Berlindung dari 5 K

Subagio S.Waluyo

Prolog

Tulisan ini berangkat dari Sabda Nabi Muhammad SAW dari Anas yang merupakan do`a yang disampaikan Rasulullah SAW. Isi do`a tersebut adalah:

“Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, berlindung kepada-Mu dari bencana kehidupan (dunia) dan bencana (setelah) kematian” (HR. Asy-Syaikhani).

Dari do`a di atas kita dapati ada 5 K, yaitu kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Kelima K tersebut jelas menunjukkan hal-hal yang negatif bagi seorang Muslim sehingga sangat layak kalau kita berdo`a mohon perlindungan pada Allah SWT. Selain itu, juga kita perlu berlindung dari siksa kubur, bencana kehidupan, dan bencana setelah kematian. Namun, dalam kesempatan ini kita akan lebih menekankan pada 5 K di atas.

Kelemahan

Kelemahan termasuk salah satu indikator negatif seorang Muslim. Karena merupakan salah satu indikator negatif, setiap pribadi Muslim harus menjauhinya. Untuk itu, seorang Muslim harus terhindar dari kelemahan baik fisik, akal, maupun rohani. Untuk terhindar dari kelemahan fisik, seorang Muslim harus memenuhi kebutuhan fisiknya dengan makanan yang halalan thoyyiban. Selain itu, juga harus melakukan aktivitas olah raga secara rutin. Dianjurkan pula oleh Islam untuk berpuasa di luar puasa wajib, seperti puasa selang hari, senin-kamis, pertengahan bulan, dan puasa-puasa sunnah lainnya. Rasulullah SAW sendiri pernah mengatakan bahwa seorang Muslim yang kuat itu lebih baik daripada seorang Muslim yang lemah (Al-Hadits). Agar fisiknya kuat, perlu secara rutin seorang Muslim berinisiatif memeriksakan kesehatannya secara rutin ke dokter. Dengan cara demikian dia akan bisa mendektesi sedini mungkin jika ada penyakit-penyakit internis. Seorang Musim yang sehat fisiknya, Insya Allah mampu untuk beraktivitas, menanggung beban kerja, dan melakukan berbagai kreativitas.

Seorang Muslim yang baik juga harus memiliki akal atau intelektual yang sehat atau cerdas dan pintar. Agar intelektualnya sehat sehingga dia menjadi seorang Muslim yang cerdas dan pintar, dia juga harus banyak belajar. Bukankah Rasulullah SAW sendiri juga telah menyuruh umatnya agar menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat? (Al-Hadits). Tidak boleh ada kata istirahat untuk belajar baik ilmu-ilmu dunia maupun ilmu-ilmu akhirat. Seorang Muslim tidak boleh taklid. Orang yang taklid dicirikan tidak memanfaatkan otaknya alias sering memanjakan otaknya untuk berpikir. Orang seperti ini sebentar-sebentar hanya mengeluh, seperti keluhannya: “Au ah gelap” atau “Emangnya Gue Pikirin (EGP)”. Orang yang taklid gampang dibodohi. Orang taklid gampang diadu domba. Supaya tidak mudah taklid sekali lagi seorang Muslim harus banyak belajar. Salah satu pelengkap dalam belajar adalah banyak membaca dan menulis. Jadikanlah aktivitas membaca dan menulis menjadi sebuah kebiasaan atau kebudayaan di kalangan umat Islam. Dengan demikian, setiap Muslim akan memiliki daya kritis sehingga tidak taklid, tidak mudah dibodohi, dan tidak mudah diadu domba.

Sebagai pelengkap, seorang Muslim yang baik juga harus sehat mentalnya atau jiwanya atau rohani (ruh)-nya. Orang yang sehat ruhnya berarti sehat imannya. Orang yang lemah imannya bisa ditandai dengan kelemahan mental. Agar orang tidak lemah mentalnya, dia harus banyak ingat Allah (dzikrullah). Dia harus berlindung pada Allah. Setiap kali dia harus membersihkan dirinya (tadzkiyyatun nafs) dengan sholat, do`a, dzikir, puasa, dan tilawah Qur`an. Memang hanya itu asupannya. Insya Allah, kalau secara rutin seorang hamba Allah melakukan itu semua, dia akan menjadi seorang Muslim yang kuat mentalnya dan kuat pula imannya.

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa seorang Muslim yang kaafah adalah seorang Muslim yang kuat baik fisiknya, akalnya, dan mentalnya. Ketiga dimensi tersebut tidak boleh kosong pada seorang Muslim. Misalnya, ada seorang Muslim yang sehat fisiknya dan cemerlang otaknya, tetapi dia jauh dari ajaran Islam karena memang tidak pernah melakukan tadzkiyyatun nafs, orang seperti ini akan kering jiwanya dan lemah imannya. Orang seperti ini akan cenderung sekuler. Orang seperti ini menjadi orang-orang yang berpikiran liberal (naudzubillahi min dzaalik). Atau ada juga orang yang sehat fisiknya dan rutin melakukan tadzkiyyatun nafs, tapi akalnya tidak dipenuhi dengan ilmu. Orang seperti ini akan mudah dibodohi. Dia akan menjadi orang idiot (naudzubillahi min dzaalik). Dia akan menjadi seorang Muslim yang taklid. Seorang Muslim yang tidak punya sikap atau pendirian. Atau ada juga seorang Muslim yang rajin menuntut ilmu dan melakukan tadzkiyyatun nafs, tetapi menyepelekan masalah kesehatan. Orang Muslim seperti ini akan `letoy` alias lemah fisiknya. Mungkin di usia muda sebelum usia empat puluh tahun fisiknya telah dihinggapi berbagai penyakit sehingga aktivitasnya terganggu dan kreativitasnya tidak berkembang. Orang seperti ini akan `menjadi tua sebelum tua`. Oleh karena itu, seorang Muslim yang kaafah harus kuat baik fisik, akal, maupun ruh (mental)-nya. Dengan kata lain, ketiga dimensi itu (fisik, akal, dan ruh) harus ada sinergi. Tanpa ada sinergi di antara ketiganya tidak akan terwujud pribadi Muslim yang kuat.

Kemalasan

Setiap Muslim yang memiliki kekuatan (fisik, intelektual, dan mentalitas) harus bisa mengatur waktu, memiliki kedisiplinan, dan mampu mandiri. Kalau salah satu di antara ketiganya atau semuanya tidak ada, dia tergolong seorang Muslim lemah atau malas. Orang malas atau yang mempunyai kemalasan bisa dicirikan dari tidak bisa mengatur waktu. Al-Qur`an sendiri telah mengingatkan akan pentingnya waktu. Sampai-sampai demikian pentingnya masalah waktu ada ayat khusus tentang waktu, yaitu Surat Al-Asr. Di surat tersebut Allah SWT bersumpah dengan menggunakan Al-Asr (demi masa). Di surat tersebut Allah SWT juga mengingatkan pada orang-orang beriman kalau manusia itu banyak (bahkan boleh jadi sebagian besar) tergolong orang yang rugi. Mengapa? Mereka dianggap yang merugi karena sepanjang hidupnya yang demikian singkat ini tidak pernah melakukan kebaikan (amal sholeh) dengan saling berwasiat (mengingatkan atau menasihati) dalam kebenaran dan kesabaran.

Sebenarnya demikian sederhana peringatan Allah pada orang-orang Muslim. Mereka hanya diminta untuk beramal sholeh dalam bentuk memberikan wasiat (saling menasihati) pada kebenaran dan kesabaran. Artinya, setiap Muslim hendaknya punya kontribusi untuk mengingatkan sesamanya dalam hal menegakkan kebenaran dan kesabaran. Tetapi, karena perintah Allah ini cenderung diabaikan, muncul berbagai kasus yang akhirnya mendera sesama Muslim. Apa yang terjadi kalau peringatan Allah yang termaktub di surat tersebut diabaikan? Bisa disaksikan sendiri muncul berbagai macam bentuk kemungkaran. Kemungkaran itu sendiri tidak mustahil juga akan mengena pada orang-orang Muslim yang sholeh. Kecenderungan mengabaikan yang boleh jadi berangkat dari kemalasan itu lebih disebabkan oleh faktor-faktor psikologis dan sosiologis. Faktor psikologis bisa dilihat pada perilaku orang yang diberi nasihat atau yang diberi peringatan untuk mengabaikannya karena masih mengedepankan sikap keakuaannya (egoisme). Selain itu, juga orang yang diberi peringatan cenderung untuk tidak mengakui kesalahan. Sebaliknya orang tersebut berusaha mencari kambing hitam. Jadi, demi gensi atau prestise atau reputasi diri (apalagi kalau orang tersebut tergolong boss), seorang Muslim boleh jadi tidak berkenan untuk mendapat peringatan atau nasihat. Sedangkan dari faktor sosiologis, orang Indonesia (termasuk umat Islam) ada dorongan untuk mempertahankan status sosial. Di samping itu, selama ini orang tersebut selalu memperoleh masukan-masukan yang cenderung negatif sehingga ketika mendapat peringatan atau nasihat yang baik ada keinginan untuk mengabaikannya. Sebagai tambahan, masih adanya hubungan vertikal antara atasan dan bawahan (patronasme atau paternalistik) menjadi penghambat terwujudnya budaya saling mengingatkan dan menasihati sesama Muslim.

Seorang Muslim yang kaafah juga harus memiliki kedisiplinan yang salah satu di antaranya (berkaitan dengan kemalasan) selalu menunda-nunda pekerjaan. Umat Islam sebenarnya banyak yang kreatif, tetapi itu…mereka juga banyak yang tidak disiplin dan konsisten sehingga kreativitasnya mandeg/alias stagnan karena salah satu penyakit yang tidak bisa dihilangkan, yaitu suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit seperti ini termasuk indikasi kemalasan. Orang yang malas `kan bisa dicirikan dengan suka menunda-nunda pekerjaan atau ada selintas niat baik terpaksa harus di-pending dulu. Padahal kalau mau dikerjakan saat itu juga bisa. Tapi, itu tadi, karena masih adanya penyakit yang bernama kemalasan pada akhirnya terjadi penumpukan PR. Masih dianggap lebih baik kalau ada penumpukan PR, bagaimana kalau ada sebuah musibah yang menimpa sekian banyak korban manusia akibat dari sering menunda pekerjaan? Kasus kecelakaan KA di Bintaro `kan berawal dari palang pintu KA yang tidak juga dibenahi sehingga terjadi sebuah musibah yang memakan korban yang tidak sedikit. Bukankah itu merupakan buah dari ketidakdisiplinan yang berawal dari sering menunda-nunda pekerjaan? Bukankah itu juga merupakan buah dari kemalasan? Jadi, seorang Muslim yang baik harus siap memerangi penyakit ketidakdisiplinan karena penyakit tersebut merupakan salah satu indikasi kemalasan.

Indikator seorang Muslim yang baik bisa diketahui dengan melihat pada kemampuan berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) atau boleh juga disebut memiliki kemandirian. Orang yang malas sudah pasti tidak punya kemandirian karena terbiasa dalam hidupnya sehari-hari serba instan. Maksudnya, untuk memperoleh apa-pun tidak perlu kerja keras karena semuanya segera tersedia. Kalau tidak ada yang bisa dimanfaatkan, dia akan diam saja dan tidak ada keinginan untuk melakukan apapun. Kalau tuntutan biologis, seperti lapar atau haus, bagi orang-orang yang tergolong kaya tinggal menyantap makanan dan minuman yang memang sudah tersedia di depan matanya. Perilakunya persis seperti anak kecil yang segalanya minta dilayani. Lambat-laun perilaku seperti itu menjadikan dia manusia yang cenderung “MEOK” (Makan Enak Ogah Kerja alias hedonis). Orang seperti ini dijamin tidak bisa mandiri karena segalanya serba tersedia sehingga tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Orang seperti ini jelas tidak punya konsep untuk melakukan perubahan dan perbaikan karena pola hidupnya yang hedonis. Jangan banyak berharap pada orang jenis ini untuk bisa mandiri. Karena itu, seorang Muslim yang beriman harus berlindung dari penyakit kemalasan yang berakibat pada tidak adanya kemandirian.

Kebodohan

Seperti telah diketahui salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah kebodohan yang ditandai dengan sikap taklid atau jumud sebagaimana telah diuraikan di atas. Orang-orang yang memusuhi Islam ada kecenderungan untuk melakukan pembiaran agar umat Islam tetap dalam kejumudan atau kebodohan. Mengapa? Mereka sadar kalau umat ini cerdas, pintar, dan kritis akan berbalik untuk memusuhi mereka. Bahkan, tidak mustahil membumihanguskan mereka.Untuk itu, ada program yang terselubung dan masif melakukan perang pemikiran. Hanya dengan cara itu umat Islam akan tetap dalam kebodohan.

Indikator masih adanya program pembodohan yang dilakukan secara terselubung bisa dilihat di negara ini dengan masih banyaknya konflik horisontal. Konflik ini faktor penyebabnya sebenarnya sepele hanya berkisar masalah ketersinggungan. Ada orang yang merasa harga dirinya tersinggung karena direndahkan oleh orang atau kelompok lain. Dalam situasi seperti itu ada orang-orang yang berperan sebagai provokator. Provokator-provokator inilah yang kelak berhasil menyulut konflik horisontal. Tidak mustahil dalam konflik horisontal seperti itu akan berjatuhan korban dari kedua belah pihak. Sementara itu, sang provokator yang telah berhasil mengadudomba antar umat raib entah ke mana.

Pembodohan juga bisa dilakukan oleh kalangan ulama atau tokoh-tokoh agama Islam yang kerap menggunakan simbol-simbol agama. Mereka (para ulama yang jahat) dengan sengaja memutarbalikkan fakta dengan memutarbalikkan ayat-ayat Qur`an dan hadits-hadits palsu. Umat Islam yang memang sebagian besar masih tergolong taklid atau jumud (karena kebodohannya) gampang termakan oleh rumor-rumor yang memang sengaja dibuat oleh para ulama jahat itu. Umat Islam yang memang tidak mengerti sama sekali masalah-masalah agama terkagum-kagum jika ada ulama yang hafal sekian banyak ayat Qur`an dan hadits atau yang kalau berdo`a demikian panjang dan mengharukan sampai-sampai bisa menguraikan air mata jama`ahnya. Tidak heran jika banyak umat Islam yang tergolong lemah intelektualnya ini memasuki aliran-aliran sesat buah provokasi dari ulama-ulama jahat itu.

Kebodohan juga bisa diindikasikan dari kondisi negara ini yang boleh dikatakan masih didikte oleh pihak-pihak asing entah itu negara-negara barat atau lembaga-lembaga internasional yang notebenenya memang jelas-jelas memusuhi Islam. Mereka menguras habis kekayaan alam negara ini. Mereka rampok kekayaan alam negeri ini. Mereka manfaatkan orang-orang negeri ini dengan iming-iming kegemerlapan duniawi (yang sebenarnya semu) untuk menjadi agen penghubung dengan anak bangsa ini agar yang menjadi keinginan mereka segera terwujud. Satu persatu rontoklah industri-industri strategis yang dulu dikuasai negara. Satu persatu sentra bisnis atau industri yag dulu dikuasai umat Islam jatuh ke tangan negara-negara kapitalis itu. Pemimpin negara yang tampak luar seperti orang cerdas ternyata demikian mudah dibodohi pihak barat yang terkenal culas. Negara ini ibarat orang yang jatuh dari tangga masih juga tertimpa tangga. Negara ini sudah habis dikuras kekayaan alamnya masih juga dibebani dengan hutang-hutang yang entah sampai kapan bisa dilunasinya. Yang lebih aneh lagi, pemimpin negara ini tidak pernah belajar dari sejarah bahwa yang namanya pihak barat selagi masih ada di dada mereka jiwa neoliberalis atau neokapitalis tidak pernah berhenti untuk `mengerjai` bangsa-bangsa Muslim atau bangsa-bangsa yang sebagian besar menganut Islam. Kalau bisa dikatakan, ini merupakan bentuk penjajahan abad XXI yang menggunakan baju neoliberalisme atau neokapitalisme dengan bungkus globalisasi.

Kerentaan

Kerentaan identik dengan ketidakberdayaan. Orang yang telah renta (sangat tua) sudah pasti tergolong orang yang tidak berdaya. Karena ketidakberdayaannya, orang yang telah renta diberi keringanan misalnya puasa. Orang yang renta tidak diwajibkan puasa seperti orang yang normal (sehat fisik, akal, dan rohaninya). Cukuplah bagi orang yang renta membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sebagaimana telah disebutkan dalam Surat Al-Baqarah: 184. Begitu juga ibadah-ibadah wajib yang lain.Kalau memang masih sanggup dipersilakan mereka untuk melaksanakannya. Tapi, bagaimana dengan orang renta yang selain penyakitan juga pikun (tidak berakal)? Karena akalnya sudah tidak sempurna, mereka tidak ada lagi kewajiban untuk melaksanakan ibadah. Salah satu syarat sahnya ibadah bukankah di antaranya berakal atau sempurna akalnya? Cukuplah amalan-amalan yang lalu ketika mereka sehat dijadikan amal sholeh kelak di yaumul akhir.

Rasulullah SAW dalam do`anya memasukkan (atas bimbingan Allah SWT tentunya) agar setiap Muslim berlindung dari kerentaan. Karena kerentaan identik dengan ketidakberdayaan, setiap Muslim wajib berlindung pada Allah SWT agar terlindung darinya. Orang yang tidak berdaya jelas-jelas banyak diberikan keringanan. Karena itu, seorang hamba Allah yang sehat fisiknya, akalnya, dan rohaninya diharapkan sedini mungkin meminta berlindung pada Allah dari kerentaan. Jangan ada niatan agar Allah memberikan keringanan dengan alasan ketidakberdayaan (renta). Setiap Muslim wajib bersyukur pada Allah SWT kalau masih mampu melaksanakan semua kewajiban yang dibebankan padanya. Bukan malah sebaliknya minta banyak diberikan keringanan. Seorang Muslim yang kaafah harus bisa menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kemampuan untuk melaksanakan amanah yang Allah berikan. Dia masih sanggup bukan saja melaksanakan kewajibannya pada Allah (hablum minallah), tapi juga masih sanggup melaksanakan misi kemanusiaan (hablum minannaas). Artinya, dalam rangka mewujudkan khoiro ummah (umat yang terbaik) dia masih sanggup menegakkan amar ma`ruf nahi munkar. Kalau umat ini, banyak yang minta diberikan keringanan karena kerentaan, siapa yang akan melaksanakan amar ma`ruf nahi munkar? Mungkinkah akan terwujud khoiru ummah dengan kondisi umat yang terkena penyakit kerentaan terutama yang menimpa mereka-mereka yang selayaknya jauh dari kerentaan tetapi karena tidak bisa menjaga baik fisik, akal, maupun rohaninya, akhirnya mereka tergolong orang yang renta sebelum renta? Untuk itu, seorang Muslim yang kaafah, selain berdo`a agar tidak terkena penyakit kerentaan juga harus bisa memelihara fisik, akal, dan rohaninya.

Kekikiran

Orang yang kikir jelas orang yang tidak bisa memberikan manfaat buat orang lain. Orang seperti ini juga jelas tidak mencintai kebaikan. Orang yang cinta kebaikan sudah pasti tidak kikir. Orang yang mencintai kebaikan pasti orang yang pemurah (lawan dari orang yang kikir). Setiap Muslim yang kaafah bisa dipastikan adalah orang-orang yang pemurah dan mencintai kebaikan. Jika ada seorang yang mengaku Muslim tetapi kikir, dia tidak bisa digolongkan sebagai seorang Muslim yang kaafah karena dia masih memiliki sifat bakhil (kikir). Sifat kikir sendiri yang masih melekat pada diri seorang Muslim menunjukkan kekurangsempurnaannya dalam ber-Islam. Mustahil seorang Muslim yang kaafah masih memiliki sifat kikir.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud mengajak umat Islam untuk menjauhkan diri dari sifat kikir karena orang- orang terdahulu binasa lebih disebabkan oleh kekikiran. Tampaknya, hadits Nabi SAW perlu direnungkan dengan melihat kondisi yang terjadi di negara ini. Adanya jurang pemisah antara golongan masyarakat yang kaya dan miskin yang terjadi di negara-negara Islam atau negara-negara yang sebagian besar penganutnya beragama Islam lebih disebabkan oleh banyaknya umat Islam yang kaya memiliki sifat kikir. Seandainya, mereka mau saja menafkahkan sebagian hartanya dalam bentuk zakat, Insya Allah tidak akan terjadi jurang yang demikian dalam antara golongan masyarakat kaya dan miskin. Apakah dengan adanya jurang pemisah di antara kedua pihak itu tidak menimbulkan dampak negatif?

Fakta-fakta di lapangan jelas menunjukkan adanya dampak negatif akibat terjadinya jurang pemisah antara kaya dan miskin. Dampak negatif yang sudah menjadi fenomena sosial itu bisa dilihat dari semakin banyaknya pengangguran yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan tingkat kriminalitas. Di Indonesia, misalnya, angka kemiskinan sudah cukup memprihatinkan karena banyak anak bangsa ini yang tidak bisa mengecap bangku pendidikan walaupun untuk tingkat pendidikan dasar (SD-SMP) sudah tidak dipungut biaya (SPP). Mereka yang menderita sakit karena biaya berobat tidak terjangkau, akhirnya banyak yang harus meregang nyawa. Masih banyak bayi yang mati sebelum kelahiran atau beberapa hari/bulan setelah kelahiran karena kekurangan gizi. Bahkan, tidak sedikit ibu-ibu yang mati ketika melahirkan karena kondisi kesehatan ibu yang tidak mengizinkan (inipun lebih disebabkan oleh faktor kekurangan gizi). Mereka yang tidak memperoleh penghasilan yang memadai sehingga banyak di antara anak bangsa yang makan sehari satu kali. Itupun yang dimakan jauh dari empat sehat lima sempurna.

Jika dianalisis bentuk-bentuk kekikiran yang terjadi di banyak negara Islam atau negara-negara yang sebagian besar menganut agama Islam (seperti negara ini, Indonesia), didapati adanya hal-hal berikut ini.

  • Orang-orang yang diberi amanah sebagai pemimpin tidak memberikan kebaikan pada orang-orang yang dipimpinnya.
  • Orang-orang yang memiliki kehormatan dan kemuliaan tidak menggunakannya untuk menegakkan kebenaran.
  • Orang-orang yang tergolong sejahtera hidupnya tidak memiliki kepeduliaan (cenderung egois).
  • Orang-orang yang berilmu enggan untuk menyumbangkan keilmuannya pada orang lain (ada rasa enggan untuk mengembangkan keilmuan).
  • Orang-orang yang kikir dalam menunjukkan akhlak yang baik, seperti memberi maaf, berlapang dada, atau tidak mengganggu orang lain.
  • Orang-orang yang tidak mau berkorban untuk kepentingan agama meskipun sudah jelas-jelas di depan matanya agamanya dikoyak-koyak musuh-musuh Islam.
  • Orang-orang yang enggan membelanjakan hartanya untuk tujuan kebaikan.

Orang-orang kikir yang disebutkan bentuk-bentuknya di atas, jika mereka masih sholat atau melakukan ibadah, tetapi masih tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, orang-orang seperti itu akan dimasukkan Allah ke dalam neraka Wail (Surat Al-Maun: 4—7). Memang, mereka sholat dan memberikan bantuan, tapi semua itu dilakukan karena semata-mata agar dipandang orang sebagai orang yang sholeh dan dermawan. Orang-orang seperti ini bisa digolongkan sebagai orang yang riya`. Semua kebaikan yang dia lakukan akan sia-sia manakala disertai dengan niat yang tidak benar, yaitu riya`. Di negara ini golongan orang-orang yang seperti ini demikian banyak sehingga sangat wajar jika Allah SWT memberikan banyak musibah bukan hanya dalam bentuk bencana alam tapi juga musibah dalam bentuk ketidakamanan dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh seluruh penduduk negeri ini.

Epilog

Berdasarkan uraian di atas bisa diambil hikmahnya alasan Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk membiasakan berdo`a untuk berlindung dari 5 K. Hikmah yang bisa dipetik, yaitu betapa dahsyatnya akibat yang terjadi jika orang memiliki penyakit 5 K. Untuk itu, sebagai seorang Muslim yang kaafah sudah selayaknya membiasakan diri meminta pada Allah SWT dengan do`a yang Beliau ajarkan sehingga terselamatkan dari penyakit 5 K. Selain berdo`a, tentu saja harus berupaya memelihara aqidahnya, menjaga ibadahnya, dan mewujudkan akhlak karimah. Seorang Muslim juga harus bersungguh-sungguh dalam melakukan aktivitas keduniaan walaupun juga tidak menyepelekan kehidupan akhirat. Yang juga tidak kalah penting setiap Muslim harus memperhatikan fisiknya, akalnya, dan rohaninya. Wallahu a`lam bissawab.

Manajemen Masjid dan Studi Islam

Subagio S. Waluyo (ed.)

  1. Fiqih Manajemen Keuangan Keluarga
  2. Fungsi Masjid di Zaman Rasulullah SAW
  3. Manajemen Masjid
  4. Menjaga Iman di Masa Pandemi
  5. Menuju Jamaah Mandiri
  6. Profil Masjid
  7. Strategic Planning “Memakmurkan Masjid”
  8. Struktur Takmir Masjid Jogokariyan
  9. Studi Islam-01
  10. Studi Islam-02
  11. Studi Islam-03
  12. Studi Islam-04
  13. Studi Islam-05
  14. Studi Islam-06
  15. Studi Islam-07
  16. Tawasul dengan Asmaul Husna
  17. Islam Sebagai Pilihan Hidup
  18. Neraka di Depan MAta

Pembelajaran Penulisan

Subagio S. Waluyo

(1)

Submenu kebahasaan dan Kesastraan kali ini dinamakan Pembelajaran Penulisan karena memang sengaja disediakan kolom untuk siapa saja yang ingin belajar menulis. Dinamakan Pembelajaran Penulisan karena belajar menulis merupakan sebuah proses. Tentang lamanya mengikuti proses belajar menulis itu sendiri bukan semata-mata adanya talenta, tapi juga dibutuhkan keseriusan. Selain itu, perhatian harus fokus. Perlu juga dicamkan, belajar menulis harus disertai kesabaran dan tetap konsisten dengan komitmen yang telah dicanangkan di awal ketika belajar. Komitmen yang harus ada pada seorang calon penulis adalah dia mau belajar menulis untuk memperoleh tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya. Memberikan wawasan pada setiap pembacanya. Tentu saja wawasan yang bermanfaat bagi kehidupan pembacanya di masa depan dan diharapkan (setidak-tidaknya) membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi pembaca.

Setiap orang yang mau belajar menulis harus punya komitmen. Tulisan yang mau dibuat hanya akan mengarah pada dua tujuan, tulisan yang berangkat dari ide-ide cemerlang, smart, atau cerdas akan melahirkan tulisan yanga cemerlang, smart, atau cerdas, Sementara itu, tulisan-tulisan yang mengarah pada hal-hal yang negatif, yang berangkat dari ide-ide gila atau senewen akan melahirkan tulisan-tulisan yang penuh kegilaan atau kesenewenan. Di submenu ini hanya disediakan bagi mereka yang mau belajar menulis dengan tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Jadi, yang akan dilakukan adalah pembelajaran penulisan yang diawali dengan ide-ide cemerlang, smart, atau cerdas. Tidak ada tempat bagi penulis `nyeleneh` yang hanya menghasilkan tulisan-tulisan murahan. Tulisan-tulisan yang cenderung ke arah pembodohan. Bangsa ini sudah terlalu lelah dengan banyaknya orang bodoh yang terjerembab ke dalam lubang yang sama. Jangan lagi ada orang-orang bodoh yang terjerembab di lubang yang sama. Karena itu, buatlah program pencerdasan bangsa melalui tulisan-tulisan yang cemerlang, smart, dan cerdas agar bangsa ini terselamatkan dari kebodohan.

Imbuhan peN-an pada kata belajar dan tulis mengandung arti `proses`.  Untuk menjadi penulis handal memang membutuhkan proses. Di dunia ini untuk diketahui saja tidak ada segalanya serba instan. Semuanya membutuhkan proses. Tidak ada orang menjadi besar dan tersohor tanpa ada sebuah perjalanan panjang, sebuah proses. Karena dia merupakan sebuah proses, diperlukan kesabaran, ketekunan, keseriusan, dan kekonsistenan. Terasa berat bagi siapa saja yang mau menjalaninya. Tapi, memang harus demikian caranya dan tidak ada cara lain. Penulis-penulis pemula siap-siap saja diuji oleh pembaca yang akan mengomentari tulisannya. Siap-siap saja kalau ada yang mengomentari dengan cara yang memerahkan telinga. Semua penulis yang sekarang ini telah menjadi penulis besar dan tersohor di awal-awal menulis selalu diuji dengan penolakan untuk diterbitkan oleh redaksi-redaksi surat kabar atau majalah. Mereka, para redaksi, ada juga yang memberikan motivasi untuk tetap semangat menulis. Tetapi, ada juga yang langsung berkomentar kalau tulisannya tidak berbobot dan layak dimasukkan ke keranjang sampah. Itulah ujian yang memang harus dilalui. Dalam hidup ini bukankah manusia diuji dengan sesuatu yang tidak mengenakkan? Orang yang punya tekad kuat akan tetap menulis, tetapi orang cepat putus asa akan berhenti untuk menulis lagi. Berarti dia orang yang tidak tahan ujian. Jadilah orang yang tahan ujian meskipun harus berkali-kali jatuh bangun menghadapi berbagai ujian.

Pembaca yang baik, Insya Allah, menjadi penulis yang baik. Banyak membaca akan memberi manfaat bagi siapa saja yang ingin tulisannya dinikmati pembacanya. Penulis yang miskin kosa kata karena kurang baca akan menghasilkan tulisan yang kering. Membiasakan diri untuk membaca juga merupakan pekerjaan kebiasaan yang sulit. Tetapi, memang tidak ada cara lain mau tidak mau harus dipaksa diri ini untuk membaca. Sesuatu yang awalnya berat, Insya Allah, akan menjadi terasa nikmat manakala mau mencobanya. Awali dulu dengan bacaan-bacaan yang ringan, yang mudah dicerna, yang tidak membutuhkan banyak kerja otak. Setiap kata yang dianggap sulit dicatat. Cari padanannya atau definisinya di kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Pusat Bahasa bisa dijadikan rujukan. Nanti, perlahan-lahan sesuai dengan kebutuhan membaca bacaan-bacaan yang sedikit berat. Mulailah membaca sehari 10-20 halaman dan berkelanjutan. Dengan cara demikian, diharapkan sesuatu yang di awalnya berat akan terasa ringan bahkan tidak mustahil ternyata membaca itu merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.

Setelah kebiasaan membaca telah menjadi sebuah kebutuhan, buku-buku yang dibaca setidak-tidaknya akan membentuk pemikiran seseorang. Orang yang kerap membaca buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan karakter diharapkan akan terbentuk karakternya persis seperti yang digambarkan dalam buku tersebut. Begitu juga orang yang sering membaca karya fiksi sastra yang banyak mengajarkan tentang perilaku yang baik akan terbentuk perilaku seperti yang digambarkan di karya fiksi sastra tersebut meskipun ada penolakan dalam dirinya. Pada saat seseorang telah terbentuk kepribadiannya melalui bacaan, dia akan memiliki konsep nilai. Konsep nilai yang dimilikinya boleh jadi bertentangan dengan yang didapati dalam kehidupannya sehari-hari. Di saat-saat seperti itu dia telah menemukan masalah. Sekarang masalah yang didapatkannya akankah didiamkan saja sehingga tersimpan di arsip pikirannya atau diselesaikan dengan cara menuangkannya dalam tulisan?  Kembali pada judul tulisan ini yang dijadikan submenu dari menu bahasa: “Pembelajaran Penulisan”, menulis merupakan sebuah proses. Menulis juga butuh untuk fokus perhatian pada masalah yang ditemukan. Untuk itu, catat dengan teliti hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang ditemukan. Siapkan bahan-bahan yang diperkirakan akan mendukung tulisan yang akan dibuat. Setelah itu, coba cari gagasan atau ide untuk memecahkan masalah itu. Corat-coret yang telah dibuat jangan sampai dibuang karena boleh jadi ada manfaatnya nanti.

(2)

Orang menulis sama seperti orang menuntut ilmu/belajar, yaitu sama-sama sampai ke liang lahat. Bedanya, menuntut ilmu/belajar dari buaian (lahir). Sedangkan menulis dimulai dari orang bisa membaca yang diteruskan dengan bisa menulis.  Jadi, kalau di usia kelas I SD anak sudah bisa membaca dan menulis, nah di usia itulah harus ada keinginan untuk menulis sampai ke liang lahat. Kenapa sampai liang lahat? Ya, sampai liang lahat karena ada orang yang mati muda, ada yang mati setengah tua, dan ada juga yang mati tua. Kalau dikatakan menulis sampai tua, tiba-tiba belum sampai tua sudah wafat, gimana? Berarti benar `kan hanya sampai liang lahat?

Kalau sudah punya niat mau jadi penulis, jangan sampai mundur dari niat tersebut. Sekarang persiapkan diri untuk mulai menulis. Modal utamanya harus punya tekad kuat.Penulis-penulis tua seperti Goenawan Mochamad masih aktif menulis walaupun lebih banyak menulis di Majalah Tempo terutama di Catatan Pinggir. Di kolom itu tidak boleh ada orang lain yang menulis karena akan terasa hambar jika bukan Goenawan yang mengisi kolom itu. Mochtar Loebis sampai menjelang wafatnya masih tetap menulis. Dari tangan beliau lahir puluhan karya-karya fiksi dan nonfiksi. Ada penulis muda, ibu rumah tangga, yang menulis sejak awal tahun 2000-an menulis karya-karya fiksi dan nonfiksi sampai lima puluh judul. Dalam rentang waktu sepuluh tahun menghasilkan karya sebanyak itu. Setiap tahun paling tidak ada lima buku yang ditulis. Sebuah prestasi luar biasa. Kalau mau didata bisa puluhan bahkan ratusan penulis di Indonesia. Tidak semua penulis zaman kiwari di Indonesia menulis dengan komputer atau laptop atau notebook. Sebagian penulis masih bertahan menulis dengan bantuan mesin. Penulis seperti Remy Silado, sampai sekarang masih menulis dengan mesin tik. Di samping memang gaptek, Remy merasa lebih pas jika harus menggunakan mesin tik. Tidak perlu dipermasalahkan dengan apa mereka menulis. Tetapi yang perlu kita jadikan motivasi untuk tetap bertekad menulis adalah semangat mereka yang tidak pernah padam menggeluti dunia penulisan.

Jika ditilik dari latar belakangnya, Mochtar Loebis dan Goenawan Mochamad keduanya selain sastrawan juga wartawan. Tidak aneh kalau dalam novel-novel Mochtar Loebis lebih merupakan sebuah hasil reportase daripada sebuah karya fiksi yang sarat dengan imajinasi. Sementara itu, Goenawan Mochamad walaupun seorang wartawan lebih cenderung menulis puisi dan esei. Jauh sebelum mereka menulis karya-karyanya ada seorang ulama besar yang juga sastrawan yang mulai menulis di tahun-tahun `20-an. Orang mengenalnya sebagai Buya Hamka (Allah ya arham) walaupun nama aslinya sebenarnya Abdul Malik Karim Amrullah Beliau sendiri yang menulis namanya Hamka. Karena  dikenal sebagai ulama dari Sumatra Barat, akhirnya orang memberikan embel-embel di depannya Buya, yaitu sebutan seorang ustadz atau ulama. Sejak itu beliau lebih dikenal sebagai Buya Hamka. Ratusan karya  baik fiksi maupun nonfiksi lahir dari tangannya. Banyak juga tulisannya yang tersebar di berbagai majalah Islam yang terbit sejak di masa-masa penjajahan sampai menjelang beliau wafat, yaitu tahun 80-an. Novelnya yang cukup terkenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck baru-baru ini diangkat ke layar perak (difilmkan). Karya beliau yang monumental adalah Tafsir Al-Azhar sebanyak 30 juz. Untuk ukuran Indonesia kemungkinan besar belum ada penulis seproduktif beliau. Perlu juga diketahui, selain sebagai sastrawan dan ulama, beliau pernah terjun di dunia politik di masa penjajahan, yaitu di Serikat Islam pada tahun 1925. Pada Pemilu pertama tahun 1955 beliau terpilih sebagai anggota dewan konstituante dari Partai Masyumi. Dengan demikian, Buya Hamka bukan hanya  penulis, tetapi juga sastrawan dan tokoh politik di negara ini.

Di luar sana, maksudnya di belahan dunia lain, begitu banyak penulis dunia yang sampai saat ini masih aktif menulis. Di Inggris, Agatha Christie penulis novel-novel detektif sampai dengan tahun 2003 buku-bukunya telah terjual sebanyak 1 miliar eksemplar dalam bahasa Inggris dan 1 miliar eksemplar lagi dalam 45 bahasa. Di Prancis saja buku-buku beliau terjual sampai 40 juta eksemplar. Jumlah tersebut mengalahkan penulis sainganya Emile Zola (penulis Prancis) yang karya-karyanya terjual 20 juta eksemplar.  Agatha Christie menulis lebih dari 80 novel dan sandiwara teater yang semuanya bercerita tentang dunia kriminal atau detektif. Beberapa penulis dunia lain  yang sampai saat ini masih aktif sebut saja J.K. Rowling penulis novel-novel Harry Potter yang sebagian besar karyanya telah difilmkan, pada mulanya menulis karena desakan ekonomi. Saking miskinnya, penulis wanita ini menulis di lembaran-lembaran tisu. Penerbit-penerbit banyak yang menolak hasil tulisannya yang ditulis di lembaran-lembaran tisu. Tekad yang kuat untuk tetap menulis disertai dorongan karena kemiskinan membawakan hasil. Belakangan penerbit-penerbit tersebut mau menerima hasil karya-karyanya. Begitu karya-karyanya melejit di pasaran berebutan penerbit ingin menerbitkan buku-bukunya. Lagi-lagi prestasi ini diukir oleh seorang wanita generasi penerus sepeninggal Agatha Christie. Bedanya, jika Agatha Christie lebih konsens di dunia penulisan novel-novel detektif sedangkan J.K. Rowling di dunia penulisan novel-novel sihir.

Penulis-penulis besar baik penulis lokal (dalam negeri) maupun mancanegara tidak lahir tanpa adanya tekad yang kuat untuk tetap menulis. Buat mereka tidak ada mantan penulis. Seandainya, ada di antara mereka yang sempat berhenti menulis, pada kesempatan berikutnya langsung `ngebut` mengejar target untuk mengisi kekosongan selama berhenti menulis. Memang, tidak sedikit di antara mereka yang menulis karena adanya kesibukan yang dinilai lebih menguntungkan. Tetapi, penulis sejati tidak pernah berhenti untuk  memberikan yang terbaik pada pembacanya, yaitu tulisan yang berbobot. Untuk itu, jadilah penulis sejati yang tidak akan berhenti menulis walaupun sempat ditolak redaksi atau penerbit tulisan-tulisannya. Seandainya, media cetak tidak berkenan memuat tulisan-tulisannya, masih ada ruang buat penulis melalui media seperti blogspot atau website. Artinya, tulisan-tulisan yang ditulis sendiri bisa diedit sendiri dan dimuat sendiri kapanpun dan di manapun walaupun tidak ada honor untuk itu. Tapi, yakinlah bahwa suatu saat akan ada penerbit yang melirik dan tertaribk untuk menerbitkannya. Bukankah di zaman kiwari ini orang yang rajin ber-tweet-tweet di twitter saja ada penerbit yang berminat menerbitkannya? Mau? Cobalah!

(3)

`Sedia payung sebelum hujan` begitu kata peribahasa yang juga bisa diartikan `sedia bahan sebelum menulis`. Kok, bahan? Bahan apa? Bahan di sini referensi. Bisa buku, bisa artikel di koran/majalah (kliping), atau bisa juga dari hasil browsing di internet. Zaman kiwari ini begitu banyak bahan yang bisa diperoleh. Semua yang bisa dibaca adalah bahan. Termasuk semua yang bisa didengar adalah bahan. Hanya bahan yang lewat pendengaran (karena terbiasa `nguping`) tidak bisa dipertanggungjawakan. Boleh saja hasil mendengar dijadikan bahan, tapi harus ada tindak lanjutnya. Teruskan dengan cari bahan sesuai dari yang kita dengar sebagai informasi awal. Bisa juga hasil menyaksikan lewat media elektronik atau ikut kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah di kegiatan agama dijadikan sebagai bahan. Tapi, ya, itu tadi, harus diteruskan dengan mencari referensi dalam bentuk bahan-bahan tertulis. Hasil memanfaatkan audio-visual yang digunakan untuk menyaksikan acara di media elektronik atau kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah keagamaan tidak bisa dijadikan referensi utama. Dia hanya menjadi stimulus agar seseorang melakukan penelusuran mencari bahan-bahan tertulis.

Apakah seseorang hanya mencari referensi ketika menulis ilmiah? Tidak juga. Seorang penulis fiksi sekalipun agar tulisannya tidak kering mau tidak mau harus rajin mencari referensi. Ada seorang penulis fiksi terkenal yang menulis sebuah novel yang latarnya bukan di tempat tinggal dia. Tetapi, penulis ini dengan apiknya bisa menceritakan sedetil mungkin mungkin sudut-sudut kota yang dijadikan latar cerita. Apakah dia harus terjun ke lokasi yang dijadikan latar cerita itu? Ternyata dia tidak pernah ke lokasi yang dimaksud. Usut punya usut ternyata dia hanya banyak membaca dari berbagai referensi tentang gambaran lengkap kota yang dijadikan latar cerita. Sama halnya seorang penulis fiksi yang menulis dunia kedokteran, apakah dia harus seorang dokter? Tidak juga. Dia cukup menjadi seolah-olah seorang jurnalis yang menerapkan prinsip-prinsip 5 W+1 H yang biasa digunakan dalam dunia kewartawanan. Selebihnya, dia cari bahan-bahan yang membahas secara langsung tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Dalam hal ini cukup, misalnya, dia hanya menulis di sekitar penyakit epidemi, seperti demam berdarah. Memang hasil karyanya tidak lebih baik dari seorang yang benar-benar dokter. Tapi, itulah dunia penulisan bisa dilakukan seseorang manakala dia mau membaca. Jadi, untuk menulis sebuah karya fiksi tidak semata-mata mengandalkan imajinasi atau kontemplasi, tapi juga harus banyak mencari referensi.

Bagaimana untuk tulisan yang bukan nonfiksi? Sama saja harus banyak mencari referensi untuk memperkaya wawasan penulis. Semakin tinggi kadar ilmiah sebuah tulisan harus semakin banyak referensinya. Tentang jumlah referensinya tidak ada ketentuan. Tulisan-  tulisan yang berangkat dari hasil penelitian entah itu yang namanya makalah atau kertas kerja, karya ilmiah yang dilombakan, skripsi, tesis, atau disertasi wajib mencantumkan daftar pustaka. Kalau perlu di setiap kutipan harus disebutkan sumber kutipannya.   Untuk tulisan nonfiksi walaupun tulisan yang cenderung ilmiah populer juga dibutuhkan referensi. Hanya untuk tulisan jenis ini tidak mutlak digunakan daftar pustaka. Tetapi, kalau ada kutipan sudah selayaknya mencantumkan sumber datanya. Sekali lagi modal utama penulis bukan hanya punya tekad, tetapi juga mau membiasakan diri membaca.  Menjadi penulis harus juga rajin mencatat segala hal yang dia lihat dan didengar. Semua yang dilihat dan didengar harus diperkuat dengan data-data tertulis: bahan-bahan bacaan. Dengan menjadi penulis seseorang akan memulai budaya baca yang justru budaya ini belum tumbuh di negara ini.

Kata kunci untuk bisa menulis itu `membaca`.  Budaya baca di negara ini masih tergolong rendah. Di dunia pendidikan bisa dihitung dengan jari seberapa banyak guru atau dosen yang membiasakan diri untuk membaca? Murid-murid atau mahasiswa-mahasiswa di negara ini masih kurang minat bacanya. Hal ini bisa dibuktikan dengan seberapa banyak buku-buku serius diterbitkan dan berapa lama buku itu akan terjual? Di negara ini orang hanya mau membaca buku-buku yang cenderung tidak banyak membutuhkan energi otak alias tidak mau capek untuk berpikir. Buku-buku yang ringan dibaca akan jadi best seller seperti `kacang goreng` (kata orang jadul kalau sekarang apa ya?).  Ini menunjukkan anak bangsa ini belum menjadi orang serius untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan bidang-bidang kehidupan manusia.

Orang yang banyak membaca bukan hanya menambah wawasan keilmuan, tapi juga akan memiliki daya kritis atau kepekaan. Lha, kok bisa begitu? Ya, karena orang yang banyak membaca akan banyak menemukan masalah. Masalah tidak akan dia dapat kalau dia tumpul alias tidak punya konsep untuk memecahkan masalah. Dia tahu baik-buruk suatu kebijakan, misalnya, karena dia punya konsep tentang kebijakan yang ideal. Dari mana dia peroleh itu? Ya, dari hasil membaca. Mungkin, ini suatu hal yang berat karena berhubungan dengan masalah kebijakan. Bagaimana dengan masalah adanya jurang pemisah yang sangat dalam antara orang kaya dan miskin? Mungkin ini lebih mudah. Untuk mengetahui konsep tentang orang kaya dan orang miskin, dia harus punya konsep gambaran yang sesungguhnya orang yang tergolong kaya dan miskin. Dia tidak cukup mengandalkan visualnya dengan melihat di depan matanya ada orang kaya dan miskin. Dia harus tahu setidaknya kriteria orang kaya dan orang miskin. Untuk mengetahui kriteria kedua golongan itu mau tidak mau harus lewat bahan bacaan.   Dia harus punya referensi tentang ukuran kekayaan dan kemiskinan dengan melihat pada pendapatan perkapita tertinggi dan terendah. Begitupun ketika seorang penulis ingin menyampaikan masalah ketertiban, dia harus punya konsep tentang ketertiban. Dari mana dia tahu tentang konsep ketertiban, ya dari literatur yang khusus membahas tentang ketertiban. Di sana bisa jadi didapati kriteria ketertiban, syarat-syaratnya, dan seterusnya. Singkatnya, siapapun orangnya yang menyampaikan suatu hal dia harus punya konsep. Konsep tidak bisa datang begitu saja atau gratis. Dia harus dilakukan dengan kerja keras. Dia akan diperoleh dengan banyak membaca.

Belajar menulis memang banyak dituntut bukan hanya tekad yang kuat, tetapi juga kesabaran, kekomitmenan, dan kekonsistenan. Dia harus sabar menghadapi cibiran pembaca yang memang tulisannya dinilai tidak/kurang berbobot atau memang ada orang yang sentimen dengan hasil tulisannya. Dia harus punya komitmen untuk tetap menulis sesuai dengan hati nuraninya. Dia tidak boleh terganggu untuk menulis yang menyimpang dari keinginan hatinya atau menjual idealismenya. Dia juga harus konsisten untuk tetap menjadikan dunia menulis sebagai cara untuk menuangkan gagasannya. Kalau perlu, dengan tulisan dia bisa mengekspresikan dirinya. Namun, untuk melengkapi itu semua harus didukung dengan minat baca. Membaca harus menjadi tekad untuk mengubah paradigma yang selama ini melekat di kalangan anak bangsa ini, yaitu minat baca yang rendah.

(4)

Orang banyak baca pasti banyak tahu. Orang banyak tahu pasti memunculkan pengetahuan. Karena punya pengetahuan, orang minimal punya kepekaan. Kalau sudah punya kepekaan, mau dikemanakan? Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat melukis. Jadilah, sebuah lukisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat menyanyi. Jadilah, sebuah lagu dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada juga orang yang menyalurkan lewat menulis. Jadilah, berbagai macam bentuk tulisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Tulisan yang dihasilkannya bisa berupa karya fiksi, bisa juga nonfiksi. Dia bisa mewujudkan ekspresi kepekaannya lewat puisi-puisi. WS Rendra (almarhum), misalnya, mencoba mengekspresikan kepekaaannya lewat kumpulan puisi yang terkenal Potret Pembangunan dalam Puisi (PPdP). Di dalam kumpulan puisi tersebut banyak berisikan protes terhadap kebijakan pembangunan di waktu itu (masa orde baru). WS Renda sang penyair ketika mengekspresikan kepekaannya tidak berangkat dari nol. Dari hasil banyak baca buku (tentu saja ditambah dengan  input yang diperoleh dari hasil mengikuti berbagai kajian) sehingga tanpa disadari membentuk satu sikap, yaitu munculnya kepekaan terhadap masalah-masalah ketimpangan sosial. Selanjutnya diekspresikan yang dirasakannya lewat menulis kumpulan puisi. Jadilah, sebuah kumpulan puisi yang sarat kritik sosial terhadap rezim orde baru: PPdP.

Bagaimana dengan tulisan-tulisan nonfiksi? Sama saja. Setiap membaca sebuah tulisan secara tanpa disadari pembaca sebenarnya menangkap adanya ide seorang penulis mengekspresikan sesuatu yang dirasakannya. Jika ada tulisan tentang tingkat kriminalitas di setiap kota besar di Indonesia sudah memprihatinkan, berarti si penulis telah banyak memperoleh masukan lewat bacaan atau paling tidak lewat tayangan-tayangan televisi atau dari hasil mendengar berbagai berita yang memuat berbagai berita kriminalitas. Ada orang yang sekedar tahu. Tapi, ada orang yang ingin lebih jauh menelusuri sehingga memunculkan pertanyaan: mengapa di negeri ini terjadi tingkat kriminalitas yang semakin memprihatinkan? Orang tersebut bisa lebih jauh lagi bertanya dan berupaya memberikan solusi dengan mengajukan pertanyaan: bagaimana cara menurunkan tingkat kriminalitas di negeri ini?  Kalau seorang sosiolog, dia akan menelusuri faktor penyebab dari tinjauan sosiologi. Kalau seorang psikolog, dia akan menelusurinya dari sisi kejiwaan. Begitulah seterusnya setiap orang berupaya mencari faktor penyebab dan solusinya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensinya. Bagi seorang penulis, orang yang peka semacam ini yang layak ditiru. Bukan orang yang berderet gelar kesarjanaannya sampai mengalahkan namanya tapi `cuek bebek` terhadap kondisi sekitarnya. Dia cuma pintar untuk diri sendiri. Gelar kesarjanaan yang berderet cuma jadi sarana untuk mengais fulus (uang).

Kepekaan tidak muncul begitu saja. Kepekaan tidak bisa diperoleh dengan gratis. Kepekaan tidak bisa dipaksakan pada setiap orang. Kepekaan harus dimulai dengan pembelajaran. Pembelajaran yang mengajar orang untuk peka butuh waktu. Orang tidak bisa langsung peka lewat pendidikan dan pelatihan (diklat) kepekaan walaupun dilakukan sebulan penuh. Buktinya, penataran P4 yang pernah secara masif dilakukan di masa orde baru dengan berbagai pola yang menunjukkan waktu penataran di setiap instansi pemerintah dan pendidikan tinggi tidak menghasilkan manusia Indonesia yang bersih dari praktek-praktek KKN. Bahkan, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang merupakan salah satu mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah dan diteruskan di perguruan-perguruan tinggi ternyata `g ngepek`, `g ngaruh`, atau tidak berpengaruh terhadap anak didik atau mahasiswa. Buktinya, mereka tetap saja punya banyak perilaku buruk, seperti kebiasaan `nyontek` atau `tawuran` atau berkembangnya budaya `copas` di kalangan mahasiswa dan dosen. Jadi, tidak ada jaminan diklat atau pendidikan yang menahun memberikan kepekaan.

 Penanaman rasa peka yang paling efektif dari keluarga. Setiap orang tua harus bisa memberikan contoh pada anak-anaknya kalau mereka punya kepekaan. Praktek-praktek kepekaan melalui contoh-contoh kongkret dari orang tua jelas lebih mudah ditiru oleh anak-anak ketimbang anak diceramahi sampai si orang tua berbusa-busa mulutnya atau anak-anak hanya disuruh tapi orang tua tidak memberikan contoh yang kongkret. Kalau di rumah saja orang tua tidak pernah berusaha menunjukkan kepekaannya, jangan berharap anak-anak punya kepekaan. Selain itu, masyarakat di lingkungan tempat tinggal atau sekolah atau tempat kerja juga turut berpengaruh. Boleh-boleh saja di rumah (kalau bisa jangan sampai terjadi) orang tua tidak punya kepekaan, tetapi di sekolah guru-guru memberikan contoh kongkret tentang kepekaan. Dengan sendirinya anak-anak didik (karena selama ini guru merupakan panutan buat mereka) akhirnya tanpa disadari memiliki kepekaan yang sama dengan guru-gurunya. Justru, yang paling repot sudah di rumah orang tua tidak pernah memberikan contoh kepekaan, di sekolah guru-guru bersikap sama. Akhirnya, muncullah generasi penerus yang tidak punya kepekaan sekaligus kepedulian. Sebut saja generasi `cuek bebek`.

Di dunia ini begitu banyak objek yang bisa ditulis. Untuk bisa menulisnya dibutuhkan kepekaan. Untuk memperoleh kepekaan tidak bisa orang hanya semata-mata mengandalkan wangsit atau ilham agar bisa menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Untuk memiliki kepekaan selain melihat contoh kongkret di rumah, di sekolah, atau di masyarakat lingkungan, bisa juga melalui pembelajaran lewat membaca. Jadi, kata kuncinya terletak pada membaca, Tentu saja bacaan yang banyak menggugah hati seseorang bukan bacaan yang `murahan` atau `picisan` atau kitsch yang berselera rendah. Orang yang sering membaca bacaan yang serius akan menghasilkan penulis yang serius. Untuk masalah membaca tidak dibutuhkan orang yang harus berpendidikan tinggi atau orang akademis. Membaca itu aktivitas yang gratis kok. Yang harus keluar uang `kan beli bukunya atau beli sarana lain di luar buku. Masih banyak orang/lembaga yang berbaik hati untuk meminjamkan buku. Untuk mengakses internet banyak tempat gratis yang menyediakan hotspot dan sejenisnya. Yang jadi masalah `kan bagi seseorang karena tidak punya sarana untuk bisa mengakses hotspot atau wifi gratis. Syukur-syukur kalau masih ada lembaga yang menyediakan PC gratis plus tersedia sarana untuk berselancar di dunia maya. Jangan jadi orang yang sebenarnya sudah banyak diberikan kemudahan tapi tetap saja malas untuk membaca. Akhirnya, orang seperti ini hanya cenderung mengandalkan telinga atau mata untuk mendengar atau melihat sesuatu yang bernilai itu tadi: `murahan` atau `picisan` atau kitcsh yang berselera rendah.

Memang benar latar belakang pendidikan seseorang berpengaruh untuk bisa mencerna sebuah tulisan. Bisa mencerna tapi tidak mau atau tidak bisa menuangkan ke dalam tulisan, akhirnya tulisan yang dia baca hanya ada di benaknya. Hanya jadi referensi di otaknya. Dia terpendam seperti air yang tidak disalurkan. Selanjutnya, air itu keruh, bau, dan jadi sumber penyakit. Daripada sudah sekian banyak referensi yang dibaca yang nantinya jadi sumber penyakit, coba disalurkan bahan-bahan yang seharusnya sudah bisa membantu itu ke dalam sebuah gagasan. Apa salahnya kalau memulainya dengan menggoreskan pena atau menekan tuts-tuts PC atau laptop atau notebook sehingga menghasilkan kata-kata yang kemudian diteruskan dengan kalimat-kalimat dan seterusnya sehingga menjadi sebuah tulisan utuh? Orang yang peka manakala telah menuntaskan gagasannya ke dalam sebuah tulisan seperti orang yang selesai melaksanakan sebuah kewajiban. Ada perasaan lega yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tentang hasilnya tidak perlu dibahas dulu. Seiring perjalanan waktu ketika suatu saat orang itu membaca kembali tulisan-tulisannya yang terdahulu, sudah pasti orang tersebut akan `nyengir-nyengir` sendiri (walaupun tidak gila) karena menganggap tulisan-tulisannya yang dulu dinilai berbobot ternyata untuk saat ini sudah lawas gagasannya. Meskipun demikian, orang semacam ini lebih beruntung daripada seorang akademis yang berderet gelar kesarjanaannya, yang sampai-sampai gelar sarjana itu jika ditulis lengkap akan menutupi nama aslinya, seumur-umur hanya menulis serius dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi (itupun terkadang hasil `copas`) tetapi berhasil mendapat gelar akademis tertinggi: profesor!  Masih beruntung orang semacam ini bergelar profesor permanen alias seumur hidup, bagaimana kalau gelar profesor itu hanya diberikan setahun sekali berdasarkan hasil evaluasi dari tulisan-tulisannya atau penelitian-penelitiannya? Begitu sang profesor yang bangga dengan gelar akademis tertingginya ternyata dari hasil evaluasinya minim tulisannya atau hasil-hasil penelitiannya boleh dikatakan nihil sehingga gelar profesor itu dicopot (berikut tunjangannya). Sang profesor akan senewen dan siap-siap jadi penghuni rumah sakit jiwa atau minimal hipertensinya naik, gula darahnya naik, sakit jantungnya kumat, dan …siap-siap saja berhadapan dengan Sang Khalik. Untuk itu, setiap orang harus belajar mengasah kepekaan karena hanya yang peka yang bisa menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Kapan lagi?

(5)

Batang singkong jika ditancapkan di tanah seperti zat hidup. Dia akan berusaha mengeluarkan akar-akarnya yang diteruskan dengan keluarnya tunas-tunas muda. Begitupun orang yang sudah punya bahan manakala sudah cukup penuh memorinya dengan bahan hasil bacaannya, dia akan menyalurkannya lewat tulisan. Cuma timbul pertanyaan dari mana dia akan memulainya?  Selama ini orang akan selalu digiring menulis dimulai dari judul. Cara ini tidak selalu benar. Kalau ada orang yang beranggapan toh judul yang dibuat hanya bersifat sementara, anggapan itu bisa dibenarkan karena memang judul baru bisa dicantumkan ketika tulisan telah selesai.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru-guru (yang tentu saja diperkuat dengan buku pegangan atau buku paket) selalu mengajarkan pada siswa-siswanya ketika ingin menulis paragraf (terutama untuk tulisan nonfiksi) dimulai dengan menentukan tema atau topik. Sering juga mereka menyebutnya sebagai pikiran utama (lagi-lagi konsep ini pun  dari buku) yang kemudian dijabarkan ke dalam pikiran-pikiran penjelas. Pikiran utama itu sendiri bisa diletakkan di awal atau di akhir paragraf atau bisa juga diletakkan di awal dan akhir paragraf. Guru-guru bahasa Indonesia pada akhirnya disibukkan dengan mencari pikiran utama atau paling banter siswa-siswa diminta meneruskan kalimat utama yang terletak di awal paragraf sehingga menjadi paragraf yang utuh dengan tidak lupa menjelaskan ada kata-kata kunci atau kata-kata pengikat satu kalimat dengan kalimat yang lain. Apa hasilnya? Siswa-siswa itu tetap saja tidak bisa menulis dengan baik.

 Pembelajaran penulisan dengan gaya seperti itu yang cenderung normatif tidak akan menjadikan anak bisa menulis karena sudah digiring untuk mengikuti aturan-aturan baku kebahasaan. Kalau ada anak-anak didik yang kelak mereka menjadi penulis, hal itu sangat jarang. Boleh jadi mereka menjadi penulis lebih banyak belajar di luar sekolah (bisa saja melalui pembelajaran di rumah atau ikut kursus penulisan yang saat ini cukup banyak di setiap kota di Indonesia). Kalau dikaitkan dengan talenta, apakah kemampuan menulis  memang ada faktor keturunan dari orang tuanya? Jawabannya bisa ya, bisa tidak karena sering dijumpai penulis-penulis besar keturunannya belum tentu akan melahirkan penulis besar. Namun, yang pasti untuk menjadi penulis perlu pembelajaran. Perlu proses yang berkesinambungan. Aktivitas yang harus tetap dilakoni dengan konsisten dan penuh kesabaran.

Kembali pada uraian di atas, untuk menulis dengan baik orang tidak bisa diminta mengikuti norma-norma baku yang terdapat dalam pelajaran bahasa Indonesia. Terlalu sulit bagi anak didik untuk menentukan temanya dulu. Setelah tema ditentukan, jabarkan tema (pikiran utama) tersebut ke dalam pikiran-pikiran penjelas yang kemudian dituangkan ke dalam kalimat-kalimat penjelas. Pola seperti ini jelas `ribet`, bertele-tele (tidak praktis).  Sering anak didik itu `g mudeng` alias `g nyambung` sehingga timbul persepsi yang berbeda-beda di antara mereka. Mengapa tidak dimulai dari masalah saja? Caranya?  Pancinglah mereka dengan menunjukkan sebuah gambar yang memuat sebuah masalah yang tersirat (karena di balik gambar itu ada masalah). Dari gambar itu suruh mereka bercerita tentang kisah di balik gambar itu ke dalam tulisan. Biarkan mereka menulis yang ada di benak mereka. Setelah jadi tulisan utuh (gaya anak-anak) baru diperbaiki. Gambar berikut ini bisa dijadikan  stimulus agar mereka bercerita tentang isi gambar itu.

Untuk anak didik cukuplah mereka menceritakan isi gambar dengan berpatokan pada 4 W, yaitu What (apa yang terjadi?), When (kapan kejadiannya?), Where (di mana kejadiannya?), dan Who (siapa pelakunya/siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu?).  Seiring dengan perkembangan usia dan pendidikan, pada saatnya boleh juga diajukan pertanyaan Why (mengapa hal itu bisa terjadi) dan How  (bagaimana mengatasi masalah itu?).  Pertanyaan tambahan Why lebih menggiring orang untuk mencari faktor-faktor penyebab. Sedangkan How sudah mengarah pada mengajukan solusi terhadap masalah tersebut. Jelas, untuk menjawab kedua pertanyaan terakhir itu dibutuhkan keruta n dahi.

Cara lain bisa juga dilakukan dengan mengajukan pertanyaan masalah apa yang sedang dihadapi? Jawaban yang dikehendaki cukup dengan satu kata atau satu frase. Jawaban itu bisa diangkat menjadi masalah. Di tahap awal silakan saja orang membuat deskripsi tentang sesuatu yang dia lihat atau diperoleh dari hasil bacaan. Mereka bisa membuatnya dalam satu paragraf atau satu wacana yang panjangnya tidak lebih dari lima paragraf. Untuk yang baru belajar menulis bisa melihat contoh yang sudah ada yang dalam hal ini tulisan yang berisikan berita (bahasa jadulnya pandangan mata) yang berintikan pada 4 W (What, When, Where, Who).  Berikut ini bisa dilihat contoh sederhana.

Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi. Kali ini tabrakan KA dengan truk tanki BBM Pertamina, senin, 9 Desember 2013 . Peristiwanya di tempat yang sama, Bintaro, tempat yang 26 tahun lalu pernah terjadi tabrakan KA. Kali ini yang jadi korban bukan saja supir dan crew truk tanki BBM Pertamina tapi juga masinis, crew-nya, dan banyak penumpang yang sebagian besar wanita. Terhitung ada tujuh penumpang yang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Umumnya, mereka baik yang meninggal dunia maupun luka-luka adalah penumpang di gerbong pertama yang memang dikhususkan buat wanita sehingga sebagian besar penumpang yang menjadi korban adalah kaum wanita.

Tulisan di atas tidak diungkapkan faktor penyebab dan solusinya atau opini dari penulis. Jadi, cenderung hanya sampai sebatas menceritakan yang terjadi. Kalau sudah sampai mencari jawaban pertanyaan Why dan How dibutuhkan daya analisis yang tajam. Di sini dituntut penulis sudah memiliki konsep yang diperoleh dari hasil banyak membaca atau belajar atau melalui pengalaman hidup (?). Singkatnya, penulis kalau sudah berhasil mengorek faktor penyebab (apalagi kalau sudah sampai mengaitkannya dengan hal-hal yang bersifat akademis) dan memberikan solusi/pendapat dibutuhkan kompetensi intelektual. Intelektual ini agar memiliki kompetensi harus diasah melalui banyak baca, belajar, brainstorming, dan secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan keilmuan.

Tulisan-tulisan yang bersifat fiksi, seperti novel atau cerpen juga sama bisa diajukan sebuah stimulus dalam bentuk tayangan-tayangan film atau gambar karikatur seperti yang terdapat di atas. Bedanya, dalam karya fiksi penulis dituntut untuk berimajinasi dan berkontemplasi. Dia bukan hanya sebatas memberikan deskripsi atas sebuah kejadian, tetapi juga harus memasukkan tokoh-tokoh yang diperlukan dalam sebuah novel atau cerpen yang kemudian terjadi dialog, mungkin juga terjadi keributan antartokoh, terjadi klimaks, dan terjadi pula antiklimaks yang semuanya bisa diketahui oleh alur cerita dan dialog di antara tokoh-tokoh ceritanya. Akhir cerita dengan kekuatan daya khayal penulis bisa happy ending, bisa juga sebaliknya berakhir dengan sesuatu yang tidak mengenakkan atau boleh juga penulis yang dengan sengaja membuat PR pembaca untuk menyimpulkannya sendiri. Dengan demikian, untuk menulis fiksi juga dibutuhkan kemampuan intelektual karena penulis apabila melihat suatu kejadian baik untuk mencari faktor penyebab maupun solusi berupaya menyampaikannya. Hanya saja untuk karya-karya fiksi semua itu dibungkus dengan imajinasi dan kontemplasi.

Sebagai penutup dari tulisan ini, sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa menulis harus dimulai dari mencari masalah. Setelah masalahnya ditemukan, buat deskripsi timbulnya masalah tersebut dengan berpatokan pada 4 W. Kemudian, seandainya mau diteruskan agar terpenuhi 5 W + 1 H, siapkan bahan (referensi) dari mana saja baik dari media cetak maupun elektronik atau hasil sharing dengan beberapa orang.  Kalau tulisan tersebut disiapkan untuk kebutuhan akademis (laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, atau makalah/kertas kerja) cantumkan daftar pustaka. Jadi, mulailah menulis dengan masalah bukan judul atau menentukan tema.

Evaluasi Penelitian Pemekaran Daerah

Subagio S. Waluyo

  1. Penelitian Evaluasi Pemekaran Daerah Kabupaten Pangandaran
  2. Lampiran 1-Profil Wilayah Kabupaten Pangandaran 
  3. Lampiran 2-Alasan Pemekaran Daerah 
  4. Lampiran 3-Sejarah Singkat Berdirinya Kabupaten Pangandaran
  5. Lampiran 4-Kabupaten Pangandaran Miliki Kawasan Ekonomi Baru
  6. Lampiran 5-Profil Kabupaten Pangandaran
  7. Lampiran 6-Petikan UU Nomor 21 Tahun 2012-Pembentukan Kabupaten Pangandaran
  8. Lampiran 7-Konflik Kepentingan dalam Penataan Kabupaten Pangandaran
  9. Lampiran 8-Analisis SWOT Kabupaten Pangandaran 
  10. Lampiran 9-Kabupaten Pangandaran Raih Prestasi Laporan Keuangan
  11. Lampiran10-Prestasi Luar Biasa Kabupaten Pangandaran Terima Penghargaan 
  12. Lampiran11-Kabupaten Pangandaran DOB Terbaik di Indonesia
  13. Lampiran12-Kabupaten Pangandaran Raih Penghargaan Pertama

DIPAKSA MENGAKU

Subagio S.Waluyo

“Hei, kamu belum menjawab pertanyaan saya?”

“Ss… saya musti jawab apa, Pak?”  laki-­laki   itu terisak. Hatinya tertusuk,

nuraninya tersayat, harga dirinya terkoyak.

“Jawab! Gitu aja, nangis. Cengeng!”

“Bapak keterlaluan… Untuk apa, nanya­-nanya kayak gini. Bapak tahu, ini

kan konyol, Pak. Kalau bapak mau tembak saya, tembak saja. Ini… tembak

saja, Pak.”

  Continue reading “DIPAKSA MENGAKU”

ANTOLOGI CERPEN KORAN JAWA POS

Subagio S. Waluyo (ed.)

  1. Arafat Nur-Tangisan Sedu Sedan di Antara Siaran Iklan Radio
  2. Artie Ahmad-Pendurhaka
  3. Benny Arnas-Dammahum Jadi Mercusuar
  4. Benny Arnas-Parang Patah
  5. Budi Darma-Pokrol Bambu Martoyo
  6. Darmawati Majid-Cinta yang Bergunung
  7. Dwi Cipta-Larasati
  8. Edi Ah Iyubenu-Siapa Empat Lelaki di Kebun Kurma Itu?
  9. Farizal Sikumbang-Abang Tentara
  10. Felix Nesi-Menulis Wajah Rinus
  11. Hilmi Faiq-Seorang Ayah yang Mencemaskan Mimpinya
  12. Indrian Koto-Permainan yang Tak Selalu Aku Menangkan
  13. Kedung Darma Romansha-Nenek Tak Ingin Pulang
  14. Kiki Sulistyo-Pameran Fosil Paus
  15. Mahfud Ikhwan-`84
  16. Marwanto-Pulang untuk Lanang
  17. Nurillah Achmad-Dua Pembunuh dalam Satu Waktu
  18. Pasini-Mak Iti dan Takdir yang Mengajaknya Bercanda
  19. Ramayda Akmal-Bulan Lemon
  20. Ramayda Akmal-Lelaki yang Melempar Koin
  21. Reni Nuryanti-Bibir yang Tercecer
  22. S. JAI-Lelaki dan Sebilah Kapak Tak Tajam
  23. Sarita Rahel Diang Kemeluh-Prometheus Ubud
  24. Sulistiyo Suparno-Rolet
  25. Sunlie Thomas Alexander-Dalam Setiap Permainan, Aku Selalu Dikalahkan
  26. Triyanto Triwikromo-Dunia Tak Ada Lagi di Einstein Kaffee
  27. Wina Bojonegoro-Kisah-Kisah Asmara Seorang Penulis Novel
  28. Yetti A.KA-Kenapa Telepon Berdering di Hari Minggu
  29. Yetti A.KA-Orang-Orang di Kota Ini
  30. Yuditeha-Anjing Belanda

ANTOLOGI CERPEN KORAN TEMPO-3

Subagio S. Waluyo (ed.)

 

  1. Ramayda Akmal-Peniup Harmonika
  2. Ranang Aji SP-Catatan Seorang Veteran
  3. Raudal Tanjung Banua- Pengkhianatan Seorang Kuncen
  4. Reinard L. Meo-Nikolaus Pu`u Pau
  5. Reinard L. Meo-Pastor Benediktus
  6. Rosyid H. Dimas-Haedes
  7. Sasti Gotama-Laut Tak Meminjam, Ia Mencuri
  8. Seno Gumira Ajidarma-Percakapan di Ruang Tunggu
  9. Silvester Petara Hurit-Ama Nara
  10. Soe Tjen Marching-Bisnis Keluarga
  11. Sori Siregar-Jembatan yang Tak Kenal Kata Kembali
  12. Sori Siregar-Migel
  13. Sori Siregar-Selarik Sajak di Warkat Pos
  14. Sukron Hadi-Tulisan di Pintu Kamar Mandi Nomor Dua
  15. Sungging Raga-Pedagang Senja
  16. Surya Gemilang-Perjalanan Puitis Seorang Pembunuh Bayaran
  17. Thomas Didimus-Hugu  Laki-Laki dan Nui
  18. Tjak S. Parlan-Harga Sebuah Sepeda
  19. Tommy Duang-Kisah Ganjil tentang Pria Pemadam Kebakaran
  20. Tommy Duang-Penyesalan
  21. Triyanto Triwikromo-Ada yang TibaTiba Merasa Menjadi Binatang
  22. Umi Salamah-Aroma Darah di Antara Bunga Eastern Redbud
  23. Umi Salamah-Salju Turun Lebih Awal di Tempat Ini
  24. Uum G. Karyanto-Turun Haji
  25. Wawan Kurniawan-Sebuah Naskah Kehidupan Seorang Penulis
  26. Win Han-Rayna Kumala
  27. Yudhi Herwibowo-30 Cerita tentang Jendela di Bukit Tidur
  28. Yuditeha-Pertanyaan Kiai Sadrach
  29. Yusril Ihza F. A.-Kanibal
  30. Zainul Muttaqin-Perempuan Tua dan Seekor Anjing