Bahasa dan Sastra

KEIMANAN YANG MEMENUHI KALBU

Subagio S. Waluyo

Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan (muhsin)

(Surat Ali Imran: 133—134)

Orang yang kuat bukanlah orang yang jagoan dalam gulat, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.

(Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)

***

 Ada sesuatu yang indah ketika usai membaca cerpen Hamsad Rangkuti (“Malam Takbir”), yaitu ada hamba-hamba Allah yang bisa menunjukkan akhlak mulia. Akhlak mulia itu ditunjukkan Hamsad Rangkuti sederhana saja sebenarnya. Mereka (Tokoh Aku, Laki-laki setengah umur yang miskin, anak kecil, dan ibu sang anak) memperlihatkan perilaku yang layak ditiru di tengah-tengah kehidupan kita yang saat ini cenderung mengabaikan nilai-nilai agama. Tokoh Aku yang diam-diam peduli terhadap orang kecil di hadapannya. Laki-laki setengah umur yang miskin (belakangan diketahui sebagai tukang kebun keliling) yang benar-benar bisa menahan amarahnya. Anak perempuan yang memiliki perasaan bersalah karena telah mengganggu dan mengotori makanan tukang kebun keliling. Ibu yang mau merespon dan menolong anaknya agar tidak diliputi rasa bersalah ketika tanpa sengaja boleh jadi merusak selera makan Bapak tukang kebun keliling.

Ceritanya dimulai dari dua orang laki-laki yang tidak saling mengenal mampir ke sebuah warung. Menjelang magrib mereka sudah siap-siap untuk buka puasa. Hari itu merupakan buka puasa terakhir menjelang lebaran esoknya (malam takbiran). Tokoh Aku memesan teh panas. Bapak tukang kebun keliling memesan teh tawar. Selesai minum, mereka berdua ke mushola terdekat untuk sholat magrib. Selesai sholat mereka kembali ke warung untuk makan malam. Di luar warung ada anak-anak kecil sedang bermain bulu tangkis. Tiba-tiba saja bola bulu tangkis yang dimainkan anak-anak `nyasar` ke piring makan Bapak tukang kebun. Bapak itu sempat terkejut. Dia kembalikan bola bulu tangkis itu ke si anak perempuan. Setelah itu dia meneruskan makan malamnya.

Beberapa saat ketika sedang makan, datanglah anak perempuan bersama ibunya. Ibunya menyampaikan kalau anaknya menangis karena merasa bersalah bola bulu tangkis yang dia mainkan telah nyasar ke piring makan Bapak tukang kebun keliling itu. Bola bulu tangkis itu ketika dia bermain sebelumnya masuk ke got yang di dalamnya ada bangkai tikus. Anak perempuan itu khawatir kalau Sang Bapak telah memakan makanan yang kotor sehingga dia takut kalau suatu saat Bapak tukang kebun keliling itu jatuh sakit. Untuk itu, anak perempuan itu dan ibunya minta maaf pada Bapak tukang kebun keliling itu. Ibunya memberikan amplop berisi uang pada Bapak tukang kebun keliling. Ternyata, dia menolaknya karena dianggap sebagai peristiwa biasa. Tokoh Aku yang melihat kejadian itu mengambil inisiatif mengambil amplop pemberian Si Ibu. Kemudian setelah ibu dan anak perempuan itu pergi, amplop itu diberikan pada Bapak tukang kebun keliling. Bagi Si Bapak tukang kebun keliling amplop itu walaupun merupakan rezki yang tidak boleh ditolak, tetap saja ada rasa khawatir. Dia mengkhawatirkan kalau istrinya takabur karena merasa doanya dikabulkan. Berkat bujukan Tokoh Aku bahwa pemberian amplop itu merupakan rezki dari Allah yang bisa dimanfaatkan di Hari Lebaran besok, akhirnya Si Bapak tukang kebun keliling itu mau menerimanya.

***

Meskipun isi ceritanya demikian sederhana, muatan nilai-nilai kebaikan yang terkandung tidak sederhana. Di situ pembaca diajak merenungkan sesuatu yang boleh dikatakan seandainya pernah terjadi sangat jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan masyarakat Islam yang sudah jauh dari nilai-nilai Islam sangat tidak mungkin ada orang yang bisa demikian mudah  memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi kesalahannya dianggap fatal, yaitu mengganggu orang yang sedang makan malam sehingga kenikmatan makan malamnya terusik. Bahkan, bisa jadi karena ketika sedang menikmati hidangan ada bola bulu tangkis yang hinggap di piring makannya bukan saja orang terkejut, tapi juga bisa hilang selera makannya. Yang terjadi sebaliknya. Bapak tukang kebun keliling itu tidak terusik. Kalau terkejut, itu wajar-wajar saja. Tapi, dia bisa menguasai keterkejutannya. Dengan tenang dia kembalikan bola bulu tangkis itu ke si anak perempuan. Tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Kemudian dia teruskan makan malamnya seolah-olah peristiwa itu tidak pernah terjadi.

Tiba-tiba secara tak terduga bola bulu ayam itu jatuh kedalam piring  laki-laki yang duduk di depanku. Bola bulu ayam  itu bertengger di atas  tumpukan nasi. Aku bersikap seolah tidak melihat peristiwa itu. Di belakang laki-laki itu muncul seorang anak perempuan. Dia mematung melihat bola  bulu  ayamnya.  Orang  itu  bereaksi  menoleh  ke  belakang. Tampaklah olehnya anak perempuan itu. Dia berpaling ke piringnya. Dipandangnya bola bulu ayam itu. Diambilnya dan diberikan kepada anak perempuan  itu.

Dia melanjutkan makannya tanpa sedikit pun membuang nasi yang tercemar oleh bola bulu ayam itu. Dia menyuap nasinya seperti tidak terjadi apa-apa. Anak perempuan itu tercengan melihat kejadian itu. Dia tampak seperti terpukau. Dia tampak tidak yakin dengan apa yang dia  lihat. Tiba-tiba dia  tersentak dan  lari meninggalkan kami. Aku  terus saja makan dan melupakan peristiwa  itu. Kukira orang  lain  pun  tidak  akan  menghiraukan  kejadian  itu.  Bahkan  si pemilik warung. Sejurus  kemudian  terjadilah  hal  yang  tidak  kuduga  sama sekali. Anak  perempuan  itu muncul  bersama  seorang wanita. Dia menunjuk ke arah  laki-laki  itu.

Seandainya dia harus marah sebenarnya wajar saja karena gara-gara ada bola bulu tangkis yang menclok di piring makannya bisa merusak selera makannya. Bisa saja dia marah besar seraya memaki-maki si anak perempuan. Tapi, itu tidak dilakukannya. Di sini Allah menunjukkan pada hamba-hamba-Nya, orang yang telah berpuasa sebulan penuh kalau disertai dengan imanan wahtisaaban akan bisa menahan amarah seseorang. Hal itu sesuai dengan gambaran yang terdapat dalam Surat Ali Imran: 133-134 bahwa orang beriman itu dicirikan dengan bisa menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Puasa yang telah dijalankan oleh Bapak tukang kebun keliling itu selama sebulan telah menjadikan dirinya memiliki akhlak mulia. Buktinya dia bisa menahan marah dan memaafkan kesalahan orang lain. Orang seperti yang Insya Allah diterima ibadahnya dan dimasukkannya ke dalam orang-orang yang takwa. Jadi, kalau ada orang yang telah berpuasa sebulan penuh dan diisi waktu-waktunya dengan ibadah pada Allah, tapi belum bisa juga menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, orang seperti ini belum bisa dimasukkan sebagai orang-orang yang takwa. Orang-orang seperti ini sangat banyak di dunia ini.

***

Tokoh Aku yang memiliki kepedulian dengan sesamanya juga orang yang Insya Allah diterima ibadahnya di bulan Ramadhan. Puasa sebulan penuh yang dijalankannya telah membentuk pribadi muslim yang peduli dengan sesamanya. Selain ibadah puasa yang dijalankannya, orang tuanya telah memberikan contoh kebaikan pada anak-anaknya. Orang tuanya (ayah Tokoh Aku) diceritakan orang yang suka memberikan seperti pakaian layak pakai pada orang-orang kecil seperti tukang kebun. Padahal pakaian yang dipakai orang tua dan anak-anaknya terhitung masih layak pakai. Tapi, ayahnya berpikiran lain sehingga contoh-contoh kebaikan ini terwarisi ke anak-anaknya termasuk Tokoh Aku. Tokoh Aku di kisah itu menceritakan kalau tukang kebun langganannya suatu saat datang bukan pada waktunya. Karena tahu kalau ada kebutuhan mendesak menjelang lebaran, dia mau tidak mau membiarkan semak-semak di pekarangan rumahnya dibersihkan. Ini suatu bukti bahwa seorang muslim memiliki kepedulian dan sekaligus kepekaan pada saudara muslim lainnya.

Memandangnya aku jadi teringat akan tukang kebun keliling yang  sebulan  sekali  datang  ke  rumah  kami  untuk  membersihkan pekarangan. Wajah mereka selalu menipu umur mereka. Kurasa usia orang  ini  tidak  jauh  terpaut dari usia  tukang kebun  langganan kami. Dua hari yang lalu tukang kebun itu datang menawarkan jasa. Padahal  bila  dicocokan  dengan  jadwal  kedatangan  setiap  bulan, seharusnya dia datang pertengahan bulan depan. Tetapi karena aku tahu mungkin  dia  ingin  bersiap-siap menghadapi  lebaran,  semak-semak  yang  belum  begitu  meninggi  kubiarkan  dipangkasnya. Untunglah  kami masih menyenangi  pagar  tumbuhan  perdu. Kalau tidak tentu telah berkurang satu lowongan kerja untuk tukang kebun keliling  seperti dia.

Dua hari yang lalu itu kukemas pakaian-pakaian bekas anak-anak  yang  sudah  tidak  muat  lagi  mereka  kenakan.  Aku  juga menyisihkan pakaian-pakaian tua milikku, begitu pula milik istriku. Pakaian-pakaian itu kuberikan kepadanya di samping upah yang dia terima. Kami sebenarnya bukan orang yang mampu. Tapi kebiasaan seperti itu telah ditularkan orang tuaku sejak aku masih kecil. Di saat menjelang  lebaran selalu aku bertanya kepada ayah mengapa pakaian-pakaian yang masih bisa kupakai selalu saja diberikan kepada tukang kebun  yang  datang membersihkan  pekarangan  rumah  kami. Ayah selalu  berkata  bahwa  mereka  membutuhkan  sedangkan  kita  telah membeli yang baru. Kebiasaan yang kulihat sejak aku masih kecil itu tertular kepadaku setelah aku berdiri sendiri membina keluarga. Insya Allah dengan demikian aku telah membina keluarga menjadi keluarga yang pemberi.

Tokoh Aku terbentuk kepribadiannya melalui pembelajaran yang dilakukan orang tuanya. Walaupun sederhana dalam pembelajaran, justru di balik kesederhanaan itu memberikan bekas yang mendalam pada seorang anak. Sama halnya dengan anak perempuan yang bermain bulu tangkis. Ketika bola bulu tangkisnya jatuh ke tempat makan Bapak tukang kebun keliling, dia merasa sangat bersalah. Bagi anak-anak lain, mungkin dianggap biasa saja karena Bapak tukang kebun keliling itu tidak marah. Mungkin karena tidak marah, apa salahnya  kalau meneruskan permainan? Anggap saja itu angin lalu. Si anak perempuan itu tidak demikian. Dia temui ibunya. Sambil menangis karena ada perasaan bersalah, dia sampaikan permasalahannya (mungkin juga dia bujuk ibunya) sehingga Sang Ibu bersama anaknya mau menemui Bapak tukang kebun keliling itu sambil membawa amplop berisi uang.

Menanamkan nilai-nilai tanggung jawab pada anak sehingga anak memiliki rasa  bersalah kalau telah berbuat salah bukan pekerjaan sederhana. Anak tidak cukup dinasihati, tapi juga diberi contoh. Dalam hal ini proses pembelajaran yang dilakukan ibunya melalui contoh-contoh konkrit. Ibunya memberikan contoh-contoh nilai-nilai agama yang berkaitan dengan tanggung jawab dan kejujuran. Selain itu, ada pembelajaran yang berkaitan dengan saling mempercayai satu sama lain. Dalam hal ini si ibu dalam mendidik anaknya menjauhkan diri dari kebohongan. Kalau saja sejak kecil anak diajar dengan kebohongan atau ditakuti-takuti, sampai dewasa nanti si anak akan terbiasa berbuat bohong. Di sini Hamsad Rangkuti sebagai penulis cerpen menunjukkan ternyata si ibu yang tahu persis anaknya tidak mengada-ada (berbohong) turut berempati ketika anaknya memiliki perasaan bersalah pada orang lain. Sikap itu ditunjukkan dengan mau menemui si Bapak tukang kebun keliling untuk mengantarkan anaknya agar mau meminta maaf dan memberikan uang yang bisa digunakan untuk berobat kalau suatu saat si Bapak tukang kebun keliling itu sakit. Bukankah ini juga pembelajaran yang berkaitan dengan kepedulian sekaligus kepekaan?

Bicara tentang kepedulian dan kepekaan, dalam cerpen “Wangon Jatilawang” (Ahmad Tohari) juga menggambarkan kepedulian dan kepekaan Tokoh Aku terhadap Sulam. Sulam digambarkan sebagai orang yang terbelakang mentalnya. Orang yang selalu wara-wiri jalan kaki dari Wangon ke Jatilawang. Sepanjang jalan itu tidak ada orang yang peduli. Bahkan, orang menganggap sial kalau rumahnya dikunjungi Sulam. Anak-anak kecil yang berada di sepanjang jalan itu malah sering mengolok-olok dengan berbagai cara. Hanya Tokoh Aku yang mau menerima kehadirannya. Walaupun banyak orang yang tidak setuju dengan sikapnya, Tokoh Aku bergeming. Tapi, di akhir kisah ada sebuah perasaan bersalah pada Tokoh Aku karena dia merasa sia-sia puasanya sebulan cuma gara-gara tidak memenuhi permintaan Sulam sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa. Dia merasa ibadahnya tidak diterima karena masih bercokol dalam dirinya sangka buruk terhadap Sulam. Dia khawatir kalau Sulam diberikan pakaian sebelum lebaran, pakaian itu akan kotor. Sikap Tokoh Aku yang merasa bersalah semakin terpukul dengan kematian Sulam. Kematian Sulam bagi Tokoh Aku seolah-olah merupakan sindirian yang paling sarkastik.

“Pak, Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang.”

Bisa jadi tukang beca itu masih berkata banyak. Namun kalimat pertamanya yang kudengar sudah cukup. Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Aku malu, perih. Demikian malu sehingga aku tak berani menjenguk mayat Sulam di Jatilawang meski istriku berkali-kali menyuruhku ke sana. Sulam telah menyindirku dengan cara yang paling sarkastik sehingga aku mengerti bahwa diriku sama sekali tidak lebih baik daripadanya. Atau memang demikianlah keadaan yang sesungguhnya. Karena dalam hati sejak lama aku percaya, setiap hari Tuhan tak pernah jauh dari diri Sulam. Dan aku konon telah mencoba bersuci jiwa hampir sebulan lamanya, malah menampik permintaan Sulam yang terakhir. Padahal sungguh aku mampu memberikannya.

***

Salah satu tujuan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah menanamkan kepada hamba-hamba-Nya rasa kepedulian, kebersamaan, dan kepekaan. Pada Tokoh Aku, Bapak tukang kebun keliling, anak perempuan dan ibunya, atau pada Tokoh Aku di cerpen ‘Wangon—Jatilawang” ibadah puasa memberikan bekas yang sangat mendalam. Baik Hamsad Rangkuti maupun Ahmad Tohari telah berhasil lewat cerpennya memberikan pembelajaran kepada kita semua bahwa puasa Ramadhan yang kita jalankan harus membentuk pribadi muslim yang peduli, peka, dan memiliki kebersamaan. Kalau semua itu tidak memberi bekas dalam diri kita, patut kita renungkan, mengapa itu bisa terjadi? Hasil perenungan harus bisa menjawabnya, yaitu melalui perbaikan niat kita, perbaikan ibadah kita, dan perbaikan hubungan kita pada Allah. Semoga di setiap kali kita melaksanakan ibadah Ramadhan ada perbaikan-perbaikan sehingga memasuki bulan Syawal kita benar-benar menjadi seperti orang yang terlahir kembali. Lahir sesuai dengan fitrahnya. Wallahu a`lam bissawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat