TERTIPU MITOS (1)

Subagio S. Waluyo

 Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

(Surat Bani Israil: 36)

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sssat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. 

(Surat Al-A`raf: 179)

Sesungguhnya Allah SWT tidaklah mencabut ilmu (agama) dengan cara mencabutnya langsung dari hamba-hamba-Nya, tapi ia mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, hingga tiada seorang ulama pun yang tertinggal maka manusia mengambil pemimpin-pemimpin yang jahil (bodoh dalam masalah agama). Lalu, mereka ditanya (tentang masalah agama), maka mereka memberikan fatwanya tanpa pengetahuan, karena itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan.

(Riwayat Bukhari dan Muslim melalui Ibnu Umar R.A.) Continue reading “TERTIPU MITOS (1)”

HILANGNYA MUTIARA KEINGINAN

Subagio S. Waluyo

Uwak Bandi kehabisan tenaga, kehilangan doa. Tubuhnya dilumpuhkan air pasang. Kepalanya terdongak ke langit. Ei, mengapa dalam gontai kuyup pandangan, ia menyaksikan Haji Sazali melayang ke pekarangan langit, menuju bulan? Haji Sazali tersenyum sambil melambaikan tangan, semacam kibas ajakan. Uwak Bandi ingin menyahut lambaian itu. Tapi, bentang tangannya tengah berjuang menjadi benteng. Air menyandera Uwak Bandi. Bahkan, memerosokkan tubuhnya ke nganga lubang. Tenaga Uwak Bandi tinggal ampas. Tubuhnya timbul tenggelam, diisap diembuskan air pasang. Ah, adakah yang mampu mendengar gelepar tangisnya di perut air?

 ”Haji Sazali, tega nian kau meninggalkanku….”

( Cerpen Hasan Al-Banna “15 Hari Bulan”) Continue reading “HILANGNYA MUTIARA KEINGINAN”

BERMULA DARI MIMPI

Subagio S. Waluyo  

Raja berkata (kepada orang terkemuka di antara kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah tabir mimpiku ini jika kamu dapat menabirkan mimpi.” Mereka menjawab, `Itu adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menabirkan mimpi`.

 Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, `Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menabirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)`.     

(Setelah pelayan itu bertemu dengan Yusuf, dia berkata),`Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuah ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh lainnya yang kering, agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.` 

Yusuf berkata, `Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa. 

`Maka yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya.`

 `Kecuali sedikit untuk kamu makan.`

`Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit…`

 `Yang menghabiskan apa yang disimpan untuk menghadapinya (tahun sulit).`

`Kecuali sedikit dari bibit (gandum) yang kamu simpan.` 

`Kemudian sesudah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras anggur.` 

(Surat Yusuf, 12: 43— 49)

***

Pelajaran apa yang kita peroleh setelah membaca ayat-ayat Al-Qur`an di atas? Pelajaran yang diperoleh salah satu di antaranya adalah setiap kita agar belajar berhemat. Memang, pelajaran itu bermula dari sekedar mimpi sang raja. Tapi, mimpi raja kali ini bukan sembarang mimpi. Mimpi yang semula dipandang sebelah  mata oleh para tokoh di seputar raja (12: 43-44) karena buat mereka dianggap tidak masuk akal, ketika diajukan ke Nabi Yusuf ternyata memiliki makna yang demikian mendalam. Beruntung raja memiliki pelayan yang setia sehingga lewat sang pelayan yang menjadi perantara raja dengan Nabi Yusuf mimpi itu tersingkap. Singkat kata, Nabi Yusuf berpesan agar dalam masa tujuh tahun ketika hasil pertanian di kerajaan itu melimpah jangan dihabisi. Sisakan sebagian untuk disimpan karena pada masa tujuh tahun berikutnya akan terjadi paceklik. Pesan Nabi Yusuf tersebut benar-benar dijalankan mengingat Nabi Yusuf dikenal sebagai orang berilmu, terpercaya, dan berakhlak mulia.

Pesan Nabi Yusuf untuk berhemat walaupun kita berlebih sampai saat ini (bahkan sampai kapan pun) masih relevan. Di saat-saat kita menanti-nanti kapan berakhirnya pandemi Covid-19 di negara kita, ada rasa kecemasan di diri setiap orang terutama yang berkaitan dengan kondisi keuangan. Terus terang saja sebagian besar penduduk yang tinggal di negeri ini hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak di antara mereka yang bekerja serabutan, yang belum tentu setiap hari memperoleh rezeki. Mereka-mereka inilah yang mengadu nasib di kota-kota besar yang akhirnya memutuskan pulang  kampung karena di kampungnya masih ada harapan memperoleh sejumput harapan untuk menyambung hidup. Mereka-mereka inilah yang disebut Ustadz Abdul Somad ketika di acara ILC TV One (28/4-2020) yang mencari nafkahnya seperti `ayam yang dengan cekernya mengais-ngais makanan di tanah`. Artinya, kalau hari ini dapat rezeki, hari ini pula rezeki itu habis.

Orang-orang kecil seperti itulah yang selayaknya mendapat bantuan sosial dari negara ketika negara melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai ganti lockdown atau karantina wilayah. Negara (boleh juga kota, kabupaten, atau provinsi sekali pun) bisa menjalankan PSBB. Kalau perlu lockdown juga bisa asal negara sudah siap memberikan bantuan sosial buat orang-orang kecil. Karena negara jujur saja defisit perekonomian dan keuangannya (lihat tulisan penulis berjudul “Anggota Dewan Fatalis”), akhirnya negara lewat Kementerian Sosial hanya bisa memberikan bantuan uang tunai (bisa juga dalam bentuk sembako) sebesar Rp600.000,00 per bulan/keluarga. Untuk keluarga dengan tanpa anak saja boleh dikatakan tidak cukup. Apalagi kalau dalam satu keluarga punya anak dua atau lebih. Itulah kesanggupan negara memberikan bantuan sosial tidak lebih dari itu.

Bantuan sosial yang diberikan pemerintah belum tentu sampai dalam kondisi utuh. Artinya, kalau pemerintah menetapkan Rp600.000,00 setiap keluarganya, belum tentu turunnya juga sebesar itu. Apalagi kalau diganti dengan sembako, mungkin jika dihitung nilainya hanya Rp400.000,00.  Dana bantuan itu sudah disunat di beberapa level dari pemerintah daerah sampai ke tangan pengurus RT/RW turunnya bisa sebesar itu bisa juga lebih kecil dari itu. Kehadiran Covid-19 bisa jadi menyuburkan perilaku korup di kalangan pejabat. Dari pejabat tinggi di tingkat pemda (dalam hal ini pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten) sampai ke  level pemerintah di bawahnya, camat/lurah, dan pejabat kelas teri: RW/RT juga tidak ketinggalan ikut bancakan. Miris memang di tengah-tengah kondisi pandemi Covit-19 yang bikin orang-orang kecil makin susah hidupnya masih ada orang-orang yang memanfaatkan situasi kondisi seperti ini. Inilah Indonesia negeri kolam susu yang rakyatnya dibikin sengsara oleh orang-orang sesamanya.

***

(https://images.app.goo.gl/bRYUSgHeXsVbeBML7)

Perilaku anak bangsa yang serakah, yang tega-teganya memakan sesama anak bangsanya sendiri tidak akan pernah habis-habisnya dibahas. Daripada kita membahas  perilaku anak bangsa yang memang sudah jelas dari pimpinan di atasnya sudah memberikan contoh seperti itu lebih baik kita melakukan sesuatu yang bermanfaat. Bermanfaat buat diri kita sendiri dan mudah-mudahan juga bisa bermanfaat buat orang lain. Tentang caranya mudah saja. Berpatokan pada bunyi ayat Qur`an di atas tentang Nabi Yusuf yang mengungkap tabir mimpi sang raja dan perintah Allah SWT agar setiap kita mengubah nasib kita sendiri karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak berusaha mengubahnya (Ar-Ra`ad: 11). Jadi, kita mulai belajar berhemat. Ketika kita memiliki kelebihan rezeki, simpan sebagian agar nanti di masa sulit bisa kita manfaatkan.

(https://images.app.goo.gl/HQJscBWiXDN1TMST8)

Tidak sedikit orang yang mengeluhkan kalau untuk melakukan kegiatan ketahanan pangan membutuhkan lahan. Keluhan itu sebaiknya kita simpan dulu karena adagium lama yang menyebutkan `banyak jalan ke Roma.` Walaupun itu adagium lama, adagium itu masih cocok buat kondisi sekarang. Artinya, banyak cara untuk melakukan aktivitas ketahanan pangan. Dalam hal ini aktivitas ketahanan pangan yang di antaranya berkaitan bercocok tanam tidak harus tanah sebagai tempat kita bercocok tanam. Ternyata, gedebog pisang yang selama ini orang setelah memetik pisang dibuang begitu saja gedebognya bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Gambar di atas sebagai bukti kalau gedebog pisang bisa dijadikan media untuk bercocok tanam. Tentang cara bercocok tanam di gedebog pisang dan perawatannya bisa dilihat pada informasi di bawah ini. Meskipun demikian, yang perlu dicamkan, kita harus mengubah mindset kita. Yang selama ini kita cenderung bekerja sebagai buruh harian atau karyawan swasta di kota-kota besar yang akhirnya ketika terjadi pandemi Covid-19 kita menjadi korbannya, menjadi orang desa yang melaksanakan program ketahanan pangan.

Tahukah anda jika batang pisang (gedebog) dapat dimanfaatkan untuk pertanian? seperti yang kita tahu, selama ini jika petani pisang selesai memanen pisang maka batangnya hanya dibiarkan tanpa dimanfaatkan.

Batang pisang dapat digunakan sebagai pupuk organik atau bokashi. batang pisang juga bisa dimanfaatkan sebagai media tanam sayuran. jenis sayuran yang biasa ditanam di limbah pohon pisang ini adalah cabai, terong, tomat, bayam, sawi, kangkung, dan sejenisnya.

Kelebihan dalam menanam atau budidaya sayur organik dengan menggunakan media batang pisang ternyata dapat menghemat air untuk penyiraman. jika perlakuan tempat menggunakan paranet atau shading net  (green house) pada masa 3 bulan sayuran yang ditanam, anda tidak memerlukan penyiraman intensif.

Meski tidak mendapat siraman yang intensif, tetapi budidaya sayur dengan media batang pisang tetap mampu tumbuh subur. ini dikarenakan batang pisang mempunyai cadangan air yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat bertumbuh dan berkembang.

Metode budidaya sayuran dengan batang pisang (gedebog) sangat mudah dan praktis, anda hanya membutuhkan beberapa batang pohon pisang atau tergantung berapa banyak sayuran yang ingin dibudidayakan.

Peralatan dan bahan yang dibutuhkan adalah :

batang pisang

bokashi / pupuk organik

tanah

kaleng bekas berdiameter 10 cm.

yang harus dipersiapkan merupakan bibit sayur yang hendak dibudidayakan menggunakan teknik organik, penyemaian benih terlebih dahulu untuk jenis tanaman  seperti cabai , tomat, dan terong. ketiga jenis tanaman ini sangat baik dengan penyemaian benih terlebih dahulu.

Setelah batang pisang (gedebog) dilubangi dalamnya,  isi lubang tersebut dengan campuran bokashi dan tanah dengan perbandingan 2:1. lalu biarkan selama 3 – 5 hari, selanjutnya tanam bibit disaat pengisian bokashi telah mencapai 3-5 hari. untuk menjaga kelembaban suhu sebaiknya lahan yang dijadikan tempat budidaya telah dipasang dengan paranet.

Untuk perawatan tanaman dengan budidaya batang pisang (gedebog) pisang tidaklah sulit, yang diperlukan hanyalah penyemprotan pupuk cair organik setiap 5 hari sekali dan diselingi dengan pengendalian hama atau pestisida organik yang dapat dibuat sendiri.

Jika diperlakukan secara baik dan benar, maka budidaya sayur organik menggunakan batang pisang (gedebog) akan memberikan hasil yang maksimal tanpa memerlukan penyiraman. teknik budidaya ini sangat cocok untuk daerah yang kurang atau terbatas sumber air.

Ditulis : difsu setyomiarso penyuluh bpp temon, kulon progo

Sumber : https://www.bernas.id/11999-batang-pisang-dapat-menjadi-media-tanam-sayuran-yang-irit-air.html

***

Untuk melaksanakan program ketahanan pangan yang dimulai di halaman rumah kita dibutuhkan pertama, niat yang kuat untuk mengubah nasib. Karena kalau dalam diri sendiri tidak ada kemauan (walaupun sebenarnya punya kemampuan), mustahil tidak akan bisa mewujudkan sebuah perubahan nasib. Kedua, kita juga harus punya niat untuk belajar hemat. Perilaku konsumtif yang sudah membudaya dalam diri kita harus dihilangkan. Ketiga, tidak perlu ada rasa malu untuk belajar bercocok tanam walaupun kita hanya punya sedikit tanah yang tidak begitu luas. Keempat, untuk bisa mewujudkan niat kita itu, kita perlu meminta bantuan atau boleh juga bekerja sama dengan berbagai pihak. Salah satu di antaranya kita bisa bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seperti Dompet Dhuafa (DD) yang sudah sering melakukan pelatihan yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Di bawah ini bisa dilihat salah satu program pelatihan ketahanan pangan yang dilakukan DD di Kota Medan baru-baru ini.

 Dompet Dhuafa Adakan Pelatihan Ketahanan Pangan di Medan

Oleh : Herry Barus | Kamis, 07 Mei 2020

INDUSTRY.co.id – Medan– Akibat wabah Covid 19, lapisan masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan bahan pangan. Dalam rangka menjaga ketahanan pangan para mustahik, Dompet Dhuafa Cabang Waspada menggelar pelatihan Ketahanan Pangan berlokasi Kantor Dompet Dhuafa Waspada, Rabu (6/5/2020).

Sulaiman selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Waspada menjelaskan, bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Dompet Dhuafa Waspada untuk menjaga ketahanan pangan para mustahik atau masyarakat bawah dari menurunnya stabilitas ekonomi dampak Covid-19. Di tengah pandemi Covid-19 ini kita memang sengaja merancang program ketahanan pangan agar para mustahik dapat tetap bercocok tanam di rumah masing-masing dengan alat yang sederhana dan mudah didapat.

Pangan menjadi kebutuhan vital setiap insan dalam bertahan hidup. Prioritas tersebut perlu dilakukan agar setiap masyarakat Indonesia bisa bertahan hidup dengan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, menghemat anggaran serta tepat sasaran. Adapun bentuk pelatihan yang dilaksanakan yakni pelatihan budidaya ikan lele di dalam ember dan menanam sayuran. Sebagai langkah awal, Dompet Dhuafa Waspada memfasilitasi kebutuhan alat dan bahannya mulai dari ember, cup plastik, tanah, arang, hingga bibit ikan lele dan bibit sayurnya.

Salah satu penerima manfaat bernama Edi Syahputra mengaku, “Sangat bersyukur dengan adanya pelatihan yang dilakukan ini. sebelumnya saya tidak tahu bagaimana untuk budidaya lele di dalam ember jadi bisa tahu. Saya kan udah dirumahkan semenjak Covid-19, jadi budidaya ikan lele ini harapannya bisa berhasil dan bermanfaat paling tidak untuk konsumsi sendiri.

Dompet Dhuafa telah menyadari hal tersebut dan mencoba meramu solusi preventif, agar ketahanan pangan bisa ditekan. Langkah preventif tersebut hadir dalam bentuk Kebun Pangan Keluarga. Sebuah pelatihan ketahanan pangan yang memanfaatkan lahan kecil di rumah untuk memasok nutrisi harian secara mandiri. Program ini dinilai mampu mengedukasi dan menjangkau masyarakat terdampak wabah Covid-19 sehingga akan terus dilaksanakan. Dengan demikian ketahanan pangan masyarakat teratasi, kebutuhan nutrisi terpenuhi, dan kesehatan keluarga terlindungi.

(https://www.industry.co.id/read/65870/dompet-dhuafa-adakan-pelatihan-ketahanan-pangan-di-medan)

 Selain DD, ada juga TNI (dalam hal ini Kodam Jaya) yang terlibat aktif dalam menggerakkan masyarakat kecil untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong menjadi areal pertanian yang produktif. Di Kabupaten Tangerang, tepatnya di Kampung Pangkalan, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluknaga ada lahan kosong yang cukup luas (300 Ha). Sebagian lahan tersebut, seluas 50 Ha, TNI bersama masyarakat kecil dan pihak PT ASG (pemilik lahan) pada Desember 2019 di kampung itu menggarap lahan tersebut. Mereka menanam berbagai jenis holtikultura, seperti melon, labu, bayam, dan caesim. Selain itu, juga ditanam padi tradisional, rumput gajah dan padi mekanisasi. Ternyata, baru-baru ini mereka memanen hasilnya. Hasil panen tersebut jelas banyak membantu masyarakat kecil yang sekarang terdampak ekonominya akibat pandemi Covid-19. Untuk menolong sesama anak bangsa banyak cara yang bisa dilakukan. Bukan semata memberikan bantuan sosial dalam bentuk uang atau sembako, membantu mereka menyediakan lahan kosong, melatih mereka bertani yang benar, dan mengawasi aktivitas mereka selama bertani itu juga merupakan kerja-kerja konkrit yang bisa mengubah nasib sesamanya.

Pangdam Jaya Dan Bupati Zaki Panen Raya Buah Melon

Perkuat Ketahanan Pangan Ditengah Pandemi Covid-19

WEB TERPADU 10-May-20 10:39:43 13 views

Tangerang — Panglima Kodam Jaya/Jayakarta, Mayjen TNI Eko Margiono dan Bupati Tangerang, A Zaki Iskandar melaksanakan Panen Raya Hortikultura di Kp. Pangkalan Desa Pangkalan, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang Banten, Jumat (8/5/20).

“Panen Raya Hortikultura berupa buah melon ini sebagai upaya memperkuat dan meningkatkan ketahanan pangan nasional dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Ketahanan pangan nasional harus tetap berjalan,” kata Panglima Kodam Jaya/Jayakarta, Mayjen TNI Eko Margiono.

Dilanjutkan Eko Margiono dalam sambutannya mengatakan, sudah menjadi komitmen bagi Kodam Jaya untuk mendukung program Ketahanan Nasional, dengan membuka lahan yang tidak produktif untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan.

Pembukaan lahan tidak produktif menjadi lahan produktif ini dimulai dari bulan Desember 2019, bekerja sama dengan pemilik lahan PT. ASG. Luas tanah yang digarap kurang lebih 300 Ha dan berlokasi di Desa Pangkalan Angus dan Tanjung Burung.

“Dari luas lahan 300 Ha, yang telah digarap kurang lebih 50 Ha, yang sudah ditanami melon, labu, bayam, caesim, padi tradisional, rumput gajah dan padi mekanisasi,” ujar Eko.

Pangdam menjelaskan bahwa pihak Kodam Jaya hanya ingin mendorong petani untuk mau bercocok tanam dan memanfaatkan lahan kosong yang tidak produktif dan petani bisa hidup lebih layak, apa lagi saat ini negeri kita sedang dilanda wabah virus corona.

Pelaksanaan program tersebut melibatkan personel Babinsa Koramil 01/Teluk Naga, kelompok tani setempat, masyarakat desa setempat dan penyuluh dari BPT Teluk Naga Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang.

Sementara kegiatan panen hortikultura buah melon ini diadakan agar dapat dijadikan motivasi bagi petani untuk terus memaksimalkan lahan pertaniannya yang sudah disiapkan oleh Kodam Jaya.

“Harapannya, program ini terus berkesinambungan dan tidak berhenti, sehingga bermanfaat untuk kehidupan kelompok tani yang ada di wilayah Teluknaga Kabupaten Tangerang,” ujarnya.

Bupati Tangerang, A Zaki Iskandar yang hadir langsung pada acara tersebut mengucapkan Alhamdulillah, di tengah-tengah kondisi cuaca dan tantangan sosial ekonomi yang kita hadapi saat ini, kita semua masih diberikan kesempatan untuk bisa melaksanakan panen raya holtikultura di wilayah Kabupaten Tangerang.

“Saya ucapkan terima kasih serta apresiasi kepada segenap jajaran TNI dan semua pihak yang telah membina petani untuk mengolah lahan yang tidak produktif menjadi produktif di wilayah Teluknaga Kabupaten Tangerang,” ucap Zaki.

Selain itu, kata Zaki yang mengenakan kaos berwarna ungu bertuliskan “Bersama Lawan Corona”, bahwa wilayah utara Kabupaten Tangerang merupakan wilayah pesisir yang berpotensi di bidang pertanian holtikultura. Oleh karena itu, Pemkab Tangerang terus menggalakkan ketahanan pangan yang merupakan fokus RPJMD Kabupaten Tangerang.

“Mudah-mudahan penen kita di hari ini dapat menjadi inspirasi buat anak muda lainnya agar semangat berkebun dan bercocok tanam di wilayahnya masing masing,” terang Zaki.

Pada acara tersebut hadir juga Dirjen Tanam Pangan Kementerian Pertanian RI, Bapak DR. Ir. Suwandi, M.SC, Asterdamjaya Kol. Inf. Jacky Aristanto, Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian pada Kementerian Pertanian RI, Bapak Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, Danrem 05/Wijayakhrama, Kolonel Inf. Tri Budi Utomo dan Dandim 0506 Tangerang. (Bidang IKP Diskominfo Kabupaten Tangerang)

(https://tangerangkab.go.id/detail-konten/show-berita/2839)

Di luar pelibatan LSM, seperti DD, dan TNI bisa juga melibatkan masjid. Masjid di kota-kota besar (di kota-kota kecil juga bisa) memiliki uang kas yang lumayan besar. Sering kita bertanya uang kas masjid sebesar itu untuk apa? Apakah hanya digunakan untuk kegiatan rutinitas masjid yang sudah pasti masih tersisa? Atau mungkin digunakan untuk acara-acara menyambut  hari-hari besar Islam? Sering juga pengurus masjid kalau ada kegiatan hari-hari besar Islam masih juga minta sumbangan dari jamaah masjid. Bahkan, dari kegiatan tersebut dana yang masih tersisa akhirnya masuk ke kas masjid. Daripada uang kas digunakan untuk renovasi masjid, mengganti karpet masjid, atau asesori masjid lebih baik digunakan untuk yang lebih bermanfaat. Di masa-masa paceklik seperti saat ini, karena ada pandemi Covid-19, masjid harus berperan. Kas masjid harus digunakan untuk membantu sesama umat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Bisa saja dalam aktivitas pemberdayaan umat pihak masjid bekerja sama dengan DD atau TNI. Intinya pengurus masjid harus peka terhadap kondisi umat sehingga tergerak membantu sesamanya. Salah satu masjid di negara kita yang pengurusnya sangat peduli dengan umat di sekitarnya adalah Masjid Jogokariyan di Kota Yogya. Berikut informsi di seputar program Masjid Jogokariyan.

 Program

Masjid Jogokariyan merancang beberapa program dengan konsep manajemen masjid. Program-program tersebut dijalankan oleh ta’mir sebagai langkah strategis dan praktis untuk menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai pusat peradaban umat. Beberapa penjelasan detail mengenai program-program yang ada antara lain:

Pemetaan Jamaah

Ta’mir dan pengurus Masjid Jogokariyan memiliki peta dakwah yang jelas, wilayah dakwah yang nyata, dan jama’ah yang terdata. Masjid Jogokariyan menginisiasi sensus masjid yang ditujukan untuk mengetahui data-data jama’ah secara detail, mencakup potensi dan kebutuhan, peluang dan tantangan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, serta kekuatan dan kelemahan. Pendataan itu dimaksudkan sebagai database dan peta dakwah agar kegiatan masjid bisa lebih komprehensif. Database yang mereka miliki tidak hanya menyoal hal-hal semacam itu, melainkan juga menyoal siapa saja jamaah yang sudah menunaikan shalat dan yang belum, siapa jama’ah yang shalat berjamaah ke masjid dan yang tidak, siapa jamaah yang berqurban dan berzakat di Baitul Maal Masjid Jogokariyan, serta siapa saja jama’ah yang aktif mengikuti kegiatan di masjid, seperti kajian, dan yang tidak.

Di dalam peta data yang mereka miliki, diperlihatkan peta rumah penduduk Kampung Jogokariyan yang sekaligus menjadi jamaah masjid tersebut. Di dalam peta tergambar beberapa simbol seperti Kakbah (bagi penduduk yang telah berhaji), unta (bagi yang telah berqurban), koin (bagi yang telah berzakat), peci, dan lain-lain. Peta tersebut juga disimbolkan dengan berbagai warna yang berwarna-warni seperti hijau, hijau muda, kuning, dan seterusnya.

Sementara itu, data-data mengenai potensi tadi dipergunakan oleh Masjid Jogokariyan untuk berbagai keperluan. Masjid Jogoakriyan sengaja tidak membuat unit usaha sendiri di sekitar masjid. Hal itu dimaksudkan untuk tidak menyakiti hati jamaah yang memiliki usaha serupa. Sebagai gantinya, Masjid Jogokariyan selalu memberdayakan warga yang tinggal di sekitar masjid untuk berbagai macam kegiatan. Sebagai misal, setiap minggu, Masjid Jogokariyan selalu menerima ratusan tamu. Untuk keperluan konsumsi, ta’mir masjid memesankannya pada jamaah yang memiliki usaha rumah makan atau cathering.

Undangan Shalat Subuh

Dalam rangka meningkatkan niat jamaah untuk beribadah subuh berjamaah di masjid, ta’mir Masjid Jogokariyan memiliki cara tersendiri. Mereka membuat undangan khusus kepada seluruh jama’ah yang disertai dengan nama lengkap mereka. Undangan tersebut berbunyi, “Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara …. dalam acara Salat Subuh Berjama’ah, besok pukul 04.15 WIB di Masjid Jogokariyan.”. Di dalam undangan tersebut juga disertai hadist-hadist mengenai pentingnya beribadah Subuh berjamaah di masjid. Undangan semacam itu terlihat sangat eksklusif dan terbukti mampu meningkatkan jumlah jamaah shalat subuh berjamaah di Masjid Jogokariyan.

Gerakan Sisa Infak Nol Rupiah

Berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Jogokariyan sangat berupaya agar saldo infak yang diberikan jamaah habis setiap pekan alias nol rupiah, kecuali apabila ada perencanaan pembangunan atau renovasi tertentu. Para pengurus berpendapat bahwa infak jamaah bukan seharusnya disimpan di dalam rekening, melainkan harus dipergunakan untuk memaslahatan umat agar dapat memiliki nilai guna. Pemanfaatan uang infak pun bermacam-macam, selain untuk operasional masjid, juga digunakan untuk kebutuhan mendesak jamaah atau warga yang tinggal di sekitar masjid. Sebagai misal, apabila ada jamaah yang anaknya perlu membayar uang sekolah, berobat ke rumah sakit, dan lain-lain. Menurut mereka, sangat tidak etis ketika saldo rekening bank masjid menumpuk tetapi disekeliling mereka masih banyak warga yang mersakan kesulitan hidup.

Gerakan Jamaah Mandiri

Gerakan Jamaah Mandiri diinisasi oleh Masjid Jogokariyan yang bertujuan untuk menghitung jumlah infak ideal yang perlu dibayarkan oleh jamaah. Setiap jamaah akan diberi tahu jumlah uang infaknya tiap pekan, apabila jumlah yang ditentukan sesuai dengan jumlah yang diinfakan, maka jamaah tersebut disebut sebagai jamaah mandiri. Apabila uang infaknya lebih, mereka disebut sebagai jamaah pensubsidi, sedangkan apabila uang infaknya kurang, mereka akan disebut sebagai jamaah disubsidi. Metode semacam itu mampu membuat nominal infak yang diterima oleh Masjid Jogokariyan meningkat sebesar 400% setiap minggu. Ta’mir masjid pun akan memberikan laporan transparan terkait alur pemasukan dan pengeluaran dana, sehingga jamaah akan merasa senang berinfak sekali pun tidak diminta. Hal itu diharapkan oleh ta’mir sebagai upaya agar ketika akan melakukan renovasi masjid, mereka tidak perlu membebani jamaah dengan proposal.

Skenario Planning

Masjid Jogkariyan memiliki strategi dakwah yang terencana dengan tema-tema tertentu setiap periodenya. Sebagai misal, pada periode 2000-2005, strategi dakwah Masjid Jogokariyan bertekad untuk mengubah tradisi kaum abangan di Kampung Jogokariyan menjadi islami murni. Hal itu dimaksudkan karena sebagian besar penduduk Kampung Jogokariyan adalah bekas abdi dalem keraton yang mempraktikan ajaran Islam dengan kultur Jawa. Masjid Jogokariyan juga mengajak anak-anak muda yang gemar bermabuk-mabukan di jalan untuk diarahkan ke masjid. Ta’mir terutama, menjadikan mereka sebagai petugas keamanan masjid. Selain itu, Masjid Jogokariyan juga mengajak anak-anak kecil untuk beraktivitas di lingkungan masjid. Hal itu dimaksudkan agar anak-anak memiliki kecintaan kepada masjid dan hati mereka selalu terpaut kepada masjid. Lebih jauh lagi, di periode tersebut, Masjid Jogokariyan mulai gencar untuk mengajak warga yang tinggal di sekitar masjid untuk shalat berjamaah di masjid.

Pada period tahun 2005-2010, Masjid Jogokariyan merilis program bernama Jogokariyan Darusalam I yang bertujuan untuk membiasakan masyarakat berkomunitas di masjid. Berkat program tersebut, jama’ah shalat subuh meningkat sebanyak 50% atau sebanyak 10 shaff dari jama’ah shalat Jumat. Pada periode tersebut, Masjid Jogokariyan juga berkonsentrasi untuk menyejahterakan jama’ah melalui kegiatan-kegiatan tertentu, seperti lumbung masjid, memperbanyak pelayanan, membuka poliklinik, memberi bantuan beasiswa, memberikan layanan modal bantuan usaha, dan lain-lain.

 

Sementara itu, pada periode 2010-2015, Masjid Jogokariyan menggagas program Jogokariyan Darusalam II dengan tujuan untuk meningkatkan keagamaan masyarakat. Para pengurus dan ta’mir masjid bertekad untuk menuntaskan masyarakat yang belum menunaikan shalat berjamaah, meningkatkan jama’ah Salat Subuh menjadi 75% atau 14 shaf dari jama’ah Salat Jumat, menjadikan para mantan pemabuk sebagai bagian dari masjid, seperti menjadi relawan, petugas keamanan, dan lain-lain.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Jogokariyan)

***

Pandemi Covid-19 walaupun banyak memakan korban, ternyata banyak hikmah yang bisa diambil. Salah satunya memacu dan memicu kita untuk mengubah mindset. Semula hidup kita cenderung konsumtif, boros, tidak ada keinginan untuk berhemat. Karena ada pandemi Covit-19, kita mau tidak mau belajar berhemat. Selain itu, dengan adanya pandemi ini semua aktivitas dikerjakan di rumah (Work From Home/ WFH). Semula kita canggung melakukan WFH. Tapi, lama kelamaan kita jadi terbisa  melakukannya. Boleh jadi WFH di masa depan akan menjadi pilihan utama bagi orang-orang yang cenderung betah di rumah. Dengan WFH orang menjadi kreatif menciptakan sarana komunikasi yang efektif untuk semua aktivitas pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah. Sebaliknya, mereka-mereka yang jadi korban PHK atau pekerja serabutan dengan adanya pandemi yang berakhir dengan pulang kampung (kalau yang masih punya kampung) bisa melakukan aktivitas bercocok tanam. Aktivitas ini bisa mendorong mereka untuk belajar memanfaatkan setiap jengkal tanah yang kosong. Aktivitas ini juga bisa menggerakkan mereka mewujudkan program ketahanan pangan. Kalau mereka-mereka sudah memiliki mindset seperti ini, sekarang tinggal berbagai pihak yang harus siap membantu mereka. Bantuannya berupa memberikan pelatihan, memfasilitasinya, dan tentu saja mengontrol serta mengevaluasi kegiatan dan hasilnya. Wallahu`alam bissawab.

CORONA MAKHLUK ALLAH

 Subagio S. Waluyo

jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu

Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu

Cahaya pagi telah terhampar bersih

Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu

Bersedialah dari sekarang

Tegaklah untuk menetapkan engkau ada

Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali

Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih tersimpan dalam

kuntum yang akan mekar

 

Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu

Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini

Agar harum-harum narwastu meliputi segala

Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak

hanya berbunyi ketika terhempas di pantai

Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu

(Muhammad Iqbal “Harapan Kepada Pemuda”) Continue reading “CORONA MAKHLUK ALLAH”

BANGSA BERPERILAKU DEGIL

Subagio S. Waluyo

Menurut Andi Hakim Nasoetion, dalam sebuah ceramahnya di depan layar televisi, sekiranya binatang mempunyai kemampuan nalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa. Usaha pelestarian itu dipimpin oleh Menteri PPLH yang bukan bernama Emil Salim melainkan seekor harimau yang bergelar profesor. “Dengan cakarnya, dengan taringnya, dengan kekuatannya,” demikian kira-kira ilmuwan yang penuh humor ini. Harimau adalah jelas bukan tandingan manusia.  

(Jujun S. Suriasumantri dalam Filsfat Ilmu Sebuah Pengantar Populer) Continue reading “BANGSA BERPERILAKU DEGIL”

SEMRAWUT

Subagio  S. Waluyo

“Kau tahu apa yang aneh Ko. Terkadang ketidakteraturan masyarakat Indonesialah yang membuat aku rindu. Di tengah kesemrawutan kita tersisip basa-basi dan candaan. Di tengah kemiskinan dan kesusahan, ada rasa tolong-menolong dan bekerja sama,” ucapnya sambil menuangkan kembali teh ke dalam cangkirku yang sudah kosong.

“Dan kau tahu apa lagi Ko, aku sedikit bosan dengan suasana teratur di sini, Nenek Sumini mengecilkan suaranya seolah takut ucapannya didengar oleh orang lain. Terkadang aku rindu detail kecil Indonesia kita. Sederhana saja, seperti tetangga yang kerap mengunjungi, bercengkerama di warung dekat rumah, atau rutinitas menggosip para ibu di sore hari,” ucapnya yang membuat kami tertawa bersama.

Dari: Cerpen “Paket Terakhir”/Syahirul Alim Ritonga

(https://republika.co.id/berita/pom4zk282/paket-terakhir-cerpen)

Tere Liye dalam novelnya Negeri Para Bedebah (2012:12-13) menulis:

….Mereka sejatinya adalah serigala berbalut jas, dasi mahal, sepatu mengilat tidak tersentuh debu, dan diantar dengan  mobil mewah yang harganya ratusan gaji karyawan hierarki terendah mereka. Penuh semangat bicara tentang regulasi, tata kelola yang baik, tetapi mereka sendiri tidak mau diatur dan dikendalikan. Sepakat tentang penyelamatan dan bantuan global, tetapi mereka sibuk mengais keuntungan di tengah situasi kacau-balau. Continue reading “SEMRAWUT”

BERUBAH ATAU MATI

Subagio S. Waluyo

Dalam Surat Ar-Ra`ad:11 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mau mengubah dirinya sendiri” ada perintah tersirat dari bunyi ayat tersebut, yaitu kita mau berubah atau mati? Perintah tersirat tersebut tentu saja membuat kita jadi bertanya-tanya yang salah satunya tentunya berbunyi : ”Apakah Allah demikian kejam sehingga menyuruh kita berubah atau mati?”. Coba kita singkirkan pertanyaan itu dari benak kita.  Kita ubah dengan sikap sangka baik kita pada Allah.  Bagaimana kalau perintah itu dijadikan motivasi agar kita mau berubah dalam segala hal?

Kita jadikan ayat Qur`an di atas sebagai motivasi agar ada perubahan karena banyak di antara kita tidak mau menyadari bahwa sebenarnya kita (mungkin) punya saham dalam membuat kerusakan di negara ini? Atau kebijakan-kebijakan yang kita anggap benar setelah diimplementasikan justeru berakibat negatif atau setidaknya banyak mengundang pro-kontra di masyarakat?  Atau sikap kita pada sesama manusia ketika bermuamalah terkadang (bahkan sering) menyakitkan  atau menciptakan ketidakharmonisan? Atau kita merasa puas dengan capaian-capaian yang kita peroleh? Atau kita merasa lebih nikmat dengan kondisi yang sekarang kita rasakan? Atau kita merasa nikmat dengan kemapanan yang kita rasakan saat ini?  Atau kita tidak mempunyai keinginan untuk meraih suatu amalan (pekerjaan) lebih baik lagi) Atau, bisa juga, kita merasa puas dengan nasib kita? 

Banyak hal yang sebenarnya dapat kita temukan yang semuanya bermuara pada kelemahan kita yang selama ini lalai dalam melakukan perubahan. Jadi, kita harus punya niat untuk melakukan perubahan karena orang yang punya kesungguhan untuk berubah berarti punya harapan dalam hidupnya. Sebaliknya, kalau kita tidak melakukan perubahan berarti dalam hidup ini kita tidak mempunyai harapan. Untuk itu, sangat layak kalau kita sebenarnya telah mati meskipun secara fisik kita masih hidup. 

Berkaitan dengan itu, ada ayat (42:30) yang mengatakan:” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.  Jadi, kalau kita lalai untuk melakukan perubahan yang berakibat kita tidak mau berubah, wajar-wajar saja musibah menimpa diri kita. Semakin lama kita tidak mau berubah, semakin banyak musibah menimpa umat ini yang terkadang bukan saja musibah itu tertuju pada orang-orang yang banyak melakukan perbuatan dosa, tetapi juga mereka yang beriman.  Apakah kita mau negara ini yang dikatakan Allah sebagai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur terkena musibah yang tidak henti-hentinya?

Kita tidak mau terus-menerus terkena musibah.  Biar bagaimanapun musibah yang menerpa kita tidak mengenakkan.  Untuk itu, kita harus berkead melakukan perubahan.  Kita harus banyak introspeksi diri dengan tazqiyatun nafs. Memperbanyak wirid kita. Memperbanyak amalan sunnah.  Memperbanyak merenungi segala hal yang telah kita perbuat. Memperbanyak istighfar manakala kita renungkan betapa banyak dosa kita pada Allah dan juga dosa kita pada sesama manusia. Memperbanyak berbuat amar ma`ruf nahi munkar.  Dengan melakukan itu semua, insya Allah, kita tidak menjadi orang  yang mati sebelum mati. Selain itu, ada sebuah pertanyaan yang harus kita implementasikan: bagaimana supaya kita tidak menjadi orang yang mati sebelum mati? Kita perlu banyak belajar dari kisah di bawah ini. Semoga kisah di bawah ini memotivasi kita memiliki tekad mengubah nasib kita.

 

Dulu Angon Bebek, Pemuda Miskin ini

 

Sukses Bergaji Rp. 100 juta Dengan Pekerjaan Barunya

Hanya lulusan SMP, jadi kaya raya berkat tekad yang kuat

Dany 109w | Inspirasi

Perjalanan hidup dan nasib manusia, tentu tidak ada yang bisa diprediksi dimasa depan. Termasuk pula soal rezeki. Jika hari ini diberi kelebihan harta dan kemewahan, belum tentu hari esok bisa menjamin semua hal tersebut. Lintasan takdir terkadang membawa nasib seseorang berada di titik terendah dalam kehidupan. Namun, dengan sedikit tekad dan usaha, roda nasib juga bisa memutar takdir yang membawa kesuksesan dalam kehidupan seseorang.

Bicara mengenai sebuah takdir, kisah pemuda sederhana yang berasal dari sebuah desa terpencil ini, merupakan contoh nyata, bagaimana sebuah usaha  don do’a bisa merubah nasib idupnya. Hidup terlunta-lunta dalam kekurangan dan kurang kasih sayang orang tua, pemuda yang pernah menjadi penggembala itik ini, akhirnya sukses meraih penghasilan ratusan juta rupiah dengan profesi barunya. Seperti apa perjuangannya? simak ulasan berikut

Merintih dalam Kekurangan dan Tanpa Kasih Sayang Orang Tua

Berada ditengah-tengah hangatnya pelukan keluarga, merupakan impian bagi sebagian besar anak-anak. Namun, tak semua bocah tersebut, mempunyai nasib beruntung bisa merasakannya. Salah satunya adalah Eka Lesmana, seorang pemuda sederhana, yang harus berjuang keras sendirian melawan kerasnya hidup yang menempa dirinya sejak kecil.

Hidup tanpa kasih sayang orang tua. Sang ibu yang telah berpulang pada saat dirinya berusia empat tahun, menjadi sebuah pukulan yang telak bagi dirinya. Kehilangan sosok ibu, merupakan cobaan berat yang harus ditempuh Eka Lesmana kecil. Tak sampai disitu, dirinya pun ditinggal sang ayah yang menghilang setelah memutuskan untuk menikah lagi. Praktis, Eka kecil pun hnaya mersakan kasih sayang sang nenek tanpa didampingi kehangatan kedua orang tuanya.

Pemuda Cerdas dengan Pendidikan Ala Kadarnya

Saat beranjak usia remaja, alih-alih mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai, Eka lesmana harus puas hanya mengenyam jenjang pendidikan formal di tingkat SMP. Dirinya yang saat itu dibiayai sang nenek, terpkasa harus pontang-panting mencari uang guna membiayai pendidikannya. Keterbatasan biaya, menjadi tembok penghalang yang sulit dihancurkan oleh dirinya saat itu.

Dikenal cerdas saat masih belia. Yang mengharukan, selama dia bersekolah, perlengkapan seperti baju seragam dan sepatu yang digunakannya sehari-hari, merupakan sumbangan dari orang-orang yang merasa iba terhadap dirinya. Padahal, prestasinya di sekolah tergolong lumayan daripada teman-temannya yang lain. Eka lesmana termasuk sosok cerdas yang selalu mendapatkan ranking saat di sekolah.

Berdarah-Darah Saat Mencari Nafkah

Menginjak usia remaja, dirinya mencoba peruntungan dengan mengadu nasib di dunia kerja. Hanya mengenggam selembar ijazah SMP, dirinya merasa kesulitan mencari pekerjaan pada saat itu. Alhasil, tawaran sang paman sebagai tukang angon bebek pun diambilnya, daripada menjadi pengangguran. Sayangnya, karena kurang cermat, bebek yang digembalakannya tersebut, sering menghilang atau dimakan binatang buas.

Ilustrasi angon bebek.Tak tahan dengan pekerjaan tersebut, dirinya mencoba beralih ke menjadi buruh kasar. Atas ajakan salah seorang familinya, ia memulai hari-harinya sebagai karyawan di sebuah pabrik di Solo. Beragam pekerjaan dilakoninya saa itu. Mulai dari kuli gudang, operator mesin giling hingga kerja serabutan lainnya, dijalani dengan ikhlas. Perjuangannya yang berdarah-darah, kelak menjadi faktor kesuksesannya di masa depan.

Seorang Perempuan yang Merubah Jalan Hidupnya

Setelah sekian lama bergelut dengan pekerjaan sebagai buruh kasar, dirinya mendapatkan tawaran untuk bekerja di Yogyakarta dengan gaji yang lumayan. Karena hasilnya yang bagus selama bekerja, dirinya diajak oleh seorang mandor yang mengundurkan diri dari pabrik tempatnya bekerja. Hingga pada akhirnya, seorang Eka Lesmana memutuskan untuk pindah.

Bertemu pelanggan yang merubah nasibnya [image source]Saat bekerja di tempat barunya tersebut, dirinya bertemu seorang perempuan yang sering berbelanja di toko milik juragannya tersebut. Setelah ngobrol panjang lebar, dirinya baru sadar bahwa perempuan tersebut merupakan seorang penjual online. Tertarik dengan potensi yang ditawarkan oleh toko online tersebut, dirinya mulai serius mencari informasi dan mendalami tentang apapun yang berkaitan dengan hal tersebut.

Sukses Menjadi Seorang Jutawan

Sebuah kesuksesan tentu berbanding lurus dengan usaha yang dikeluarkan. Alhasil, waktu dan sebagian besar gajinya, harus direlakan untuk membayar tagihan warnet demi memuaskan rasa ingin tahunya di dunia online. Yang mengharukan, dirinya bahkan harus berhutang kepada atasannya untuk membeli sebuah laptop. Perlahan dan pasti, dirinya mulai mengenal sedikit demi sedikit tentang hobi barunya tersebut.

Sukses sebagai jutawan. Beruntung, dirinya pada saat itu juga sempat bertemu dengan seseorang yang telah sukses menjadi seorang  blogger yang menghasilkan ratusan dollar perbulannya. Tak kenal lelah dan semangat dalam belajar, dirinya akhirnya meraih suskes menjadi seorang blogger adsense dengan keuntungan hingga mencapai ratusan juta rupiah.

Kemiskinan dan kekurangan yang mendera dirinya semenjak kecil, tak menyurutkan niat dan tekad seorang Eka Lesmana untuk merubah nasib dan hidup yang lebih baik lagi. Sosok ini bahkan mampu memutar takdirnya sendiri, dari titik terendah menuju ke tingkat kesuksesan lewat kerja kerasnya. Darinya kita bisa belajar, sudut pandang yang positif dalam menyikapi keterpurukan dan kemiskinan, dapat mengantarkan kita meraih peluang kesuksesan yang lebih besar dimasa yang akan datang.

(https://www.boombastis.com/eka-lesmana-blogger-kaya/139862)

 

MASYARAKAT PUNYA MASALAH (4)

Subagio S. Waluyo

“Manusia selalu butuh bantuan banyak orang dan sia-sialah mengharap bantuan itu datang dari kebaikan hati. Ia akan mendapatkannya dengan cinta diri mereka sendiri, dan menunjukkan mereka bahwa memberikan apa yang ia minta adalah demi keuntungan mereka sendiri dan menunjukkan mereka bahwa memberikan apa yang ia minta adalah demi keuntungan mereka sendiri”

(Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi/B. Herry Priyono, 2018:189)

Faktor ekonomi menjadi penyebab utama alasan terjadinya perceraian di Indonesia. Ada hampir setengah juta orang yang bercerai di Indonesia sepanjang tahun 2018. Data lengkapnya adalah 419.268 pasangan bercerai. Dari jumlah tersebut inisiatif perceraian paling banyak dari pihak perempuan, yaitu sebanyak 307.778 perempuan. Sedangkan dari pihak laki-laki sebanyak 111.490 orang (https:// news. detik. Com /berita/d-4495627/hampir-setengah-juta-orang-bercerai-di-indo-nesia-sepanjang-2018). Dari sekian banyak kasus perceraian paling tidak sudah bisa dipastikan penyebab utamanya  adalah masalah ekonomi. Dalam hal ini patut diduga suami sebagai kepala keluarga sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Kenapa bisa seperti itu? Sang suami sudah tidak lagi bekerja alias menganggur karena korban PHK.

Menjadi pengangguran sebenarnya bukan akhir segala-galanya. Begitu juga ketika diketahui sang suami menganggur dan tidak berpenghasilan bercerai bukan jalan keluar terbaik. Masih banyak cara untuk menyelesaikan setiap masalah yang muncul. Sering kali pasangan suami istri, baik yang masih muda maupun yang sudah cukup lama berumah tangga, kalau menghadapi masalah ekonomi cepat panik. Dunia rasa-rasanya bagi mereka sudah mau kiamat. Hidup rasa-rasanya sudah akan berakhir. Padahal dunia belum lagi kiamat dan hidup belum berakhir. Kenapa harus panik? Sebagai orang yang beragama dan mengaku beriman tidak sepantasnya ketika berhadapan dengan masalah ekonomi jalan keluarnya bercerai karena belum tentu hal itu menyelesaikan masalah. Kalau alasannya sulit mencari pekerjaan sehingga berujung pada perceraian, coba banting stir ke dunia lain selain dunia kerja. Dunia ini bukankah masih luas? Bukankah negara kolam susu ini juga dikaruniai Tuhan `gemah ripah loh jinawi`? Tanah yang subur sampai-sampai tongkat kayu jadi tanaman. Setiap jengkal tanahnya kalau tidak bisa ditanami masih memungkinkan di dalamnya ada sumber kekayaan alam berupa barang-barang tambang dan gas alam (entah minyak, emas, batubara, geotermal). Lautnya yang luas (lebih luas dari daratan) menghasilkan ikan dan sejenisnya yang tidak akan ada habis-habisnya dikail. Belum lagi dari laut itu ada sumber-sumber kehidupan manusia di luar ikan dan sejenisnya. Sekarang tinggal masyarakat dan pemerintahnya mau tidak  mengelola kekayaan alam negara ini secara benar.

Di luar kekayaan alam Indonesia yang memang tidak akan habis-habisnya untuk dimanfaatkan, bukankah Tuhan memberikan kita akal? Bukankah dengan akal yang sempurna kita bisa melakukan apa saja? Kita harus memaksimalkan yang Tuhan berikan pada kita agar kita bisa melakukan berbagai terobosan. Ada contoh menarik ketika seorang mantan PNS yang pulang kampung dan membuka usaha di tempat tinggalnya. Laki-laki itu begitu dia melepaskan statusnya sebagai PNS berbekal pengetahuan yang ada dan disertai semangat untuk berkreativitas, dia mengolah barang bekas menjadi barang  yang punya nilai jual tinggi. Laki-laki itu, Arianto (45), warga Bawang, Banjarnegara, mampu membuat kursi `bakpao` yang bahan bakunya dari bekas ban ring 13. Satu set kursi `bakpao` (3 kursi dan 1 meja) harganya variatif. Harga satu set kursi berkisar Rp900.000,00 sampai dengan Rp2.000.000,00. Bukan hanya kursi `bakpao` yang dibuat Arianto, dia juga membuat sepeda motor, robot-robot, kuda, dan sebagainya yang semuanya dari ban bekas. Hasil karyanya juga tersebar di 80 desa wisata. Produk-produk yang disebar di 80 desa wisata itu disewakan pada pengunjung yang mau berfoto selfie. Hasil dari usahanya jauh lebih besar daripada ketika dia menjadi PNS di Dinas Peternakan Purwerejo. Bisa kita lihat produk-produk hasil kreativitasnya berikut ini.     

 Kursi Bakpao

Motor dari Ban Bekas

Kursi Selfie

(https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3928360/mundur-dari-pns-pria-banjarnegara-ini-pilih-olah-barang-bekas)

***

Di atas telah disampaikan bahwa masalah ekonomi jangan menjadi alasan utama sepasang suami-istri untuk melakukan perceraian. Kalau masalahnya ekonomi, bukankah bisa dipecahkan bersama? Di sini, sang istri juga harus bisa membantu. Kalau memang punya keterampilan, apa salahnya sang istri memanfaatkan keterampilannya? Yang penting bagi sang istri ada yang harus dilakukan untuk  menyelamatkan bahtera rumah tangganya. Juga sebuah tindakan yang kurang tepat, jika ada istri yang berkeinginan bekerja sebagai TKI di luar negeri. Bukankah dengan dia bekerja meninggalkan suaminya (mungkin juga anaknya) justru akan ada celah untuk terjadi penyimpangan. Kalau bukan suaminya yang selingkuh karena ditinggal lama istrinya, mungkin juga istrinya yang entah selingkuh atau jadi korban pelecehan seksual selama jauh di negeri orang. Kans untuk melakukan perceraian sangat-sangat mungkin bagi sang istri (yang tujuan semula untuk menyelamatkan ekonomi rumah tangganya) yang bekerja sebagai TKI di luar negeri.

Sang suami sebagai kepala rumah tangga setelah di-PHK jangan cepat putus asa. Harus selalu ada pikiran positif bahwa PHK ini lebih merupakan ujian dari Sang Khalik. PHK ini justru menjadi stimulus yang harus direspons agar ada motivasi untuk  melakukan upaya penyelamatan ekonomi keluarga dan sekaligus rumah tangganya. Di samping itu, upaya pendekatan diri pada Tuhan tidak boleh kendur. Tetap beribadah, berdo`a, dan bersedekah (walaupun kondisi ekonomi pas-pasan). Selain itu, kalau memang mau mengubah mindset, belajar menjadi pengusaha bukan menjadi pekerja. Arianto, warga Banjarnegara, adalah salah satu contoh terbaik yang nekad keluar dari PNS. Dia belajar menjadi pengusaha. Dia ubah mindset-nya dari pekerja yang hanya berharap dari gajinya sebagai PNS (yang terkadang juga belum tentu mencukupi untuk hidup sehari-hari) menjadi pengusaha barang-barang bekas. Ternyata, kerja kerasnya dan kreativitasnya membuahkan hasil. Begitu cara Tuhan mengatur rezeki hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, kita tidak boleh cepat berputus asa karena di balik semua yang kita hadapi dalam hidup ini ternyata rahasia Allah sulit untuk diungkapkan.

(https://images.app.goo.gl/7pyxomzEv5nzzuy79)

Keluarga yang sedang dilanda masalah ekonomi harus mau belajar berhemat. Kebiasaan buruk masyarakat kita pada saat kondisi ekonominya stabil ada kecenderungan boros. Di sini suami-istri (termasuk anak) harus belajar mengelola penggunaan uangnya. Dari penghasilan yang diperoleh sang suami (dan juga istri kalau memang berpenghasilan) harus diatur mana yang merupakan kebutuhan primer dan mana yang sekunder. Di luar itu, kebutuhan yang bersifat tersier, baru dikeluarkan kalau memang ada kelebihan setelah dipenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Usahakan sedini mungkin menghindari kebutuhan tersier (menunjukkan kemewahan) yang semata-mata ditujukan untuk menaikkan status, derajat sosial, dan gengsi. Kalau memang sebuah keluarga membutuhkan kendaraan bermotor (sepeda motor), sesuaikan dengan kemampuannya sehingga tidak perlu memaksakan diri motor yang tergolong cukup mahal. Apa salahnya kalau membeli motor bekas yang harganya terjangkau daripada harus mengutang sampai tiga tahun yang setiap bulannya harus berkurang penghasilannya karena dipotong gajinya untuk bayar cicilan motor?

Seringkali kita dapati di masyarakat orang cenderung menunjukkan status dirinya. Supaya dianggap berhasil hidup di kota besar, terpaksa dia harus memenuhi kebutuhan tersiernya. Bukan kebutuhan primer yang harus dipenuhinya. Untuk itu, sering kita dapati orang lebih cenderung memakai, misalnya, gadget yang dilihat dari harganya saja bisa satu-dua bulan gaji. Karena punya uang pas-pasan, terpaksa dia harus berhutang dengan cara membelinya secara cicilan. Kalau beli motor saja sudah cicilan, disusul dengan gadget yang juga cicilan, setiap bulan penghasilannya sudah pasti berkurang. Berapa besar anggaran yang harus disiapkan untuk kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, dan papan? Selain itu, berapa besar anggaran yang disiapkan untuk biaya pendidikan? Masih untung kalau anak-anaknya di sekolah negeri yang menggratiskan biaya pendidikan. Tapi, juga perlu dipikirkan sejak dini biaya pendidikan ketika anak meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, ketika nanti anak masuk perguruan tinggi karena biarpun sang anak diterima di PTN, biaya pendidikan di PTN sekarang ini sudah cukup tinggi. Tidak mustahil banyak keluarga yang sejak dini boros ketika anak mau meneruskan ke perguruan tinggi terpaksa harus kandas pendidikannya. Masih untung kalau masih ada lembaga-lembaga sosial yang peduli dengan sesama anak bangsanya. Atau ada pemerintah daerah yang siap membantu membiayai warganya yang mau  meneruskan pendidikannya di PTN atau PTS.

Tidak banyak lembaga sosial atau pemerintah daerah di negara ini yang bersedia memberikan bantuan pendidikan pada sesama anak bangsa yang mau meneruskan pendidikan ke PTN atau PTS. Bisa dihitung dengan jari lembaga-lembaga sosial atau pemerintah daerah yang benar-benar peduli dengan sesama anak bangsa. Seandainya ada, mereka sudah pasti akan menyeleksinya secara ketat. Selain itu, dana mereka juga terbatas. Jadi, tidak sembarang membantu sesamanya. Daripada nanti merepotkan orang lain atau lembaga sosial atau pemerintah sekalipun, sebaiknya sejak dini masyarakat belajar berhemat. Sisihkan uang untuk biaya pendidikan anak-anaknya sehingga ketika anak-anaknya masuk ke PTN atau PTS tidak kasak-kusuk ke sana kemari cari bantuan. Hindari budaya konsumtif yang cenderung merugikan kita. Kebutuhan-kebutuhan tersier yang hanya sekedar menaikkan gengsi, status, dan derajat sosial bukan ciri orang modern yang sebenarnya. Orang modern dicirikan dengan orang yang hidup hemat. Bukan orang yang sok pamer kekayaan. Bukan orang yang demi gengsi, derajat sosial, atau status harus banyak berhutang sehingga anak-anaknya terlantar pendidikannya.

***

(https://images.app.goo.gl/3Qztqpis9QrvGxbV8)

Pendidikan anak-anak kita harus lebih diutamakan daripada sekedar mencari kesenangan duniawi dengan cara memenuhi kebutuhan tersier. Anak-anak kita itu aset kita, aset masyarakat, dan aset bangsa yang harus lebih baik (nasibnya, perilakunya) daripada kita. Untuk menyelamatkan aset kita, mau tidak mau kita harus berupaya menghindari gaya hidup hedonis yang menjadi ciri masyarakat modern. Modernisasi di masa globalisasi ini bisa kita jalani tapi bukan berarti kita harus terbawa arus globalisasi yang cenderung mengajarkan kita hidup konsumtif. Sekali lagi, kita bisa hidup di zaman modern ini tanpa dipengaruhi budaya konsumtif kalau bisa mengelola kebutuhan hidup kita. Dunia modern yang serba glamour, gemerlap, menyenangkan sesaat, yang membuat orang terbutakan oleh kegemerlapan dunia bisa kita hindari kalau kita banyak melakukan pendekatan pada Sang Khalik. Kalau jauh dari-Nya, tidak mustahil kita kepincut dengan kegemerlapan dunia. Kalau sudah seperti itu, kita akan dimakan oleh modernisasi dan globalisasi. Kita  akan menjadi hamba-hamba budaya konsumtif yang gaya hidupnya hedonis.  

Sumber Gambar:

(https://images.app.goo.gl/F6Km8DPMdxDg9DJa9)

    

TERJADILAH PERUBAHAN SOSIAL (1)

Subagio S. Waluyo

“Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepasakan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat; dan barangsiapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib dia dunia dan akhirat; Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim).

(https://www.kompasiana.com/siddiqarch10/550b2b41a333119e712e3ce1/hadits-dan-sunnah-dalam-perkembangan-sosial-umat-yang-terabaikan-mulai-terlupakan ) Continue reading “TERJADILAH PERUBAHAN SOSIAL (1)”