Cerpen

Subagio S.Waluyo

          `Dia telah mengambil haknya`. Itulah kalimat yang selalu aku katakan kalau setiap kali ada yang kumiliki hilang. Istri dan anak-anakku juga heran kenapa kalimat yang itu-itu saja yang aku ucapkan kalau ada sesuatu yang kumiliki hilang? Apa tidak ada yang lain? Buatku untuk menyampaikan kalimat yang lain terlampau sulit diucapkan. Justru, dengan kalimat itu aku bisa jelaskan kalau semua yang aku peroleh tidak sepenuhnya milikku. Ada sebagian milik mereka: orang-orang duafa yang memang harus mendapat bagian dariku. Istri dan anak-anakku masih belum bisa menerima karena ada alasan tidak semua orang yang mengambil milikku orang-orang duafa yang memang harus ditolong. Bisa saja mereka itu mencuri milikku untuk maksiat. Aku membenarkan alasan mereka, tapi aku selalu berbaik sangka kalau, misalnya, mereka mencuri jam karena mereka ingin pakai jam yang seperti milikku. Karena tidak mampu, mereka mencuri. Terkadang aku juga bilang kalau Tuhan Maha Pemurah sehingga Tuhan akan menggantikan sesuatu yang kita milikku dengan sesuatu yang lebih baik. Nyatanya, terbukti dalam hitungan waktu yang demikian singkat rizki buatku datang dengan jumlah lebih besar dari yang dicuri orang. Makanya, aku lebih suka mengucapkan `Dia telah mengambil haknya`. Mungkin karena sudah bosan mendengar kalimat yang aku ucapkan, lama-lama mereka tidak mau lagi mengomentari ucapanku. Mereka cuma mengucapkan `inna lillahi wa inna ilaihi roji`un`. Aku juga ikut-ikutan latah mengucapkan hal yang sama. Setelah itu kami diam seribu bahasa.

          Suatu kali ketika kami berempat menonton berita di televisi ada berita kejadian penjarahan di rumah seorang menteri. Tanpa dikomando kami semua sontak mengucapkan `inna lillahi wa inna ilaihi roji`un`. Tapi, ada sesuatu yang ganjil, mereka tanpa aku sadari juga mengucapkan kalimat yang sering aku ucapkan `Dia telah mengambil haknya`. Aku jadi terheran, apakah ini sebuah sindiran buatku atau mereka telah terpengaruh dengan ucapanku? Padahal aku sendiri tidak mengucapkannya? Kok, bisa-bisanya mereka sontak mengucapkan kalimat yang sering aku ucapkan? Belum sempat aku bertanya serentak mereka juga mentertawai kebingunganku. Menghadapi sikap mereka, aku sendiri jadi salah tingkah. Mereka malah tambah keras tertawa. Biar bisa mengimbanginya aku juga ikut tertawa terpingkal-pingkal. Tengah kami asyik tertawa terpingkal-pingkal, tiba-tiba saja ada orang dari luar pagar rumahku mengucapkan salam.

“Assalamualaikum, Pak Dosen.”

“Waalaikum salam. Eh, Pak RW. Ada apa ya, Pak?”, sambil aku persilakan Pak RW masuk ke rumahku. Pak RW tidak bersedia masuk. Pak RW malah menyampaikan agar saya segera ke Kantor RW sekarang juga. Aku terheran-heran dengan permintaan Pak RW yang memintaku ke Kantor RW. Makanya aku bertanya.

“Ada apa Pak RW?”

“Ada orang yang mengambil sepeda anak Bapak. Sekarang orangnya ada di Kantor RW”, jelas Pak RW.

“Saya malah gak tahu Pak, kalau sepeda anak saya hilang?”, tanyaku heran.

“Ya udah. Bapak ke sana aja sekarang ya?. Nanti biar jelas.”, pinta Pak RW.

“Baik Pak RW”, kataku.

          Setelah Pak RW pergi aku segera panggil anakku. Menurut pengakuan anakku memang benar sepedanya hilang. Dia enggan menyampaikannya. Karena dia juga tahu kalau ada yang kehilangan apapun aku selalu mengucapkan kalimat yang sama. Selain itu, aku tidak pernah melakukan apapun. Akhirnya dia tidak mau bilang kalau sepedanya hilang. Aku juga sebenarnya seperti yang sudah-sudah bersikap sama cenderung tidak peduli karena aku sudah mengikhlaskannya. Tapi, karena Pak RW minta aku harus ke Kantor RW dengan terpaksa aku dan anakku segera ke Kantor RW. 

***

          Di Kantor RW sudah banyak orang berkerumun. Begitu aku dan anakku masuk ke Kantor RW segera orang yang berkerumun itu meminggir. Aku lihat wajah pencuri sepeda itu lebam-lebam dan luka di sana-sini. Melihat itu aku iba. Aku tidak tega `Kok, orang yang cuma mencuri sepeda dibuat bonyok wajahnya? Sementara koruptor yang tertangkap tangan oleh KPK masih sempat cengar-cengir?`. Aku segera menyapanya.

“Assalamu`alaikum Pak”, kataku.

“Waalaikum salam. Maaf, saya telah mencuri sepeda anak Bapak”, katanya menghiba.

Mendengar pengakuan si pencuri orang-orang di luar teriak-teriak tidak karuan. Ada yang langsung menghampiri si pencuri sambil teriak.

“Eh, maling tumben-tumbenan lu ngaku curi barang orang?”, katanya dengan suara tinggi. Pak RW langsung melerainya.

“Udah tarik ke luar aja Bang, kita mampusin dia!”

“Iya, Bang. Kita tarik ke luar. Kita kasi bogem mentah!”

“Sudah, sudah. Jangan diterusin. Kita selesaikan saja baik-baik. Kita gak boleh main hakim sendiri”, teriak Pak RW berupaya mencegahnya.

“Wah, Pak RW kelewat baik nih sama maling”, kata seseorang.

“Iya, iya terlalu baik”, balas seseorang.

“Stop, stop, jangan diterusin lagi. Saya dah ikhlas kalo barang saya diambil orang. Kita selesaikan saja secara baik-baik!”, aku setengah berteriak menahan kemarahan mereka.

“Kita layak bersyukur orang ini tadi sudah minta maaf dan mengakui kalau dia yang mencuri sepeda anak saya. Sekarang kita selesaikan saja secara kekeluargaan. Bagaimana? Setuju?”, aku coba ajukan tawaran.

“Ya, saya sangat setuju Pak Dosen”, kata Pak RW.

“Gimana yang lain? Setuju ya?”, tanya Pak RW pada warga yang ada di luar Kantor RW.

“Ya. Setuju Pak RW!”, teriak warga serentak.

“Nah, saya perlu tahu nih dari Bapak. Kenapa Bapak mencuri sepeda anak saya?”, tanyaku.

“Saya sekeluarga sudah tiga hari gak makan Pak”, katanya menghiba.

“Tiga hari gak makan?”, tanyaku.

“Iya, Pak. Saya dah gak punya uang sama sekali”, katanya.

“Nah, Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara tadi dah dengar ya? Bapak ini sekeluarga sudah tiga hari gak makan”, jelasku.

“Ah, dia bohong tuh Pak!”, teriak seseorang di luar.

“Ya, ya, dia bohong!”, teriak yang lain.

“Tenang, tenang semuanya. Kita jangan suudzon sama orang. Agama kita mengajarkan kita untuk khusnuldzoon. Kita musti berprasangka baik sama orang. Kalau dia bohong dosanya nanti dia yang tanggung. Supaya kita tidak berprasangka buruk, sebaiknya Bapak ini kita antar ke rumahnya. Gimana?”, tanyaku.

“Kok, diantar ke rumahnya Pak. Nanti keenakan dia”, kata seseorang.

“Iya Pak, kok pake diantar ke rumah? Kenapa gak dibawa ke kantor polisi saja?”, tanya yang lain.

“Lho, tadi kita `kan sudah sepakat mau diselesaikan secara kekeluargaan saja? Kalo diselesaikan secara kekeluargaan, kita tidak usah bawa ke kantor polisi”, jelasku.

“Ya. Benar Pak Dosen. Kita tidak usah bawa Bapak ini ke kantor polisi. Kita anter saja ke rumahnya. Biar kita tahu kondisi keluarganya”, bela Pak RW.

“Setuju ya kalau kita anter ke rumahnya?”, tanyaku pada mereka.

“Ya..ya.. setuju Pak!”, serentak warga berteriak setuju.

“Sebelum kita anter ke rumahnya, saya minta luka-lukanya diobati dulu”, usulku.

“Siap Pak!”, kata Pak RW.

          Pak RW segera menyuruh salah seorang warga mengobati luka-lukanya. Sementara itu aku minta izin Pak RW untuk pulang ke rumah sebentar mengambil kendaraan. Sepeda yang dicurinya segera dibawa anakku pulang. Tidak membutuhkan waktu lama, aku dan anakku telah tiba kembali di kantor RW. Begitu sampai di kantor RW Bapak pencuri sepeda anakku telah selesai diobati. Lebam-lebam di wajahnya masih tampak. Perlu waktu agak lama untuk menghilangkan lebam-lebam di wajahnya. Warga yang tadi cukup banyak berkerumun juga pulang. Rupanya tadi ketika aku pergi meninggalkan kantor RW, Pak RW minta warga yang berkerumun kembali ke rumahnya masing-masing. Tidak ada warga yang tadi berkerumun itu ikut. Hanya Pak RW ditemani seorang Linmas. Aku berempat mengantar Bapak pencuri sepeda ke rumahnya.

***

          Ketika tiba di rumahnya, aku benar-benar kaget. Kondisi rumahnya memang sudah tidak layak disebut rumah. Bangunan rumahnya yang setengah tembok dan setengahnya lagi gedek itu sudah benar-benar kusam. Genteng rumahnya pun  sudah banyak yang melorot. Begitu aku masuk ke rumahnya, atap rumahnya yang terbuat dari gedek juga sudah banyak yang bolong. Lantai rumahnya hanya dilapisi plastik yang di sana-sini pun sudah rusak. Aku sulit membayangkan kalau hujan turun. Di rumah itu juga tidak ada aliran listrik karena pihak PLN telah mencabutnya. Kalau malam hari bisa dipastikan mereka sekeluarga akan bergelap-gelap. Aku bisa merasakan penderitaan mereka karena mereka sudah pasti tidak akan nyaman tinggal di rumah seperti itu.

          Aku sempat merenung tentang nasib mereka. Orang-orang duafa yang tidak bisa menikmati hidup selayaknya. Aku tidak habis pikir kenapa orang-orang di sekitar tempat tinggalnya tidak peduli dengan sesamanya? Aku jadi teringat kisah di masa Umar Ibnu Khatab sebagai khalifah yang membebaskan seorang pencuri karena lapar. Dari kisah Umar ini aku mau berbuat adil. Aku memang tidak akan mungkin menghukum tetangga-tetangga rumah si Bapak yang mencuri sepeda anakku, tapi aku berniat membenahi rumahnya yang sudah tidak layak ditempati itu. Tengah aku merenung, tiba-tiba saja ucapan anakku mengagetkanku.

“Yah, apa yang Ayah sering sampein selama ini benar”.

“Tentang apa, Nak?”, tanyaku penasaran.

“Itu lho, `Dia telah mengambil haknya`”, katanya bercanda.

“Ha…ha…ha!”, aku jadi tertawa. Orang-orang yang ikut mendampingiku juga ikut tertawa.

“Kalau menurutku Yah, sepeda itu kasi aja ke Bapak itu. Barangkali nanti bisa dipake anak-anaknya”, katanya.

“Mudah-mudahan aja ada manfaatnya”, tambahnya.

“Ya, yang kamu sampaikan benar, Nak. Tapi, ayah dah niat mau ngasi uang ke Bapak itu sebesar harga sepedamu. Tadi ketika kita balik ke kantor RW ayah sempat ambil uang. Jadi, sepedamu gak usah dikasi ke Bapak itu. Kamu setuju, kan?”, tanyaku.

Anakku mengangguk tanda setuju.

          Aku kemudian minta waktu pada mereka untuk bicara dan menunaikan niatku. Setelah semuanya berkumpul aku buka suara.

“Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, disaksikan Bapak RW dan Bapak Linmas hari ini saya memberikan sedikit bantuan buat Bapak, maaf siapa namanya Pak?”, tanyaku.

“Sujai”, kata si Bapak pencuri sepeda anakku.

“Ya. Saya ngasi bantuan buat Pak Sujai sekeluarga. Mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat”, kataku.

“Amin!”, serentak orang-orang yang hadir di situ mengaminkan ucapanku.

“Selain itu, saya juga usahakan merenovasi rumah Pak Sujai”, tambahku.

“Masya Allah, Pak. Terima kasih banyak!”, kata istri Pak Sujai disertai dengan linangan air mata keharuan.

“Saya hanya minta tolong didoakan agar niat saya merenovasi dan membantu keluarga Pak Sujai dimudahkan Allah Subanahu wa taala”, pintaku.

“Amin!”, serentak yang ada di ruangan itu mengaminkan permintaanku.

“Gimana Pak RW sudah cukup ya?”, tanyaku.

“Ya, saya kira sudah cukup, Pak Dosen”, katanya.

“Nah, ini Pak Sujai tolong diterima ya?”, tanyaku.

“Ya, Pak saya terima. Terima kasih banyak Pak. Sekali lagi saya minta maaf atas kekhilafan saya”, katanya.

“Ya. Saya maafkan kesalahan Bapak. Kalau memang sudah tidak ada lagi. Kami mohon pamit ya, Bapak-Ibu?”, kataku.

“Ya, Pak. Terima kasih banyak, Pak”, serentak mereka menjawab.

“Yuk, Pak RW kita balik!”

“Ya, Pak Dosen.”

***

          Di tengah perjalanan pulang aku sempat bincang-bincang kalau biaya untuk merenovasi rumah selain dariku juga akan aku usahakan bantuan dari beberapa lembaga donor yang mempunyai kepedulian terhadap orang-orang duafa. Aku juga berniat akan memberikan modal usaha buat Pak Sujai dan kalau memungkinkan istrinya juga turut diberdayakan. Anak-anaknya yang sempat mandeg pendidikannya akan aku usahakan untuk dibantu biaya pendidikannya melalui lembaga-lembaga donor. Aku juga mengingatkan peristiwa yang aku alami dan juga dialami oleh Pak RW dan yang lainnya menjadi pelajaran menarik agar kita tidak cepat menghakimi seseorang yang belum tentu terbukti hasil curiannya digunakan untuk maksiat. Kasus Pak Sujai yang mencuri sepeda anakku jelas menjadi pembelajaran kalau beliau mencuri lebih disebabkan kemiskinan. Selain itu, kita juga harus berlaku adil: kenapa seorang pencuri yang hanya mencuri sepeda harus dihakimi sedemikian rupa sampai babak belur dengan wajah penuh lebam di sana-sini sementara seorang koruptor yang sudah jelas-jelas mencuri uang rakyat aman-aman saja? Bahkan, mereka kelihatannya merasa tidak bersalah karena terbukti ketika ditangkap KPK atau kejaksaan sekalipun masih sempat cengar-cengir. Mendengar omonganku, mereka hanya mengangguk-angguk saja. Namun, jauh di lubuk hati ini ada sesuatu yang membuat aku semakin yakin begitu adilnya Allah menunjukkan padaku kalau suatu saat yang aku miliki diambil oleh-Nya, aku hanya bisa pasrah. Dan yang lebih penting lagi aku akan tetap mengatakan jika yang aku miliki hilang, aku hanya bilang `Dia telah mengambil haknya`.  

Kota Bekasi, 11 September 2025

By subagio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *