Cerpen
Subagio S.Waluyo
Aku baru saja tiba di rumah kakakku di Jakarta setelah perjalanan yang melelahkan dari Melbourne. Udara Jakarta yang cukup panas membuat sekujur tubuhku penuh keringat. AC di ruang kamarku istirahat rasa-rasanya seperti tidak mempan melawan panasnya Jakarta. Tetap saja aku bersimbah keringat. Entah AC di kamar ini yang memang sudah terbilang berumur atau karena panas di Jakarta di musim kemarau ini memang benar-benar luar biasa. Aku terbiasa di Kota Magelang, kota kecil yang dikerubungi gunung-gunung di sekitarnya yang udaranya memang sejuk. Kemudian di Melbourne juga sama udaranya tidak sepanas Jakarta walaupun memasuki masa-masa musim panas. Jakarta buatku tidak cocok dijadikan tempat tinggal meskipun harapan memperoleh kehidupan lebih baik sangat memungkinkan. Aku lebih memilih tinggal di kotaku, Magelang, walaupun untuk mencari nafkah tidak menjanjikan kata orang-orang yang pernah berjibaku di kotaku, di sana ada cinta yang tak tergantikan.
***
“Gil, kamu sudah bangun?”, tanya kakakku mengagetkanku. Kakakku biasa menyapaku `Gil` karena memang aku disebut `Ragil`. Anak bungsu dari empat bersaudara walaupun namaku sebenarnya Muhammad Ridwan. Aku anak laki-laki satu-satunya. Ketiga kakakku perempuan.
“Sudah Mbak.”
“Kok, sebentar bener tidurnya?”, tanya kakakku.
“Panas Mbak. Aku gak tahan lama-lama di sini!”, tegasku.
“Bukannya di ruang kamar kamu ada AC?”, tanya kakakku.
“Ada sih. Saking panasnya kali sampe-sampe AC-nya gak mempan tuh.”
“Kamu mandi sana gih. Biar seger!”, perintah kakakku.
“Ya. Habis mandi aku mau jalan-jalan sama Iman.”
Aku segera mandi. Selesai mandi dan berpakaian ponakanku, Iman, sudah menantikanku.
“Paklik, jadi ya kita jalan-jalan ke Tebet Echo Park?”, tanya ponakanku.
“Jadilah. Ini Paklik dah siap”, kataku.
“Yuk, Paklik kita jalan”, ajak ponakanku.
Kami berdua berjalan beriringan ke Tebet Echo Park. Lokasinya dari rumah kakakku tidak terlalu jauh, hanya ± 500 meter. Ponakanku selama dalam perjalanan tidak berhenti-hentinya mengoceh. Sekali-sekali aku coba menimpalinya. Semakin banyak aku timpali semakin banyak ocehannya. Tapi, buatku mendengar ocehannya cukup menyenangkan. Dulu ketika kecil juga sama seperti ponakanku, aku sering mengoceh. Ayah-ibuku tidak pernah sekalipun memutuskan ocehanku, kecuali jika ada orang yang bertamu ke rumahku aku diminta mereka untuk berhenti dulu mengoceh. Itu pun tamu yang bukan dari keluargaku. Memasuki usia dewasa aku cenderung pendiam.
Tidak terasa kami berdua sampai di Tebet Echo Park. Meskipun sore hari, Tebet Echo Park tetap ramai dikunjungi orang. Mungkin karena hari libur sehingga banyak pengunjung yang masih ingin berlama-lama di taman yang bisa dibilang luas, bersih, dan asri. Ponakanku begitu ketemu dengan teman-temannya langsung nimbrung, ikut main. Aku ditinggal sendirian. Aku sendiri lebih memilih jalan kaki mengitari taman. Sambil berjalan kaki aku memotret beberapa pepohonan yang buatku langka kutemukan. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang seni rupa aku selalu mencari objek menarik yang kelak bisa kujadikan bahan untuk melukis atau membuat kerajinan. Banyak karyaku yang sudah dipamerkan selama aku kuliah di Monash University. Banyak juga yang terjual. Keuntungan dari hasil penjualan karya-karyaku yang lumayan besar kutabung. Sesuai dengan saran ayahku, setiap kali aku mendapat rizki dari manapun aku sisihkan sebagian buat orang-orang duafa atau mereka-mereka yang menjadi korban genosida di Gaza. Aku tidak tahu persis jumlah uang yang tersimpan di rekeningku.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, dalam hal menempuh pendidikan aku tidak sama dengan ketiga kakakku. Kakakku yang pertama menempuh pendidikan kedokteran di UGM. Begitu selesai kuliah langsung disunting oleh kakak kelasnya sesama lulusan kedokteran. Kakakku kedua dokter gigi juga dari UGM. Dia sama dengan kakakku pertama, begitu selesai kuliah juga langsung disunting oleh seorang saudagar batik dari Jogja. Kakakku ketiga seorang arsitek dari ITB yang saat ini tinggal di Tebet. Aku sendiri lebih memilih bidang seni. Makanya lebih memilih masuk ISI. Tidak seperti kakak-kakakku, sejak SMA pun aku lebih memilih IPS daripada IPA. Dalam masalah menentukan pendidikan lanjutan buat keempat anaknya, orangtuaku boleh dibilang sangat demokratis.
Ada yang unik dalam keluargaku. Walaupun kami semua telah dewasa dan ketiga kakakku telah berkeluarga, baik ibu maupun ayahku selalu memberikan ciuman di pipi dan kening anak-anaknya. Bukan hanya itu, mereka juga tidak segan-segan satu persatu memeluk keempat anaknya. Aku masih merasakan ciuman di pipi dan kening serta pelukannya yang tentu saja menghangatkanku. Hubungan kami demikian hangat dan mesra. Aku, kakak-kakakku, dan kedua orangtuaku selalu terbuka. Mungkin karena kehangatan hubungan keluarga yang membuat aku berpikir dua kali untuk menikah dalam waktu dekat walaupun ayah-ibuku selalu mengingatkanku untuk cepat-cepat berkeluarga seperti ketiga kakakku. Entahlah sampai berapa lama aku masih berstatus jomblo.
Tengah aku melamun sambil berjalan, aku dikagetkan ponakanku.
“Paklik, jalan-jalannya udah?”, tanya ponakanku setengah berteriak.
“Kamu sendiri gimana? Dah cukup belum mainnya?”, tanyaku.
“Kalo aku sih terserah Paklik. Kalo Paklik bilang cukup, kita pulang aja. Gimana?”, tanya ponakanku.
“Sebelum pulang aku minta dibeliin es krim ya?”, pintanya.
“Ya. Nanti Paklik beliin”, janjiku.
“Yes!”, teriak ponakanku.
Kami segera berjalan beriringan pulang ke rumah kakakku setelah sebelumnya mampir sebentar membeli es krim. Ponakanku, sama seperti tadi ketika berangkat, sepanjang jalan sambil menjilati es krimnya tetap saja mengoceh. Aku tetap berempati dengan ocehan-ocehannya. Buatku sikap terbuka ponakanku yang ditunjukkan dengan ocehan-ocehannya merupakan bukti kalau di rumah kakakku juga ditanamkan keterbukaan. Tentu saja, aku yakin di rumah kakakku ditanamkan rasa cinta seperti yang ditanamkan kedua orangtuaku padaku dan ketiga kakakku. Masih dengan sisa-sisa es krim yang tergenggam di tangan kanan ponakanku, tanpa terasa kami tiba di rumah kakakku. Kakakku dan suaminya serta ponakanku kedua, adiknya Iman, menyambut kedatanganku.
“Assalamualaikum!”, teriak ponakanku.
“Waalaikum salam!, serentak mereka menjawabnya.
“Gimana Iman? Dah puas mainnya?”, tanya kakak iparku ayahnya Iman.
“Udah Yah. Tadi aku ketemu teman-teman. Aku tadi main perosotan. Nih, celanaku. Kotor ya?”, sambil berkata begitu ponakanku menunjukkan bagian belakang celananya. Serentak kami tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah laku ponakanku.
“Iaudah kamu ganti celana sana! Sekalian siap-siap salat magrib”, perintah kakakku. Kamipun segera masuk rumah untuk siap-siap salat magrib.
***
“Mbak, besok pagi aku mau pulang”, kataku.
“Mau pulang? Kok, cepet amat. Kamu di sini dulu aja barang seminggu kek”, pinta kakakku.
“Kamu kangen sama ayah-ibu, ya?”, goda kakakku.
“Selain kangen aku juga ada keperluan, Mbak”, kataku.
“Keperluannya apa? Mau minta kawin?”, kakakku masih tetap menggoda.
“Aku gak ada rencana mau kawin, Mbak”, balasku.
“Aku mau menyelesaikan urusan adminstrasi di ISI Jogja.”
“Memang ada urusan apalagi di ISI Jogja?”, tanya kakakku.
“Aku `kan diterima di program doktor. Jadi, aku mau melunasi pembayaran UKT dan beberapa persyaratan administrasinya”, jelasku.
“Alhamdulillah!”, seru Kakakku.
“Lha, kamu gak cari kerja dulu, Gil? Di Jakarta kalo kamu mau cari kerjaan kayaknya lebih gampang, Gil”, jelas kakakku.
“Gak, Mbak. Aku mau jadi dosen seperti Ayah. Sekalian aku mau kuliah S3 di ISI”, jelasku.
“Selain itu, aku mau kembali aktif di Magelang mengurusi yayasan yang punya kepedulian dengan orang-orang duafa”, tambahku.
“Yayasan amal yang dikelola ayah kita dengan teman-temannya?”, tanyanya.
“Ya. Aku dapat info dari ayah yayasan itu memerlukan orang-orang muda yang siap ikut bantu-bantu. Makanya aku mau terlibat di situ, Mbak”, jelasku.
“Wah, kamu benar-benar mau mengikuti jejak ayah, ya?”, tanya kakakku.
“Ya, aku mau mengikuti jejak ayah karena buatku ayah menjadi panutanku”, kataku mantap.
“Kamu ambil program studi apa, Gil di ISI”, tanya kakakku.
“Program Studi Seni, Mbak.”
“Aku mendaftarnya waktu masih di Melbourne secara online. Tes dan wawacaranya juga dilakukan secara online. Alhamdulillah, aku lulus. Jadi, aku lusa akan menyerahkan bukti-bukti fisik ke ISI”, jelasku.
“Kamu besok naik kereta `kan?”, tanya kakakku.
“Ya, Mbak. Aku dah dapat tiketnya.”
“Iaudah besok pagi-pagi aku antar ke stasiun.”
Aku memang kangen dengan kedua orangtuaku. Maklum sudah dua tahun aku meninggalkan mereka. Selama dua tahun itu hubungan kami cuma lewat WA atau telepon. Tentu saja komunikasi seperti itu tidak akan pernah memupus kerinduanku pada kedua orangtuaku. Buatku kasih sayang dan perhatian keduanya padaku tak `kan pernah tergantikan. Aku masih dan akan aku selalu ingat belaian ibuku di saat-saat aku mau tidur. Sampai aku dewasa pun masih demikian. Aku juga masih ingat pelukan ayahku yang demikian hangat di saat-saat aku mengalami kegalauan. Ayahku yang tidak pernah berhenti mengingatkanku untuk berhati-hati di jalan disertai untaian doa ketika aku mau berangkat ke Jogja. Memang, selama aku kuliah di ISI Jogja aku indekos di sekitar kampus. Setiap akhir pekan aku pulang ke Magelang. Kalau aku tidak pulang ke Magelang, kedua orangtuaku pasti mengunjungiku di tempat kosanku. Terkadang kalau ibuku tidak bisa ikut mengunjungiku ayahku datang mengunjungiku. Aku tidak pernah risih kalau orangtuaku mengunjungiku walaupun di saat bersamaan teman-teman kuliahku juga berkunjung ke tempat kosanku. Aku beruntung karena begitu aku kos di Jogja, kedua orangtuaku mengantarkanku ke Masjid Jogokariyan. Di masjid itulah aku aktif sebagai remaja masjid. Alhamdulillah, karena keikutsertaanku dalam aktivitas masjid, aku menjadi orang yang jauh dari perilaku buruk. Di Melbourne juga aku melakukan hal yang sama atas saran dari ayahku, aku ikut kegiatan keislaman yang dilakukan oleh teman-teman sesama mahasiswa Islam dari berbagai negara. Aku beruntung punya orangtua yang saleh-salehah. Yang bisa menunjukkan jalan yang benar yang Allah ridhoi.
Rencanaku kalau nanti aku kuliah S3 di ISI Jogja, aku tidak akan kos di Jogja. Aku mau tetap tinggal di Magelang. Aku berencana membeli mobil. Dengan mobil itulah aku akan bolak-balik ke Jogja. Tentang aktivitas di bidang seni tetap aku jalankan. Sangat mungkin selama kuliah di ISI Jogja, aku bisa sering ikut pameran sambil mempromosikan karya-karya seniku. Sewaktu-waktu jika ada kesempatan bisa saja aku ikut pameran di kota-kota besar di Jawa. Pokoknya, aku lebih cenderung tinggal dengan orangtua sambil ikut mengurusi mereka yang sudah mulai sepuh. Aku ingin menunjukkan rasa baktiku pada kedua orangtuaku. Selagi mereka masih hidup aku berprinsip `kapan lagi aku akan berbuat baik pada kedua orangtuaku?`.
***
Aku tiba di Stasiun Tugu ketika azan asar berkumandang. Aku segera menuju musala. Selesai salat aku naik Grabcar ke Magelang. Sebelum magrib aku sudah tiba di rumah. Orangtuaku menyambutku dengan penuh keharuan dan kegembiraan karena sudah dua tahun tidak berjumpa dengan anaknya yang ragil. Aku juga ikut terharu dan gembira karena masih bisa bertemu dengan orangtuaku. Ayahku seperti biasa selain mencium kedua pipiku dan keningku juga memelukku dengan erat. Pelukan kasih sayang orangtua pada anaknya. Aku masih melihat rumah orangtuaku masih seperti yang dulu. Rumah besar tapi sederhana. Rumah tempat aku dilahirkan. Rumah warisan kakekku yang telah tiada. Walaupun hanya beratapkan genteng kodok yang warnanya sudah kusam dengan ubin lama dan dinding rumah yang juga catnya di sana-sini sudah terkelupas, kami yang pernah menetap di sana masih merasakan adanya cinta. Inilah rumah cinta yang di dalamnya selalu ada cinta. Kami berempat menyebutnya sebagai rumah cinta karena memang di sana ada cinta. Bukankah kita memang membutuhkan cinta seperti yang disenandungkan John Lennon, pentolan The Beatles, band kenamaan yang menyenandungkan: “All You Need Is Love. All You Need Is Love. All You Need Is Love…Love. Love Is All You Need?”
Kota Bekasi, 11 November 2025.