MENJAUH DARI KENYATAAN HIDUP

Subagio S.Waluyo

Bagaimana mungkin kalbu (hati) akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana mungkin akan bertamu ke hadirat-Nya, sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari kekeliruannya?

(Ibnu Athai`llah Al-Iskandari)

          Apa respons kita kalau John Lennon, sang maestro musik legendaris sampai abad 21 ini, menulis di Imagine seperti ini.

Imagine there’s no Heaven

It’s easy if you try

No hell below us

Above us only sky

Imagine all the people

Living for today

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too

Imagine all the people

Living life in peace

You may say that I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will be as one

Imagine no p

ossessions

I wonder if you can

No need for greed or hunger

A brotherhood of man

 

Imagine all the people

Sharing all the world
You may say that I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will live as one

          John Lennon lewat lirik di atas mencoba menstimulus kita agar kita memberikan respons. Respons kita mungkin seperti ini: “Kurang ajar John Lennon, berani-beraninya mengajari kita kalau gak ada surga, gak ada neraka, gak ada negara, gak ada agama, gak ada kepemilikan, dan gak ada ketamakan serta kelaparan. Terus katanya dijamin kehidupan akan damai karena kita bersaudara.” Tapi, bagaimana kenyataan dunia hari ini? Bukankah memang sekarang ini terjadi kehidupan yang serba keras? Coba saja kita lihat peperangan di beberapa negara terjadi. Orang saling membunuh, saling menghabisi. Nyawa orang begitu murahnya. Harga diri manusia direndahkan. HAM yang dijunjung tinggi sudah dilecehkan. Konstitusi sudah dibuang ke tong sampah. Jadi, kita harus bisa menerima lirik lagu Imagine di atas yang ditulis John Lennon di awal tahun `70-an itu yang sekarang telah dipraktekkan oleh sebagian manusia bahkan negara untuk meremehkan keberadaan agama plus surga dan neraka. Kalau begitu, kita juga mutlak harus menerima bahwa pada akhirnya apa arti kehadiran sebuah negara kalau negara ternyata tidak berperan dalam menjaga harkat hidup orang banyak (rakyat, bangsa) karena keadilan tidak ditegakkan.  Bukankah Lennon juga sudah memastikan bahwa nanti kita juga setuju sebagaimana katanya:

You may say that I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will be as one

Masih berkaitan dengan lirik lagu di atas, coba kita simak petikan dari cerita pendek (cerpen) “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (Kuntowidjojo) berikut ini.

“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar  matahari membakar. Hilir-mudik kendaraan. Orang berjalan ke sana-ke mari memburu waktu. Pabrik-pabrik berdentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet memainkan tangannya. Pemimpin meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah artinya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikur dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”

          Adakah kesamaan bait-bait dari Imagine (John Lennon) di atas dengan kutipan dari cerpen Kuntowidjojo? Kedua-duanya sama-sama mengajak kita untuk berimajinasi bahwa hidup harus penuh dengan kedamaian dan ketenangan jiwa plus keteguhan batin. Kalau John Lennon mengajak kita untuk menjauhi atau setidak-tidaknya untuk tidak mempercayai adanya surga, neraka, negara, agama, kepemilikan, ketamakan, dan kelaparan, Kuntowidjojo mengajak kita untuk menjauhi hidup yang penuh hiruk-pikuk. Hidup yang penuh penipuan. Hidup yang penuh perebutan. Manusia dalam hidupnya harus memperoleh ketenangan jiwa dan keteguhan batin.

          Berbicara tentang ketenangan jiwa dan keteguhan batin, tampaknya kurang lengkap jika tidak menyimak pendapat Kuntowidjojo dalam Khutbah di Atas Bukit berikut ini.

………………………………………………………………………………………………………

Sahabat tua itu mengajaknya bersama menghabiskan waktu. ”Waktu,” kata sahabat itu, “Sesuatu harus kita nikmati.Seperti  juga benda lainnya.” Barman menambahkan:”Ya, atau kita makan waktu, atau kita dimakan waktu.”  Dan ia tertawa. “Kita bersahabat, kita mesti ramah!” sahabat itu meneruskan. “Mengapa mesti bermusuhan?”

Mereka pun menyiapkan diri untuk suatu perjalanan yang sesuai dengan laki-laki tua.  “Inilah perjalanan dua orang kakek-kakek,” kata sahabat itu.  Di rumah terdapat pancing.  Barman dibawa ke belakang rumah.  Ada sebuah jalan terbentang di situ.  “Engkau mau mancing atau menjala, Bung?”

“Aku tak biasa dengan air sungai,” kata Barman.

Sahabat itu hanya tertawa.  “Engkau mesti belajar dari hidup ini.”

“Eh, engkau mau juga kita membawa telur? Dan jangan lupa korek api.  Menurut  tampangmu, kau ini sebangsa orang yang belum bahagia waktu kecilmu, ya.  Inilah saat kauulang kembali riwayat itu.  Bertualang di gunung.”

Barman masih harus mempelajari sahabat barunya itu.  Orang itu suka bicara, tidak seperti diduganya semula.

“Jauhkah perjalanan kita?”

“Orang gunung akan mengatakan dekat saja.  Apa peduli kita!”  Laki-laki itu menunjuk-nunjuk suatu arah, berbelok-belok dengan jari yang melayang-layang di udara.  Mereka pun keluar dari pekarangan.  Ketika sampai di bawah pohon cemra, Barman baru teringat sesuatu, ia berhenti.

“Apa?” tanya sahabat barunya.

“Aku lupa.  Belum  menanyakan namamu.”

“Namaku Humam.  Engkau siapa?”

“Barman.”

“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya.  Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.  Di sini, nama tak ada gunanya.”

Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan.  Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya.  Apa bedanya di kota dengan di gunung?  Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.

“Humam, Hum atau Mam.  Engkau bisa usahakan telepon?”  Barman ingat Popi.  Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.

“Untuk apa.  Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”

Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami.  Dan ia dapat mengagumi.

“Jadi bagaimana?”

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

“Anakmu.  Istrimu.  Keluargamu.  Sahabatmu.”

“Semua sudah kulepaskan.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Dan aku?”

“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

Untuk beberapa lama mereka diam.  Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri!  Pikirannya berjalan-jalan.  Sampai Humam menyentuh tangannya.  “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.

“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung.  Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku.  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik.  Beban itu sudah kulepaskan.”

Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia mengeluh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri.  Sedangkan ia merasa itu penderitaan.  Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

                                       (Khotbah di Atas Bukit, 2000:68-71)

Untuk memperoleh ketenangan jiwa dan keteguhan batin sahabat Barman (Humam) pada teks di atas mengajak menghabiskan waktu. Menurut Humam, waktu katanya harus dinikmati. Artinya, setiap detik, setiap menit, dan setiap jam dalam sehari manusia harus bisa menikmati pemberian Tuhan. Buktinya, dia mengajak Barman, sahabat barunya, untuk memancing atau menjala di sungai. Apa yang dilakukan seseorang ketika memancing atau menjala? Jelas menghabiskan waktu. Sesuai dengan ucapan Humam di atas. Tapi, bukankah dengan cara seperti itu bisa diperoleh ketenangan jiwa dan keteguhan batin?

          Humam mengajarkan sahabat barunya, Barman, agar  mau belajar dari kehidupan. Maksudnya, belajar untuk memanfaatkan yang ada di sekitarnya. Humam melihat Barman orang kota yang terlalu asing dengan kehidupan di pedesaan sehingga ia mengajak ke sungai untuk sekedar memancing atau menjala. Humam beranggapan orang kota di waktu kecilnya tidak pernah  mengalami kebahagiaan. Buat Humam orang yang bisa di hidup di pedesaan yang bisa menikmati hidup dengan memancing atau menjala merupakan sebuah kebahagiaan. Karena temannya ketika diajak ke sungai memberikan jawaban tidak biasa dengan air sungai, ia menilai sahabatnya itu ketika kecil tidak memperoleh kebahagiaan. Boleh jadi ada sudut pandang yang berbeda di antara keduanya. Bagi Humam sebagai orang yang tinggal di pedesaan adalah sebuah kebahagiaan kalau orang bisa mandi atau mancing atau menjala di sungai. Tidak demikian bagi Barman. Bagi Barman sebagai orang kota kebahagiaan itu diperoleh manakala semua yang ia inginkan seperti nonton film atau jalan-jalan dengan mobil mewah ke pusat-pusat keramaian kota atau punya mainan anak-anak yang tergolong bagus mahal terpenuhi. Jadi, ketika diajak ke sungai, ia mengalami keterkejutan  mental.

          Barman merasa aneh dengan sahabat barunya itu karena ketika ditanya namanya ia memperoleh jawaban yang mengejutkan bahwa nama tidak ada gunanya di sini (di lingkungan tempat tinggal Humam, di pedesaan?). Jawaban Humam tentang nama persis yang diungkapkan Shakespeare dalam Romeo and Juliet,  “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Artinya: Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi (https: //www.kompasiana.com/ noenurlaely/5518bf3e8133115c709de0eb/william-shakespeare-dan-saya-tentang-sebuah-nama). Barman menilai temannya tidak peduli dengan nama. Temannya telah mencampakkan namanya karena ketika ditanya tentang nama dia menganggapnya tidak begitu penting punya nama.      Barman bertambah kaget ketika ia bermaksud mau menghubungi Popi ternyata sang teman memberikan jawaban kalau sebagai manusia harus benar-benar meninggalkan berbagai kenikmatan atau keinginan yang sifatnya duniawi dengan ungkapannya, “Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang” sehingga sebagai manusia harus bisa menikmati kesendirian karena hakikat hidup itu sebenarnya terletak pada kesendirian. Karena itu tidak aneh kalau Humam sang teman memberikan jawaban kalau anak, istri, keluarga, bahkan sahabat sudah dilepas (ditinggalkan/terputus hubungannya). Hubungan mereka berdua pun dianggap oleh sang teman seperti tidak ada hubungan (?). Jadi, walapun Barman diajak berjalan bersama menelusuri pedesaan dianggap oleh Humam seperti tidak ada apa-apanya.

          Ketika melamun, Barman sempat memikirkan kejadian-kejadian aneh yang dialami dengan sahabat barunya. Ternyata, sang teman bisa menangkap yang Barman pikirkan. Humam menganggap salah besar kalau Barman sampai memikirkan dirinya. Buat Humam, dia sekarang benar-benar bebas karena  semua beban hidup telah dilepaskan. Dia merasa benar-benar terlepas dari kungkungan hidup. Dia merasa nikmat dengan kesendiriannya. Memang, bagi Humam itu sebuah kenikmatan dengan kesendiriannya, tapi bagi Barman sebaliknya, itu sebuah penderitaan. Barman bertambah tidak mengerti ketika sang teman berujar, “Keadaanku ialah ketiadaanku”. Kalau begitu, mau ada atau mau tidak ada sama saja bukan? Atau Kuntowidjojo ingin mengamalkan tausiah Ibnu Athai`llah Al-Iskandari yang dicantumkan di atas?

          Mengamati petikan dari novel Khutbah di Atas Bukit dan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” dari hasil karya Kuntowidjojo dan lirik lagu “Imagine” karya John Lennon ada kesamaan, yaitu agar kita hidup benar-benar lepas. Kita hidup jangan banyak dibebani dengan urusan dunia.Kita harus bisa menikmati waktu-waktu kita dengan cara meninggalkan semua kesenangan dunia. Dengan demikian, keduanya sama saja baik Lennon maupun Kuntowidjojo mengajak kita untuk menjauhi kenyataan hidup karena kenyataan hidup yang dibingkai dengan agama (adanya surga dan neraka), aturan kenegaraan, dan kehidupan materi membuat manusia tidak memperoleh ketenteraman Yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah kita bisa hidup tanpa itu semua?

          Tidak ada manusia yang mengingkari bahwa dia ingin hidup tenang, tenteram, dan damai tapi juga tidak mungkin manusia menghindari dari kenyataan hidup yang memang penuh tantangan. Kita sebagai manusia sejak lahir sampai sekarang ini menghadapi dua hal yang sangat kontradiktif, yaitu kebenaran dan kebatilan; kebaikan dan keburukan; kekayaan dan kemiskinan; kemudahan dan kesusahan; dan ketenangan dan kebisingan. Mungkin masih banyak lagi butir yang menunjukkan kehidupan yang serba kontradiktif. Apakah ada manusia yang bisa menghindar dari hal-hal yang sangat kontradiktif itu? Jawabannya tidak ada manusia di dunia ini yang bisa terhindari dari kehidupan yang serba kontradiktif. Oleh karena itu, mengajak manusia berimajinasi agar menjauh dari kenyataan hidup yang memang serba kontradiktif adalah suatu cara yang salah atau kalau bisa dikatakan menyimpang. Manusia yang ingin dalam hidupnya menjauh dari kenyataan hidup adalah manusia yang sepanjang hidupnya telah terbawa arus autisme.

          Autisme menurut A.Mangunhardjana (Isme-Isme dari A sampai Z, 2001:29) ialah keadaan atau pendirian hidup yang terlalu menekankan dan berpegang pada keunikan dan kekuasaan diri. Orang yang berpendirian autis cenderung dalam hidupnya hanya mengikuti gagasan pemikiran, kehendak, perasaan diri, dan berperilaku menurut enaknya sendiri. Orang yang berpendirian autis dengan demikian juga orang yang mau terlepas dari kenyataan di sekelilingnya. John Lennon lewat lirik Imagine-nya dan Kuntowidjojo lewat “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”  dan Khotab di Atas Bukit jangan-jangan berpendirian autis atau penganut paham autisme yang ingin menularkan pemahamannya kepada umat manusia. Bukankah lirik lagu Imagine dan kutipan dari cerpen dan novel di atas sudah bisa mewakilinya bahwa mereka adalah orang-orang yang mengajak kita agar menjauh dari kenyataan hidup? Wallahu a`lam bissawab.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat