Subagio S.Waluyo
Ada pribahasa yang berbunyi `kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana`. Pribahasa yang demikian sederhana itu jika ditilik dari segi isinya ternyata tidak sederhana. Di sana ada kata `kejujuran` yang justeru sampai saat ini kata itu masih dianggap punya nilai tersendiri karena secara hati nurani manusia masih menghendaki adanya sebuah kejujuran. Yang menjadi pertanyaan, “Apakah memang benar banyak manusia yang masih mengikuti hati nurani?” Pertanyaan itu bisa dipastikan hanya segelintir saja manusia yang masih mengikuti hati nurani. Sebagian besar manusia sudah jauh menyimpang dari hati nurani termasuk ke dalamnya sudah tidak bisa lagi berlaku jujur.
Mempertahankan sikap jujur di tengah arus globalisasi yang semakin menggila atau di tengah-tengah kehidupan manusia yang semuanya telah diukur dengan materi, jelas merupakan pekerjaan sangat-sangat berat. Rasa-rasanya seperti menegakkan benang basah mempertahankan sebuah kata `kejujuran` di tengah-tengah hidup yang serba hedonis dan permisif ini. Orang hanya bisa bicara tentang keharusan berbuat jujur, tetapi dalam praktek kehidupannya tidak sesuai dengan bicaranya. Orang-orang jenis ini yang jumlahnya demikian banyak digolongkan dalam orang-orang yang inkonsisten. Dalam Surat As-Shaff: 2-3 Allah SWT berfirman:
“Hai, orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”
Kedua ayat tersebut turun ketika sebagian orang-orang yang beriman enggan dan tidak senang untuk melakukan jihad fi sabilillah. Padahal sebelum ada kewajiban berjihad mereka, orang-orang beriman, mengatakan kalau merasa senang jika Allah menunjukkan kepada mereka amal yang dicintai-Nya. Mereka juga mengatakan siap untuk melaksanakannya.Tetapi, itu tadi ketika sudah turun perintah berjihad, mereka justru berat untuk melaksanakannya. Akhirnya, Allah SWT turunkan dua ayat di atas pada mereka.
Kedua ayat dalam Surat As-Shaff itu bisa juga digunakan untuk orang-orang yang tidak konsisten (inkonsisten). Orang-orang yang inkonsisten tidak bisa dipegang omongannya. Orang-orang seperti ini jangan banyak diharapkan akan bisa menegakkan kebenaran. Sebaliknya, yang akan dilakukan adalah menentang untuk berlaku benar walapun hal itu tidak dilakukan secara terang-terangan. Orang-orang jenis ini mempunyai kontribusi menghancurkan nilai-nilai kejujuran. Hasilnya, di manapun orang jenis ini berada selalu ada kerusakan baik yang namanya materi maupun moral.
Bisa dibayangkan kalau orang-orang yang inkonsisten itu seorang ulama yang disegani umatnya. Umatnya mau dibawa ke mana dengan ulama yang inkonsisten ini? Seorang ulama yang dipandang seorang alim, ahli ibadah, sholeh-sholehah, dan sebutan-sebutan yang baik untuknya kalau tidak bisa dipegang omongannya, umatnya bisa-bisa dibawa ke jurang neraka ikut bersamanya. Ulama-ulama jenis ini di era globalisasi seperti sekarang ini karena sudah `kepincut` oleh dunia boleh jadi akan inkonsisten. Dia bisa memutarbalikkan ayat atau hadits. Sesuatu yang haram bisa jadi halal atau yang halal bisa jadi haram. Bisa juga sesuatu yang sebenarnya sudah jelas hukumnya bisa dibuat abu-abu. Ulama inkonsisten ini bisa juga disebut ulama abu-abu. Ulama jenis inilah yang dibenci oleh Allah. Untuk itu, ulama yang inkonsisten tidak termasuk yang disebutkan oleh Allah dalam Surat Fathir:28:
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Ulama yang inkonsisten, yang sudah kemaruk dengan kehidupan duniawi lebih takut pada penguasa atau takut kalau kehilangan harta benda atau takut kalau kehilangan mata pencaharian dari jual beli ayat. Intinya, dia takut dunia meninggalkan dia. Ulama jenis ini tidak layak dijadikan contoh karena dia telah mengotori agama demi memperoleh kenikmatan dunia yang demikian kecil itu. Kalau dia sadar akan tanggung jawabnya nanti di hadapan Allah di Yaumul Akhir, dia akan bisa merasakan seberapa besar hukuman padanya karena selama di dunia dia telah berbuat aniaya dengan menunjukkan perilaku tidak konsisten. Sebagai bahan masukan, boleh juga disimak bunyi penjelasan yang termaktub dalam Tafsir Ibnu Katsir tentang Surat Fathir: 28 berikut ini.
Sufyan Ats Tsauri meriwayatkan dari Abu Hayyan At Taimi dari seorang lelaki dia berkata, “Seorang yang alim tentang Allah adalah orang yang Alim tentang perintah Allah. Orang yang Alim tentang perintah Allah bukanlah orang yang alim tentang Allah. Adapun orang yang Alim tentang Allah dan tentang perintah Allah, dialah orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan mengetahui koridor agama serta hal-hal yang difardlukan oleh agama. Adapun orang yang Alim tentang Allah bukanlah orang yang Alim tentang perintah Allah, apabila dia takut kepada Allah Ta’ala dan tidak mengetahui ajaran agama serta hal-hal yang difardlukan oleh agama. Begitupun orang yang Alim tentang perintah Allah bukanlah orang yang alim tentang Allah, jika dia adalah orang yang mengetahui batasan-batasan dan hal-hal yang difardlukan oleh agama akan tetapi sama sekali tidak takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
(Dikutip dengan ringkas dari “Tafsir Ibnu Katsir, 4/729).
Mudah-mudahan kita tidak terjebak oleh segala macam bentuk fatwa atau ajakan dari ulama yang inkonsisten, yang mengajak kita ke jurang neraka (naudzubillahi min dzaalik). Wallahu a`lam bissawab.