Subagio S.Waluyo

Ketika di bulan Ramadhan, kita memenuhi bulan yang suci itu dengan berbagai aktivitas ibadah. Kita mengisi kurikulum yang telah kita susun. Hasilnya, bulan Ramadhan menampakkan diri sebagai bulan yang benar- benar penuh dengan limpahan rahmat, maghfiroh, dan (insya Allah) menjadikan hamba-Nya itqum minan naar. Ketika ramadhan itu berakhir, apakah kita meneruskan kurikulum yang telah kita susun di luar bulan suci itu? Rasa-rasanya kita tidak pernah lagi mengisinya. Bahkan, banyak sekali aktivitas ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan bukan saja berkurang, tetapi juga kita tidak lakukan lagi.

          Kita telah tidak lagi melakukan puasa meskipun ada puasa sunnah yang selayaknya kita kerjakan. Kita tidak lagi membaca, menghafal, atau mentadaburkan Al-Qur`an meskipun sebelumnya kita bisa mengkhatamkan lebih dari satu kali dalam sebulan. Kita tidak lagi (bisa juga dikatakan kurang) berzikir. Kita juga tidak lagi beramal meskipun kita sadar ada hak orang miskin pada rezeki yang kita peroleh. Kita tidak lagi mau beraktif-aktif di masjid untuk memakmurkan masjid. Bahkan, yang tidak kalah pentingnya, ternyata kita telah menjauhkan diri dari melayani masyarakat.
          Ketika di depan Ka`bah dengan berurai air mata kita mohon ampun pada Allah, ber-istighfar seraya mensucikan Allah, memuji Allah, membesarkan Allah, menyebut asma-asma Allah, dan berjuz-juz kita tilawah Qur`an. Selain itu, kita pun kerjakan yang menjadi kewajiban kita dalam ibadah haji atau umroh. Di saat-saat kita berlari-lari kecil (sa`i) antara Shafa dan Marwa seraya berdzikir, kita pun membayangkan seorang ibu, Siti Hajar, yang menggendong anaknya yang tidak henti-hentinya menangis karena haus. Kita penuhi ibadah haji atau umroh itu dengan penuh keikhlasan karena kita semata-mata hanya mengharap ridho Allah. Pada waktu itu tidak ada di pikiran kita kecuali hanya berharap Allah menerima ibadah-ibadah kita. Subhanaallah, sepulang dari ibadah itu kita masih sempat orang di sekitar kita menyambut kedatangan kita dengan lantunan dzikir, do`a, dan sholawat. Kita pun masih diberi kehormatan orang-orang di sekitar kita untuk membacakan do`a. Tiba-tiba saja bagai dalam mimpi kita seolah-olah menjadi orang yang baru terlahir kembali, menjadi orang suci, menjadi orang terhormat dengan embel-embel orang yang telah begitu banyak menangguk pahala.

          Selepas ibadah yang melelahkan itu, apa yang kita perbuat? Ternyata, kita menjadi orang yang seperti sebelum melakukan ibadah haji atau umroh atau ramadhan. Kita telah mengendurkan semua amalan kita. Tanpa kita sadari ternyata kita telah berkecimpung dengan aktivitas yang lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Ibadah-ibadah yang telah kita kerjakan ternyata tidak banyak memberi bekas pada kita. Mana buktinya? Perilaku kita tidak banyak berubah. Seharusnya, pada saat orang telah usai melaksanakan ibadah, entah itu ibadah shaum ramadhan dengan rentetan ibadah sunnah yang menyertainya, ibadah haji atau umroh paling tidak ada perubahan signifikan dengan perilaku kita. Seharusnya, kita menjadi orang yang semakin dekat pada Allah. Seharusnya, dalam ber-muamalah dengan sesama manusia kita semakin baik. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya, kita semakin dijauhi oleh orang-orang sekitar kita. Atau kita semakin larut dengan mereka yang jelas-jelas hidupnya masih bergelimpangan dengan kemaksiatan. Apa karena kita menganggap bahwa ibadah-ibadah yang kita kerjakan sudah demikian banyak pahalanya sehingga walaupun kita berbuat kemaksiatan kita pasti masuk surga? Apakah kita beranggapan bahwa walaupun kita banyak dosa orang-orang di sekitar kita akan mendo`akan kita sehingga akan tetap masuk surga?

          Orang hanya tahu bahwa kita adalah ahli ibadah. Tetapi, kita tidak sadar bahwa kita sebenarnya adalah orang yang banyak lalai dalam beribadah. Jadi, kita telah ditutupi oleh Allah aib kita. Betapa Allah telah menunjukkan pada hamba-hamba-Nya sifat rahman dan rahim-Nya. Seolah-olah kita ditampakkan oleh Allah sebagaimana orang lain melihat kita sebagai orang alim, ahli ibadah, dan sebutan positif-positif lainnya. Ternyata, setelah kita melihat ke dalam diri kita, tidak ada bedanya kita dengan orang lain yang sering lalai dalam mengisi kurikulum ibadah kita. Apakah kita akan terus-terusan seperti itu ditutupi oleh Allah aib-aib kita?
          Kita jangan menjadi orang yang dibuat perumpamaannya oleh Allah seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai-berai kembali (16:92). Artinya, kurikulum yang telah kita susun dan kerjakan kita rusak lagi karena kita tidak berkeinginan untuk meneruskannya. Tahun berikutnya kita lakukan hal yang sama. Tetapi sebelas bulan di luar Ramadhan kita menyia-nyiakannya. Atau setelah usai ibadah haji atau umroh kita kembali seperti sediakala dengan anggapan kalau masih ada uang kita masih ada kesempatan ibadah haji atau umroh. Kita sia-siakan waktu kita padahal kita tidak tahu sampai kapan Allah memberi kesempatan menikmati kehidupan di dunia ini. Inilah yang perlu kita renungkan dan lakukan selama Allah masih memberikan kesempatan dengan memperbanyak ibadah pada-Nya.

          Memang, Allah memiliki sifat rahman dan rahim. Semua hamba Allah mendapat bagian yang sama untuk memperoleh sifat rahman dan rahim-Nya. Tetapi, jangan karena Allah memiliki sifat tersebut kita menjadi lalai dan berbalik hanya mengharakan rahman dan rahim-Nya saja sehingga kita lalai bahkan, ada kecenderungan untuk berbuat kemungkaran. Jadi, janganlah kita menjadi orang yang hanya mengharap rahman dan rahim-Nya Allah sekedar menutup aib-aib kita. Kita layak bersyukur pada Allah karena selama ini Allah masih menutup aib kita sehingga orang-orang yang ada di sekitar kita masih menganggap kita orang ahli ibadah. Mari kita perbaharui niat kita untuk benar-benar beribadah pada Allah sebelum Allah SWT membongkar aib kita. Naudzubillahi min dzalik.

By subagio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *