Sosial-Budaya-Politik
Kota Gigantisme (2)

Kota Gigantisme (2)

Subagio S. Waluyo
Apa yang bisa kita katakan dari sebuah kota yang kotor, yang tidak terurus, di sana-sini timbul kemacetan, dan banjir setiap kali turun hujan? Kita akan mengatakan kota itu telah tidak terurus. Walikota atau gubernurnya sekalipun sudah tidak berkeinginan untuk mengurusi kotanya. Atau boleh juga kota itu telah mengalami kebangkrutan. Jangan-jangan APBD yang setiap tahun rutin digelontorkan oleh pemerintah pusat tidak menyisakan sedikit pun untuk melakukan pembangunan atau pemeliharaan kota? Kota-kota semacam ini jangan-jangan telah terkena stigma kota gigantisme.
Kota Gigantisme (2) dijadikan judul kumpulan tulisan kali ini. Disajikan untuk bisa dibaca, dipelajari, dan direnungkan oleh kita semua. Memang, isi kumpulan tulisan kali ini sebenarnya lebih merupakan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di blog dan website penulis.  Sebagian juga pernah diterbitkan dalam buku-buku penulis: Penampakan Nilai-Nilai Sosial dalam Karya Sastra Indonesia dan Dari Menjauhi Hipokrit ke Mengetuk Pintu Langit. Tapi, tidak ada salahnya kalau dimuat di sini, di blog ini, supaya pembaca-pembaca lain yang tidak sempat memiliki buku-buku tersebut bisa membacanya. Insya Allah kumpulan tulisan ini akan bersambung ke Kota Gigantisme (3). Penulis ingin mengucapkan terima kasih pada anak penulis, Umair Shodiq dan Milla Karima, yang telah membuatkan untuk penulis beberapa gambar ilustrasi. Demi kesempurnaan dalam pembuatan kumpulan tulisan ini, segala. kritikan dan masukan sangat  penulis harapkan. Semoga sumbangan yang kecil ini bisa memberikan banyak manfaat.

16.  Satire yang Sarkasme

17.  Kado Obladi-Oblada

18.  Manajemen Bersih Lingkungan

19.  Perubahan harus Terjadi (1)

20. Perubahan harus Terjadi (2)

21.  Masyarakat Punya Masalah (1)

22. Masyarakat Punya Masalah (2)

23. Masyarakat Punya Masalah (3)

24. Masyarakat Punya Masalah (4)

25. Panggung Orang-Orang yang Teralienasi

26. Semrawut

27. Bangsa Berperilaku Degil

28. Corona Makhluk Allah

29. Wakil Rakyat Fatalis

30. Bermula dari Mimpi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat