Cerpen

Subagio S.Waluyo

          Sore itu Lukmanul Hakim baru saja pulang dari masjid setelah salat asar. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk ke nomor HP-nya. Rupanya itu dari nomor anaknya, Imran, yang tinggal di Bandung.

“Assalamualaikum!”, sapa anaknya.

“Waalaikum salam!”, jawab Lukmanul Hakim.

“Apa kabarnya, Yah?”,   tanya sang anak jauh di seberang sana.

“Alhamdulillah sehat. Ibu juga sehat. Gimana dengan istri dan anak-anakmu? Sehat semua?”, tanya Lukmanul Hakim.

“Alhamdulillah semuanya sehat. Mudah-mudahan kita semua diberi Allah kesehatan ya?”

“Amin. Yaa robbal alamin”, Lukmanul Hakim mengaminkannya.

“Yah, aku mau ngasi kabar kalau rumahku baru aja selesai direhab. Lantai atas aku gunakan nanti buat anak-anakku yang sudah mulai besar. Lantai bawah selain ada kamar buatku dan istri juga ada kamar buat ayah dan ibu. Aku dan istriku ingin sekali ayah dan ibu tinggal di rumahku. Gimana, Yah? Ayah setuju?”, tanya Imran anaknya.

Lukmanul Hakim sempat tercenung sejenak. Terasa berat baginya untuk menjawab pertanyaan sang anak. Dia dikagetkan oleh suara anaknya di seberang sana. Jauh di Bandung.

“Halo. Gimana, Yah? Ayah dengar suaraku?”, tanya anaknya.

“Ya, ayah dengar. Tapi, gak semudah itu ayah memutuskannya. Ayah harus ngomong dulu sama ibumu”, jelas Lukmanul Hakim.

“Silakan kalo mau ngomong dulu sama Ibu”, kata anaknya mempersilakan.

“Kalo bisa jangan lama-lama, Yah. Aku butuh jawaban secepatnya”, pinta anaknya.

“Insya Allah, secepatnya ayah kasi kabar. Kamu tunggu aja kabar dari ayah”, katanya.

“Ya, udah kalo gitu nanti Ayah sampaikan ke ibu, ya? Salam buat ibu, Yah”, pesan anaknya.

“Insya Allah ayah sampaikan salam darimu ke ibu”, janji Lukmanul Hakim pada anaknya.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam”

          Baru saja Lukmanul Hakim memutuskan sambungan telpon dengan anaknya, tiba-tiba saja istrinya menanyakannya.

“Dari Imran ya, Yah?”, tanya istrinya.

“Ya. Dari Imran”, jelasnya.

“Ada apa lagi dia nelpon Ayah?”, tanya istrinya penasaran.

“Dia baru saja rehab rumahnya. Lantai atas mau digunakan untuk anak-anaknya karena mereka sudah besar-besar. Lantai yang bawah digunakan untuk dia sama istrinya. Tapi, juga dia buatkan kamar buat kita supaya kita mau tinggal bersama mereka”, jelas Lukmanul Hakim.

“Ibu biar gimanapun gak mau tinggal sama anak biar di sana ada cucu yang kata orang menyenangkan”, istrinya menjawab dengan ketus.

“Terserah kalau Ayah mau tinggal sama mereka”, lanjut istrinya.

“Ayah juga sama Bu, gak mau tinggal sama mereka. Kalo kita kangen sama mereka kita datangin aja”, jelas Lukmanul Hakim.

“Ya, mendingan begitu Yah. Kita cukup datangin aja. Gak usah tinggal sama mereka. Biar mereka rumahnya besar dan mewah. Semuanya serba tersedia. Buat ibu lebih baik tinggal di sini. Jauh sama anak, menantu, atau cucu lebih enak. Kita lebih bebas. Kalo kita tinggal sama mereka, kita gak bebas. Kita bisa-bisa dicuekin. Imran yang sibuk dengan pekerjaannya. Istrinya yang juga sibuk sama urusannya. Anak-anaknya yang asik sama hp-nya. Kita dibikin kayak patung. Gak diajak ngomong. Kita `kan dah cukup lama tinggal di Jakarta. Sekarang kita tinggal di kota kecil ini. Buat ibu, kota ini bikin kita tenang hidup. Jauh lebih enak tinggal di sini. Bandung yang kita tahu `kan hampir sama aja dengan Jakarta. Cuma udaranya agak sejuk. Kalau bisingnya sih sama saja dengan Jakarta. Di Purworejo ini kita benar-benar bisa menikmati hidup, Yah”, cerocos istrinya. 

“Ya”, jawab Lukmanul Hakim singkat.       

“Nanti kalo Imran nelpon lagi jawab aja begitu Yah”, pesan istrinya.

“Insya Allah ayah sampaikan seperti yang Ibu katakan tadi”, janjinya.

“Ibu sih pengennya dulu anak-anak gak terlalu jauhlah tinggal sama kita. Sekarang yang paling dekat cuma si ikhwan aja. Anak bungsu kita. Dua anak kita jauh tinggalnya sama kita”, cerocos istrinya.

“Ya, itu sudah qodarullah, Bu. Kita tinggal jalanin aja ketentuan dari Allah. Semuanya `kan pasti ada hikmahnya”, kata Lukmanul Hakim.

“Ya. Ada hikmahnya. Tapi, nanti kalo kita dah meninggal, ini rumah apa mau kita jual aja?”, tanya istrinya.

“Mau gak mau ya, harus dijual. Kalo bisa sih sama salah seorang dari anak kita”, saran Lukmanul Hakim.

“Ibu setuju kalo rumah ini dibeli sama salah seorang anak kita. Soal dia mau tempatin atau mau dikontrakkan dulu gak apa-apa. Ini `kan rumah warisan dari kakek dulu. Kalo bisa jangan jatuh ke tangan orang lain”, saran istrinya.

“Dari ketiga anak kita, ayah lebih setuju kalau rumah ini dibeli sama Ikhwan”, kata Lukmanul Hakim.

“Ibu juga setuju. Tapi, apakah dia punya uang buat beli rumah ini?”, tanya istrinya penuh keraguan.

“Mudah-mudahan saja Ikhwan diberi kemudahan sama Allah buat beli rumah ini”, kata Lukmanul Hakim penuh harap.

“Amin!”, jawab istrinya mengaminkan.

“Iaudah, nanti kalo Imran telpon lagi, jangan lupa jawab aja yang seperti ibu sampaikan tadi”, pesan istrinya mengingatkan.

“Siap 86”, jawab Lukmanul Hakim sambil cengengesan.

Istrinya cuma senyum singkat saja mendengar jawaban Lukmanul Hakim.    

***

          Lukmanul Hakim telah lima tahun pensiun dari BPK. Dia mengabdi sebagai PNS di BPK lebih dari 35 tahun. Selama berkeluarga dia tinggal di  Rawamangun dekat kampus IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Dari hasil pernikahannya selama 41 tahun, Lukmanul Hakim dikaruniai tiga orang anak. Semuanya laki-laki dan enam orang cucu. Dari tiga anak, anak pertama tinggal di Bandung. Anak kedua menempati rumahnya yang lama di Jakarta. Sedangkan anak ketiga tinggal bersama mertuanya di dekat rumahnya saat ini, di Purworejo. Tinggallah kini Lukmanul Hakim hanya berdua dengan istrinya.

          Rumah peninggalan orangtuanya yang kini ditempati Lukmanul Hakim tergolong besar. Luas tanahnya hampir 1.000 m2. Luas bangunannya 200 m2. Halaman depan dan belakang masih ada tanah kosong. Di samping kanan ada garasi yang digunakan untuk memarkir mobil, sepeda motor, dan sepeda miliknya. Di samping kiri masih ada tanah kosong yang digunakan untuk jemuran. Sebelum Lukmanul Hakim menempati rumahnya lima tahun lalu, rumah itu sempat direhab. Halaman depan rumahnya sebagian dipasangi paving block yang bisa digunakan untuk 4-5 mobil. Sebagian tanah kosong, baik yang berada di halaman depan maupun belakang ditanami berbagai jenis tanaman hias, sayur-sayuran, dan beberapa pohon buah. Dengan rumah yang cukup besar dan halaman yang luas disertai udara Purworejo yang tidak terlalu panas membuat rumah tinggal Lukmanul Hakim cocok untuk orang-orang lansia.

          Halaman rumahnya yang terbilang luas itu diurus mereka. Terkadang anaknya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya ikut bantu-bantu. Hasil dari bertanam sayuran dinikmati mereka berdua. Terkadang jika berlebih tetangga-tetangga yang bersebelahan dengan rumahnya turut menikmatinya. Tanaman hias yang turut menyegarkan halaman rumahnya juga dirawat dengan apik oleh sepasang suami-istri itu. Beberapa pohon mawar dan melati memberikan sumbangan wewangian yang membuat tamu yang datang ke rumahnya dijamu bukan saja oleh jamuan minuman dan makanan, tapi juga wewangian dari bunga-bunga yang banyak tumbuh di rumahnya. Di musim buah-buahan seperti, mangga, yang tumbuh di rumahnya ketika panen tidak pernah dijual. Mereka lebih cenderung membagikannya pada tetangga-tetangganya sehingga tidak ada tetangga-tetangganya yang memiliki perasaan negatif pada kedua pasangan lansia itu. Bagi Lukmanul Hakim dan istrinya, mereka saat ini benar-benar merasakan kehidupan yang damai karena di saat-saat tertentu ada saja tetangga-tetangga yang memberikan penganan pada kedua lansia itu.  

          Tidak terasa sudah lima tahun Lukmanul Hakim tinggal di Purworejo. Anak bungsunya sebelum menikah sempat tinggal bersamanya selama tiga tahun. Setelah menikah dua tahun lalu, anak bungsunya tidak lagi tinggal bersamanya. Setiap akhir pekan anak bungsunya bersama istrinya bermalam di rumahnya. Di hari-hari libur di tanggal-tanggal merah, mereka berempat sering ke tempat-tempat wisata yang berada di sekitar Purworejo. Terkadang, mereka juga berkunjung ke Bandung dan Jakarta menengok anak Lukmanul Hakim yang pertama dan kedua. Terkadang juga ke Malang tempat kakak iparnya. Rumah Lukmanul Hakim ramai dikunjungi anak, menantu, dan cucu-cucunya di saat-saat libur lebaran dan liburan sekolah. Kehadiran mereka tentu saja menjadi hiburan tersendiri bagi Lukmanul Hakim dan istrinya.

          Selama menjalani masa-masa pensiun Lukmanul Hakim banyak melakukan aktivitas sosial dan keagamaan. Sebagai `Darah Biru` keluarga Muhammadiyah, begitu Lukmanul Hakim kembali ke kampung halamannya langsung ditawari jabatan di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purworejo. Tapi, Lukmanul Hakim lebih memilih menjadi bendahara di masjid Muhammadiyah di tempat tinggalnya. Jabatan sebagai bendahara masjid tidak lama dipegangnya. Begitu ketua masjid yang lama meninggal dunia, Lukmanul Hakim didapuk oleh jamaah masjid untuk menggantikan ketua masjid yang wafat. Semenjak Lukmanul Hakim menjadi ketua masjid banyak kebijakan yang dibuatnya. Kebijakan yang dibuat menunjukkan kebaikan. Kebijakan membuka pintu lebar-lebar buat para musafir, misalnya, ternyata membuat masjid itu semakin makmur karena mereka yang dilayani di masjid itu tidak segan-segan memberikan infak. Kas masjid yang selalu kosong alias nol, justru memancing jamaah dari mana saja untuk gemar berinfak. Hasil dari infak jamaah digunakan untuk menjamu musafir, memberikan beasiswa bagi anak keluarga tidak mampu, dan program menyejahterakan orang-orang duafa dalam bentuk pemberian pelatihan dan modal usaha. Program itu diperoleh dari hasil ziswaf masjid selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Selain itu, tidak ketinggalan setiap bakda salat jumat ada pembagian beras gratis buat orang-orang duafa. Setiap memasuki bulan Ramadan masjid selalu dipenuhi jamaah selama sebulan penuh. Selama itu pula pengurus masjid menyediakan takjil dan makanan berbuka puasa. Bukan itu saja, setiap idul qurban daging qurban yang berlebih disalurkan ke beberapa desa di sekitar masjid yang terbilang miskin. Kesibukannya sebagai pengurus masjid membuat Lukmanul Hakim semakin kerasan tinggal di kota yang digelari `kota pensiunan` itu.

          Setiap selesai salat jumat anak dan istrinya, termasuk menantunya ikut bantu-bantu mendistribusikan beras gratis pada orang-orang duafa. Setiap bulan sekali selain beras juga diberikan sembako. Istri dan menantunya juga ikut aktif memberikan pengajaran tahsin buat ibu-ibu dan remaja masjid. Banyaknya aktivitas sosial dan agama membuat mereka memiliki kebahagiaan tersendiri. Dengan cara demikian mereka merasa kalau hidupnya benar-benar bisa bermanfaat buat sesamanya. Di hari-hari liburan sekolah ketika anak, menantu, dan cucu-cucunya yang berasal dari Bandung dan Jakarta datang mengunjunginya, Lukmanul Hakim mengajak mereka untuk mengikuti aktivitas sosial dan keagamaan di masjid yang dikelolanya. Lukmanul Hakim menanamkan nilai-nilai kebaikan buat keluarganya lewat masjid.

***

          Tiga hari setelah anaknya, Imran, menelponnya, kembali sang anak menelpon ayahnya. Setelah saling sapa dan basa-basi, tibalah Imran bertanya tentang tawarannya tiga hari yang lalu.

“Yah, bagaimana? Ayah-Ibu bersedia tinggal denganku?”

Lukmanul Hakim sempat diam sejenak. Setelah anaknya berbicara lagi, “Gimana Yah? Ayah bersedia?”, tanya anaknya.

“Imran, ayah minta maaf, ayah tidak bersedia memenuhi permintaanmu”, jawab ayahnya sedikit menghiba.

“Seluruh keluarga ayah di sini sudah terlanjur kerasan tinggal di sini”, katanya menambahkan.

“Kerasan? Ayah tinggal di Purworejo kota kecil yang justru membuatku terasa sepi karena gak banyak kesibukan, membuat ayah sekeluarga kerasan?”, tanya anaknya.

“Ya, ayah sekeluarga sudah kerasan tinggal di sini”, tegas ayahnya.

“Kenapa Yah bisa kerasan?”, tanya anaknya penasaran.

“Di sini ayah sekeluarga menemui kedamaian hidup”, katanya tegas. Sebelum anaknya bertanya lebih jauh Lukmanul Hakim menambahkan.

“Ya, di sini ayah menemui kedamaian hidup karena jauh dari kebisingan. Memang, ini kota kecil. Tapi, kota ini cocok buat orang seperti ayah dan ibu, kota orang-orang pensiunan. Selain itu,….”, Lukmanul Hakim terasa berat untuk menyampaikannya sehingga sang anak diseberang sana sempat penasaran.

Selain itu apa Yah?”, tanya anaknya penasaran.

“Maaf Imran, ayah terpaksa harus mengatakannya walaupun terasa berat”, kata Lukmanul Hakim tercekat.

“Ya, apa Yah? Katakan saja terus terang!”, kata sang anak sedikit memaksa.

“Ayah dan ibu mau bebas. Ayah dan ibu gak mau serba dilayani dan dibatasi. Ayah biasa pagi-pagi bikin kopi sesuai selera ayah. Kalo ayah ke rumahmu, pagi-pagi istrimu sudah mengingatkan ayah biar dia aja yang bikinin kopi. Ayah gak mau serba dilayani Imran. Selain itu, ayah dan ibu biasa kalau pagi sehabis selesai kegiatan di masjid jalan-jalan pagi. Di tempat tinggalmu gimana bisa jalan-jalan pagi kalau begitu keluar dari komplek rumahmu sudah banyak kendaraan berseliweran yang membuat ayah dan ibumu tidak nyaman jalan di pedesterian yang sudah dipenuhi pedagang kaki lima”, jelas Lukmanul Hakim.

“Selain itu, kamu sendiri juga tahu, Nak, ayah sekeluarga sejak tinggal di kota ini ikut aktif memakmurkan masjid. Kalau ayah dan ibu tinggal di rumahmu, apa mungkin ayah dan ibu bisa aktif memakmurkan masjid?”, tanyanya (walaupun pertanyaan itu tidak perlu dijawab anaknya).

“Jadi, ayah minta maaf, Nak, kalau tidak bersedia tinggal bersamamu. Lebih baik seperti yang biasa kalian lakukan saja setiap liburan lebaran atau liburan sekolah kalian tengokin orangtua kalian. Atau kalau ayah dan ibu kangen sama cucu biar ayah dan ibu yang datang nengokin kalian”, pintanya.

“Baik, Yah. Aku gak bisa memaksa. Aku sangat menghargai  keberatan ayah dan ibu tinggal bersamaku di sini. Insya Allah liburan akhir tahun ini, aku sekeluarga akan nengokin ayah-ibu. Ihsan dan keluarganya juga punya niat yang sama mau nengokin ayah ibu. Kami akan berangkat bareng-bareng dari Bandung. Maafkan aku ya, Yah? Salam buat ibu dan Ikhwan”, kata Imran dengan sedikit tercekat (karena permintaannya tidak dituruti ayah dan ibunya).

“Insya Allah ayah sampaikan”, jawab Lukmanul Hakim.

 “Assalamualaikum!”

“Waalaikum salam!”

***

          Ada perasaan lega setelah Lukmnul Hakim menyampaikan sesuatu yang terasa berat untuk disampaikan. Sebagai orangtua yang menghadapi hari-hari yang sepi di saat-saat menghadapi hari-hari pensiun (walaupun dia dan keluarganya aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di masjid), Lukmnul Hakim sebenarnya ingin hidup dikelilingi anak-anak dan cucu-cucunya. Tapi, Lukmanul Hakim juga menyadari hidup tidak harus seperti itu. Perjalanan hidup yang diawali dengan sepasang suami-istri setelah hampir 41 tahun hidup berumah tangga siklusnya akan kembali pada kehidupan semula hanya dua pasang: suami-istri. Entah berapa lama lagi Lukmanul Hakim akan tetap hidup bersama dengan istrinya. Apakah dia yang terlebih dulu meninggalkan istrinya atau istrinya yang akan meninggalkannya? Ah, semua ini hanya Allah yang tahu. Sebagai manusia Lukmanul Hakim hanya berkenan menjalaninya.

Kota Bekasi, 28 November 2025.

By subagio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *