Bahasa dan Sastra

MENYOAL TENTANG PENDERITAAN

Subagio S. Waluyo

Faisal terdiam. Langit rasanya mau runtuh. Ibarat seorang petinju, Faisal baru saja terkena killing punch lawan, mencium kanvas dan tinggal menunggu hitungan kesepuluh untuk dinyatakan kalah KO!

Usai penyidikan, Faisal termenung di ruang tahanan. Mantan istrinya mengantongi Rp2,5 milyar sebelum minta cerai. Tak ada peluang untuk lepas dari dakwaan. Tak mungkin berdalih tidak tahu istrinya menerima uang. Tak ada yang peduli, komunikasi dalam rumah tangganya begitu buruk. Tak akan ada pula yang bakal percaya, mantan istrinya menerima Rp2,5 milyar tanpa sepengetahuannya. Karena saat itu memang statusnya masih sebagai istri Faisal. Sebagai orang yang paham hukum, Faisal merasa akan sia-sia jika dia membantahnya. Bisa-bisa malah semakin mempermalukan dirinya, karena persoalan rumah tangganya semakin terbuka semua dan menjadi konsumsi publik.
(Cerpen Achmad Marzoeki “Koruptor tanpa Korupsi”)

***

Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan. Kalau ada orang yang mangaku bahwa dia tidak pernah menderita, pengakuannya pasti bohong. Atau kalau ada orang yang tidak mau menderita, berati dia telah melawan dan mengingkari kenyataan hidup. Ia tergolong manusia hedonis. Manusia yang hanya mau hidup serba enak menghindari penderitaan. Manusia jenis ini pun manusia yang melawan dan mengingkari kenyataan. Mengapa? Ia mengingkari kenyataan hidup karena masalah penderitaan adalah masalah yang terus mengikuti hidup kita sejak kita berada di dunia sampai nanti dicabut nyawa kita. Jadi, sebagai manusia kita harus siap hidup menderita.

Kita tidak boleh terpesona bahwa hidup itu indah sehingga harus selalu indah. Atau hidup itu nikmat. Jadi, kita harus hidup dalam suasana kenikmatan. Kalau sudah demikian falsafah hidup kita, kita tergolong orang yang mendukung hedonisme. Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme menjadikan kita sebagai hamba konsumerisme. Dengan kata lain, hedonisme menjadikan kita manusia yang kontraproduktif. Artinya, kita menjadi manusia pembeli daripada membuat sendiri, lebih suka menanggapi daripada memainkan sendiri; lebih suka mendapat daripada memberi (Mangunhardjana, 1997:91).

***

Gaya hidup hedonis tampaknya sudah menjadi falsafah hidup terutama di kota-kota besar di Indonesia. Gaya hidup seperti ini jelas merusak kehidupan bangsa. Kita bisa menyaksikan di lembaga-lembaga pendidikan (dari SD sampai PT) sudah menjadi hal yang biasa kalau setiap ujian atau ulangan selalu diwarnai budaya menyontek. Anak didik kita lebih suka menyontek daripada berpayah-payah belajar. Gaya hidup hedonis juga tampak pada kutipan di bawah ini, ketika Bajus selaku seorang pengusaha agar mudah memperoleh `proyek` dengan seenaknya memberikan umpan seorang perempuan kepada Blengur sang tamu dari Jakarta. Padahal di balik transaksi kedua belah pihak tersebut ada tersirat pelecehan wanita dengan menjadikan wanita sebagai umpan untuk memperlicin usahanya. Untuk lebih jelasnya, bisa kita lihat teks berikut ini.

JANTERA BIANG LALA
…………………………………………………………………………………………
Bajus terus tergagap. Sudah terbayang olehnya bila dia gagal menyenangkan hati Blengur maka lima juta bakal lepas dari tangan. Bahkan buat selanjutnya dia mungkin tidak akan mendapat pekerjaan lagi. Segalanya harus kembali dimulai dari titik nol. Oh, tidak bisa jadi. Blengur tidak boleh dikecewakan bahkan dengan santapan yang sudah berada tepat di ujung lidah. Dia bisa murka. Sekali lagi Bajus hendak membujuk Srintil. Kali ini bulat tekadnya Srintil harus menurut.
Hati-hati dibukanya pintu kamar Srintil. Dia masih tersedu hingga bagian pung-gungnya berguncang. Bajus duduk di pinggir tempat tidur, suaranya seperti ayah kepada anak yang sedang merajuk.
“Srin, kuharap kamu mau mengerti. Kasihani aku dan tolonglah aku sekali ini saja. Bagaimana nanti bila kamu tidak mau membantuku? Mau ya, Srin?”
Srintil menggeliat bangkit. Dipandangnya Bajus sekilas dengan tatapan luar biasa dingin. Turun dari tempat tidur. Dirapikannya rambut yang tergerai di bagian depan. Diambilnya tas tangan.
“Tunggu. Mau ke mana kamu?”
Tak sepatah kata pun menjawab Srintil melangkah hendak ke luar. Bajus bertin-dak menangkap tangan Srintil yang bersikeras hendak ke luar. Buat kali pertama Bajus berlaku kasar, memaksa Srintil kembali duduk di tempat tidur.
“Kamu tetap menolak? Tidak bisa! Kamu orang Dukuh Paruk harus tahu diri. Aku telah banyak membantumu. Aku telah banyak mengeluarkan uang untuk kamu!”
Bajus berjalan berputar-putar sambil tetap menjaga agar dirinya menjadi palang pintu. Srintil duduk kaku, tak bereaksi sedikit pun terhadap kata-kata yang didengarnya. Tiba-tiba Bajus menghentakkan kaki lalu melangkah ke ambang pintu. Sambil menutup pintu dari luar, Bajus berkata dengan tekanan berat.
“Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah tahanan.Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?”
Pintu terbanting dan dikunci dari luar.

Mengapa orang terlanjur percaya bahwa pembunuhan ialah menghentikan fungsi ragawi sebagian atau keseluruhan dengan satu dan lain senjata. Mengapa orang terlanjur beranggapan kekejaman ialah tumpahnya darah dan lukanya bagian, raga. Dengan demikian bajus misalnya gampang sekali mengelak bila ada tuduhan dia baru saja melakukan kekejaman luar biasa sekaligus pembunuhan. Dalam dua tiga detik melalui beberapa kata dia telah berhasil sempurna membuat seorang manusia kehilangan kemanusiaannya, bahkan tanpa Bajus sendiri melihatnya.

Satu detik setelah daun pintu terbanting mulailah berlangsung proses lenyapnya akal budi dari totalitas sebentuk pribadi. Godam pertama mengguncangkan tiang kesadaran yang menopang akal budi Srintil, yakni ketika dia mendapatkan kenyataan citanya menjadi istri Bajus adalah pundi-pundi hampa. Srintil masih sempat merasakan perih dan pahitnya guncangan ini. Deraan kedua membuat tiang kesadarannya miring, tidak kuat menahan beban perintah harus melakukan perjinahan; sejarah lamanya sendiri yang sudah ingin ditinggalkan dengan suatu tekad membaja. Kemudian tiang itu ambruk sama sekali ketika sebuah jari setajam mata tombak menudinngnya sebagai PKI dan siap menyeretnya kembali ke rumah tahanan, sebuah tempat yang boleh jadi bisa disebut sebagai neraka dunia.

Sosok itu tentu masih bernama Srintil atau ronggeng Dukuh Paruk. Tentu pula dia masih akan disebut sebagai manusia. Namun faktor yang membedakan antara dirinya dengan segala jenis satwa – akal budi dan kesadarannya — sudah gaib sedetik yang lalu. Srintil tidak tahu lagi apa pun dari segi keberadaan dirinya. Dia tidak tahu lagi dirinya yang kini tinggal menjadi monumen seonggok benda organik. Posisi tubuh serta semua anggota badannya masih melukiskan orang terkejut, sama seperti ketika Bajus membanting pintu. Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak lagi sedikit pun.
Hanya beberapa langkah di luar kamar Bajus duduk gelisah. Pikirannya sama sekali lepas dari keadaan di dalam kamar. Dia tidak tahu ada kiamat kecil baru saja berlangsung tepat di balik tembok di belakangnya. Yang menggelisahkan Bajus adalah kenyataan bagaimanapun dia harus menghadapi Blengur. Sungguh tidak terbayangkan olehnya apa yang bakal terjadi bila dia gagal menyuguhkan kesenangan kepada orang Jakarta itu.

(Ahmad Tohari, 1999: 198–201)

Petikan teks di atas sebenarnya menampilkan dua orang yang sedang menderita. Bajus sebagai seorang pengusaha yang ingin sukses dalam usahanya bermaksud memberikan `hadiah` kepada seorang tamu dari Jakarta agar tamu tersebut mau memberikan salah satu proyeknya di daerah. Hadiah tersebut berupa perempuan cantik, Srintil, mantan penari ronggeng dari Dukuh Paruk, Banyumas. Ternyata, Srintil menolak kalau dirinya dijadikan `hadiah` karena ia sudah berniat ingin menjadi perempuan baik-baik. Ia ingin menutup masa lalunya yang kelabu. Untuk itu, dengan tegas ia menolak berbuat zinah dengan tamu yang disodorkan Bajus. Penolakan tersebut membuat Bajus marah sehingga mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati Srintil.

Srintil yang kena damprat dan makian yang menyakitkan itu, sangat terpukul jiwanya. Ia kaget dan shock. Ia tidak mengira kalau diperlakukan secara kasar oleh Bajus. Akibat dari perlakuan itu, digambarkan … Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak lagi sedikit pun. Jadi, Srintil benar-benar terpukul. Dengan kekasaran itu, ia benar-benar sangat menderita. Penderitaan yang dialami Srintil tidak separah Bajus. Kalau Bajus dengan penolakan Srintil, boleh jadi salah satu proyeknya saja yang gagal di daerah. Tidak demikian halnya dengan Srintil. Srintil terpukul batinnya karena disebut-sebut bekas PKI dan diancam untuk dipenjarakan.

Pada kelanjutan kisah tersebut, ternyata penderitaan Bajus lebih bersifat sementara karena `tamu` dari Jakarta itu pada akhirnya memaklumi keadaan Srintil dan meluluskan permintaan Bajus.

“Masuklah, Jus,”ujar Blengur setelah mendengar pintu diketuk.
“Duduklah,” sambungnya.
Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan kesantaian. Di sana Blengur duduk merokok dan tenang. Sangat tenang. Tidak tergambar kehausan berahi. Matanya yang terkenal berwarna petualangan kelihatan teduh.
“Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.”
“Kata yang mana, Pak?”
“Srintil itu.”
“Cantik dan lugu, kan?”
“Bukan itu maksudku. Aku terkesan oleh citra pada wajahnya.Wajah perempuan jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga. Jus!”
“Ya, Pak.”
“Memang kamu tahu siap aku. Aku senang berpetualang. Tetapi, entahlah. Aku tidak tega memakai Srintil.”
“Pak?”
“Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi obyek petualang- an. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya.”
“Pak, lalu?”
“Ya. Antar dia pulang ke rumahnya malam ini juga. Ini uang buat Srintil dan kata- kan sebagai hadiah dari aku.”
Mata Bajus menatap sebuah amplop menggembung yang disodorkan oleh Blengur. Tangannya bergerak gamang.
“Ya, Pak, ya,” kata Bajus gugup. Amplop itu dimasukkan ke saku jaketnya. “Tetapi, Pak.”
“Apa?”
“Proyek. Ya, bagaimana dengan proyek itu?”
“Dasar recehan, kamu. Tentu saja proyek itu tetap untukmu. Sekarang sana keluar. Antar Srintil pulang.”

(Ahmad Tohari, 1999:202 – 203)

Jadi, yang menjadi kekhawatiran Bajus tidak terjadi karena Blengur `sang tamu` dari Jakarta dari awal pertemuannya dengan Srintil telah melihat bahwa Srintil bukan lagi sebagai `perempuan` yang selama ini dibayangkan, yaitu `perempuan nakal. Dengan demikian, sebenarnya penderitaan Bajus telah berakhir. Tetapi, bagaimana halnya dengan Srintil setelah dimaki-maki Bajus dengan makian yang menyakitkan hati? Kutipan kisah berikut ini merupakan saksi bahwa ucapan yang menyakitkan lebih berbahaya daripada pembunuhan fisik.

“Srin, ini uang banyak sekali dari Pak Blengur buat kamu. Uang hadiah. Bukan uang….”
Sunyi. Mencekam. Bulu kuduk merinding. Adakalanya orang menjadi sangat takut bila tiba-tiba berhadapan dengan mayat. Dan akan sekian kali lebih takut bila yang didepan mata adalah mayat hidup. Srintil terlihat masih dalam posisi yang ganjil. Wajah mati. Mata aku berkedip dan mulut melongo. Bajus terhenyak ke belakang dan amplop yang menggembung jatuh ke lantai. Gagap dia. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa kemanusiaan kadang tidak lebih tebal dari kulit bawang. Srintil beberapa menit yang lalu masih lengkap dengan pesona seorang perempuan muda yang cantik. Pesona yang bahkan sesungguhnya menembus juga jantung Bajus yang impoten. Kini tak ada lagi pesona. Tidak juga kecantikan. Kemanusiaannya tinggal tersisa berupa sosok dan nama. Selebihnya adalah citra hewani. Citra makhluk tanpa akal budi.

Bajus surut. Dan terus surut hingga punggungnya merapat ke tembok. Semenit dua menit Bajus masih belum berhasil menata perasaan dengan memahami kenyataan yang terpampang tepat di depan mata. Dan sesaat ketegangan akhirnya mereda Bajus menghubungkan keadaan Srintil sebelum dan sesudah dia terkunci di kamar. Bajus mulai merasa dirinyalah penyebab perubahan drastis pada diri Srintil.
Kesadaran Bajus perlahan-lahan pulih. Pundaknya mengendur dan napasnya normal. Matanya masih menatap boneka hidup yang bernapas pendek-pendek. Kemudian Bajus melangkah maju.
“Srin, kenapa kamu?”

Tak ada tanggapan, bahkan dalam sasmita yang paling samar sekalipun. Dipungutnya amplop yang jatuh lalu disodorkannya ke tangan Srintil yang mengambang di udara. Tetapi tangan itu tidak semili pun bergeming. Bajus membungkuk ingin melihat mata Srintil lebih jelas. Di sana hanya ada lingkaran hitam tanpa ekspresi rasa dan cita, sebentuk kematian dalam hidup. Kebimbangan kembali menyergap. Bajus keluar hendak mencari seseorang, barangkali dia bisa membantu mengurangi kebingungannya. Mungkin Blengur. Namun l angkahnya terhenti di teras vila. Bajus masuk lagi, berjalan tak menentu. Tangannya merogoh saku celana dan terpegang kunci kontak mobil. Ya. Kini Bajus tahu secara pasti apa yang sebaiknya dia lakukan, mengantar Srintil pulang ke Dukuh Paruk saat itu juga.

“Srin, maafkan aku. Maafkan aku, ya! Sekarang mari kita pulang.”
Srintil menoleh dengan gerakan linglung. Dan bukan mata Bajus yang ditolehnya melainkan tubuh laki-laki itu. Matanya tak bergulir, seakan sudah tersekap mati dalam kelopaknya. Dan meski terasa sebagai upaya untung-untungan Bajus mem-bimbing tangan kiri Srintil. Hatinya lega ketika ternyata Srintil menurut. Srintil berjalan seperti tidak melihat apapun meski kedua matanya terbuka lebar dan tidak berkedip. Bajus merasa seperti sedang menuntun orang setengah lumpuh dan buta.

(Ahmad Tohari,1999: 203 – 205)

Hikmah apa yang bisa diambil dari kutipan-kutipan di atas? Dari kutipan-kutipan cerita di atas, kita bisa mengambil hikmah bahwa:
• setiap orang manakala memiliki kepentingan mendesak sering menggunakan cara-cara yang tidak terpuji meskipun harus dengan mengorbankan orang lain;
• manakala kepentingannya terganggu (yang dikhawatirkan akan hilangnya kesempatan) ia dengan seenaknya menciptakan penderitaan pada orang lain tanpa memikirkan kesudahannya;
• kaum wanita sering diposisikan sebagai orang yang layak disalahkan atau objek penderita yang salah satu wujudnya adalah dalam bentuk pelecehan seksual; dan
• kata `maaf` sering dijadikan sarana untuk melegitimasi setiap perkataan atau perbuatan yang jelas-jelas akan membuat orang menderita atau minimal menyinggung batin seseorang.

***

Dengan adanya butir-butir hikmah di atas, selayaknya kita harus menghindari hal-hal yang berakibat pada penderitaan orang lain. Kalau kita saja tidak mau disakiti maka orang lain pun jangan kita sakiti. Untuk itu, menghindari penderitaan pada diri kita harus dimulai dari menghindari penderitaan pada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat