Bahasa dan Sastra

MENYOAL TENTANG PENGABDIAN

Subagio S. Waluyo

Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya

Hartojo Andangdjaja

 

Apa yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu

sumber pengabdianku kepadamu

 

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku

kursi-kursi tua yang di sana

dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya

semua padamu akan bercerita

tentang hidupku di rumah tangga

 

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja

—–horison yang selalu baru bagiku—-

karena kutahu, anak-anakku

engkau terlalu muda

engkau terlalu bersih dari dosa

Untuk mengenal ini semua

 

(Solo, 1955)

***

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.  Tetapi, manusia juga bisa menjadi makhluk Tuhan yang paling buruk kedudukannya (bisa lebih buruk daripada binatang ternak).  Agar manusia bisa mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya, ia harus menyembah (bisa juga diartikan sebagai mengabdi) yang menciptakannya, yaitu Tuhan.  Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk pengabdi (maksudnya yang mengabdi kepada Tuhan).  Sampai sejauhmana kuatnya pengabdian manusia kepada Sang Khalik, coba kita amati puisi di bawah ini.

KAUM MUSLIM DI BOSNIA

 

Piek Ardijanto Soeprijadi

Sampai kini kami

tetap membentangkan sajadah

berkiblat ke ka`bah

selalu bertakbir

selalu berdzikir

rajin merangkai tasbih

berusaha jadi orang salih

 

meski bangunan roboh

suami  kami dibunuh

istri kami disiksa

gadis kami diperkosa

meruap haus lapar

penyakit menjalar

selama nadi berdenyut

satu tak bisa hanyut

iman kami tetap pijar

meski hidup begini getir

 

kaulihatkah keadaan kami

kaudengarkah berita duka kami

kaubayangkankah derita kami

terketukkah pintu hati kalian

semoga kami tabah dalam cobaan

semoga kami lulus dalam ujian

sampai kini kami tetap

membentangkan sajadah

berkiblat ke Ka`bah

selalu bertakbir

selalu berdzikir

rajin merangkai tasbih

berusaha jadi orang salih.

(1992)

Manusia yang benar-benar beriman kepada Tuhan-nya meskipun ditimpa musibah bertubi-tubi (seperti kejadian yang menimpa Muslim Bosnia) ia akan tetap menyembah-Nya.  Kaum Muslimin Bosnia di awal tahun `90-an merupakan masyarakat minoritas di Yugoslavia (sebelum pada akhirnya Bosnia melepaskan diri dari Yugoslavia) dan juga di Eropa yang sebagian besar non-Muslim.  Entah mengapa masyarakat minoritas itu yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat non-Muslim dimusuhi dan diperangi sehingga terjadi kejadian yang memilukan bagi bangsa tersebut. Kita mengatakan sebagai kejadian yang memilukan karena pada saat akan memasuki abad XXI terjadi genocide atau pembersihan etnis di negara bagian Yugoslavia tersebut.

Dalam kejadian di Bosnia, mereka yang memerangi masyarakat Muslim Bosnia telah berlaku sangat kejam.  Mereka bukan saja membunuh kaum laki-laki, tetapi juga memerkosa gadis-gadis dan wanita-wanitanya, membunuh anak dan kaum wanita yang lemah.  Bahkan, wanita-wanita yang sedang hamil pun diambil bayinya dan dipanggang di kompor yang sedang menyala-nyala.  Ini merupakan peristiwa besar yang tidak manusiawi.  Peristiwa tersebut oleh para penyair Muslim di Indonesia (sebanyak 34 penyair) direkam dan diabadikan ke dalam sebuah kumpulan puisi dengan judul Baca Puisi Solidaritas Bosnia Kita yang pada tanggal 16 November 1992 dibacakan di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki.  Acara tersebut dihadiri oleh ribuan penonton yang ingin menyaksikan pembacaan puisi tersebut (selama ini dalam acara pembacaan puisi atau acara sastra lainnya tidak ada yang dihadiri oleh sekian banyak penonton).

Salah seorang penyumbang yang turut serta dalam acara tersebut adalah Piek Ardijanto Soeprijadi (almarhum).  Piek menunjukkan bahwa seorang Muslim meskipun dalam kondisi yang sangat gawat tidak akan mungkin melepaskan dirinya dari Sang Khalik.  Disebutkan dalam puisi itu “meski bangunan roboh/ suami kami dibunuh/ istri kami disiksa/ gadis kami diperkosa/ meruap haus lapar/ penyakit menjalar”.  Jadi, itu semua tidak menyurutkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Justru dengan adanya peristiwa yang memilukan dan mengancam dirinya, ia harus semakin mendekatkan diri pada Allah bukan hanya mengerjakan yang wajib tetapi juga yang sunah seperti ber-tashbih, ber-tahmid, ber-takbir , dan berbagai macam bentuk dzikir lainnya.  Dengan cara demikian, “iman kami tetap pijar/ meski hidup begini getir”.

Pada bait ketiga Piek mengajak kita untuk melihat akibat yang diderita mereka (kaum Muslimin Bosnia) tentang keadaannya, kedukaannya, dan penderitaannya.  Untuk itu, ia mempertanyakan hati nurani kita melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di Bosnia: “terketukah pintu hati kalian”.   Meskipun demikian, ia hanya berharap (tentu saja kepada Allah) agar kaum Muslim Bosnia memiliki ketabahan dalam menghadapi cobaan dan dari segala macam bentuk ujian (“semoga kami tabah dalam cobaan/ semoga kami lulus dalam ujian”).

***

Tampaknya, tentang tanggung jawab belum lengkap jika belum adanya sebuah cerita meskipun hanya berupa sepotong kisah yang tidak lengkap.  Di bawah ini ditampilkan teks sebuah cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya.  Silakan dibaca dan disimak!

GURU (1)

Setelah menjadi kepala sekolah selama 10 tahun, Arif tiba-tiba kaget karena merasa dirinya telah dipisahkan oleh jabatan dengan anak-anak didiknya.  Kesibukan-nya sebagai seorang kepala, menyebabkan ia tak ada waktu lagi mengajar bahasa Indonesia, menyanyi, dan menggambar yang begitu dicintainya. Tak ada lagi kesempat- an ia berdiri di depan kelas dan bersentuhan pandangan serta cakap dengan anak-anak SD 500 itu.

“Ini sudah bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru.  Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat.  Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluahnya.

Ia termenng di belakang mejanya, memandang ke luar.  Lewat jendela dilihatnya di bawah naungan pohon-pohon nangka, anak-anak sedang main kasti.  Sayup-sayup di dengarnya pula di sebuah  kelas anak-anak sedang menyanyikan lagu “Nyiur Hijau” dipimpin oleh Ibu Upik.

“Wah, aku sudah menjadi korban kedudukanku.  Kini waktunya untuk memutus- kan apakah kebahagiaan hidup itu berarti uang dan jabatan yang empuk, atau perasaan bangga karena sudah berarti dan dekat dengan murid-murid yang menjadi tanggungan sekolah?” tanyanya.

Lebih duka lagi hatinya ketika pintu diketuk dan seorang murid masuk menanya-kan apakah kelasnya boleh pulang karena seorang guru tidak masuk.  Ia tercengang sebab tidak mengenali siapa anak itu.  Kelas berapa dia?  Namanya, apalagi kedaan keluarganya, tak dikenalnya.

Arif merinding.  Ia merasa sangat asing.  Pikirannya kalut.  Ia dihimpit sengatan berdosa.

“Kalau begini terus, aku bisa modar.  Baiknya aku cepat-cepat mengajukan permohonan supaya diberhentikan sebagai kepala sekolah dan dijadikan guru biasa lagi,”  bisiknya kepada istrinya malam hari di rumah.

Istri Arif seorang wanita biasa yang kurang pendidikan.  Wanita itu heran men-dengar keluah suaminya.  Tetapi ia tak berani memberikan pertimbangan.  Ia terlalu percaya pada buah pikiran suaminya.  Sebagai guru, ia pasti waras.  Masak guru ber-pikir yang tidak-tidak.

“Ya, bagaimana saja, asal kita semua dapat ketenangan,” katanya sembari menyulam.

Arif, masih tetap menjabat kepala sekolah, selama 2 tahun kemudian.  Tapi di tahun ketiga, ledakan jiwanya itu sudah mencabik-cabiknya.  Suara hati itu tidak ter-tahankan lagi.  Ia merasa sudah menjadi budak pekerjaan dan musuh cita-citanya sendiri.

“Ini bisa membuat aku sakit dan kosong.  Aku bisa gila. Aku tak bisa mem-bohongi hati nuraniku sendiri bahwa seorang guru adalah seorang guru, ia harus bersentuhan dengan murid, bukan hanya mengurus administrasi, pidato, dan memerin-tah dari belakang meja serta hanya berhubungan dengan penilik sekolah.  Dosa ini harus dihentikan sekarang!”  teriak Arif di dalam sanubarinya.

Akhirnya, kejutan yang tidak merupakan kejutan lagi karena sudah terlalu banyak dikoar-koarkan itu, terjadi juga.  Arif mundur atas kehendak sendiri sebagai kepala sekolah.  Ia rela melepas kursi, kehormatan, dan tanggung jawabnya serta juga gajinya,untuk menukarnya dengan jabatan guru biasa dengan fasilitas yang lebih sedikit.

“Prosesnya memang berbelit-belit, tetapi tak apalah. Karena kebahagiaan me-mang harus dicapai dengan pengorbanan dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri.

Ia tampak sehat, gembira, meskipun pucat.

Sejak itu, ia sibuk lagi mengajar.  Masuk kelas demi kelas.  Mendidik dan mene-barkan ilmu yang dikuasainya pada calon-calon penerus di masa depan itu.  Arif tampak berdarah lagi.  Ia bersentuhan pandang dan cakap dengan murid.  Ia mulai tahu lagi nama semua anak didiknya.  Bahkan latar belakang keluarga seluruh murid pun dipahaminya.

(Protes oleh Putu Wijaya, 1995:37— 39)

Guru memang makhluk pengabdi. Sebagai guru yang sudah demikian mendarah daging untuk mengabdi sebagai pendidik, seorang guru akan merasa kering jiwanya jika tidak pernah lagi bertatap muka dengan murid-muridnya.  Demikian pula yang terjadi pada Arif.  Seorang guru yang telah beralih profesi menjadi kepala sekolah (meskipun jabatan kepala sekolah juga masih lekat dengan dunia pendidikan) ternyata juga mengalami kejenuhan dengan jabatan-nya itu.  Ia merasa bahwa jabatannya telah mengakibatkan harus berpisah dengan murid-muridnya karena tidak ada kesempatan untuk mengajar (“Ini sudah bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru.  Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat.  Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluhnya ). Ia juga merasa bahwa dirinya telah menjadi korban kedudukan. Ia harus memutuskan antara berhenti menjadi kepala sekolah dengan risiko melepaskan jabatan, kehormatan, tanggung jawab, dan gajinya.  Atau ia tetap mempertahankannya dengan risiko terus menerus dihantui rasa berdosa dan menjadi gila karena harus membohongi hati nuraninya.

Arif memang masih bisa bertahan selama dua tahun lagi menjadi kepala sekolah.  Namun, karena keinginannya yang demikian kuat pada saatnya, manakala sudah tidak bisa lagi dibendung kerinduannya untuk mengajar, dengan berbagai pengorbanan, ia kembali menjadi guru dan melepaskan jabatannya sebagai kepala sekolah.  Meskipun terasa sulit dan butuh waktu yang cukup panjang, ia merasa bahagia karena keinginannya tercapai sudah (“Prosesnya memang berbelit-belit, tetapi tak apalah.  Karena kebahagiaan memang harus dicapai dengan pengorbanan dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri).

***

Pengabdian yang membuahkan kebahagiaan memang membutuhkan pengorbanan dan keteguhan sebagaimana yang dilakukan oleh Arif.  Namun, kita juga harus realistis karena menjadi kepala sekolah pun meskipun tergolong birokrat, ia masih lekat dengan dunia pendidikan (apalagi kepala sekolah SD yang gajinya  relative rendah).  Jadi, Arif selaku kepala sekolah selayaknya tidak perlu mundur dari jabatannya karena di sela-sela waktu kosong ia masih ada kesempatan untuk mengajar atau mengisi kelas-kelas yang kosong.  Dalam potongan cerita di atas ketika seorang murid menghadap untuk minta pulang karena gurunya tidak hadir, selaku kepala sekolah, Arif harus mengambil inisiatif untuk mengisi kekosongan tersebut.  Selaku birokrat Arif harus mengalahkan jabatannya sehingga tidak ada alasan bahwa ia tidak boleh mengajar kembali.  Dengan cara demikian, hal-hal yang mengganjal hati nuraninya bisa terobati.  Artinya, meskipun menjadi kepala sekolah banyak kesempatan bagi Arif untuk bertatap muka dengan murid-muridnya.  Sebaliknya, sikap Arif yang merasa terpukul dengan jabatannya sementara tidak bis berbuat apa-apa justru menunjukkan bahwa dirinya lemah (kalau bisa dikatakan sebagai pengabdi yang kurang bertanggung jawab pada dunia pendidikan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat