasikan media massa, baik media cetak maupun online. Media-media massa yang sudah `doyong` ke fulus memang tidak lagi punya idelogi. Ideologinya `kan memang ideologi `wani piro`. Sementara itu, sang pemimpin tidak mustahil dia juga punya mental yang rendah, yaitu mental peminta-minta (pengemis). Untuk memenuhi APBN, karena dari pajak dan beacukai sudah tidak memenuhi target, akhirnya harus meminta bantuan ke negara-negara donor yang berjiwa kapitalis dan liberalis.

Setelah memiliki kemauan yang dibangun atas dasar motivasi intrinsik, seseorang yang mau melakukan kerja-kerja kreatif juga harus memiliki kemampuan (potensi diri). Untuk bisa memiliki potensi diri, seseorang minimal mengenal tujuh potensi diri berikut ini.
1. Kenali diri sendiri
2. Tentukan tujuan hidup
3. Kenali motivasi hidup
4. Hilangkan negative thinking
5. Jangan mengadili diri sendiri
6. Bertanya kepada orang yang terdekat
7. Banyak membaca, melihat, dan merasakan
Langkah selanjutnya, kalau sudah mengenal potensi diri, seseorang harus melakukan pengembangan diri. Langkah-langkah penting yang dilakukan dalam pengembangan diri di antaranya sebagaimana terlihat pada butir-butir berikut ini.
1. Harus diawali dengan niat
2. Harus berpikir positif dalam setiap hal
3. Harus memiliki komitmen
4. Jangan menganggap remeh orang lain
5. Menerima saran, kritik, dan masukan yang membangun dari orang lain
6. Konsisten terhadap apa saja yang telah dilakukan
7. Meyakini bahwa setiap orang bisa melakukan sesuatu
(http://tipsyoman.blogspot.co.id/2012/12/cara-mengembangkan-potensi-diri.html).

Di luar itu semua, sebagai makhluk yang ber-Tuhan, kita harus meyakini bahwa manusia diciptakan Sang Khalik dengan berbagai kelebihan yang justru tidak dimiliki makhluk-makhluk lain. Salah satu yang diberikan Tuhan, yaitu akal. Dengan akal inilah manusia bisa mengembangkan potensi dirinya kalau memang masih ada keinginan dan kesempatan untuk menggunakannya.

***

Faktor terakhir yang tidak kalah pentingnya dalam melakukan kerja-kerja kreatif adalah keterampilan. Kita tahu di era globalisasi ini segalanya serba cepat dan terukur. Untuk bisa mengantisipasinya dibutuhkan kerja-kerja terampil. Keterampilan itu sendiri beragam. Kali ini kita konsens pada keterampilan kepemimpinan yang lebih ditujukan pada diri sendiri. Untuk bisa mengembangkan kepemimpinan pada diri sendiri diperlukan sepuluh langkat berikut ini.
1. Rendah hati
2. Menentukan tujuan
3. Berusaha keras untuk mencapai yang terbaik
4. Mempertahankan posisi
5. Belajar dari kesalahan
6. Berpikiran terbuka
7. Percaya diri
8. Bersedia untuk memberi
9. memenuhi janji
10. mendengarkan

Di samping kesepuluh butir di atas, seseorang yang mau melakukan kerja-kerja kreatif (termasuk untuk kerja kreatif seorang pemimpin), harus punya konsenstrasi menjadi orang yang baik dengan bersikap jujur pada diri sendiri. Sebagai tambahan, orang tersebut sepanjang hidupnya harus bisa membimbing diri sendiri dengan baik (reniem.blogspot.com).
Dengan melihat uraian di atas, memang tidak mudah melakukan kerja-kerja kreatif. Sebuah kreativitas tidak bisa dilakukan secara instan seperti kita ingin makan mi (indomie, supermie) atau makanan cepat saji. Dia perlu proses. Ada yang memang cepat prosesnya, ada juga yang lambat. Baik proses yang cepat maupun lambat semuanya harus berangkat di awal sekali adanya kemauan yang lebih didominasi oleh motivasi intrinsik. Termasuk ke dalam motivasi intrinsik ini seseorang harus menyingkirkan jauh-jauh pola pikir yang semuanya ingin serba instan. Atau orang yang tidak mau berlelah-lelah untuk melakukan aktivitas. Mindset kita yang cenderung untuk, misalnya, melakukan sesuatu dengan serba instan (meminjam istilah yang dipakai Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, mental menerabas) harus dihilangkan. Seandainya mindset kita masih `doyong` ke mentalitas menerabas, kita jangan berharap akan bisa melakukan kerja-kerja kreatif atau bahkan membangun kreativitas. Membangun kreativitas membutuhkan perubahan mindset yang semula ingin segalanya serba instan harus diubah menjadi kerja yang membutuhkan proses, waktu, dan kesabaran. Dengan demikian,membangun kreativitas membutuhkan proses kreatif bukan membutuhkan `karbit` sehingga menghasilkan kerja-kerja `karbitan` (instan). Semoga saja hal itu tidak terjadi!

BERKISAH TENTANG KEPEDULIAN

Subagio S.Waluyo

Umar bin Abdul Aziz pernah berujar kepada istrinya, Fathimah, tatkala sang istri bertanya mengapa dia menangis.

“Celakalah wahai Fathimah, aku ini dibebani urusan umat. Aku memikirkan orang fakir yang kelaparan;orang sakit yang hilang harapan; orang yang tiada memiliki pakaian; anak yatim yang kesusahan; orang yang terzalimi dan tertindas; orang yang terasing dan tawanan; para lansia dan janda; orang berkeluarga banyak dengan penghasilan pas-pasan; dan masih banyak lagi yang seperti mereka di seluruh penjuru negeri. Aku menyadari bahwa Tuhanku akan menanyaiku tentang mereka di hari kiamat kelak. Dan Nabi Muhammad membela mereka menghadapiku kelak. Aku khawatir tidak berdaya menyampaikan alasanku sehingga aku pun menangis karenanya.”

***

Umar bin Abdul Aziz banyak orang menyebutnya sebagai khalifah kelima setelah Ali bin Abi Thalib RA. Beliau menjadi khalifah di masa kekuasaan Dinasti Bani Umayah menggantikan khalifah terdahulu: Sulaiman bin Abdul Malik. Sulaiman bin Abdul Malik merupakan saudara sepupu Umar bin Abdul Aziz. Sulaiman bin Abdul Malik memiliki kedekatan dengan Umar bin Abdul Aziz. Disebutkan kalau Sulaiman bin Abdul Malik selaku khalifah dalam banyak hal selalu meminta fatwa (pendapat) dari beberapa orang saleh. Salah satu di antaranya adalah Umar bin Abdul Aziz. Diangkatnya Umar bin Abul Aziz oleh Sulaiman bin Abdul Malik lebih karena ketakwaan, kesalehan, dan keadilannya. Tiga modal utama itulah yang menjadi pilihan utama Sulaiman bin Abdul Malik memahkotai amal-amal salehnya dengan mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah (Abdussyafi Muhammad Abdul Latif dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, 2014:217).

Pilihan Sulaiman bin Abdul Malik mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya ternyata sebuah pilihan yang sangat tepat. Hal itu terbukti, walaupun Umar bin Abdul Aziz berkuasa sebagai khalifat relatif sangat singkat (99-101H/ 717-720M), dalam masa yang demikian singkat itu beliau melakukan banyak perubahan dan perbaikan. Seluruh potensi dan kemampuannya dikerahkan dan seluruh hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk melakukan reformasi urusan kenegaraan, stabilitas keamanan, pemerataan kesejahteraan, dan penegakan keadilan di semua lapisan masyarakat. Untuk bisa mewujudkan semua itu, Umar bin Abdul Aziz selaku khalifah menerapkan:
1. penjagaan harta umat Islam;
2. efisiensi dalam penggunaan waktu dan tenaga;
3. cepat dalam menangani berbagai urusan;
4. penyederhanaan birokrasi;
5. penyeleksian hakim, kepala daerah, dan pejabat publik;
6. penghapusan semua aktivitas yang tidak sejalan dengan semangat Islam;
7. mewujudkan keseimbangan di tengah masyarakat; dan
8. melakukan dialog peruasif dengan para pemberontak (Abdussyafi, 2014:2019).
Hasilnya adalah kekhalifahan yang menjadi kebanggaan Islam dan umat Islam. Bahkan, bukan hanya umat Islam, umat-umat lainnya pun turut merasa bangga dan bersyukur.

Dialog Umar bin Abdul Aziz dengan istrinya, Fatimah bin Abdul Malik, tampak jelas kepedulian Umar bin Abdul Aziz terhadap nasib umatnya. Umar yang diberi amanah selaku khalifah memikirkan nasib umatnya terutama yang fakir miskin. Mereka yang sakit, yang tidak memiliki pakaian, yang tergolong anak-anak yatim, yang terzalimi, singkatnya mereka yang teralienasi yang semua itu menjadi beban pikiran Umar selaku khalifah. Bagi khalifah-khalifah terdahulu masalah nasib orang-orang kecil yang teralienasi kurang diperhatikan. Tapi, tidak demikian bagi Umar bin Abdul Aziz. Pertanggungjawabannya di akhirat ketika nanti berhadapan dengan Sang Khalik menjadi beban pikirannya. Ini sebuah bukti, betapa Umar bin Abdul Aziz selaku khalifah memiliki kepedulian pada nasib umatnya. Bagaimana dengan pimpinan-pimpinan bangsa di zama kiwari? Yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana cara memperkaya diri. Boleh jadi tidak level membandingkan Umar bin Abdul Aziz selaku khalifah dengan pimpinan-pimpinan negara sekarang yang cenderung egois, hedonis, dan serba permisif yang juga diragukan sampai sejauh mana rasa kenegarawanannya.

***

Pimpinan negara (termasuk ke dalamnya pimpinan daerah) yang cenderung egois, hedonis, dan serba permisif jelas tidak akan memiliki kepedulian. Bagaimana punya kepedulian kalau masih seperti itu perilakunya? Untuk bisa memiliki kepedulian, baik pimpinan negara maupun daerah harus terbebaskan dari perilaku-perilaku negatif yang disebutkan di atas. Kalau masih bersemayam perilaku-perilaku negatif, tidak mustahil anak bangsa ini lambat-laun juga memiliki perilaku yang sama (boleh jadi saat ini anak bangsa telah terjangkit perilaku-perilaku negatif itu). Tidak mustahil anak bangsa ini akan terjangkit penyakit tidak peduli alias penyakit `cuek-bebek.` Tidak aneh kalau berbagai penyakit sosial di masyarakat tidak bisa diberantas. Korupsi, misalnya, sampai saat ini semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya. Kenapa bisa demikian? Jawabannya singkat saja, masyarakat kita saat ini yang sudah terlanjur terbelit perilaku egois, hedonis, dan serba permisif menjadi penghalang utama dalam mencegah (termasuk memberantas) tindak pidana korupsi (tipikor).

Tembok penghalang yang bernama perilaku (boleh juga penyakit) sosial itu harus dibersihkan. Penyakit yang sudah kronis itu, nyaris sudah menjadi kanker, harus benar-benar dibersihkan sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai ada yang tersisa karena kalau sampai tersisa tidak mustahil suatu saat akan muncul lagi. Bagaimana caranya? Sebelum kita bahas caranya perlu kita sepakati bersama yang tergolong masyarakat itu siapa saja? Kita perlu melakukan pembagian pengelompokan masyarakat itu karena terapi yang dilakukan berbeda antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lainnya. Dalam hal ini yang termasuk masyarakat terbagi dalam lima kelompok, yaitu:
1. masyarakat yang masuk ke dalam kelompok akademis di perguruan tinggi (PT) ;
2. masyarakat yang terlibat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM);
3. masyarakat yang terlibat dalam organisasi massa (ormas);
4. masyarakat yang terlibat dalam pers, baik yang di media sosial maupun media mainstream; dan
5. masyarakat lingkungan (RT,RW, kampung).

***

Masyarakat akademis ditempatkan paling atas karena mereka sebagai orang terpelajar adalah orang yang sudah terbiasa membagi pengetahuan. Karena sudah terbiasa membagi pengetahuan, mereka diharapkan juga bisa melakukan, bahkan, bisa menjadi agen perubahan. Terbukti memang negara ini bisa dibebaskan dari penjajahan di antaranya karena peran para intelektual. Termasuk dalam hal ini peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru sampai dengan peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi juga karena peran para intelektual yang datang dari PT. Tidak aneh kalau kehadiran mereka sangat dinanti-nantikan oleh semua kalangan. Kiprah mereka di PT lewat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat tertantang untuk melakukan perubahan. Kehadiran kalangan akademis sebagai social changes benar-benar sangat diharapkan. Meskipun di antara mereka banyak juga terkena sindrom penyakit sosial seperti yang disebutkan di atas, karena terpanggil untuk melakukan perbaikan, tidak mustahil mereka bisa mengenyampingkan dulu penyakit-penyakit sosial (meskipun juga tidak sedikit yang tersembuhkan dari berbagai penyakit sosial). Selain itu, masih cukup banyak kalangan akademis yang tergolong bersih dari penyakit-penyakit sosial. Mereka-mereka yang mengabdikan tenaga, pikiran, dana, dan waktunya untuk kepentingan akademis sangat mudah untuk peduli membenahi carut-marut bangsa ini sebagaimana disampaikan oleh Pierre Bourdiou dan Julian Benda berikut ini.

Menurut Pierre Bourdiou filsuf asal Perancis, kaum intelektual memiliki kekuasaan melalui ide-ide atau pengetahuan dalam sebuah masyarakat untuk membongkar struktur kekuasaan yang selalu mendominasi atau menindas masyarakat yang lemah merupakan pertarungan modal yang tersalurkan melalui arena, baik di masyarakat itu sendiri maupun di dalam dunia akademik, hingga pada akhirnya dapat membentuk habitus kaum intelektual. Habitus sendiri merupakan reproduksi dari sejarah. Di mana habitus kaum intelektual terjalin dengan kekuasaan ide-ide dan realitas yang ia tempati.

Sedangkan peran sosial kaum intelektual adalah untuk menyampaikan pandanganya kepada publik dalam hal masalah-masalah sosial yang dialami masyarakat.

Menurut Julien Benda, dalam kehidupan sosial, peran intelektual menjadi gambaran penting untuk melancarkan kritik dengan cara pandangannya di saat ia menelaah persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehingga dari situ sebagai kaum intelektual mereka dapat menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Intelektual memiliki peran sebagai orang yang selalu berbuat untuk kepentingan masyarakat dan bukan selalu berdiam diri ketika terjadi pertikaian di kepentingan tertentu. Itu artinya, habitus dibentuk melalui pertautan antara pengetahuan dan kenyataan.

(https://grahafilsafat.wordpress.com/2018/01/05/peran-akademik-dan-sosial-kaum-intelektual/)

Gambaran ideal orang-orang akademis dari PT seperti yang disampaikan oleh Pierre Bourdiou dan Julien Benda memang harusnya seperti itu, yaitu orang-orang yang mempunyai peran untuk melancarkan entah kritik atau pandangannya. Mereka demi melihat adanya ketimpangan dalam kehidupan sosial tidak bisa berdiam diri. Mereka ingin berbuat demi kepentingan masyarakat. Kalau perlu mereka melalui pengetahuan dan ide-ide yang dimilikinya melawan tirani kekuasaan yang menindas masyarakat. Tapi, apakah perlawanan mereka menghadapi tirani kekuasaan didukung penuh oleh sivitas akademika di PT-nya? Ternyata, tidak semua insan akademis mengapresiasi yang mereka perjuangkan. Boleh jadi sebagian besar insan akademis karena merasa nyaman bersemayam di `menara gading` cenderung bersikap `cuek bebek`. Biasanya mereka yang bersikap demikian lebih dikuasai oleh kehidupan yang serba materialistis sehingga tidak aneh kalau kalangan akademis jenis ini termasuk orang-orang yang terkena sindrom penyakit-penyakit sosial (egois, hedonis, dan permisif). Mereka telah hilang sikap idealismenya.

***

Di masa Orde Baru kalangan akademis (entah mahasiswa atau dosen) yang idealis,yang ingin memperjuangkan idealismenya memasuki berbagai LSM. LSM yang mereka masuki tentu saja bukan LSM plat merah (LSM milik pemerintah). LSM plat merah baik di masa Orde Baru maupun Reformasi tidak pernah berubah, yaitu lebih memperjuangkan aspirasi pemerintah daripada memperjuangkan aspirasi rakyat. Kalangan akademis yang telah hilang idealismenya lebih cenderung memasuki LSM-LSM plat merah karena LSM-LSM plat merah benar-benar menjadi lumbung meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Tidak sedikit di antara mereka yang berkiprah di LSM-LSM plat merah yang direkrut penguasa menjadi pejabat-pejabat tinggi di negara ini. Meskipun demikian, para akademisi yang berkiprah di LSM-LSM bukan plat merah juga banyak yang direkrut penguasa. Karena iming-iming kekuasaan yang tentu saja juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan hidupnya, tidak sedikit dari mereka yang memelacurkan dirinya sehingga mereka menjadi bagian dari kekuasaan yang sebelumnya diperanginya.

Bicara tentang idealisme, baik kalangan insan akademis yang berkiprah di PT, LSM, ormas, maupun pers kalau dalam diri mereka masih ada prinsip `aji mumpung`, tergoda kehidupan dunia yang serba gemerlap, atau terpancing pada budaya konsumtif tidak mustahil akan goyah idealismenya (bisa juga imannya). Mereka yang berkiprah di dunia pers meski ketika mereka masih menjadi mahasiswa aktif di dunia pers kampus sangat idealis, begitu masuk ke dunia kerja (kebetulan pekerjaannya berhubungan dengan dunia pers) tidak sedikit juga di antara mereka yang tergerus idealismenya. Jadi, mempertahankan idealisme baik mereka yang di PT, LSM, ormas, maupun pers memang sulit. Di sini dibutuhkan komitmen dan konsistensinya. Justru, kedua hal ini yang demikian mudah diucapkan ternyata sulit dipraktekkan. Buktinya, berapa banyak insan akademis dari PT, LSM, ormas, atau pers yang masih bisa bertahan dengan idealismenya? Karena banyak di antara mereka yang telah memelacurkan dirinya, tidak usah heran kalau berbagai permasalahan yang muncul di negara ini tidak kunjung selesai. Masalah korupsi, misalnya, masih masif prakteknya di Indonesia. Salah satu tudingan yang layak ditujukan di antaranya adalah tidak terlepasnya peran birokrat atau penyelenggara negara. Masalahnya menjadi semakin rumit ketika juga melibatkan pihak swasta. Menghadapi masalah itu pemerintah melakukan berbagai cara. Salah satu di antaranya adalah sinergitas pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh kepolisian, kejaksaan, dan KPK. Meskipun demikian, upaya ini ternyata belum maksimal sehingga tindak pidana korupsi dari hari ke hari semakin masif.

Pakar hukum pidana, Indriyanto Seno Adji, menilai, masifnya praktik korupsi di Indonesia memang tidak terlepas dari peran birokrat atau penyelenggara negara. Namun demikian, yang tidak kalah pentingnya juga tentunya adalah keterlibatan pihak swasta.

“Korupsi ini semakin masif dan ini tidak saja terlepas dari peran birokrat atau penyelenggaran negara, tetapi juga keterlibatan pihak swasta sebagai potensi kekuataan nonbirokrasi negara,” kata Indriyanto, di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Menurutnya, saat ini memang harus dilakukan banyak pembenahan oleh pemerintah. Utamanya pembenahan di bidang upaya penindakan dan pencegahan korupsi yang harus dilakukan secara bersama-sama.

“Dengan makna demikian masih banyak pembenahan yang harus dilakukan oleh Pemerintah. Dibutuhkan dua sinergitas pemberantasan korupsi,” ucap Indriyanto.

Pertama yaitu sinergitas dan paralelitas antara pencegahan dan penindakan. Kemudian yang kedua sinergitas dan sistem pemberantasan korupsi yang terintegrasi di antara Polri, Kejaksaan, dan KPK.

“Kontinuitas pemberantasan korupsi di antara tiga lembaga ini harus diakui belum maksimal dan optimal, sehingga ruang publik masih menganggap adanya divergensi kepentingan lembaga dalam pemberantasan korupsi,” kata Indriyanto.

(https://www.beritasatu.com/faisal-maliki-baskoro/nasional/662037/ pemberantasan-korupsi-di-indonesia-belum-sinergis)

***

Idealisme yang tergerus berakibat fatal, salah satu di antaranya korupsi yang semakin masif baik kuantitas maupun kualitasnya. Kalau kalangan akademis yang semula berkiprah di PT kemudian masuk ke berbagai LSM, ormas, dan pers saja sudah tergerus idealismenya, bagaimana dengan masyarakat biasa (masyarakat lingkungan)? Tidak ada lagi di hadapan mereka orang yang bisa dijadikan rujukan untuk menjadi orang yang peduli karena orang-orang yang intelektualnya memadai saja sudah seperti itu. Masih beruntung kalau di tengah-tengah mereka ada tokoh entah tokoh agama, tokoh masyarakat adat, atau orang yang dituakan yang konsisten menjaga perilakunya. Bagaimana kalau tidak ada sama sekali? Mereka akan semakin larut dengan kehidupan yang cenderung egois, hedonis, dan permisif. Perlu diketahui, masyarakat lingkungan (apa lagi kalau mereka tergolong orang-orang miskin) adalah masyarakat yang rentan terhadap berbagai penyakit sosial. Mereka selalu melihat orang dari yang tampak di hadapan mereka. Kalau orang yang dilihat itu dermawan, semua yang menempel di tubuh orang itu serba mewah dan mahal ditambah lagi orang itu berpangkat atau punya jabatan, di mata mereka lebih terpandang dari-pada orang biasa-biasa saja yang tampilannya juga biasa-biasa saja. Mereka memandang orang pada yang dilihatnya. Pikiran mereka masih jauh untuk melihat orang dari yang dikatakannya walaupun perkataannya mengandung kebenaran.

Pandangan-pandangan seperti itu yang harus diluruskan. Siapa yang bisa meluruskannya? Siapa lagi kalau bukan tokoh-tokoh agama, adat, atau masyarakat setempat (entah Ketua RT, RW, kepala desa, atau lurah) plus orang-orang akademis (bisa mahasiswa bisa dosen) yang mau turun ke tengah-tengah masyarakat. Semua orang yang terlibat di atas harus bisa menunjukkan dirinya sebagai orang-orang yang masih punya idealisme. Mereka-mereka adalah orang-orang yang bekerja tulus, tanpa pamrih, dan menunjukkan kejujuran dan kepeduliannya. Lewat orang-orang akademis yang tulus, tanpa pamrih, dan jujur serta peduli masyarakat yang tergolong rentan ini juga harus dicerdaskan. Pendidikan mereka yang minim (minim pendidikan umum dan agama) yang menjadi faktor rentan terkena penyakit sosial. Untuk itu, insan akademis lewat penelitian dan pengabdian pada masyarakat bisa melakukan aktivitas pembelajaran. Selain itu, LSM-LSM, ormas-ormas, dan kalangan pers yang diisi orang-orang yang masih punya idealisme juga boleh-boleh saja berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Sinergitas orang-orang akademis dari PT, LSM, ormas, dan pers (ditambah lagi dari kalangan tokoh agama, adat, dan masyarakat setempat) sangat diperlukan. Dengan demikian, kepedulian masyarakat terhadap sesama manusia, lingkungan, daerah, bahkan negara sekalipun secara perlahan akan tumbuh.

***

Alangkah indahnya jika hidup ini ada orang-orang yang saling peduli. Di sana ada kehidupan yang saling toleran dan saling menolong satu sama lain. Dengan menghidupkan kepedulian, kita telah mewarisi sesuatu yang digariskan Tuhan: sifat-sifat pengasih dan penyayang. Kita mengasihi sesama kita walaupun yang diberikan bukan berupa harta tapi sekedar salam, sapa, dan senyum itu sudah cukup. Kita menyayangi sesama makhluk Tuhan entah itu sesama manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, atau lingkungan hidup di sekitar kita. Mungkinkah itu terjadi di tengah-tengah kehidupan kita yang saat ini diuji dengan pandemi Covid-19? Kita hanya bisa menjawab: Insya Allah.

Mengapresiasi Kemanusiaan dan Kebudayaan

Subagio S. Waluyo

Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.

Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.

Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.

(Dikutip dari cerpen Eka Kurniawan “Dua Wajah Ibu”)

***

Tulisan ini lebih cenderung untuk menjawab hal-hal di seputar apa, mengapa, dan bagaimana dalam mengapresiasi kemanusiaan dan kebudayaan. Pola pengembangan tulisan dengan mengajukan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana bukan hal yang baru. Di dunia jurnalistik sudah merupakan keharusan apabila seorang wartawan ingin meliput sebuah berita, dia akan berangkat dari 5 W+1 H. Dalam tulisan ini hanya 2 W+1 H, What, Why. dan How. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu kita akan memahami sepenuhnya yang ingin dicapai dari tulisan ini.

Kalau secara teliti mengamati judul tulisan ini, kita akan sepakat bahwa tulisan ini terbagi dua bagian besar, yaitu mengapresiasi kemanusiaan dan mengapresiasi kebudayaan. Untuk itu, kita akan awali tulisan ini dengan terlebih dahulu menjelaskan hal-hal di seputar mengapresiasi kemanusiaan. Setelah itu, baru kita menguraikan mengapreasiasi kebudayaan. Dengan cara demikian Insya Allah akan mendapati gambaran untuk  mengapresiasi hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan dan kebudayaan.

Kata `mengapreasiasi` supaya lebih mudah kita memahaminya perlu terlebih dahulu kita kupas definisi apresiasi. Jadi, imbuhan meN- pada kata `mengapresiasi` sengaja kita singkirkan dulu. Imbuhan meN- yang dilekatkan pada kata `apresiasi` lebih mempunyai makna mengerjakan. Kata `apresiasi` itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,1999:53) didefinisikan  n 1. kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya; 2. penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3. kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang  itu bertambah. Dari tiga definisi di atas yang relevan dengan tulisan ini adalah definisi kedua, yaitu penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu. Jadi, apresiasi kemanusiaan bisa saja didefinisikan sebagai penilaian (penghargaan) terhadap kemanusiaan yang dalam hal ini adalah nilai-nilainya. Dengan demikian,  apresiasi kebudayaan didefinisikan sebagai penilaian (penghargaan) terhadap nilai-nilai kebudayaan.

***

Apresiasi kemanusiaan atau penilaian dan penghargaan terhadap (nilai-nilai) kemanusiaan dalam hal ini mencakup nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Nilai-nilai yang universal pada manusia itu di antaranya adalah cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, pengabdian, kegelisahan, dan harapan. Tentang nilai-nilai universal manusia bisa dilihat pada tulisan-tulisan di blog ini yang semuanya dikaitkan dengan karya sastra (prosa dan puisi). Di samping itu, juga bisa dimasukkan di sini nilai moral atau akhlak. Nilai akhlak dalam bidang filsafat termasuk ke dalam aksiologi. Dalam aksiologi ada dua hal yang dikaji, yaitu estetika dan etika (Elly M.Setiadi, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar/ISBD, 2005:107). Di website ini (lihat “Menyoal tentang Keindahan”) juga sudah ditulis tentang estetika (keindahan) yang dikaitkan dengan karya sastra. Sedangkan tentang etika sebagai salah satu nilai kemanusiaan yang juga bersifat universal akan dibahas, Insya Allah, pada kesempatan berikutnya.

Kita perlu mengkaji nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal mengingat dengan cara demikian kita menyadari bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak bisa memungkiri adanya nilai-nilai yang ada pada diri kita. Di sini setiap orang harus bisa memberikan penilaian/penghargaan (apresiasi) terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal yang telah dihasilkan seseorang entah itu dalam bentuk produk-produk massal baik seperti industri informatika dan komunikasi maupun karya seni. Dalam karya seni, misalnya, bisa saja seorang seniman menghasilkan sebuah karya seni yang  menayangkan nilai-nilai cinta kasih atau keadilan atau penderitaan. Sebagai penikmat yang baik kita layak memberikan apresiasi terhadap karya seni tersebut. Sebuah apresiasi walaupun mendapat nilai minim bagi seorang seniman akan menjadi masukan berharga untuk menghasilkan karya-karya seni yang lebih baik di masa depan.

Untuk bisa menjadi orang yang mampu memberikan apresiasi kemanusiaan diperlukan pemahaman terhadap objek yang mau diberikan apresiasi. Orang yang memiliki pemahaman tentu saja harus memiliki keilmuan yang mumpuni. Tanpa ilmu yang mumpuni mustahil orang tersebut bisa melakukan apresiasi. Selain pemahaman yang mendalam juga diperlukan adanya aktivitas kontemplasi (perenungan). Sebuah karya sastra, misalnya, tidak cukup hanya dibaca tetapi juga perlu direnungkan untuk mendapatkan makna-makna kehidupan yang terpendam. Di sini seorang yang ingin melakukan apresiasi dibutuhkan sebuah ketekunan, kekonsistenan, dan kesabaran untuk melakoninya. Orang tersebut juga harus memiliki komitmen atau integritas diri sehingga tidak terpengaruh di saat memberikan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

***
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, (1992:5) ada tiga wujud. (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakukan berpola dari manusia dalam masyarakat. (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari ketiga wujud kebudayaan itu yang bisa diapresiasi adalah wujud ketiga,wujud kebudayaan fisik,  karena sebagai produk dari sebuah ide/gagasan yang dilakukan dengan aktivitas fisik menghasilkan sebuah karya kebudayaan yang siap diapresiasi. Muncul sebuah pertanyaan, karya kebudayaan apa saja yang bisa diapresiasi?  Produk dari semua yang termasuk ke dalam unsur-unsur kebudayaan bisa diapresiasi, Kita bisa ambil contoh, produk dari perkembangan sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (sainstek) seperti komputer layak untuk diapresiasi karena semakin hari semakin banyak memberikan manfaat bagi manusia dalam hal memudahkan bukan saja entri data tapi juga bisa dijadikan alat komunikasi melalui internet. Dari internet saja sesama manusia atau institusi bisa saling berkomunikasi. Bahkan, perkembangan terbaru orang bisa berbisnis melalui internet (bisnis online). Ini menunjukkan bahwa kebudayaan semakin berkembang karena karya- karya kebudayaan sebagai hasil budidaya manusia telah menjadikan manusia semakin dimudahkan untuk melakukan aktivitas sosial dan budaya.

Kebudayaan yang menghasilkan karya-karya budaya layak untuk diapresiasi agar orang-orang yang giat melakukan aktivitas budaya semakin termotivasi untuk memproduk karya-karya kebudayaan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diakui atau tidak sebuah aktivitas dan kreativitas yang dikerjakan pegiat kebudayaan akan semakin termotivasi manakala ada orang atau institusi yang mengapresiasi hasil pekerjaannya. Apresiasi kebudayaan sebagai cara memotivasi seseorang agar bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan karya-karya besar kebudayaan bukan saja dalam bentuk sertifikat tetapi juga perhatian dari berbagai pihak. Pihak pemerintah, misalnya, apresiasinya dalam bentuk legalitas berupa entah itu yang namanya undang-undang, peraturaan presiden, peraturan pemerintah, keputusan menteri, peraturan gubernur, atau peraturan daerah sekalipun. Selain itu, pemerintah perlu memfasilitasi aktivitas dan kreativitas pegiat kebudayaan. Masyarakat kita pun perlu memberikan apresiasi dengan cara menghargai hasil karya mereka meskipun dari segi kualitas,misalnya, lebih rendah dari produk-produk impor. Harus ada kebanggaan bagi masyarakat kita untuk menggunakan produk-produk bangsa dewek yang telah bersusah payah mewujudkan karya-karya mereka. Dengan cara demikian, kebudayaan bangsa kita akan semakin maju dan mampun bersaing di pentas dunia. Bukankah produk-produk budaya tradisional yang sampai saat ini masih terus hidup dan berkembang di negara ini menunjukkan bahwa bangsa kita pun di masa lalu merupakan bangsa pencipta dan pegiat kebudayaan yang tangguh?

***
Bangsa ini tidak boleh kendur dan berhenti untuk melakukan aktivitas apresiasi sosial dan budaya. Dinamika sosial dan budaya bangsa ini hanya bisa diwujudkan manakala semua anak bangsa mengapresiasi semua aktivitas sosial dan budaya. Tidak boleh ada kata jenuh untuk mengapresiasi nilai-nilai sosial dan budaya. Semoga bangsa ini semakin hari semakin baik dalam mengapresiasi nilai-nilai sosial dan budaya sehingga bangsa ini semakin terpandang di mata dunia. Wallahu a`lam bissawab.