Bahasa dan Sastra

MENYOAL TENTANG PANDANGAN HIDUP

Subagio S.Waluyo

“Aku lupa.  Belum  menanyakan namamu.”

“Namaku Humam.  Engkau siapa?”

“Barman.”

“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya.  Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.  Di sini, nama tak ada gunanya.”

Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan.  Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya.  Apa bedanya di kota dengan di gunung?  Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.

“Humam, Hum atau Mam.  Engkau bisa usahakan telepon?”  Barman ingat Popi.  Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.

“Untuk apa.  Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”

Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami.  Dan ia dapat mengagumi.

“Jadi bagaimana?”

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

“Anakmu.  Istrimu.  Keluargamu.  Sahabatmu.”

“Semua sudah kulepaskan.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Dan aku?”

“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

Untuk beberapa lama mereka diam.  Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri!  Pikirannya berjalan-jalan.  Sampai Humam menyentuh tangannya.  “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.

“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung.  Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku.  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik.  Beban itu sudah kulepaskan.”

Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri.  Sedangkan ia merasa itu penderitaan.  Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

***

Salah satu kelebihan manusia diciptakan Tuhan adalah manusia memiliki tanggung jawab.  Karena memiliki tanggung jawab, manusia juga makhluk pengabdi. Untuk mengabdi (kepada Sang Khalik tentunya) manusia memerlukan pedoman atau aturan yang kita namakan sebagai pandangan hidup (boleh juga agama).  Apa itu pandangan hidup?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba  kita dapat  amati dua potongan kisah yang ditulis oleh Kuntowidjojo berikut ini.

“Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”
“Tidak ada , Kakek”, kataku, keluar begitu saja dari kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”
“Bagus. Tidak kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.” Ia menepuk pundakku. Kemudian membenarkan letak duduknya dan kembali menatap bunga-bunga itu.
“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melam-bangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar mata-hari membakar. Hilir-mudik kendaraan.Orang berjalan ke sana-kemari memburu waktu.Pabrik-pabrik ber- dentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet me-mainkan tangannya. Pemimpin meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah arti-nya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu.Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”
Aku mendengarkan sebaik-baiknya. Ia mengatur nafas. Lalu berdiri.
“Nah, sudah sampai waktunya kita jalan-jalan!”
Kami berjalan. Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap bunga kakek men- jentik, tertawa. “Bagus. Bagus sekali bukan, cucu?” Aku tersenyum. “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar. Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”(Dilarang Mencintai Bunga-bunga,1996:12-13)Sahabat tua itu mengajaknya bersama menghabiskan waktu. ”Waktu,” kata sahabat itu, “Sesuatu harus kita nikmati.Seperti juga benda lainnya.” Barman menam-bahkan:”Ya, atau kita makan waktu, atau kita dimakan waktu.” Dan ia tertawa. “Kita ber- sahabat, kita mesti ramah!” sahabat itu meneruskan. “Mengapa mesti bermusuhan?”
Mereka pun menyiapkan diri untuk suatu perjalanan yang sesuai dengan laki-laki tua. “Inilah perjalanan dua orang kakek-kakek,” kata sahabat itu. Di rumah terdapat pancing. Barman dibawa ke belakang rumah. Ada sebuah jalan terbentang di situ. “Engkau mau mancing atau menjala, Bung?”
“Aku tak biasa dengan air sungai,” kata Barman.
Sahabat itu hanya tertawa. “Engkau mesti belajar dari hidup ini.”
“Eh, engkau mau juga kita membawa telur? Dan jangan lupa korek api. Menurut tampangmu, kau ini sebangsa orang yang belum bahagia waktu kecil-mu, ya. Inilah saat kauulang kembali riwayat itu. Bertualang di gunung.”
Barman masih harus mempelajari sahabat barunya itu. Orang itu suka bicara, tidak seperti diduganya semula.
“Jauhkah perjalanan kita?”
“Orang gunung akan mengatakan dekat saja. Apa peduli kita!” Laki-laki itu menunju-nunjuk suatu arah, berbelok-belok dengan jari yang melayang-layang di udara. Mereka pun keluar dari pekarangan. Ketika sampai di bawah pohon cemra, Barman baru teringat sesuatu, ia berhenti.
“Apa?” tanya sahabat barunya.
“Aku lupa. Belum menanyakan namamu.”
“Namaku Humam. Engkau siapa?”
“Barman.”
“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya. Aku sebenarnya tak lagi punya nama. Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya. Di sini, nama tak ada gunanya.”
Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan. Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya. Apa bedanya di kota dengan di gunung? Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.
“Humam, Hum atau Mam. Engkau bisa usahakan telepon?” Barman ingat Popi. Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.
“Untuk apa. Kita tak perlu apa pun lagi. Kita sudah hilang.”
Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami. Dan ia dapat mengagumi.
“Jadi bagaimana?”
“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”
“Anakmu. Istrimu. Keluargamu. Sahabatmu.”
“Semua sudah kulepaskan.”
“Semuanya?”
“Ya.”
“Dan aku?”
“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”
Untuk beberapa lama mereka diam. Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri! Pikirannya berjalan-jalan. Sampai Humam menyentuh tangannya. “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.
“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung. Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik. Beban itu sudah kulepaskan.”
Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri. Sedangkan ia merasa itu penderitaan. Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

(Khotbah di Atas Bukit, 2000:68-71)

***

Kedua potongan kisah di atas memberikan banyak pandangan hidup.  Jika kita amati secara teliti, kita akan mendapatkan ada hal-hal yang sama tentang ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat), baik yang dikemukakan oleh si pemelihara bunga-bunga (kakek) kepada anak tetangganya (cucu) pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” maupun oleh Humam kepada Barman (pada novel Khotbah di Atas Bukit). Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat) itu di antaranya sebagai terlihat pada tabel berikut ini.

“Dilarang Mencintai Bunga-bunga” Khotbah di Atas Bukit
1. “Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?” 1. “Inilah saat kauulang kembali riwayat itu.”
2. Segalanya mengendapBunga- bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa…. Mereka semua  menipu diri sendiriHidup ditemukan dalam ketenang an. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu.Hawa dingin menyejuk ha- timu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.” 2.  

 

Aku sebenarnya tak lagi punya namaAku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.”

 

3. “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekarMembuat dunia tenang ini dunia kita! 3. Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”
4. 4. Kesendirian adalah hakikat kita, he.”
5. 5. “Pertemuan kita lain, Bung.Suatu kebetulan. Hubungan kita ialah bukan hubungan.”
6. 6. Itu sudah berjalan, dan berjalan de-ngan baik.  Beban itu sudah dilepaskan.”
7. 7. Keadaanku ialah ketiadaanku.”

“Atau sebaliknya.”

Dari tabel di atas kita menemukan ada beberapa ungkapan yang bermakna sama, seperti  “Hidup ditemukan dalam ketenangan” dengan “Kesendirian adalah hakikat kita “  atau  “Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu,siapakah dirimu”  dengan  “Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”  Ungkapan-ungkapan tersebut  menunjukkan betapa kayanya pandangan hidup yang dimiliki penulisnya (Kuntowidjojo).  Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan nasihat itu juga merupakan sarana kita untuk bercermin seraya bertanya pada diri sendiri : selama di dunia ini, apakah kita telah melakukan peran kita sepenuhnya selaku manusia di hadapan Sang Khalik?

Sehubungan dengan masalah pandangan hidup, seandainya ada orang yang bertanya: pandangan hidup apakah yang terbaik bagi manusia?  Kita tidak usah ragu-ragu bahwa pandangan hidup yang terbaik bagi manusia adalah yang datangnya dari Sang Khalik (agama).  Kita bisa mengatakan demikian karena:

  • agama bersifat universal sehingga kebaikan agama adalah kebaikan bagi seluruh umat manusia (tidak dibatasi oleh geografis, kesukuan, kebangsaan, ras, dan warna kulit);
  • agama tidak terikat oleh waktu, artinya sampai kapan pun, baik perintah maupun larangannya akan tetap berlaku dan tidak boleh disesuaikan oleh kondisi waktu;
  • agama datang dari Sang Pencipta Manusia yang tentu saja akan mengetahui sisi-sisi kelemahan manusia sehingga apapun yang diberikan untuk manusia sudah diperhitungkan oleh-Nya; dan
  • kebenaran agama yang datangnya dari Tuhan tidak bisa diragukan karena semua itu dikembalikan pada umatnya (sementara kebenaran yang diciptakan manusia sifatnya relatif dan mudah berubah karena manusia tidak akan mungkin bisa melepaskan sifat-sifat manusiawinya yang di satu sisi justru banyak memiliki kelemahan).

Dengan adanya butir-butir di atas, masih layakkah kita menyepelekan pandangan hidup yang datangnya dari Tuhan (agama)?  Risiko apa yang akan muncul jika kita menyepelekannya?  Coba, kita perhatikan petikan kisah berikut ini.

BULAN SABIT
Joni Ariadinata
…………………………………………………………………………………………
Kota itu pun milik hantu. Gelombang dzikir mengutuknya dengan sopan, dan di lorong-lorong orang berbicara politik. Maut tetap mengintai. Perempuan-perempuan, para janda anak-anak orang tua; ribuan lelaki-perempuan dipaksa mati di jalan-jalan.Dibenam di hutan rawa. Maka hantu berubah menjadi iblis:langit, katanya, kelak berwarna hitam kelam.“Kami benci tentara.”Rapat suara bocah memandang langit. Beribu-ribu.Tak ada tangis: “Bapak kami mati ditembak!” bergelombang masuk hutan. Dendam merubah dada menjadi besi. Menjadi api.“Maukah kutembak? Kalian bukan pahlawan, tapi pengkhianat. Pemberontak tengik! Siapa pemimpin kalian, heh?!” bertanya. Ribuan interogasi. Bunyi salak pistol dan penjara. Malam hitam kegelapan pintu-pintu dan jendela rumah. Dijarah. Tapi barisan beku mengatup:”Pemimpin kami adalah hati. Kami tak pernah takluk pada iblis yang menciptakan api! Kalianlah pengkhianat…”

“Sial!!” raungan truk dan gemerocak rantai panser baja meletupkan amarah tengik. Pusaran waktu pecah:gelombang api. Segerombol serdadu menghanguskan kota, melipat peta dan menunjuk-nunjuk nyawa seperti layaknya Tuhan. Berbulan-bulan. Putus asa:”Seluruh penduduk Serambi telah menjadi pemberontak Tuhan…”

”Kita memang Tuhan!” bunyinya menantang. Raut wajah putus asa para serdadu, pekik darah mirip anak anjing yang sakit; menerjang dengan tangan mengayunkan karaben dan meledakkannya ke atas langit. Glar! Glar! Glar! “Tahan tembakanmu, Letnan!!” suatu hari. Kekeruhan wajah tak ada cahaya. Melihat jauh kejauhan yang kosong. Setiap menit, menjadi detik, dan jam-jam yang meledak:”Kita digaji untuk membunuh, kau dengar, Kolonel? Kita memakan darah…”

“Prajurit tak patut untuk berpikir.”

“Kau kira kami ini apa?”

“Kau menghamburkan peluru untuk sesuatu yang tidak jelas!”

“Lalu apa bedanya? Menembak angin atau menembak kepala, semua diajarkan dengan sama persis. Dan kita harus bertanggung jawab. Begitu mudahkah?”
“Benar!” serempak yang lain membetulkan. Ketegangan merayap dan gigi gemeretak: “Perintah komando pusat telah membuat kita semua gila. Berapa ribu nyawa lagi harus kita korbankan? Seluruh penduduk menginginkan kematian; dan kita menyambutnya tanpa m erasa bahwa dengan itu kita telah menjadi pahlawan. Mereka masuk hutan untuk sebuah keyakinan. Sedang kita apa? Bajingan tengik! Jika semua orang di daerah ini memilih menjadi pemberontak, maka itu berarti seluruh wilayah Serambi sudah lenyap dalam peta negara. Apakah kita akan mengusirnya, menembakinya, dan memusnahkannya seperti melenyapkan hutan untuk menjadikannya sebuah padang rumput tempat bermain golf para pemimpin politik? Kalau itu pilihan presiden dan panglima, maka aku memilih berhenti. Tembaklah aku, kolonel! Engkau sudah lupa bahwa mereka yang kita perangi, adalah saudara kita sendiri. Bukan segerombolan monyet seperti doktrin ajaranmu…”

“Diam! Semuanya diam! Kalian semua berada di bawah garis komando. Setiap pem-bangkangan disiplin, akan diseret ke meja pengadilan militer. Kau berani melanggar perintah, Letnan Sujarwo?”

“Aku bicara sebagai manusia…”

Glar! Letupan keras menghamburkan isi kepala. Letnan Sujarwo ditembak menggeliat. Lalu lenggang. Mati. Kolonel Hardi gemetar dengan amarah memuncak:”Siapa lagi yang mencoba menjadi pengkhianat, heh? Dalam hirarki ini, akulah komandan. Apa yang aku perintahkan adalah hukum! Tidak ada kata tidak…” menggelegar. Keputusan yang salah. Sunyi langit mati dan bangkai Letnan Sujarwo menguapkan hawa panas kegelisahan para serdadu serentak berlompatan memekik. Mengutuk. Berpantul dari pohon ke pohon. Suara-suara campur, jam memantik:serentet tembakan kembali memecah langit. Kepul asap, menerjang daun; ledak gelegar granat, badai di kepala meletup. Keputusasaan.

“Aku bunuh kamu, Letnan!! Aku bunuh…”

“Kopral! Kau…” teriak-teriak keras. Gediblag kaki dan keriuhan gema sekarat saling hantam.

“Gila!! Kita semua gila!!”

Mereka menembak. Saling menembak. Menembak hening, memburu bayangan korban. Dan bunyi kemerinting sisa mesiu, debu-debu, jatuh di mimpi bayi; menguak kencang, membangunkan ibu yang lantas mengalirkan air mata pedih. Bersipongang dari ruang ke ruang. Menjadi hujan, Menjadi rintihan di lelap malam. Gusti.
(1999:175—177)

***

Kisah di atas merupakan gambaran manusia yang tidak menggunakan lagi agama sebagai pandangan hidupnya. Mereka saling menghabisi sesamanya.  Mereka telah menjadikan doktrin militer sebagai pandangan hidupnya atau agamanya yang baru. Ketika salah seorang di antara mereka terpanggil hati nuraninya, atas nama kesatuan orang seperti itu harus dihabisi. Jadi, pandangan hidup yang tidak berangkat dari agama akan menjadikan manusia menjadi kanibal bagi manusia lainnya.  Berbagai peristiwa yang telah memakan banyak korban anak bangsa ini merupakan tolak ukur kita bahwa pandangan hidup yang bukan agama, yang kita anut selama ini, ternyata telah gagal menjadikan kita lebih manusiawi lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat