Cerpen
Subagio S.Waluyo
Raden Bagus Brotowali biasa dipanggil Den Bagus memang wajahnya sesuai dengan namanya, benar-benar bagus. Selain bagus wajahnya (yang bikin setiap perempuan masih sempat melirik laki-laki setengah baya itu) Den Bagus juga memang bagus perilakunya. Den Bagus pengusaha yang berhasil. Di beberapa kota di Jawa Den Bagus punya SPBU. Bukan hanya SPBU yang bertebaran di beberapa kota, Den Bagus juga punya sekian banyak UMKM yang dikelola oleh orang-orang yang dibinanya. Karyawan-karyawan yang bekerja padanya tidak ada yang berkeinginan resign karena mereka digaji di atas UMR yang berlaku di kota/kabupaten tempat usahanya berada. Selain itu, Den Bagus juga kerap menolong kalau ada karyawannya yang dirawat karena sakit atau tidak punya uang untuk bayar uang sekolah atau UKT sehingga tidak pernah terbetik berita adanya protes atau demo terhadap kebijakan yang berkaitan dengan UMR yang diterima para karyawannya. Den Bagus orangnya juga dermawan. Saking dermawannya orang-orang yang tidak dikenalnya (terutama orang-orang yang duafa) kalau datang ke rumahnya pasti pulangnya dibekali (tentu saja uang). Den Bagus kerap menyumbang masjid, majelis taklim, pondok pesantren, bahkan fasilitas-fasilitas umum yang tidak terawat juga dibantunya. Saking dermawanya, setiap tahun Den Bagus tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk acara tahun baruan di tempat tinggalnya. Khusus untuk yang terakhir ini Den Bagus kerap mengundang protes dari istri dan anaknya. Den Bagus beranggapan semua dana yang dikeluarkan untuk kebaikan (termasuk sumbangan untuk tahun baruan, walaupun belakangan ini sudah tidak lagi menjadi penyumbang karena anak dan istrinya terus-menerus menerornya) tidak akan membuatnya miskin. Malah sebaliknya, usahanya semakin berkembang.
Usia Den Bagus yang menginjak 55 tahun dengan masa pernikahan yang sudah mendekati tiga puluh tahun hanya dikaruniai satu anak laki-laki. Muhammad Ihsan nama anaknya. Biasa dipanggil Ihsan atau Ican. Ihsan anak satu-satunya atau disebut juga `anak semata wayang` sekarang beranjak dewasa. Meski `anak semata wayang`, Ihsan termasuk anak yang saleh karena taat beribadah dan aktif sebagai remaja masjid di tempat tinggalnya. Di masjid Ihsan bersama kawan-kawannya ikut aktif mengikuti, baik kajian-kajian maupun program-program yang diadakan oleh para aktivis masjid. Masjid tempat Ihsan dan kawan-kawannya berkiprah di situ termasuk masjid yang benar-benar hidup kegiatannya. Para pengurus (termasuk marbot) masjid sepakat, semua orang yang berkunjung di masjidnya harus dilayani. Bukan itu saja, keberadaan masjid harus bermanfaat bukan hanya untuk jamaah, tapi juga untuk masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Secara rutin masjid memberikan bantuan buat orang-orang yang tergolong duafa. Karena mempunyai sekian banyak kegiatan positif yang juga bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar masjid, wajar-wajar saja masjid tempat Ihsan dan kawan-kawannya aktif di dalamnya tidak pernah kesulitan menghimpun dana.
***
Ihsan sebagai anak tunggal di keluarga Den Bagus sebentar lagi akan menyelesaikan studi S2-nya. Ihsan termasuk anak yang berprestasi. IPK-nya mendekati 4.0. Sejak dari bangku SMA Ihsan kerap mendapat beasiswa. Di bidang olah raga Ihsan juga berprestasi. Sebagai karateka Dan 1, Ihsan pernah jadi juara kedua tingkat nasional. Di kampusnya Ihsan pernah mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan. Ihsan juga pernah meraih juara pertama dalam lomba menulis cerpen tingkat nasional. Sejak saat itu Ihsan banyak menulis buku bukan hanya kumpulan cerpen, tapi juga novel. Royalti yang diperoleh dari penerbitan buku-bukunya tergolong lumayan besar. Meskipun memiliki banyak prestasi, Ihsan jauh dari sikap tinggi hati atau sombong. Justru sebaliknya, Ihsan semakin menunjukkan kerendahan hatinya. Ihsan sama seperti bapaknya kerap menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Wajar-wajar saja jika sikapnya yang demikian itu membuat kedua orang tuanya semakin sayang padanya.
Sebagai orang dewasa, Ihsan sama seperti manusia biasa yang juga menginginkan teman hidup. Semakin hari desakan untuk memiliki teman hidup semakin besar. Desakan ingin menikah itu tentu saja sedikit banyaknya mengganggu aktivitasnya terutama keinginan menyelesaikan studi S2-nya yang boleh dikatakan tinggal melakukan penyelesaian penulisan tesisnya. Tampaknya, desakan untuk menikah harus segera diselesaikan. Dia harus menghadap ayahnya, Den Bagus. Dia siap menerima risiko dari yang akan disampaikannya. Dengan `bismillah`, di sore yang cerah itu dia menghadap ayahnya yang sedang buka-buka WA.
“Yah, aku mau bicara sebentar”, pintanya.
Den Bagus walaupun sedang asyik membuka-buka WA jika anaknya minta waktu untuk bicara tidak pernah menolak. Dia langsung meletakkan hp-nya. Ini sikap yang disukai anaknya
“Ya, ada apa, Nak?”, tanyanya.
“Aku mau menikah”, kata Ihsan.
“Apa ayah gak salah dengar?”, tanya Den Bagus heran.
“Enggak. Emang benar aku mau menikah”, jelas Ihsan.
“Lho, emang kamu dah punya calon?”, tanya Den Bagus penasaran.
“Ya, udah Yah”, jelas Ihsan.
“Calon istrimu siap untuk menikah?”, tanyanya.
“Ya, siap. Orang dia yang mendesak supaya aku menikahinya”, jelas Ihsan.
“Maaf, ayah gak usah menduga yang enggak-enggak. Aku dan calonku selama ini cuma ketemu sekali-sekali di masjid. Sekali-sekali aku dan calonku juga WA-WA-an. Jadi, aku gak pernah berduaan seperti orang pacaran layaknya. Karena khawatir bisa kebablasan, dia meminta aku menikahinya”, jelas sang anak.
“Oooo, berarti kamu ketemu sama calonmu di masjid ya? Sama-sama aktif di masjid kalo gitu. Wah, berarti kalian berdua Insya Allah sama-sama orang baik.”
“Amin. Insya Allah, Yah.”
“Terus gimana dengan kuliah S2 kamu? Gimana juga dengan biaya hidup kalian berdua setelah menikah?”, tanya sang ayah.
“Setelah menikah, aku akan selesaikan studi S2 `ku. Soal biaya hidup aku masih punya tabungan yang cukup besar untuk hidup berdua. Aku juga punya rencana setelah menikah, aku mau cari kontrakan,” jawab anaknya mantap.
“Kamu gak usah meninggalkan rumah ini. Biar saja kalian tinggal di sini. Ayah dan bundamu kesepian kalau cuma tinggal berdua di rumah besar ini. Rumah ini nantinya `kan ayah wariskan buat kamu. Gak apa-apa ayah dan bunda nantinya diributkan dengan kehadiran anak-anak dari kalian. Malah buat ayah dan bunda merasa terhibur dengan adanya kalian dan cucu-cucu ayah”, jelas ayahnya.
“Kalo memang ayah setuju, besok lusa kita ke rumahnya untuk melamar. Ayah sama bunda bersedia `kan datang ke rumahnya untuk melamar?”, tanya Ihsan.
Den Bagus sempat kaget kalau secepat itu anaknya minta ditemani ketika melamar.
“Insya Allah bersedia.”
“Lho, kamu sudah ngomong sama bunda kalau memang mau menikah?”, tanya ayahnya sekedar basa-basi. Ayahnya sudah tahu kebiasaan anaknya dalam hal apapun anaknya lebih dulu bicara sama bundanya daripada ke ayahnya.
“Sudah, Yah. Bunda justru sangat mendukung kalau aku menikah mengingat umurku sebentar lagi menginjak 25 tahun. Ayah dulu juga `kan sama ketika menikah dengan bunda umurnya 25 tahun?”, tanya Ihsan.
“Ya. Dulu ayah umur segitu ketika menikahi bundamu”, jelas ayahnya.
“Kalau bisa setelah lamaran, paling lama satu bulan kemudian bisa langsung menikah, Yah”, pinta anaknya.
“Ya. Insya Allah, kita usahakan. Nanti ayah mau bicara juga sama bundamu biar secepatnya niat baik kamu bisa diwujudkan”, jawabnya berusaha untuk meyakinkan anaknya.
“Terima kasih ya, Yah?”, seraya memeluk ayahnya.
“Ya. Sama-sama.”
Tak terasa ayah dan anak menitikkan air mata kebahagiaan.
***
Den Bagus ketika datang ke rumah calon besannya sempat kaget dengan rumahnya yang terbilang kecil apalagi setelah tahu di rumah yang kecil tinggal dua orang suami istri dan empat anak. Jalan ke rumahnya juga kecil sehingga tidak bisa dilewati mobil. Meskipun rumahnya kecil, terlihat rapi dan tampaknya baru selesai direhab. Rupanya sebulan yang lalu rumah itu mendapat bantuan dana dari masjid tempat Ihsan dan kawan-kawannya aktif di masjid tersebut. Selain itu, diam-diam Ihsan juga mengeluarkan dari koceknya untuk bantu-bantu membenahi rumah calon mertuanya. Bukan itu saja khusus untuk persiapan menikah, Ihsan juga mentransfer dananya ke rekening calon istrinya. Semua dana yang dikeluarkan dari tabungannya. Dia sama sekali tidak pernah minta pada orangtuanya.
Den Bagus dan istrinya juga sempat kaget ketika melihat langsung calon istrinya. Walaupun usianya tergolong sangat muda, baru sembilan belas tahun usianya, tapi tampak sekali kedewasaannya. Bukan itu saja, ternyata, calon istrinya benar-benar kelihatan solehah. Hal itu bisa terlihat dari matanya yang selalu menjaga pandangan dan nada bicaranya yang menunjukkan anak yang beradab. Den Bagus dan istrinya semakin yakin kalau Ihsan, anaknya, benar-benar mendapatkan calon istri yang nantinya bisa mewujudkan `sakinah, mawadah, wa rohmah`. Tanpa ada keraguan, disaksikan oleh orang-orang banyak yang hadir di rumah yang terbilang sempit itu, kedua belah pihak bulan depan sepakat untuk segera melaksanakan pernikahan kedua calon mempelai itu.
***
Satu bulan sebenarnya waktu yang singkat. Tapi, bagi kedua calon mempelai yang akan menempuh hidup baru terasa lama sekali. Waktu-waktu yang berjalan bagi mereka berdua demikian lemot. Untuk mengisi waktu-waktu luang selagi menunggu hari H, keduanya sesuai saran dari Ustadz Mukhlisin, yang biasa mengisi pengajian di masjid, mengisinya dengan memperbanyak kedekatan pada Allah. Mereka memperbanyak zikir, tilawah Quran, puasa senin-kamis, dan memperbanyak sedekah. Aktivitas itu bagi keduanya rupanya bisa menggerus rasa jenuh yang menggelayut. Tidak terasa hari-H yang ditunggu-tunggu oleh kedua calon mempelai sudah tiba. Di masjid yang selama ini mereka keduanya aktif melakukan amal soleh dilangsungkan pernikahan. Ijab Kabul juga terlaksana dengan baik. Rona kebahagiaan bukan saja tampak dari wajah kedua mempelai, tapi juga pada pasangan kedua orangtua mereka berikut kerabat-kerabatnya yang turut hadir di acara yang berbahagia itu. Seusai acara pernikahan yang diteruskan dengan walimahan, mempelai wanita langsung diboyong ke rumah mempelai pria. Buat Den Bagus dan istrinya ini merupakan hari yang sangat istimewa karena bukan hanya kehadiran `anak semata wayang` yang selama ini turut mendampingi mereka, tapi juga kehadiran istri `anak semata wayang` yang sekarang menjadi anggota keluarganya.
Kota Bekasi, 30 September 2025.