BANGSA RAJAWALI

Subagio S.Waluyo

Untuk mengubah negeri kolam air mata menjadi negeri kolam susu bangsa ini harus diubah dari bangsa ayam menjadi bangsa rajawali. Bangsa ayam itu melambangkan bangsa yang lemah. Ayam termasuk jenis hewan yang lemah karena memang sudah ditakdirkan menjadi hewan yang siap untuk dikonsumsi oleh siapapun termasuk musang. Dalam cerita-cerita fabel sering ditemui sang ayam yang tergolong ayam jago demikian mudah dikelabui oleh sang musang. Sebaliknya, rajawali menggambarkan karakter bangsa yang disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, dan tanggung jawab. Selain itu, rajawali menggambarkan sosok bangsa yang memiliki kekuatan luar biasa. Lihat saja gambar di atas, seekor burung rajawali dengan kekuatan cakarnya sambil terbang bisa mengangkat seekor domba. Itulah gambaran bangsa yang dikehendaki untuk mengubah negeri kolam air mata menjadi negeri kolam susu harus bisa diwujudkan menjadi bangsa rajawali.

Gambaran tentang rajawali bisa dilihat pada pernyataan WS Rendra pada puisi “Rajawali” berikut ini.

Rajawali

                         W.S Rendra

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat fatamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

~ W.S Rendra ~
Kumpulan Puisi ” Perjalanan Bu Aminah “, Yayasan Obor Indonesia – 1997

Di bait pertama dan  kedua WS Rendra menulis bahwa karakter rajawali aslinya adalah jenis hewan yang menghendaki kebebasan. Dia tidak mau dikurung. Perlu juga diketahui, meskipun dikurung rajawali tidak akan bisa berubah menjadi burung nuri. Dia tetap menjadi rajawali karena rajawali adalah pacar langit. Rajawali akrab dengan langit, langit tanpa rajawali akan terjadi kehampaan karena langit akan selalu menanti kehadiran rajawali.

………………………………………..

Sebuah sangkar besi

tidak bisa mengubah rajawali

menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit

dan di dalam sangkar besi

rajawali merasa pasti

bahwa langit akan selalu menanti

Karakter bangsa negeri kolam susu seharusnya juga demikian menjadi rajawali yang tidak mau dipenjara baik penjara fisik maupun nonfisik. Dalam hal ini yang tergolong penjara nonfisik di sini adalah kebebasan berekspresi entah itu nantinya dalam wujud beraktivitas akademis, berkarya seni, atau berkumpul untuk menyatakan pendapat sebagai wujud menegakkan demokrasi. Kalau masih ada di kalangan bangsa ini membatasi ruang gerak warganya dengan begitu masif mengeluarkan segala kebijakan yang ujung-ujungnya agar penguasa negeri kolam susu itu melanggengkan kekuasaannya, maka ini merupakan cermin penguasa yang sempit cara berpikirnya atau ‘gagal paham’. Penguasa jenis ini harus mendalami pendidikan karakter yang saat ini sedang berupaya disosialisasikan di lembaga-lembaga pendidikan formal baik dari pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi. Salah satu dari pendidikan karakter yang mencakup delapan belas karakter itu adalah demokrasi. Bukankah saat ini negeri kolam susu memang sedang menikmati masa-masa demokrasi? Bagaimana kalau ada berbagai kebijakan yang justru membatasi ruang demokrasi? Semestinya penguasa negeri kolam susu bersikap seperti rajawali karena langit tanpa rajawali kata WS Rendra adalah keluasa dan kebebasan tanpa sukma.

…………………………………………….

Langit tanpa rajawali

adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma

tujuh langit, tujuh rajawali

tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Bangsa yang demokratis diibaratkan seekor rajawali yang lebih baik dia bebas kemanapun dia pergi. Kalau dipenjara oleh berbagai kebijakan (yang berujung pada pemenjaraan fisiknya), dia akan bergeming. Hati-hati jika ada anak bangsa yang bergeming karena dipenjara. Bergemingnya dia dipenjara tidak mustahil akan mengatur berbagai rencana. Entah rencananya menjadi pemberontak atau pengekor segelintir penguasa yang telah mencuci otaknya. Kalau dengan dipenjara dia melakukan intropeksi diri, itu langkah yang baik sebagaimana rajawali yang dikerangkeng di sangkar besi diamnya rajawali justru mengolah hidupnya.

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi

memandang dunia

rajawali di sangkar besi

duduk bertapa

mengolah hidupnya

Diamnya rajawali ketika di sangkar besi bukan melamun tapi mencoba merenungkan bahwa kehidupan itu diibaratkan seperti fatamorgana. Dia menemukan sebuah jawaban bahwa kehidupan itu lebih merupakan tipuan semata. Dia menemukan banyak manusia yang tertipu oleh kehidupan. Dalam pandangan manusia kehidupan itu semuanya demikian indah. Tetapi di balik itu semua ternyata hanya sebuah kenikmatan sesaat. Kalau saja manusia menyadari bahwa kenikmatan yang abadi bukan di alam dunia ini tetapi di akhirat nanti, penguasa-penguasa negeri kolam susu tidak akan terpedaya oleh hausnya kekuasaan, keserakahan, dan kealpaan untuk sama-sama membangun anak bangsa lainnya. Mereka juga harus menyadari bahwa orang-orang dhuafa, orang-orang jelata, orang-orang miskin yang mereka menjadi korban karena penguasa yang gagal paham tidak mustahil suatu saat membalasnya. Seandainya, secara fisik tidak melakukannya, sumpah serapah mereka, do`a-do`a mereka apakah tidak mungkin akan membutakan mata hati sang penguasa kalau tidak di dunia, di akhirat nanti?

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan

yang terjadi dari keringat matahari

tanpa kemantapan hati rajawali

mata kita hanya melihat fatamorgana

Rajawali terbang tinggi

membela langit dengan setia

dan ia akan mematuk kedua matamu

wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

Menjadi bangsa rajawali bukan berarti menjadi bangsa yang buas, tidak berkeperikemanusiaan. Menjadi bangsa rajawali menjadi bangsa yang terhindar dari ‘aji mumpung’ karena ajaran ‘aji mumpung’ menjadi sebagian anak bangsa masuk dalam kedhuafaan, kejalataan, kemiskinan, dan keterbelakangan intelektual. Menjadi bangsa rajawali menjadi bangsa yang tercakup dalam delapan belas pijakan yang terdapat pada pendidikan karakter. Menjadi bangsa rajawali menjadi bangsa yang punya kepedulian sosial sehingga mau berbagi dan cinta damai. Menjadi bangsa rajawali menjadi bangsa yang berpijak pada nilai-nilai luhur Pancasila. Semoga saja itu terjadi.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat